Kembali
16
1
2023 Info Bibliotheca Vol 4 · 2 ISSN 2714-805X

IMPLEMENTASI LITERASI INFORMASI GURU PENGAJAR DI MIN 10 BLITAR DALAM PENELUSURAN INFORMASI MELALUI SEARCH ENGINE GOOGLE DENGAN MODEL EMPOWERING EIGHT (E8)

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Abstrak

Artikel ini membahas implementasi literasi informasi dan kendala yang dialami guru pengajar di MIN 10 Blitar dalam penelusuran informasi melalui search engine Google dengan model empowering eight (E8). Metode penelitian ini adalah kualitatif. Pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara sistematis yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian adalah mayoritas guru sudah menggunakan literasi informasi saat menelusur informasi melalui search engine Google. Adapun dari delapan tahapan empowering eight yang belum dikuasai adalah tahapan identifikasi, eksplorasi, dan penciptaan. Sedangkan kendala yang dihadapi guru saat menelusur informasi yaitu koneksi jaringan internet pada MIN 10 Blitar masih terhambat dan tidak optimal, guru harus mengulang-ulang kata kunci saat menelusur informasi, guru belum memedulikan jenis sumber informasinya serta belum mencantumkan bibliografinya.

Abstract

This article discusses the implementation of information literacy and the obstacles experienced by teachers at MIN 10 Blitar in searching for information through the Google search engine with the empowering eight (E8) model. This research method is qualitative. The data collection uses interview, observation, and documentation techniques. Data analysis was carried out systematically, namely reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results of the study are that the majority of teachers already use information literacy when searching for information through the Google search engine. The eight stages of empowering eight that have not been mastered are the stages of identification, exploration, and creation. While the obstacles faced by the teacher when searching for information, namely the internet network connection at MIN 10 Blitar is still hampered and not optimal, the teacher has to repeat keywords when searching for information, the teacher does not care about the type of information source and has not included the bibliography.
Keywords: Information Literacy · Google · Empowering Eight

Introduction

Dalam hal perkembangan informasi, teknologi menjadi tolak ukur kemajuan peradaban. (Agustin & Krismayani, 2019). Sekarang ini, informasi bukan hanya dapat diakses dalam bentuk cetak, tetapi juga tersedia dalam bentuk digital, seperti buku elektronik, jurnal online, dan lainnya (Latief Aldri Sulaiman, 2016). Perkembangan dan penyebaran informasi saat ini semakin pesat arusnya karena adanya bantuan dari internet. Hal ini menghasilkan fenomena baru yaitu information explosion, atau ledakan informasi. Harusnya, hal ini diimbangi dengan kemampuan untuk menelusur informasi dengan benar. (Santoso & Sayekti, 2022). Ledakan informasi ini merupakan keadaan di mana informasi yang tersedia dipublikasikan dalam berbagai bentuk media dan dengan cara yang beragam. Dengan adanya jutaan informasi yang berada di internet akan membuat seseorang kebingungan dalam menggunakan informasi yang dibutuhkan serta menjadikan informasi yang tersedia belum jelas kebenaran serta validitasnya (Mirazita & Rohmiyati, 2015). Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet terus meningkat. APJII melaporkan bahwa pengguna internet tahun 2019-2020 di Provinsi Jawa Timur terdapat sejumlah 26,350,802 juta pengguna internet, atau 83% dari seluruh penduduk Jawa Timur. Dari data APJII ini juga mengatakan peran internet semakin penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, serta politik di seluruh dunia, dan pengaruh internet pada kehidupan manusia terus meningkat setiap tahunnya (APPJI, n.d.). Maka dari itu dibutuhkan suatu ketrampilan khusus untuk mendapatkan informasi yang cepat, akurat yang biasa disebut literasi informasi. Literasi informasi yaitu ketika individu mengetahui bahwa mereka membutuhkan informasi. Kesadaran informasi ini akan mendukung proses perkembangan life long education atau biasa disebut pembelajaran seumur hidup. Menurut Hendra, literasi informasi mencakup ketrampilan mengidentifikasi, mencari, menemukan, menempatkan, mengatur, menilai, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efisien. Literasi informasi juga mencakup pemahaman tentang bagaimana bahan pustaka disusun dan bagaimana metode yang umum digunakan untuk mencapai tujuan tertentu (Wicaksono & Kurniawan, 2016). Orang yang literet adalah mereka yang sudah belajar dengan benar, dan memahami cara belajar, memahami bagaimana pengetahuan diatur, menemukan, serta menggunakan pengetahuan mereka, dan orang lain dapat belajar dari mereka. Orang-orang yang paham literasi selalu bisa menemukan apa yang mereka butuhkan untuk setiap keputusan maupun tugas yang diperlukan (Himayah, 2021). Kemampuan literasi ini penting dimiliki oleh seseorang terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat (Mahardhini et al., 2021). Keterampilan literasi diperlukan karena dapat menunjang pendidikan, khususnya bagi guru. Pendidikan harus memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan baru. Untuk membantu siswa mengenal dan memahami istilah "information explosion", guru harus memiliki kemampuan literasi informasi yang baik. Tiap individu menggunakan cara sendiri yang menurutnya efektif untuk memenuhi kebutuhan informasinya (Palaivi et al., 2018). Pencarian informasi bisa digital atau tradisional. Pencarian informasi secara tradisional menggunakan katalog kartu, kamus, indeks, ensiklopedia dan bibliografi, sedangkan pencarian informasi digital menggunakan alat digital seperti search engine, OPAC (Online Public Access Catalog), jurnal elektronik, dll. (Putra et al., 2017). Saat ini penelusuran informasi melalui online sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam mencari sebuah informasi. Web yang banyak dikunjungi dalam dunia maya yaitu search engine Google, yaitu sebuah aplikasi yang menjawab pertanyaan dengan menggunakan database yang dikumpulkan melalui internet (Hartono, 2019). Google menjadi mesin pencari nomor satu dalam segi jumlah pengguna, kegunaan, desain, serta hasil pencariannya (Ni Ketut Nusrini, 2009). Salah satu cara yang lebih mudah untuk melakukan penelusuran adalah dengan menggunakan Google. Dengan kehadiran mesin pencari Google mempermudah guru MIN 10 Blitar dalam mencari informasi dan menyelesaikan tugasnya. Melalui Google ini guru bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Banyak model literasi informasi memberikan pemahaman yang sama dengan penjelasan yang berbeda-beda untuk masing-masing model. Dari berbagai model yang dikemukakan, belum ada sebuah standart baku yang merujuk untuk dapat melihat kemampuan literasi guru, peneliti di sini menggunakan model literasi informasi Empowering Eight yang berisi delapan standart atau delapan tahapan literasi informasi untuk melihat kemampuan literasi yang dimiliki oleh guru di MIN 10 Blitar. Model literasi informasi "Empowering Eight" dikembangkan oleh IFLA-ALP dan National Institute of Library and Information Science (NILIS) di University of Colombo. Model ini dikembangkan oleh orang Asia dan cocok untuk mencerminkan kondisi orang Asia. Sekarang, model ini dimiliki oleh NILIS Sri Langka (Yudistira, 2017). Model Empowering Eight ini dapat digunakan untuk pemecahan