IMPLEMENTASI BLENDED LIBRARIANSHIP DI LEARNING RESOURCE CENTER SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IPMI: HAMBATAN DAN TANTANGAN
N/A
Abstrak
Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ilmu pengetahuan telah mengalami perkembangan yang demikian pesatnya. Seiring dengan kemampuan pemustaka yang semakin adaptif dan informative yang cenderung menginginkan segala informasi dengan seketika. Kenyataan ini membawa implikasi dan menuntut perubahan yang besar (reposisi) terhadap peran pustakawan di era informasi digital, terutama di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi khususnya di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Konsep Blended Librarianship merupakan metafora yang menjelaskan peran pustakawan sebagai educator sekaligus partner dalam lingkungan pendidikan tinggi di era informasi digital. Di samping itu, Blended Librarian menggambarkan bahwa pustakawan adalah mitra penting dalam proses pendidikan di perguruan tinggi, berkolaborasi dengan beragam departemen untuk mendukung Tri Darma Perguruan Tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian masyarakat. Perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI dengan sebutan Learning Resource Center telah secara berkala menerapkan konsep Blended Librarianship.
Abstract
The presence of information and communication technology (ICT), science has experienced such rapid development. Along with the ability of user library who are increasingly adaptive and informative that need the information immediately. This fact has implications and demands major changes namely the repositioning to the role of librarians in the digital information era, especially in the environment of library collage, Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Using the concept of Blended Librarianship such a metaphor that explains the role of librarians as educators and partners in the tertiary education environment in the digital information era. In addition, Blended Librarian illustrates that librarians are important partners in the education process in universities, collaborating with various departments to support the Tri Darma of Higher Education, namely education and teaching, research, and community service. The IPMI College of Management Library as the Learning Resource Center has periodically applied the Blended Librarianship concept.
Keywords:
librarian
· library collage
· blended librarianship
· digital information era
Introduction
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seiring dengan kemampuan pemustaka di era milineal ini. Mulai dari starting, chaining, browsing sampai dengan extracting.1 Pada proses penemuan informasinya. Melalui berbagai macam media, dengan tujuan tercapainya penemuan informasi yang dibutuhkan. Memahami adanya kebutuhan informasi tersebut, yang merupakan unsur penting dalam perencanaan layanan informasi di perpustakaan pada masa mendatang. Maka perlunya sebuah korelasi dan konsep yang matang dalam memahami kebutuhan informasi pemustaka. Khususnya di instansi perguruan tinggi. Telah kita ketahui bahwa perpustakaan di perguruan tinggi merupakan jantung dan otak institusi karena Semua informasi dan koleksi yang menunjang pendidikan ada di perpustakaan. Selain itu, sudah tentu pasti mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seperti yang tertera pada Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi yang meliputi standar koleksi, sarana prasarana, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan, pengelolaan perpustakaan Perguruan Tinggi mampu memfasilitasi proses pembelajaran tridharma perguruan tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta berperan dalam meningkatkan atmosfer akademik. Standar ini berlaku pada Perpustakaan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta yang meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik.2 Merujuk pada konsep Konsep Blended Librarian yang diperkenalkan oleh Steven Bell dan