PENGARUH RELIGIUSITAS DAN KOMPETENSI TERHADAP KEMATANGAN KARIER PUSTAKAWAN
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Abstrak
Adanya pemahaman keagamaan (religiusitas) yang cukup dan kompetensi memadai bagi pustakawan dimungkinkan memiliki peran penting terhadap pegem-bangan dan pembinaan karir pustakawan. Penelitian ini bertujuan untuk membuk-tikan secara empiris pengaruh religiusitas dan kompetensi terhadap kematangan karir pustakawan. Riset dilakukan pada Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan mengambil seluruh populasi (78 orang) pustakawan sebagai responden penelitian. Metode penelitian bersifat kuantitatif, pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada responden dan data sekunder diperoleh dari dokumen yang ada di PTKI DIY. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi berganda. Hasil riset menunjukkan bahwa persepsi Pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di DIY terhadap variabel religiusitas (X1) pada posisi sangat tinggi/sangat baik, variabel kompetensi (X2) pada kondisi sangat tinggi/sangat baik dan kematangan karir (Y) oleh responden dipersepsikan dalam kategori tinggi/baik. Hasil analisis regresi berganda membuktikan bahwa pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di DIY menunjukkan hasil, secara parsial religiusitas (X1) berpengaruh positif terhadap kematangan karir (Y) terdapat nilai pengaruh sebesar 0,292 dengan signifikansi 0,009 < 0,05, artinya menerima hipotesis, kompetensi (X2) berpengaruh signifikan terhadap kematangan karir (Y) terdapat nilai pengaruh sebesar 0,745 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, artinya hipotesis diterima. Hasil analisis simultan, menunjukkan bahwa Religiusitas (X1) dan Kompetensi (X2) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kematangan Karir (Y), didapat angka F statistika senilai 46,765 dengan tingkat substansial 0.000 < 0,05. Artinya menerima hipotesis. Kesimpulan: secara teoritik religi-usitas dan kompetensi secara individu maupun bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir Pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Sementara secara aplikatif faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir Pustakawan PTKI di DIY terdiri dari faktor: aqidah yang kuat, skill dan interest yang tinggi, dan terdapat akses karir berkelanjutan
Keywords:
Religiusitas
· Kompetensi
· Kematangan karir
· Pustakawan
Introduction
Pustakawan memiliki peran penting dalam kegiatan proses belajar mengajar di suatu pendi-dikan tinggi. Sesuai dengan fungsinya Perpustakaan Perguruan Tinggi bertugas untuk membantu atas terselenggaranya Catur Dharma Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yang meliputi pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan dakwah islamiyah. Masyarakat dapat belajar seumur hidup melalui perpustakaan. Untuk mewujudkan perpustakaan sebagai sumber belajar informasi yang dimiliki harus dapat memenuhi kebutuhan pemustaka. Kepemilikan informasi tersebut akan sangat tergantung pada kiprah pustakawannya. Kiprah pustakawan dalam mengembangkan karir sebagai pejabat fungsional sangat terbuka lebar. Hal ini terbukti adanya kesempatan bagi pustakawan untuk dapat membina karirnya dengan mencapai kenaikan jabatan dalam kurun waktu satu (1) tahun dan kenaikan pangkat pada kurun waktu setiap dua 2) tahun selama syarat-syaratnya terpenuhi. Salah satu syarat tersebut adalah terpenuhinya angka kredit kumulatif yang ditentukan. Secara empiris dalam penelitian awal yang dilakukan oleh penulis pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2016 dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi dokumen, ditemukan hasil bahwa problematika yang dihadapi Pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Daerah Istimewa Yogya-karta adalah: (1) tidak adanya persiapan sebelum menentukan pilihan menjadi pustakawan; (2) sebanyak 90.63% pustakawan diangkat pertama kali melalui inpassing, sehingga dalam perjal-anannya banyak mengalami kendala; (3) terdapat 44,03% Pustakawan Perguruan Tinggi DIY lebih dari 4 tahun tidak mengajukan DUPAK, dan 13,84% diberhentikan sementara dari Jabatan Fungsional Pustakawan, karena tidak mampu mengumpulkan Angka Kredit yang diperlukan; (4) masih adanya pustakawan yang berpendidikan SLTA dan non ilmu perpustakaan sebesar 29,56%. Temuan lain adalah, pada saat dilakukan penelitian pada Database Kepustakawanan Indonesia sampai saat ini pustakawan Perguruan Tinggi DIY belum ada yang mencapai jabatan sebagai Pustakawan Utama.Dari hasil penelitian awal di atas menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi oleh Pustakawan Perguruan Tinggi DIY saat ini adalah sebanyak 90,63% diangkat pertama kali melalui inpassing. Hal ini berdampak pada pustakawan yang mengalami masa krisis dan kritis jabatan sebesar 57,87% (terdiri dari 44,03% tidak mengajukan DUPAK dan 13,84% diberhentikan sementara dari jabatan fungsional pustakawan). Dari identifikasi masalah tersebut, terbukti bahwa adanya inpassing dan pendidikan non ilmu perpustakaan menjadi permasalahan utama bagi pejabat fungsional pustakawan. Artinya pustakawan yang diangkat pertama kali melalui inpassing dan berijazah non ilmu perpustakaan kurang memiliki kompetensi dalam menjalankan profesi sebagai pustakawan. Hal ini tidak sesuai dengan amanat yang diatur pada UU No 43 2007 tentang Perpustakaan yang menyatakan bahwa pustakawan adalah pejabat fungsional yang mempunyai kompetensi di bidang ilmu perpus-takaan yang didapat lewat pembelajaran formal dan/atau diklat perpusdokinfo yang melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya dalam penyeleng-garaan kepustakawanan. Atas dasar temuan di atas menunjukkan bahwa kompetensi bidang ilmu perpustakaan bagi pustakawan