Kembali
16
1
2024 Info Bibliotheca Vol 6 · 1 ISSN 2714-805X

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DI SD NEGERI 1 MUARA TELADAN

Universitas Terbuka; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini terdiri dari pustakawan, guru dan siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang dianalisis untuk mengidentifikasi tema-tema yang berhubungan dengan minat baca siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan minat baca siswa dengan mengadakan beberapa kegiatan seperti peminjaman buku yang mudah diakses, adanya jadwal kunjungan ke perpustakaan dan kegiatan literasi. Namun, terdapat kendala yakni minat baca siswa (sebagian), kurangnya anggaran terkait sarana pendukung kegiatan di perpustakaan yakni fasilitas di perpustakaan perlu dilengkapi seperti rak buku, meja dan kursi untuk membaca dan kurangnya pengelola perpustakaan. Meskipun demikian, siswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan yang diadakan oleh perpustakaan, yang menggambarkan potensi besar perpustakaan meskipun ada keterbatasan. Dengan perbaikan fasilitas perpustakaan, penambahan anggaran dan penambahan pengelola perpustakaan dapat meningkatkan minat baca siswa terus berkembangkan dan berdampak positif pada prestasi belajar mereka. Perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan memainkan peran penting dalam mendorong minat baca siswa, namun optimalisasi fasilitas dan kegiatan yang lebih menarik masih perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih maksimal.

Abstract

This study aims to determine the role of the library in enhancing students' reading interest at SD Negeri 1 Muara Teladan. The research method used is qualitative with a case study approach. The informants in this study consist of librarians, teachers, and students at SD Negeri 1 Muara Teladan. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, and documentation. The data were analyzed to identify themes related to students' reading interest. The results show that the library plays a very important role in increasing students' reading interest by organizing several activities, such as accessible book lending, scheduled library visits, and literacy activities. However, challenges were identified, including low student interest in reading, insufficient budget for library facilities, and a lack of library staff. Facilities such as bookshelves, tables, and chairs need to be improved to support reading activities. Despite these challenges, students showed high enthusiasm for the activities organized by the library, highlighting the library's potential even with its limitations. With improvements in library facilities, increased budgets, and additional library staff, students' reading interest can continue to grow, positively impacting their academic achievements. The library at SD Negeri 1 Muara Teladan plays a crucial role in fostering students' reading interest, but optimizing facilities and more engaging activities are still necessary to achieve better outcomes.
Keywords: Library Role · Reading Interest · Students

Introduction

Di Indonesia, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui beragam kebijakan dan program. Salah satu indikator penting dalam kemajuan pendidikan adalah minat baca siswa. Minat baca yang besar dapat memperbaiki keterampilan literasi siswa, yang pada gilirannya berdampak positif pada pencapaian akademik mereka. Tujuan utama pembinaan minat baca adalah meningkatkan kecerdasan bangsa, yang tercermin melalui terciptanya sumber daya manusia berkualitas sebagai elemen penting dalam mendukung pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat madani (Momuat et al., 2021). Namun, kenyataannya minat baca siswa terutama di tingkat Sekolah Dasar masih menjadi tantangan besar. Minat baca merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai pusat informasi dan pembelajaran. Minat baca sebaiknya tidak dibangun melalui paksaan, sehingga diharapkan membaca dapat menjadi aktivitas yang memberikan pengalaman menyenangkan (Rahmawati, 2019). Membaca merupakan aktivitas atau kemampuan yang dilakukan untuk memperoleh pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh penulis. Membaca secara rutin dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas seseorang. Sebaliknya, kurang membaca akan menyulitkan dalam menguasai ilmu pengetahuan. Dengan tekad yang kuat dan kedisiplinan yang konsisten, seseorang dapat mengembangkan kebiasaan membaca yang baik (Nugroho, 2019). Seseorang yang terbiasa membaca akan memperoleh berbagai wawasan baru yang sebelumnya belum diketahui. Membaca merupakan sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, dan mengasah kemampuan berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar (Maulana et al., 2019). Secara sederhana, membaca adalah teknik untuk memahami makna yang terkandung dalam sebuah teks. Dengan kemampuan membaca secara konsisten dapat meningkatkan minat baca dalam diri seseorang. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu fasilitas pendidikan, memiliki peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan dan mengembangkan minat baca siswa. Dengan menyediakan berbagai koleksi buku yang bervariasi dan menarik, perpustakaan dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa untuk menemukan berbagai informasi dan pengetahuan. Perpustakaan juga dapat menjadi pusat kegiatan literasi yang melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas membaca, diskusi, dan kreatifitas lainnya. SD Negeri 1 Muara Teladan adalah salah satu sekolah dasar yang memiliki perpustakaan sebagai sarana pendukung kegiatan belajar mengajar, serta memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan minat baca siswa melalui pemanfaatan perpustakaan secara maksimal. Meskipun demikian, masih ada siswa yang belum menunjukkan minat baca yang optimal. Padahal Somadoyo (2011: 7) menjelaskan bahwa setiap aspek kehidupan selalu berkaitan dengan aktivitas membaca. Namun pada kenyataannya, minat membaca di kalangan masyarakat masih rendah, terutama di kalangan anak-anak sebagai pelajar, masih tergolong rendah. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui sejauh mana peran perpustakaan di sekolah ini dalam meningkatkan minat baca siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan perpustakaan yang lebih efektif di masa yang akan datang.

Method

Metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mengungkap nilai suatu variabel secara mandiri, baik itu satu variabel maupun lebih, tanpa melibatkan perbandingan atau hubungan dengan variabel lain (Yusuf, 2014). Jenis penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan suatu peristiwa, kejadian, atau fenomena yang terjadi di Perpustakaan SD Negeri 1 Muara Teladan dalam upaya meningkatkan minat baca. Penelitian ini lebih menekankan pada isu-isu konkret yang ada pada saat penelitian berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan. Sugiyono (2013: 308) menyatakan penelitian deskriptif kualitatif yakni pengumpulan data dilaksanakan dalam keadaan alami. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan teknik yaitu: (1) Observasi yakni melakukan pengamatan langsung terhadap subjek. Dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kondisi yang terjadi di SD N 1 Muara Teladan dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap terkait aspek fasilitas, koleksi buku dan kegiatan yang dilakukan di perpustakaan. (2) Wawancara, dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Herdiansyah (2015: 31) menyatakan bahwa wawancara dalam penelitian kualitatif merupakan suatu proses interaksi komunikasi antara minimal dua individu, yang berlangsung secara sukarela dan dalam situasi alami. Dengan wawancara peneliti mendapatkan data yang mendalam dan terperinci. Wawancara dilakukan pada subjek yang ditetapkan yakni Pustakawan, guru, dan siswa SD Negeri 1 Muara Teladan terkait program perpustakaan yang ada di sekolah. (3) Dokumentasi, di mana data-data berupa catatan tertulis maupun peristiwa tertentu. Kemudian data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan. Analisis data penelitian ini dilihat dari aspek ruangan, layanan, koleksi, anggaran, dan kegiatan yang ada di perpustakaan. Aspek-aspek dari hasil tersebut kemudian diolah melalui tahapan reduksi data, penyajian, kesimpulan dan verifikasi data: (1) Reduksi data, melalui proses seleksi data, penentuan fokus, penyederhanaan dan data mentah yang berasal dari informan mengenai peran perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan dalam meningkatkan minat baca siswa dianalisis bagian dari objek penelitian. (2) Penyajian data, disajikan dalam format narasi dari jawaban informan terkait peran perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan dalam meningkatkan minat baca siswa. (3) Kesimpulan dan verifikasi data, proses ini melibatkan interprestasi data dengan mensintesis konten yang diperoleh dari informan mengenai peran perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan dalam meningkatkan minat baca siswa. Kemudian melakukan verifikasi data terhadap kesimpulan-kesimpulan.

