PROMOSI PERPUSTAKAAN MELALUI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dampak perkembangan teknologi yang semakin pesat, sehinggaberpengaruh terhadap eksistensi pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan context, content, communication, dan connectionpenggunaan media sosial Instagram pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kotasebagai media promosi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metode kualitatif.Untuk memperoleh data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknikpenganalisisan data menggunakan model analisis Miler dan Hubirman yang dilakukan secara interaktifmelalui mereduksi data, model data dan terakhir menarik kesimpulan. Berdasarkan temuan penelitiandan pembahasan menunjukkan bahwa promosi perpustakaan melalui media sosial instagram sudahmemenuhi dua dari empat elemen yang digunakan. Adapun elemen yang terpenuhi yaitu penerapancommunication dan connection. Berdasarkan hasil penelitian penerapan context atau isi pesan yang dilihatdari kejelasan dan kelengkapan pesan belum bersifat persuasif. Penerapan content atau pengemasan pesan belum berjalan dengan efektif, terlihat dari konten yang diunggah kurang bervariasi serta tampilanfeed di akun @perpustakaandaerah50k kurang menarik. Penerapan communication atau interaksi antaraadmin @perpustakaandaerah50k dengan followers sudah berjalan dengan baik terlihat dari komentardan direct message yang direspon positif oleh admin. Dan penerapan connection juga berjalan denganbaik, terlihat dari penggunaan fitur hastag dalam promosi melalui media sosial instagram sehinggamemudahkan followers mendapatkan informasi.
Abstract
This research is motivated by the impact of increasingly rapid technological developments, so that it affectsthe existence of libraries and archives in 50 Kota. The purpose of this study was to describe the context,content, communication, and connection of Instagram at the Library and Archives Service of 50 Kota Regencyas a promotional media. This is a qualitative study that uses the descriptive method. Interviewing,observation, and documenting procedures are used to obtain data. Based on research findings anddiscussion, it shows that library promotion through social media Instagram has fulfilled two of the fourelements used. The elements that are met are the application of communication and connection. Based onthe research results the application of context or message content seen from the clarity and completeness ofthe message is not yet persuasive. The application of content or message packaging has not been runningeffectively, it can be seen from the uploaded content that is less varied and the appearance of the feed on the@perpustakaandaerah50k account is less attractive. The application of communication or interactionbetween the @perpustakaandaerah50k admin and followers has been going well, as can be seen from thecomments and direct messages which were responded positively by the admin. And the application of theconnection is also going well, as can be seen from the use of the hashtag feature in promotions throughInstagram social media, making it easier for followers to get information.
Keywords:
promosi perpustakaan
· media sosial instagram
Introduction
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi semakin pesat, mengakibatkan peningkatan kebutuhan informasi setiap individu. Teknologi informasi dan komunikasi seolah-olah tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan manusia. Kehadiran perangkat teknologi tersebut memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan informasinya. Akan tetapi, tanpa disadari hal tersebut juga menimbulkan dampak negatif, salah satunya bagi perpustakaan. Kemudahan masyarakat dalam mencari informasi mengakibatkan bergesernya peran utama perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi. Masyarakat akan lebih cenderung memanfaatkan dan menggunakan perangkat yang mereka miliki untuk mencari dan mengakses informasi sehingga berdampak bagi keberadaan perpustakaan. Informasi lebih mudah didapat tanpa harus datang ke perpustakaan. Akibatnya, jumlah pengunjung perpustakaan pun menurun yang berdampak pada semakin rendahnya pemanfaatan berbagai sumber informasi dan layanan yang dimiliki oleh perpustakaan. Di sisi lain, hal ini justru menjadi tantangan bagi perpustakaan agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang yang ada guna menjaga eksistensi perpustakaan. Salah satu cara menjaga eksistensi perpustakaan