Kembali
16
1
2020 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 5 · 2 ISSN 2657-2346

Inovasi Pustakawan Menghadapi Perubahan Di Masa Pandemi Covid-19

Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Abstrak

Tulisan ini mendeskripsikan tentang bagaimana pustakawan harus menyikapi perubahan akibat pandemi COVID-19 yang mengubah cara pandang tentang interaksi dengan pemustaka serta memaksa perpustakaan beradaptasi dan berinovasi menciptakan layanan dengan pendekatan berbeda. Inovasi hendaknya mempertimbangkan prinsip Five Laws of Library Science yang dikemukakan oleh Rangganathan (1931) dan dimodifikasi oleh Michael Gorman dalam New Five Laws of Library Science (1998) Pustakawan hendaknya meningkatkan kompetensi dan kualifikasinya untuk mendorong lahimya inovasi Nirliterasi pada generasi muda sebagai salah satu dampak pandemi covid-19 dapat menjadi celah inovasi pustakawan yang hendaknya dilakukan dengan semangat kolaboratif Inovasi hendaknya didahuhé dengan pemetaan secara kongkrit mengenai permasalahan yang ada di sekitar sehingga hasil inovasi dapat diterapkan secara terstruktur, bertahap, dan terukur. Organisasi profesi pustakawan dapat mengambil peran lebih dalam berkontribusi memetakan masalah dan membuat rak omendasi strategi perbaikan literasi ke depan.

Abstract

This article illustrates how Abrarian should face the global change caused by pandemic COVID-19 that change the perspective of interaction with library user, and forced the library to be adaptive and innovative to build a library service in the new approach innovation shall be considere The FIVE LAW OF LIBRARY SCIENCE by Rangganathan (1931) and modied by Michael Gorman in NEW FIVE LAWS OF LIBRARY SCIENCE (1998) Librarian shall be enhanched their qualification and competency to create an innovation Nirliterasi or unliterat ed in the young generation as one of the impact of pandemic covid-19 could be the chance for libradan innova tion in the frame of collaborative spirit. Innovation shall be begin by congeset problems mapping for becoming implemented in structured gradually, and measurably result Profession organization of librarian can be cont uted more by mapping the problems arise and give recommendations for læracy strategy for the future
Keywords: COVID-19 · perubahan · inovasi · kolaboratif · nirliterasi

Introduction

Masyarakat di seluruh dunia saat ini sedang dalam kondisi darurat akibat menyebamya virus SARSCOV2 yang menginfeksi manusia secara luas dan mengakibatkan korban kematian di seluruh dunia dalam jumlah yang cukup besar. Kondisi ini dikenal secara umum sebagai pandemi Covid-19. Virus ini merupakan - rus jenis baru dan pertama kali tersebar di Kota Wuhan, China, dan hingga kini men- jangkiti hampir seluruh negara. Protokol kesehatan yang disosialisasikan WHO untuk mencegah dan mengurangi dampak penu laran virus tersebut adalah melakukan jaga jarak social distancing rajin mencuci tan- gan, memakai masker, dan menghindari kerumunan orang, dan menyarankan agar lebih baik diam di rumah. Kegiatan masyara kat disarankan menggunakan fitur on line guna menghindarkan interaksi tatap muka, sehingga merebak dilakukannya bersekolah dari rumah (school from home) dan bekerja dari rumah work from home). Bahkan lembaga internasional di bidang perpustakaan yaitu IFLA (International Federation of Library Associations) ikut memberikan panduan bagi perpustakaan dalam memberikan layanan selama masa pandemi berlangsung IFLA, 2020).¹ Perubahan besar besaran yang dialabatkan oleh pandemi covid-19 berdampak besar bagi siapapun, termasuk pustakawan. Hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah bahwa perubahan akan selalu terjadi di dunia ini, dan pustakawan harus selalu mempersiapkan diri terhadap perubahanperubahan yang terjadi dan harus mampu bereaksi dan bertindak tepat agar tugas tugas kepustakawanan dapat tetap berjalan dalam keadaan apapun. TINJAUAN PUSTAKA Pustakawan Dan Tujuan Perubahan Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan mendefinisikan pustakawan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan perpustakaan. Bagaimana tugas pokok pustakawan dijabarkan di dalam Permenpan Reformasi dan Birokrasi Nomor 9 tahun 2014 Pasal 4 dengan menyebutkan bahwa tugas pokok pustakawan yaitu melaksanakan kegiatan bidang kepustakawanan yang meliputi pengelolaan perpustakaan, pelayanan perpustakaan dan pengembangan sistem kepustakawanan. Sedangkan pada pasal 29 dinyatakan bahwa pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan merupakan bagian dari Tenaga per- pustakaan. Kewajiban tenaga perpustakaan dijelaskan pada pasal 32; (a) memberikan layanan prima terhadap