Result & Discussion

Hasil penelitian ini mengenai peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan. Data hasil pembahasan yang didapatkan berdasarkan observasi dan wawancara, yang dilihat dari aspek ruangan, layanan, koleksi, dan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan serta tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan dalam meningkatkan minat baca siswa. Ruangan Perpustakaan memegang peranan penting dalam menyediakan ruang yang nyaman bagi pengunjung. Ruang yang dirancang dengan baik tidak hanya menciptakan kenyamanan tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri. Tata ruang yang terorganisir dengan baik memungkinkan pemustaka untuk membaca, belajar, atau mencari informasi dengan lebih leluasa. Oleh karena itu, perpustakaan perlu merancang tata ruang secara optimal agar dapat menyediakan fasilitas yang representatif bagi para penggunanya. Seperti yang disampaikan oleh pustakawan, sebagai berikut: “perpustakaan telah menyediakan ruangan yang nyaman dengan keadaan ruangan yang bersih dan juga rapi. Upaya ini dilakukan agar siswa betah berada di perpustakaan.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan siswa SD Negeri 1 Muara Teladan, yang mengatakan bahwa: “ruangan perpustakaan sangat nyaman karena bersih dan rapi.” (Naufal) “Ruang baca di perpus rapi, bersih, dan juga nyaman untuk membaca dan mengerjakan tugas.” (Aksan) “membaca buku di perpustakaan sudah cukup nyaman, ruangannya bersih dan buku-buku di rak tersusun rapi.” (Febbi kelas) Berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara dengan para informan terkait ruangan perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan terbilang nyaman. Ruangannya bersih, buku-buku di rak tersusun rapi, dan meja berada di tempat yang tepat. Penyediaan ruang baca di perpustakaan SD Negeri 1 Muara Teladan mendapatkan tanggapan yang baik dari para siswa. Mereka menyatakan merasa nyaman berada di ruang perpustakaan dikarenakan rapi dan bersih. Terciptanya suasana yang nyaman membuat para siswa dapat menikmati waktu membaca atau mengerjakan tugas sekolah sambil bersantai. Fasilitas ruangan menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang datang. Ruangan merupakan elemen penting yang harus menjadi fokus dalam pengelolaan perpustakaan. Pengaturan fasilitas di dalam perpustakaan dirancang untuk menciptakan suasana nyaman bagi pengunjung. Tata ruang yang dirancang dengan baik tidak hanya mendukung kelancaran operasional perpustakaan, tetapi juga mendorong minat baca serta membiasakan pengunjung untuk datang kembali (Ketut, 2018). Penataan ruang perpustakaan yang menarik dapat menciptakan kesan positif bagi pengunjung. Selain itu, pengaturan ruang yang baik mampu mendukung berbagai kegiatan perpustakaan, baik dalam hal pelayanan maupun penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Tata ruang perpustakaan menjadi aspek penting yang tidak kalah penting dari koleksi yang dimiliki. Jika perpustakaan hanya memiliki koleksi lengkap dan berkualitas tetapi tidak menyediakan ruang baca yang nyaman, minat baca pengunjung untuk datang akan berkurang. Layanan Pelayanan perpustakaan adalah komponen penting dalam operasional sebuah perpustakaan. Pelayanan ini bertujuan untuk menyediakan berbagai koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pengguna yang berkunjung dan membutuhkan informasi tertentu. Maka dari itu untuk meningkatkan minat baca siswa, perpustakaan memberikan kebebasan untuk mengunjungi perpustakaan dan kemudahan dalam proses peminjaman buku guna menarik para siswa untuk datang ke perpustakaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pustakawan, beliau mengungkapkan bahwa: “para siswa diberi kebebasan untuk berkunjung kapanpun ke perpustakaan di waktu jam sekolah tanpa terkecuali, baik itu untuk meminjam buku sesuai dengan kebutuhan, membaca buku maupun datang untuk mengerjakan tugas. Saat melayani siswa saya berusaha seramah