yaitu dengan mengadakan promosi perpustakaan. Promosi perpustakaan menurut Mustofa (2017) meliputi segala kegiatan yang dilakukan perpustakaan dengan tujuan menyebarkan, memperkenalkan, atau menyampaikan barang atau jasa di dalam perpustakaan serta memberitahukan kepada pemustaka tentang keberadaan, kegiatan, dan manfaat perpustakaan, sehingga pemustaka dapat mempelajari koleksi dan layanan perpustakaan. Pemustaka diharapkan lebih tertarik untuk mengunjungi dan menggunakan perpustakaan. Perpustakaan menggunakan berbagai media untuk mempromosikan kelebihannya, salah satunya adalah media sosial. Luasnya jangkauan media sosial dan dapat diakses setiap saat menjadi kelebihan tersendiri bagi perpustakaan untuk memanfaatkannya (Laksimawati, 2020). Sekarang ini media sosial yang paling banyak digunakan sebagai media promosi adalah Instagram. Menurut laporan pendataan global tahun 2021 dari We Are Social dan Hootsuite, Indonesia memiliki 170 juta pengguna aktif media sosial. Instagram adalah salah satu platform media sosial yang paling populer dengan total pengguna 85 juta jiwa. Instagram menjadi media sosial populer yang menduduki peringkat ketiga setelah YouTube dan WhatsApp, mengantongi 86,6% dari keseluruhan pengguna internet. Bahkan penggunanya mengalahkan Facebook, di mana pengguna Facebook di Indonesia hanya 85,5% (Riyanto, 2021). Instagram lebih fokus pada foto dan video. Aplikasi ini menjadi populer karena berbagai fitur dan keunggulan yang disediakannya. Kemampuan untuk mencari sesuatu menggunakan hashtag juga memudahkan pengguna untuk mengidentifikasi topik yang relevan dengan mereka. Studi ini bermaksud untuk mengetahui promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. Karena pada dasarnya, selain memudahkan penyebaran informasi, juga memudahkan dalam memperkenalkan layanan yang tersedia. Namun, dalam upaya promosi perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota kurang memperhatikan konten yang diposting di akun Instagram @perpustakaandaerah50k. Di samping itu, akun @perpustakaandaerah50k juga kurang aktif dalam mengirim postingan, terbukti dengan jarangnya mengunggah foto atau video. Hal ini tentunya menjadi permasalahan dalam kegiatan promosi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui mengenai bagaimana promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dan hasilnya akan digunakan untuk mengetahui apakah penggunaan Instagram sebagai media promosi dapat berjalan dengan baik atau tidak. Promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram dapat dilihat dari content, context, communication, dan connection promosi melalui akun Instagram. Dari pemaparan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan content, context, communication, dan connection Instagram sebagai media promosi perpustakaan.
Method
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota mempromosikan keunggulan perpustakaannya melalui media sosial Instagram. Untuk menentukan informan dilakukan dengan purposive sampling. Dalam penelitian ini, kriteria informan meliputi: a) Informan adalah pengguna Instagram yang aktif menyukai atau mengomentari konten yang diposting oleh Instagram @perpustakaandaerah50k. b) Informan minimal sudah lima bulan mengikuti Instagram @perpustakaandaerah50k agar informan mempunyai informasi dan pengetahuan yang lebih banyak dalam perkembangan Instagram @perpustakaandaerah50k. Alasan ini dikarenakan informan yang berusia 15 tahun ke atas sudah lama menggunakan Instagram. Dalam penelitian ini, informan berjumlah delapan orang yang terdiri dari satu orang pustakawan dan tujuh orang pemustaka. Alasan pemilihan pemustaka sebagai informan dikarenakan pemustaka adalah target atau sasaran langsung dari kegiatan promosi yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota, sehingga pemustaka dapat memberikan feedback dan penilaian mengenai bagaimana promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram. Kemudian, alasan pemilihan pustakawan sebagai informan dikarenakan pustakawan merupakan admin Instagram yang memiliki wewenang terhadap kebijakan mengenai hal promosi melalui Instagram. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Pada tahap ini, penulis menggali informasi dari informan dan juga mengecek informasi yang dijelaskan informan pada akun @perpustakaandaerah50k. Teknik penganalisisan data menggunakan model analisis Miles dan Huberman yang dilakukan secara interaktif melalui mereduksi data, menyajikan data, dan terakhir menarik kesimpulan.
