Kembali
16
1
2022 Al-Kuttab: Jurnal Kajian Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan Vol 4 · 1 ISSN 2685-2187

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Rumah Baca Asma Nadia

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk perpustakaan berbasis inklusi sosial pada rumah baca asma nadia. Lokasi penelitian ini dilakukan di pusat rumah baca Asma Nadia yang terletak di Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta studi kepustakaan. Sedangkan untuk teknik analisisnya dilakukan melalui tiga tahapan yakni tahapan reduksi data, penyajian data serta melalui tahap verifikasi dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan rumah baca asma nadia dilakukan melalui berbagai perubahan seperti menjadikan rumah baca asma nadia sebagai fasilitator dalam pengembangan potensi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan informasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat sekitar, menyediakan akses sumber informasi yang berbasis teknologi informasi serta pengelola rumah baca asma nadia secara aktif menjadi mediator informasi

Abstract

This study aims to library-based social inclusion in the reading house of asthma Nadia. The location of this research was carried out in the center of the Asma Nadia reading house located in Ciranjang District, Cianjur Regency, West Java Province. The method used in this research uses a qualitative approach with the type of case study research. Data collection techniques were carried out through observation, interviews and literature study. Meanwhile, the analysis technique is carried out through three stages, namely the data reduction stage, data presentation and through the verification and conclusion stages. Based on the results of the study, it is known that the social inclusion-based library transformation carried out by the Asma Nadia Reading House was carried out through various changes such as making the Asma Nadia Reading House a facilitator in developing the potential for economic growth and community welfare through fulfilling information needs that are relevant to the needs of the community, becoming a center for community activities in improve the knowledge and skills of the surrounding community, provide access to information technology-based sources and the manager of the Asthma Nadia reading house is an active mediator of information.
Keywords: Reading house · Community empowerment · Library transformation · social inclusion

Introduction

Perpustakaan, literasi dan pembelajaran sepanjang hayat memiliki hubungan yang strategis dan saling menguatkan. Orang yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan memiliki kepercayaan diri, inisiatif serta mandiri untuk melakukan berbagai aktifitas termasuk dalam pencarian dan pemanfaatan sumber informasi di perpustakaan. Dalam konteks ini perpustakaan dapat berperan lebih dan dapat turut turut andil dalam hal pemberdayaan masyarakat, mendekatkan, mengajak serta memberdayakan masyarakat. Salah satu cara untuk mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat yaitu melalui konsep perpustakaan yang bebasis inklusi. Adapun mengenai pengertian trasformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial secara sederhana diartikan sebagai perubahan atau pergerakan layanan perpustakaan yang berkomitmen untuk lebih meningkatkan kualitas hidup maupun kesejahteraan dari masyarakat penggunanya. Jadi dalam konteks ini perpustakaan menjadi lebih dekat dengan pengguna dan dapat dirasakan pengguna. Perpustakaan menjadi aset penting bagi suatu negara atau institusi, karena didalam perpustakaan terdapat banyak sumber informasi atau kekayaan ilmu pengetahuan yang bisa dipergunakan oleh masyarakat maupun pengguna perpustakaan dan tentunya itu sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup pengguna perpus-takaan. Saat ini perpustakaan sudah mulai menunjukan eksistensinya di Indonesia, bahkan pemerintah mulai menunjukkan keseriusan mereka dan mulai menaruh perhatian yang besar dalam mendaya-gunakan, mengembangkan, dan meningkatkan peran perpustakaan dengan dikeluarkannya UndangUndang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Pada tahun 2019 perpustakaan berhasil masuk kedalam program dan kegiatan prioritas nasional mengenai “Penguatan Literasi Untuk Masyarakat” dengan indikator “Meningkatnya Kualitas Pelayanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”, dan pada saat ini perpustakaan mengusung suatu tema yang cukup besar, yaitu “Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.” Dalam hal ini perpustakaan sudah benar-benar meningkatkan eksistensinya. Eksistensi perpustakaan pun semakin terlihat setelah didakannya rapat Koordinasi Nasional yang diselenggarakan pada tanggal 14 – 16 Maret 2019 di Hotel Bidara, Jakarta. Pada rapat itu yang dibuka sambutan oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki 164.610 perpustakaan, dengan begitu Indonesia menempatkan dirinya sebagai negara nomor 2 (dua) dengan jumlah infrastruktur perpustakaan terbanyak di dunia, dengan kata lain posisi Indonesia berada dibawah India yang memempati posisi pertama (323.605 jumlah perpustakaan). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perpustakaan berbasis Inklusi Sosial, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Eksklusi Sosial, karena dua hal ini saling berhubungan. Eksklusi Sosial merupakan hal yang berkaitan dengan rendah atau tidak adanya akses masyarakat atau sekelompok orang atau individu dalam berbagai kegiatan di masyarakat baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, kesehatan, dan lainnya (Ruman, 2014). Dan Inklusi Sosial merupakan kebalikan dari Ekslusi Sosial, yaitu setiap orang memiliki akses dan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas di masyarakat (Ruman, 2014). Jadi, Inklusi Sosial ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Inklusi Sosial sebenarnya bukanlah hal yang baru, menurut Mallawa dalam artikel nya Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial menyebutkan bahwa konsep ini telah ada sejak tahun 1970-an di Prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negaranegara Eropa, yang memiliki dampak meningkat pada kerugian di eropa. Konsep ini akhirnya menyebar ke wilayah Inggris pada tahun 1980 dan 1990-an (Mallawa, 2019) Konsep Inklusi Sosial mendapatkan perhatian yang sangat tinggi dan dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Conpenhagen, Denmark yang dilaksanakan pada 6-12 Maret 1995. Akan tetapi, Inklusi Sosial pertama kali diwacanakan pada tahun 1999 dalam dokumen Libraries for All, yang dimana dokumen ini diterbitkan oleh Departement for Culture, Media and Sport. Uk. Kemudian mengenai pengertian perpustakaan berbasisi inklusi sosial Labibah Zain (2019) mengartikan sebagai layanan perpustakaan yang mendorong masyarakatnya untuk mandiri, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi melalu pembangunan.Berkaitan dengan hal ini Mallawa (Mallawa, 2019) menyebutkan bahwa dalam dokumen tersebut terdapat 7 (tujuh) kunci dalam pengembangan Inklusi Sosial di Perpustakaan, diantaranya adalah; (1) perlunya inklusi sosial di perpustakaan umum, (2) konteks inklusi sosial, (3) identifikasi dan hambatan kterlibatan masyarakat, (4) kebijakan inklusi sosial, (5) sarana untuk mencapai tujuan, (6) tantangan yang dihadapi perpustakaan, (7) proses konsultasi. Dalam dokumen tersebut dipaparkan mengenai definisi dari perpustakaan berbasis inklusi sosial, yaitu perpustakaan yang proaktif membantu individu maupun masyarakat dalam mengembangkan keterampilan, kepercayaan diri, dan menambah