John Shark pada tahun 2004 di mana pustakawan melebur bergabung dengan kegiatan akademik di Fakultas. Praktiknya dengan memadukan keahlian tradisional, yakni core skill pustakawan dengan keahlian kini yakni mengeksplorasi kemampuan sebagai literasi informasi serta memanfaatkan hardware dan software TIK. Perpustakaan perguruan tinggi di era informasi digital, profil pustakawan dibangun menjadi educator dan partner dalam penyajian dan pengemas informasi bagi pemustaka. Profil pustakawan seperti inilah disebut Blended Librarian, pustakawan yang siap melayani segala kebutuhan pemustaka, maju dalam bidang teknologi informasi, serta mampu mengembangkan hubungan kolaboratif atau bekerja sama secara langsung dengan fakultas dengan mengintegrasikan diri ke dalam kegiatan belajar di lingkup kampus publik akademisi. Blended librarianship merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kombinasi kepustakawanan dengan teknologi informasi desain pembelajaran serta teknologi keterampilan dalam instruksional akademik. Selama beberapa tahun terakhir, di Indonesia sudah semakin banyak pustakawan yang sudah mendapatkan pelatihan formal dalam desain instruksional dan teknologi bagaimana menjadi lebih mahir dengan desain produk instruksional yang dapat menaikkan tingkatannya dalam keterlibatan di proses belajar mengajar. Secara khusus, keterampilan diri oleh pustakawan yang harus di-eksplore yaitu membuat koneksi dan jaringan organisasi yang lebih baik, dan hubungan kolaboratif dengan fakultas. Shank dan Bell (2004) mendefinisikan blended librarian sebagai berikut: “An academic librarian who combines the traditional skill set of librarianship with the information technologist’s hardware/software skills, and the instructional or educational designer’s ability to apply technology appropriately in the teaching-learning process”. Definisi tersebut menjelaskan bahwa Blended Librariaship adalah pustakawan pada perpustakaan perguruan tinggi harus mampu mengkobinasikan 3 (tiga) hal yaitu: 1) Keterampilan (skill) kepustakawan tradisional (the traditional skill set of librarianship) 2) Keterampilan teknologi informasi baik hardware/software (the information technologist’s hardware/software skills) 3) Kemampuan mendisain instruksinonal atau pembelajaran untuk menerapkan teknologi yang tepat dalam proses belajar mengajar (the instructional or educational designer’s ability to apply technology appropriately in the teachinglearning process) Secara umum bahwa istilah Blended Librarian sama halnya dengan Pustakawan Akademik yang harus memahami dan mengetahui berbagai macam isu yang berhubungan, seperti, isu kurikulum, isu penelitian uniqueness perguruan tinggi, kemudian isu akreditasi baik untuk institusi maupun perpustakaan, dan isu pemeringkatan perguruan tinggi. Serta memadukan kemampuan dasar perpustakaan dan kemampuan modern yang disesuaikan dengan perkembangan jaman di era milineal ini. Maka dari itu dibutuhkannya juga kemampuan teknologi informasi baik hardware maupun software untuk dapat diterapkan dalam sebuah konsep design pembelajaran dan penelusuran informasi. Penerapan konsep blended librarianship secara berkala telah di lakukan di perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Penerapan ini dilakukan melalui langkap pemahaman yang matang terlebih dahulu dalam bentuk tulisan book chapter yang telah diterbitkan di Universitas Negeri Malang oleh penulis pada tahun 2017 yang berjudul “Blended Librarian: Pustakawan di Era Informasi Digital Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi”. Hal ini dilakukan karena adanya beberapa kebutuhan dan merupakan bentuk improvisasi konsep kinerja pustakawan di perguruan tinggi. Melalui kolaborasi antara pustakawan, akademik dan pemustaka secara simultan Sebelum pada pembahasan lebih lanjut akan disajikan profil akademik Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. 