HUBUNGAN PROGRAM 15 MEMBACA DENGAN MINAT KUNJUNG SISWA KE PERPUSTAKAAN (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 15 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini menggambarkan hubungan antara program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung, yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara kedua variabel tersebut. Jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan yang sangat rendah harus mendapat penanganan langsung oleh perpustakaan, salah satunya dengan mengadakan program upaya peningkatan minat kunjung. Permasalahan yang dikaji pada penelitian ini (1) apakah terdapat hubungan antara program 15 Membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan; (2) bagaimana gambaran pelaksanaan program 15 Membaca; (3) bagaimana gambaran minat kunjung siswa dengan adanya pelaksanaan program 15 membaca. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah sampel 78 orang. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diketahui program 15 membaca memiliki hubungan yang sangat kuat dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Hasil analisis data pun menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Kesimpulan ini berdasarkan hasil perhitungan, yaitu jumlah nilai signifikansi variabel X adalah variabel Yyang berada dalam kategori baik.
Abstract
Background of this research is the phenomena that shows us about the lack of reading interest and reading habbit of students. This research aims to 1) determine the contribution of SAJABA Program to increasing reading interest of SMPN 1 Cicalengka students, 2) determine result description of sajaba program implementation, 3) determine description of students' reading interest, 4) determine contribution of reading activity, 5) books reviuing, and 6) books retelling. This research is done by using quantitative approach with descriptive method. The research population is all of students of SMPN 1 Cicalengka. Meanwhile, the samples are 94 students measured by Proportionate stratified random sampling technique with Slovin formula. Closed quissionaire with Likert scale is chosen as data collecting technique. Descriptive analyizing with Pearson product moment and coefficient of determination are chosen as data analyizing technique. The result shows that 1) SAJABA Program has contribution of 60,84% to increasing students' reading interest, 2) result description of sajaba program implementation is categorized as a “good” category, 3) description of students reading interest is categorized as a "good” category, 4) reading activity gives contribution of 48,44%, 4) book reviuing gives contribution of 35,76%, 5) books retelling gives contribution of 37,21% to increasing students' reading interest. As a conclusion, SAJABA Program has strong contribution to increasing students' reading interest. Recomendation to the research is hopefully, teachers can accompany their students when implementing sajaba program, both of reading activity or book reviuing, so that students can be more motivated to doing those activities. Keywords:
Keywords:
SAJABA Program
· reading interest
· information literate
Introduction
Adanya sebuah perpustakaan pada setiap satuan pendidikan, termasuk jalur pendidikan sekolah merupakan suatu kebutuhan utama. Hal ini tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 45 ayat 1, yang menyebutkan bahwa: Setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, emosi, sosial, dan kejiwaan peserta didik. Sarana dan prasarana yang dimaksud meliputi: perpustakaan, laboratorium, dan sarana lain untuk menunjang kelancaran proses belajarmengajar. Setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, emosi, sosial, dan kejiwaan peserta didik. Sarana dan prasarana yang dimaksud meliputi: perpustakaan, laboratorium, dan sarana lain untuk menunjang kelancaran proses belajar-mengajar. Keberhasilan sebuah perpustakaan dapat dilihat dari jumlah kunjungan pemustaka setiap harinya. Semakin tinggi tingkat kunjung pemustaka, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan perpustakaan tersebut dalam menjalankan fungsinya. Namun untuk menjadi perpustakaan yang berhasil menarik minat kunjung pemustakanya itu sangatlah sulit. Apalagi jika perpustakaan tersebut berada di lingkungan