sangat diperlukan agar pustakawan mampu menapaki karir dengan baik dan lancar. Karena rata-rata mereka inpassing, maka karirnya mengalami kendala.Hasil telaah dari berbagai referensi dan informasi dari para pakar di bidang kepus-takawanan belum ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir pustakawan. Kajian tentang variabel yang berpengaruh terhadap kinerja, produktivitas kerja, kepuasan kerja telah banyak dikaji oleh peneliti terdahulu antara lain: Mandayun (2015), Fitriyaningsih (2012); Sungadi (2015); Saputri (2016); Faradisty (2015); Kusnowo (2015); Sarah M.K.N. Mwanje (2010); Rahayuningsih dan Suparmo (2015); dan Anis Masruri (2016). Berdasarkan asumsi dan uraian di atas dan terkait dengan penelitian berjudul “Pengaruh Religi-usitas dan Kompetensi terhadap Kematangan Karir Pustakawan: Studi Kasus pada Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Di Daerah Istimewa Yogyakarta”, penulis akan membahas permasalahan-permas-alahan berikut ini: 1. Bagaimana persepsi responden terhadap religiusitas (X1), kompetensi (X2) dan kematangan karir (Y) pustakawan pada Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Di Daerah Istimewa Yogyakarta?2. Apakah religiusitas (X1) dan kompetensi (X2) secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kematangan karir (Y)? . Apakah variabel religiusitas (X1) dan Kompe-tensi (X2) secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kematangan karir (Y)?Berlandasan dari masalah yang telah dibuat sebelumnya, penelitian ini menganilis untuk mengetahui dan membuktikan: 1. Kondisi religiusitas (X1) pustakawan pada Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Di Daerah Istimewa Yogyakarta.2. Kondisi kompetensi (X2) pustakawan pada Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Di Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Kondisi tingkat kematangan karir (Y) pusta-kawan pada Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Di Daerah Istimewa Yogya-karta.4. Pengaruh religiusitas (X1) secara individu terhadap kematangan karir (Y). 5. Pengaruh kompetensi (X2) secara individu terhadap kematangan karir (Y). 6. Pengaruh variabel religiusitas (X1) dan kompetensi (X2) secara simultan terhadap kematangan karir (Y).Ada empat manfaat teoritis dalam studi ini. Pertama, memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan terutama ilmu perpustakaan berupa pola pengembangan profesi untuk mencapai kematangan karir. Terciptanya pola pengem-bangan profesi dalam upaya meraih kematangan karir pustakawan memudahkan para ahli dalam memahami proses dinamika kematangan karir pustakawan. Kedua, memberikan kontribusi terhadap disiplin psikologi perpustakaan dan manajemen sumber daya manusia. Psikologi Perpus-takaan adalah kajian yang mempelajari perilaku individu dalam konteks interaksi pustakawan dengan pemustaka, interaksi antar pustakawan, pustakawan dengan materi perpustakaan, dan pemustaka dengan koleksi perpustakaan. Pengembangan profesi dalam meraih kematangan karir pustakawan adalah satu tema menarik yang perlu diteliti, mengingat masih terbatasnya kajian di bidang ini. Ketiga, ikut mengembangkan kajian Psikologi Islam. Hal ini karena penelitian ini berkaitan dengan variabel religiusitas dan kepemimpinan profetik, sebuah topik yang sangat menarik perhatian para pengkaji Psikologi Islam. Wacana Psikologi Islam adalah bidang kajian yang berkembang secara signifikan di Indonesia dan beberapa negara Islam dan Barat yang berupaya mengkaji proses dinamis pengaruh religiusitas dan kepemimpinan profetik terhadap perilaku individu. Tema religiusitas, kepemimpinan profetik, kompe-tensi, dan kematangan karir adalah empat tema penting dalam konteks Psikologi Islam. Keempat, hasil studi ini harapannya dapat melengkapi dan memperkaya kajian pada ranah kematangan karir pustakawan dalam upaya menguji dan mengkaji teori terdahulu, atau bilamana mungkin dapat menemukan teori baru melalui penelitian bertajuk “Pengaruh Religiusitas dan Kompetensi terhadap Kematangan Karir Pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Daerah Istimewa Yogya-karta”.Sementara secara praktis, ada empat manfaat dalam studi ini. Pertama, hasil riset ini diharapkan dapat memperkaya wawasan penulis terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir Pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua, dengan penelitian ini, hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Daerah Istimewa Yogyakarta, seberapa besar tingkat terukurnya kematangan karir pejabat fungsional pustakawan pada lembaga tersebut. Ketiga, bagi prodi Ilmu Perpustakaan dapat dipakai sebagai rujukan dalam membuat kurikulum pendidikan yang selaras terhadap kebutuhan pasar tenaga kerja. Keempat, diharapkan dapat menambah referensi bagi peneliti selanjutnya yang berminat meneliti topik yang sama.
Method
Penelitian dilakukan di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dan Universitas Nahdlatul ‘Ulama (UNU) Yogyakarta. Waktu penelitian dilakukan selama 5 (lima) bulan, antara bulan Desember 2017 sampai dengan April 2018. Peneliti mengambil seluruh populasi sebanyak 82 orang menjadi responden penelitian, sehingga model penentuan sampel adalah dengan cara sensus (total sampling), akan tetapi dari angket yang kembali hanya 78 yang terisi dengan lengkap, sementara 4 angket kembali dengan isian tidak lengkap, dengan demikian hanya 78 responden yang dapat diolah datanya sebagai bahan kajian. Pengumpulan data dengan menyebarkan angket yang diberikan secara langsung kepada responden berupa kuesioner tertutup, artinya setiap pertanyaan yang ada sudah tersedia jawaban yang harus dipilih oleh responden. Dalam hal ini responden diminta menjawab satu pertanyaan/pernyataan yang sesuai dengan keadaan yang dirasakan/dialaminya. Angket tersebut berisi tentang butir-butir pernyataan dari variabel-variabel penelitian, yang terlampir dalam usulan penelitian ini. Selain menggunakan angket, pengumpulan data, juga dilakukan dengan wawancara terstruktur melalui tanya jawab langsung dengan subyek penelitian (responden) dalam hal ini pustakawan UIN Sunan Kalijaga, UII Yogyakarta, UMY, UAD Yogyakarta, UNISA Yogyakarta, dan UNU Yogyakarta untuk konfirmasi, jika terdapat ketidaksesuaian dengan petunjuk pengisian, jawaban ganda, atau responden tidak menjawab pada suatu pernyataan yang diajukan. Wawancara juga dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir pustakawan sebagai upaya penemuan teori baru. Analisis data dilakukan dengan uji statistik deskriptif dan analisis Regresi Berganda
