STUDI MENGENAI PERPUSTAKAAN DIPLOMASI KEMENTERIAN LUAR NEGERI (PERIODE MENLU RETNO MARSUDI 2019 – 2024)
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Abstrak
Peresmian Perpustakaan Diplomasi Kemenlu oleh Menlu Retno Marsudi pada tahun 2019 menandai nama baru perpustakaan Kemenlu. Sejalan dengan itu, berdasarkan peraturan internal Kemenlu, i.e. Peraturan Menteri Luar Negeri (Permenlu) RI no.6 tahun 2021, perpustakaan diplomasi Kemenluper tahun 2021 memiliki fungsi yang terbatas, yakni sebagai sarana penunjang proses edukasi di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kemenlu. Studi ini mengajak para pembaca untuk memahami metamorfosa Perpustakaan Kemenlu (2019-2024) sebagai batasan periode di dalam studi ini. Pertanyaan penelitian yang dijawab adalah sinergitas Perpustakaan Ali Alatas menjadi Perpustakaan Diplomasi Kemenlu; dan perkembangan positif Perpustakaan Kemenlu periode 2019-2024. Studi ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kepustakaan yang merujuk pada data-data cetak dan online, khususnya mengeksplorasi lima fungsi dasar perpustakaan (yang meliputi edukasi, penelitian, informasi, penyimpanan, dan hiburan kebudayaan). Studi ini menemukan bahwa Perpustakaan Diplomasi pada periode “Menlu Retno Marsudi” 2019-2024 bersinergi dengan perpustakaan terdahulu dan memberikan perhatian khusus pada pembangunan “koleksi unggulan” sehingga menekankan fungsi edukasi, penelitian, dan informasi. Selanjutnya, perkembangan positif utama Perpustakaan Diplomasi adalah pemindahan ke lokasi yang luasnya 3 kali lipat dari luas semula, dan mendekati kepengguna utamanya yakni para pegawai Kemenlu yang sedang mengikuti proses pendidikandanpelatihan. Dengan demikian, terlaksana manajemen yang komprehensif (baik dari segi infrastruktur bangunan hingga substansi koleksi), guna memenuhi fungsi utamanya.
Abstract
The official opening of MoFA’s library named Diplomacy Library by H.E. Foreign Minister Retno Marsudi in 2019 at the same time signifies the library’s new name. In line to that, according to MoFA’s internal regulation, i.e. Indonesian Foreign Minister’s Regulation (Permenlu) number 6 in the year of 2021, asof 2021 the library has limited functions, i.e. as a supporting unit of an education process in MoFA’s Center for Education and Training (CET). The study is aimed at encouraging its readers to understandthemetamorphosis of MoFA’s library in the period of H.E. Retno Marsudi’s second administration(2019- 2024). This study has two research questions, i.e. the synergy between the previous Ali Alatas’s libraryand the diplomacy library; as well as positive development of MoFA’s library under Her Excellencyadministration in the period of H.E. Retno Marsudi (2019-2024). This study is a descriptive literaturesstudy that based on printed and/or online data, particularly by exploring the five functions of alibrary(education, research, information, storage, and cultural entertainment). The study shownthat Diplomacy Library (2019-2024) has synergized with the previous library and put its special focus onthedevelopment of “high quality collections”, thus highlights its functions on education, research, andinformation; and the main positive development of Diplomacy Library is the building relocationintoanew location in which three times in size of area, and nearest to its internal users who are theMoFA’semployees joining in education and training process. Hence these comprehensive management (building infrastructure and substantive collections) are all in-line with its main functions
Keywords:
Perpustakaan
· Diplomasi
· Kemenlu
· Retno Marsudi
Introduction