dan komunikatif agar terjalin keakraban di antara para siswa. Dan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa yakni dengan mempermudah proses peminjaman buku. Karena jika proses peminjaman buku mudah maka para siswa akan dengan senang hati datang dan meminjam buku di perpustakaan”. (Ibu Linda selaku pustakawan) Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan siswa SD Negeri 1 Muara Teladan, yang mengatakan bahwa: “Pelayanan di perpustakaan sangat baik dan ramah, selalu membantu saya menemukan buku yang saya cari.” (Febbi) “proses peminjaman buku sangat mudah dengan menggunakan kartu anggota perpustakaan, kami dapat meminjam buku sesuai keinginan.” (Aksan) Pernyataan tersebut diperoleh informasi bahwa perpustakaan memberikan kebebasan kepada para siswa untuk berkunjung ke perpustakaan kapan pun di jam sekolah dan perpustakaan memberikan kemudahan dalam proses peminjaman buku. Dan berdasarkan pernyataan dari siswa pelayanan di perpustakaan terbilang ramah dilihat dari segi tindakan pustakawan yang membantu siswa yang kesulitan menemukan buku yang dicari. Perpustakaan di SD Negeri 1 Muara teladan menyediakan layanan yang dapat diakses secara bebas. Setiap hari, para siswa yang datang berkunjung memiliki kebebasan untuk memanfaatkan fasilitas dan layanan yang tersedia di perpustakaan. Akses layanan yang terbuka ini dibuat untuk memudahkan pengunjung dalam menjelajahi koleksi yang diinginkan serta memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan dengan lebih nyaman dan efisien. Layanan yang ramah dan peminjaman koleksi yang mudah membuat para siswa betah dan nyaman serta dengan senang hati datang ke perpustakaan. Hal ini dapat menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh perpustakaan guna meningkatkan minat baca para siswanya. Koleksi Koleksi adalah bahan bacaan yang harus tersedia untuk mendukung layanan perpustakaan. Koleksi di perpustakaan sebaiknya menarik perhatian dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna agar dapat memotivasi pengunjung untuk membaca. Selain itu, koleksi perpustakaan sekolah perlu dirancang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, yang terdiri dari buku pelajaran, buku cerita, buku non fiksi dan buku-buku lainnya. Seperti yang di sampaikan oleh pustakawan, mengemukakan bahwa: “ada banyak buku yang disediakan oleh perpustakaan. Koleksi buku di perpustakaan berjumlah sekitar 3.000 eksemplar yang terdiri dari buku pelajaran, buku cerita, buku non fiksi dan buku lainnya. Koleksi buku di perpustakaan ini bebas dipinjam sesuai dengan kebutuhan siswa dengan jangka waktu pinjam selama tiga hari, tetapi apabila lebih dari tiga hari maka akan dikenakan denda sebesar Rp.1.000 perhari.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan siswa SD Negeri 1 Muara Teladan, yang mengatakan bahwa: “ada banyak sekali buku di perpustakaan, jadi saya biasanya pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah karena di perpustakaan bukunya lengkap.” (Febbi) “di perpustakaan ada banyak buku cerita, saya biasanya mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku cerita karena banyak sekali pilihan.” (Aksan) “buku-buku pelajaran di perpustakaan sangat lengkap, begitu juga buku ceritnya. Saya biasanya membaca buku-buku cerita bergambar.” (Naufal) Berdasarkan kutipan dari informan di atas terkait jumlah koleksi yang ada di perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan mencapai 3.000 eksemplar dari berbagai jenis seperti buku pelajaran, buku cerita, buku non fiksi dan buku lainnya. Peminjaman buku diberikan jangka waktu pinjam selama tiga hari dan dikenakan denda sebesar Rp. 1.000 perhari apabila buku belum dikembalikan lebih dari tiga hari. Buku perpustakaan memiliki jumlah koleksi paling sedikit 1.000 judul (Perpustakaan Nasional RI, 2019). Berdasarkan pernyataan tersebut jumlah koleksi buku di perpustakaan SD Negeri 1 Muara Teladan sudah memenuhi standar perpustakaan nasional