pemustaka yang tidak suka membaca, akan sangat sulit untuk menanamkan pemikiran bahwa membaca itu adalah hal yang sangat bermanfaat bagi manusia, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang seharusnya mempunyai minat baca yang tinggi sejak usia dini. Minat kunjung perpustakaan yang tinggi tidak bisa didapatkan dengan cara yang mudah, selain harus ada kesadaran dari diri pemustaka, juga harus ada upaya yang dilakukan oleh perpustakaan yang bersangkutan, bagaimana caranya agar perpustakaan tersebut menjadi tempat yang menarik, nyaman, menyediakan informasi yang dibutuhkan pemustaka, dan tentu tujuan akhirnya adalah perpustakaan tersebut dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka. Dalam Permendikbud No.23 tahun 2 0 1 5 , d ij e l a s k a n b a hwa p e rl u diadakannya program wajib membaca sebelum hari pembelajaran. Program ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi siswa dalam penumbuhan budi pekerti dan pengembangan potensi diri secara utuh. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama bersama perpustakaan. Perpustakaan dapat dijadikan sebagai tempat atau media penyaluran program tersebut, karena pada dasarnya perpustakaan sekolah diadakan untuk memfasilitasi kebutuhan pembelajaran siswa. Perpustakaan sekolah dapat menjadi bagian dari kegiatan program wajib membaca tersebut dengan ikut andil dalam pengadaan program wajib membaca dan pengadaan koleksi bacaan untuk siswa. Salah satu sekolah yang sudah mengimplementasikan program wajib membaca sebagai salah satu program perpustakaan adalah SMP Negeri 15 Bandung. Program yang diadakan di sekolah ini dikenal dengan nama “15 Membaca”, yaitu program wajib membaca yang dibuat oleh perpustakaan SMPN 15 Bandung sejak tahun 2014. Upaya pengadaan program 15 Membaca sebagai program promosi perpustakaan SMPN 15 Bandung ini selain untuk mengimplementasikan kebijakan yang terdapat dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, program ini juga diupayakan untuk meningkatkan minat kunjung perpustakaan pada siswa SMPN 15 Bandung. Tujuan diadakannya program 15 Membaca ini adalah menumbuhkan minat baca, melestarikan budaya baca, melatih literasi informasi, menumbuhkan rasa kecintaan siswa terhadap perpustakaan terutama kebiasaan membaca. Adapun Teknis Kegiatan dari program15 Membaca ini adalah sebagai berikut: 1. Peserta didik dikondisikan oleh wali kelasnya masing-masing 2. Setiap kelas melaksanakan kegiatan sesuai dengan jadwal 3. Peserta didik membaca bahan bacaan yang telah ditentukan pustakawan (variatif) 4. Peserta didik membuat resume singkat dari buku yang telah dibaca pada buku tulis khusus yang dibawa peserta didik 5. Ha sil r e s ume b u k u a k a n ditandatangani oleh Koordinator program. 6. Pustakawan melaporkan hasil kegiatan kepada wali kelas masingma si n g . ( d i k u ti p d a ri Arsi p Perpustakaan SMPN 15 Bandung, tahun 2014) Berdasarkan uraian di atas timbul beberapa pertanyaan yang dirumuskan ke dalam rumusan masalah penelitian, secara umum yaitu “Apakah terdapat hubungan program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di perpustakaan SMPNegeri 15 Bandung?”. Sedangkan rumusan masalah yang lebih khusus adalah: 1. B a g a i m a n a g a m b a r a n p e l a k s a n a a n p r o g r am 1 5 Membaca di Perpustakaan SMPN 15 Bandung? 2. Bagaimana gambaran minat kunjung siswa kelas VIII dengan adanya pelaksanaan program 15 Membaca di Perpustakaan SMPN 15 Bandung? Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan program 15 membaca dengan minat kunjung siswa di perpustakaan. Pada masa sekarang ini, masyarakat literat dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan dunia yang pesat. Setiap orang dituntut untuk memiliki kecakapan literasi dasar dan kecakapan perpustakaan s ebaga i beka l untuk mengikuti perkembangan arus informasi dan teknologi yang sangat pesat. Menurut Clay (2011) Literasi dasar merupakan salah satu komponen dalam literasi informasi. Literasi dasar adalah k e m a m p u a n s e s e o r a n g d a l a m mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan. Kemampuan tersebut didapatkan berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan sendiri (Desain Induk Gerakan Literasi Dasar, 2016, hlm. 8). Dalam mengembangkan literasi