Kembali
16
1
2025 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 16 · 2 ISSN 2715-274X

Pengembangan Layanan Gendis Sewu dengan Pendekatan SORuntuk Meningkatkan Literasi Anak

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Abstrak

Kondisi membaca masyarakat Indonesia cukup memprihatinkan berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa Indonesia di urutan ke-72 dari 78 negara. Berdasarkan survey Badan Pusat Statistik tahun 2018 bahwa membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia karena lebih suka mendapat informasi dan hiburan melalui media elektronik. Disimpulkan bahwa literasi belum mengakar kuat pada bangsa kita. Rendahnya indeks literasi menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut mendorong pemerintah Kota Surabaya bertanggung jawab menghidupkan kembali literasi salah satunya melalui layanan Gendis Sewu (Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu) di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya sejak tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan layanan Gendis Sewu dengan pendekatan SOR. Penelitian dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Metode penelitian ini dengan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengembangan yang dilakukan pengelola dikatakan maksimal dibuktikan dengan meningkatnya jumlah peserta Gendis Sewu dari tahun 2019 hingga 2023 serta jumlah karya yang dihasilkan setiap peserta. Pengembangan layanan Gendis Sewu melalui pemberian Stimulus berupa motivasi dan dukungan oleh pengelola profesional yang menyesuaikan dengan usia Organism nya sehingga mendapat Response yang diharapkan. Terdapat hambatan dalam kegiatan Gendis Sewu secara teknis, fisik dan psikologi

Abstract

The reading condition of Indonesian people is quite alarming based on the results of the Program for International Student Assessment (PISA) study in 2018 which states that Indonesia is ranked 72nd out of 78 countries. Based on a survey by the Central Bureau of Statistics in 2018, reading has not become a culture of Indonesian society because they prefer to get information and entertainment through electronic media. It is concluded that literacy has not been deeply rooted in our nation. The low literacy index leads to the low quality of human resources. This has encouraged the Surabaya City government to take responsibility for reviving literacy, one of which is through the Gendis Sewu service (Storytelling and Writing One Thousand Movement) at the Surabaya City Library and Archives Office since 2019. The purpose of this research is to find out the development of Gendis Sewu services with the SOR approach. The research was conducted at the Surabaya City Library and Archives Office. This research method is descriptive qualitative. Data collection techniques through observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that the development carried out by the manager is said to be maximized as evidenced by the increasing number of Gendis Sewu participants from 2019 to 2023 and the number of works produced by each participant. The development of Gendis Sewu services through providing Stimulus in the form of motivation and support by professional managers who adjust to the age of the Organism so that it gets the expected Response. There are obstacles in Gendis Sewu activities technically, physically and psychologically.</p>
Keywords: Gendis Sewu · Literasi Anak · Teori Stimulus Organism Respons