Perpustakaan Diplomasi Kemenlu RI sesuai dengan nama dan karakteristiknya memiliki ciri khas menyajikan koleksi buku/pustaka yang sesuai dengan namanya, yakni “diplomasi”. Menilik dari arti katanya, “diplomasi” menurut definisi Berridge adalah “diplomacy is an essentially political activity, well-resourced and skilful, a major ingredient of power. The purpose is to enable to secure the objectives of their foreign policies without resort to force, propaganda, or law” (Berridge, 2005). Melalui buku-buku yang terkait langsung dengan topik bahasan diplomasi (dan kebijakan luar negeri), maka Perpustakaan Diplomasi Kemenlu menunjukkan kekhususannya. Perpustakaan Diplomasi Kemenlu telah mengalami pergantian nama beberapa kali. Sebagai contoh, sebelum tahun 2014 (yakni sebelum masa jabatan Menlu Retno Marsudi 2014 – 2024), Perpustakaan Kemenlu bernama Perpustakaan “Ali Alatas”. Namun, jauh sebelum itu, yakni di tahun 2002, Perpustakaan Kemenlu bernama Perpustakaan “Badan Litbang”. Terlepas dari karakteristik dan sejarahnya, Perpustakaan Kemenlu sebagai salah satu perpustakaan khusus yang dimiliki oleh kementerian, difungsikan sebagai pendukung pegawai untuk melaksanakan tugas operasional organisasi. Dengan demikian, organisasi yang akan memfasilitasi dan mengolah pengetahuan pegawai agar memiliki nilai tambah (added value). Hal ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan sumber daya manusia sebagai agenda utama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode kedua (2019-2024). Pembangunan manusia (pegawai) mencakup dua proses, yakni: input (i.e. penambahan pengetahuan pada diri manusia), dan output (i.e. penulisan pengetahuan dalam bentuk karya). Hal ini juga dikenal sebagai proses knowledge management (Aini, 2009). TINJAUAN PUSTAKA Bagian ini akan mengelaborasi mengenai dua hal utama sebagai studi pustaka, Pertama, pengertian, fungsi, dan dasar kelembagaan dari sebuah perpustakaan; Kedua, sejarah masa peralihan: dari Perpustakaan Ali Alatas menjadi Perpustakaan Diplomasi, serta visi dan misi Perpustakaan Diplomasi. A. Perpustakaan: Pengertian, Fungsi, dan Dasar Kelembagaan Berdasarkan data dari perpustakaan nasional Indonesia, perpustakaan bukan merupakan gedung fisik penyimpanan buku saja, melainkan terdiri dari beberapa pokok kesatuan, yakni: (i) unit kerja yang memiliki SDM, ruang khusus, kumpulan koleksi sesuai jenis perpustakaan; (ii) “sistem” terdiri dari tempat/institusi, koleksi sesuai sistem, pengguna/pemakai, pengelola/pustakawan; (iii) unit koleksi >1.000 judul bahan pustaka; (iv) institusi pengelola koleksi (karya tulis/cetak/rekam) dengan professional; (v) sistembaku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan/penelitian/penyimpanan/informasi/hiburan kebudayaan. Selain Itu, perpustakaan juga dapat dikategorisasikan sesuai tipe nya, yaitu: perpustakaan kertas, terotomatisasi, elektronik, hibrida (Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpustakaan Nasional RI, 2023). Berbagai jenis perpustakaan yang selama ini dikenal di masyarakat mempunyai kesamaan fungsi. Fungsi perpustakaan secara umum adalah sebagai: (i) penyimpanan; (ii) pendidikan; (iii) penelitian; (iv) informasi; (v) hiburan kebudayaan (pameran ceramah, pertunjukkan seni, penyediaan koleksi yang menghibur, dan materi pendidikan). Selain Itu, kegiatan/jasa yang diberikan oleh berbagai jenis perpustakaan, yakni: pengadaan, pengaturan/manajemen, bahan pustaka, dan pengolahan informasi, serta diseminasi informasi dan jasa bagi pengguna/pemakai. Fungsi-fungsi ini juga sesuai dengan yang disebutkan oleh Sulistyo Basuki di dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Ilmu Perpustakaan” diketahui bahwa fungsi perpustakaan mencakup: (i) fungsi edukasi dan penelitian, adalah guna mendukung proses pembelajaran secara berkesinambungan, guna menuliskan buah pemikiran dan menghasilkan karya; (ii) fungsi informasi, adalah guna memberikan/menyediakan informasi bagi para pengguna; (iii) fungsi penyimpanan, adalah guna menyimpan hasil karya (cetak dan rekam) yang dihasilkan oleh manusia dan masyarakat; (iv) fungsi rekreasi kultural, adalah mengunjungi dan membaca koleksi perpustakaan untuk keperluan praktis/memperoleh hasil praktis; serta guna menghadiri/menikmati kegiatan acara budaya di perpustakaan sebagai bagian dari apresiasi budaya (Sulistyo-Basuki, 1991). Sementara itu, perpustakaan khusus (contohnya Perpustakaan Diplomasi Kemenlu yang memiliki koleksi pada subjek- subjek khusus tertentu seperti kebijakan luar negeri dan diplomasi), memiliki ciri-ciri: (i) memberi informasi pada badan induk; (ii) bertempat di gedung-gedung pusat penelitian; (iii) secara khusus melayani pengguna/pemakai pada organisasi induk; (iv) cakupan koneksinya terbatas/khusus; (v) berukuran relatif kecil; (vi) memiliki koleksi relatif kecil. Dengan demikian, fungsi utama perpustakaan khusus (Perpustakaan Diplomasi) adalah untuk melayani pengguna/pemakai internal pada organisasi induk (Kemenlu). Dasar-dasar kelembagaan perpustakaan diatur di dalam UU RI nomor 43 tahun 2007. Ada 4 (empat) pasal di dalam UU itu yang mengatur tentang kekhususan perpustakaan khusus, yaitu: (1) Pasal 25 “perpustakaan khusus menyediakan bahan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemustaka di lingkungannya”; (2) Pasal 26 “perpustakaan khusus memberikan layanan kepada pemustaka di lingkungan nya; dan secara terbatas memberikan layanan kepada pemustaka di luar lingkungannya”; (3) Pasal 27 “perpustakaan khusus dikelola sesuai dengan standar nasional perpustakaan”; dan (4) Pasal 28 “pemerintah dan pemerintah daerah memberikan bantuan berupa pelatihan teknis, pengelolaan, dan/atau pengembangan perpustakaan kepada perpustakaan khusus” (Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpustakaan Nasional RI, 2022; 2023). Berdasarkan data dari PerpustakaanNasional RI (Pusat PengembanganPerpustakaan Umumdan KhususPerpustakaan Nasional RI, 2022), sebagai salah satu dari keseluruhan 55 (lima puluh lima) perpustakaan khusus yang ada di Indonesia, Perpustakaan Diplomasi selama tahun 2019 hingga 2022 (di masa pandemi) pun telah melakukan kegiatan/jasa layanan, bedah buku, studi banding, dan keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh stakeholder perpustakaan lainnya. Selanjutnya, saat ini Perpustakaan Diplomasi Kemenlu Juga Tengah membangun koleksi unggulan, yang dilakukan secara hybrid (non-digital dan digital). Koleksi unggulan adalah koleksi khusus yang dihasilkan oleh lembaga induk dan menjadi kebanggaan/kekhasan dari lembaga. Selain itu, pengembanganlainnyaadalah layanan oleh pustakawan (Purwono, 2013; Setiarso, 1997). B. Sejarah Masa Peralihan: dari Perpustakaan Ali Alatas menjadi Perpustakaan Diplomasi Visi/Misi Perpustakaan Ali Alatas Kemenlu pada tahun 2009 dikelola oleh Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri/BSKLN. Perpustakaan itu berlokasi di kantor Kemenlu pusat di Jl. Pejambon, Jakarta Pusat. Sementara itu, Perpustakaan Diplomasi pada tahun 2019 dikelola oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan/Pusdiklat di Jl. Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Dengan demikian, lokasi baru ini telah mendekatkan Perpustakaan Kemenlu Para pengguna utamanya, yakni para pegawai Kemenlu yang membutuhkan informasi karena sedang mengikuti program pendidikan dan pelatihan. Sebagaimana yang pernah ditulis oleh“Sang Birokrat” di dalam situs online mengenai “visiku tentang Perpustakaan Ali Alatas (Visi 2014)”, yakni Perpustakaan Kemenlu sebelum diresmikan oleh Menlu Retno Marsudi dan berganti nama di tahun 2019 menjadi “Perpustakaan Diplomasi”, memiliki misi untuk: (1) Meningkatkan kuantitas dan kualitas koleksi perpustakaan Ali Alatas [Barang Milik Negara/BMN]; (2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas pengunjungan perpustakaan, khususnya pegawai Kemenlu/Peneliti/Pemerhati Diplomasi dan Polugri [Promosi]; (3) Meningkatkan kualitas pelayanan publik [“Re-opening” perpustakaan] (Maiwanews, 2012). Selanjutnya, setelah berubah nama di tahun 2019, Perpustakaan Diplomasi memiliki visi dan misi yang telah disesuaikan dengan tugas dan fungsinya yang baru, yaitu sebagai “fasilitas pendukung pembelajaran di Kemenlu”. Visi dan misi Perpustakaan Diplomasi Kemenlu dapat dilihat pada buku yang berjudul “Profil Perpustakaan Khusus Kementerian/Lembaga” yang telah ditulis oleh Perpustakaan Nasional RI. Visinya adalah “menjadi pendorong penguatan budaya literasi mengenai diplomasi dan hubungan luar negeri yang berkualitas dan berwibawa”. Terkait dengan itu, misi yang diemban adalah untuk: (1) Meningkatkan kualitas Perpustakaan Diplomasi dalam memberikan pelayanan prima, melalui penguatan kelembagaan, pengelolaan SDM, serta kemitraan di tingkat nasional dan internasional; (2) Menyediakan pelayanan informasi yang cepat, tepat, dan akurat; serta (3) Mengembangkan Perpustakaan Diplomasi sebagai pusat penyimpanan informasi dan pelestarian dokumen yang terkait dengan penyelenggaraan hubungan luar negeri dan diplomasi Indonesia (Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpustakaan Nasional RI, 2022; 2023). Dengan demikian, terlihat adanya perubahan fokus misi Perpustakaan Ali Alatas dan Perpustakaan diplomasi. Perpustakaan Ali Alatas semula memfokuskan pada 3 (tiga) isu, i.e. koleksi, kunjungan, dan pelayanan. Sementara itu, Perpustakaan Diplomasi hanya fokus pada koleksi dan pelayanan prima terkait fasilitas edukasi, penelitian, dan informasi. Hal ini juga sesuai dengan Standar Operasional Tata Kerja (SOTK) Perpustakaan Diplomasi yang secara terperinci telah dijabarkan dalam Peraturan Menteri Luar Negeri (Permenlu) terdahulu No. 2 tahun 2016(yang sudah dicabut/tidak berlaku). Permenlu itu menyebutkan mengenai tugas dan fungsi Perpustakaan Ali Alatas(di bawah pengelolaan BSKLN), yakni di dalam pasal 860-863. Sementaraitu, Permenlu terbaru No. 6 tahun 2021 (yakni di dalam pasal 633) hanya mencantumkan tugas dan fungsi Perpustakaan Diplomasi (dibawah Pusdiklat) sebagai pengelolaan fasilitas pendukung pembelajaran di Kemenlu. Selanjutnya, sebagaimana yang tertulis di dalam buku yang ditulis oleh Perpustakaan Nasional (Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpustakaan Nasional RI, 2022; 2023), disebutkan bahwa pada umumnya perpustakaan khusus di dalam institusi pemerintah merupakan unit tersendiri yang terpisah dari unit layanan publik lainnya. Konsep ini juga sesuai/sejalan dengan yang disebutkan oleh Sulistyo Basuki, yaitu bahwa tujuan perpustakaan khusus bertujuan untuk membantu badan induk, contoh “menghemat waktu dan uang”, e.g. (a) sirkulasi bahan pustaka sesuai minat institusi; (b) pengembangan koleksi sebagai basis penelitian; dan (c) digitalisasi/hibridisasi untuk keperluan penelusuran bahan pustaka (Basuki, 1991). Selain itu, perpustakaan khusus secaraumum belum mendapat prioritaspengembangan karena dianggaphanyasebagai unit penunjang yang tidak terlalu terkait dengan tugas-tugas utama lembaga. Selain itu, buku itu juga menyebutkan bahwa “kuatnya kontrol eksternal dari lembaga induk perpustakaan khusus, danlemahnya daya tawar perpustakaanterhadap anggaran” (Pusat PengembanganPerpustakaan Umumdan KhususPerpustakaan Nasional RI, 2022; 2023). Kedua faktor ini mengakibatkan sulitnya pembenahan perpustakaan khusus yang bersifat bottom up (pembahasan dari bawah ke atas)”. Perlu upaya ekstrauntukmeyakinkan “top management” terhadapperlunya perubahan di perpustakaan khusus melalui berbagai inisiatif, usulan, dan lobi dari bawah. Dengan demikian, harus ada perubahan pola pikir dan cara pandang “top management” terhadap peran dan fungsi perpustakaan khusus bahwa perubahan pada perpustakaan khusus akan memiliki dampak positif terhadap pencapaian visi misi dan citra lembaga induk.
Method
Studi ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kepustakaan yang merujuk pada data-data cetak dan online, khususnya dengan mengeksplorasi lima fungsi dasar perpustakaan (i.e. edukasi, penelitian, informasi, penyimpanan, dan hiburan kebudayaan), sebagaimana yang disebutkan oleh perpustakaan nasional, dan Sulistyo Basuki. Terkait dengan fungsinya, dan berdasarkan pada peraturan internal Kemenlu tahun 2021, fungsi Perpustakaan Diplomasi Kemenlu terbatas sebagai fasilitas pendukung proses edukasi di Pusdiklat Kemenlu. Studi ini mengajak para pembaca untuk memahami metamorfosa Perpustakaan Kemenlu pada periode masa kepemimpinan Menlu Retno Marsudi (2019 - 2024) sebagai batasan periode di dalam studi ini. Dua pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui studi ini adalah: (i) Sinergitas Perpustakaan Ali Alatas menjadi Perpustakaan Diplomasi Kemenlu; dan(ii) Perkembangan positif Perpustakaan Kemenluperiode 2019-2024.
Result & Discussion
Bagian analisis dan pembahasan menjawab dua pertanyaan penelitian melalui elaborasi penjelasan terkait Perpustakaan Diplomasi (i.e. gedung perpustakaan diplomasi, koleksi, dan pustakawan), serta peristiwa dan kegiatan penting di gedung Perpustakaan Diplomasi (i.e. masa peresmian Perpustakaan Diplomasi pada tahun 2019; masa pandemi CoVID-19; danmas persiapan “re-opening” secara terbatas). A. Perpustakaan Diplomasi: Gedung, Koleksi, Pustakawan 1)Gedung Perpustakaan Diplomasi Gedung Perpustakaan Diplomasi terdiri dari 7 (tujuh) bagian penting, yaitu: (1) Area Baca; (2) Area Diskusi; (3) Area Untuk Mengenang Ali Alatas; (4) Ruang Audio-Visual; (5) Pojok Digital; (6) Pusat Informasi; (7) Tembok Pajangan Foto Para Menlu RI. Foto-foto setiap bagian dari gedung Perpustakaan Diplomasi Kemenlu RI, sebagai berikut: Gambar 1. Area baca Gambar 1 merupakan area yang dapat menampung sekitar lima belas orang dengan lima meja baca utama. Area ini terletak di bagian samping dan bagian tengah, diantara tiga belas rak koleksi buku pustaka. Gambar 2. Area Diskusi Gambar 3. Area untuk Mengenang Ali Alatas Gambar 3 merupakan ruang untuk mengenang mantan Menlu Ali Alatas, yang menampilkan dua rak besar yang berisikan koleksi buku beliau, meja dan kursi kerja beliau, serta foto-foto danra koleksi piagam penghargaan yang pernah diterima oleh beliau. Gambar 4. Ruang Audio-Visual Ruang Audio-visual dilengkapi dengan satu smartboard LCD/TV, 2 stereos, dan ruang duduk lesehan menggunakan bantalan duduk. Gambar 5: Pojok Digital Pojok Digital memiliki empat komputer untuk mengakses/mencari koleksi pustaka secara digital. Gambar 6: Pusat Informasi Pusat Informasi terletak di bagian depan perpustakaan dengan tiga kursi petugas pelayanan informasi. Gambar 7 Tembok Pajangan Foto Para Menlu RI Tembok Pajangan Foto Para Menlu RI terletak di area menuju ruang baca, di tembok itu digantung foto delapan belas Menlu RI sejak tahun 1945 hingga saat ini. 2)Koleksi Perpustakaan Diplomasi Perpustakaan Diplomasi hingga saat ini memiliki 12.000 koleksi buku yang tercatat sebagai Barang Milik Negara (BMN), dan menurut data dari Pustakawan Kemenlu RI, per waktu penulisan studi ini yakni Oktober 2023, sebanyak 1.000 koleksi data diantaranya telah di-input di sistem e-library. Situs Perpustakaan Diplomasi telah dibenahi dan dapat diakses untuk mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan secara online melalui tautan www.perpustakan.kemlu.go.id Saat ini Perpustakaan Diplomasi masih dalam tahap “re-opening” secara terbatas, dan dalam fase ini lebih digalakkan lagi entry data di sistem akses online, guna layanan penelusuran koleksi perpustakaan. Disadari bahwa layanan penelusuran online untuk koleksi perpustakaan, khususnya di era “information and knowledge are powers”, memainkan peranan penting. Peningkatan pemanfaatan akses online adalah bentuk positif perkembangan IPTEK maupun internet terkait collection management. Lebih lanjut, layanan penelusuran online untuk koleksi perpustakaan ini akan mempersingkat waktu pencarian, mendorong peningkatan minat membaca/learning society untuk semakin gemar membaca/reading literacy. Dengan demikian, hal ini akan meningkatkan kreativitas para pengguna perpustakaan melalui pemanfaatannya secara lebih optimal. Terkait dengan koleksi buku perpustakaan, pengguna perpustakaan pada umumnya mempertanyakan mengenai koleksi buku (yang direkomendasikan dan yang populer/paling sering dipinjam dan dibaca), serta mengenai perpustakaan digital. Dari pencarian online di aplikasi Online Public Access Catalogue (OPAC) Perpustakaan Diplomasi Kemenlu, penulis menggunakan kata kunci (keywords) “diplomasi”, dan terdapat 9 buku yang sudah terinput di dalam entry data OPAC. Selain itu, juga terdapat 28 koleksi buku yang muncul dalam tampilan dengan kata kunci “diplomacy” (di dalam bahasa Inggris). Dengan demikian, terlihat bahwa ada 3 (tiga) kali lipat koleksi buku yang muncul dengan menggunakan kata kunci yang sama dalam bahasa Inggris. Penulis Mengklasifikasikan koleksi buku ini sebagai koleksi unggulan Perpustakaan Diplomasi Kemenlu. Selain itu, kategori lainnya yang menjadi koleksi unggulan adalah buku-buku dengan kata kunci “foreign policy”. Sebagai contoh/rujukan awal, penulis me-list 8 buku dari total 40 buku yang muncul dalam tampilan dengan kata kunci “foreign policy”. List daftar diurutkan berdasarkan tahun terbit dari koleksi tertua hingga terbaru, i.e. Indonesia and Its Foreign Policy (1995); Soviet Foreign Policy (1987); The Continuing Crisis: US Policy in Central America and the Caribbean (1987); PolicyMaking in China Leaders, Structures, and Processes (1988); Gorbachev’s Russia And American Foreign Policy (1988); Fifty Years of New Zealand Foreign PolicyMaking (1993); After the Crusade: American Foreign Policy for the Post Superpower Age (1995); In the National Interest: Australia’s Foreign and Trade Policy: White Paper (1997). Guna meng-highlight koleksi unggulan “diplomasi”, penulis me-list ke-9 buku (dalam bahasa Indonesia) dan 10 buku (dalam bahasa Inggris) sebagai rujukan bagi para pembaca. List ke-9 buku diurutkan berdasarkan tahun terbit terbaru, i.e. Diplomasi Publik: Catatan, Inspirasi, dan Harapan (2018); Diplomasi Indonesia: Realitas dan Prospek (2016); Praktek Diplomasi (2013); HimpunanSeminar Polugri: Diplomasi IndonesiaMenghadapi Pembangunan Nasional danTantangan Global (2009), Bingkai Diplomasi Indonesia: Sekelumit Catatan Media Massa (2008); Dinamika Diplomasi Indoensia dalam Praktik: Sejumlah Diplomat RI (2003); Diplomasi Australia & Indonesia’s Independence: Documents 1947 (1994); Diplomasi Ujung Tombak Perjuangan RI (1989); Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri: Perjoangan Pemuda/Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah (1980). Selanjutnya, list ke-10 buku (dalam bahasa Inggris), i.e. A Pathway to Diplomacy (2015); Law, Force, and Diplomacy at Sea (2014); Relational, Networked and Collaborative Approaches to Public Diplomacy (2013); Frontlines Diplomacy: Conversations with Philippine Ambassadors (2011); Ten Episodes in China’s Diplomacy (2005); The Hot Seat: Reflection on Diplomacy from Stalin’s Death to the Bali Bombings (2003); Does America Need a Foreign Policy? Toward a Diplomacy for the 21 st Century (2002); Preventive Diplomacy in Southeast Asia: Lessons Learned (2002); Talking to Strangers: Improving American Diplomacy at Home and Abroad (1996); The Politics of Diplomacy: Revolution, War & Peace 1989-1992 (1995). Dengan demikian, terlihat bahwa dari seluruh tampilan hasil koleksi buku dengan kata kunci “diplomasi” (bahasa Indonesia) dan “diplomacy” (bahasa Inggris), sebanyak 60,7% koleksi unggulan ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat koleksi 18 karya tulis/artikel (yang ditulis dalam bahasa Inggris) dengan kata kunci “diplomacy” (yang sifatnya terbatas untuk dibaca di tempat dan tidak terbuka untuk umum). Ini merupakan keunikan/karakteristik lainnya yang dimiliki oleh Perpustakaan Diplomasi Kemenlu. Salah satu buku baru terbitan tahun 2022 yang dihasilkan oleh penulis sebagai salah seorang diplomat, dan menjadi bagian dari koleksi buku Perpustakaan Diplomasi Kemenlu adalah buku berjudul “Penerjemahan Bahasa Mandarin: Forum Diplomasi Ekonomi” (Hutabarat, 2022). Buku ini diliput oleh media massa ternama dan dinilai oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Uzbekistan, Asruchin, sebagai buku rujukan/referensi, terutama mengingat peranan ekonomi Tiongkok/RRT di dunia semakin penting, sehingga bahasa Mandarin menjadi alat komunikasi bisnis. Dengan demikian, praktik penerjemahanbahasa Mandarin (guna mendukungdiplomasi ekonomi) merupakansumbangsih nilai baru yang disajikandalam buku ini, khususnyabagi akademisi, praktisi penerjemahan, dandiplomat (medcom.id; epaper media indonesia.com; guojiribao.com). Koleksi buku lainnya tentang diplomasi adalah karya yang ditulis pada tahun 2021 oleh Duta Besar RI untuk Polandia (2010-2014) dan untuk Austria & Slovenia (2017-2021), Y.M. Darmasjah Djumala, berjudul “Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia” (Djumala, 2021) yang berisikan tulisan opini beliau mengenai isu-isu aktual terkait hubungan luar negeri Indonesia dan telah diterbitkan di media massa, e.g. Kompas, Jakarta Post, dan lainnya. 3)Pustakawan Perpustakaan Diplomasi Sebagai “backbone” dari Perpustakaan Diplomasi, para pustakawan Kemenlu RI sebanyak 4(empat) orang, yang terdiri dari: 2(dua) orang bertugas di PerpustakaanDiplomasi Kemenlu, sementara 2(dua) orang lainnya bertugas di satuan kerja lainnya, yakni di Sekretariat Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri/BSKLN, dan di perwakilan RI di di Dubai (posting SK-11, yakni posting ke perwakilan di luar negeri bagi para pegawai non-diplomat yang akan memasuki masa purna tugas/pensiun). Sementara itu, 2(dua) formasi kosong lainnya berada di satuan kerja Informasi dan Diplomasi Publik/IDP(yang menaungi Museum Asia-Afrika Di Bandung), serta di satuan kerja Hukum dan Perjanjian Internasional/HPI. B. Peristiwa dan Kegiatan Penting di Gedung Perpustakaan Diplomasi Perpustakaan Diplomasi dalam periode jabatan Menlu Retno Marsudi dapat dikategorisasikan ke dalam 3 (tiga) masa, yakni: (a) masa peresmian 2019; (b) masa CoVID-19; dan (c) masa persiapan “re- opening”. Peristiwa penting dan kegiatan jasa pelayanan yang diberikan kepada stakeholders di ketiga masa itu sebagai berikut: 1) Masa Peresmian 2019 Perpustakaan Diplomasi telah diresmikan per 29 April 2019 melalui penandatanganan plakat peresmian(dan telah dipublikasikan melalui akun resmi media sosial twitter Menteri Luar Negeri Republik Indonesia @Menlu_RI), dengan cuitan: “Saya telah resmikan Perpustakaan Diplomasi di Pusdiklat Kemlu Senayan 29/4”. Hingga saat ini (per Oktober 2023), Perpustakaan Diplomasi telah beroperasi selama 4 tahun 6 bulan. Peristiwa penting yang terjadi adalah penandatanganan plakat peresmian Perpustakaan Diplomasi (lihat Gambar 8) . Gambar 8. Plakat Tanda Tangan Peresmian oleh Menlu RI, Y.M. Retno Marsudi a) Masa CoVID-19 Perpustakaan Diplomasi di masa pandemi CoVID telah mengadakan serangkaian bentuk penyesuaian di dalam kegiatan pelayanannya (Tim Perpustakaan Kementerian Luar Negeri, 2020), diantaranya adalah: (1) Jasa “kunjungan digital” yakni kunjungan yang dilaksanakan bukan secara tatap muka; (2) Jasa koleksi internal di portal utama melalui situs https://kemlu.go.id/portal/id/list/halama n_list_lainnya/129/kajian; (3) Jasa informasi dan komunikasi publik melalui media sosial Instagram/IG Perpustakaan Diplomasi melalui akun: @perpusdiplomasi; serta (4) Jasa penerapan protokol kesehatan/prokesdalam masa tunggu “re-opening” perpustakaan. Selama masa ConVID tidak ada aktivitas pentingyang terlaksana di Perpustakaan Diplomasi. b) Masa Persiapan “Pre-Opening”Terbatas Perpustakaan Diplomasi di masa endemi telah memasuki masa reopening secara terbatas. Peristiwa Penting yang terlaksana di masa ini adalah kunjungan Menteri Luar Negeri Tanzania, Her Excellency Dr. Stergomena Tax, ke Perpustakaan Diplomasi Kemenlu RI (lihat Gambar 9). Gambar 9. Menlu Tanzania di Depan Perpustakaan Diplomasi Gambar 10. Sumbangan/Hibah Buku Selain peristiwa penting itu, aktivitas lainnya yang dilakukan berupa pemberian sumbangan/hibah buku untuk acara HUT Kemenlu RI ke-78 dan sumbangan/hibah buku kepada perpustakaan lainnya (lihat Gambar 10).
Conclusion
Studi ini menyimpulkan jawaban atas dua pertanyaan penelitian. Pertama, sebagai bentuk sinergitas dari perpustakaan terdahulu di Kemenlu (sebelum masa jabatan Menlu Retno Marsudi), Perpustakaan Diplomasi telah memfokuskan pada tiga fungsi utama perpustakaan menurut definisi perpustakaan nasional, yakni: edukasi, penelitian, dan informasi; serta menekankan pada koleksi unggulan dengan substansi “diplomasi” dan juga “kebijakan luar negeri”. Kedua, perkembangan positif dari Perpustakaan Diplomasi pada masa jabatan Menlu Retno Marsudi, terutama adalah dengan perpindahan lokasi yang mendekati pengguna internal perpustakaan (yang membutuhkan informasi karena sedang mengikuti program edukasi dan pelatihan) di Pusdiklat Kemenlu. Lokasi juga diperluas dengan gedung seluas 3 (tiga) kali lipat dari besaran luas gedung perpustakaan yang terdahulu. Dengan Demikian, dari sisi infrastruktur (i.e. gedung) dan suprastruktur (i.e. substansi koleksi) yang baru, semuanya mendukung visi dan misi Perpustakaan Diplomasi. Selain itu, pending matters yang merupakan program promosi Perpustakaan Diplomasi adalah kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2023 (atas rekomendasi penulis), yaitu: kegiatan perdana Live-Instagram/IG yang akan disiarkan melalui Instagram/IG @perpusdiplomasi, dengan tema: “Bincang Pustakawan Kemenlu RI”. Kegiatan itu rencananya akan menampilkan topik isu yang terbuka bagi khalayak umum, yaitu: (1) “Bincang Pustakawan Kemenlu: Pertemuan dengan Komunitas Perpustakaan se-Indonesia” (tbc.); dan (2) “Karir sebagai Pustakawan Kemenlu dan Layanan Integrasi Perpustakaan Diplomasi” (tbc.). Kedua topik bahasan pada kegiatan Live-IG ini juga sejalan dengan misi Perpustakaan Diplomasi Kemenlu RI (yakni pelayanan prima). Terkait dengan itu, persiapan substansi dan teknis akan dilaksanakan secara paralel (sesuai dengan pembagian peran dan tugas khusus masing-masing individu yang nantinya terlibat di dalam kegiatan tersebut). Semua perkembangan positif dan program ini merupakan bagian dari knowledge management dan kepemilikan nilai tambah Kemenlu RI.