Result
Jenis Kelamin RespondenKarakteristik jenis kelamin responden diper-lukan dalam rangka menggambarkan bahwa pada Perguruan Tinggi Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki jumlah pustakawan laki-laki dan perempuan. Diharapkan dengan data ini, dapat dibaca bahwa Perguruan Tinggi Islam DIY memberikan peluang yang sama antara jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan untuk mendapatkan pekerjaan. Masalah gender sudah memperoleh perhatian dan kesamaan hak untuk berkarya.Data karakteristik jenis kelamin responden penelitian sebagaimana dibaca pada Tabel 2 berikut:Tabel 2Karakteristik Demografi Pustakawan PTKI di DIYBerdasarkan GenderGenderJumlah Pustakawan(Orang)(%)Pria4051.28Wanita3848.72Jumlah78100Sumber: data primer diolah N=78, 2018Jenis pekerjaan pada perpustakaan perguruan tinggi memang diperlukan pelayanan yang ramah dan lembut, terampil, dan menyenangkan. Mengingat pelayanan perpustakaan perguruan tinggi dilakukan sampai dengan malam hari, maka sesuai dengan Undang-undang ketenagakerjaan yaitu UU No. 13 Tahun 2003 disebutkan bahwa dilarang pengusaha (lembaga) mempekerjakan wanita (perempuan) di malam hari. Oleh sebab itu jumlah tenaga perempuan lebih sedikit dibanding pustakawan laki-laki.Umur RespondenSesuai dengan model siklus karir seseorang dari Dessler (1998) yang menyatakan bahwa tahap pertumbuhan seseorang dimulai semenjak ia dilahirkan sampai dengan umur 14 tahun dimana pada fase ini dia mengelaborasi pengetahuan diri lewat pengenalan dan berinteraksi dengan pihak luar, misal melalui famili, kawan dan ustadz. Pada akhir tahap ini, seseorang mulai berpikir secara realistis tentang kedudukan-kedudukan alternatif. Kemudian pada usia antara 15 s.d dengan 24 tahun merupakan tahap penjelajahan yaitu dimana seseorang mulai secara sungguh-sungguh menje-lajahi berbagai alternatif kedudukan. Di awal tahap ini ia mulai mengembangkan suatu pemahaman yang realistik tentang kemampuan dan bakat-bakatnya. Dan pada akhir tahap ini, ia memilih satu pilihan tetap sebagai pekerjaan yang dianggapnya paling cocok. Pada fase usia 25 tahun sampai dengan umur 44 tahun individu sudah memiliki pemikiran yang masak terkait apakah pemilihan profesi yang ditentukan telah cocok dengan dirinya atau tidak, tahap ini dinamakan dengan tahap penetapan. Pada saat berumur antara 31 tahun sampai 44 tahun semestinya seseorang sudah mampu menentukan pilihan yang tepat terhadap profesi yang akan dijalaninya. Akan tetapi dalam kenyataannya, pada periode tersebut seseorang secara terus menerus akan menguji kemampuan dan ambisinya berkaitan dengan pilihan pekerjaan yang telah menjadi pilihan sebelumnya sesudah fase eksplorasi merupakan fase mempertahankan, ini tercipta pada usia antara 45 sampai dengan 60 tahun dimana individu akan secara konsisten dan berkelanjutan tetap fokus dan menjaga serta mempertahankan pekerjaannya. Fase yang terakhir adalah fase kemunduran, ini terjadi pada umur 60 tahun lebih. Pada tahap ini ditandai dengan menurunnya tingkat kerjanya seseorang dan mulai memasuki masa pensiun.Dengan menggunakan dasar pendekatan siklus karir dari Dessler (1998), maka data penelitian dapat diolah sebagaimana dapat dibaca pada Tabel 2. Dari Tabel 2 dapat dikatakan bahwa pustakawan PTKI DIY dengan usia 15 s.d 24 tahun berjumlah 2 orang (2.56%), sejumlah 12 orang (15.38%) pustakawan berusia 25 s.d 30 tahun, 15 orang atau 19.23% pustakawan berusia 31 s.d 44 tahun, dan 49 orang (62.82%) pustakawan berusia 45 s.d 60 tahun. Tidak terdapat pustakawan yang di bawah umur sesuai dengan UU Ketenagakerja, juga tidak ditemukan pustakawan yang berusia di atas 60 tahun.Tabel 3Karakteristik Demografi Pustakawan PTKI di DIYBerdasarkan UmurUmur (tahun)Jumlah Pustakawan(Orang)(%)< 150015 – 2422.5625 – 301215.3831 – 441519.2345 - 604962.82> 6000Jumlah78100Sumber: data primer diolah N=78, 2018Dengan mendasari teori mengenai tahapan usia tersebut, dapat dinyatakan bahwa sebagian besar usia pustakawan pada PTKI di DIY ini berada pada tahap pemeliharaan yakni dimana seseorang akan tetap terus berkonsentrasi dan memelihara pekerjaannya (profesinya) dalam rangka untuk mencapai kematangan karirnya.Jenjang Pendidikan RespondenPendidikan dalam hal ini merupakan data tentang pendidikan formal yang dimiliki para pustakawan PTKI di DIY yang merupakan pendi-dikan formal terakhir. Bagaimanapun pendidikan formal pustakawan akan memberikan kontribusi kerja berdasarkan intelektual dan keahliannya. Suatu pekerjaan memang memerlukan kuali-fikasi mengenai pendidikan formal yang dimiliki pustakawan. Hasil pengolahan data, dapat dibaca pada Tabel 4.Tabel 4Karakteristik Demografi Pustakawan PTKI di DIYBerdasarkan Jenjang PendidikanJenjang PendidikanJumlah Pustakawan(Orang)(%)SLTA (inpassing)1620.51Diploma1519.23Sarjana (S1)3139.74Magister (S2)1620.51Doktor (S3)00Jumlah78100Sumber: data primer diolah N=78, 2018Masa Kerja RespondenMasa kerja adalah lamanya waktu yang dijalani oleh seseorang dalam