pemustaka, (b) menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif dan (c) memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Pustakawan, berdasarkan definisi tersebut, adalah seorang yang memiliki kualifikasi, kompetensi, tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan perpustakaan. Peningkatan persyaratan dari aspek kualifikasi, kompetensi, tugas, dan tanggungjawabnya diarahkan untuk tujuan akhirnya yaitu peningkatan pelayanan perpustakaan yang lebih baik. Dengan demikian, tujuan pustakawan untuk berubah adalah untuk dapat memberikan pelayanan perpustakaan yang lebih baik sesuai dengan tuntutan zamannya. Perubahan dalam Dunia Perpustakaan Setidaknya terdapat 3 masa perubahan atau lebih tepatnya perkembangan yang dialami oleh dunia perpustakaan, yang dapat kita katakan sebagai era tradisional, era obmasi, dan era digital. Era tradisional ditandai dengan bahan pustaka berbasis kertas dengan sistem penelusuran koleksi menggunakan katalog kertas dan sistem manual. Berikutnya adalah era otomasi, di mana bahan pustaka kertas masih dominan digunakan tetapi aplikasi komputer memban tu penelusuran koleksi yang tadinya manual menjadi онлайн/каравану уапу Jilkenal dengan OPAC (Online Public Access Carlogue. Berikutnya adalah era digital yang ditandai dengan pengalimediaan atau produksi file digital secara besarbesaran dan penelusurannya dapat melalui akses langsung menggunakan intemet. Dilihat dari sisi layanan, perpustakaan tradisional dalam me layani pemustaka dilakukan secara manual demikian juga perpustakaan terotomasi juga masih manual dalam melayani pengguna. Berbeda dengan perpustakaan digital, segala bentuk layanan dapat dilakukan dengan ban tuan komputer, bahkan peminjaman/ pengembalian koleksi dapat dilakukan secara mandiri oleh pemustaka. Sebin perkembangan, kita juga dapat menyaksikan pasang surut perpustakaan dalam sejarah. Pasang surut perubahan pada perpustakaan terjadi diantaranya diakibatkan oleh wabah, bencana alam maupun konflik, yang mengakibatkan perpustakaan rusak, bahkan musnah dan rata dengan tanah. Con tohnya, perpustakaan-perpustakaan Islam yang mendunia pada masa silam hancur oleh invasi serangan tentara mongol. Di sisi lain, reruntuhan perpustakaan dapat kita temui sebagai peninggalan masa silam yang musnah akibat bencana alam seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan lain sebagainya. Dan kini, kita menghadapi suatu wabah yang disebut sebagai pandemi covid 19 yang memaksa kita untuk mengubah cara pandang tentang interaksi dengan pemustaka dan layanan perpustakaan. Selain diakibatkan oleh lingkungan, pe rubahan juga dapat terjadi di dalam ling kungan seal perpustakaσει Ηικτσικί struktur, manajemen, pola pekerjaan, visi dan misi, selalu mungkin untuk berubah. Perubahan-perubahan tersebut dapat berdampak kepada organisasi manajemen institusi per pustakaan, hubungan interaksi antara pemus taka dengan pengguna, dan perubahan tugas pokok dan fungsi perpustakaan yang me nyesuaikan diri dengan dinamika dan perkembangan masyarakat dan kondisi lingkungan yang dihadapi Kesiapan Pustakawan Menghadapi Pe- rubahan Mau tidak mau, siap tidak siap. pustakawan harus mau berubah. Berubah dalam arti meningkatkan diri agar mampu beradaptasi terhadap perkembangan keadaan dan kondisi internal dan ekstemal perpustakaan. Bersiap dalam hal ini dimak nai sebagai memiliki sejumlah kompetensi yang memadai untuk dapat mengambil sikap dan keputusan yang tepat sebelum, pada saat, dan setelah perubahan terjadi. Hal ini telah lama diwaspadai oleh Rangganathan, seorang pustakawan berke bangsaan India, yang pada tahun 1931 merumuskan lima hukum ilmu perpustakaan, yang dikenal dengan Five Law of Library Science. Kelima hukum ilmu perpustakaan tersebut adalah: ```text 1. book for use, buku untuk digunakan, bukan harıya untuk dikoleksi 2. every reader his or her book, setiap orang memiliki kebutuhan yang ber beda terhadap buku, 3. every book its reader, setiap buku pasti ada pembacanya, pasti ada manfaatnya, 4. save the time of reader, jangan membu ang waktu pembaca, efektifkan layanan kepada pembaca, 5. library is a growing organization, perpustakaan adalah organisasi yang tum buh dan berkembang. Kelima hukum ini kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh Michael Gorman, seorang pustakawan di Perpustakaan Nasional Inggris, dan pada tahun 1998 Gorman menyatakan konsep New Five Law Of Library Science dengan memodifikasi prinsip sebelumnya menjadi; 1. Library serve humanity perpustakaan melayani kemanusiaan tanpa mem bedakan suku, agama, ras, 2. Respect all form that which knowledge is communicated menghargai seluruh bentuk dan media yang digunakan untuk mengkomunikasikan