1. Historisitas Perpustakaan dan Sebelum Penerapan Blended Librarian di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Sekolah Tinggi Manajemen IPMI mempunyai nama lain yakni IPMI International Business School letaknya di Kalibata, Jakarta Selatan. Perguruan Tinggi ini merupakan perguruan tinggi bisnis pertama di Indoensia sejak tahun 1984 dengan penyajian kegiatan belajar mengajar menggunakan Bahasa Inggris sampai saat ini serta adanya pertukaran pelajar ke luar negeri. Memiliki dua program studi manajemen bisnis yakni S1 dan S2. Karena merupakan sekolah tinggi bisnis sehingga salah satu keunikan dari pengajaran disini adalah case study oriented special langsung dari Harvard University. Sehingga memaksa para pustakawan dengan keahlian tertentu dalam pencarian informasinya untuk dapat disajikan kepada civitas akademika. Awal mula berdirinya Perpustakaan IPMI bersamaan dengan sejarah dibentuknya IPMI, yaitu sejak tahun 1976. Pada saat itu terdapat sebuah penelitian mengenai Pendidikan Manajemen di Indonesia yang diadakan oleh INSEAD (The European Institute of Business Administration). Hasil dari penelitian tersebut, diungkapkan oleh Siswanto Sudomo selaku Direktur Pusat Pengembangan Manajemen Universitas Gadjah Mada yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Siswanto Sudomo percaya bahwa pendidikan manajemen seyogyanya berdiri secara otonom dan tidak berada dibawah fakultas ekonomi universitas. Suswanto meminta bantuan Prof. Harry L.Hansen dari Harvard Business School dalam pembentukan sebuah institut manajemen di Indonesia. Pembentukan institut tersebut mendapat dukungan dari Bapak Bustanil Arifin yang merupakan Menteri Koperasi dan Ketua BULOG pada saat itu. Pada tanggal 18 Agustus 1982 Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (YPMI) didirikan dan diketuai oleh Bustanil Arifin dengan tujuan “Berperan serta dalam pendidikan bidang menejemen dan bidang lainnya yang terkait”. Pada tanggal 13 September 1983 pendirian IPMI diumumkan di Hotel Mandarin, Jakarta yang turut mengundang para petinggi bisnis. Pada bulan yang sama anggota staf pengajar dipilih. yang kemudian ditugaskan untuk mengadakan kunjungan kerja di Harvard Business School, INSEAD dan IESE. Kemudian pada tanggal 7 September 1984 program MBA IPMI resmi dibuka oleh Prof. Dr. Ali Wardhana di Jakarta. Dengan dibentuknya IPMI sebagai institusi pendidikan maka diperlukan sebuah perpustakaan yang menunjang visi dan misi dari institusi tersebut, dalam hal ini perpustakaan bertugas untuk menunjang pengembangan manajemen dalam bentuk penyediaan informasi yang berguna untuk kegiatan belajar mengajar. Gedung pertama IPMI terletak di Jalan Kemang I No. 1 Jakarta Selatan. Perpustakaan IPMI berada di lantai dasar dengan koleksi dari Library - Harvard Business School. Kemudian pada tahun 1993 IPMI dipindahkan ke Jalan Rawajati Timur I/1 Kalibata bersebelahan dengan Plaza Kalibata. Bersamaan dengan pemindahan gedung IPMI tersebut, maka perpustakaan juga berpindah yaitu berada dilantai 3. Pada tahun 2013 perpustakaan IPMI kembali dipindahkan ke lantai 2 dengan desain ruangan yang lebih modern. Tidak hanya itu koleksi yang tersedia juga melalui proses penyiangan (weeding), sehingga jumlah koleksi berkurang yang semula berjumlah 8000 eksemplar menjadi sekitar 4000 eksemplar. Sebutan dari perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI adalah Learning Resource Center.4 Sebelum diterapkannya pustakawan dengan konsep Blended Librarian, pustakawan melakukan pekerjaan rutinitas kesehariannya yakni pustakawan tradisional. Dengan demikian pustakawan memiliki Sifat pekerjaan yang terspesialisasi dan teratur dalam kerangka prosedur baku sehingga menimbulkan anggapan negative yaitu bahwa pustakawan sama halnya dengan pekerjaan tukang yang hanya menata buku, memberi stempel, registrasi pustaka. Kemudian eksklusif dalam artian mudah dan dipayungi adanya birokratis. Birokratis yang dimaksud ribet dalam hal procedural di perpustakaan. Pustakawan dengan stigma penjaga buku dan selalu hanya berhubungan