permasalahan (resource-based learning) kemampuan belajar dari informasinya yang menggunakan delapan tahapan yang ada di dalamnya (Nurohman, 2017). Model literasi empowering eight dibuat oleh orang Asia dan membantu dalam mengakses informasi. Model ini efektif dalam memudahkan proses pencarian informasi karena dipandu oleh delapan langkah (Khairi Prawita, 2020). Delapan tahapan pada empowering eight sebagai berikut: (1) identifikasi, yaitu menentukan topik ataupun subyeknya, mendefinisikan dan paham siapa target audiensnya, merencanakan strategi pencarian, mengidentifikasi, jenis sumber serta kata kuncinya. (2) eksplorasi, yaitu mengidentifikasi hasil yang akurat pada topik yang diinginkan, serta mencari informasi yang sesuai. (3) seleksi, yaitu menentukan informasi yang relevan, menyalin informasi yang relevan dengan merekam atau pengaturan visual semacam bagan, grafik atau diagram, dll., serta mengumpulkan kutipan yang sesuai. (4) organisasi, yaitu, mengatur informasi, membedakan fakta dari pendapat, memeriksa duplikasi antar sumber, dan mensintesis informasi logis. (5) penciptaan yaitu mempersiapkan informasi dalam bahasa sendiri, revisi dan edit (sendiri atau bersama teman) dan mengerjakan format bibliografi. (6) presentasi yaitu melaksanakan latihan dalam mempresentasikan hasilnya, berbagi informasi terhadap audiens, menyajikan informasi dalam format yang sesuai dengan pendengar, merancang dan memakai perlengkapan presentasi dengan baik. (7) penilaian yaitu menerima masukan dari pendengar, merefleksikan sudah seberapa baik informasi yang dapat, memperhatikan apa saja yang bisa diperbaiki di masa depan. (8) Aplikasi meninjau ulang masukan yang telah diberikan, menggunakan masukan dan penilaian untuk pembelajaran selanjutnya, mencoba memakai pengetahuan yang baru didapat untuk mengatasi masalah dalam berbagai situasi (Mirazita & Rohmiyati, 2015). Di MIN 10 Blitar ini merupakan sekolahan yang berbasis literasi karena sudah mengintegrasikan literasi pada kurikulumnya, selain itu di MIN 10 Blitar ini juga menanamkan budaya literasi, baik untuk siswanya dan juga gurunya, yaitu dengan adanya warung literasi dan juga gazebo pintar untuk menunjang kegiatan literasi di MIN 10 Blitar. Pengetahuan mengenai literasi informasi selama ini belum benar-benar dipahami oleh para guru. Berdasarkan temuan dari wawancara oleh peneliti di MIN 10 Blitar, mayoritas guru sudah melakukan literasi informasi, tetapi belum sepenuhnya memahami makna dari literasi informasi itu sendiri. Di sisi lain pemerintah menetapkan yang mana salah satu kompetensi professional yang harus dikuasai oleh guru yaitu kemampuan literasi. Untuk mengetahui literasi dibutuhkan suatu acuan yang digunakan serta diakui banyak orang. Karena diciptakan oleh orang Asia, Empowering Eight ini mewujudkan model yang tepat untuk diterapkan pada orang Asia, sehingga tepat jika digunakan untuk mengetahui kemampuan literasi informasi guru di MIN 10 Blitar. Atas itulah peneliti akan membahas bagaimana implementasi literasi informasi serta kendala yang dialami oleh guru di MIN 10 Blitar dalam menelusur informasi melalui search engine Google dengan model empowering eight.