RI yakni lebih dari 1.000 judul buku, di mana jumlah koleksi buku perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan lebih dari 3.000 judul. Koleksi buku di perpustakaan di SD Negeri 1 Muara teladan bebas dipinjam sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan menyediakan berbagai jenis koleksi agar menarik minat siswa untuk membacanya. Dengan adanya koleksi berbagai jenis tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan berperan meningkatkan minat baca siswa. Anggaran Perpustakaan Anggaran perpustakaan adalah rencana keuangan yang disusun oleh pihak pengelola perpustakaan untuk mengatur semua sumber daya dan dana yang dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan perpustakaan. Anggaran ini berfungsi sebagai panduan dalam mengalokasikan dana untuk berbagai keperluan operasional perpustakaan, seperti pengadaan buku, pemeliharaan fasilitas, program kegiatan dan kebutuhan lainnya. Seperti yang dinyatakan oleh pustakawan, yang mengemukakan bahwa: “sumber dana di perpustakaan ini berasal dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang digunakan untuk membeli perlengkapan perpustakaan, pengembangan koleksi dan perbaruan atau penambahan buku pelajaran setiap pergantian kurikulum. Dan ada juga baru-baru ini bantuan dari pemerintah yakni DAK (Dana Alokasi Khusus) yang berupa pengadaan buku-buku cerita, buku non fiksi dan buku lainnya. Dengan adanya bantuan tersebut koleksi buku di perpustakaan lebih beragam, dengan begitu dapat menarik minat siswa agar aktif berkunjung ke perpustakaan.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Berdasarkan wawancara dengan informan bahwa anggaran untuk pengembangan perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan berasal dari dana BOS yang digunakan untuk membeli perlengkapan, menambah koleksi buku dan perbaruan buku pelajaran yang dilakukan setiap pergantian kurikulum. Selain itu ada juga bantuan dari pemerintah yakni DAK berupa pengadaan buku-buku cerita, buku non fiksi dan buku lainnya. Kedua bantuan ini sangat membantu dalam pengembangan untuk meningkatkan kualitas perpustakaan ini agar dapat mendukung proses pembelajaran, memperluas pengetahuan dan menjadi sumber informasi bagi siswa maupun guru. Dengan adanya bantuan ini koleksi buku di perpustakaan menjadi lebih beragam dan dapat menarik minat siswa lebih sering berkunjung dan senang membaca buku di perpustakaan. Anggaran memiliki peran vital dalam kemajuan perpustakaan karena berfungsi sebagai sumber pembiayaan untuk pengadaan, perawatan, dan pengembangan. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan pengguna, seperti menyediakan tempat layanan cepat dan akurat, serta koleksi yang lengkap. Sumber dana pengembangan perpustakaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan dikelola oleh pihak pengelola perpustakaan (Munir, 2021). Pengembangan perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan didapat dari 2 sumber dana bantuan untuk mengembangkan perpustakaan dari pengadaan koleksi demi mewujudkan kebutuhan pengguna agar dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Kegiatan Perpustakaan Kegiatan di perpustakaan merupakan aktivitas yang dirancang untuk membantu pengunjung mendapatkan informasi, meningkatkan minat baca dan mendukung proses belajar. Aktivitas ini dapat berupa layanan sehari-hari, seperti kunjungan ke perpustakaan, peminjaman buku, hingga mengadakan program untuk menarik minat dan perhatian pengunjung, hal tersebut dilakukan oleh perpustakaan agar dapat mendorong siswa untuk datang ke perpustakaan. Seperti pernyataan pustakawan, beliau mengemukakan bahwa: “upaya yang dilakukan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa yaitu dengan mengadakan beberapa kegiatan yang bekerja sama dengan para guru. Pertama mengadakan kegiatan untuk siswa kunjungan rutin ke perpustakaan, di mana setiap per kelas memiliki jadwal kunjungan yang sudah diatur sehingga bisa secara bergiliran menikmati fasilitas yang ada di perpustakaan. Yang kedua setiap setahun sekali perpustakaan juga mengadakan kegiatan membaca buku cerita atau mendongeng dan lomba membuat dan menghias mading, untuk memperingati hari literasi nasional.