Kembali
16
1
2025 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 11 · 2 ISSN 2685-8363

Implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Berdasarkan Key Performance Indicator (KPI) di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru berdasarkan empat indikator utama Key Performance Indicator (KPI), yaitu peningkatan layanan informasi, pelibatan masyarakat, advokasi, serta promosi dan publikasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru berhasil menyediakan layanan informasi inklusif melalui pengembangan koleksi dan sarana teknologi, serta berhasil melibatkan anak-anak secara aktif dalam berbagai kegiatan literasi. Strategi advokasi dilakukan terutama dalam bentuk non-dana dan kolaborasi dengan mitra, serta promosi dan publikasi difokuskan pada media online. Program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi, penguatan interaksi sosial, dan pemberdayaan komunitas secara berkelanjutan.

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the Social InclusionBased Library Transformation Program (TPBIS) at the Community Reading Center (TBM) Teras Literasi Mutiara Langit Biru, based on four key indicators of the Key Performance Indicator (KPI): enhancement of information services, community engagement, advocacy, and promotion and publication. The research employed a descriptive qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru has successfully provided inclusive information services through collection development and the use of technology, and has actively involved children in various literacy activities. Advocacy strategies were primarily carried out through nonfinancial efforts and collaborations with partner institutions, while promotion and publication were focused on online media. The program has had a positive impact on improving literacy, strengthening social interaction, and empowering the community in a sustainable manner.
Keywords: social inclusion · library transformation · community reading center · community literacy · key performance indicator

Introduction

Konsep inklusi sosial telah berkembang sejak abad ke-19 dan memperoleh perhatian yang lebih intensif setelah pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development pada tahun 1995. Inklusi sosial bertujuan untuk menghapus berbagai bentuk stigma dan marginalisasi yang muncul akibat perbedaan, seperti perbedaan agama, etnis, kondisi fisik, status ekonomi, tingkat pendidikan, maupun orientasi seksual. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk bersikap terbuka dan menerima keberagaman dalam praktik kehidupan sehari-hari secara inklusif. Inklusi sosial tidak semata-mata berkaitan dengan keadilan sosial dan pemenuhan hak asasi manusia, melainkan juga mencakup upaya untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu. Inklusi sosial menitikberatkan pada prinsip pembelajaran sepanjang hayat dan proses transformasi sosial yang bertujuan untuk mendorong kemajuan dan perubahan positif dalam kehidupan masyarakat (Meva et al., 2024). Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) merupakan program strategi nasional dengan implementasi prinsip inklusi sosial dalam konteks lokal yang mewujudkan perpustakaan sebagai ruang pemberdayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini merupakan program prioritas nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Perpustakaan Nasional RI. Program ini bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan, literasi, serta kepercayaan diri individu (Fansuri & Batubara, 2024). Dalam implementasinya, perpustakaan diarahkan untuk menyediakan akses informasi yang inklusif, memungkinkan setiap individu untuk menciptakan, mengakses, menggunakan, serta membagikan pengetahuan, sehingga mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis peningkatan kualitas hidup (Meva et al., 2024). Namun, keterbatasan anggaran, infrastruktur, kebijakan pendukung, dan kapasitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan umum dalam implementasi program TPBIS di berbagai jenis perpustakaan, termasuk Taman Bacaan Masyarakat yang dikelola oleh komunitas secara mandiri (Nur et al., 2024). Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara arah kebijakan nasional dengan pelaksanaan aktual di tingkat komunitas. Taman Bacaan Masyarakat berperan sebagai lembaga pendidikan non-formal yang turut serta dalam pemerataan akses literasi dan pendidikan pada tingkat komunitas (Widyawati & Winoto, 2022). Melalui kegiatan yang diselenggarakan dapat meningkatkan literasi, memperluas akses pendidikan, serta menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi masyarakat. TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru merupakan salah satu taman bacaan masyarakat yang berperan aktif dalam mengimplementasikan program TPBIS. Bacaan Masyarakat ini dikelola secara mandiri oleh seorang pegiat sosial. Sebelum adanya program TPBIS, Taman Bacaan Masyarakat ini telah melaksanakan berbagai kegiatan yang sejalan dengan tujuan program TPBIS, seperti literasi baca tulis, literasi numerisasi, literasi finansial, literasi sains, literasi budaya dan kewargaan, serta literasi digital. Untuk mengukur keberhasilan implementasi program TPBIS, diukur melalui Key Performance Indicator (KPI) yang mencakup empat aspek utama, yakni peningkatan layanan informasi, pelibatan masyarakat, advokasi, serta promosi dan publikasi (MarkPlus Inc. & Tim Konsultan Program Transformasi Perpustakaan, 2024). Peningkatan layanan informasi difokuskan pada perluasan akses yang relevan dan inklusif melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas koleksi (Dewanty & Nawangsari, 2024). Sementara itu, pelibatan masyarakat diarahkan untuk menciptakan interaksi aktif antara perpustakaan dan masyarakat melalui kegiatan edukatif dan partisipatif (Dewanty & Nawangsari, 2024). Advokasi dilakukan sebagai upaya memperkuat dukungan kelembagaan dan kebijakan dari berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem perpustakaan yang berkelanjutan (Fansuri & Batubara, 2024). Promosi dan publikasi berfungsi untuk memperkenalkan, menyebarluaskan, serta meningkatan kesadaran publik terhadap fungsi dan manfaat perpustakaan, sehingga mampu menarik keterlibatan yang lebih luas dari masyarakat (MarkPlus Inc. & Tim Konsultan Program Transformasi Perpustakaan, 2024). Bentuk konkret dari konteks keberhasilan program TPBIS, TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru memiliki program yang lebih terstruktur dan sistematis sejak awal tahun 2024. Kegiatan yang dilaksanakan mencakup berbagai bidang, antara lain bidang pendidikan (membaca buku, membaca nyaring, menulis, peminjaman buku, literasi numerasi, pelatihan Bahasa Inggris), bidang inklusi digital (pelatihan komputer), bidang kesehatan (pemberian makanan tambahan), bidang olahraga (senam), bidang ekonomi (edukasi menabung), bidang pertanian (literasi tanaman) bidang seni budaya (mewarnai, menggambar, menari, menyanyi, kreativitas origami, pelatihan membatik tulis, pelatihan membatik jumputan, pelatihan ecopounding). Keberagaman program ini menunjukkan integrasi antara literasi dasar dan pengembangan keterampilan berbasis komunitas. Pada November 2024, TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru memperoleh piagam penghargaan atas prestasi keberhasilan implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dengan capaian Key Performance Indicator (KPI) tertinggi di Provinsi Sumatera Utara. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan Taman Bacaan Masyarakat dalam membangun strategi pelibatan masyarakat secara partisipatif dan berkelanjutan, dengan dukungan internal berupa kepemimpinan komunitas yang kuat, serta eksternal berupa sinergi dengan berbagai pihak. Penelitian yang relevan dilakukan oleh Fansuri & Batubara (2024) menunjukkan bahwa program TPBIS mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akses informasi, pelatihan keterampilan, serta penguatan hubungan sosial di Dinas Perpustakaan Kota Sibolga. Namun, program tersebut masih menghadapi hambatan dari aspek pendanaan dan kesadaran literasi. Penelitian lainnya juga menegaskan dampak positif TPBIS terhadap peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat melalui kegiatan literasi produktif (Lusiana et al., 2023). Meskipun demikian, penelitian terkait implementasi program TPBIS pada TBM yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat masih sangat terbatas, terutama dari aspek analisis dengan menggunakan Key Performance Indicator (KPI) yang sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial menggunakan indikator Key Performance Indicator (KPI) di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Penelitian ini berkontribusi dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi literasi berbasis komunitas, dan kontribusi praktis bagi Taman Bacaan Masyarakat serta pemangku kebijakan dalam merancang program literasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena yang terjadi di masyarakat terkait dengan fenomena perilaku subjek penelitian melalui deskripsi yang sesuai dengan konteks alamiah dengan pendekatan alamiah (Lusiana et al., 2023). Pendekatan deskriptif digunakan untuk meneliti objek, kondisi, sekelompok individu, maupun fenomena lainnya dalam konteks nyata tanpa manipulasi variabel, guna menghasilkan deskripsi rinci yang faktual dan mendalam (Sasikirana et al., 2024). Objek dalam penelitian ini adalah TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru yang terletak di Jl. Kasmala No. 147 Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini berfokus pada implementasi program TPBIS yang berhasil meraih piagam penghargaan atas prestasi keberhasilan implementasi Program TPBIS dengan capaian Key Performance Indicator (KPI) tertinggi di Provinsi Sumatera Utara dalam satu tahun pelaksanaan program. Pengumpulan data dilakukan dalam rentang waktu Desember 2024 hingga Maret 2025. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah pengelola dan peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Informan ini dipilih karena pengelola TBM berperan penting dalam implementasi program TPBIS, sedangkan peserta Taman Bacaan Masyarakat dipilih karena mereka merupakan penerima langsung manfaat dari program tersebut dan memiliki pengalaman empiris dalam mengikuti berbagai kegiatan Taman Bacaan Masyarakat, sehingga dapat memberikan informasi yang relevan terkait, capaian, tantangan, dan dampak program. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara partisipatif dengan mengamati secara mendalam proses kegiatan, interaksi antar masyarakat, serta penggunaan fasilitas literasi. Observasi dilakukan dalam beberapa kunjungan pada bulan Desember 2024 - Maret 2025. Kegiatan wawancara dilakukan secara semi-terstruktur berdasarkan empat aspek Key Performance Indicator(KPI) program TPBIS, yaitu layanan informasi, pelibatan masyarakat, advokasi, serta promosi dan publikasi. Wawancara dilakukan secara langsung dan direkam untuk keperluan transkripsi dan analisis. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder berupa laporan kegiatan TBM, serta foto-foto kegiatan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Habiburrahman, 2023). Dalam menguji keabsahan data, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan proses verifikasi data yang diperoleh dengan cara memeriksa kebenaran data (Wiranda et al., 2022). Adapun teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Result & Discussion

Implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Berdasarkan Key Performance Indicator (KPI) di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru 1. Peningkatan Layanan Informasi Peningkatan layanan informasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru merupakan bagian penting dari implementasi program TPBIS yang dilakukan melalui pengembangan koleksi dan penyediaan sarana teknologi. Koleksi buku cetak mengalami perubahan yang cukup dinamis, dengan peningkatan pada pertengahan periode, namun mengalami penurunan di periode berikutnya. Sementara itu, koleksi buku digital menunjukkan kestabilan dengan sedikit perubahan, yang menandakan adanya konsistensi dalam penyediaan sumber bacaan berbasis teknologi. TBM juga memperkuat aspek infrastruktur dengan menyediakan dua unit komputer yang dapat diakses oleh pengunjung untuk memperoleh informasi secara digital. Selain itu, penambahan fasilitas Wi-Fi menjadi inovasi penting yang memperluas akses terhadap sumber informasi digital. Ketersediaan komputer dan jaringan internet ini memberikan kemudahan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencari referensi, mengakses koleksi digital, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan secara global. Keberhasilan Taman Bacaan Masyarakat sangat dipengaruhi oleh kelengkapan bahan bacaan dan dukungan sarana teknologi (Dewanty & Nawangsari, 2024). Transformasi layanan berbasis inklusi sosial, termasuk penyediaan akses internet, mampu mendorong terciptanya masyarakat berbasis pengetahuan yang adaptif terhadap perkembangan zaman (Hamida & Sein, 2023). Sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Peningkatan Layanan Informasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan pada Gambar 1. menunjukkan adanya perubahan jumlah koleksi buku cetak dan kestabilan koleksi buku digital, serta konsistensi jumlah komputer yang tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa TBM telah berupaya untuk menjaga keberlanjutan layanan informasi, meskipun masih terdapat tantangan dalam mempertahankan jumlah koleksi buku cetak secara optimal. Penambahan fasilitas komputer dan Wi-Fi menjadi nilai tambah yang signifikan dalam mendukung transformasi layanan informasi di era digital. Selain penguatan infrastruktur, indikator peningkatan layanan informasi juga tercermin dari kegiatan literasi dasar seperti membaca, menulis, peminjaman buku, dan pelatihan komputer yang dilaksanakan secara rutin di TBM. Kegiatan membaca dirancang untuk meningkatkan minat dan kemampuan literasi dasar anak-anak. Dalam kegiatan ini, anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih buku sesuai minat mereka dan membaca secara mandiri atau bersama fasilitator. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan, menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, serta mendorong keberanian anak dalam mengekspresikan pemahaman mereka terhadap isi bacaan. Hal ini selaras dengan hasil wawancara yang disampaikan Pengelola TBM. “Setiap Minggu, anak-anak sangat antusias datang ke TBM. Mereka juga saling merekomendasikan buku yang sudah dibaca oleh teman-temannya. Kami melihat perubahan nyata, terutama dalam keberanian mereka untuk berbicara di depan temantemannya.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). Salah satu peserta TBM menyampaikan kepada penulis dalam sebuah wawancara. “Saya suka baca buku di TBM karena banyak pilihan dan bisa cerita ke teman tentang buku yang saya baca.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). Pada kegiatan pelatihan menulis dasar, kegiatan ini ditujukan untuk membantu anak-anak yang belum memiliki kemampuan menulis. Pelatihan ini dilaksanakan secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf, menyalin kata-kata sederhana, hingga menyusun kalimat pendek. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun keterampilan menulis sejak dini, meningkatkan kepercayaan diri anak, serta memfasilitasi kemajuan belajar secara bertahap dalam suasana yang positif dan inklusif. Seperti yang disampaikan Pengelola TBM. “Pada awalnya ada beberapa anak yang belum bisa menulis. Setelah beberapa kali latihan dan diberikan motivasi, mereka mulai dapat menulis huruf satu per satu. Kini, anak-anak sudah mampu menulis nama sendiri dan menyalin kata-kata sederhana dengan sendiri.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). Salah satu Peserta TBM menyampaikan dalam wawancara dengan penulis. “Dulu saya belum bisa nulis nama sendiri, tapi sekarang udah bisa karena sering latihan di TBM.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). Pada kegiatan layanan peminjaman buku, kegiatan ini ditujukan untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas bagi semua kalangan masyarakat. Layanan ini dibuka untuk anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum, sehingga menjadikan TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru sebagai ruang belajar yang terbuka dan inklusif. Melalui layanan ini, TBM mendorong pembelajaran mandiri, memperkuat budaya membaca, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses literasi berkelanjutan. Sistem peminjaman dilakukan secara sederhana namun teratur, di mana setiap pemustaka dapat memilih buku sesuai minatnya dan membawa pulang untuk dibaca di rumah. Tujuan dari kegiatan ini adalah menumbuhkan kebiasaan membaca di luar lingkungan TBM, membangun kedekatan literasi dalam keluarga, serta memaksimalkan pemanfaatan koleksi yang tersedia. Seperti yang disampaikan Pengelola TBM dalam wawancara dengan penulis: “Kami membuka layanan peminjaman buku untuk siapa saja, tidak hanya untuk anakanak, tapi juga mahasiswa dan masyarakat umum. Dengan begitu, koleksi buku yang ada di TBM ini bisa dimanfaatkan secara maksimal.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024) Salah satu Peserta TBM menyampaikan dalam wawancara dengan penulis. “Saya sering meminjam buku di sini. Dan saya membawa bukunya pulang untuk dibaca di rumah.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). TBM juga menyelenggarakan pelatihan komputer untuk membekali pelajar dengan keterampilan dasar dalam menggunakan perangkat digital. Materi pelatihan mencakup pengenalan komponen komputer serta latihan menggunakan aplikasi dasar seperti Microsoft Word. Program ini menjadi bagian penting dalam mendukung literasi digital dan relevan dalam konteks transformasi digital masyarakat. Hal ini senada dengan yang dijelaskan Pengelola TBM. “Kegiatan pelatihan komputer ini kami buat agar pelajar dapat mengenal bagianbagian komputer dan cara menggunakannya.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024).Seorang peserta TBM menyampaikan hal yang senada kepada penulis dalam wawancara. “Saya jadi lebih paham cara mengetik di Microsoft Word. Ini sangat membantu untuk tugas sekolah.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Integrasi antara pengembangan koleksi, penyediaan infrastruktur teknologi, pelaksanaan program literasi dasar, serta pelatihan digital menunjukkan bahwa TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru telah memenuhi indikator peningkatan layanan informasi secara optimal. Namun demikian, dinamika pada koleksi buku cetak perlu menjadi perhatian agar kesinambungan layanan literasi dapat terus terjaga dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi secara inklusif. 