relasi ataupun jejaring sosial. Dan bukan hanya itu saja, perpustakaan pun mendukung kegiatan komunitas, orang dewasa, ataupun keluarga untuk membagi ilmu pengetahuan dan wawasan di perpustakaan. Namun demikian apabila mendengar istilah perpustakaan berbasis inklusi sosial sebenarnya merupakan yang diterapkan dan di suarakan pertama kali oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada bulan Maret 2019, dengan kata lain perpustakaan berbasis inklusi sosial di Indonesia baru diterapkan. Dalam sebuah konteks perpustakaan bukan hanya yang telah disebutkan diatas saja, diharapkan Inklusi Sosial dicanangkan menjadi program perpustakaan untuk mensejahterakan masyarakat dalam bidang literasi, karena pada hakikatnya perpustakaan merupakan penyedia literasi pertama, seperti hal nya minat baca dan melek huruf. Ketika masyarakat telah mengetahui dua hal tersebut, maka masyarakat bisa merambah ke literasi yang lain seperti literasi kesehatan. Masyarakat yang telah gemar membaca yang tentunya sudah melek huruf akan memudahkan masyarakat dalam mengetahui kesehatan. Misalnya ketika salah seorang masyarakat atau individu mendatangi sebuah puskesmas atau klinik gigi, di dalam puskesmas tersebut biasanya terdapat infografis mengenai kesehatan gigi, cara merawat gigi yang baik, dan lain sebagainya, jika individu tersebut tidak melek huruf (tuna aksara) atau bahkan tidak memiliki minat dalam membaca maka individu tersebut akan menghiraukan informasi-informasi yang sebenarnya sudah bisa langsung dikonsumsi. Tetapi jika rasa ingin tahu individu tersebut tinggi daan disertai dengan minat baca yang tinggi pula, maka informasi yang ada di infografis tersebut akan langsung dikonsumsi oleh nya. Oleh karena demikian konsep perpustakaan dengan berbasis Inklusi Sosial akan membuat perpustakaan bisa menguatkan rancangan mengenai literasi kepada masyarakat, diketahui juga bahwa minat baca di Indonesia cukup rendah jika dibandingkan dengan jumlah perpustakaan yang ada di Indonesia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Indonesia menemapti posisi kedua dalam jumlah perpustakaan terbanyak di dunia, namun hal tersebut tidak membuat masyarakat memiliki tingkat literat yang tinggi, justru sebaliknya bahwa tingkat literat dan minat baca yang dimiliki masyarakat Indonesia cukup rendah. Hal ini menjadi perhatian yang sangat penting bagi perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia, seharusnya dengan jumlah perpustakaan sebanyak itu, sudah mampu membuat minat baca di Indonesia tiap tahun makin meningkat, tetapi pada kenyataannya tidak. Padahal minat baca dan melek huruf sangatlah berkaitan dan sangat berpengaruh satu sama lain. Rata-rata kalangan masyarakat yang tidak melek huruf berada pada rentang dewasa sampai lansia yang memiliki tempat tinggal di pedesaan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang dulunya (ketika pada fase anak-anak) tidak sempat untuk mengeyam bangku pendidikan. Alasan yang paling kuat dimiliki oleh masyarakat pedesaan sehingga tidak dapat mengenyam bangku pendidikan dikarenakan akses terbatas di dunia pendidikan yang tidak dapat menjangkau daerah pedesaan dan keterbatasan dana pada saat itu. Pendidikan menjadi hal yang paling utama untuk menperkenalkan sumber-sumber bacaan, namun jika masyarakat tidak dapat mengeyam pendidikan ketika mereka masih anak-anak karena keterbatasan dana yang dimiliki masyarakat pada masa itu, hal ini pun yang membuat masyarakat memiliki tingkat melek huruf yang rendah, dan membuat minat baca dikalangan masyarakat pedesaan menjadi rendah pula. Dengan tolak ukur minat baca yang rendah di kalangan masyarakat pedesaan, membuat mereka tidak begitu mengetahui mengeni ilmu pengetahuan. Minat baca harus ditumbuhkan pertama kali ketika masih berada pada fase anak-anak, karena