pengetahuan kepa da masyarakat 3. Use technology to enhance service librarlans menggunakan teknologi untuk meningkatkan layanan perpustakaan 4. Protect free access to knowlege melindungi kebebasan untuk mengakses pengetahuan 5. Honor the past, create the future, menghargai masa lalu, menciptakan ma sa depan Rangganathan mengisyaratkan bahwa perubahan dalam organisasi perpustakaan adalah keniscayaan, sehingga pustakawan mau tidak mau harus selalu bertumbuh, berkembang, berubah, beradaptasi, mengiku ti perubahan organisasi perpustakaan itu sendiri maupun tuntutan lingkungan masyarakat sesuai zamannya. Dalam menghadapi perubahan, Michael Gorman mendorong perpustakaan menciptakan pembaharuan tanpa meninggalkan masa lalu Daya Adaptasi, Kreatifitas, dan Inovasi Pustakawan Perubahan selalu dibarengi dengan proses penyesuaian atau adaptasi. Adaptasi adalah bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungan, pekerjaan dan pelajaran (Suharso, 2009). Adaptasi juga dimaknai sebagai tindakan yang dilakukan seseorang untuk menjaga eksistensinya terhadap perubahan yang terjadi. Demikian pula dengan pustakawan, harus beradaptasi terhadap perubahan, dengan tujuan agar sesuai dengan tuntutan lingkungan, pekerjaan, dan pelaja ran ilmu pengetahuan dan eksistensinya tetap terjaga di tengah gelombang perubahan dan tidak tenggelam hingga mengalami kepunahan. Bagaimana pustakawan beradaptasi terhadap perubahan? Terdapat ada 5 cara beradaptasi terhadap perubahan, yakni dengan cara konformitas, inovasi, ritualisme, retreatisme, dan rebellion Berikut adalah penjelasannya 1. Konformitas adalah pilihan tindakan mencapai tujuannya dengan cara yang diterima oleh norma yang berlaku. Can tohnya, jika ingin mudah diterima beker ja maka harus memiliki ijazah S1. 2. Inovasi, tindakan yang memiliki tujuan tetapi dengan cara yang mengabaikan norma yang berlaku di masyarakat Misalnya, meningkatkan pendapatan dengan jalan korupsi, meraih nilai tinggi dengan cara mencontek plagiasi. Da lam pandangan Morton, inovasi dipandang tidak dinilai positif 3. Ritualisme, tindakan tanpa tujuan, hanya menyesuaikan dengan norma yang ber laku. Seperti halnya pustakawan yang hanya sekedar bekerja dalam rutinitas, sesuai jam kerja, asal mendapat gaji. 4. Retreatisme, tindakan menarik diri dari sistem yang ada. Hidup tanpa memiliki tujuan, atau memiliki tujuan yang salah dan tidak sesuai norma yang berlaku Pola adaptasi ini dapat dilihat pada orang yang mengalami gangguan jiwa, gelandangan, pemabuk dan para pe candu narkoba. 5. Pemberontakan, kebalikan dari retrea tisme, adalah tindakan ingin mencapai tujuan dengan tidak mengakui sistem sebelumnya. Tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan struktur sosial yang baru Tujuan yang ada dianggap sebagai penghalang bagi tujuan yang diharap kan. Tujuan dan caranya tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Konformitas sebagai cara adaptasi yang menyesuaikan tujuan diri dan organisasi dengan tujuan yang diterima masyarakat dengan memperhatikan norma yang berlaku hendaknya menjadi pilihan cara adaptasi pustakawan. Dengan konformitas, perubahan disikapi dengan positif dan mendukung nilai yang dianut masyarakat. Dikaitkan dengan upaya pustakawan menghadapi perubahan, maka adaptasi dengan cara konformitas yang dilakukan oleh pustakawan adalah meningkatkan kualifikasi dan kompetensi pustakawan. Berbeda dengan Merton, Everett M Rogers mendefinisikan inovasi sebagai ide, praktek atau objek dilandasi dan diterima sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau unit adopsi lainnya (organisasi). Inovasi menyajikan suatu alternatif atau cara yang baru bagi individu atau organisasi untuk menyelesaikan masalah. Pembaruan, dalam hal atau cara yang baru dan belum pemah ada dalam masyarakat sebelumnya seringkali menimbulkan pro dan kontra. Masyara kat bersikap kontra atau menolak inovasi sebagai suatu hal yang baru karena, se bagaimana dalam definisi Merton, inovasi dicapai dengan tujuan yang benar tetapi cara yang salah karena berbenturan dengan ke biasaan dan norma masyarakat dan nilai agama, budaya, dan hukum. Misalnya, penyedap rasa untuk membantu melezatkan masakan menimbulkan penolakan karena mengandung unsur babi. Karenarıya inovasi, sebagaimana definisi Rogers, sedapat mungkin sebagai hal baru, cara baru, yang tidak biasa, mungkin mengejutkan, menimbulkan pro kontra, tetapi tetap dalam kerangka nilai agama, budaya, dan hukum. Dengan demikian, inovasi pustakawan dapat disimpulkan sebagai cara pustakawan beradaptasi menghadapi perubahan, yakni dengan menawarkan unsur kebaruan yang selama ini tidak ada dalam kebiasaan dan norma yang berlaku, tanpa melanggar