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang memberikan data deskriptif berupa perilaku subjek dan kata-kata tertulis atau lisan (Moleong, 2006). Penelitian kualitatif ini bertujuan memberikan gambaran dan mendeskripsikan secara jelas dan terperinci hasil yang ada di lapangan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara tentang keterampilan literasi informasi dan kendala yang dialami guru MIN 10 Blitar dalam menelusur informasi melalui search engine Google dengan model Empowering Eight. Penelitian ini dilakukan di MIN 10 Blitar yang terletak di RT/001 RW/003 Dsn Sukoreno, Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Alasan penulis memilih lokasi di MIN 10 Blitar adalah karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang mengintegrasikan literasi informasi dalam kurikulumnya. Sumber data yang digunakan yaitu informan yang berjumlah 10 orang, terdiri dari 1 kepala sekolah dan 9 guru di MIN 10 Blitar. Peneliti ini menggunakan triangulasi waktu, triangulasi teknik, dan triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan datanya, yaitu membandingkan data dari observasi, dokumen, dan wawancara. Untuk menganalisis datanya, menggunakan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

Hasil penelitian dibahas dalam dua bagian, yaitu: (1) Penerapan Literasi Informasi dalam Menelusur Informasi Melalui Search Engine Google dengan Model Empowering Eight (E8) di MIN 10 Blitar. (2) Kendala saat berliterasi yang dihadapi guru MIN 10 Blitar dalam menelusur informasi melalui search engine Google dengan model empowering eight. 1. Penerapan Literasi Informasi dalam Menelusur Informasi Melalui Search Engine Google dengan Model Empowering Eight (E8) di MIN 10 Blitar Temu kembali informasi yang telah disimpan dikenal sebagai penelusuran informasi, dalam bahasa Inggris dikenal dengan retrieval (Pawit M Yusup, 2013). Penelusuran informasi adalah bagian dari proses temu kembali informasi yang dilakukan dengan bantuan berbagai alat penelusuran untuk memenuhi kebutuhan (Awumbas, 2022). Google merupakan salah satu search engine yang terkenal, yang berkomitmen untuk menyimpan data bermanfaat yang dapat diakses oleh semua orang (Rahadian Hadi, 2005). Para guru pun saat ini juga sering menggunakan Google untuk menelusur informasi untuk menunjang profesinya sebagai pengajar. Dengan tampilan sederhananya Google memiliki banyak fitur-fitur yang sangat memudahkan pengguna dalam mengaksesnya. Pada proses mengakses informasi, keterampilan diperlukan untuk memperoleh informasi yang tepat lantaran tidak semua informasi yang tersedia dapat dianggap valid atau berguna, tiap individu harus memiliki keterampilan literasi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Identify (mengidentifikasi) informasi Tahap pertama adalah kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi. Orang yang berliterasi harus dapat menentukan apa yang mereka butuhkan untuk mendapatkan informasi. Pada tahap ini para guru sudah melakukan mengidentifikasi topik masalahnya yaitu dengan menggunakan kata kunci pencarian dulu sebelum menelusur informasi. Para guru juga sudah memahami siapa target pendengarnya, baik untuk siswa, sesama guru, atau akan disebar luaskan ke hal lain seperti majalah. Para guru juga sudah menggunakan strategi penelusuran saat melakukan pencarian informasi di search engine Google yaitu dengan menambahkan tanda petik dua di antara kata kunci yang akan dicari, serta menggunakan Boolean logic. Tetapi dalam hal mengidentifikasi jenis sumber informasinya, hanya beberapa guru saja yang sudah mempertimbangkan jenis sumber informasinya, dalam menyikapi hal ini guru di MIN 10 Blitar perlu lebih dikenalkan lagi pentingnya sumber informasi, karena informasi yang diberikan melalui e-book dan sumber informasi yang dapat dipercaya seperti jurnal lebih akurat dan valid. Explore (mengeksplorasi) informasi Tahap kedua yaitu kemampuan mengeksplorasi informasi atau menggali informasi, pada tahap ini guru di MIN 10 Blitar dalam mengeksplorasi informasi yang dibutuhkan sudah sesuai dengan topik permasalahannya. Meskipun demikian, beberapa guru menyatakan bahwa ketika mereka menggunakan search engine Google untuk mencari informasi, mereka tidak menemukan informasi yang relevan dengan topik