dasar, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi tinggi, apalagi dengan adanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang memang diperuntukkan bagi masyarakat sekolah. Adapun tahapan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah meliputi tiga tahapan, yaitu tahapan pembiasaan, tahapan pengembangan dan tahapan pembelajaran. T a h a p a n p e r t a m a y a i t u membiasakan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan di sekolah. Kemudian tahapan yang kedua adalah melakukan pengembangan minat baca dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi. Dan tahapan yang terakhir yaitu t a h a p p e m b e l a j a r a n d e n g a n memanfaatkan kegiatan literasi. P r o g r am 1 5 memb a c a i n i merupakan salah satu wujud partisipasi sekolah pada Gerakan Literasi Sekolah (GLS) tersebut. Jika diliihat dari ketiga tahapan di atas, program ini lebih condong pada tahap yang pertama, yaitu tahap membiasakan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan di sekolah. Dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah disebutkan bahwa Literasi Perpustakaan (Library Literacy) memberikan pemahaman kepada seseorang tentang cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, cara memanfaatkan koleksi referensi dan koleksi periodikal, memahami klasifikasi Dewey Decimal System sebagai k l a sifi k a si p e n g e t a h u a n y a n g memudahkan pengguna perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga mengetahui dan memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah. Membaca merupakan suatu proses melisankan paparan bahasa tulis, yang disertai dengan menafsirkan makna dari tulisan tersebut. Menurut Koswara (1998) membaca adalah proses memperoleh pengertian dari kata-kata yang ditulis orang lain, yang menjadi dasar dari pendidikan awal (Abidin, 2010, hlm. 6). Kegiatan membaca tentunya harus disertai dengan pemahaman. Karena memb a c a t a n p a a d a n y a p r o s e s pemahaman tidak akan berarti apa-apa. Pada hakikatnya membaca adalah proses berpikir. Nurhadi (1987) menyatakan bahwa ketika seseorang mempunyai minat dan perhatian yang tinggi terhadap suatu bacaan, pasti akan memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap topik tersebut (Abidin, 2010, hlm. 23). Salah satu tujuan khusus dari adanya Gerakan Literasi Sekolah ini adalah memfasilitasi pembelajaran dengan mengadakan beragam buku bacaan, serta mewadahi berbagai strategi membaca. Strategi membaca ini bisa diwujudkan dengan program-program membaca yang disertai aktivitas yang dapat menarik perhatian siswa, seperti halnya kegiatan 15 membaca ini. Dalam program 15 membaca terdapat tiga tahapan, yaitu perencanaan, implementasi dan evaluasi. Menurut Sutarno (2006, hlm. 135) perencanaan merupakan perhitungan dan penentuan tentang apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Di dalamnya meliputi tempat, siapa pelaku atau pelaksana, dan bagaimana caranya mencapai tujuan itu. Tahap kedua ada l ah t ahap implementasi, yaitu tahap tindak lanjut dari sebuah rencana yang sudah disusun secara sistematis. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaaan benarbenar dianggap sudah matang dan sempurna. Menurut Nurdin (2002) implementasi adalah suatu aktivitas mewujudkan suatu sistem dengan tata cara tertentu yang disesuaikan dnegan tujuan dari perencanaan. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan (Nurdin, 2002, hlm.70). Implementasi program ini yaitu melaksanakan rancangan kegiatan yang sudah dibuat sebelumnya, dengan menerapkan aturan-aturan dan ketentuan yang berlaku. Tahap yang terakhir yaitu tahap evaluasi, Menurut Bloom (1971) Evaluasi merupakan pengumpulan hasil kerja secara sistematis, sehingga dapat ditetapkan apakah terjadi perubahan dalam diri siswa dan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa (Daryanto, 2012, hlm. 1). Evaluasi dilakukan dengan tujuan mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan program yang sebelumnya telah dilaksanakan. Selain itu, evaluasi juga bertujuan untuk mengetahui apa saja hal yang perlu ditambahkan atau dikurangi, bahkan mungkin saja program tersebut tidak efektif, maka harus ada evaluasi untuk menentukan langkahlangkah yang harus diambil selanjutnya. Program 15 membaca dilaksanakan