nilai agama, budaya, dan hukum yang ditujukan untuk meningkatkan pelayanan per pustakaan. per Berdasarkan uraian tersebut, berikut adalah kerangka hubungan antara konsep perubahan, adaptasi, inovasi, kompetensi, dan peningkatan layanan perpustakaan da lam rangka bagaimana pustakawan menghadapi perubahan. Perubahan mengharuskan pustakawan beradaptasi, yakni dengan melakukan kon formitas dan inovasi. Konformitas dilakukan dengan meningkatkan kualifikasi dan kompeterisi pustakawan, sementara inovasi dilakukan dengan menciptakan hal atau sistem cara baru. Pustakawan yang memiliki kompetensi memadai dapat berproses menciptakan sua tu inovasi, tetapi jika kualifikasi dan kompe tensinya kurang memadai, maka pustakawan melakukan konformitas dengan meningkatkan kompetensi dan kualifi kasinya. Keseluruhan proses berujung kepa da tujuan meningkatkan layanan per pustakaan agar sesuai dengan tuntutan pe rubahan. Jika kembali terjadi perubahan, maka dilakukan adaptasi kembali hingga layanan perpustakaan sesuai dengan tuntu tan perubahan, dan siklus ini akan terus berulang Dengan demikian, agar pustakawan mampu berinovasi, maka perlu dilakukan peningkatan kompetensi dan kualifikasi terus menerus, sebagaimana kerangka hubungan antara konsep perubahan, adaptasi, inovasi, kompetensi, dan peningkatan layanan per pustakaan dalam rangka bagaimana pustakawan menghadapi perubahan se bagaimana diilustrasikan alumya dalam Gambar 1. Hasil penelitian Roni Rhodin menunjukkan bahwa kompeten saja tidak cukup untuk dapat melahirkan inovasi, pustakawan juga harus didukung oleh: 1. passion artinya pustakawan harus berjiwa semangat dan tidak mudah me nyerah dalam melaksanakan aktivitas sebagai pustakawan. 2. time management artinya pustakawan harus bisa mengatur waktunya sehingga bersikap arogan baik sesama pustaka wan maupun dengan pemustaka waktu bisa digunakan secara efektif dan efisien. Gambar 1 Kerangka konsep Inovasi Pustakawan 3. networking artinya jaringan, pustakawan harus surrounding, artinya bisa menjalin komunikasi dan kerjasama baik sesama pustakawan maupun dengan profesi lainnya dan staf lainnya dalam melakukan ak tivitas profesinya 4. Sense of competition artinya pustaka wan harus punya semangat berkompe tisi pustakawan harus terbiasa berada di tengahtengah para pesaing sehingga pustakawan akan selalu siaga dan pu nya semangat untuk maju dalam hal ka rier dan profesionalitas 5. humble artinya kerendahan hati, pustakawan tidak boleh berlaku dan Kompetensi Pustakawan Kompetensi dalam Kamus Bahasa h donesia didefinisikan dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik pribadi yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan pada suatu pekerjaan. Titik Kismiyati dalam paparannya mengenai Standar Kompetensi Perpustakaan menjelaskan "orang yang kompeten adalah orang yang menguasai pekerjaannya dan memiliki motivasi, ket erampilan serta pengetahuan, dan secara konsisten menjalankan tanggung jawab ter sebut Kompetensi dalam diri seseorang menurut Marshall, ditunjukkan dengan adan ya: 1. Keterampilan, yaitu halhal yang orang bisa lakukan dengan baik 2. Pengetahuan, yaitu apa yang diketahui seseorang tentang suatu topik. 3. Peran sosial, yaitu citra yang ditunjuk kan oleh seseorang di muka public 4. Citra diri, yaitu gambaran yang dimiliki seseorang mengenai diri sendiri 5. Watak, yaitu karakteristik mengakar pada diri sendiri yang 6. Motif, yaitu adalah pikiranpikiran dan preferensi-preferensi tak sadar yang mendorong seseorang berperilaku. Pustakawan yang kompeten adalah se bagaiman yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 32 ayat 3. Didalamnya disebutkan bahwa bahwa pustakawan, tenaga teknis perpustakaan, tenaga ahli dalam bidang perpustakaan, dan kepala per pustakaan memiliki tugas pokok, kualifikasi dan atau kompetensi. Pasal 34 merinci kom petensi yang dimaksud.yakni 1. Pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi personal, 2. Kompetensi profesional sebagaimana dimaksud di ayat (1) mencakup aspek pengetahuan, keahlian dan sikap kerja, 3. Kompetensi personal sebagaimana di maksud pada ayat (1) mencakup aspek kepribadian dan interaksi sosial. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kompetensi profesional terkait dengan keterampilan, pengetahuan dan si kap terhadap pekerjaan dan peran sosialnya: kompetensi individu terkait dengan kepribadian dan interaksi sosial yang men cakup pengembangan citra diri, watak, motif, serta komunikasi intra personal dan antar personal. Aspek-aspek tersebut dijabarkan lebih spesifik dalam deskripsi Canadian Association of Research Libraries tentang kompetensi pustakawan: 1. Foundational knowledge, mencakup pengetahuan tentang: a. Sosial, budaya, ekonomi, politik dan informasi yang ada di lingkungan dimana pustakawan bekerja. b. Perpustakaan dan praktik-praktik professional seperti etika, nilainilai dan prinsip dasar perpustakaan ser ta informasi profesi, peran per pustakaan dalam unit kerja serta sis tem yang berjalan di dalam organ- isasi tempat perpustakaan berada (struktur, kebijakan, anggaran dan layanan). c. Lingkungan ekstra institusional sep erti daerah, provinsi, organisasi na sional dan internasional yang bisa mempengaruhi organisasi d. Peraturan yang perundang-undangan berkaitan dengan per pustakaan dan pustakawan. 2. Interpersonal skills meliputi kemampuan beradaptasi, komunikasi dan advokasi efektif, negosiasi, manajemen peru bahan, pengambilan keputusan, pemec ahan masalah, inisiatif tinggi, mampu berinovasi dan berkolaborasi, promosi dan pemasaran, mentoring, keterampi lan menulis serta mempresentasikan informasiinformasi mengenai per- pustakaan. 3. Leadership and management adalah halhal yang berkaitan dengan bagaimana mempengaruhi dan memot vasi orang lain dalam membangun ker jasama dengan berbagai gaya, scenario dan organisasi belajar, memahami manajemen keuangan mulai dari prinsipprinsip perencanaan, penganggaran sampai pelaporan kegiatan, melakukan manajemen sumber daya manusia, serta mampu melakukan pengembangan ter- hadap layanan perpustakaan dengan menilai kebutuhan dan merencanakan serta melaksanakan layanan baru yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. 4. Collections developmentadalah kompe tensi inti yang berkaitan dengan: siklus penerbitan ilmiah, pengembangan koleksi, digital curation, digital preservation, manajemen pelestarian koleksi, manajemen pelestarian koleksi dan manajemen rekaman mutu dan arsip data perpustakaan. 5. Information literacy adalah unsur pent ing yang harus dimiliki oleh pustaka wan, dengan berkomitmen untuk mam pu menginformasikan keaksaraan (se bagai bagian dari prinsip literasi infor masi dalam lingkungan akademik, ter masuk numeric dan keaksaraan data. Belajar dan mengajar untuk secara eléktif berhubungan dengan pemangku kepentingan dan mengintegrasikan pro gram literasi informasi yang sesuai, berpikir kritis dan belajar sepanjang hayat sebagai bagian dari upaya memahami konsep dan prinsip literasi informasi, sehingga pustakawan mampu mem berikan pelayanan informasi dan mem iliki pengetahuan tentang prinsip dan teknik untuk secara efektif berinteraksi dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan informasi. 6. Research sebagai bagian dari kontribusi diri seorang pustakawan melalui penelitian atau publikasi, presentasi pa da konferensi, pengajaran, manajemen kegiatan melalui kepanitiaan, terlibat da lam asosiasi profesional, pengabdian masyarakat serta mengembangkan teori atau projek baru. 7. Information technology skills sangat dibutuhkan oleh pustakawan meliputi pengetahuan tentang Integrated Library Systems (ILS), Web desain dan perkembangan sosial media, pengembangan sumber daya elektronik, sistem reposib rydan sistem database Definisi-definisi tentang kompetensi pustakawan pada akhirnya saling melengka pi sehingga menjadi arahan dan panduan bagi pustakawan dalam meningkatkan kompetensinya Pendidikan dan Pelatihan Pustakawan Banyaknya kompetensi yang perlu dikuasai tentu membutuhkan banyak waktu dan kesempatan untuk dapat menguasainya, sementara pekerjaan rutin pustakawan saja terkadang menyita waktu. Menurut Amrullah Hasbana, pustakawan dapat menuangkan target kompetensi yang ingin ditingkatkan ke dalam uraian kerja yang menjadi tugas pustakawan sendiri. Berikan ruang ke dalam diri pustakawan sendiri untuk mengelaborasi, menginovasi dan mengkreatifikasi peker jaannya sendiri. Kuncinya adalah pendidikan dan pelatihan pustakawan baik melalui jalur formal maupun non formal. Pendidikan dan pelatihan terhadap pustakawan diperlukan. untuk memunculkan ideide baru yang kelak menjadi dasar bagi perkembangan dan pe rubahan pustakawan itu sendiri!! Beragamnya jenis kompetensi yang diharapkan ada dalam diri pustakawan menunjukkan bahwa pustakawan seharusnya tidak membatasi dirinya dengan hanya mengikuti pendidikan dan pelatihan serta bentuk pendidikan lainnya (sosialisasi, workshop, seminar, dan sejenisnyal hanya dalam bidang perpustakaan saja, karena persinggungan pustakawan dengan masyarakat penggunanya memiliki banyak segi dan bidang. Wawasan pustakawan ter hadap bidangbidang keilmuan lain pada saatnya akan bermanfaat dan menambah nilai hasil kreatifitas dan inovasi pustakawan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Supriyanto bahwa arah pengembangan pustakawan ditujukan agar mampu berperan serta melaksanakan