2. Pelibatan Masyarakat Pelibatan masyarakat dalam program TPBIS di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru merupakan salah satu aspek fundamental dalam mendukung penguatan literasi di tingkat lokal. Berdasarkan data pada diagram dapat dilihat bahwa kelompok anak-anak menjadi peserta yang paling dominan dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan. Gambar 2 menunjukkan diagram jumlah peserta berdasarkan sasaran di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Gambar 2. Diagram Jumlah Peserta Berdasarkan Sasaran di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan pada Gambar 2. menunjukkan bahwa jumlah partisipasi anak-anak lebih dominan dibandingkan dengan kelompok pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum yang tampak sangat kecil. Temuan ini mengindikasikan bahwa program dan kegiatan TBM sangat efektif dalam menjangkau kelompok usia dini sebagai sasaran utama literasi, namun diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan keterlibatan dari kelompok pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum. Pada aspek bidang kegiatan, bidang pendidikan menjadi yang paling banyak diminati oleh peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Selain itu, bidang seni budaya dan kesehatan juga mendapat perhatian yang cukup besar. Sedangkan bidang pertanian, olahraga, dan lainnya hanya diikuti oleh sebagian kecil peserta. Gambar 3 menunjukkan diagram jumlah peserta berdasarkan bidang kegiatan di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Gambar 3. Diagram Jumlah Peserta Berdasarkan Bidang Kegiatan di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan Gambar 3. menunjukkan bahwa TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru memprioritaskan penguatan literasi di bidang pendidikan, namun tetap memberikan ruang bagi pengembangan minat di bidang seni budaya, kesehatan, serta bidang lainnya. Keragaman bidang ini merupakan indikator keterbukaan program terhadap minat dan kebutuhan peserta, sekaligus mencerminkan fleksibilitas pendekatan literasi yang inklusif. Berbagai kegiatan pelibatan masyarakat yang terdapat di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, yaitu: a. Membaca Nyaring Kegiatan membaca nyaring merupakan metode pembelajaran interaktif yang bertujuan meningkatkan minat baca, keterampilan berbicara, dan kepercayaan diri anak-anak. Dalam praktiknya, peserta membaca buku secara lantang di hadapan teman-teman dan fasilitator. Kegiatan ini melatih pengucapan, intonasi, serta ekspresi, sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam diskusi sederhana. Hal ini selaras dengan yang dijelaskan Pengelola TBM kepada penulis dalam wawancara. “Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti kegiatan membaca nyaring, bahkan banyak dari mereka yang secara sukarela ingin membacakan cerita di hadapan temantemannya.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Salah seorang Peserta TBM menyampaikan hal yang sama kepada penulis. “Saya suka baca nyaring karena bisa gantian mendengarkan cerita dari buku teman. Dan sekarang saya sudah enggak malu lagi ngomong di depan orang.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). b. Literasi Numerasi Kegiatan literasi numerasi ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berhitung dan pemahaman matematika dasar anak-anak melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Tujuannya adalah menumbuhkan minat belajar matematika sejak dini, memperkuat logika dasar, serta membangun kepercayaan diri anak dalam belajar angka. Pengelola TBM mengungkapkan dalam wawancara dengan penulis. “Anak-anak yang mengikuti kegiatan numerasi sangat semangat untuk belajar matematika. Bahkan mereka yang mengajak kami untuk belajar matematika.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Salah satu peserta TBM menambahkan dalam sebuah wawancara dengan penulis. “Belajar hitung-hitungan di TBM seru, kami main tebak angka bareng teman-teman.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara, 3 November 2024). c. Pelatihan Bahasa Inggris Pelatihan Bahasa Inggris bertujuan memperkuat pemahaman dasar bahasa asing anakanak melalui metode pembelajaran interaktif. Peserta diajak mengucapkan kosa kata baru bersama-sama dan menuliskannya dalam buku latihan. Pendekatan ini bertujuan agar anak lebih mudah mengingat, memahami, dan menggunakan bahasa Inggris dalam konteks seharihari secara menyenangkan dan tanpa tekanan. Pengelola TBM menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan penulis. “Pada kegiatan pelatihan Bahasa Inggris ini, kami mengajak mereka untuk belajar mengucapkan kata-kata baru bersama-sama, lalu menuliskannya kembali di buku latihan. Ini dilakukan agar mereka jadi lebih mudah mengingat dan memahami materi yang diberikan.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan dalam wawancara. “Saya sekarang sudah bisa mengucapkan warna dan nama hewan dalam bahasa Inggris.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). d. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dilaksanakan sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan gizi anak. Makanan yang diberikan berupa buah, susu, atau camilan sehat buatan rumah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaga energi dan semangat belajar anak, serta menciptakan suasana TBM yang ramah dan peduli. Pengelola TBM menyampaikan dalam wawancara dengan penulis. “Kami memberikan makanan tambahan seperti buah atau susu agar anak-anak tetap semangat dan sebagai bentuk kepedulian terhadap gizi anak.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan dalam wawancara dengan penulis. “Saya senang habis belajar dikasih buah dan puding.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). e. Senam Kegiatan senam bertujuan agar anak-anak dapat bergerak aktif, meningkatkan vitalitas, serta menciptakan suasana belajar yang lebih segar dan antusias. Pengelola TBM menjelaskan dalam wawancara dengan penulis. “Senam ini dilakukan untuk menggerakkan tubuh agar sehat dan bugar, jadi anakanak juga lebih fokus dan semangat dalam mengikuti kegiatan literasi.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Salah satu peserta TBM menyampaikan saat wawancara. “Kalau senam dulu, belajarnya jadi lebih semangat.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). f. Edukasi Menabung Kegiatan edukasi menabung bertujuan menanamkan kebiasaan mengelola uang secara sederhana sejak dini. Anak-anak diajarkan menyisihkan uang jajan secara rutin, meskipun dalam jumlah kecil, sebagai bentuk literasi finansial dasar yang aplikatif dan membangun sikap disiplin serta tanggung jawab. Pengelola TBM menyampaikan dalam sebuah wawancara. “Kami mengajarkan anak-anak untuk mulai menabung, meskipun dengan jumlah kecil.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan kepada penulis. “Kegiatan menabung di sini, membuat saya jugaa jadi senang menabung di rumah.” (Wawancara Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). g. Literasi Tanaman Program literasi tanaman bertujuan memperkenalkan anak-anak pada jenis-jenis tumbuhan dan pentingnya menjaga lingkungan. Kegiatan ini dilakukan secara langsung di alam terbuka untuk mengenal tanaman, teknik dasar menanam, dan cara merawatnya secara sederhana. Pendekatan ini membentuk kesadaran ekologis sejak dini melalui aktivitas yang aplikatif dan menyenangkan. Pengelola TBM menjelaskan dalam sebuah wawancara. “Kegiatan literasi tanaman ini bertujuan agar anak-anak bisa belajar langsung di alam, tentang jenis-jenis tanaman, dan memahami juga pentingnya menjaga lingkungan.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan penulis. “Saya sekarang sudah tahu, nama-nama tanaman, dan tahu juga cara menanamnya.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). h. Mewarnai dan Menggambar Kegiatan menggambar dan mewarnai bertujuan menumbuhkan kreativitas, melatih motorik halus, dan mengekspresikan ide anak melalui media visual. Aktivitas ini juga menjadi sarana relaksasi yang menyenangkan dalam mendukung pembelajaran non-formal yang ramah anak. Pengelola TBM menyampaikan saat wawancara dengan penulis. “Anak-anak sangat antusias saat mengikuti kegiatan menggambar dan mewarnai. Mereka bisa menuangkan ide sesuai dengan imajinasi mereka, dan hasilnya pun sangat beragam.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024).Seorang peserta TBM menambahkan dalam wawancara dengan penulis. “Saya suka gambar dan mewarnai, karena saya bisa memberikan warna apa saja di kertas gambar saya.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). i. Menari dan Menyanyi Kegiatan menari dan menyanyi merupakan bagian dari program seni budaya yang bertujuan mengenalkan identitas budaya lokal serta menumbuhkan keberanian dan ekspresi diri anak. Anak-anak diajak menyanyikan lagu daerah dan mempraktikkan gerakan tari sederhana dalam suasana yang menyenangkan dan inklusif. Pengelola TBM mengungkapkan saat wawancara dengan penulis. “Kegiatan menari dan bernyanyi ini disambut sangat baik oleh anak-anak. Mereka suka menyanyi dan menari bersama.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan penulis. “Saya senang menyanyikan lagu daerah dan menari bareng teman-teman di sini.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). j. Kreativitas Origami Kegiatan kreativitas origami bertujuan menumbuhkan kreativitas dan ketelitian anakanak melalui keterampilan melipat kertas menjadi berbagai bentuk Kegiatan ini melatih koordinasi motorik halus, kemampuan mengikuti instruksi, serta mendorong ekspresi diri dalam suasana yang menyenangkan. Pengelola TBM menyampaikan dalam wawancara. “Anak-anak sangat senang saat membuat origami. Mereka jadi lebih fokus, dan hasilnya dibawa pulang.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menambahkan saat diwawancara oleh penulis. “Saya suka bikin berbagai bentuk dari kertas origami. Seru sekali. Bisa dibawa pulang dan ditunjukkin ke mama.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). k. Pelatihan Membatik Pelatihan membatik ditujukan untuk melestarikan budaya lokal sekaligus mengembangkan keterampilan seni tradisional bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Peserta dikenalkan pada motif batik sederhana, teknik pewarnaan, serta cara penggunaan canting dan malam secara bertahap agar memahami nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Pengelola TBM menyampaikan saat wawancara dengan penulis. “Kegiatan membatik ini memberikan pengalaman bagi peserta yang mengikuti untuk memahami proses membatik dan nilai budayanya, baik melalui teknik tulis maupun jumputan.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menuturkan kepada penulis dalam sebuah wawancara. “Ini pengalaman pertama saya membatik. Tekniknya cukup menantang, tapi sangat menarik dan menambah wawasan tentang budaya.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). l. Pelatihan Ecopounding Pelatihan ecopounding merupakan program edukatif yang mengajarkan teknik pewarnaan alami pada kain menggunakan bahan dari alam seperti bunga dan daun. Kegiatan ini ditujukan untuk mahasiswa dan masyarakat umum guna mengembangkan keterampilan seni ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal. Pengelola TBM menjelaskan dalam wawancara. “Melalui ecopounding, kami ingin mengajak peserta mengenal proses pewarnaan alami dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar. Kegiatan ini sangat diminati karena hasilnya unik dan ramah lingkungan.” (Pengelola TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Seorang peserta TBM menyampaikan kepada penulis. “Saya tertarik karena teknik ini sederhana tapi hasilnya cantik. Sangat cocok dikembangkan jadi usaha rumahan.” (Peserta TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Wawancara 3 November 2024). Pelibatan masyarakat yang beragam pada TBM mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif dan partisipatif. Program yang dirancang tidak hanya berorientasi pada literasi baca tulis, tetapi juga mencakup dimensi sosial, emosional, ekologis, dan budaya yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Keragaman bidang ini menjadi indikator keterbukaan program terhadap minat dan kebutuhan peserta, sekaligus mencerminkan fleksibilitas pendekatan literasi yang inklusif. Keberhasilan pelibatan masyarakat dalam kegiatan literasi sangat dipengaruhi oleh relevansi program dengan kebutuhan kelompok sasaran, serta kemampuan TBM dalam menyediakan berbagai kegiatan yang menarik (Lusiana et al., 2023). Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan akses yang luas pada berbagai bidang pengetahuan dan keterampilan (Fansuri & Batubara, 2024). 3. Advokasi Advokasi merupakan salah satu komponen utama dalam mendukung keberlanjutan dan pengembangan program literasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Upaya advokasi yang dilakukan mencakup tiga aspek penting, yaitu advokasi dana, advokasi non-dana, serta advokasi regulasi. Setiap bentuk advokasi ini berperan dalam memastikan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi secara optimal. Diagram jumlah kegiatan advokasi dana, non dana, dan regulasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Diagram Jumlah Kegiatan Advokasi Dana, Non Dana, Dan Regulasi Di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan Gambar 4. menunjukkan bahwa advokasi non-dana menempati posisi terbesar dibandingkan advokasi dana maupun regulasi. Hal ini menunjukkan bahwa TBM lebih banyak melakukan advokasi dalam bentuk pengadaan fasilitas, alat dan bahan, serta pelibatan narasumber atau mitra yang mendukung pelaksanaan program literasi. Sementara itu, advokasi dalam bentuk pendanaan juga menunjukkan kontribusi yang cukup besar, mencerminkan adanya upaya berkelanjutan dalam menggalang dukungan finansial dari berbagai pihak terkait. Di sisi lain, advokasi pada aspek regulasi masih relatif minim, sehingga perlu ditingkatkan agar landasan kebijakan yang mendukung pengembangan literasi dapat semakin kuat dan berdaya guna. Dominasi advokasi non-dana ini sejalan dengan kebutuhan TBM untuk menyediakan fasilitas serta sumber daya manusia yang memadai dalam mendukung berbagai program literasi. Dukungan non- dana, seperti penyediaan buku, alat peraga, maupun keterlibatan narasumber, memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan kebutuhan dan daya tarik setiap kegiatan literasi. Meskipun demikian, keberlanjutan program tetap sangat ditentukan oleh tersedianya dukungan dana serta adanya regulasi yang jelas dan mendukung pelaksanaan program secara berkelanjutan. Kolaborasi serta advokasi dari berbagai pihak sangat penting untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan pada bidang literasi (Lusiana et al., 2023). Pengembangan inovasi dalam advokasi, baik dalam hal pendanaan maupun penguatan aspek kebijakan, berperan penting dalam meningkatkan akses serta kualitas layanan literasi di masyarakat (Rahman et al., 2024). TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru telah mengoptimalkan pelaksanaan advokasi non-dana dan dana untuk mendukung keberlangsungan program. Namun demikian, penguatan advokasi pada bidang regulasi masih diperlukan agar tercipta lingkungan literasi yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa mendatang. 