yang mereka cari. Terkadang informasinya yang muncul tidak sesuai dengan informasi yang diinginkan dikarenakan kata kunci yang dimasukkan kurang tepat sehingga harus mengulang-ulang kata kunci dulu baru menemukan informasi yang sesuai. Select (menseleksi) informasi Tahap ketiga adalah memilih informasi yang relevan, mencatatnya, serta mencatat sitasi atau kutipan yang relevan. Kegiatan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan guru baik dalam menelusur informasi, ataupun pembuatan materi untuk menunjang pembelajaran. Pada tahap ini guru MIN 10 Blitar sudah melakukan seleksi informasi mulai dari memilih informasi yang relevansi sesuai dengan kebutuhannya, juga mempertimbangkan kebaruan informasinya. Kemudian mencatat, mengumpulkan, serta menyimpan kutipan yang digunakan dengan sistematis. Organise (mengorganisir) informasi Pada tahap keempat yaitu membahas cara menyusun atau mengorganisasikan informasi secara logis, serta mempertimbangkan otoritas pengarang, dan membedakan antara fakta dan opini. Pada tahapan organisasi ini guru di MIN 10 Blitar sudah mengorganisasikan informasi. Hal ini terlihat pada guru saat mendapatkan informasi dari internet, kemudian mereka melakukan validasi untuk memastikan apakah informasi yang mereka peroleh cukup untuk digunakan sebagai referensi atau tidak, dan juga melihat otoritas pengarangnya, bila pengarangnya tidak jelas maka informasinya tidak jadi digunakan untuk referensi. Selain itu para guru MIN 10 Blitar juga dapat membedakan antara fakta serta opininya dalam sebuah informasi dari berbagai sumber informasi yang telah didapat supaya menjadi informasi yang logis. Create (menciptakan) informasi Pada tahapan kelima yaitu menyiapkan sebuah informasinya menggunakan bahasa sendiri, mengedit, serta mencantumkan bibliografi dalam penulisannya. Pada tahapan ini guru di MIN 10 Blitar sudah mampu merangkai informasi yang didapat menjadi sebuah kalimat dengan kata-katanya sendiri, sehingga para guru mampu membuat informasi baru yang sesuai dengan sudut pandang mereka. Akan tetapi sebagian guru tidak mencantumkan bibliografinya pada materi yang akan disampaikan. Hal ini perlu diperkenalkan lebih dalam lagi bahwa pembuatan bibliografi sangatlah penting pada sebuah materi. Present (menyajikan) informasi Pada Tahapan keenam yaitu presentasi membahas tentang mengkomunikasikan serta menyebarluaskan informasi yang didapat agar menghasilkan pengetahuan baru. Melalui hasil observasi serta wawancara pada guru di MIN 10 Blitar, guru sudah dapat berbagi informasi dan pengetahuan mereka dengan orang lain. Sebagian guru dalam menyajikan informasi kepada siswa sudah menggunakan power point pada pembelajaran di kelas. Pada tahap presentasi ini para guru tidak hanya menyampaikannya pada siswa saja, guru di MIN 10 Blitar juga mengupload informasi yang sudah didapat dengan membuat majalah yang dimiliki oleh sekolah yaitu dengan nama “Majalah MIN 10 Blitar”. Tahapan presentasi yang telah dilaksanakan oleh guru di MIN 10 Blitar dapat dilihat dari guru yang menyebarluaskan informasinya tidak hanya pada siswa saja, melainkan menyebar luaskan di majalah, serta saat memaparkan materi guru sudah bisa menyesuaikan audiensnya dan dalam penyampaian materi guru membuat power point untuk memudahkannya saat memaparkan informasi dalam bentuk materi, untuk presentasi menggunakan power point ini sudah diterapkan di MIN 10 Blitar tetapi hanya untuk kelas atas saja yaitu kelas 4, 5 dan 6, untuk penyampaian informasi kelas lainnya masih digunakan secara manual yaitu menggunakan lisan. Assess (menilai) informasi Tahapan ketujuh yaitu penilaian membahas tentang menerima masukan dari pendengar, mempertimbangkan seberapa baik informasi yang