Kembali
16
1
2024 Media Informasi Vol 33 · 2 ISSN 2829-2707

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (Studi di Perpustakaan Kabupaten Gunung Kidul)

Universitas Udayana

Abstrak

Perpustakaan merupakan tempat belajar dan pusat ilmu pengetahuan dalam membangun masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Dewasa ini perpustakaan tidak hanya digunakan sebagai sarana pembelajaran namun serta menciptakan program pemberdayaan masyarakat agar meningkatkan kesejahteraan sehingga dapat membentuk masyarakat yang pintar, cerdas, mandiri dan sejahtera. Pemberdayaan masyarakat melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial perpustakaan berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan yang melibatkan kolaborasi profesional pustakawan dengan profesi lainnya. Penelitian ini membahas praktek nyata dan kegiatan inklusi sosial perpustakaan di Kabupaten Gunungkidul bagaimana keterlibatan masyarakat terhadap kolaborasi yang diselenggarakan oleh pustakawan dan perangkat desa setempat melalui beberapa kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan pemberdayaan masyarakat serta kolaborasi pustakawan dengan stakeholders dan impact dalam proses pemberdayaan masyarakat melalui perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kegiatan ini berlangsung di beberapa perpustakaan desa di Kabupaten Gunung Kidul. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dan studi kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan adanya kebermanfaatan yang berlangsung terhadap kolaborasi antara pustakawan, perangkat desa, dan masyarakat setempat sehingga kesadaran masyarakat untuk berkembang dan keswadayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan

Abstract

A library is a place of learning and a center for knowledge in building a knowledge society and creating community empowerment programs to improve welfare so as to form a smart, intelligent, independent and prosperous society. Community empowerment through library transformation based on social inclusion. Libraries are committed to improving the welfare of library users, involving professional collaboration between librarians and other professions. This research discusses the real practices and social inclusion activities of libraries in Gunung Kidul Regency, how the community is involved in collaborations organized by librarians and local village officials. The aim of this research is to determine community empowerment activities as well as collaboration between librarians and stakeholders and the impact in the process of community empowerment through social inclusion-based libraries. This activity took place in several village libraries in Gunungkidul Regency. The method used is data collection carried out by interviews and literature study. This research shows the ongoing benefits of collaboration between librarians, village officials and local communities so that community awareness can develop and community self-sufficiency can improve welfare.
Keywords: Social inclusion · Community empowerment · Library transformation · Librarians