mengabdikan dirinya sebagai pegawai di sebuah lembaga. Data responden penelitian ini berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada Tabel 5.Tabel 5Karakteristik Demografi Pustakawan PTKI di DIYBerdasarkan Masa KerjaMasa Kerja (tahun)Jumlah Pustakawan(Orang)(%)< 51620.515 s.d 1022.5611 s.d 1578.9716 s.d 201924.3621 s.d 251823.0826 s.d 30911.5431 s.d 3545.13> 3533.85Jumlah78100Sumber: data primer diolah N=78, 2018Deskripsi Persepsi Responden terhadap Variabel PenelitianVariabel studi ini terdiri dari 3 variabel yaitu religiusitas (X1), kompetensi (X2), dan kematangan karir (Y). Ketiga variabel tersebut terdiri dari 2 variabel bebas (eksogen) yakni X1 dan X2, serta 1 variabel terikat (endogen) yaitu Y. Masing-masing variabel mempunyai indikator antara lain: X1 terdiri dari 5 indikator, X2 terdiri dari 6 indikator, dan Y terdiri dari 7 indikator, sehingga secara keseluruhan terdiri dari 18 indikator.Hasil pada studi ini mencoba mendeskripsikan persepsi responden terhadap variabel-variabel dan indikator-indikator dengan menjawab angket yang diajukan oleh peneliti. Pengukuran persepsi atas indikator variabel dengan skala Likert dimana skor nilai jawaban 1 sampai 5, maka pengolahan data deskripsi jawaban responden disusun sebagaimana diuraikan dibawah ini.Sementara pada studi ini dibuat rumusan terhadap kategori tingkatan tinggi rendahnya indikator dan atau variabel dijabarkan sebagaimana disajikan dalam Tabel 6. Tabel 6Kategori Tingkatan Tinggi/Rendahnya Indikator atau VariabelNilai / SkorKategori0 - 19Sangat Rendah20 - 39Rendah40 - 59Sedang60 - 79Tinggi80 - 100Sangat TinggiSumber: Sungadi (2018)Persepsi Responden terhadap Variabel Religiusitas (X1)Variabel religiusitas terdiri atas 5 indikator, diantaranya adalah ideologi/akidah, praktik ritual ibadah, pengalaman/akhlakul karimah, konsekuensi yang mempengaruhi perilakunya/ihsan, dan penge-tahuan agama/ilmu. Kuis/pertanyaan yang diajukan terhadap responden pada variabel religiusitas ini terdiri dari 45 butir pertanyaan, akan tetapi setelah dilakukan uji validitas terbukti 8 butir pertanyaan tidak valid (butir 12, 13, 15, 16, 17, 18, 30, dan 40), sehingga hanya 37 butir yang dapat digunakan untuk melakukan uji statistik.Pada Tabel 7 tampak bahwa tingkatan di masing-masing indikator dan variabel religiusitas dalam kategori sangat tinggi. Dari 5 indikator yang memiliki kategori tertinggi adalah indikator akidah/ideologi dengan skor 89.9, disusul berturut-turut indikator pengalaman beragama/akhlakul karimah sebesar 86.5, indikator pengetahuan ilmu beragama 86.3, praktik ritual ibadah 84.9, dan sifat ihsan dengan skor sebesar 84,4. Sementara kategori variabel religiusitas oleh responden dipersepsikan dalam kategori sangat tinggi dengan skor 86,67.Tabel 7Tingkat Persepsi Responden terhadap Variabel Religiusitas Nama Indikator/VariabelΣ Skor JawabanΣ TotalRerataKategoriIdeologi/Akidah3507390089.9Sangat TinggiPraktik Ritual Ibadah1656195084.9Sangat TinggiPengalaman/Akhlakul Karimah2700312086.5Sangat TinggiKonsekuensi Yang Mempengaruhi Perilakunya/Ihsan2962351084.4Sangat TinggiPengetahuan Agama/Ilmu1682195086.3Sangat TinggiReligiusitas125071443086.67Sangat TinggiSumber: data primer diolah N=78, 2018Hasil olah data pada Tabel 7 tampak bahwa tingkatan di seluruh indikator dan variabel religi-usitas dalam tingkatan kategori sangat tinggi. Persepsi Responden terhadap Variabel Kompetensi (X2)Tabel 8Tingkat Persepsi Responden terhadap Variabel Kompetensi Nama Indikator/VariabelΣ Skor Jwb RespΣ TotalRerata KategoriKnowledge945117080.8Sangat TinggiPemahaman61278078.5TinggiKemampuan1293156082.9Sangat TinggiNilai62978080.6Sangat TinggiSikap941117080.4Sangat TinggiMinat994117085Sangat TinggiKompetensi5414663081.66Sangat TinggiSumber: data primer diolah N=78, 2018Variabel kompetensi terdiri atas 6 indikator, diantaranya adalah knowledge, pemahaman, kemampuan, nilai/value, sikap, dan minat. Kuis/pertanyaan yang diajukan terhadap responden pada variabel kompetensi ini terdiri dari 17 butir pertanyaan, dan setelah dilakukan uji validitas terbukti seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid, sehingga 17 butir pertanyaan dapat digunakan untuk melakukan uji statistik. Oleh responden diberikan persepsi sebagaimana disajikan pada Tabel 6. Pada Tabel 6 tampak bahwa tingkatan di masing-masing indikator dan variabel kompetensi dalam kategori sangat tinggi kecuali indikator pemahaman dalam kategori tinggi dengan skor 78,5. Dari 4 indikator yang memiliki kategori sangat tinggi skor tertinggi adalah indikator minat dengan skor 85, disusul berturut-turut indikator kemampuan sebesar 82.9, indikator knowledge sebesar 80.8, indikator nilai sebesar 80.6, dan indikator sikap dengan skor sebesar 80,4. Sementara kategori variabel kompetensi oleh responden dipersepsikan dalam kategori sangat tinggi dengan skor 81,66.Adanya persepsi yang sangat tinggi, harapannya dapat digunakan sebagai modal dasar dalam membangun kematangan karir bagi pustakawan. Persepsi Responden terhadap Variabel Kematangan Karir (Y)Variabel kematangan karir terdiri atas 7indikator, diantaranya adalah potensi diri, mengim-plementasikan karir secara konsisten, mampu membuat rencana pengembangan perpustakaan dan karir, mampu meningkatkan kinerja perpus-takaan dan karir secara ilmiah dan profesional, kematangan profesi, akses kematangan karir berke-lanjutan, dan penunjang kegiatan kepustakawanan. Kuis/pertanyaan yang diajukan terhadap responden pada variabel kompetensi ini terdiri dari 51 butir pertanyaan, akan tetapi setelah dilakukan uji validitas terbukti ada 1 butir pertanyaan yang tidak valid (butir 1), sehingga hanya 50 butir pertanyaan yang dapat digunakan untuk melakukan uji statistik. Oleh responden diberikan persepsi