KONTRIBUSI PROGRAM SAJABA (SATU JAM MEMBACA) TERHADAP PENINGKATAN MINAT BACA SISWA SMP NEGERI 1 CICALENGKA
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena rendahnya tingkat minat baca dan kebiasaan anak untuk membaca. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1) kontribusi program sajaba terhadap peningkatan minat baca siswa; 2) gambaran hasil pelaksanaan program sajaba; 3) gambaran minat baca siswa; 4) kontribusi kegiatan membaca, 5) mereviu, dan 6) menceritakan kembali isi buku terhadap peningkatan minat baca siswa SMP Negeri 1 Cicalengka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa SMPNegeri 1 Cicalengka dengan sampel sebanyak 94 orang yang dihitung menggunakan rumus Slovin dan teknik sampling Proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan angket tertutup dengan skala likert. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan uji korelasi Pearson product moment dan koefisien determinasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui: 1) program sajaba memberikan kontribusi sebesar 60,84% terhadap peningkatan minat baca siswa; 2) gambaran hasil pelaksanaan program sajaba tergolong dalam kategori baik; 3) gambaran minat baca siswa tergolong dalam kategori baik; kegiatan 4) membaca buku memberikan kontribusi sebesar 48,44%; 5) mereviu buku memberikan kontribusi sebesar 35,76%; 6) menceritakan kembali isi buku memberikan kontribusi sebesar 37,21% terhadap peningkatan minat baca siswa. Dapat disimpulkan program sajaba berkontribusi kuat terhadap peningkatan minat baca siswa SMP Negeri 1 Cicalengka. Rekomendasi untuk penelitian ini yaitu guru diharapkan dapat melakukan kegiatan sajaba bersama dengan siswa selama kegiatan itu berlangsung di kelas, baik kegiatan membaca ataupun kegiatan mereviu buku, agar siswa merasa lebih termotivasi dalam melakukan kegiatan tersebut.
Abstract
Background of this research is the phenomena that shows us about the lack of reading interest and reading habbit of students. This research aims to 1) determine the contribution of SAJABA Program to increasing reading interest of SMPN 1 Cicalengka students, 2) determine result description of sajaba program implementation, 3) determine description of students' reading interest, 4) determine contribution of reading activity, 5) books reviuing, and 6) books retelling. This research is done by using quantitative approach with descriptive method. The research population is all of students of SMPN 1 Cicalengka. Meanwhile, the samples are 94 students measured by Proportionate stratified random sampling technique with Slovin formula. Closed quissionaire with Likert scale is chosen as data collecting technique. Descriptive analyizing with Pearson product moment and coefficient of determination are chosen as data analyizing technique. The result shows that 1) SAJABA Program has contribution of 60,84% to increasing students' reading interest, 2) result description of sajaba program implementation is categorized as a “good” category, 3) description of students reading interest is categorized as a "good” category, 4) reading activity gives contribution of 48,44%, 4) book reviuing gives contribution of 35,76%, 5) books retelling gives contribution of 37,21% to increasing students' reading interest. As a conclusion, SAJABA Program has strong contribution to increasing students' reading interest. Recomendation to the research is hopefully, teachers can accompany their students when implementing sajaba program, both of reading activity or book reviuing, so that students can be more motivated to doing those activities.