diberikan, dan mempertimbangkan hal-hal yang dapat diperbaiki di waktu mendatang. Pada tahap ini seluruh informan yaitu para guru di MIN 10 Blitar menyatakan bahwa mereka menerima masukan dan penilaian dari orang lain (baik dari siswa ataupun sesama guru) hal ini digunakan sebagai pembelajaran dan masukan bagi guru untuk mendapatkan informasi baru. Serta untuk merefleksikan apa yang telah dicapai dan meningkatkan kualitas diri untuk memperbaiki diri di waktu yang akan datang. Apply (menerapkan) informasi Tahapan kedelapan, yaitu meninjau ulang dan menggunakan masukan untuk pembelajaran kehidupan. Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan para guru di MIN 10 Blitar, para guru sudah melakukan peninjauan ulang informasi yaitu dengan meninjau lagi informasinya dari berbagai sumber, selain itu guru di MIN 10 Blitar saat meninjau ulangnya dilakukan dengan bertanya kepada rekan guru. Para guru di MIN 10 Blitar ini juga sudah melakukan tahapan penerapan yaitu para guru sudah menerapkan informasi yang didapatkan untuk kehidupan sehari-hari, yaitu dengan meningkatkan proses belajar secara terus menerus yang kemudian mampu mengidentifikasi cara-cara baru yang lebih efisien untuk diterapkan, serta menggunakan informasi yang didapat guna memcahkan masalahnya dan sebagai bahan pembelajaran bila terdapat masalah yang hampir serupa, yang akhirnya akan menjadi (life long education) pembelajaran sepanjang hayat. Dengan pengelolaan informasi yang baik dan benar, guru dapat update pengetahuan dan keterampilan mereka. Ini akan menghasilkan peningkatan kualitas guru (Suharto, 2014). 2. Kendala saat Berliterasi yang Dihadapi Guru MIN 10 Blitar dalam Menelusur Informasi Melalui Search Engine Google dengan Model Empowering Eight Saat sedang berliterasi tentu saja ada beberapa kendala yang tentunya dialami oleh para guru di MIN 10 Blitar. Dari hasil penelitiaian yang telah dilakukan ada beberapa kendala yang dihadapi guru MIN 10 Blitar saat menelusur menggunakan search engine Google. Kendala pertama terletak pada fasilitas yang tersedia belum mendukung terselenggaranya literasi, karena koneksi jaringan internet pada MIN 10 Blitar masih terhambat dan tidak optimal sehingga para guru tidak memiliki kesempatan yang luas untuk mempraktekkan ketrampilan literasi mereka saat menelusur informasi dalam aktivitas akademik di sekolahan. Kendala kedua adalah guru di MIN 10 Blitar harus mengulang kata kunci saat mencari informasi menggunakan Search Engine Google, dikarenakan hasil yang didapat terkadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kendala ketiga yaitu pada jenis sumber informasinya, beberapa guru di MIN 10 Blitar ini belum memedulikan jenis sumber informasinya dari mana, mereka langsung mengambil informasinya yang sekiranya sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Kendala keempat yaitu para guru belum mencantumkan bibliografinya saat menggunakan informasi yang diambilnya.

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai "Implementasi Literasi Informasi Guru Pengajar di MIN 10 Blitar Dalam Penelusuran Informasi Melalui Search Engine Google Dengan Model Empowering Eight", maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: Mayoritas guru sudah menggunakan literasi informasi saat menelusur informasi melalui search engine Google. Adapun dari delapan tahapan empowering eight yang belum dikuasai adalah tahapan identifikasi, eksplorasi, dan penciptaan. Kendala yang dihadapi guru saat menelusur informasi yaitu koneksi jaringan internet pada MIN 10 Blitar masih terhambat dan tidak optimal, guru harus mengulang-ulang kata kunci saat menelusur informasi, guru belum memedulikan jenis sumber informasinya serta belum mencantumkan bibliografinya.