Introduction

Perpustakaan merupakan pusat ilmu pengetahuan yang memiliki kontribusi besar dalam membangun masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Di negara-negara maju perpustakaan menjadi bagian dari gaya hidup (life style) masyarakatnya dan juga menjadi sarana strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Kondisi perpustakaan di suatu bangsa merupakan refleksi dari tingkat peradaban yang telah dicapainya. Perpustakaan berkewajiban menyebarkan informasi, memperkenalkan dan memberikan pengajaran tentang ilmu pengetahuan, serta memberikan keterampilan kepada masyarakat. Selain itu, perpustakaan juga dapat menanamkan sikap terus menerus belajar secara berkelanjutan sepanjang hayat dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Inovasi dan kreativitas di perpustakaan harus selalu ditingkatkan sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan, adalah kunci dan hal tersebut akan selalu terjadi di dalam siklus kehidupan, baik di dalam organisasi, pendidikan, sosial politik maupun ekonomi dan informasi, termasuk perpustakaan. Saat ini perpustakaan bukanlah hanya sebuah gedung yang di dalamnya terdapat tumpukan buku dan bangku-bangku kosong. Saat ini perpustakaan telah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial agar masyarakat memperoleh akses pengetahuan secara langsung maupun dalam jaringan melalui internet. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial mengubah perpustakaan yang tidak lagi hanya sebagai tempat mencari ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dan pusat kebudayaan. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya optimalisasi peran perpustakaan sebagai tempat untuk pembelajaran sepanjang hayat (long life education), perpustakaan berperan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan suatu pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan. Zaman sekarang perpustakaan tidak hanya menjadi tempat untuk membaca buku tetapi dengan adanya program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan tidak hanya tempat membaca buku tetapi menjadi tempat berkegiatan serta pemberdayaan masyarakat yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Menurut Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 7 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Perpustakaan Nasional Tahun 2020-2024 bahwa “perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang dirancang untuk bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh siapapun itu, tidak melihat latar belakang agama, ras, suku, gender dan lainya”. Hal ini sejalan dengan misi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan membuat resolusi pembangunan bersama hingga tahun 2030 mendatang yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin pemerataan akses pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk kesejahteraan. Hal tersebut sejalan dengan visi Indonesia 2045 dan tantangan di Era Revolusi Industri 4.0. Subandi Sardjoko (2018) menjelaskan bahwa: 1) manusia indonesia yang unggul, berbudaya, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; 2) pembangunan yang merata dan inklusif; 3) ekonomi yang maju dan berkelanjutan; 4) negara yang demokratis, kuat dan bersih. “Transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah sebuah pendekatan yang diterapkan oleh perpustakaan dengan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat” (Prasetyo, 2019). Adanya transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini bukan tanpa tujuan. Tentu saja hal ini bertujuan untuk dapat meningkatkan literasi TIK; peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat; serta memperkuat peran dan fungsi perpustakaan sebagai tempat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learner). Prasetyo menyatakan (2019) sebagai lembaga yang ingin memajukan literasi dalam masyarakat, perpustakaan harus mampu menghadapi tantangan hal ini bertujuan agar pembangunan nasional dapat segera tercapai. Selain itu perpustakaan juga harus mampu mengarahkan kegiatan yang berfokus pada program dan layanan inklusi sosial. Menurut Cahyaningtyas dan Priyanto (2021) Perpustakaan di Indonesia sekarang lebih aktif dibandingkan dengan masa lalu. Contohnya adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang didukung oleh Bill and Melinda Foundation untuk Program PerpuSeru melalui bantuan dari Coca-Cola Foundation. Dimana perpustakaan akhirnya dapat mendukung masyarakat dengan tidak hanya mengundang untuk berkunjung ke perpustakaan berkaitan dengan kegiatan literasi baca tulis namun, juga membantu mereka berlatih atau belajar bagaimana melakukan kegiatan yang berhubungan dengan teknologi informasi, dan pelestarian budaya. Peran perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat harus terus dikembangkan untuk menciptakan budaya literasi dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan, inovatif, dan kreatif. Dengan fasilitas perpustakaan yang memadai seperti tempat yang nyaman, jaringan internet gratis, koleksi bahan bacaan yang lengkap hingga banyaknya kegiatan pelibatan masyarakat di perpustakaan menjadikan perpustakaan sebagai sarana yang tepat dalam meningkatkan literasi untuk kesejahteraan. Saat ini banyak layanan yang muncul dengan tujuan menumbuhkan kebiasaan membaca, namun tidak hanya menimbulkan kegiatan literasi baca tulis tetapi dengan adanya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial perpustakaan menawarkan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan. Dalam hal ini perpustakaan menyediakan berbagai fasilitas dan program kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti mengadakan pelatihan memasak, menjahit dan keterampilan lainnya. Dengan hadirnya berbagai kegiatan seperti ini, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial diharapkan dapat berperan aktif untuk menciptakan SDM unggul serta meningkat kesejahteraan masyarakat melalui akses layanan, pengembangan literasi, serta pelatihan keterampilan. Hadirnya perpustakaan dan inklusi sosial saat ini telah membuka gerbang kesempatan bagi semua. Memastikan bahwa semua orang, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi, pengetahuan, dan layanan perpustakaan serta dapat membantu untuk membangun komunitas yang lebih inklusif dan toleran. Tidak hanya pemustaka saja yang dapat mengakses seluruh layanan perpustakaan namun disisi lain hal ini juga melatih pustakawan untuk dapat melayani pemustaka dengan berbagai macam kebutuhan. Salah satu contoh dari aplikasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul mencoba “merangkul” masyarakat agar lebih dekat dengan perpustakaan dengan mengadakan beberapa acara sebagai upaya dalam meningkatkan kompetensi pengelola perpustakaan serta upaya perpustakaan guna meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Salah satu hal yang menarik adalah kegiatan yang berlangsung adalah tidak hanya kegiatan terkait dengan literasi baca-tulis namun kegiatan yang tidak banyak dilakukan di perpustakaan. Dalam artikel ini membahas lebih dalam bagaimana aplikasi dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Kabupaten Gunung Kidul. Program PerpuSeru di Perpustakaan Umum Gunung Kidul memiliki banyak manfaat, baik dari segi hasil maupun hasil. "Misi Pustakawan harus Meningkatkan Masyarakat melalui Fasilitasi Penciptaan Pengetahuan di Komunitasnya" (Lankes, 2011). Pada dasarnya, keterlibatan pengguna perpustakaan sangat penting bagi pustakawan.