Keywords:
SAJABA Program
· reading interest
· information literate
Introduction
Minat baca perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Dalam hal ini tentunya keluarga sangat berperan penting dalam proses penumbuhan minat baca karena seiring berjalannya usia anak, kebiasaan membaca pun akan semakin sulit dilakukan. Pada kenyataannya, seperti yang telah diketahui dan telah banyak dibahas di berbagai media, kebiasaan membaca orang Indonesia masih tergolong sangat rendah. Dalam artikel Website Resmi Pemerintahan Jawa Barat (Idris, 2016) disebutkan bahwa berdasarkan hasil survey UNESCO pada tahun 2011 indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. Disebutkan pula pada Maret 2016, Most Literate Nations in the World me rilis p eme ri n g k a t a n lit e r a si internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di dunia dalam berbagai survey internasional, yang memang dari tahun ke tahun belum beranjak dari tingkat bawah, salah satunya World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara. Retnaningdyah, dkk. (2016, hlm. 1) menyebutkan pula bahwa “Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh OECD (Organization for E c o n o m i c C o o p e r a t i o n a n d D e v e l o p m e n t) d a l am k e g i a t a n Programme for International Student Assessment (PISA) untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. Negara yang berpartisipasi berjumlah 69 negera. Hasilnya, PISA 2009 menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493). Sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496)”. S e b a g a i b e n t u k u p a y a peningkatan minat baca dan kemampuan literasi siswa, SMP Negeri 1 Cicalengka pun membuat program dengan nama “sajaba (satu jam membaca)”. Pasalnya berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan melalui wawancara dengan beberapa siswa, diketahui bahwa pada saat waktu luang siswa lebih senang bermain daripada membaca. Buku yang mereka baca setiap harinya pun tidak terlepas dari buku pelajaran. Bahkan salah satu anak menyebutkan bahwa waktu membacanya lebih sedikit yaitu sekitar setengah jam, dibandingkan dengan waktu untuk menonton tv dan bermain game di handphone yang jika diakumulasikan dalam sehari ia mampu menonton dan bermain game selama 5 jam. Maka dari itu pihak sekolah merasa pentingnya dibuat program sajaba ini demi meningkatkan minat baca anak. Berdasarkan masalah tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui kontribusi program sajaba ini terhadap peningkatan minat baca siswa. Dengan demikian, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kontribusi Program sajaba (satu jam membaca) Terhadap Peningkatan M i n a t B a c a S is w a S M P N 1 Cicalengka”. Kegiatan literasi bukan hanya sekedar aktivitas membaca dan menulis, tapi juga mengenai bagaimana caranya seseorang mempunyai kemampuan untuk menemukan informasi dari berbagai sumber pengetahuan yang ada dalam berbagai bentuk baik cetak maupun cetak, juga baik audio maupun visual. dan menggunakannya dalam kehidupan. Prague declaration (dalam Suherman, 2013, hlm. 175) mendefinisikan literasi informasi sebagai “Kemampuan me n g i d e n t ifi k a si , me n emu k a n , mengevaluasi, mengorganisasi, dan m e n g h a si l k a n s e c a r a e f e k t if, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi”. Melalui pengajaran literasi informasi ini peserta didik dapat menjadi siswa yang melek informasi, yaitu sebagai pembelajar yang mandiri yang kompeten. Siswa yang melek informasi akan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi, dan akan dengan mudah untuk bekerja sendiri ataupun berkelompok. Melalui pengajaran literasi ini diharapkan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan akademiknya ke dalam kehidupan nyata. Lit e r a si informa si t entunya memberikan manfaat bagi setiap orang, begitu pula bagi siswa dan guru. Mereka akan menguasai materi dalam proses belajar mengajar. Selain itu juga siswa akan mampu belajar secara mandiri tanpa harus menunggu pemberian materi dari guru. Siswa dapat belajar secara mandiri dengan kemampuan literasi yang dimilikinya. Kemampuan untuk mencari dan belajar melalui berbagai sumber informasi yang ada. Pendidikan berperan dalam menjadikan seseorang literat yaitu orang yang terpelajar dalam memanfaatkan informasi. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. GLS ini berbentuk suatu kegiatan yang melibatkan warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid siswa), akademisi, penerbit, media massa, masyarakata, dan pemangku kepentingan. “Literasi sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara” (Retyaningdyah, dkk., 2016, hlm. 2). Dalam pelaksanaannya GLS dibagi kedalam tiga tahap yaitu: (a) Tahap pembiasaan Tahap pembiasaan terfokus pada menjadikan kegiatan menjadi kegiatan yang menyenangkan di sekolah, dengan tujuan untuk menumbuhkan minat baca dalam diri warga sekolah. Dalam mengembangkan kemampuan l i t e r a si sis w a t e n t u n y a penumbuhan minat baca ini merupakan suatu hal yang mendasar. (b) Tahap pengembangan Tahap pengembangan ini terfokus pada mengembangkan minat baca yang dimiliki siswa untuk meningka tkan kemampuan literasinya. Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan m e m a h a m i b a c a a n d a n mengaitkan dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan m e n g o l a h k e m a m p u a n komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi buku bacaan pengayaan. (c) Tahap pembelajaran Tahap ini merupakan tahap pengembangan dari tahap-tahap selanjutnya. Pada kegiatan literasi tahap ini, siswa tidak hanya melakukan kegiatan menanggapi buku teks bacaan pengayaan, tetapi juga buku pelajaran. dalam tahap ini terdapat tagihan yang sifatnya akademis terkait dengan mata pelajaran. Berbeda dengan kedua tahap sebelumnya, buku laporan kegiatan membaca pada tahap pembelajaran disediakan oleh wali kelas.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Setelah data diperoleh kemudian data tersebut ditabulasi secara sistematis dan dideskripsikan untuk mendapatkan gambaran hasil penelitian dengan menggunakan tabel frekuensi dari presentase variabel dan pernyataan responden. Penguji an hipot e sis da l am penelitian dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya kontribusi variabel X (program sajaba) terhadap variabel Y(minat baca siswa) Rumus uji korelasi Pearson Product Moment (Sugiyono, 2012, hlm. 183) Setelah dilakukan uji hipotesis, selanjutnya uji determinasi untuk mengetahui seberapa besar kontribusi antar variabel dalam penelitian ini. Rumus uji determinasi
Result & Discussion
Pembahasan hasil penelitian bertujuan untuk menjelaskan temuan yang didapat dari hasil pengolahan data dan analisis data. Temuan ini akan menjawab hipotesis yang telah diajukan dan rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini. 1. Rumusan Masalah Umum Berikut tabel hasil uji korelasi variabel X (program sajaba) dengan Y (minat baca siswa) menggunakan software SPSS versi 16. Rumusan masalah umum dalam penelitian ini mengkaji tentang kontribusi program sajaba terhadap peningkatan minat baca siswa. Berdasarkan hasil analisis korelasi antara variabel X dengan Y pada tabel diatas diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka terdapat korelasi antara kedua variabel. Nilai r sebesar 0,780 dan nilai determinasi sebesar 60,84%. Jadi dapat disimpulkan bahwa program sajaba berkontribusi kuat terhadap peningkatan minat baca siswa SMPNegeri 1 Cicalengka dengan besaran kontribusi sebesar 60,84%. Secara garis besar program sajaba sudah dapat meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi informasi siswa. Hal ini dibuktikan dengan siswa yang sudah mulai merasa senang membaca di luar jam pelajaran, baik itu di sekolah, di rumah, ataupun di tempat lainnya. Selain itu kemampuan literasi informasi siswa dalam hal menemukan informasi yang terkandung dalam bacaan dan mampu menanggapi bacaannya secara lisan ataupun tulisan sudah tergolong baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah buku yang dibaca dan direviu oleh siswa selama satu semester paling sedikit berjumlah 10 buku dan rata-rata siswa mampu membaca dan mereviu buku sebanyak 20 buku. Bahkan terdapat siswa yang mampu membaca dan mereviu buku sebanyak 54 buku selama satu semester. Dari buku yang direviu tersebut siswa dapat menemukan informasi yang terkandung dalam buku dan dapat menganalisis isi buku tersebut. Siswa juga memiliki antusias yang baik ke tika guru memint anya untuk menanggapi buku secara lisan. Terbukti ketika guru meminta, siswa langsung bersedia untuk menanggapi buku yang telah dibaca di depan siswa lain dengan penuh percaya diri. Salah satu faktor yang menjadi pemicu meningkatnya minat baca anak melalui program sajaba yaitu adanya pemberian reward kepada siswa yang mampu mereviu buku paling banyak diantara siswa lainnya. Sebagaimana diungkapkan oleh koordinator program sajaba pada saat wawancara “Dalam kegiatan program sajaba ada pemberian reward kepada siswa yang paling banyak mereviu buku diantara siswa yang lain. Ha l ini s e l a in s ebaga i bentuk pengahargaan kepada siswa yang berhasil, juga sebagai motivasi pada siswa lainnya untuk membaca dan mereviu buku lebih banyak lagi”. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa terbukti program sajaba memberikan kontribusi yang kuat pada peningkatan minat baca siswa. Selain itu juga program sajaba dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa. 1. Rumusan Masalah Khusus Adapun yang menjadi rumusan masalah khusus dalam penellitian ini yaitu: (1) gambaran hasil pelaksanaan program sajaba; (2) gambaran minat baca siswa SMP Negeri 1 Cicalengka; (3) kontribusi kegiatan membaca buku terhadap peningkatan minat baca siswa SMP Negeri 1 Cicalengka; (4) kontribusi kegiatan mereviu buku terhadap peningkatan minat baca siswa SMP Negeri 1 Cicalengka; (4) kontribusi kegiatan men5eritakan kembali isi buku terhadap peningkatan minat baca siswa SMPNegeri 1 Cicalengka. 1) Gambaran hasil pelaksanaan program sajaba B e r d a s a r k a n h a si l penelitian dan analisis data diketahui bahwa pelaksanaan program sajaba sudah berada pada kategori baik. Kegiatan pertama yang dilakukan oleh siswa yaitu membaca buku menggunakan teknik membaca dalam hati. Dari data penelitian diketahui bahwa sebelum membaca, sebagian besar siswa melakukan kegiatan peninjauan terlebih dahulu terhadap buku yang akan dibaca melalui sinopsis yang ada di sampul belakang buku dan daftar isi yang ada dalam buku. Setelah siswa membaca, selanjutnya dilakukan diskusi antara guru dan siswa tentang buku yang dibaca. Diikuti dengan kegiatan menulis dalam bentuk mereviu buku dan kegiatan berbicara dalam bentuk menceritakan kembali isi buku untuk lebih memperdalam pemahamannya terhadap buku yang telah dibaca. Melalui kegiatan mereviu, diketahui bahwa siswa sudah m e m i l i k i k e m a m p u a n memahami bacaan yang baik. s e b a g i a n b e s a r s i s w a mengatakan bahwa ia merasa percaya diri ketika diminta untuk bercerita di depan temantemannya. 2) Gambaran minat baca siswa Dalam penelitian ini penilaian minat baca mengacu pada aspek minat baca menurut Harris and Sipay (dalam Nursalina dan Budiningsih, 2014, hlm. 3) Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa sebagian besar siswa SMP Negeri 1 Cicalengka memiliki minat baca yang tergolong baik. Berikut uraian hasil penilaian terhadap setiap aspek membacanya setiap hari. Hal ini membuktikan memang benar adanya bahwa siswa memiliki tingkat rasa senang yang baik, baik saat membaca ataupun setelah membaca. a) Aspek kesadaran akan manfaat membaca Sebagian besar siswa termasuk dalam kategori sangat baik dalam hal menyadari akan pentingnya membaca. Hal ini berdasarkan data yang diperoleh bahwa siswa sadar, tahu, dan paham bahwa membaca buku d a p a t m e n a m b a h i l m u pengetahuan, membuat pintar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akan mendapatkan kata-kata baru, dapat menjadikan pribadi yang memiliki ide kreatif, dapat memperluas pengalaman, dan sadar bahwa membaca merupakan kegiatan yang positif untuk mengisi waktu luang. b) Aspek perhatian terhadap membaca buku Berdasarkan data yang telah diperoleh diketahui sebagian besar siswa memiliki perhatian yang baik ketika membaca buku. Dibuktikan dengan keadaan yang berisik siswa tetap dapat fokus membaca buku dan akan lupa waktu jika membaca buku yang disenanginya. Terlebih lagi siswa lebih tertarik membaca buku daripada menonton. Meskipun begitu terdapat pula siswa yang menjawab raguragu pada pernyataan mengenai perhatian siswa akan hilang bila ada tayangan yang menarik di TV. Jadi pada dasarnya siswa memang lebih tertarik membaca buku daripada menonton tv, tetapi tidak dapat dipungkiri ketika terdapat tayangan yang menarik di TV perhatian siswa ketika membaca buku akan langsung teralihkan. Sebagian besar siswa tertarik terhadap buku bacaan apapun. Te t a p i s i s w a m e m i l i k i ketertarikan yang lebih terhadap buku yang memang belum pernah dibaca sebelumnya dan buku yang jenisnya memang ia senangi. c) Aspek rasa senang Berdasarkan data yang diperoleh siswa memiliki tingkat rasa senang yang baik terhadap kegiatan membaca buku. Hal ini dapat diketahui dari jawaban siswa bahwa membaca buku dapat membuat senang dan dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Sebagian besar siswa mengatakan bahwa membaca buku dapat membuat dirinya senang dan memberi kepuasan tersendiri. Siswa akan merasa lebih senang jika ia memiliki banyak buku bacaan dan dapat membacanya setiap hari. Hal ini membuktikan memang benar adanya bahwa siswa memiliki tingkat rasa senang yang baik, baik saat membaca ataupun setelah membaca. d) Aspek frekuensi Berdasarkan data yang diperoleh siswa memiliki tingkat frekuensi yang baik dalam hal membaca. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar siswa dapat membaca buku minimal 10 buku. Selain itu juga sebagian besar siswa dapat membaca buku selain buku pelajaran sebanyak dua kali dengan durasi minimal 15 menit setiap kali membaca.
Conclusion
1. Simpulan Umum Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan diketahui bahwa program sajaba memberikan kontribusi yang kuat terhadap peningkatan minat baca siswa. Kuatnya kontribusi ini dapat dilihat dari pencapaian siswa yang baik dalam kegiatan sajaba, baik kegiatan membaca, mereviu buku, ataupun kegiatan menceritakan kembali isi buku. Siswa sudah mampu menanggapi buku baik secara lisan ataupun tulisan. Sehingga dapat disimpulkan kemampuan literasi siswa pun sudah tergolong baik. 2. Simpulan Khusus a. B e r d a s a r k a n h a si l penelitian dan analisis data diketahui bahwa pelaksanaan program sajaba sudah dapat dikatakan baik. Hal ini dilihat d a ri t u j u a n p e l a k s a a n program sajaba yang sudah dapat tercapai. Siswa sudah senang melakukan kegiatan memb a c a d i l u a r j am pelajaran. Kemampuannya dalam menanggapi buku pengayaan sudah dapat dilakukan baik secara lisan ataupun tulisan. b. B e r d a s a r k a n h a si l penelitian dan analisis data diketahui bahwa siswa memiliki minat baca yang tergolong dalam kategori baik. Rasa senang untuk membaca dimanapun dan kapanpun di lua r j am pelajaran sekolah sudah mulai tertanam dalam diri siswa. c. B e r d a s a r k a n h a si l penelitian dan analisis data diketahui bahwa kegiatan membaca buku memberikan kontribusi yang kuat terhadap peningkatan minat baca siswa. Dapat disimpulkan bahwa proses membaca yang dilakukan siswa sudah baik sesuai dengan tahapan tersebut. Kuatnya kontribusi juga dilihat dari pencapaian siswa yang baik dalam kegiatan membaca buku selama program sajaba dilakukan, yaitu dapat memahami isi teks dan dapat merespon dengan baik mengenai isi teks yang telah dibacanya. d. B e r d a s a r k a n h a si l penelitian dan analisis data diketahui bahwa kegiatan mereviu buku memberikan kontribusi yang cukup terhadap peningkatan minat ba c a siswa . Cukupnya kontribusi dapat dilihat dari pencapaian jumlah buku yang dapat direviu siswa.