sebagaimana disajikan pada Tabel 9.Tabel 9Tingkat Persepsi Responden terhadap Variabel Kematangan KarirNama Indikator/VariabelΣ Skor JawabanΣ TotalRerataKategoriPotensi Diri3775507074.5TinggiMengimplementa-sikan Karir secara Konsisten2511312080.5Sangat TinggiMampu Membuat Rencana Pengembangan Perpustakaan dan Karir1495195076.7TinggiMampu Meningkatkan Kinerja Perpustakaan dan Karir secara Ilmiah dan Profesional3415429079.6TinggiKematangan Profesi822117070.3TinggiAkses Kematangan Karir Berkelanjutan2257273082.7Sangat TinggiPenunjang Kegiatan Kepustakawanan904117077.3TinggiKematangan Karir151791950077.82TinggiSumber: data primer diolah N=78, 2018Pada Tabel 9 tampak bahwa tingkatan di masing-masing indikator dan variabel kematangan karir dalam kategori tinggi kecuali indikator akses kematangan karir berkelanjutan dan indikator mengimplementasikan karir secara konsisten dalam kategori sangat tinggi dengan skor masing-masing 82.7 dan 80,5. Dari 5 indikator yang memiliki kategori tinggi dengan skor tertinggi adalah indikator mampu meningkatkan kinerja perpustakaan dan karir secara ilmiah dan profesional dengan skor 79.6, disusul berturut-turut indikator penunjang kegiatan kepustakawanan sebesar 77.3, indikator mampu membuat rencana pengembangan perpustakaan dan karir sebesar 76.7, indikator potensi diri sebesar 74.5, dan indikator kematangan profesi dengan skor sebesar 70,3. Sementara kategori variabel kematangan karir oleh responden dipersepsikan dalam kategori tinggi dengan skor 77,82.Dari hasil oleh data tersebut dapat diinterpre-tasikan bahwa karir pustakawan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di DIY telah mengalami kematangan. Hasil Pengujian antar Variabel Dari hasil pengujian antar variabel dapat diketahui sebagaimana tersaji pada Tabel 10 dan Gambar 1 sebagai berikut:Tabel 10 Hasil Pengujian secara Individu antar VariabelReligiusi-tasKompe-tensiKemata-ngan KarirReligiusitasPearson Correlation1.407**.292**Sig. (2-tailed).000.009N787878KompetensiPearson Correlation.407**1.745**Sig. (2-tailed).000.000N787878Kematangan KarirPearson Correlation.292**.745**1Sig. (2-tailed).009.000N787878Sumber: data primer diolah N=78, 2018 Memperhatikan hasil uji sebagaimana terdapat pada Tabel 10 dan Gambar 1 di atas tampak bahwa setelah dilakukan pengujian antar variabel diketahui hasil rekapnya sebagaimana disajikan pada Tabel 11.Tabel 11Rekapitulasi Hasil Pengujian antar VariabelNoHubungan antar VariabelHasilSignifi-kansiKeterangan1X1àY0,2920,009Ada Pengaruh2X2àY0,7450,000Ada Pengaruh3X1X20,4070,000Ada HubunganSumber: data primer diolah N=78, 2018 Dari hasil pengujian sebagaimana tersaji pada Tabel 10 dan 11 serta Gambar 1 membuktikan bahwa dari masing-masing variabel bebas (X1 dan X2) berpengaruh positif terhadap kematangan karir. Religiusitas (X1) berpengaruh positif terhadap Kematangan Karir (Y) dengan nilai hitungan 0,292 dan nilai signifikansi (0,009 < 0,05). Kompetensi (X1) berpengaruh terhadap Kematangan Karir (Y) dengan nilai hitungan 0,745 dan nilai signifikansi (0,000 < 0,05). Sementara antar variabel bebas masing-masing saling berpengaruh positif. Religi-usitas saling berpengaruh dengan kompetensi dengan hasil hitungan senilai 0,407 dan angka substansial 0,000 < 0,05. Pengaruh Religiusitas (X1) terhadap Kematangan Karir (Y)Pengaruh religiusitas (X2) terhadap kematangan karir (Y) dibuktikan pernyataan bahwa persepsi pustakawan PTKI di DIY mengenai religi-usitas (X2) mempunyai pengaruh signifikan terhadap kematangan karir (Y) dengan nilai signifikansi (0,009 < 0,05). Hasil kajian sudah dilakukan lewat analisis data secara simultan yang hasilnya ditampilkan pada Tabel 10 dan telah dijelaskan bahwa pengaruh langsung persepsi pustakawan pada PTKI di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) antara variabel religi-usitas (X2) terhadap variabel kematangan karir (Y) senilai 0,292 dengan derajat substansial senilai 0,005. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang positif dan substansial antara religiusitas (X2) terhadap kematangan karir (Y). Hasil ini memiliki arti bahwa religiusitas yang dipersepsikan pada pustakawan merupakan fenomena yang positif (baik, tinggi), maka persepsi pustakawan terhadap kematangan karir juga akan baik (tinggi).Dukungan dari hasil riset ini diperoleh dari periset Turki bernama Meral Elçia, Erge Sener, dan Lütfihak Alpkan (2011) dimana riset mereka meneliti hubungan antara moralitas dan religiusitas dengan perilaku pekerja keras. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa baik moralitas maupun religiusitas karyawan berpengaruh positif terhadap perilaku pekerja keras mereka. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa religiusitas adalah faktor yang berarti gender pria secara substansial lebih tinggi daripada wanita dalam kehidupan bisnis; Sementara pria memiliki tingkat pekerja keras yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan wanita. Temuan penting lainnya adalah bahwa orang yang sudah menikah memiliki tingkat moralitas dan pekerja keras yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang lajang. Namun, hubungan antara status perkawinan dan religiusitas tidak dapat ditemukan. Akhirnya, lulusan magister / doktor dan universitas memiliki jumlah religiusitas yang jauh lebih rendah dari yang lainnya. Lulusan magister / doktor memiliki jumlah pekerja keras yang jauh berbeda dengan lulusan sekolah dasar / menengah.Hubungan antara etika kerja dengan religiusitas sebelumnya dipelajari dalam literatur, namun penelitian ini dilakukan di negara-negara di mana agama Kristen adalah agama yang dominan. Studi ini dilakukan di Turki, di mana agama Islam tersebar luas, ini adalah salah satu kontribusi studi ini (99,8% populasi Turki adalah mayoritas Muslim).Kontribusi lain dari penelitian ini terkait dengan metodologinya. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa pengukuran etos kerja pada sebagian besar penelitian didasarkan pada “satu dimensi”. Etika kerja diukur sebagai konstruksi multidimensional hanya dalam beberapa studi. Penelitian ini merupakan salah satu penelitian yang mengukur etos kerja dengan dua dimensi. Namun kontribusi ini juga merupakan batasan studi, yang merupakan penggunaan hanya dua dari tujuh dimensi The Protestant Work Ethic (PWE). Caranya masih terbuka bagi peneliti untuk meneliti lima dimensi PWE lainnya yaitu: kemandirian, waktu senggang, sentralitas kerja, waktu terbuang, dan keterlambatan gratifikasi.Selain itu, dari hasil regresi terbukti bahwa moralitas dan religiusitas merupakan pendahulunya dari pekerja keras. Hubungan terbalik mungkin ada, dan ini harus diselidiki dalam penelitian selan-jutnya juga. Sedangkan untuk implikasi penelitian lebih lanjut, temuan dan keterbatasan ini dapat membuka jalan baru untuk penelitian selanjutnya mengenai penyelidikan semua dimensi PWE pada sampel responden yang lebih besar yang memiliki gelar profesional dan bahkan agama yang berbeda. Terlepas dari keterbatasan yang disebutkan di atas, adalah sepengetahuan kita bahwa ada beberapa studi yang membahas hubungan-hubungan ini di Turki.Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk mengembangkan literatur dengan memper-timbangkan keterbatasan tersebut. Pengaturan penelitian baru dan yang lebih maju mungkin dirancang. Misalnya, dalam penelitian lebih lanjut, unit analisis mungkin merupakan organisasi daripada individu dan sampelnya mungkin diper-besar ke sektor bisnis lain. Hal ini juga memungk-inkan untuk memperluas model teoritis dengan memasukkan tambahan (1) variabel dependen seperti kecerdasan emosional, kinerja kerja, stres dan beberapa perilaku terkait pekerjaan seperti: kematangan karir, kepuasan kerja, komitmen organisasi dan niat berpindah dan (2) variabel kontrol, moderasi atau memediasi variabel seperti usia, jenis kelamin atau kepribadian.Perilaku pekerja keras, salah satu dimensi etik kerja yang signifikan, adalah perilaku perilaku karyawan yang paling diantisipasi di semua organ-isasi. Namun, penelitian tentang hubungan kerja keras dengan variabel lainnya terbatas. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa moralitas dan Religiusitas adalah faktor yang keduanya memiliki dampak positif terhadap perilaku pekerja keras. Selain itu, ditemukan bahwa pekerja keras, religiusitas dan moralitas berbeda menurut jenis kelamin, status perkawinan dan tingkat pendidikan peserta. Disarankan agar penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur dengan temuannya mengenai hubungan moralitas, religiusitas dan perilaku pekerja keras.Peneliti lain juga menguatkan hasil kajian ini, yang dilakukan oleh Amaliah, Aspiranti, dan Purnamasari (2015) yang menguraikan bahwa, menurut hasil pengujian hipotesis, hipotesis penelitian diterima dimana nilai religius berpen-garuh positif secara signifikan terhadap kepuasan kerja islami. Pemahaman yang baik tentang nilai-nilai agama membuat seorang karyawan mendapatkan kepuasan kerja baik secara material maupun spiritual. Perasaan syukur, sekaligus memahami makna kerja di industri membuat karya bordir yang terlihat khusus tidak hanya untuk mencari nafkah tapi juga sebagai wujud kewajibannya kepada Tuhan.Pengaruh Kompetensi (X2) terhadap Kematangan Karir (Y) Pengaruh kompetensi (X1) terhadap kematangan karir (Y) dibuktikan pernyataan bahwa persepsi pustakawan PTKI di DIY mengenai kompe-tensi (X1) mempunyai pengaruh signifikan terhadap kematangan karir (Y) dengan angka substansial (0,000 < 0,05). Hasil kajian sudah dilaksanakan lewat analisis data secara simultan yang hasilnya ditampilkan pada Tabel 10 dan telah dijelaskan bahwa pengaruh langsung persepsi pustakawan pada PTKI di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) antara variabel kompetensi (X2) terhadap variabel kematangan karir (Y) senilai 0,745 dengan derajat substansial senilai 0,000. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang positif dan substansial antara kompetensi (X2) terhadap kematangan karir (Y). Hasil ini memiliki arti bahwa kompetensi yang dipersepsikan pada pustakawan merupakan fenomena yang positif (baik, tinggi), maka persepsi pustakawan terhadap kematangan karir juga akan baik (tinggi).Kajian dengan tema pengembangan kompe-tensi dan kesuksesan karir yang dilakukan oleh Ans De Vos, Sara De Hauw, dan Beatrice I.J.M. Van der Heijden (2011) mendukung studi ini, dimana mereka menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya bertujuan untuk memberikan kontribusi pada literatur karir dengan mengungkap hubungan antara pengembangan kompetensi, kemampuan kerja yang dirasakan sendiri, dan kesuksesan karir. Bukti diberikan untuk sebuah model dimana kemampuan kerja yang dirasakan sendiri menengahi hubungan antara pengem-bangan kompetensi dan dua indikator keberhasilan karir, yaitu kepuasan karir dan penerimaan kelaikan kerja (perceived marketability). Pertama, hasil studi mereka membuktikan bahwa keterlibatan pegawai dalam prakarsa pembinaan kemampuan serta support yang dirasakan dalam pembinaan kompetensi dikaitkan dengan peningkatan tingkat kemampuan kerja yang dirasakan sendiri. Dengan demikian, dukungan empiris diberikan untuk klaim teoritis umum bahwa pengembangan kompetensi merupakan sarana penting untuk meningkatkan kemampuan kerja. Selain itu, kajian yang ditemukan olehnya menunjukkan adanya dual effect dari pengem-bangan kompetensi dalam organisasi. Dengan memasukkan kedua dukungan yang dirasakan dalam pembinaan kompetensi serta keterlibatan pegawai aktual pada prakarsa