dengan buku. Namun, sesungguhnya bahwa pustakawan merupakan pengendali dunia dari belakang yakni ikut berperan serta dalam menjaga ilmu yang nantinya dapat membesarkan nama seseorang sehingga berperan pada kemajuan bangsa dan negara. Karena pustakawan merupakan agen perubahan. Melanjutkan pembahasan penerapan Blended Librarianship yang telah dilakukan secara berkala di Learning Resource Center Sekolah Tinggi Manjemen IPMI. Pada point ketrampilan skill, pengetahuan hardware dan software.5 Seorang pustakawan maka yang dilakukan adalah mengkolaborasikan point tersebut menjadi satu kesatuan sehingga untuk mengintegrasikan pusatakawan akademik ke dalam proses belajar mengajar dengan cara ikut serta teribat dalam kegiatan pemberian rekomendasi kepada dosen dan mahasiswa pada penelitian mereka, serta rekomendasi dalam penggunaan alat paling tepat untuk perhitungan penelitian mereka. Hal ini dilakukan dalam dua arah, pustakawan kepada civitas akademika, ataupun civitas akademika kepada pustakawan. Melalui kerjasama fakultas, dengan menyediakan materi pembelajaran digital. untuk mendukung pemahaman dan penggunaan informasi baik dari perpustakaan ataukah sumber informasi lainnya. 2. Case study, Journal references, Silabus dan Kurikulum point merupakan jembatan pustakawan sebagai Blended Librarian Di era milenial ini, sebenarnya para pustakawan adalah pihak yang harus pertama kali melakukan transformasi. Adding value, information literacy training, pustakawan multi-fungsi memerlukan kemampuan yang lebih dari sekedar pengetahuan dan ketrampilan di bidang TI dan bidang pengetahuan yang digeluti civitas akademika. Khususnya di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI dengan spesialisassi Manajemen Bisnis, maka pustakawan diharuskan mempunyai keahlian dalam pencarian informasi tentang case study yang berhubungan langsung dengan case study produk Harvard yang disesuaikan dengan kebutuhan akademik civitas akademika, Journal References yang berasal dari permintaan civitas akademika terdiri dari faculty6 , mahasiswa, peneliti, kemudian kesesuaian koleksi sumber informasi di perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI dengan silabus atau yang sering disebut sebagai kurikulum. Pemahaman Case Study, The case method is a discussion of real-life situations that business executives have faced. On average, you’ll attend three to four different classes a day, for a total of about six hours of class time (schedules vary). To prepare, you’ll work through problems with your peers. (Hbs. edu) Penyediaan informasi ini sangatlah sesuai dengan kebutuhan akademik oleh civitas akademika dengan core Manajemen Bisnis. Melalui studistudi kasus nyata dari organisasi/perusahaan yang ada di seluruh dunia yang dipelajari di dalam kelas dengan praktek bagaimana dalam penyelesaian kasus tersebut serta dilakukan secara berkelompok. Adapun akses case study ini hanya bisa dilakukan oleh Pustakawan dan Faculty. Namun, untuk Faculty hanya sebatas akses bagian review/ summary saja, tidak dapat akses secara langsung untuk mendownload case study tersebut. Apalagi untuk mahasiswa dan pihak akademik, merekajuga tidak bisa mengaksesnya. Karena dibutuhkan keahlian khusus dalam penentuan keyword serta otoritas ada dibawah perpustakaan. Ada 3 jenis case study yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar di kelas. Pertama, sebelum faculty mengetahui case study yang akan digunakan maka dirinya hanya bisa mengakses bagian “Do Not Copy”, Kedua, Jika sudah dipastikan bahwa materi case study tersebut akan digunakan di kelas maka pihak faculty menghubungi pustakawan untuk dicarikan sesuai dengan kebutuhannya dengan memberi informasi produk number case study dan pihak pustakawan men-download-kan case study yang “Clean Copy” dengan demikian artinya mahasiswa dikelas dapat juga menggunakannya. Adapun jika faculty tidak mengerti cara pencarian case study, maka mengharuskan pustakawan memainkan ketrampilannya untuk dapat menemukan case study yang sesuai dan akan digunakan di dalam kelas. Setelah itu, Ketiga, ada panduan khusus dalam pengajaran hingga solusi pada case study oleh faculty, yang istilahnya adalah “Teaching Note”. Praktek rutinitas yang dilakukan oleh pustakawan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI ini menambah wawasan ketiga belah pihak baik faculty, mahasiswa dan pustakawan. Tidak hanya dilakukan pada case study saja, melainkan praktek ini juga digunakan untuk journal references. Namun ada perbedaan dalam penemuan informasi dan otoritas akses jurnalnya. Adapun akses untuk journal references semua civitas akademika berhak untuk langsung mengakses dan mendapatkannya. Praktek pada journal references ini lebih pada fungsi pustakawan menjadi reference librarian.7 Adapun fungsi dalam finalisasi silabus dan kurikulum di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI selalu melibatkan Learning Resource Center dengan tujuan untuk menyelaraskan kebutuhan informasi akademik antara silabus dan ketersediaan koleksi untuk civitas akademika. Setiap semester adanya monitoring dan evaluating kurikulum yang sedang berjalan. Disinilah tugas Perpustakaan untuk dapat memikirkan juga kebutuhan training informasi apa saja kah yang diperlukan? Agar selaras dengan kurikulum yang ada. Sehingga pentingnya sebuah peningkatan Literasi Informasi di perguruan tinggi khsusnya Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Kegiatan literasi informasi yang rutin dilakukan berhubungan dengan cara menghindari plagiarism, penulisan ilmiah karya ilimiah, penulisan sitasi dengan menggunakan software yakni mendeley dan zotero. Tidak menutup kemungkinan pustakawan di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI mengadakan kegiatan eksternal yang memberikan manfaat bagi pustakawan lainnya yani di Jabodetabek pada Tahun 2017 dan 2018 dengan tema “Pustakawan Cerdas Keuangan” karena disesuaikan dengan kurikulum yang ada yakni financial Economic. Bekerja sama dengan Faculty setempat yang disesuaikan dengan corenya. Kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak yang terdiri dari faculty dapat memenuhi kum/skp, eksternal pustakawan mendapat pengetahuan tentang cerdas financial. Beberapa kegiatan pustakawan yang telah dilakukan inilah merupakan pergeseran makna yang tadinya dengan stigma “penjaga buku” kini menjadi center of knowledge. Namun bergantung pada pustakawan itu sendiri bagaimana menerapkan kinerja di dalam perpustakaan. Di Sekolah Tinggi Manajemen IPMI khusunya divisi perpustakaan secara perlahan tapi pasti melakukan penerapan konsep Blended Librarianship yang mana perpustakaan merupakan agen perubahan. Kegiatan inilah yang menjadikan lebih diperlukannya kemampuan untuk melihat dan bekerja seperti ‘kupukupu di padang bunga pengetahuan” atau ‘petani di kebunnya’ (Diao, 2003). Pustakawan dituntut memiliki kreativitas dan kemampuan mensinergikan berbagai potensi TIK dan pengetahuan untuk sebanyak mungkin meningkatkan kuantitas dan kualitas pengetahuan penggunanya. 3. Keahlian literasi Informasi pustakawan salah satu kunci keberhasilan instructional design pembelajaran oleh Blended Librarian. Literasi informasi terus berkembang sesuai kondisi waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam rumusan yang sederhana literasi informasi adalah kemampuan mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Hakekat dari literasi informasi adalah seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menelusur, menganalisis, dan memanfaatkan informasi (Bundy, 2001). Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan informasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi informasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia. Pengertian literasi informasi secara umum adalah kemelekan atau keberaksaraan informasi. Menurut kamus Bahasa Inggris pengertian literacy adalah kemelekan huruf atau kemampuan membaca dan information adalah informasi. Maka literasi informasi adalah kemelekan terhadap informasi. Walaupun istilah literasi informasi belum begitu familiar dan menjadi istilah yang asing di kalangan masyarakat. Seseorang dikatakan melek informasi berarti literat terhadap informasi. Walaupun saat ini literasi informasi biasanya selalu dikaitkan dengan penggunaan perpustakaan dan penggunaan teknologi informasi. Sudah tentu pasti pustakawan terlibat dalam tugas literasi informasi. Telah disinggung sedikit pada pembahasan sebelumnya tentang kegiatan literasi informasi yang di laksanakan di Perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI. Namun, tak kalah pentingnya bahwa instructional design pembelajaran sangat erat kaitannya dengan literasi informasi. Karena melalui design instruktur pembelajaran yang tepat maka literasi informasi dapat tersampaikan dengan maksimal. Beberapa contoh yang telah dilakukan di perpustakaan ini antara lain, pembuatan video pembelajaran tentang pemaksimalan penggunaan library yang telah diupload ke dalam youtube. Penambahan content video kedalam TV edukasi yang setiap bulannya selalu pustakawan update dengan tujuan pemustaka dapat memperoleh informasi melalui TV Edukasi tersebut. Letaknya tepat berada di depan perpustakaan setelah pintu masuk yang kemudian disambut oleh furniture yang disponsori oleh Bank Indonesia. Disinilah perlunya pustakawan dalam berkomitmen mengembangkan inisiasi literasi informasi seluruh kampus. Literasi informasi bukan sekedar sosialisasi atau pengenalan dan orientasi perpustakaan. Literasi informasi adalah pendidikan yang menuntut disain instruksional yang setidak-tidaknya mempunyai tujuan, saran dan/atau kompetensi yang mau dicapai, metode dan media pembelajaran, bahan atau materi ajar, evaluasi dan sbagainya. Mendisain program pendidikan/pelatihan membantu staf dan pengguna dengan memanfaatkan perpustakaan secara penuh. Serta bekerjasama dengan ahli Teknologi Informasi dan akademik tim.
Conclusion
Hambatan dan tantangan Blended Librarian Pada era informasi milenial ini Fenomena “Googlelization”, makin marak di mana pustakawan dan pengguna, dapat berselancar mengarungi informasi. Sehingga, hal inilah sangat penting untuk diklaim bahwa masa depan kepustakawanan akademik bergantung pada kemampuan kolektif untuk mengintegrasikan layanan dan praktik dalam proses belajar mengajar. Adapun penerapan blended librarian dalam institusional yakni peran aktif yang terjadi oleh pustakawan terhadap lembaga institusi kampus/ fakultas dengan mengetahui silabus, kurikulum, dan hal spesifik yang berhubungan dengan informasi akademik. Dengan demikian pustakawan akan menjadi kaya pengetahuan dan kecanggihan dalam pengelolaan informasi dengan berstatus sebagai information profesional Visi Blended Librarianship tentang peran pendidikan pustakawan akademik dalam konteks pergeseran paradigma radikal yang terjadi di masyarakat. Sementara evolusi literasi informasi adalah tanda positif bagi pustakawan akademik yang sebagian besar masih tangensial dengan apa yang terjadi di atau di luar instansi. Beserta diperlukannya Strategi untuk teknik dan keterampilan sehngga dapat memungkinkan semua pustakawan akademik, dari setiap sektor organisasi perpustakaan, untuk proaktif memajukan integrasi mereka ke dalam proses belajar mengajar. Bingkai kinerja sangat tergantung pada kemampuan pustakawan untuk berkolaborasi dengan departemen departemen pada institusi perguruan tinggi. Adapun hambatan yang biasanya terjadi adalah masalah kurangnya dana untuk dapat mewujudkan semua program yang telah direncanakan baik untuk Teknologi informasi, literasi informasi beserta design instruksional untuk pembelajaran. Sehingga terkadang tidak semua yang telah direncankan dapat berjalan mulus sesuai dengan keinginan Blended Librarian, begitu pula yang terjadi di Perpsustakaan Sekolah Tinggi Manajemen IPMI, namun tidak menutup kreatifitas pustakawan untuk terus berinovasi dan melakukan improvisasi guna kemajuan institusi