sebagai wujud partisipasi terhadap GLS, serta sebagai upaya untuk meningkatkan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Menurut Sutarno (2006, hlm. 26-27) minat adalah kecenderungan hati yang tinggi, gairah atau keinginan dari seseorang terhadap sesuatu. Minat kunjung perpustakaan yaitu kecenderungan hati seseorang untuk d a t a n g k e p e r p u st a k a a n a g a r kebutuhannya terpenuhi, dengan memanfaatkan berbagai koleksi yang tersedia di perpustakaan. Sutarno (2006, hlm. 123) juga mengemukakan bahwa “masyarakat akan datang ke perpustakaan jika mereka (1) m e n g e t a h u i a rt i d a n m a n f a a t perpustakaan, (2) membutuhkan sesuatu di perpustakaan, (3) tertarik dengan perpustakaan, (4) merasa senang ketika berada di perpustakaan, (5) dilayani dengan baik oleh pihak perpustakaan”. Pernyataan tersebut menekankan bahwa minat kunjung perpustakaan tidak bisa datang begitu saja pada setiap orang. Dari pendapat Sutarno di atas, dapat dirumuskan tentang beberapa faktor yang mempengaruhi minat kunjung seseorang ke perpustakaan, yang pertama adalah pengetahuan tentang perpustakaan. Seseorang akan berminat mengunjungi perpustakaan apabila seseorang tersebut mengetahui apa itu perpustakaan, apa saja yang ada di dalamnya, bagaimana cara menggunakannya, apa saja fungsi perpustakaan, dan apa saja yang bisa ia dapatkan dengan datang ke perpustakaan. Faktor yang kedua yaitu kebutuhan pemustaka. Seseorang akan berminat untuk mengunjungi perpustakaan apabila seseorang tersebut mempunyai kebutuhan yang akan terpenuhi jika ia datang ke perpustakaan. Kebutuhan-kebutuhan pemustaka sangat beragam, dan perpustakaan yang baik harus bisa m e m e n u h i k e b u t u h a n s e t i a p pemustakanya. Walaupun memang sangat jarang sekali perpustakaan yang bis a menyedi akan s emua yang dibutuhkan pemustakanya, karena kebutuhan setiap pemustaka itu berbedabeda. Adapun kebutuhan pemustaka khususnya di perpustakaan sekolah meliputi kebutuhan informasi, kebutuhan referensi sumber belajar, dan kebutuhan b imb i n g a n d a n d u k u n g a n d a ri lingkungan. Faktor yang ketiga adalah layanan perpustakaan. Seseorang akan berminat mengunjungi perpustakaan jika ia menyukai layanan yang diberikan oleh perpustakaan tersebut. Di perpustakaan menyediakan berbagai layanan dengan koleksi-koleksi yang dimilikinya, pemustaka harus mengetehaui layananlayanan tersebut, agar ketika pemustaka mempunyai kebutuhan tertentu, pemustaka mengetahui apakah di perpustakaan tersebut memiliki layanan yang bisa memenuhi kebutuhannya ataukah tidak. Saat pemustaka merasa puas dengan layanan yang diberikan suatu perpustakaan, maka pemustaka tersebut akan memiliki rasa kecintaan tersediri terhadap perpustakaan tersebut, dan akan ada minat untuk kembali berkunjung ke perpustakaan tersebut ketika ia memiliki kebutuhan.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Adapun desain penelitian pada penelitian ini menggunakan desain korelasional, karena peneliti ingin membuktikan hubungan program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Jumlah populasi dalam penelitian ini cukup banyak, yaitu 349 orang yang merupakan anggota kegiatan 15 Memba c a . Kemudi an dil akukan perhitungan untuk menentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus Slovin.. Setelah dilakukan perhitungan tersebut, didapatkan hasil untuk sampel yang akan diteliti yaitu 78 orang responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuisioner/ angket yang dirancang berdasarkan variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian ini. Isi dari kuisioner dalam penelitian ini meliputi beberapa pertanyaan mengenai hubungan program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Data yang dihasilkan dari instrumen berupa angket ini adalah data yang bersifat ordinal, oleh karena itu peneliti menggunakan skala Likert untuk melakukan pengembangan instrumen. Menurut Sugiyono (2013, hlm. 93), Skala Likert dapat digunakan dalam mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu hal yang terjadi di lingkungan sosial. Dalam skala Likert terdapat mempunyai tingkatan nilai dari sangat positif sampai paling negatif, yang dapat berupa katakata seperti Sangat setuju=5; Setuju=4; Ragu-ragu=3; Tidak Setuju=2; Sangat Tidak Setuju=1.