pada fase inilah anak-anak mudah sekali untuk menyerap apa yang mereka lihat, mereka akan sangat mudah sekali untuk menirukannya, maka ketertarikan untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak harus divariasikan dengan lebih menarik. Terlebih lagi, di era sekarang yang sudah terlihat kemajuan di sektor pendidikan dan telah merambah dengan baik di daerah pedesaan, ilmu pengetahuan harus dikemas semenarik mungkin. Ilmu pengetahuan terbesar berada di perpustakaan. Perpustakaan menyimpan banyak data-data yang berisi ilmu penge-tahuan yang sangat dibutuhkan dikalangan masyarakat, hal ini pun ditinjau dari aspek dengan ilmu pengetahuan bisa meningkatkan taraf kehidupan mereka. Dan hal ini membuat perpustakaan menjadikan landasan yang paling utama untuk menunjang kebutuhan masyarakat. Pemahaman masyarakat mengenai lembaga penyedia informasi dan ilmu pengetahuan terbesar ini kurang dipahami oleh masyarakat, padahal pada hakikatnya masyarakat harus bisa mendapatkan pelayanan informasi yang optimal, menurut Williment (Williment, 2009) pelayanan informasi dapat tercipta dengan optimal melalui bentuk inklusifitas yaitu adanya partisipasi lansgung dari masyarakat. Salah satu bentuk lembaga penyedia informasi yang ada di masyarakat adalah taman bacaan masyarakat. Adapun mengenai taman bacaan masyarakat atau menurut sukaesih, dkk (2021) disebut dengan ruang baca public adalah tempat disediakannya bahan-bahan bacaan bagi masyarakat. Keberadaan taman bacaan masyarakat menurut Rohanda, dkk (2021) memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat khususnya yang ada di wilayah pedesaan. Namun demikian untuk berjalannya penyelenggaraan sebuah lembaga perpustakaan menurut Winoto (2021) perlu adanya adanya kerjasama dari berbagai pihak sehingga perpustakaan dapat menjalankan perannya secara optimal. Berbicara lebih jauh tentang perpustakaan dan layanan perpustakaan di wilayah Kabupaten Cianjur terdapat sebuah layanan kegiatan membaca yang dikenal dengan rumah Baca Asma Nadia di taman bacaan ini terdapat berbagai bahan bacaan yang disediakan untuk anak-anak orang tua yang memiliki kesenangan membaca. Salah satu tujuan dari penyelenggaraan taman bacaan ini sama seperti perpustakaan dan taman bacaan lainnya untuk mendorong pembaca untuk memanfaatkan sumber-sumber bacaan dan sumber informasi lainnya dalam mendukung kemandirian mereka dalam melakukan tugas-tugas kesehariannya. Adapun mengenai rumah baca Asma Nadia adalah merupakan taman bacaan masyarakat yang disediakan gratis bagi masyarakat untuk membaca, belajar serta untuk pemberdayaan. Ada beberapa tujuan dari pendirian rumah baca asma nadia ini yakni untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat (anak-anak-remaja serta orangtua); untuk menambah wawasan masyarakat;untuk memberikan kegiatan positif kepada lingkungan sekitar rumah baca serta untuk memfasilitasi kegiatan rekreasi melalui bahan bacaan. Mengenai taman bacaan atau rumah baca Asma Nadia ini dikelola secara mandiri oleh para pegiat sosial yang bekerjasama dengan berbagi pihak. Sebenarnya rumah baca Asma Nadia ini tidak hanya di Ciranjang Cianjur Cianjur namun sudah tersebar diseluruh Indonesia, sehingga menurut data sampai saat ini rumah baca Asma Nadia berjumlah sekitar 254 buah, (sumber : Rumah Asma Nadia, 2020). Berkaitan dengan program dari rumah baca Asma Nadia yang bekerjasama dengan berbagai relawan, penggiat literasi serta pihak lainnya untuk membuka taman bacaan masyarakat diberbagai tempat di wilayah Indonesia adalah sebuah tranformasi perpustakaan dengan tujuan rumah baca atau taman bacaan Asma Nadia ini bisa menjadi sarana bagi masyarakat untuk berkegiatan belajar sepanjang hayat sehingga masyarakat yang datang ke rumah baca dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan kesejahteraannya, selain dapat menjadi sarana rekreasi melalui penyediaan bahan bacaan. Oleh karena demikian berkaitan dengan hal tersebut di atas peneliti tertarik mengangkat keberadaan rumah baca Asma Nadia ini dalam kajian perspektif transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Method