Result & Discussion
Berikut ini merupakan uraian pembahasan yang didasarkan pada temuan penelitian yang dilakukan peneliti. 1. Context Berdasarkan hasil wawancara dengan followers dan admin @perpustakaandaerah50k, dilihat dari kejelasan dan kelengkapan caption (isi pesan) di setiap postingan Instagram @perpustakaandaerah50k, belum efektif. Hal ini membuktikan bahwa pesan yang disampaikan pada caption belum jelas dan lengkap. Keberhasilan Instagram @perpustakaandaerah50k menjadi sarana promosi salah satunya bergantung pada isi pesan. Kejelasan dan kelengkapan pesan untuk promosi harus dirancang dan disampaikan secara jelas agar mudah dipahami. Selain itu, dalam membuat caption tentu harus jelas, persuasif, dan sesuai dengan gambar yang diposting. Caption yang bagus adalah caption yang tidak terlalu panjang tetapi memiliki kalimat yang meyakinkan dan menarik minat pengguna. Untuk menambah kelengkapan caption, juga bisa menggunakan fitur hashtag milik Instagram. Penggunaan fitur hashtag selain menambah kelengkapan pesan pada postingan, juga mempermudah pengguna dalam melakukan pencarian terhadap sesuatu serta memperluas jangkauan postingan. Berikut ini adalah salah satu postingan akun Instagram @perpustakaandaerah50k menggunakan caption: Gambar 1. Postingan Kegiatan Membatik Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa dalam postingan yang diunggah di akun Instagram @perpustakaandaerah50k tidak dijelaskan secara rinci mengenai tanggal pelaksanaan kegiatan, siapa peserta yang ikut, dan berapa hari kegiatan dilaksanakan. Menurut Kusumastuti (2009), dalam melakukan promosi, perancangan pesan merupakan salah satu aspek penting pada promosi melalui media sosial. Calon pengguna akan memutuskan jika pelaku usaha menyampaikan pesan yang bersifat persuasif. Sedangkan menurut Soemirat dan Ardianto (2003), kriteria pesan yang jelas dalam promosi yaitu pesan yang mudah dimengerti, tidak berbelit-belit, sehingga tidak menimbulkan keraguan. Namun, dalam promosi yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota, pesan yang disampaikan melalui caption belum jelas dan tidak bersifat persuasif. Salah satu faktor penyebab isi pesan yang disampaikan kurang lengkap dan tidak persuasif adalah kurangnya pengetahuan admin (pustakawan) dalam melakukan promosi, khususnya promosi melalui media sosial Instagram. Agar promosi dapat berjalan dengan baik, solusi yang bisa dilakukan yaitu mengadakan pelatihan bagi pustakawan agar lebih mengetahui bagaimana promosi yang efektif melalui media sosial, khususnya Instagram. Selain itu, bisa juga dengan berpedoman pada akun Instagram perpustakaan lain yang lebih dulu melakukan promosi, seperti akun Instagram milik Perpustakaan Nasional. Dapat disimpulkan bahwa isi pesan Instagram sebagai media promosi di beberapa postingan belum efektif, terlihat dari pesan yang disampaikan tidak bersifat persuasif dan pada beberapa postingan lain, caption yang disampaikan belum lengkap. 2. Content Dari wawancara yang peneliti lakukan dengan admin dan followers Instagram @perpustakaandaerah50k, promosi jika ditinjau dari content dilihat dari kualitas foto dan video, template yang digunakan, serta pemilihan warna dan tata letak belum menarik. Untuk menarik minat pemustaka tentunya dibutuhkan strategi yang tepat agar promosi yang dilaksanakan dapat tercapai. Penggunaan foto dan gambar dapat memperkuat daya tarik pada postingan yang hendak disampaikan kepada khalayak sehingga bisa menimbulkan kesan. Daya tarik tersebut dapat dilihat dari kualitas foto dan video, template yang digunakan, serta pemilihan warna dan tata letak. Menurut Muskitta (2014), menampilkan foto atau gambar dalam promosi adalah cara untuk meningkatkan minat seseorang. Berdasarkan teori di atas, kegiatan promosi perpustakaan memang sangat bergantung pada daya tarik yang disampaikan melalui media sosial Instagram. Untuk meningkatkan content dalam promosi perpustakaan, dapat diberikan inovasi pada setiap foto yang diposting agar tidak membosankan