Result & Discussion
Pada bagian ini akan dideskripsikan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis mengenai hubungan program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada kelas VIII di perpustakaan SMPNegeri 15 Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan agustus 2016, pada 78 orang responden. Untuk menjawab rumusan masalah umum, hasil penelitian berdasarkan pengujian korelasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara variabel X (15 Membaca) dengan variabel Y (Minat kunjung siswa), dengan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,822. Nilai ini jika diinterpretasikan pada kriteria pedoman koefisiensi korelasi berada pada tingkat hubungan yang sangat kuat. Sedangkan hasil uji signifikansi diketahui bahwa t > t , artinya Ho ditolak dan hitung tabel H diterima. Hal ini menunjukkan bahwa 1 terdapat hubungan yang signifikan antara program 15 Membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di Perpustakaan SMPNegeri 15 Bandung. Hubungan ini juga diperkuat dengan nilai tanggapan responden pada setiap indikator, seperti apa yang terdapat pada gambaran data yang telah dijelaskan sebelumnya. Kategori sangat baik ditunjukkan oleh indikator implementasi dengan jumlah nilai 1684. Tanggapan responden pada indikator lainnya pun termasuk pada kategori baik dengan jumlah nilai yaitu untuk indikator perencanaan 1282, indikator evaluasi 2862, indikator pengetahuan tentang perpustakaan 2571, indikator kebutuhan pemustaka 1608, dan untuk indikator layanan perpustakaan 2276. Kedua variabel dalam penelitain inipun memiliki distribusi yang normal, seperti hasil yang didapatkan dari uji normalitas, variabel X dan variabel Y memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari kriteria taraf signifiknasi yaitu 0,05. Dengan perhitungan menggunakan bantuan SPSS 22, diketahui nilai signifikansi variabel X adalah 0,200, dan nilai signifikansi variabel Y adalah 0,058. Kedua nilai ini lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dipastikan bahwa variabel X dan Y memiliki data yang berdistribusi normal. Selanjutnya adalah penjelasan hasil penelitian berdasarkan rumusan masalah khusus yang pertama, didapatkan hasil penelitian sebagai berikut: Tahap yang pertama dalam program 15 membaca adalah tahap perencanaan. Perencanaan merupakan tahap awal yang harus dilakukan dengan matang, karena di dalamnya mencakup segala hal yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan program ke depannya. Salah satu tujuan diadakannya program ini berkaitan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan, yaitu menumbuhkan kecintaan siswa terhadap perpustakaan. Perpustakaan yang banyak dikunjungi pemustaka dapat disebut perpustakaan yang be rha sil, ka r ena t e rbukti perpustakaan tersebut dapat menarik minat pemustaka untuk berkunjung dan memanfaatkan layanan-layanan yang tersedia disana. Dalam tahap perencanaan inipun ditentukan beberapa aturan yang harus diikuti anggota program 15 Membaca agar program dapat terlaksana dengan teratur dan disiplin. Program inipun dibuat di luar jam pelajaran, tidak menganggu kegiatan belajar mengajar sehingga tidak ada alasan siswa meninggalkan kelas untuk mengikuti kegiatan ini. Prosedur pelaksanaan kegiatan juga dirancang dalam tahap perencanaan, yang kemudian dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam tahap implementasi. Selanjutnya tahap yang kedua yaitu tahap implementasi, pada tahap ini ini setiap rencana yang telah disusun akhirnya dir e a lis a sikan. Untuk pelaksanaan program 15 Membaca, prosedur dibuat secara tersusun dari mulai pengecekan nama siswa, sampai dengan prosedur evaluasi hasil kerja siswa. Setiap tahapan kegiatan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, akan tetapi jika saat di lapangan ada kendala ataupun ada hal yang tidak dilaksanakan sesuai prosedur, maka hal tersebut bisa dilakukan sesuai kondisi pada saat itu. Kemudian tahap yang terakhir yaitu evaluasi, yaitu tahap pemberian nilai pada setiap hasil kerja siswa, yang kemudian nilai tersebut akan diakumulasikan pada akhir semester, dan diserahkan pada setiap wali kelas untuk dimasukkan ke dalam buku raport siswa. Pengolahan data pada setiap indikator juga menunjukkan bahwa setiap indikator berada pada kategori baik, dengan nilai yang berbeda-beda. Yang pertama, jika dilihat dari indikator perencanaan, dapat diketahui bahwa t a n g g a p a n r e s p o n d e n t e r h a d a p perencanaan program 15 Membaca berada dalam kategori baik, dengan nilai 1282. Artinya, perencanaan yang meliputi penetapan tujuan, pembuatan kebijakan untuk dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan, pembuatan pros edur pe l aks ana an kegi a t an, pembuatan jadwal kegiatan, dan pembuatan diagram penanggung jawab dan sosialisasi kegiatan pada program 15 Membaca di SMP Negeri 15 Bandung sudah baik. Kedua, jika dilihat dari indikator implementasi dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator implementasi berada dalam kategori sangat baik dengan nilai 1684. Artinya, implementasi program 15 Membaca yang meliputi siswa datang 15 menit sebelum kegiatan dimulai, pembukaan kegiatan, pengecekan daftar hadir, instruksi bahwa kegiatan akan dimulai, pembagian buku/ bahan bacaan, 20 menit untuk membaca, pengawasan koordinator, buku/bahan bacaan dikumpulkan kepada koordinator, 10 menit untuk menuliskan pemahaman siswa , presentasi , sampai pada kalimat penutup kegiatan sudah sangat baik dan sudah sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Ketiga, jika dilihat dari indikator evaluasi dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator evaluasi berada dalam kategori baik, dengan nilai 2862. Artinya, evaluasi pada program 15 Membaca yang meliputi pemberian nilai, memberi stempel / cap, memasukan nilai pada daftar nilai, dan penyerahan nilai akhir kepada wali kelas sudah baik karena evaluasi yang dijalankan oleh pustakawan sudah dilakukan dengan baik dan sesuai prosedur. Keempat, jika dilihat dari indikator pengetahuan tentang perpustakaan dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator pengetahuan tentang perpustakaan ini berada dalam kategori yang baik, dengan nilai 2571. Artinya, pengetahuan siswa tentang perpustakaan termasuk mengetahui tentang definisi perpustakaan sekolah dan fungsi perpustakaan sekolah sudah baik, karena berdasarkan hasil angket yang terkumpul, 82,31% siswa menyetujui beberapa pernyataan benar tentang definisi dan fungsi perpustakaan sekolah. Kelima, jika dilihat dari indikator kebutuhan pemustaka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator kebutuhan pemustaka berada pada kategori baik, dengan nilai 2276. Artinya, kebutuhan pemustaka di SMP Negeri 15 bandung, meliputi kebutuhan informasi, kebutuhan referensi belajar, kebutuhan bimbingan dan dukungan sudah baik karena siswa sudah mulai mencari berbagai informasi dengan memanfaatkan berbagai koleksi dan layanan yang tersedia di perpustakaan. Siswa juga sudah sangat memahami tentang bagaimana menjadi pemustaka yang baik, siswa pun sudah bisa berbagi informasi tentang peraturan-peraturan dan hal lainnya yang berkaitan dengan perpustakaan. Keenam, jika dilihat dari indikator yang terakhir yaitu layanan perpustakaan, dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator layanan perpustakaan berada pada kategori baik, dengan nilai 2276. Artinya, layanan p e r p u st a k a a n y a n g t e rs e d i a d i perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung sudah baik dan sudah bisa memenuhi kebutuhan pemustaka, termasuk kebutuhan kegiatan belajar mengajar dan kebutuhan lainnya yang dapat ditunjang dengan keberadaan perpustakaan sekolah sudah terlaksana dengan baik
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat “Hubungan antara program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung”. Hasil perhitungan uji korelasi dan signifikansi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan di Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan derajat hubungan yang sangat kuat. Perencanaan program 15 membaca mengacu pada Permendikbud No.23 tahun 2015 yang menjelaskan bahwa perlu diadakannya program wajib membaca sebelum hari pembelajaran. Program ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi siswa dalam p e n umb u h a n b u d i p e k e rti d a n pengembangan potensi diri secara utuh. Program 15 membaca ini diadakan sebagai bentuk partisipasi sekolah dalam i m p l e m e n t a si d a r i k e b i j a k a n Pe rme n d i k b u d t e rs e b u t. Ta h a p implementasi program 15 membaca dilaksanakan sesuai aturan yang telah dibuat pada tahap perencanaan, begitupun dengan tahap evaluasi yang mengikuti prosedur-prosedur yang telah disepakati. Ketiga tahapan ini sesuai dengan teoriteori yang berkaitan dengan perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang disampaikan oleh beberapa ahli. M i n a t k u n j u n g sis w a k e perpustakaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, dalam penelitian ini dipertanyakan apakah adanya program 15 membaca berhubungan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan ataukah tidak. Dari hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara program 15 membaca dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan.