Penerapan Layanan Opencourseware Open Library Telkom University sebagai Media Pembelajaran Gratis
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian dengan judul Penerapan Layanan opencourseware pada Open Library Telkom University Sebagai Media Pembelajaran Gratis bertujuan untuk memperoleh gambaran secara jelas mengenai langkah-langkah penerapan Layanan Opencourseware Open Library. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh motivasi Open Library untuk menyediakan informasi dan memberikan kemudahan akses informasi dengan memberikan pembelajaran gratis berupa konten video pembelajaran bagi masyarakat umum melalui layanan opencourseware Open Library. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode penelitian kualitatif dilengkapi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Layanan opencourseware Open Library dijadikan sebagai objek penelitian dan 4 informan pada penelitian ini dijadikan sebagai subjek penelitian. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dan penarikan kesimpulan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah penerapan layanan opencourseware Open Library terdiri dari perencanaan, mengumpulkan referensi, memasukkan data, menetapkan topik, melakukan proses pengolahan atau produksi, mengendalikan materi, menyimpan data, melaporkan hasil pengeditan, review konten pembelajaran, penyimpanan dan memposting materi pembelajaran. Dalam penerapan layanan opencourseware Open Library terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi terdiri dari komunikator, pesan, konteks, media, serta penerima.
Abstract
The research entitled Implementation of Open Courseware Services in Telkom University Open Library as a Free Learning Media aims to obtain a clear picture of the steps for implementing Open Courseware Open Library Services. This research is motivated by the motivation of Open Library to provide information and provide easy access to information by providing free learning in the form of learning video content for the general public through the Open Library open courseware service. In this study using a case study approach with qualitative research methods equipped with data collection techniques through observation, interviews and documentation. The Open Library opencourseware service was used as the object of research and 4 informants in this study were used as research subjects. Based on the analysis of research data and drawing conclusions, the results of this study indicate that the steps for implementing the open courseware Open Library service consist of planning, collecting references, entering data, setting topics, processing or production, controlling material, storing data, reporting editing results. , review of learning content, storage and posting of learning materials. In implementing the open courseware Open Library service, there are influencing elements consisting of the communicator, message, context, media, and recipient.
Keywords:
opencourseware
· Telkom University Open Library
· free learning
Introduction
Seiring dengan majunya teknologi informasi yang tercipta dari jaringan interconnection networking (internet) memberikan kemudahan untuk mengakses suatu informasi. Pemanfaatan teknologi informasi sudah banyak dimanfaatkan oleh seorang individu maupun organisasi dan tentunya perpustakaan. Hal tersebut dapat dilihat dari perpustakaan yang memanfaatkan teknologi informasi dengan sistem otomasi di perpustakaan konvensional maupun perpustakaan digital. Maka untuk suatu perpustakaan diwajibkan untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi secara terbuka luas agar dapat memberikan kesempatan dalam meningkatkan jasa layanan informasi perpustakaan. Serta keuntungan bagi pemustaka yaitu semakin majunya teknologi informasi dapat mempermudah pemustaka dalam mencari berbagai informasi yang tepat dan cepat (Oktaviani, Yusup & Khadijah, 2018). Adaptasi dengan perkembangan teknologi menjadikan perpustakaan Open Library Telkom University memiliki fasilitas teknologi yang lengkap sebagai penunjang pelayanan perpustakaan. Sehingga dengan fasilitas tersebut memberikan kenyamanan kepada setiap pemustaka yang tentunya dapat memudahkan dalam pencarian informasi. Mudahnya pencarian informasi melalui teknologi informasi menyebabkan information overload yang tersebar luas di media sosial atau media informasi lainnya. Namun dengan banyaknya informasi yang masih meninggalkan problematik bagi pemustaka. Hal tersebut karena terkadang informasi yang didapatkan oleh pemustaka tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Oleh karena itu, perpustakaan sangat diperlukan untuk menyediakan sumber informasi yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, perpustakaan Telkom University menciptakan layanan opencourseware yang merupakan salah satu layanan yang ada di Open Library Telkom University. Layanan opencourseware adalah suatu layanan yang menyediakan materi pengajaran dan pembelajaran kepada masyarakat umum secara gratis tanpa adanya batasan orang. Opencourseware dapat diakses di OPEC atau website Open Library Telkom University dan akan langsung terhubung pada aplikasi Youtube (Iswanto, 2021). Adanya layanan opencourseware dapat mendukung pada bidang pendidikan. Hal tersebut karena layanan opencourseware memberikan materi yang bermanfaat bagi masyarakat umum yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Materi pada layanan opencourseware akan disampaikan oleh dosen Telkom University yang tentunya kompeten pada bidang tersebut. Penerapan layanan opencourseware di Open Library Telkom University telah berjalan dimulai pada awal tahun 2021. Akan tetapi untuk pengelolaan layanan opencourseware ini belum optimal. Hal tersebut karena belum adanya riset khusus untuk mengetahui kebutuhan masyarakat. Selain itu, adanya layanan opencourseware di Open Library Telkom University belum banyak yang mengetahuinya. Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan atau pemasaran khusus kepada masyarakat umum terkait adanya layanan opencourseware di Open Library. Maka demikian opencourseware merupakan topik yang menarik bagi lembaga informasi yakni perpustakaan agar dapat diterapkan dan mendorong pendidikan semakin maju serta pemerataan pendidikan di Indonesia. Kemudian dapat dijadikan motivasi bagi Open Library untuk lebih mengoptimalkan layanan opencourseware supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat umum dan tepat guna sesuai dengan keperluan informasi masyarakat saat ini. Open Library Telkom University adalah perpustakaan perguruan tinggi ternama yang memiliki reputasi sangat baik yaitu telah terakreditasi A oleh Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional Indonesia. Telkom University merupakan salah satu Universitas swasta terbaik di Indonesia berdasarkan QS Asia University Ranking pada tahun 2022. Open Library Telkom University ialah brand yang digunakan sebagai sumber daya keilmuan dan perpustakaan di Telkom University yang berada dibawah naungan wakil Rektor 1. Open Library Telkom University merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Hal tersebut karena Open Library Telkom University memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan layanan perpustakaan yang beragam (University, 2022) Perpustakaan Open Library Telkom University telah menyediakan kemudahan akses informasi kepada masyarakat melalui adanya layanan opencourseware. Layanan opencourseware disediakan secara open acces yang bertujuan untuk mendukung pembelajaran seumur hidup dan informal kepada masyarakat luas. Dengan memberikan sumber pengetahuan yang beragam, Open Library Telkom University juga memanfaatkan salah satu media sosial. Penggunaan media sosial pada layanan opencourseware yakni berupa aplikasi Youtube untuk menunjang kemudahan akses masyarakat. Kemudahan akses yang diberikan kepada masyarakat luas yaitu dapat diakses kapan saja, dan dimana saja tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Open Library Telkom University memiliki banyak layanan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dan masyarakat. Terdapat layanan baru di Open Library Telkom University adalah layanan opencourseware. Layanan opencourseware ini memiliki tujuan untuk memudahkan masyarakat umum mendapatkan informasi atau ilmu pembelajaran gratis. Adanya layanan opencourseware di era digital berperan untuk menyediakan open acces bagi masyarakat umum karena keberadaan teknologi informasi yang semakin maju. Selain itu, perpustakaan perguruan tinggi memiliki peran dalam proses kegiatan pengorganisasian dan manajemen berbagai sumber informasi yang akan dilayankan kepada pemustaka. Adapun peran pustakawan adalah mengolah informasi dari berbagai sumber yang kemudian akan dilayankan kepada pemustaka dan siap digunakan. Program layanan opencourseware merupakan salah satu usaha pustakawan Open Library untuk memberikan fungsi perpustakaan dalam memberikan pengetahuan informasi secara maksimal bagi masyarakat umum. Fungsi perpustakaan tersebut salah satunya dengan menyediakan sumber informasi bagi pemustaka dan masyarakat. Sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan dapat dikembangan ke dalam berbagai bentuk. Hal tersebut untuk memudahkan pemustaka dan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Maka dengan majunya teknologi informasi yang sangat pesat perpustakaan dapat menggunakan teknologi sebagai solusi untuk memudahkan pekerjaan maupun layanan yang diberikan kepada pemustaka. Layanan perpustakaan merupakan suatu kegiatan teknis perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan untuk memenuhi kebutuhan informasi para pemustaka dan masyarakat. Sedangkan layanan perpustakaan menurut Yusuf dan Suhendar adalah proses penyebaran berbagai jenis informasi kepada para pemustaka dan masyarakat luas (Lia Yuliana, 2021). Hal tersebut karena fungsi dari layanan perpustakaan adalah membantu pemustaka dalam menemukan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu untuk menunjang keberhasilan dan kelancaran kegiatan layanan perpustakaan diperlukan adanya dana, koleksi, pemustaka, pustakawan, saranan dan prasarana. Maka adanya layanan opencourseware dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai sarana untuk mempermudah pemustaka dalam mengakses ilmu pengetahuan. Hal ini menjadikan perpustakaan perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan kemajuan teknologi yaitu dengan memudahkan akses informasi bagi mahasiswa, civitas akademik dan masyarakat. Adapun keterkaitan dari uraian diatas dengan isi peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi (2012), pada pasal 79 ayat 4 yaitu, “Pemerintah mengembangkan sumber pembelajaran terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademika” (Iswanto Rahmat, 2020). Maka hal tersebut menegaskan bahwa peran perpustakaan perguruan tinggi sangat penting bagi keberlangsungan proses belajar dan mengajar dengan menyediakan sumber belajar yang lengkap. Penelitian yang hampir sama dengan layanan opencourseware sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Rahmat Iswanto dan Jurianto yang berjudul “Pengembangan model manajemen Open Educational Resources (OER) Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri Curup” (Iswanto Rahmat, 2020). Kemudian terdapat penelitian yang dilakukan di Open Library Telkom University yang pernah dilakukan dan dapat dijadikan sebagai perbandingan antara penelitian yang akan diteliti dengan penelitian yang pernah dilaksanakan. Penelitian tersebut dilakukan oleh Rozaanah Khoerunnisa, Sukaesih, dan Saleha Rodiah. Dengan judul “Kegiatan penyediaan pelayanan perpustakaan dalam layanan unggah mandiri tugas akhir studi kualitatif layanan unggah mandiri tugas akhir di Telkom University Open Library (Khoerunnisa Rozaanah, 2022). Berdasarkan review penelitian terdahulu tidak ada penelitian yang sama persis dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat ini. Hal tersebut karena penelitian terdahulu yang dilaksanakan di Open Library Telkom University membahas mengenai pelayanan SBKP. Kemudian ada yang hampir sama mengenai pembelajaran terbuka, namun sasarannya berbeda dan model pembelajarannya berbeda. Lain halnya dengan penelitian sebelumnya dan untuk kebaruan penelitian, Menjadikan peneliti lebih tertarik untuk meneliti tentang penerapan layanan opencourseware pada Open Library Telkom University. Dengan demikian peneliti menggunakan pendekatan studi kasus karena berdasarkan hasil survey pra-penelitian terdapat beberapa keunikan. Keunikan tersebut adalah pada layanan opencourseware yang masih tergolong jarang dikembangkan di perpustakaan Universitas. Selain itu keunikan lainnya terdapat pada layanan yang dapat diakses secara gratis tanpa adanya batasan kalangan atau usia. Sehingga mendukung transfer ilmu pengetahuan yang lebih merata.
Method
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Menurut John W. Creswell penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus adalah jenis pendekatan yang penelitiannya melakukan kegiatan mengekplorasi kehidupan nyata, yakni berupa beragam sistem terbatas (berbagai kasus) atau sistem terbatas kontemporer (kasus) dengan melalui pengumpulan data yang mendalam dan detail (Creswell, 2014). Selain itu melibatkan berbagai sumber informasi berkaitan berupa informan atau narasumber yang memiliki pengetahuan terkait layanan opencourseware yang diterapkan di Open Library Telkom University. Subjek penelitian merupakan seseorang atau hal yang akan diteliti untuk memperoleh keterangan tentang data yang sedang dicari melalui wawancara, observasi penelitian lapangan dan dokumentasi penelitian, serta melaporkan deskripsi kasus dari tema kasus yang akan diteliti. Kemudian pada penelitian ini memilih 4 informan yang meliputi Kepala Perpustakaan Open Library Telkom University, Kepala Urusan Administrasi dan Layanan Pustaka, Pustakawan dan Dosen Telkom University yang bertujuan untuk pengumpulan informasi penelitian. Maka penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penerapan layanan opencourseware pada Open Library Telkom University sebagai media pembelajaran gratis. Dengan penggunaan pengumpulan data melalui wawancara, observasi penelitian lapangan dan dokumentasi penelitian untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Result & Discussion
Langkah-Langkah Penerapan Layanan opencourseware pada Open Library Telkom University Dalam membentuk suatu layanan perpustakaan, tentunya akan adanya perancangan terlebih dahulu, berupa sistem manajemen untuk mengatur layanan supaya dapat berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan lembaga perpustakaan dapat dikatakan maju apabila telah memenuhi indikator perpustakaan yang berkualitas. Indikator tersebut memiliki tujuan dan strategi agar perpustakaan dapat berjalan dengan baik dan dapat melakukan kegiatan evaluasi rutin secara bertahap dengan melakukan identifikasi. Selain itu, didalam indikator perpustakaan digunakan untuk mengukur dan meninjau variabel penting serta untuk menyusun konsep kerangka kerja yang baik sesuai dengan sistem perpustakaan (Cahyono, Masrurroh, & Sarwono, 2021). Maka dalam penerapan suatu layanan di perpustakaan membutuhkan manajemen perpustakaan sesuai dengan konsep manajemen perpustakaan itu sendiri. Sistem manajemen informasi yang digunakan oleh Open Library Telkom University untuk membentuk layanan opencourseware sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh F. Nash dan Martil B. Robert (1978). Dalam teori yang dikemukakan oleh F. Nash dan Martil B. Robert (1978) di dalamnya melibatkan orang-orang yakni pustakawan-pustakawan Open Library, dosen Telkom University dan masyarakat umum. Fasilitas yang tersedia di Open Library sangat memadai untuk menerapkan layanan opencourseware, seperti komputer, alat-alat syuting, kamera, mini studio dan lain sebagainya. Kemudian media yang digunakan untuk penyebaran pembelajaran gratis berupa Youtube dan website Open Library. Lalu hal terpenting dalam penerapan layanan opencourseware Open Library yakni memerlukan adanya prosedur dari setiap langkah kegiatan yang akan dikerjakan dalam pembuatan konten pembelajaran gratis opencourseware Open Library. Prosedur yang digunakan dalam proses pembuatan konten video pembelajaran berupa pedoman langkah-langkah pembuatan konten yang dimulai dari tahap perencanaan sampai pada kegiatan publish pada Youtube. Lalu terdapat pengendalian setelah seluruh proses pengeditan konten selesai dengan dilakukannya kegiatan review video pembelajaran sebelum di publish pada Youtube. Serta untuk proses terakhir dalam penerapan layanan opencourseware penetapan video pembelajaran dari persetujuan dosen bersangkutan yang telah menyampaikan materi tersebut dan persetujuan dari seluruh pihak Open Library yang terlibat dalam layanan opencourseware Open Library. Maka teori yang dikemukakan oleh F. Nash dan Martil B. Robert (1978) tentang sistem manajemen informasi sesuai dengan sistem manajemen pada penerapan layanan opencourseware Open Library Telkom University. Pada sistem manajemen informasi dalam penerapan layanan opencourseware Open Library dilatarbelakangi dari konsep Open Library “semangat berbagi”. Dari konsep semangat berbagai tersebut, Open Library memilih menerapkan layanan opencourseware. Penerapan opencourseware Open Library memiliki tujuan untuk menyebarluaskan informasi pengetahuan berupa konten video pembelajaran gratis kepada masyarakat luas melalui pemanfaatan teknologi dengan penggunaan jalur komunikasi platform opencourseware Open Library. Dari inovasi yang dilakukan oleh Open Library diharapkan dapat membantu masyarakat atau pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Adapun sistem manajemen informasi yang dipakai oleh Open Library dalam pembuatan konten untuk layanan opencourseware Open Library adalah sistem manajemen menurut pendapat Rommey (1983). Dalam pernyataan yang dikemukakan Rommey (1983) adalah meliputi mengumpulkan, memasukkan, menetapkan, mengolah atau memproduksi, mengendalikan, menyimpan data, mengelola, serta melaporkan hasil informasi tersebut. Dari langkah-langkah tersebut bertujuan supaya sebuah organisasi atau instansi dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya (Rusdiana, 2014). Dari pernyataan Rommey, sangat sesuai dengan langkah-langkah dalam pembuatan konten opencourseware Open Library. Maka langkah-langkah dari pembuatan konten opencourseware yang dikaitkan dengan teori Rommey (1983) adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan; 2. Mengumpulkan referensi untuk mengetahui kebutuhan informasi masyarakat saat ini; 3. Memasukkan data-data yang telah didapatkan; 4. Menetapkan topik; 5. Melakukan proses pengolahan atau produksi dari topik yang ditetapkan; 6. Mengendalikan materi yang telah selesai diproduksi agar sesuai dengan tujuan awal; 7. Menyimpan data setelah materi selesai diedit; 8. Melaporkan hasil pengeditan materi; 9. Melakukan kegiatan review bersama terhadap video konten yang telah selesai diedit; 10.Penyimpanan dan memposting materi pembelajaran ke dalam website opencourseware. Berdasarkan uraian di atas, sistem manajemen perpustakaan perguruan tinggi yakni Open Library Telkom University adalah suatu kegiatan untuk membentuk suatu layanan di perpustakaan. Sistem manajemen perpustakaan tersebut terdiri dari, perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pembinaan, pengorganisasian, pengawasan, pengendalian, serta pertanggung jawaban atas layanan tersebut (Cahyono et al., 2021). Open Library Telkom University memiliki konsep, prinsip serta teori manajemen untuk mewujudkan layanan perpustakaan yang lebih efektif, efisien dan bermanfaat bagi masyarakat umum salah satunya dengan adanya layanan opencourseware. Maka sistem manajemen perpustakaan perguruan tinggi yang diterapkan di Open Library Telkom University adalah suatu kegiatan manajemen efektif yang digunakan untuk mengelola perpustakaan menjadi lebih maju melalui pengembangan potensi yang dimiliki Open Library. Berikut merupakan langkah-langkah dari pembuatan konten opencourseware Open Library Telkom University. Langkah-langkah Pembuatan Konten Opencourseware Open Library Setelah dipaparkan secara singkat mengenai langkah-langkah pembuatan konten opencourseware Open Library sebelumnya, akan membahas lebih jelas terkait langkah-langkah pembuatan konten opencourseware Open Library. Selain itu, akan dijelaskan peran orangorang yang terlibat dalam proses keberhasilan konten opencourseware Open Library. Serta unsur-unsur yang mempengaruhi dalam penerapan layanan opencourseware Open Library. Hal ini disebabkan, karena peran orangorang yang terlibat dalam pembuatan konten opencourseware Open Library sangat mempengaruhi hasil yang akan didapatkan. Maka pustakawan, teknologi komunikasi dan sistem manajemen sangat berkaitan erat untuk mencapai keberhasilan layanan opencourseware Open Library Telkom University. Adapun teori yang digunakan sebagai pedoman dalam proses penerapan layanan opencourseware Open Library adalah teori diseminasi informasi yang dikemukakan oleh Ordonez dan Serrat. Teori diseminasi informasi menurut Ordonez dan Serrat adalah suatu kegiatan interaksi dalam menyampaikan pengetahuan melalui komunikasi kepada khalayak umum dengan menggunakan beberapa faktor untuk penyampaian pesan tersebut supaya dapat dimanfaatkan dan untuk kebaruan pengetahuan (Fatkhah, Winoto, & Khadijah, Lies siti, 2020). Serta didukung penggunaan teori dari Rommey (1983) yang mengatakan bahwa penggunaan langkah-langkah yang telah di organisasi yaitu meliputi terkait mengumpulkan, memasukkan, menetapkan, mengolah atau memproduksi, mengendalikan, menyimpan data, mengelola, serta melaporkan hasil informasi tersebut (Rusdiana, 2014). Adapun hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Kepala Perpustakaan Open Library Telkom University yaitu Ibu Rika Yuliant. Terkait prinsip-prinsip manajemen standar nasional perpustakaan dalam membuat dan menerapkan layanan opencourseware Open Library, Ibu Rika Yuliant sebagai Kepala Perpustakaan Open Library yang mengatakan bahwa: “Standar nasional perpustakaan dalam pembuatan layanan opencourseware di Open Library adalah dengan memanfaatkan fasilitas yang sangat memadai untuk menerapkan dan mengembangkan layanan opencourseware. Hal ini karena dengan fasilitas yang lengkap Open Library dapat memberikan kepuasan bagi pengguna terhadap penggunaan layanan opencourseware. Selain itu terdapat manajemen sistem khusus yang digunakan oleh Open Library dalam pembuatan layanan opencourseware. Manajemen sistem tersebut berupa, pertama perencanaan, kedua proses input, ketiga process, keempat output, dan kelima outcome. Lalu pada proses outcome Open Library berencana akan adanya evaluasi monitoring, yang bertujuan supaya Open Library dapat mengukur kepuasan atau keberhasilan Open Library dalam menerapkan layanan opencourseware. Kemudian apabila dilihat dari sistem manajemen dalam menerapkan layanan opencourseware Open Library telah memenuhi standar nasional. Hal ini karena dalam proses pengembangan pembuatan website Open Library telah memudahkan masyarakat untuk mengakses materi di opencourseware. Lalu Open Library juga memilih dosen yang tepat yang kompeten yaitu ahli pada bidangnya yang akan dibahas di opencourseware. Serta terdapat pasal tentang perpustakaan perguruan tinggi yang menegaskan bahwa perpustakaan perguruan tinggi diharuskan melakukan pengembangan atau inovasi untuk mengikuti arus perkembangan teknologi informasi yang semakin maju. Maka Open Library mengoptimalkan teknologi dengan menerapkan layanan opencourseware untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat” (Rika Yuliant, Wawancara 31 Januari 2023). Dari uraian hasil penelitian wawancara yang dilakukan peneliti dengan ibu Rika Yuliant dapat dimaknai bahwa pada penerapan layanan opencourseware Open Library tentunya memiliki pedoman. Hal ini dimaksudkan supaya pada setiap langkah yang dikerjakan dapat tersusun dan terkendalikan dengan baik dan benar. Serta supaya hasil yang didapatkan sesuai dengan perencanaan awal, sebab pada langkah pembuatan konten materi opencourseware Open Library membutuhkan pedoman agar setiap pengerjaannya terstruktur. Berikut merupakan langkah-langkah dalam pembuatan konten opencourseware Open Library berdasarkan hasil wawancara kepada bapak Sobran selaku pustakawan Open Library: 1. Menentukan Topik Pada langkah pertama ini pustakawan Open Library melakukan diskusi bersama dengan cara mengumpulkan referensi agar mengetahui kebutuhan informasi masyarakat saat ini. Diskusi atau musyawarah dalam penentuan topik dilakukan saat rapat koordinasi internal Open Library yang biasanya dilakukan rutin minimal 1 bulan 2 kali. Akan tetapi terkadang rapat musyawarah tersebut diadakan secara fleksibel tidak menentu. Untuk waktu diadakannya rapat musyawarah tersebut tidak ada jadwal khusus dan waktu khusus. Namun Open Library selalu melakukan diskusi rapat musyawarah diadakan mulai pada pukul 08.00-16.00 WIB. Kemudian yang mengikuti diskusi atau musyawarah adalah pihak atau tim Open Library, PIC (Person In Change) merupakan orang yang memiliki peran penting dalam pembuatan konten dan penerapan opencourseware Open Library. Lalu bagian teknisi adalah bapak Sobran, dan ibu Lusi selaku penyusun timeline pembuatan topik opencourseware. Serta narasumber atau dosen yang akan menyampaikan materi di opencourseware. Adapun menurut Silaswati (2018) dalam David Septian menyatakan bahwa penentuan topik adalah suatu hal yang sangat mendasar ketika pembuatan sebuah karya ilmiah. Maka sama halnya penentuan topik dalam pembuatan konten materi pembelajaran gratis diperlukan adanya penentuan topik yang tepat sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. Hal tersebut dilakukan supaya materi atau informasi yang disampaikan pada layanan opencourseware Open Library dapat dimanfaatkan oleh masyarakat atau pengguna, serta dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian definisi dari topik adalah suatu gambaran umum mengenai pencarian informasi seorang individu. Dapat dipahami bahwa topik diperlukan seorang individu memahami informasi yang sedang dicarinya (Septian, Narendra, Pramukti, & Hermawan, 2021). 2. Pembuatan storyboard Pada langkah kedua ini yaitu menyusun perencanaan dan mengatur jadwal dalam proses pembuatan topik terbaru untuk materi opencourseware. Storyboard merupakan rangkaian kata yang dibuat tentang garis besar pada setiap alur dari perencanaan hingga selesai. Pada isi storyboard berisikan gambar-gambar manual yang dibuat secara detail sehingga akan menjadi sebuah alur cerita yang singkat. Pembuatan storyboard ini bertujuan sebagai acuan atau pemandu orang-orang yang terlibat kegiatan di dalamnya. Kemudian dengan adanya storyboard memungkinkan ide-ide dalam perencanaan akan tersampaikan dengan cepat, hal ini karena storyboard merupakan cara mudah untuk mengkomunikasikan dari keseluruhan ide (Winarni & Astuti, 2019). Maka sama halnya dengan pembuatan storyboard dalam membuat konten opencourseware digunakan sebagai pemandu pustakawan-pustakawan yang mengelola layanan opencourseware agar ide-ide yang dihasilkan dari rapat dapat mudah dipahami. Dengan dibuatnya storyboard timeline dalam pembuatan konten opencourseware akan lebih jelas, sehingga terselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Selain itu, storyboard sangat bermanfaat bagi tim produksi yakni pak Sobran yang bekerja pada proses syuting, pengeditan suara dan audio dalam pembuatan konten opencourseware. Hal ini karena storyboard dapat dijadikan acuan atau panduannya dalam proses pembuatan konten opencourseware. Sehingga konten yang dihasilkan dapat sesuai dengan ide pada perencanaan. 3. Menentukan dan Menetapkan Narasumber Pada langkah ketiga ini yaitu menentukan narasumber untuk membuat materi dan menyampaikan materi pada opencourseware Open Library. Kemudian terdapat hasil penelitian wawancara peneliti dengan ibu Lusi selaku salah satu pengelola layanan opencourseware Open Library. Ibu Lusi mengatakan bahwa dalam pemilihan dosen terdapat kualifikasinya, dikarenakan dosen yang akan menyampaikan materi harus benar-benar ahli pada bidang materi yang akan disampaikan pada opencourseware. Namun, tentunya dosen yang dipilih hanya dosen-dosen yang ada di Telkom University. 4. Proses Syuting Pada langkah keempat ini yaitu kegiatan syuting dosen Telkom University yang dimana dosen Telkom University mempresentasikan materi yang telah dibuat oleh dosen itu sendiri. Kemudian bapak Sobran yang akan membantu dalam proses syuting berlangsung. Kegiatan syuting ini berlangsung bukan hanya satu kali take melainkan beberapa kali dan beberapa hari dan tidak dapat pastikan selesai. Hal ini karena, dalam proses syuting terkadang terjadi noise, sehingga perlu dilakukan take ulang. Adapun menurut hasil observasi wawancara peneliti dan terdapat dokumentasi pada proses syuting berlangsung serta pendapat bapak Sobran Mundopar sebagai pustakawan pengelola layanan opencourseware Open Library yang mengatakan bahwa: “Proses syuting yang dilakukan tidak dapat diperkirakan selesainya berapa hari, karena tergantung keseriusan dosen dalam penyampaian materi dan setiap dosen memiliki selera berbeda untuk alat yang dipakai pada proses syuting, sehingga Open Library harus menyiapkan alat-alat tersebut” (Sobran Mudopar, Wawancara 03 November 2022). Gambar 1 Syuting Dosen Telkom University Sumber: Website Open Library Telkom University (2023) 5. Proses produksi konten (Actuating) Pada langkah kelima ini yaitu kegiatan dalam pembuatan video dengan melakukan proses editing setelah selesainya kegiatan syuting materi untuk layanan opencourseware. Pada kegiatan ini dikerjakan oleh bapak Sobran selaku pustakawan Open Library dan sekaligus pengelola layanan opencourseware. Kegiatan editing ini yaitu menghilangkan suara noise dan memeriksa kembali video dan audio apabila masih terdapat kekurangan. Serta kegiatan dalam pembuatan animasi konten sesuai dengan script record yang sebelumnya telah diedit. Kegiatan pembuatan animasi konten ini dilakukan dengan tujuan agar konten materi yang disampaikan oleh dosen dapat mudah dipahami oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dapat lebih tertarik untuk mengakses layanan opencourseware sebagai tempat belajar. Berikut gambar animasi yang sedang dilakukan proses pengeditan dan disesuaikan dengan script record oleh bapak Sobran: Gambar 2 Pembuatan Animasi Sumber: Dokumentasi peneliti (2023) 6. Proses review konten Pada langkah keenam yaitu kegiatan review konten yang telah selesai pada proses editing sebelumnya. Kegiatan review konten dilakukan secara musyawarah antara pihak Open Library dengan dosen bersangkutan yang telah menyampaikan topik terkait di opencourseware. Pada musyawarah atau diskusi review konten untuk layanan opencourseware hampir sama dengan penentuan topik dilakukan. Review konten bertujuan untuk mengecek apakah konten yang telah diedit sesuai dengan perencanaan dan pantas untuk di publish. Serta review konten dijadikan sebagai pertimbangan apakah menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Kemudian apabila telah disetujui oleh pihak Open Library yaitu Ibu Kepala Perpustakaan Open Library, Kepala Urusan Administrasi Dan Layanan Pustaka dan Pustakawan-pustakawan yang mengelola layanan opencourseware. Serta disetujui oleh dosen bersangkutan, maka konten tersebut dapat di posting kedalam website Open Library. 7. Proses publish konten ke dalam website Open Library dan aplikasi Youtube Pada langkah ketujuh ini yaitu kegiatan publish konten ke dalam website Open Library yang dilakukan oleh bapak Sobran selaku pustakawan pengelola layanan opencourseware. Dalam proses ini dilakukan dengan cara memposting video yang telah selesai diproduksi sebelumnya ke aplikasi channel Youtube Open Library sebagai tempat penyimpanan. Kemudian setelah selesai posting ke aplikasi channel Youtube dilakukan proses penyimpanan link materi ke dalam website Open Library. Penyimpanan link materi kedalam website Open Library bertujuan agar masyarakat dapat mudah mengaksesnya dan mudah ditemukan oleh masyarakat. Berikut merupakan gambar layanan opencourseware setelah materi selesai di publish kedalam website Open Library: Gambar 3 Layanan opencourseware Open Library Sumber: Website Open Library (2023) Kemudian di dalam website Open Library akan memberikan daftar referensi buku atau ebook sebagai rekomendasi untuk masyarakat untuk lebih memperdalam lagi ilmu pengetahuan terkait materi yang disampaikan pada layanan opencourseware. Hal tersebut yang membedakan opencourseware Open Library dengan opencourseware universitas lain. Selain itu, ketika masyarakat atau pengguna mengakses website Open Library dan masuk pada layanan opencourseware maka akan langsung terhubung kedalam aplikasi Youtube. Penggunaan aplikasi Youtube untuk penyimpanan video dan pemutaran video dilakukan supaya pada proses pemutaran video materi yang disampaikan oleh dosen Telkom University tidak terjadi gangguan. Unsur-Unsur yang Mempengaruhi Penerapan Layanan Opencourseware Open Library Setelah diuraikan dengan jelas mengenai konsep penerapan layanan opencourseware Open Library. Di dalam teori diseminasi informasi menurut Ordonez and Serrat (2017) menjelaskan bahwa pada proses kegiatan komunikasi dalam menyampaikan informasi kepada khalayak umum terdapat unsur-unsur yang mempengaruhinya agar informasi dapat tersampaikan dengan jelas. Unsur-unsur tersebut adalah source (komunikator), content (pesan), Context (konteks), medium (media), dan user (penerima). Dari kelima unsur tersebut saling berhubungan (Fatkhah et al., 2020). Serta peran orang-orang yang terlibat dalam penerapan layanan opencourseware Open Library. Hal tersebut dikarenakan, dapat mempengaruhi keberhasilan dari layanan opencourseware Open Library. Sehingga analisis dari penerapan layanan opencourseware Open Library melalui Youtube sebagai media pembelajaran gratis sangat menarik untuk diteliti. Analisis yang akan diteliti yaitu dari layanan opencourseware Open Library sebagai media pembelajaran gratis dengan menggunakan teori diseminasi informasi. Berikut merupakan analisis mengenai penerapan layanan opencourseware Open Library dengan menggunakan unsur-unsur yang ada pada teori diseminasi informasi menurut Ordonez and Serrat (2017). 1. Komunikator (source) Unsur pertama dalam kegiatan diseminasi informasi pada layanan opencourseware adalah komunikator (source). Komunikator merupakan pihak yang menyampaikan informasi kepada penerima (user) dan biasanya pihak yang memulai kegiatan komunikasi (Murniarti, 2019). Adapun menurut pendapat Cangara (2018) dalam Umy Fatkhah (2020) mengatakan bahwa komunikator adalah kunci dari kegiatan komunikasi. Oleh karena itu, apabila dalam proses kegiatan komunikasi, komunikator mengalami kesalahan dalam penyampaian pesan, maka kegiatan komunikasi akan mengalami kegagalan. Maka menurut Cangara (2018) untuk menjadi komunikator yang baik harus memperhatikan beberapa hal. Hal-hal tersebut yaitu pesan yang akan disampaikan harus sudah dikuasai, menyampaikan pesan menggunakan argumen secara logis. Kemudian dalam menyampaikan pesan penggunaan bahasa tubuh harus menarik perhatian, serta dalam komunikasi harus diselingi sense humor supaya dalam kegiatan komunikasi tidak membosankan (Fatkhah et al., 2020). Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bapak Denny Darlis terkait bagaimana bagaimana langkah-langkah dalam menyusun materi untuk opencourseware Open Library adalah: “Untuk langkah pertama, menyiapkan bahan materi yang akan disampaikan dengan mencari bahan materi melalui buku, jurnal, internet dan lain sebagainya, serta harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kedua, menyusun materi yang akan disampaikan. Ketiga, mengecek kembali bahan materi yang disampaikan apakah sesuai dan mudah dipahami oleh masyarakat. Keempat, melakukan take video yakni syuting untuk menyampaikan materi yang sebelumnya telah dirancang” (Denny Darlis, Wawancara 08 Maret 2023). Setelah dipaparkan mengenai komunikator pada layanan opencourseware Open Library. Lalu terdapat peran dan pengaruh dari komunikator yaitu dosen Telkom University dalam penerapan layanan opencourseware Open Library. Untuk peran dosen Telkom University yang menyampaikan materi di opencourseware yakni komunikator berperan sangat penting dalam keberhasilan layanan opencourseware Open Library. Hal ini dikarenakan, layanan opencourseware Open Library akan berjalan dengan baik apabila komunikatornya bersedia dan berhasil menjalankan tugasnya sebagai komunikator. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikator sangat berperan penting dari penerapan layanan opencourseware Open Library. Kemudian untuk pengaruh dari komunikator terhadap penerapan layanan opencourseware Open Library adalah apabila komunikator yaitu dosen tidak dapat menyampaikan materinya dengan baik. Lalu materi yang disampaikan tidak sesuai dengan keadaan masyarakat (audiens/user) serta, tidak menggunakan bahasa tubuh yang benar. Maka komunikasi dalam menyampaikan pesan berupa informasi akan gagal tersampaikan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, komunikator sangat mempengaruhi dalam keberhasilan layanan opencourseware Open Library yang memiliki tujuan untuk menyediakan pembelajaran gratis bagi masyarakat umum. 2. Pesan (content) Unsur kedua dalam kegiatan diseminasi informasi pada layanan opencourseware adalah pesan (message). Pesan (message) pada analisis penelitian layanan opencourseware Open Library adalah konten atau materi yang disampaikan oleh komunikator berupa video materi pembelajaran. Materi berupa video yang disampaikan oleh dosen Telkom University dapat diakses melalui website Open Library (OPEC) dan akan langsung terhubung kedalam aplikasi Youtube untuk pemutaran video materi. Definisi dari pesan adalah suatu maksud yang disampaikan oleh komunikator dalam bentuk simbol dan terdapat persepsi agar dapat diterima oleh khalayak berupa serangkaian makna. Adapun teknik dalam penyusunan pesan menurut Cangara (2018) bahwa terdapat dua teknik dalam penyusunan pesan yaitu one side issue dan two side issue (Fatkhah et al., 2020). Dari kedua teknik dalam penyusunan pesan, terdapat definisi dari one side issue adalah teknik yang digunakan untuk menyusun pesan dengan lebih menonjolkan pesan pada segi kebaikan atau keburukan atas sesuatu yang akan disampaikan. Sedangkan two side issue adalah teknik yang digunakan komunikator untuk menyusun pesan yang akan disampaikan dari kedua segi yaitu dari segi baik dan buruknya pesan yang akan disampaikan. Oleh sebab itu, dalam konteks diseminasi informasi dari layanan opencourseware Open Library, komunikator yaitu dosen Telkom University akan menyampaikan materi dari sisi baik atau positif untuk kebutuhan informasi masyarakat. Sehingga pesan berupa materi pembelajaran untuk masyarakat umum dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kehidupan serta menambah pengetahuan atau wawasan. Contohnya adalah materi yang disampaikan pada layanan opencourseware Open Library adalah komunikasi efektif yang didalamnya membahas pentingnya komunikasi bagi kehidupan bermasyarakat. Karena tidak dapat dipungkiri komunikasi akan dipakai oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Maka dengan adanya materi komunikasi efektif akan menjadikan masyarakat lebih dalam mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan baik supaya pesan yang disampaikan dapat diterima dengan makna yang benar. Adapun cara bagaimana seorang komunikator menyiapkan pesan komunikasi yang baik dan efektif yaitu tertuang dalam bukunya Wilbur Schramm tentang How Communication Works? Di dalam bukunya Schramm mengatakan bahwa pesan yang menarik adalah pesan yang didalamnya memiliki keterkaitan dengan apa yang sedang dibutuhkan user/audiens serta memberikan cara-cara supaya user/audiens dapat mendapatkan kebutuhan tersebut (Nurhadi & Kurniawan, 2017). Akan tetapi, apabila pesan yang disampaikan komunikator tidak berkaitan dengan kebutuhan user/audiens. Maka terlebih user/audiens tidak tertarik dan dianggap tidak penting akan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Oleh sebab itu, pihak Open Library khususnya ibu Lusi selaku yang menentukan topik materi yang diangkat di layanan opencourseware harus melakukan identifikasi terlebih dahulu kebutuhan masyarakat saat ini. Sehingga materi yang ditetapkan dan akan diangkat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain hal tersebut, dosen Telkom University selaku komunikator untuk menyampaikan materi di layanan opencourseware harus memperhatikan pada proses pembuatan materi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Serta harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat. Maka user atau masyarakat akan lebih tertarik untuk mengakses materi pembelajaran di layanan opencourseware. Kemudian materi yang didapatkan dari layanan opencourseware dapat bermanfaat bagi masyarakat. Adapun hasil wawancara dengan bapak Denny Darlis selaku komunikator pada layanan opencourseware terkait bagaimana pembuatan materi opencourseware yang cocok supaya mudah dipahami oleh semua kalangan masyarakat, yakni mengatakan bahwa: “Saya membuat materi untuk layanan opencourseware dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat dan menyampaikan materi dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Karena saya menyampaikan materi tentang internet of things (IoT), maka saya memulai pembahasan dari beberapa istilah dan definisi supaya masyarakat dapat mudah memahami. Selain itu, saya selalu mengaitkan materi tentang internet of things (IoT) dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat, yang bertujuan agar dapat diterapkan oleh masyarakat. Sehingga dapat digunakan untuk memudahkan aktivitas masyarakat dan memberikan pemahaman bahwa penggunaan internet secara positif akan berdampak positif pula bagi kehidupan” (Denny Darlis, Wawancara 08 Maret 2023). Berdasarkan hasil wawancara diatas menjelaskan bahwa pesan yang disampaikan harus sesuai dengan kebutuhan user/penerima, hal ini dimaksudkan agar ilmu yang sampaikan dapat bermanfaat. Sama halnya dengan adanya opencourseware Open Library yang memberikan pembelajaran gratis bagi masyarakat umum, harus memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Yakni contohnya pemilihan topik materi pada opencourseware Open Library salah satunya adalah Internet of Things (IoT). Menurut pendapat Burange And Misalkar (2015) dalam Anggi Pratiwi mengatakan bahwa disinformasi di masyarakat salah satunya dari pengaruh Internet of Things (IoT) sebagai sumber informasi, karena “(IoT) merupakan suatu interaksi jarak jauh manusia menggunakan komputer dan struktur suatu objek yang dapat menyediakan pemilik ke dalam identitas rahasia, serta kemampuan dalam hal penyaluran data melalui jaringan tanpa harus bertemu langsung kepada sumber tujuan (Pratiwi & Asyarotin Komaril, 2019). Maka dengan pesan tentang Internet of Things (IoT) merupakan materi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat diera kemajuan digital saat ini. Sehingga masyarakat atau pengguna dapat memanfaatkan ilmu informasi tentang Internet of Things (IoT) ke dalam kehidupan sehari-hari. 3. Konteks (Context) Unsur ketiga dalam kegiatan diseminasi informasi pada layanan opencourseware adalah konteks (context). Konteks (context) pada analisis penelitian layanan opencourseware Open Library adalah pembelajaran gratis melalui platform layanan opencourseware Open Library. Konteks terkait pembelajaran gratis melalui layanan opencourseware Open Library ditujukan bagi masyarakat yang mengaksesnya. Dari pembuatan konten materi di layanan opencourseware Open Library dengan menggunakan konteks kebutuhan untuk masyarakat. Hal tersebut karena konteks dari pembuatan layanan opencourseware Open Library ini supaya bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Kemudian konteks dari penerapan layanan opencourseware Open Library untuk mendukung pendidikan di Indonesia lebih merata dan lebih maju. Dengan adanya pembelajaran gratis dengan cara mengakses layanan opencourseware Open Library dapat memudahkan masyarakat untuk mencari ilmu pengetahuan. Namun penerapan opencourseware di Indonesia masih jarang diterapkan oleh perpustakaan perguruan tinggi. Selain itu, belum banyak yang mengetahui bahwa opencourseware merupakan platform gratis untuk mengakses materi pembelajaran. Maka sebab itu Open Library menerapkan konteks pembelajaran gratis bagi masyarakat dan khalayak umum melalui layanan opencourseware Open Library agar masyarakat dapat mendapatkan pembelajaran dengan mudah dan gratis. Serta sebagai referensi bagi perpustakaan perguruan tinggi lainnya yang belum menerapkan layanan opencourseware. Adapun hasil wawancara dan observasi peneliti dengan kepala perpustakaan Open Library yaitu Ibu Rika Yuliant terkait konteks dari penerapan layanan opencourseware Open Library adalah sebagai berikut: “Penetapan konteks pembelajaran gratis bagi masyarakat melalui layanan opencourseware yaitu karena Open Library memiliki spirit untuk berbagi dan untuk mendukung pencapaian SDGs pada poin ke 4. Hal tersebut karena pada Poin ke 4 SDGs menyatakan bahwa “pendidikan yang berkualitas”. Sehingga Open Library ingin membuka seluas-luasnya kesempatan bagi masyarakat untuk bisa belajar. Inovasi tersebut diwujudkan salah satunya dengan mengembangkan layanan opencourseware yang dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Serta sebagai bentuk usaha dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Bentuk usaha Open Library Telkom University dalam mengembangkan opencourseware karena mengingat di Indonesia masih terdapat pulau-pulau terpencil yang tertinggal untuk akses pendidikan, sehingga masyarakat umum dapat merasakan kebermanfaatan perpustakaan Open Library Telkom University. Kemudian didalam platform layanan opencourseware menyediakan berbagai saran referensi buku-buku yang sesuai dengan topik tema yang dibahas di opencourseware. Hal ini dimaksudkan agar pengguna dapat lebih memperdalam tema yang dibahas di opencourseware dengan mengakses atau membaca buku referensi yang telah disarankan di opencourseware. Serta sebagai upaya untuk memperkenalkan koleksi-koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada masyarakat umum” (Rika Yuliant, Wawancara 31 Januari 2023). Dari hasil pemaparan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa konteks dari penerapan layanan opencourseware Open Library adalah pembelajaran gratis bagi masyarakat umum. Yakni dengan memberikan materi pada layanan opencourseware yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Serta, pembelajaran gratis tentunya tanpa adanya pungutan biaya dan terbuka untuk siapapun yang ingin mengaksesnya. 4. Media (Medium) Unsur keempat dalam kegiatan diseminasi informasi pada layanan opencourseware adalah media (medium). Media (medium) pada analisis penelitian layanan opencourseware Open Library adalah Youtube dan website Open Library Telkom University sebagai tempat penyimpanan materi opencourseware. Serta tempat untuk mengakses materi opencourseware. Definisi media dapat diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari komunikator. Adapun definisi media secara harfiah yaitu dari kata latin “medius”artinya perantara atau pengantar. Kemudian kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium dan didefinisikan oleh Heinich yang menyatakan bahwa media adalah al
Conclusion
Setelah menguraikan seluruh temuan dari penelitian lapangan yang dilakukan oleh peneliti pada bagian pembahasan, peneliti melakukan penelitian tentang penerapan layanan opencourseware pada Open Library Telkom University. Sistem manajemen yang digunakan pada penerapan layanan opencourseware Open Library berdasarkan pendapat dari F. Nash dan Martil B. Robert (1978) terkait sistem manajemen informasi (Rusdiana, 2014). Namun pada pembuatan konten pembelajaran gratis menggunakan pedoman pendapat dari Rommey (1983) terkait penggunaan langkah-langkah yang telah diorganisasi. Pada langkah-langkah penerapan layanan opencourseware Open Library Telkom University sebagai media pembelajaran gratis dimulai dari perencanaan, mengumpulkan referensi, memasukkan data-data yang telah didapatkan, menetapkan topik, melakukan proses pengolahan atau produksi, mengendalikan materi, menyimpan data, melaporkan hasil pengeditan materi untuk dilakukan kegiatan review bersama, penyimpanan dan memposting materi pembelajaran kedalam website opencourseware. Serta dalam proses penelitian ini peneliti menggunakan teori diseminasi informasi yang dikemukakan oleh Ordonez dan Serrat. Penggunaan teori ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur yang mempengaruhi dari penerapan layanan opencourseware Open Library dalam penyampaian informasi melalui opencourseware Open Library dengan memberikan materi pembelajaran gratis berupa video. Analisis tersebut menggunakan unsurunsur yang ada pada teori diseminasi informasi yang dikemukakan oleh Ordonez dan Serrat. Open Library Telkom University memiliki konsep, prinsip serta teori manajemen untuk mewujudkan layanan perpustakaan lebih efektif, efisien dan bermanfaat bagi masyarakat umum salah satunya dengan menerapkan layanan opencourseware di Open Library.