dukungan secara sa sional dan proporsional (kompeten) terhadap tugas pokok dan fungsinya sebagai wujud karakter pustakawan yang dikehendaki. Oleh karena itu diperlukan peningkatan profesion alisme dan membangun kreatifitas inovatif pustakawan. MASA PANDEMI COVID-19 DAN INOVASI PUSTAKAWAN Di masa pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga sekarang, sekolah, kampus, intansi pemerintah, dan masyarakat umum dikondisikan untuk belajar dan bekerja dari rumah dengan prinsip stay at home atau "tinggal di rumah saja" dengan protokol kesehatan ketat dengan tujuan untuk memutus rantai jaringan penyebaran virus. Karenanya kontak fisik antara pustakawan dengan pengguna sela ma beberapa waktu ditiadakan. Lalu bagaimana layanan perpustakaan kepada masyarakat? Akankah terhenti? Bagi pustakawan, terhentinya kontak fisik serta menurunnya frekuensi dan intensitas layanan terhadap pemustaka, di satu sisi merupakan kesempatan. untuk melakukan introspeksi mengenai kapasitas, kapabilitas, dan kompetensinya sebagai pustakawan. Banyaknya kesempatan peningkatan kompetensi dengan munculnya berbagai tawaran seminar bahkan diklat me lalui internet dapat dimandaatkan sebaik baiknya oleh pustakawan untuk mendukung tugas pokok dan fungsinya. Kompetensi yang hendaknya ditingkatkan tidak hanya meliputi kompetensi profesional tetapi juga kompetensi personal. Kedua jenis kompetensi ini membuat pustakawan tidak hanya herus memiliki kepedulian terhadap permasa lahan di seputar tempat kerjanya tetapi juga permasalahan bangsa secara umum, terlebih pandemi COVID-19 telah semakin menjauhkan upaya upaya peningkatan literasi anak bangsa dari tujuannya. Terhentinya layanan perpustakaan umum, sekolah sekolah beserta perpustakaan sekolahnya membuat persoalah nirliterasi pada generasi muda semakin pelik solusinya. Dampak Pandemi terhadap Nirliterasi Layanan perpustakaan terpaksa harus berhenti karena situasi pandemi COVID-19. Amri Mahbub Allathon, seorang Hilolog di Perpustakaan Nasional RI, dalam tu lisannya "Pustakawan dan Pandemi Literasi", menyatakan bahwa Indonesia tak hanya sedang menghadapi wabah COVID-19 yang sudah berjaları beberapa bulan ini, melainkan juga harus melawan "pandemi" lain yang telah lama terjadi dan belum berakhir hingga kini yakni "nirliterasi"! Lukman Solihin dkk yang mengupas masalah nirliterasi ini dalam penelitiannya menengarai titik kritis nirliterasi terletak pada kurangnya literasi membaca di kelas awal. Menurutnya siswa yang tidak mampu membaca akan mengalami "elek Matthew" berupa menurunnya motivasi belajar, rendahnya. kemampuan menangkap informasi, berpotensi mengulang kelas, bahkan tidak melanjutkan pendidikan drop our Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat tiga persoalan utama terkait penyebab darurat literasi membaca di kelas awal, yaitu rendahnya kompetensi guru, kurikulum yang mengabaikan pelajaran membaca pemu laan, dan minimnya sumber daya bacaan. Penelitian Solihin dkk. tentang adanya darurat literasi ini berawal dari data Hasil Early Grade Reading Assessment (EGRA) yang digunakan untuk mengukur kemampu an membaca siswa SD kelas awal yang dilakukan di 7 provinsi di Indonesia. Hasilnya diketahui bahwa siswa kelas 2 dan 3 umumnya dapat membaca kata dalam Bahasa Indonesia, namun tidak paham maknanya. Terkait tingkat pemahaman terhadap bacaan. hasil EGRA ini juga menunjukkan bahwa siswa di Jawa dan Bali dapat membaca dan memahami lebih baik dibandingkan siswa di daerah lain. Sementara siswa dari daerah timur Indonesia membaca dengan tingkat pemahaman paling rendah. Kondisi demografi pun turut mempengaruhi dengan ditemukannya kesenjangan antara siswa di daerah terpencil dengan mereka yang tinggal di daerah non-terpencil. Temuan serupa juga diperoleh dari hasil Asesmen Kompe tensi Siswa Indonesia (AKSI) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains bagi siswa kelas 4 SD. Hasil Aksi secara nasional menunjukkan, untuk kategoń kurang dalam kemampuan matematika sebanyak 77.13%, kurang dalam membaca 46,83%, dan kurang dalam sains 73.61% Dengan demikian, hampir setengah dari siswa kelas 4 SD memiliki kemampuan di bawah rata-rata dalam membaca Kondisi lemahnya kemampuan membaca itu terus terjadi, sehingga ketika PISA melakukan penelitian diperoleh data lebih dari 55% anak usia 15 tahun buta huruf secara fungsional artinya dapat membaca teks namun tidak mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks tersebut. Kondisi rendahnya kecakapan membaca di kelas awal ibarat kondisi tengkes (stursting dalam dunia kesehatan. Pada anak dengan kondisi tengkes, periode emas perkembangan otaknya terhambat karena kurangnya asupan nutrisi. Akibatnya, kapasitas intelektual anak tidak berkembang optimal. Be gitu pula dengan lemahnya literasi membaca dapat mempengaruhi terhadap keberhasilan anak dalam mengarungi dunia pendidikan. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami banyak hambatan dalam belajar. Stanovich menyebutnya sebagai "elek Matthew", yaitu dampak bagi siswa yang tidak bisa membaca dengan baik di kelas awal akan kehilangan motivasi, hanya mampu menyerap sedikit informasi, serta tidak mampu memahami informasi yang kompleks. Akibatnya, siswa bukan hanya gagal belajar, melainkan berpotensi besar mengulang kelas bahkan tidak melanjutkan pendidikan. Sebuah penelitian terhadap pelajar di Amerika Serikat mengungkapkan, para pelajar yang tidak dapat membaca lancar di akhir kelas 3 sekolah dasar memiliki risiko empat kali lebih besar meninggalkan bangku sekolah Idrop out tanpa mendapat ijazah dibandingkan mereka yang lancar membaca. Dengan adanya pandemi COVID-19, kondisi nirliterasi atau darurat literasi meluas, tidak hanya terjadi di kelas awal (kelas 13 SD) tetapi juga merambat ke kelas lanjutan meski telah berusaha diatasi dengan model model pembelajaran jarak jauh atau melalui perangkat teknologi komunikasi karena sangat jelas, selain pelajaran membaca permulaan bagi kelas awal terabaikan karena minim kontak fisik antara guru dan murid, sumber daya bacaan juga tidak sampai ke tangan generasi muda bangsa ini dengan ditutupnya layanan perpustakaan sekolah, bahkan perpustakaan umum. Kondisi ini diperberat dengan lam- batnya roda pergerakan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Barryaknya PHK, pemembaca permulaan, dan minimnya sumber rusahaan guluing fikar, pendapatan menurun, daya bacaan (Solihin dkk, 2020)". dan melonjaknya prosentase masyarakat Pustakawan bisa fokus kepada penyebab kurang sejahlera/prasejaltera,/miskin. Kaneketiga, yakni minimnya sumber daya bacaarı, narrya nirliterasi tidak harrya menimpa genyang dalam perspektif kepustakawanan aderasi medla tetapi juga masyarakat secara lah meningkatkan aksesibilitas pemustaka kepada sumber daya koleksi. Mersurut Dr. Anindito Aditomo (2015) Nirliterasi dan Inovasi Pustakawan di terdapat lingkaran kebaikan Iterasi dan lingMasa Pandemi COVID-19 karan setan nirliterasi. Pada Ingkaran heInovasi pustakawan di masa pandemi baikan literasi melalui aktifitas membaca COVID-19 secara umum adalah memfasilakan memperkaya kosakata melalui tasi perustaka dengan layanan dalam jarinkegiatan menyimpulkan and kata yang gan/ online melalui penggunaan teknologi diperoleh dari konteks cerita. Kosakata yang komunikasi, jaringan intemet, dan media digsemakin kaya mernudahkan membaca teksital. Perguruan tinggi adalah institusi yang teks baru, yang kermudian semakin mencenderung lebih siap menggunakan inovasi perkaya lagi perbendaharaan kata, juga ini karena secara umum perpustakaannya memperkaya pengetahuan tentang topik, mermiliki kesiapan infrastruktur dan sumber struktur teks dan seterusnya. Semakin sering daya manusia yang memnadai dam pentismembaca, seseorang akan semakin merasa takanya memiliki kewaspadaan/ awareness sebagai "seorang pembaca" dan juga merasa yang cukup tinggi dalam menggunakan in"bisa membaca". Dengan kata lain, membaca frastruktur layanan online Inovasi jenis ini membertuk konsep dir sekaligus efikasi diri. meski sesuai dengan tuntutan protokol Keduanya sangat penting terutama ketika kesehatan di masa pandemi COVID-19 hanseseorang menghadapi bacaan yang terasa ya bisa diterapkan secara terbatas dan tidak sulit Seseorang yang mermiliki identitas sebisa diterapkan secara las bagi pemustaka bagai "seorang pembaca" akan lebih mar dari kalangan pelajar dan masyarakat untam bertahan dan meveruskan bacaan yang sulit. akibat ketidaksiapan infrastruktur dan SDM Sementara kebalikannya, lingkare setam di satu sisi dan kondisi pemustaka di sisi lain. mirliterasi terjadi pada orang yang jarang Terkait nirliterasi, hasil penelifianya membaca juga jarang berkesempatan Solihin dik. dapat menjadi fokus masalah menambah kosakata dan pergetahuan tenyang lisa diangkat oleh pustakawan untuk tang struktur teks. Strategi membaca juga mencari model inovasi yang sesuai, yakni tidak berkembang, pun demikia dengan adanya darurat literasi membaca di kelas identitas dan efikasi dirinya sebagai pemawal akibat rendahnya kompetensi guru, baca. Semakin stagnian kosakata, pengekurikulam yang mengabaikan pelajaran tahuan, identitas, dan elikasi diri, semakin enggan ia membaca dan seterusnya? Dengan demikian, untuk membentuk ling karan kebaikan literasi, masyarakat harus didekatkan kepada sumber daya bacaan dan menjaga agar akses kepada sumber daya bacaan bisa berlangsung secara terus meneDengan kata kunci inovasi untuk mempertinggi aksesibilitas pemustaka kepada sumber daya bacaan secara terus menerus dan berkesinambungan, pustakawan dapat bercermin dari inovasi serupa yang telah dilakukan. Berikut adalah beberapa inovasi tersebut a. BULIR/BUKU BERGULIR Buku Bergulir (Bulir) adalah paket buku yang digulirkan kepada keluarga,setiap keluarga memperoleh pinjaman buku sesuai dengan kebutuhan dan minat keluarga penerima program buku bergulir, ada buku untuk ayah, ibu dan anak. Hal ini membantu masyarakat untuk bisa mengakses buku bacaan sesuai kebutuhan tanpa harus mengeluarkan biaya Bulir merupakan program kerjasama antara Pemerintah Kota Solok melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Solok bekerjasama dengan Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemil. Berdasarkan evaluasi pelaksanaan program Buku Bergulir (Bulir) di kota Solok hasilnya rata rata warga Kota Solok membaca 24 judul buku dalam setahun. Program Bulir kemudian dikoordinasikan oleh aparatur pemerintahan fingkat kelurahan di setiap wilayah Kota Solok dan didistribusikan ke masing-masing rumah penerima b. HALO PEMUSTAKA PEMUSTAKA Dinas Program HALO merupakan program layanan antar jemput peminjaman buku gratis selama wabah covid-19 bagi siswa sekolah dasar dan TK/PAUD sederajat yang diselenggarakan oleh Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan. Peminjaman Buku-buku PAUD dan TK gratis diantar dan dijemput radius 10 Km dari Kantor Perpustakaan Setiap harinya 50 buku disiapkan untuk diantarkan dengan 2 armada. Asesmen kebutuhan buku dilakukan dengan menyediakan katalog melalui aplikasi komunikasi Whatsapp c. Pustaka Bergilir Buku Masuk Rumah (PB-BMRI Pustaka Bergilir Buku Masuk Rumah (PB-BMR) adalah sistem penyediaan dan pengantaran buku bacaan ke rumah-rumah yang sesuai untuk keluarga Indonesia. Buku diantarkan secara bergilir ke rumah-rumah setiap 15 hari oleh petugas. Program ini relevan dengan kondisi terbatasnya bacaan masyarakat. Apa lagi di saat larangan berkumpul, maka perpustakaan di daerah tidak dapat dikunjungi, sekolahpun harus di rumah. Setiap orang dalam keluarga dapat membaca 24 judul buku dalam setahun. Program ini ditujukan untuk mempercepat program penguatan kemampuan literasi masyarakat desa sebagaimana yang diprogramkan pemerintah. Program ini merupakan strategi jangka panjang agar kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih ba

Conclusion

Ketiga contoh di atas menunjukkan bahwa inovasi untuk mengatasi nirliterasi di masa pandemi covid-19 dilakukan melalui peningkatan aksesibilitas masyarakat ter hadap bahan bacaan secara fisik. Pola inovasinya adalah metode antar jemput koleksi yakni langsung mengantarkan sumber daya bahan bacaan dari rumah ke rumah dan menjemputnya kembali pada waktu yang ditentukan. Polanya dapat digambarkan se bagai berikut; i. Program Bulir ii. Pemerintah daeah Perpustakaan umum/DPK Organisasi Sosial → aparat kelurahan rumah keluarga. Program HALO PEMUSTAKA iv. Perpustakaan umum/DPK → pustakawan petugas perpustakaan →mumah/anak Program Pustaka Bergilir Bulu Masuk Rumah (PBBMR) Organisasi Sosial relawan rumah/ keluarga Inovasi yang dilakukan oleh instansi perpustakaan umum, organisasi sosial masyarakat, dan organisasi profesi pustala wan ini menjadi cermin bahwa dalam mengembangkan inovasi pustakawan dapat bergabung bersamasama dengan lembaga perpustakaan, organisasi sosial masyarakat, atau organisasi profesi pustakawan untuk menuangkan pikiran dan ideidenya untuk membuat inovasi gerakan yang lebih besar. Pustakawan yang berada dalam organisasi profesi dapat digerakkan sebagai relawan mediator antara lembaga penyedia bahan bacaan/ perpustakaan atau komunitas or ganisasi sosial masyarakat dengan masyara kat. Melalui kompetensinya, pustakawan dapat dikoordinasikan untuk membuat as sessment kebutuhan, perencanaan serta pelaksanaan hingga pelaporan dan evaluasi yang terstruktur, bertahap, dan terukur, se hingga kondisi literasi masyarakat dapat terpantau. Jika dilakukan secara massif, hal ini dapat menjadi bahan kajian bagi pendataan literasi wilayah di satu sisi dan peluang emas untuk melakukan penelitian dan kajian begi peningkatan profesionalitas dan menambah angka kredit pustakawan di sisi lain. Organ isasi profesi pustakawan seperti IPI dapat mengambil peran lebih dalam berkontribusi memetakan masalah dan membuat rek omendasi strategi perbaikan literasi ke de pan. Hasil akhir dari semua itu adalah tar programnya kegiatan literasi secara nasional sehingga pada akhimya dapat mengatasi darurat literasi di titik yang paling kritis untuk membantu meletakkan dasar kemampuan literasi anak bangsa untuk masa depan yang lebih baik