4. Promosi dan Publikasi Promosi dan publikasi merupakan salah satu aspek utama dalam mendukung peningkatan jangkauan dan partisipasi masyarakat terhadap program literasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Seluruh kegiatan promosi dan publikasi yang dilakukan TBM difokuskan pada pemanfaatan media online, seperti Instagram, Facebook, dan YouTube. Setiap hari, TBM secara konsisten membagikan dokumentasi kegiatan dalam bentuk foto, video, maupun narasi singkat melalui berbagai platform digital tersebut. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat eksistensi TBM di ranah digital serta memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai berbagai kegiatan literasi yang diselenggarakan. Pemanfaatan media sosial secara konsisten dapat meningkatkan efektivitas program literasi serta memperluas jangkauan informasi pada masyarakat luas (Dewanty & Nawangsari, 2024). Gambar 5 menunjukkan data grafik kegiatan publikasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru. Gambar 5. Data Grafik Kegiatan Publikasi di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan diagram batang di atas, menunjukkan bahwa intensitas publikasi melalui media online mengalami peningkatan yang cukup tinggi sepanjang tahun dengan kegiatan tertinggi terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun. Di sisi lain, penggunaan media cetak dan elektronik sangat minim. Sebagaimana pada Gambar 6 menunjukkan diagram perbandingan publikasi. Gambar 6. Diagram Perbandingan Pubikasi Di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru Sumber: SIM Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (2024) Berdasarkan Gambar 6. menunjukkan bahwa seluruh kegiatan publikasi TBM didominasi sepenuhnya oleh media online. Tidak terdapat kontribusi dari media cetak maupun media elektronik, sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi promosi dan publikasi di TBM sangat berfokus pada pemanfaatan teknologi informasi digital. Dominasi media online ini menunjukkan adaptasi TBM terhadap perkembangan teknologi serta pola konsumsi informasi masyarakat yang kini lebih banyak mengandalkan platform digital. Pendekatan promosi yang memanfaatkan media online terbukti mampu memperluas jangkauan audiens, terutama di kalangan generasi muda yang aktif menggunakan media sosial. Konsistensi dalam melakukan publikasi setiap hari turut memperkuat citra TBM sebagai lembaga yang dinamis, transparan, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Terbatasnya pemanfaatan media cetak dan elektronik merupakan tantangan tersendiri, khususnya dalam menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki akses internet terbatas. Sehingga, perluasan saluran publikasi perlu dipertimbangkan sebagai strategi tambahan agar informasi mengenai program literasi dapat diterima secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Pentingnya transformasi perpustakaan dan taman bacaan berbasis inklusi sosial melalui melalui penguatan budaya membaca dan literasi dengan memanfaatkan media digital secara optimal (MarkPlus Inc. & Tim Konsultan Program Transformasi Perpustakaan, 2024). Strategi publikasi yang berfokus pada media online tidak hanya meningkatkan visibilitas dan partisipasi masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi TBM sebagai lembaga literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Conclusion

Implementasi program TPBIS di TBM Teras Literasi Mutiara Langit Biru telah berjalan secara efektif berdasarkan empat indikator utama Key Performance Indicator (KPI). Peningkatan layanan informasi tercapai melalui pengembangan koleksi, pemanfaatan sarana teknologi, dan pelatihan literasi digital. Pelibatan masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi anak-anak dalam kegiatan literasi dan keterampilan, meskipun keterlibatan kelompok pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum masih perlu ditingkatkan. Advokasi dilakukan secara aktif melalui kerja sama dan dukungan non-dana, sedangkan promosi dan publikasi difokuskan pada media online dan berdampak positif terhadap eksistensi TBM. Program TPBIS ini memberikan manfaat dalam peningkatan literasi masyarakat, penguatan interaksi sosial, serta pengembangan potensi dan keterampilan komunitas secara berkelanjutan.