pembinaan kompe-tensi, riset ini membuktikan bahwa lembaga tersebut tidak cukup untuk menyediakan serangkaian pelatihan, pembelajaran di tempat kerja, dan praktik pengembangan karir, yang dapat dimanfaatkan oleh karyawan. Dengan kontribusi positif kedua faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa penting juga untuk menumbuhkan lingkungan semangat belajar dimana partisipasi aktual dalam pembinaan kompetensi disupport oleh para pimpinan, kawan bekerja dan organisasi kerja seseorang. Pada tingkat teoritis, temuan ini menyiratkan bahwa relevan untuk mencakup perspektif individu dan organisasi saat mempelajari model kelayakan kerja, dan bukan hanya menangani salah satu dari keduanya. Hal ini juga konsisten dengan berkembangnya konsensus dalam literatur karir baik individu maupun inisiatif manajemen karir organisasi penting untuk menjelaskan hasil karir karyawan.Kedua, bukti empiris diberikan untuk hubungan positif antara kemampuan kerja yang dirasakan sendiri di satu sisi, dan kepuasan karir dan perceived marketability (penerimaan kelaikan kerja) di sisi lain, memberikan dukungan empiris untuk klaim teoritis bahwa kemampuan kerja merupakan prediktor kesuksesan karir. Sampai sekarang, belum ditemukan studi yang menemukan bukti empiris untuk asosiasi ini. Temuan ini memberikan dukungan lebih jauh untuk gagasan yang penting bagi mobilitas model karir, bahwa elemen modal manusia terkait dengan kesuksesan karir. Akhirnya, hasil kajian ini memberikan dukungan untuk peran mediasi (peran parsial) dari kemampuan kerja yang dirasakan sendiri dalam keterkaitan antara pembinaan kompetensi dan keberhasilan profesi. Lebih khusus lagi, efek mediasi penuh dari kemampuan kerja yang dirasakan sendiri ditemukan untuk korelasi antara keterlibatan pegawai dalam prakarsa pembinaan kompetensi dan keberhasilan profesi, sementara efek mediasi parsial ditemukan untuk korelasi antara support yang dirasakan untuk pembinaan kompetensi dan keberhasilan pekerjaan. Oleh karena itu, temuan ini menggarisbawahi pentingnya membedakan antara kedua dimensi pengembangan kompetensi ini. Secara global, analisis korelasi tidak langsung antara pembinaan kompetensi dan keberhasilan kerja lewat kemampuan kerja yang dipersonalisasi meningkatkan pengetahuan kita tentang karir melalui keterpaduan lebih lanjut dari sumber bacaan karir dengan sumber bacaan kerja.Efek mediasi penuh dari kemampuan kerja yang dirasakan sendiri pada korelasi antara keterlibatan pegawai dalam prakarsa pembinaan kompetensi dan keberhasilan pekerjaan membuktikan bahwa mengembangkan skill dan fleksibilitas (menjadi dua indikator kemampuan kerja sebagaimana dikonseptualisasikan dalam penelitian ini) dengan secara aktif terlibat dalam pengembangan kompetensi adalah mekanisme yang penting, dimana individu dapat mencapai kesuksesan karir. Temuan ini menambah literatur dimana konstruksi kemampuan kerja dipelajari dari perspektif tingkat individu dan ditafsirkan terdiri dari elemen kognitif, perilaku, dan sikap. Korelasi langsung antara support organisasional yang dirasakan untuk pembinaan kompetensi dan kesuksesan karir konsisten dengan sumber bacaan sebelumnya di mana kemampuan kerja dipelajari dari sudut pandang institusi dan menyiratkan bahwa konteks yang mendukung mendorong kerja. Temuan bahwa dukungan organisasional untuk pengembangan kompetensi berkaitan dengan hasil sukses karir subyektif antara lain melalui kemampuan kerja yang dirasakan sendiri (elemen modal manusia) mendukung gagasan bahwa penting untuk menggabungkan mobilitas karir dan pendekatan mobilitas bersponsor ketika mempe-lajari anteseden keberhasilan karir. Akhirnya, hasil ini memberi gambaran baru terkait bagaimana institusi dapat mempengaruhi keberhasilan kinerja pegawai mereka dengan sistem yang berlainan, yaitu dengan berkonsentrasi terhadap pembinaan kompetensi, dibandingkan dengan perhatiannya terhadap inisiatif konvensional seperti menawarkan sudut pandang kerja, keamanan, atau kesempatan untuk mendapatkan keuntungan seperti yang disarankan dalam penelitian sebelumnya.Temuan lain yang mendukung kajian ini ditemukan oleh Wen-Hwa Ko (2012) yang mengek-splorasi hubungan antara kompetensi profesional, kepuasan kerja dan kepercayaan pengembangan karir bagi para koki, dan menguji mediator kepuasan kerja untuk kompetensi profesional dan kepercayaan pengembangan karir di Taiwan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap kerja adalah konstruksi yang paling berpengaruh untuk kompe-tensi profesional, dan kreativitas kuliner memiliki peringkat terendah yang dilaporkan. Kepuasan kerja menunjukkan rangking yang lebih tinggi daripada kepuasan kerja saat ini. Hasil pemodelan persamaan struktural menunjukkan bahwa kompe-tensi profesional berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, dan kepuasan kerja memprediksi kepercayaan pengembangan karir aktual. Selain itu, kepuasan kerja memediasi pengaruh kompetensi profesional dan kepercayaan pengembangan karir.Hubungan Religiusitas (X1) dengan Kompe-tensi (X2)Hubungan religiusitas (X1) dengan kompe-tensi (X2) dibuktikan pernyataan bahwa persepsi pustakawan PTKI di DIY mengenai religiusitas (X1) mempunyai hubungan signifikan dengan kompe-tensi (X2) dengan angka substansial (0,000 < 0,05). Hasil kajian sudah dilaksanakan lewat analisis data secara keseluruhan yang hasilnya ditampilkan pada Tabel 10 dan telah dijelaskan bahwa hubungan langsung persepsi pustakawan pada PTKI di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) antara variabel kompe-tensi (X1) dengan variabel religiusitas (X2) senilai 0,407 dengan derajat substansial senilai 0,000. Hal ini membuktikan bahwa ada hubungan yang positif dan substansial antara religiusitas (X1) dengan kompetensi (X2). Hasil