Discussion

Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial; Apakah Berpengaruh Terhadap Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat? Perpustakaan inklusi sosial sudah mulai dibicarakan pada Oktober 1999 yang kemudian diterbitkan melalui dokumen Libraries for All: Social Inclusion in Public Libraries Policy Guidance for Local Authorities in England. (Libraries for All, 1999) Dokumen tersebut membahas tentang inklusi sosial, yaitu perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang proaktif dalam membantu untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, serta sebagai sarana pembelajaran baik untuk pelajar maupun umum dan dapat meningkatkan kegiatan sosial baik individu maupun di masyarakat. Sehingga, pentingnya mengaplikasikan inklusi sosial dalam perpustakaan yaitu untuk mendukung kegiatan masyarakat, dan komunitas yang beragam di perpustakaan. Salah satu tujuan NKRI dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum. Hal tersebut disepakati bersama bahwa tingkat kesejahteraan akan lebih mudah diraih dengan literasi yang memadai. Sesuai dengan perannya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) merancang program unggulan berupa Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang bertujuan memberikan impact langsung kepada masyarakat yaitu peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup lebih baik. Untuk dapat mewujudkan layanan transformasi ini Perpusnas sudah melakukan beberapa langkah diantaranya adalah meningkatkan penggunaan layanan oleh masyarakat dan membangun komitmen dan dukungan stakeholder untuk transformasi perpustakaan yang berkelanjutan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perpustakaan desa untuk memfasilitasi pembelajaran dan kegiatan masyarakat, dan pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas ini kepada masyarakat (Heriyati et al., 2020). Kegiatan Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi telah dilakukan di 21 provinsi meliputi perpustakaan kabupaten dan perpustakaan desa dan melakukan training bagi pustakawan sebagai fasilitator (Humas Perpustakaan Perpusnas, 2020). Hal inilah yang diadaptasi oleh Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul. Para pustakawan yang memiliki latar belakang menjadi fasilitator di kegiatan Perpusnas sebelumnya mereplika kegiatan ini dan disosialisasikan di beberapa perpustakaan desa. Perpustakaan berbasis inklusi sosial tidak hanya membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dan informasi, tetapi juga membawa dampak positif bagi peningkatan taraf hidup masyarakat. Perpustakaan Desa Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu contoh wujud nyata dari operasional program perpustakaan umum Kabupaten Gunungkidul untuk meningkatkan literasi, inovasi dan kreativitas menciptakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat serta memenuhi kebutuhan informasi masyarakat sekitar. Gambar 1 merupakan Perpustakaan Desa di Kabupaten Gunungkidul. Selain menyediakan koleksi buku, perpustakaan tersebut juga menyediakan jaringan internet gratis bagi masyarakat. Kegiatan Perpustakaan Desa dengan memanfaatkan ruang-ruang terbuka seperti gardu pos kamling menjadi Gardu Pintar. Inklusi sosial bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kesenjangan yang ada (Adriyana & Cahyaningtyas, 2022). Sumber: Dokumentasi pribadi Gambar 1. Perpustakaan Desa di Kabupaten Gunungkidul Perpustakaan Desa di Kabupaten Gunungkidul menyediakan koleksi yang mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat sekitar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk menambah pengetahuan. Diharapkan hal itu dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan menjadi masyarakat yang pintar, melek teknologi dan peka terhadap perkembangan teknologi dan informasi. Koleksi bahan bacaan juga dimanfaatkan oleh masyarakat terkait tanaman obat dan cara membuat jamu menghasilkan kreativitas “Pojok Jamu Pintar”. Contoh dari pengembangan yang dikembangkan oleh para pustakawan Gunungkidul adalah lahirnya Gardu Pintar, yang sebelumnya berupa gardu ronda. Keberadaan gardu ronda yang diubah menjadi Gardu Pintar yang berfungsi sebagai perpustakaan dapat dirasakan manfaatnya dan menjadi penting keberadaannya bagi masyarakat karena gardu tersebut dapat digunakan untuk belajar, mengakses informasi, dan kegiatan membaca oleh masyarakat, selain juga kegiatan inklusi sosial bagi masyarakat setempat. Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang sering dilakukan di Kabupaten Gunungkidul adalah pelatihan-pelatihan dalam bentuk keterampilan misalnya membatik, pelatihan membuat sablon baju, pelatihan membuat aksesoris, pelatihan memproduksi bahan olahan makanan seperti jahe instan, aneka olahan makanan seperti keripik tela, keripik bayam dan berbagai kegiatan kebudayaan untuk berbagai lintas generasi. Gambar 2, merupakan dokumentasi kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pelatihan mengolah tanaman obat menjadi jamu yang memiliki nilai manfaat lebih kepada masyarakat sekitar dan dapat dijual dengan nilai jual lebih tinggi yang diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual hasil produksinya. Selain itu kegiatan pembinaan dan pelatihan untuk membatik dan mengubah barang bekas, mulai dari awal hingga barang bisa dijual. Artinya perpustakaan tidak lagi harus sebagai tempat membaca tapi pusat kegiatan masyarakat. Tidak berhenti pada design product saja, pustakawan juga memberikan pelatihan terkait bagaimana memasarkan hasil karya para peserta untuk dijual baik dalam jaringan maupun tatap muka. Sumber: Dokumentasi pribadi Gambar 2. Kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Gunungkidul Kegiatan pelatihan lainnya yang dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat terutama bagi para pelajar adalah english fun pelatihan Bahasa Inggris dasar untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Berbagai kegiatan ini sering dilakukan di pos kamling yang beralih fungsi sebagai Gardu Pintar masyarakat setempat dengan filosofi tempat berkumpulnya dan titik temu masyarakat desa. Tidak hanya itu saja menurut Agung Wibawa (pustakawan) pelatihan dasar Bahasa Inggris juga diberikan kepada tour guide mengingat Gunungkidul merupakan kawasan wisata yang banyak diminati baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Beragamnya wisata alam yang mencuri perhatian wisatawan asing tentu saja menjadi keuntungan bagi masyarakat sekitar, sejalan dengan program pelatihan Bahasa Inggris membuat masyarakat sekitar terbantu dengan dilaksanakan kegiatan ini. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan suatu pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan. Kebijakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial tersebut tertuang pada Rencana Kerja Pemerintah 2019. Melalui program percepatan pengurangan kemiskinan lewat kegiatan literasi untuk kesejahteraan yang diinisiasi oleh Kementerian PPN/ Bappenas RI dan Perpustakaan Nasional dalam mendukung pencapaian SDGs, hal tersebut sudah mulai dijalankan mulai tahun 2018 (Amich Alhumami, 2018).Kini perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat penyimpanan buku namun sebagai pusat sumber informasi dan bahkan bertransformasi menjadi tempat pengembangan diri masyarakat/komunitas lokal, dan pusat kebudayaan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan berbagai program dan layanan yang inklusif, perpustakaan inklusi sosial dapat membantu membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan inklusif. Adanya pembentukan perpustakaan di tiap-tiap desa kecamatan diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi ketertinggalan atau permasalahan yang dialami masyarakat setempat. Dengan meningkatkan taraf kecerdasan masyarakat maka perbaikan mutu kehidupan pun dapat dijamin. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan di Perpustakaan Umum Kehadiran perpustakaan umum sangat penting bagi masyarakat yang ingin menjadikan masyarakatnya tidak hanya kaya informasi (well informed) dan terdidik (well educated) tetap juga lebih canggih dalam hal wawasan (sophisticated) (Fuad, 2000). Perpustakaan umum terbuka bagi siapa saja, sebagai tempat layanan publik yang disediakan dan digunakan untuk masyarakat dari berbagai macam generasi, profesi hingga latar belakang pendidikan berbeda. Sebagai lembaga penyedia informasi perpustakaan bersifat netral atau tidak memihak siapapun atau suatu kelompok maupun individu (Cossette dalam Ariani, 2015). Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan perpustakaan umum adalah kunci untuk menciptakan lingkungan perpustakaan yang dinamis dan bermanfaat. Perpustakaan yang lekat sebagai media untuk beraksara kini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang tidak hanya sekedar memberikan dan mensosialisasikan program literasi namun perannya kini menjadi semakin kompleks. Untuk dapat menarik minat masyarakat agar selalu ingin mengunjungi perpustakaan John Cotton Dana mengungkapkan “The public library is a center of public happiness first, of public education next.” (A Library Primer, 1920). Bahwa perpustakaan adalah pusat dari kebahagiaan masyarakat, kemudian bagaimana setelahnya menjadikan pusat pendidikan atau pembelajaran. Bagaimana perpustakaan dapat bermanfaat, menyenangkan, dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa membatasi ruang gerak pengunjung. Dana juga menambahkan bahwa perpustakaan dibayangkannya sebagai pusat komunitas yang dinamis dibandingkan koleksi kuno yang hanya menarik sebagian kecil masyarakat (Hanson, 1994). Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Habermas (1989) tentang ruang publik, yang mengedepankan independensi, kesetaraan, kebebasan, aksesibilitas dan diskursus. Bahwa perpustakaan umum sebagai ruang publik yang mana merupakan lembaga informasi yang sah untuk masyarakat, yang netral terhadap politisasi dan dominasi kapitalisme modern. Perpustakaan umum merupakan media bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang, untuk mengetahui berbagai hal. Sudah seharusnya perpustakaan menjadi pusat atau titik kumpul, ruang komunitas bagi masyarakat untuk melakukan banyak aktivitas di dalamnya. Konsep ruang sebagai tempat membangun komunitas ini disebut sebagai ruang ketiga (library as a third place) yang mana ini adalah “produk sosial” yang dikembangkan melalui kerja dan desain yang terkonsentrasi (Endang, Fatmawati. 2018). Sebagai ruang ketiga, perpustakaan dapat menjadi pusat komunitas dan menciptakan jaringan sosial yang mendukung masyarakat. Pustakawan dapat menggunakan berbagai metode ataupun menggalakkan program-program untuk menciptakan ikatan dengan masyarakat luas untuk tidak hanya mendorong untuk hadir ke perpustakaan namun menggunakan dan memanfaatkan layanannya sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi. Sejalan dengan hal tersebut Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, yaitu: a) Sesi edukasi dan workshop, pustakawan bekerja sama dengan stakeholder mengadakan kegiatan seperti pengenalan basic ICT terhadap para pemuda, membatik untuk ibu rumah tangga, kelas memasak hingga bagaimana cara memasarkannya baik tatap muka maupun dalam jaringan; b) Program penghargaan bagi perpustakaan desa, program ini difokuskan kepada pustakawan dan perpustakaan desa berprestasi. Bantuan dan bimbingan yang dimotori oleh pustakawan Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul sangat bermanfaat khususnya bagi pustakawan perpustakaan desa yang mendapatkan penghargaan dari Perpustakaan Nasional hingga mendapat kunjungan dari Singapura; c) Pertunjukkan seni lokal, kegiatan ini dikhususkan bagi para pelajar sekolah dasar, banyak siswa-siswi yang mempelajari kesenian lokal Jawa seperti menari, menembang lagu Jawa hingga memainkan alat musik tradisional. Kegiatan ini rutin diadakan di Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul ini merupakan bukti bahwa perpustakaan inklusi sosial dapat menjadi tempat untuk melestarikan budaya lokal dan sejarah masyarakat. Dalam praktiknya Implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial mengedepankan pendekatan perpustakaan berbasis sistem sosial/masyarakat yang ada di lingkungan perpustakaan (social system approach) atau pendekatan kemanusiaan (humanistic approach) (Indarwati, 2019). Kedua pendekatan ini memiliki nilai dan manfaatnya tersendiri. Perpustakaan yang baik akan menggabungkan elemen-elemen dari kedua pendekatan ini untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, berorientasi pada masyarakat dan peduli terhadap individu Dengan mengimplementasikan strategi-strategi ini, perpustakaan dapat menciptakan ikatan yang kuat dengan masyarakat dan mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan. Ini tidak hanya meningkatkan relevansi perpustakaan dalam masyarakat, tetapi juga menciptakan lingkungan yang inklusif dan berdaya guna bagi semua. Kolaborasi antara Pemangku Desa, Masyarakat dan Pustakawan Membangun desa yang berbudaya literasi kolaborasi dan bekerja sama, seperti masyarakat, pemangku desa, dan pustakawan. Setiap orang memiliki peran penting dalam membangun desa yang maju dan literasi. Sehingga Berkontribusi besar dalam membangun masyarakat berpengetahuan (knowledge society) melalui ikhtiar kolektif untuk menumbuhkan tradisi dan budaya baca di dalam masyarakat (Suhardi, 2022) Untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi perpustakaan berupaya melakukan melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi, seperti seminar, workshop, dan kampanye literasi seperti yang sudah berjalan dan dilaksanakan oleh tim pustakawan Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul. Sosialisasi juga dilakukan melalui berbagai media, seperti media massa, media sosial, dan kunjungan langsung ke masyarakat. Kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul merupakan replikasi dari kegiatan Perpustakaan Seru yang didukung oleh CocaCola Foundation Indonesia dan Bill & Melinda Gates Foundation. Salah satu pustakawan Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul merupakan Master Trainer Nasional Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang dipilih dan mendapatkan pelatihan langsung dari Coca-Cola Foundation dan Perpustakaan Nasional telah memfasilitasi kegiatan ini, bahkan tidak hanya menjadi Master Trainer untuk membina di perpustakaan-perpustakaan desa di wilayah Gunungkidul saja, namun juga melakukan mentoring ke beberapa provinsi di Indonesia sehingga mengetahui persis dampak yang dirasakan oleh masyarakat dari kegiatan perpustakaan. Berpartisipasi secara langsung di setiap kegiatan di berbagai provinsi menjadi pemahaman tersendiri sebagai master trainer bahwa adanya diferensiasi kebutuhan masyarakat di setiap provinsi. Sebagai hasil dari pelatihan ini, pustakawan diharapkan dapat membuat program literasi, menyediakan layanan berbasis inklusi sosial, dan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, perpustakaan desa dapat memberikan layanan terbaik mereka, dan masyarakat secara keseluruhan juga dapat memanfaatkan perpustakaan desa dengan sebaik mungkin. Selain menyediakan koleksi buku untuk menjangkau dan memenuhi kebutuhan informasi kegiatan praktek juga banyak disiapkan. Melalui kegiatan yang dirancang oleh Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul mendapatkan apresiasi oleh masyarakat setempat. Hal tersebut dibuktikan dengan terciptanya Gardu Pintar, semula pos kamling yang hanya berfungsi sebagai tempat ronda sebagaimana fungsinya beralih tidak hanya sebagai titik kumpul bapak bapak untuk berjaga. Namun dengan difungsikannya sebagai Gardu Pintar tidak sedikit anak anak khususnya yang berkumpul dan menghabiskan waktu untuk membaca buku yang telah disediakan. Selain itu banyak juga kegiatan kemasyarakatan dan literasi yang diadakan oleh warga sekitar di tempat tersebut. Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang setiap desanya memiliki perpustakaan desa. Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul membangun kerjasama antara perpustakaan daerah dengan masyarakat beserta pemangku setempat untuk dapat menciptakan sinergi yang dapat membawa perubahan positif. Dimana kegiatan-kegiatan yang positif ini nantinya akan membantu memaksimalkan potensi, keterampilan dan pengetahuan masyarakat untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Tentunya membangun desa yang berbudaya literasi membutuhkan komitmen dan kerja sama dari semua pihak. Dengan kolaborasi yang efektif antara masyarakat, pemangku desa, dan pustakawan, desa dapat menjadi tempat yang kondusif bagi pengembangan budaya literasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Conclusion

Terbentuknya kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul merupakan pengembangan perpustakaan daerah yang difokuskan pada peningkatan literasi dan kualitas hidup masyarakat sehingga kegiatan dan fasilitas ini dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat sekitar sehingga terbentuk taman bacaan masyarakat dan kegiatan masyarakat lainnya yang keberadaannya menarik dan penting sehingga masyarakat berlomba-lomba untuk dapat memanfaatkan fasilitas dari program ini. Dalam pendekatan ini, perpustakaan berusaha untuk mengintegrasikan diri dengan masyarakat, memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat, serta memberikan layanan yang bermanfaat dan dapat berkontribusi pada keragaman sosial dan kesejahteraan masyarakat. Terbentuknya perpustakaan yang berbasis inklusi sosial di Kabupaten Gunungkidul ini yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan dan dalam pembangunan ekonomi masyarakat sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan fungsi dan peran dari perpustakaan. Metode ini mendatangkan banyak manfaat dan perubahan yang diperoleh masyarakat, khususnya bagi ibu rumah tangga yang prospeknya bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Tidak hanya itu kolaborasi yang apik terjalin antara pustakawan, perangkat desa dan stakeholders telah membuka peluang bagi masyarakat. Disamping itu dukungan dan bimbingan para pustakawan Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul telah mengantar pustakawan dan perpustakaan desa mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar, perpustakaan nasional hingga dari internasional. Dengan demikian keberadaan perpustakaan desa yang berbasis inklusi sosial perlu lebih didukung, dikembangkan dengan kegiatan yang lebih menarik, bermanfaat dan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat sehingga tercipta masyarakat berbasis inklusi sosial, mandiri dan terampil.