bagi followers. Memberikan hiasan pada foto, seperti menggunakan template yang seragam dan warna yang bagus, adalah solusi untuk memberikan kesan menarik pada gambar yang akan diposting. Selain itu, kualitas foto juga harus diperhatikan. Jika dibandingkan dengan foto beresolusi rendah, foto berkualitas tinggi akan lebih menarik. Namun, hal ini tidak terlepas dari sumber daya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota, seperti tidak adanya staf khusus atau cameraman dalam pengambilan dokumentasi kegiatan. Selain kualitas foto, template yang digunakan, serta pemilihan tata letak, Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota juga bisa meningkatkan daya tarik melalui variasi konten. Postingan admin di akun Instagram @perpustakaandaerah50k dirasa kurang bervariasi, terbukti dari unggahan yang lebih banyak berisi kegiatan perpustakaan dibandingkan menonjolkan keunggulan perpustakaan. Dalam melakukan promosi, admin Instagram @perpustakaandaerah50k mengunggah satu postingan dalam seminggu. Penyampaian dan pengiriman postingan sebaiknya memiliki jadwal tertentu agar efektif. Sebagai media promosi, seharusnya akun Instagram @perpustakaandaerah50k memiliki jadwal khusus dalam mengirim postingan, bisa juga disesuaikan dengan tema hari tertentu. Menurut Riyanto (2010), postingan yang sering muncul pada akhirnya akan menarik perhatian. Hal senada disebutkan Helianthusonfri (2014), yang mengungkapkan bahwa bagi pelaku usaha yang menggunakan media sosial untuk promosi, intensitas mengunggah postingan harus sering dilakukan agar followers tertarik untuk melihat postingan tersebut. Dapat diketahui bahwa salah satu penyebab postingan yang diunggah oleh admin @perpustakaandaerah50k tidak terjadwal adalah minimnya sumber daya untuk mengelola akun Instagram. Saat ini, tidak ada pustakawan khusus di bidang promosi, sehingga pustakawan yang bertugas di bagian layanan merangkap menjadi admin. Akibatnya, admin tidak memiliki jadwal pasti sehingga postingan yang diunggah hanya berdasarkan waktu senggang admin tersebut. Solusinya adalah harus ada staf khusus yang berkompeten untuk mengelola promosi di akun Instagram tersebut. Tujuannya agar promosi lebih efektif dan tujuan promosi dapat tercapai. Sebagai media promosi perpustakaan, konten yang diunggah harus bervariasi, seperti memposting koleksi berdasarkan tema hari tertentu atau kutipan dari buku yang ada, sehingga pengunjung tertarik terhadap buku tersebut dan minat kunjung meningkat. 3. Communication Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, penerapan communication pada promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram sudah berjalan dengan baik. Hal ini terbukti setelah melakukan promosi melalui media sosial Instagram, banyak followers yang memberikan komentar dan mengirim direct message di akun Instagram untuk menanyakan atau mencari tahu mengenai Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari hasil penelitian dijelaskan bahwa dengan promosi melalui media sosial ini, komunikasi antara pustakawan dengan pengguna menjadi efektif, di mana admin dan pengguna dapat saling berinteraksi untuk mengetahui berbagai informasi dan layanan yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Interaksi ini berlangsung cepat karena berbasis internet. Pendapat Yenianti (2019) menyatakan bahwa media sosial dapat menjadi sarana promosi yang memudahkan pustakawan berinteraksi dengan masyarakat. Ginting (2020) juga menyatakan bahwa penggunaan media sosial sangat cocok sebagai media promosi perpustakaan karena kemudahan menyebarluaskan informasi, layanan, serta koleksi terbaru yang tersedia di perpustakaan. Selain itu, penggunaan media sosial ini sebagai sarana promosi berdampak positif bagi pengguna yang menjadi lebih dekat dengan perpustakaan. Media sosial juga memudahkan pengguna untuk bertanya jika mengalami kesulitan, baik mengenai jam layanan, jumlah koleksi yang dipinjam, dan lain-lain. Pertanyaan yang masuk ke akun @perpustakaandaerah50k langsung direspons oleh admin secepatnya, kecuali untuk pertanyaan yang terkait kebijakan perpustakaan, yang harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan kepala dinas atau pihak berwenang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan communication pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota menggunakan Instagram sebagai sarana promosi sudah efektif dan maksimal sehingga indikator ini terpenuhi. 