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Mengenai pengertian kualitatif Moleong menyatakan bahwa penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan, (Moleong, 2014). Sedangkan mengenai pengertian studi kasus yaitu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tetang suatu peristiwa, program, dan aktivitas baik pada tingkat perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Pendapat yang senaga juga dikemukakan Creswell (2017) yang menyatakan studi kasus adalah adalah salah satu penelitian kualitatif dimana peneliti melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas, terhadap satu orang atau lebih orang. Kemudian mengenai subjek dalam penelitian adalah para pembaca dan pengelola rumah baca Asma Nadia. Sedangkan yang menjadi objek penelitiannya adalah rumah baca asma nadia pusat yang terletak di Kabupaten Cianjur. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data primer yakni sumber data yang diperoleh peneliti secara langsung untuk kepentingan penelitiannya melalui observasi dan wawancara dengan para informan yakni Bapak jejen Zaenal Mutaqin yang merupakan ketua pengurus Rumah Baca Asma Nadia Pusat di Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur Jawa Barat, Ibu Rani Susanti dan Kang Ahmad Yasir yang merupakan relawan yang membantu kegiatan di rumah baca asma nadia Ciranjang serta pengunjung rumah Baca Asma Nadia. Sedangkan untuk untuk data sekundernya diperoleh melalui berbagai literatur seperti dari buku-buku ilmiah, artikel, literatur kepustakaan, dan lain-lain. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta melalui studi kepustakaan. Untuk teknik analisis datanya dilakukan melalui tiga tahapan yakni tahapan reduksi data, dimana pada tahapan ini peneliti melakukan penyeleksian dan pemilihan yang dianggap penting sesuai dengan masalah yang diteliti, tahap penyajian data yaitu menyusun data yang relevan sehingga dapat menjawab permasalahan penelitian dengan baik, setelah itu mendeskripsikan secara naratif yang disertai analisis, serta tahap verifikasi dan penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

Penelitian ini mencoba mengangkat tentang transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Rumah Baca Asma Nadia di kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur. Dalam penelitian ini ada dua konsep utama yakni tranformasi perpustakaan dan inklusi sosial. Secara sederhana tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial diartikan sebagai berbagai perpustakaan yang secara proaktif membantu masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga pada gilirannya keberadaan perpustakaan atau dalam hal ini rumah baca masyarakat (rumah baca asma nadia) menjadi pusat sumber informasi bagi masyarakat sekitar. Berbicara tentang rumah baca asma nadia apabila dilihat dari sejarahnya rumah baca ini didirikan oleh penulis novel atau novelist terkenal yang berasal dari Cianjur dengan mana asli Asmarani Rosalba atau yang lebih dikenal dengan Asma Nadia. Sampai dengan saat ini Asma Nadia meristis rumah baca tidak kurang dari 260 buah yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia bahkan ada yang berada di luar negeri seperti di Hongkong dan Singapura. Selain mendirikan rumah baca, Asma Nadia juga mendirikan Yayasan Asmanadia, mendirikan forum lingkar pena dan beliau merupakan manajer Asmanadia Publishing House. Rumah Baca Asmanadia ini merupakan sebuah komunitas yang memiliki slogan “Menjelajah Buku, Membuka Mata Dunia” dengan tujuan untuk memfasilitasi anakanak mengenal bakat baca dan tulis ataupun masyarakat di lingkungan sekitar rumah baca untuk gemar membaca dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan masyarakat. Selain itu juga salah satu yang mendorong berdirinya Rumah Baca Asma Nadia adalah karena masih banyaknya anak-anak yang belum mampu mendapatkan pendidikan formal di bangku sekolah, ataupun orang tua yang menginginkan anak-anaknya mendapatkan pelajaran tambahan, atau bahkan orang tuanya yang ingin mendapatkan wawasan baru dan keterampilan tambahan. Koleksi buku yang ada di rumah baca asma nadia merupakan koleksi-koleksi terbaru dan menarik perhatian anak-anak untuk membacanya. Menurut Asma Nadia, sebagaimana dikutif Nurul (2016) koleksi yang ada di rumah baca Asma Nadia diupayakan bukan hanya sekedar koleksi-koleksi lama tapi juga berupaya untuk menyediakan koleksi yang baru. Hal ini diperuntukkan untuk menarik perhatian anakanak ataupun masyarakat sekitar untuk mendatangi rumah baca Asma Nadia. Koleksi terbaru yang dimaksud seperti kumpulan cerita-Cerita kisah nabi dan rasul, dengan edisi terbaru dan cover berwarna nan lucu yang menarik perhatian anak-anak, dan didalamnya terdapat gambar-gambar yang menarik perhatian anak-anak, dengan kata lain bukan hanya sekedar buku yang menyajikan kisah Nabi dan Rasul tanpa gambar tanpa tampilan yang menarik, yang ada hanyalah tulisan-tulisan saja. buku tersebut tidak akan dinikmati oleh anak-anak. Kemudian dalam konteks tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial jika dikaitkan dengan penyelenggaraan kegiatan layanan yang dilakukan rumah baca asma nadia pusat yang terletak di Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Layanan rumah baca asma nadia ini dibuka selama 24 jam, hal ini bertujuan untuk memfasilitasi anak-anak yang ingin membaca dengan begitu minat baca bisa ditumbuhkan di lingkungan masyarakat Ciranjang. Kemudian mengenai kegiatan yang ada di rumah baca Asma Nadia bukan hanya sekedar membaca dan menulis saja, tetapi perpustakaan dengan basis inklusi sosial telah diterapkan oleh rumah baca Asma Nadia ini, yaitu adanya kegiatan belajar komputer baik itu untuk anak-anak yang nantinya akan bergelut dengan teknologi ketika mereka beranjak dewasa atau pun untuk orang tua agar mereka tidak gagap teknologi, karena di zaman sekarang, teknologi sudah hampir menguasi semua sektor kehidupan. Hal ini juga dibenarkan oleh ketua pengurus Rumah Baca Asma Nadia Ciranjang Bapak Jejen Zaenal Mutaqin yangh mengatakan bahwa : “Rumah baca asma nadia tidak hanya menyediakan bahan bacaan saja, tetapi berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi masyarakat”, (Sumber : Hasil Wawancara, tanggal wawancara 25 Agustus 2021). Gambar 1. Kegiatan Rumah Baca Asma Nadia Dengan Siswa Di RBA Ciranjang Sumber : Dokumen Pribadi, 2021 Mengenai kegiatan yang diselenggarakan rumah baca asma nadia, khususnya di rumah baca asma nadia Ciranjang Kabupaten Cianjur tidak terbatas hanya menyediakan buku-buku bacaan saja , namun berbagai aktifitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat seperti kegiatan menonton film bareng dengan pengunjung terutama anak-anak seperti menonton film animasi tentang merawat gigi dengan konteks yang ada di animasi tersebut diperlihatkan bahwa kita harus merawat gigi agar tidak ada kuman yang menyerang dan mencegah sakit gigi, yaitu dengan cara gosok gigi dengan teratur satiap pagi dan malam, Memanfaatkan rumah baca asma nadia sebagai tempat pengajian ibu-ibu yang dilaksanakan setiap jumat sore, hal ini diperuntukkan agar ibu-ibu memiliki waktu untuk berkumpul tetapi bermanfaat. Selain tu juga rumah baca asma nadia juga dipakai sebagai rumah tahfidz yang diperuntukkan bagi anak-anak untuk mengaji, mengenal huruf hijaiyah, dari mulai iqra’ sampai fasil untuk membaca Al-quran. Selain itu juga kegiatan lainnya yaitu menjadi rumah sastra yang didalamnya terdapat koleksi-koleksi cerita menarik, baik itu dalam bentuk komik atau novel yang ringan untuk dibaca bagi anak-anak. Dan bukan hanya itu saja, ada bimbingan belajar bagi pelajar SD dan juga madrasah ibtidaiyah, yang paling menariknya, semua ini gratis, tidak dipungut biaya apapun. Mengenai kegiatan rumah baca asma nadia menurut relawan rumah baca asma nadia yakni yakni ibu Rani Susanti (RS) menyatakan bahwa : “Rumah baca asma nadia saat ini telah menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam mengembangkan potensi dirinya, karena di tempat ini juga ada berbagai kegiatan pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan pengolahan sampah”, (Sumber : Hasil wawancara, tanggal 23 Agustus 2021). Hal ini juga dibenarkan oleh Kang Ahmad Yasir yang juga sama-sama menjadi relawan di Rumah baca asma nadia, Apalagi katanya Rumah baca asma nadia menjadi tempat bank sampah plastik. Melalui kegiatannya rumah baca asma nadia juga menampung sampah sampah plastik yang dikumnpulkan masyarakat. Tidak seperti halnya perpustakaan, rumah baca Asma Nadia tidak memiliki katalog yang tersusun secara rapih, bahkan masyarakat bebas meminjam dan mengembalikan buku tanpa adanya batasan waktu maupun batasan buku yang bisa dipinjam. Perpustakaan ini pun bukan hanya memfasilitasi anak-anak atau orang dewasa saja, bahkan remaja pun boleh untuk menggunakan fasilitas yang ada di rumah baca Asma Nadia, karena di perpustakaan ini ada bahan koleksi seperti novel yang bisa dikonsumsi oleh remaja. Dengan kata lain, rumah baca Asma Nadia dapat menjangkau semua kalangan yang ada di masyarakat sekitar. Kendatipun dengan keterbatasan dana, rumah baca Asma Nadia terutama di daerah Ciranjang mendapatkan sumbangan yaitu dari PT PEPSICO Indonesia pada tahun 2012 berupa uang untuk membangun gedung baru di lingkungan rumah baca Asma Nadia yaitu gedung untuk anak-anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah untuk belajar. Tupperware pun pernah memberikan sumbangan berupa 2 (dua) unit komputer yang sekarang digunakan untuk krgiatan belajar komputer dan 100 tas untuk anak-anak yang selalu belajar di rumah baca Asma Nadia. Saat ini rumah baca asma nadia Ciranjang memiliki satu ruangan yang dikhususkan untuk menyimpan seluruh koleksi bahan bacaan, namun ruangan ini menjadi satu dengan rumah ketua pengurus rumah baca asma nadia yakni bapak Jejen Zaelani Mutaqin. Namun disekitar ruangan penyimpanan buku tersebut terdapat satu ruangan yang di pergunakan untuk menyimpan beberapa komputer. Selain ruangan untuk penyimpanan koleksi di sekitar rumah baca asma nadia juga terdapat gedung dengan satu ruangan yang bisa digunakan oleh anak-anak usia PAUD dan TK untuk melangsungkan kegiatan rumah belajar serta pondok pembelajaran yang biasanya digunakan oleh anak-anak SD s/d SMP untuk melangsungkan kegiatan rumah belajar. Untuk meningkatkan kreativitas pengunjung khususnya para siswa terdapat panggung yang biasanya dipakai sebagai tempat kreasi anak-anak yang biasanya dilakukan setiap setahun sekali. Panggung kreasi ini kendatipun terbuka namun aman dari matahari dan hujan,sehingga pada hari-hari biasa dipakai sebagai tempat penyimpanan komputer. Adapun mengenai komputer tersebut pun digunakan untuk kegiatan pembelajaran seperti pelatihan komputer bagi anak-anak atau masyarakat yang ingin belajar mengenai cara mengoperasikan komputer, karena seperti yang telah kita ketahui bahwasanya di zaman sekarang teknologi sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di rumah baca asma nadia Ciranjang, ditambah dengan fasilitas yang digunakan untuk menunjang segala kegiatannya semakin membuktikan bahwa kegiatankegiatan tersebut untuk menambah