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan dari guru dan siswa SD Negeri 1 Muara Teladan, yang mengatakan bahwa: “ya, kami para guru bekerja sama dengan pihak perpustakaan mengadakan kegiatan rutin untuk siswa mengunjungi perpustakaan, tujuannya untuk mengarahkan siswa untuk membaca buku yang relevan dengan pelajaran di kelas dan untuk memperkenalkan mereka pada berbagai jenis literatur yang sesuai dengan usia mereka.” (Ibu Iismawati wali kelas VI) “iya, ada. setiap hari senin jadwal kelas kami kunjungan ke perpustakaan, biasanya saya mencari dan membaca buku-buku dongeng atau cerita bergambar. Kadang juga membaca buku pelajaran.” (Febbi) “ya ada, setiap setahun sekali ada kegiatan membaca buku cerita dan lomba membuat mading.” (Aksan) Berdasarkan wawancara dengan para informan di atas yang menyatakan bahwa perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan mengadakan beberapa kegiatan di antaranya adanya jadwal para siswa per kelas mengunjungi perpustakaan secara rutin yang sudah diatur jadwalnya dengan bekerja sama dengan para guru. Kegiatan tersebut juga mendapat respon yang positif dari kalangan siswa yang terlihat antusias. Tidak hanya itu perpustakaan di SD Negeri 1 Muara teladan juga mengadakan kegiatan membaca buku cerita atau mendongeng dan lomba membuat dan menghias mading yang diselenggarakan setiap setahun sekali untuk memperingati hari literasi nasional. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya yang dilakukan perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan untuk meningkatkan minat baca siswa dan menarik perhatian siswa terhadap perpustakaan. Kendala yang Dihadapi Perpustakaan menghadapi beberapa kendala dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan, di antaranya: 1. Minat Baca Siswa SD Negeri 1 Muara Teladan Minat baca yakni kecenderungan atau keinginan individu untuk membaca, yang mencakup perhatian, rasa tertarik, serta motivasi untuk terlibat dalam aktivitas membaca. Minat baca sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat keterampilan membaca, jenis bacaan yang disukai, serta faktor sosial dan lingkungan yang mendukung kegiatan membaca. Minat baca yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan literasi seseorang dan memperluas pengetahuan serta wawasan. Pembahasan tersebut diperkuat oleh Sadirman (2015) yang menyatakan bahwa minat baca sebagai daya tarik yang kuat terhadap kegiatan membaca, yang menyebabkan individu merasa nyaman dan terlibat dalam proses membaca. Minat baca ini sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan belajar dan memperluas cakrawala pengetahuan seseorang. Seperti yang di sampaikan oleh informan, yang mengemukakan bahwa: “perpustakaan telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan minat baca siswa, mulai dari menyediakan koleksi buku yang beragam, menciptakan lingkungan yang nyaman hingga mengadakan berbagai program kegiatan di perpustakaan. Namun, kenyataannya masih ada siswa yang menunjukkan sikap malas untuk membaca.” (Ibu Linda selaku pustakawan) “minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara teladan ini masih tergolong rendah dilihat dari beberapa indikator. Misalnya sangat sedikit siswa yang memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca buku di luar jam pelajaran. Selain itu, mereka lebih sering menghabiskan waktu luang dengan bermain dengan teman-temannya.” (Ibu Iismawati wali kelas VI) Berdasarkan pernyataan dari informan di atas yang menyatakan bahwa minat baca siswa di Sekolah Dasar Negeri 1 Muara Teladan masih tergolong rendah. Dilihat dari minat individu siswa, karena banyak di antara siswa lebih memilih meluangkan waktu untuk bermain dengan teman-temannya daripada meluangkan waktu pergi ke perpustakaan atau membaca buku di sana. Rendahnya minat baca siswa disebabkan siswa kurang memiliki perasaan, perhatian terhadap buku dan manfaat membaca. Kondisi ini disebabkan karena kesadaran siswa untuk membaca masih rendah. Rendahnya minat membaca ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor Internal dan Eksternal. Temuan ini sejalan dengan pendapat (Prasetyono, 2008: 29), yang menyatakan bahwa minat baca siswa yang rendah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal), maupun yang berasal dari lingkungan di luar siswa (faktor eksternal). Faktor Internal yang memengaruhi rendahnya minat membaca siswa mencakup keterbatasan kemampuan membaca dan kurangnya kebiasaan membaca. Siswa yang belum memiliki kemampuan membaca yang baik akan mengalami kesulitan dalam kelancaran membaca, yang pada akhirnya dapat mengurangi minat mereka untuk membaca. Dan salah satu faktor internal yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa yakni siswa lebih memilih banyak bermain ketimbang membaca buku di perpustakaan. Minat membaca merupakan motivasi yang kuat yang mendorong seseorang untuk meluangkan waktu membaca. Individu dengan minat membaca yang besar akan terlihat dari kesediaannya untuk dengan sengaja menyisihkan waktu agar dapat membaca secara rutin (Rahim, 2008: 28). Faktor Eksternal yang menyebabkan rendahnya minat membaca pada siswa yakni pergaulan yang meliputi pengaruh teman sebaya. Anak-anak cenderung mengikuti kebiasaan teman-temannya. Jika dalam kelompok pergaulan mereka kegiatan membaca tidak dibiasakan, siswa akan lebih sulit untuk mengembangkan minat baca. Dan juga siswa cenderung lebih banyak menghabiskan waktu luang di sekolah dengan bermain dengan teman-teman dan di luar jam sekolah bermain gadget, menonton video, mengakses media sosial dan kegiatan lain yang tidak melibatkan buku serta cenderung mengabaikan kegiatan membaca buku. 2. Kurangnya Anggaran Perpustakaan Salah satu kendala yang dihadapi oleh perpustakaan di SD Negeri 1 Muara teladan yaitu keterbatasan anggaran terkait sarana dan prasarana yang ada di dalam perpustakaan. Hal ini dapat memengaruhi fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan tempat meningkatkan minat baca. Beberapa dampak dari kekurangan anggaran ini meliputi peralatan dan fasilitas yang perlu diperbaiki dan kurangnya teknologi modern. Seperti yang disampaikan oleh informan, yang menyatakan bahwa: “permasalahan yang paling dasar yang dihadapai oleh perpustakaan yakni terkait fasilitas perpustakaan yang memerlukan perbaikan dan pembaruan yang sudah rusak atau tidak memadai, seperti rak buku yang rusak, kursi dan meja yang jumlahnya masih kurang serta teknologi modern seperti komputer yang terbatas. Hal ini dikarenakan kurangnya anggaran. Anggaran yang tersedia sering kali hanya mencukupi kebutuhan dasar dan mendesak, tetapi banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Berdasarkan observasi dan wawancara dengan informan bahwa perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan mempunyai kendala kurangnya anggaran terkait fasilitas perpustakaan yang memerlukan perbaikan dan pembaruan fasilitas perpustakaan yang rusak dan kurang memadai. Permasalahan tersebut dapat menghambat aktivitas siswa di perpustakaan. Contohnya rak buku yang rusak membuat akses siswa ke berbagai koleksi buku menjadi lebih sulit dan tidak nyaman. Beberapa buku bahkan tersusun tidak beraturan dan bahkan rusak. Akibatnya dapat membuat siswa menjadi malas untuk mencari buku karena harus berhadapan dengan rak yang tidak teratur. Dan juga masalah keterbatasan kursi dan meja, akibatnya banyak siswa ketika ingin membaca atau mengerjakan tugas di perpustakaan mereka sering tidak kebagian kursi dan meja. Selain itu ada kendala dalam hal teknologi modern. Komputer dan akses internet adalah kebutuhan yang penting untuk mendukung kegiatan belajar dan akses informasi siswa. Sayangnya, anggaran perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan masih terbatas, sehingga belum bisa menyediakan komputer atau mengembangkan fasilitas digital. Ini membuat perpustakaan masih tertinggal dibandingkan dengan kebutuhan siswa yang sudah semakin terbiasa dengan teknologi. 3. Kurangnya Pengelola Perpustakaan Setiap perpustakaan dikelola oleh petugas yang bertugas memberikan layanan kepada para penggunanya. Sebuah perpustakaan minimal memiliki dua orang pengelola (Munir, 2021). Perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan hanya memiliki 1 pengelola yang bertanggung jawab untuk mengelola perpustakaan. Seperti pernyataan yang dikemukakan oleh informan yakni pustakawan, yang mengemukakan bahwa: “yang bertanggung jawab mengelola perpustakaan ini hanya ada 1 pengelola yakni saya sendiri, saya yang bertanggung jawab mulai dari pengelolaan koleksi, peminjaman buku dan kegiatan yang ada di perpustakaan. meskipun begitu saya berusaha mengoptimalkan pelayanan yang baik untuk pengunjung yang datang.” (Ibu Linda selaku pustakawan) Berdasarkan wawancara dengan informan bahwa perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan hanya memiliki 1 pengelola yang bertanggung jawab pada layanan dan kegiatan yang ada di perpustakaan. Jumlah tenaga perpustakaan paling sedikit ada 2 orang (Perpustakaan Nasional RI, 2019). Hal ini merupakan salah satu perbaikan untuk perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan untuk menyediakan tenaga perpustakaan minimal ada 2 orang pengelola. Penyediaan tenaga perpustakaan tersebut dilakukan agar pelaksanaan kegiatan di perpustakaan berjalan secara optimal. Perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan memiliki tanggung jawab dan pengelola yang berperan dalam memberikan layanan kepada para pengunjung. Dengan pengelolaan yang baik, perpustakaan ini dapat berkembang optimal dan mampu memberikan layanan yang memuaskan kepada setiap pengunjung yang datang. Peran pengelola perpustakaan sangat penting dalam memastikan kelancaran kegiatan sehari-hari. Pengelola perpustakaan dituntut memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan yang berkualitas sambil menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pengunjung. Berbagai usaha terus dilakukan oleh pengelola perpustakaan SD Negeri 1 Muara Teladan untuk meningkatkan kualitas layanan dan kegiatan yang ada di perpustakaan. Peran aktif pengelola perpustakaan memiliki peran krusial dalam mewujudkan tujuan dan visi dari keberadaan perpustakaan di SD Negeri 1 Muara Teladan.

Conclusion

Perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Muara Teladan, sebagai salah satu pusat pembelajaran yang menyediakan berbagai sumber informasi dan referensi. Melalui berbagai kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung, seperti peminjaman buku, program literasi, dan kegiatan mendongeng atau membaca buku, minat baca siswa dapat ditingkatkan secara signifikan. Program-program ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenal lebih dekat dunia literasi, serta menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Namun, meskipun perpustakaan memiliki peran yang sangat besar, ada beberapa kendala yang masih perlu diatasi untuk memaksimalkan fungsinya. Salah satunya adalah minat baca siswa, dilihat dari minat individu siswa, karena banyak di antara siswa lebih memilih meluangkan waktu untuk bermain dengan teman-temannya daripada meluangkan waktu pergi ke perpustakaan atau membaca buku di perpustakaan. Rendahnya minat baca siswa disebabkan siswa kurang memiliki perasaan, perhatian terhadap buku dan manfaat membaca. Kondisi ini disebabkan karena kesadaran siswa untuk membaca masih rendah. Selain itu, fasilitas perpustakaan yang belum memadai, seperti rak buku, meja, kursi, yang kurang memadai dan kurangnya teknologi modern, dan juga kurangnya pengelola perpustakaan yang menjadi penghambat pelayanan yang optimal untuk mengelola perpustakaan.