4. Connection Elemen connection dalam penelitian ini mengacu pada pemanfaatan fitur tag dan hashtag. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, penerapan connection pada promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram sudah efektif. Dalam setiap postingan yang diunggah oleh admin di akun @perpustakaandaerah50k selalu disertakan fitur tag dan hashtag. Penggunaan fitur tag dan hashtag dapat menambah popularitas akun Instagram @perpustakaandaerah50k serta memudahkan penyebaran informasi secara luas, yang berdampak pada makin banyaknya pengguna yang mengetahui keberadaan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Berdasarkan hasil penelitian, hashtag yang sering digunakan oleh admin dalam postingan disesuaikan dengan konten yang diunggah. Penggunaan tag biasanya menandai akun lokal daerah setempat, seperti @sudutpayakumbuh, @kabupatenlimapuluhkota, dan @infolimapuluhkota, dengan tujuan memperluas jangkauan informasi berkat banyaknya followers akun tersebut. Dengan menandai akun-akun tersebut, secara tidak langsung promosi yang dijalankan menjadi lebih luas. Gambar 2. Penggunaan Fitur Hashtag Kurniasih (2016) menyatakan bahwa keuntungan menggunakan media sosial oleh perpustakaan antara lain menjangkau khalayak lebih luas, meningkatkan pengguna perpustakaan, memperoleh akses layanan yang lebih cepat, dan menerima umpan balik secara langsung. Nasrullah (2022) juga menyatakan bahwa penggunaan media sosial sebagai sarana promosi di perpustakaan merupakan langkah yang menguntungkan karena memungkinkan penyebaran informasi yang dapat diakses semua kalangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan elemen connection pada promosi perpustakaan melalui media sosial Instagram di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota sudah berjalan maksimal. Promosi melalui Instagram membuat informasi tentang perpustakaan tersebar lebih luas, dapat diakses semua kalangan, dan meningkatkan popularitas perpustakaan sehingga lebih dikenal masyarakat, termasuk oleh mereka yang sebelumnya belum mengetahui keberadaannya.
Conclusion
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan. Pertama, penerapan context atau penggunaan caption di akun Instagram @perpustakaandaerah50k belum maksimal. Terlihat dari informasi yang disampaikan pada akun Instagram tersebut masih belum lengkap dan jelas, serta informasi yang disampaikan tidak bersifat persuasif. Kedua, penerapan content atau pengemasan sebuah pesan dalam bentuk gambar dan video di akun Instagram @perpustakaandaerah50k, berdasarkan hasil penelitian, belum menarik. Hal ini dikarenakan tampilan visual, template yang digunakan, serta konten media sosialnya kurang menarik. Konten yang bervariasi akan membuat promosi yang dilakukan juga semakin bagus dan menarik. Ketiga, penerapan communication atau komunikasi yang terjadi antara admin dengan followers sudah berjalan dengan baik. Interaksi komunikasi yang terjadi selama ini sudah efektif. Admin memberikan respons positif dalam menjawab pertanyaan dari followers, baik melalui kolom komentar maupun melalui direct message. Keempat, penerapan connection sudah efektif. Instagram @perpustakaandaerah50k menggunakan hashtag dan tag pada setiap postingannya. Hashtag yang digunakan tergantung dengan konten yang diunggah. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan hashtag oleh akun @perpustakaandaerah50k ini berdampak pada meningkatnya followers dan membantu dalam menyebarluaskan informasi sehingga popularitas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota juga semakin meningkat.