keterampilan masyarakat, terutama bagi anak-anak agar anak-anak semakin mampu menunjukkan siapa dirinya, mengembangkan kemampuannya dan agar nantinya menjadi bagian dari masyarakat yang berdaya. Apabila memperhatikan tentang aktivitas yang dilakukan rumah baca asma nadia, dalam konteks inklusi social keberadaan rumah baca Asma Nadia telah melakukan program inklusi sosial. Banyak orang-orang yang mendapatkan manfaat dari adanya rumah baca Asma Nadia ini, karena di rumah baca Asma Nadia bukan hanya belajar mengenai membaca dan menulis saja, tetapi ada keterampilan-keterampilan lainnya yang sangat berguna untuk masyarakat kedepannya, seperti belajar komputer, yaitu seperti bagaimana cara mengoprasikannya, bagaimana cara menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada di komputer, dan lain sebagainya. Dengan meningkatnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di daerah yang terdapat rumah baca Asma Nadia, mampu membuat masyarakat tersebut bisa mendapatkan dan menaikkan taraf hidup mereka kearah yang lebih baik. Membuat masyarakat mampu untuk bersaing di lingkungan masyarakat karena mereka sudah mempunyai bekal berupa keahlian dan kemampuan, salah satunya skill komputer. Adanya rumah baca Asma Nadia ini pun diperuntukkan bagi orang tua yang kesulitan untuk mengajarkan literasi di lingkungan keluarga, bisa didasari karena orang tua tersebut pun memiliki kendala dalam hal membaca, sehingga akhirnya mereka memustuskan untuk berkunjung ke rumah baca Asma Nadia untuk sama-sama mendapatkan pengetahuan dan pengaplikasian mengenai literasi. Oleh karena itu terjadinya tranformasi perpustakaan dalam hal ini rumah baca asma nadia yang berbasisi inklusi sosial bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat, karena dalam segi hal seperti ini masyarakat berperan aktif di lingkungan perpustakaan dan mengoptimalkan fasilitas yang ada di perpustakaan. Hal ini pun dipengaruhi karena adanya layanan yang baik di perpustakaan, dengan adanya layanan yang baik akan membuat masyarakat senang untuk datang ke perpustakaan.

Conclusion

Minat baca di Indonesia masih tergolong sangat rendah, bahkan dalam data yang disebutkan oleh UNESCO Indonesia berada pada posisi kedua dari bawah mengenai literasi dunia. Hal ini menjadi perhatian yang sangat penting bagi perpustakaan dalam upaya menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat. Oleh karena itu saat ini perpustakaan sedang mencanangkan program perpustakaan berbasis inklusi sosial, dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat melalui literasi-literasi yang ada di perpustakaan. Selain itu juga tujuan lainnya adalah untuk mengoptimalkan peran serta fungsi dan fasilitas yang ada di perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang sudah melaksanakan program inklusi sosial adalah perpustakaan Rumah Baca Asma Nadia atau dikenal dengan rumah baca Asma Nadia. Di rumah baca Asma Nadia ini banyak kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk masyarakat, seperti belajar komputer, membaca dan menulis baik itu alfabet atau huruf-huruf hijaiyah, dan lain sebagainya. Selain itu juga kehadiran rumah baca Asma Nadia ini dapat meningkatkan minat baca bagi anak-anak karena koleksi yang ada di rumah baca Asma Nadia merupakan koleksi-koleksi terbaru yang mampu untuk menarik perhatian anak-anak. Dengan perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan orientasinya Rumah Baca Asma Nadia bisa membuat masyarakat mampu untuk bersaing secara optimal di lingkungan masyarakat mereka. Dalam hal ini masyarakat serta berperan aktif dalam mengoptimalkan segala fasilitas yang ada di perpustakaan, maka dari itu minat baca bisa ditingkatkan dengan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dan masyarakat bisa meningkatkan taraf hidup mereka.