ini memiliki arti bahwa religiusitas yang dipersepsikan pada pustakawan merupakan fenomena yang positif (baik, tinggi), maka persepsi pustakawan terhadap kompetensi juga akan baik (tinggi).Hasil penelitian ini didukung oleh Arwani (2013) yang pada studinya menyimpulkan bahwa nilai-nilai keagamaan yang dianut selama ini apapun bentuknya tidaklah lahir secara kebetulan dalam alam pikiran insan tanpa ada faktor yang mempen-garuhinya. Agama dihadirkan untuk menata kehidupan manusia dan menjadi landasan beramal dan beraktivitas serta rujukan dalam mengarungi kehidupan ini, termasuk sebagai pedoman manusia dalam berkarir. Dengan demikian, agama sebagai fondasi yang mendasari dalam membina norma-norma agama dalam psikis manusia. Pada kondisi seperti ini, penulis memperbaiki model Keragaman Spiritual yang dikembangkan Krishnakumar dan Neck (2002) dengan memberikan model pilihan lain yaitu model Religion’s Values Model Religion’s Values ini dibuktikan dengan hasil kajian ilmiah dalam perspektif Islam dengan kesimpulan bahwa norma-norma etika kerja Islami seorang pegawai memiliki dampak positif dan substansial terhadap tanggung jawab karir, tanggung jawab institusi dan pandangan terhadap transisi lembaga. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perihal kebatinan merupakan generasi dari kepercayaan beragama sebab pada prinsipnya agama-agama yang ada, banyak mengarahkan norma-norma kebaikan sehingga merefleksikan ke dalam norma-norma kebatinan. Religiusitas dan spiritualitas keagamaan sangat mempengaruhi profesionalitas, integritas etika, akuntabilitas akuntan syariah dalam menjalani profesinya sebagai akuntan dalam pekerjaannya.Dalam masalah kompetensi dan religius ini sebuah kajian menarik yang dilakukan oleh Rob Whitley (2012) yang menjelaskan bahwa religiusitas dapat diterapkan sebagai penyembuh penyakit jiwa yang dialami oleh pasien. Hal ini berarti bahwa perkara religius juga dapat meningkatkan kompe-tensi seseorang dalam meningkatkan skill maupun pengetahuannya. Secara lebih mendalam Rob Whitley dalam tulisannya ia berpendapat bahwa religiusitas seringkali kurang dikenal, dieksplorasi dan dimanfaatkan oleh dokter saat merawat orang-orang dengan penyakit jiwa, terutama yang berasal dari minoritas etno-budaya. Dokter dan layanan kesehatan mental harus menganggap serius agama sebagai sumber untuk meningkatkan pemulihan. Kompetensi religius sama sekali tidak sesuai dengan kepercayaan akan khasiat layanan kesehatan mental konvensional. Agama dan psikiatri dapat digunakan dengan cara saling menguatkan untuk meningkatkan pemulihan dan rehabilitasi. Memang, beberapa penulis telah menafsirkan pengalaman masa lalu dan masa kini tentang penyakit jiwa sebagai pengalaman transformasi positif yang membangun ketekunan, karakter, dan harapan-ke-bajikan yang sering disebut-sebut sebagai sinonim dengan pemulihan dari penyakit jiwa . Keutamaan ini juga didorong oleh hampir semua agama besar dunia.Poin yang lebih luas adalah bahwa setiap klinik kesehatan mental yang mengklaim sebagai pusat kebutuhan pemulihan untuk menilai budaya masyarakat yang dilayaninya, dan bekerja dengan sumber moral dan ekologi sosial budaya itu untuk memfasilitasi pemulihan. Mungkin relatif mudah bagi layanan kesehatan mental untuk menyediakan layanan bilingual dalam bahasa Spanyol dan Inggris sebagai bagian dari organisasi yang “kompeten secara budaya”. Namun, saya berpendapat bahwa sejarah, budaya, dan iklim politik di negara-negara sekuler abad ke-21 bekerja bersamaan dengan ambivalensi lama terhadap agama dalam psikiatri mainstream untuk membatasi pengembangan dan integrasi “kompetensi religius” ke dalam kesehatan mental yang didanai publik. jasa. Ambivalensi ini bertentangan dengan asas dan tradisi disiplin kesehatan mental di dalam humaniora dan teologi, serta sains. Di era perawatan berpusat pada pasien dan praktik berorientasi pada pemulihan ini, diharapkan kompetensi religius akan menjadi komponen penting praktek psikiatri.Kajian Rob Whitley ini dapat dipahami bahwa religiusitas mampu memberikan kesembuhan terhadap gangguan jiwa, dengan demikian religi-usitas juga akan mampu mengubah dan mening-katkan kompetensi terhadap seseorang yang sehat jiwanya.Analisis Regresi Berganda Pengaruh Religiusitas (X1) dan Kompetensi (X2) terhadap Kematangan Karir (Y)1. Uji Pengaruh Individual (Uji t)Analisis Regresi Linier Berganda untuk membuktikan persamaan regresi variabel kompe-tensi dan religiusitas terhadap kematangan karir. Pembuktian multiple linear regression analysis dapat dilihat seperti pada Tabel 12 sebagai berikut:Tabel 12Hasil Regresi Linear BergandaModelUnstandardized CoefficientsStandardi-zed Coeffi-cientstSig.BStd. ErrorBeta(Constant)45.94618.4412.491.015Religiusitas (X1)2.180.245.7508.896.000Kompetensi (X2).362.136.2922.663.009a. Dependent Variable: Kematangan Karir (Y). Sumber: data primer diolah N=78, 2018.Dari tabel persamaan regresi pengaruh religi-usitas, kompetensi terhadap kematangan karir sebagai berikut:Y = 45.946 + 2.180X1 + .362X2Berdasarkan hasil pengaruh langsung (koefisien regresi) ganda di atas terbukti bahwa religiusitas memiliki koefisien regresi negatif, berarti religiusitas tidak berdampak terhadap kematangan karir. Dengan dem
Conclusion
Berdasarkan analisis studi teoritis dan empiris serta sintesis yang telah dibuktikan secara deskriptif dapat disimpulkan bahwa Persepsi Pustakawan terhadap variabel peneliatian pada kategori tinggi sampai dengan kategori sangat tinggi. Sementara secara asosiasi dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang positif secara parsial maupun simultan antara religiusitas dan kompetensi terhadap kematangan karir pustakawan, studi pada Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di DIY