Introduction

Kondisi Membaca masyarakat Indonesia cukup memprihatinkan seperti yang dinya-takan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 menunjukan bahwa Indonesia berada di urutan ke-72 dari 78 negara (McComas, 2019), bahwa membaca bangsa kita masih tergolong rendah. Dikutip pada laman data.kompas.id (2022) menurut survey Badan Pusat Statistik tahun 2018 bahwa membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia karena lebih suka mendapat informasi dan hiburan melalui media elektronik. Bisa disimpulkan bahwa literasi pada bangsa kita belum mengakar kuat dikarenakan menonton atau mendengar merupakan sesuatu yang disukai masyarakat dibandingkan dengan membaca dan menulis.Literasi merupakan serangkaian kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis dan berbahasa lisan untuk diman-faatkan sepanjang hayat dalam kehidupan bermasyarakat (Widyastuti, 2018). Berliterasi perlu dilakukan sejak usia dini karena sangat berdampak positif untuk kedepannya. Namun menanamkan literasi pada anak tidak mudah, dimana anak memerlukan pendukung dan motivasi untuk melakukan literasi (Hafifah et al., n.d.). Salah satu penyedia sumber literasi adalah perpustakaan (Ranem et al., 2022). perpustakaan umum sebagai salah satu forum informasi yang memiliki kewajiban dan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dan upaya dalam meningkatkan literasi (Winastwan & Fatwa, 2020).Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya sebagai perpustakaan umum Kota Surabaya yang menciptakan inovasi layanan dalam meningkatkan literasi salah satunya layanan Gendis Sewu (Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu) yang dirilis sejak tahun 2019. Layanan Gendis Sewu merupakan komitmen Pemerintah Kota Surabaya untuk menghidupkan kembali dongeng. sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Pemerintah Kota Surabaya Nomor: 041/5110/436.720/2019 Tentang Standar Pelayanan Gendis Sewu (Gerakan Pendongeng Dan Penulis Seribu) yang menjelaskan bahwa standar pelayanan ditetapkan sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas penyeleng-garaan Program Gendis Sewu. Program layanan Gendis Sewu merupakan pembelajaran yang diberikan kepada masyarakat kota Surabaya dalam menulis dan mendongeng. Peserta dari Gendis Sewu sendiri berasal dari peserta didik dari beberapa kemitraan yang terdaftar melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya, perpustakaan kelurahan club literasi dan PAUD. Pembelajaran Gendis Sewu tidak terbatas pada pembelajaran di kelas namun terdapat pendampingan dalam membuat hasil karya video dongeng, antologi cerpen, mengikuti lomba mendongeng dan menulis serta pengalaman mendongeng ditanam, radio, acara kedinasan hingga menjadi pendongeng dan penulis berkarakter. Kegiatan Gendis Sewu diadakan di Perpus-takaan Rungkut, Perpustakaan Balai Pemuda, Taman baca masyarakat. Alur pembelajaran Gendis Sewu meliputi: pembukaan, pembela-jaran, penutupan serta penyerahan hasil karya peserta Gendis Sewu. Gendis Sewu saat ini telah mencapai 4477 peserta dari tahun 2019 hingga 2023. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pengelola layanan Gendis Sewu menyatakan bahwa tidak semua peserta Gendis Sewu memiliki rasa percaya diri untuk menulis dan mendongeng terutama dari kalangan anak-anak. Hal inilah yang kemudian penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana pengembangan layanan Gendis Sewu yang dilakukan Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Surabaya dalam menstimulasi anak ber literasi daripada menonton melalui kajian model komunikasi teori SOR (Stimulus, Organism, Response) diungkapkan oleh Hovland et.al, 1953 (Abidin, 2022). Penulis melakukan analisis terhadap beberapa penelitian terdahulu. Penelitian pertama merupakan penelitian yang dilakukan oleh (Pahlawan et al., 2023) dalam artikel jurnal yang berjudul Strategi Peningkatan Budaya Literasi Melalui Program Gendis Sewu di Perpustakaan Rakyat Pagesangan Kota Surabaya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses manajemen strategi yang dilakukan oleh Perpustakaan Rakyat Pagesangan di Kecamatan Jambangan Kota Surabaya dalam meningkatkan budaya literasi melalui program Gendis Sewu. Manajemen strategi penelitian ini menggunakan teori Fred R. David yakni 1) kemampuan dari pemimpin. 2) analisis. 3) kreativitas dalam berpikir strategis. 4) pengambilan keputusan strategis. 5) imple-mentasi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa keseluruhan strategi berjalan dengan baik namun terdapat hambatan pada fase pengenalan awal dan keterlibatan peran orangtua untuk mengenalkan dongeng serta anggaran yang belum menjalankan prinsip anggaran sektor publik.Penelitian terdahulu kedua merupakan penelitian yang dilakukan oleh (Hajjah, 2021)dalam skripsi yang berjudul Strategi Pengem-bangan Layanan Anak Pada Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi mengembangkan layanan anak serta bentuk promosi layanan anak di Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Bentuk promosi yang digunakan menggunakan teori SOR oleh kajian teori SOR (Stimulus, Organism, Response) diungkapkan oleh Hovland et.al, 1953. Hasil dari penelitian ini menyatakan strategi pengembangan layanan anak yang dilakukan pustakawan pada Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara dilakukan dengan menggu-nakan metode promosi dan sosialisasi.Penelitian terdahulu ketiga merupakan penelitian yang dilakukan oleh (Abidin, 2022) jurnal yang berjudul Urgensi Komunikasi Model Stimulus Organism Response Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik. Penelitian ini menggunakan teori Model Stimulus Organism Response (SOR). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa keefektifan komunikasi pembelajaran tergantung dari kemampuan komunikasi yang dimiliki guru. Peserta didik yang menaruh perhatian pada pesan yang disampaikan maka proses komunikasi sedang berlangsung. Peserta didik yang memahami pesan disam-paikan akan menerima dan mengelolanya, kemudian bersedia mengubah dirinya baik dari segi pengetahuan atau perilaku.Penelitian ini membahas tentang pengem-bangan layanan Gendis Sewu melalui model komunikasi SOR (stimulus, organism, response) untuk menstimulasi anak berliterasi dengan pemanfaatan media, memberi apresiasi serta motivasi untuk menarik rasa ingin tahu pada anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Kebaruan ilmiah dalam penelitian ini terletak pada perbedaan lokasi, penggunaan teori dan fokus penelitian yang tidak dimiliki oleh penelitian terdahulu

Method

Penelitian ini menggunakan metode kuali-tatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif digunakan sebagai strategi penelitian yang digunakan oleh peneliti menyelidiki kejadian, fenomena kehidupan individu-individu dan meminta seorang atau sekelompok individu untuk menceritakan kehidupan mereka (Rusli, 2021). Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang berlangsung dari bulan Desember 2023 hingga Februari 2024. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dengan 2 (dua) kapten Gendis Sewu dan 9 (Sembilan) pengelola layanan Gendis Sewu perwakilan tiap wilayah Kota Surabaya yang dilakukan secara tatap muka langsung dan daring, observasi secara langsung di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya serta studi kepus-takaan sebagai penunjang penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Miles dan Huberman (Sugiyono, 2018) proses analisis data berlangsung tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi

Discussion

Program Gendis Sewu merupakan sebuah gerakan membaca dan menulis seribu yang telah dijalankan sejak tahun 2019 dan digagas oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Gendis Sewu sebagai bentuk pemban-gunan Kota Surabaya dari segi kemanusiaan. Untuk mensukseskan berjalannya program Gendis Sewu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya menggandeng Dinas Pendidikan Kota Surabaya. program Gendis Sewu sendiri tersebar merata dalam 31 kecamatan di Kota Surabaya. Program Gendis Sewu terbagi dalam dua kelas yaitu kelas mendongeng dan kelas menulis. Karya dari kelas menulis akan dijadikan buku antologi sedangkan karya dari kelas mendongeng akan dijadikan CD (compact disk) mendongeng. Peluncuran karya setiap satu tahun sekali oleh Walikota Surabaya. Setiap bulan akan ada 12 karya terbaik dan diekspos di Instagram dan YouTube Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Karya peserta juga akan ditampung di www.sipus.co.id sehingga bisa diakses kapanpun dan dimanapun. capaian keseluruhan peserta Gendis Sewu tahun 2019-2023 25.944 orang, 26.254 karya dan 957 CD kompilasi dongeng dan buku antologi menulis. Gendis Sewu memiliki alur teknis pembelajaran. kelas menulis dan mendongeng memiliki alur teknis yang sama tetapi prosesnya yang berbeda. Gendis Sewu memiliki alur teknis pembelajaran. kelas menulis dan mendongeng memiliki alur teknis yang sama tetapi prosesnya yang berbeda. Berikut penjelasan alur teknis mendongeng dan menulis. 1. Kelas mendongengAlur teknis untuk mengikuti kelas mendongeng meliputi, pendaftaran peserta Gendis Sewu dari rekomendasi sekolah atau daftar mandiri. Pelatihan reguler akan dijelaskan oleh tutor mengenai pengertian mendongeng serta akan diberikan tantangan untuk peserta seperti foto ekspresi. Kelas motivasi akan diperlihatkan testimoni melalui karya dari alumni Gendis Sewu dan manfaat yang diterima peserta ketika mengikuti kelas mendongeng. Pembuatan karya dan editing akan dibantu tim multimedia Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. pada kontrol quality, karya anak yang direvisi akan langsung di take ulang. Karya mendongeng bisa dilihat melalui YouTube resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya atau melalui www.sipus.co.id. Penyerahan karya kelas mendongeng berupa CD mendongeng2. Kelas menulisAlur teknis untuk mengikuti kelas menulis meliputi: peserta harus mendaftarkan diri terlebih dahulu di Taman Baca Masyarakat terdekat atau bisa melalui online di www.sipus.co.id. peserta akan mendapat pelatihan reguler merupakan pembekalan materi pada peserta mengenai menulis seperti pengetahuan tentang cerpen, perbedaan karya cerpen dan lainnya. Peserta akan mengikuti kelas motivasi sebagai dorongan dari tutor kepada peserta untuk menanamkan literasi dalam dirinya, karya peserta kelas menulis akan dibukukan dalam bentuk antologi. Karya yang telah dibuat peserta akan dicek oleh editor area terlebih dahulu, editing cerita maksimal 30 persen dan tidak boleh mengganti ceritanya. Karya yang telah selesai akan diserahkan pihak sekolah. Karya yang dibukukan harus ada kesepakatan antara sekolah dan orang tua serta karya yang dibukukan tidak dipungut biaya. Karya menulis bisa dilihat di Instagram Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya atau melalui www.sipus.co.id.Gambar 1. Tampilan Website Sipus Gendis SewuSumber: Website Sipus Gendis Sewu, 2024F. Pengembangan Layanan Gendis Sewu melalui teori SOR (Stimulus, Organism, Response)Dalam penelitian ini untuk pengembangan layanan Gendis Sewu dilakukan dengan melalui model komunikasi SOR (stimulus, organism, response), adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut:1. Stimulus Pengembangan layanan Gendis Sewu melalui stimulus atau dorongan kepada peserta di kelas motivasi. Untuk meyakinkan peserta Gendis Sewu para tutor menstimulusnya melalui karya-karya yang telah dihasilkan oleh peserta Gendis Sewu sebelumnya serta manfaat yang diperoleh peserta ketika mengikuti program Gendis Sewu seperti peserta yang memiliki karya terbaik akan diberikan sertifikat yang bisa di gunakan pindah jenjang sekolah jalur prestasi dan karyanya bisa dinikmati banyak orang. Stimulus secara motivasi atau dukungan dari tutor untuk membangun rasa percaya diri peserta dalam berliterasiGambar 2. Stimulus anakSumber: Instagram @tbmarekgununganyar2. OrganismOrganism atau komunikan Gendis Sewu mempunyai kriteria peserta dengan minimal usia peserta sembilan tahun. Untuk kelas menulis minimal sudah bisa menulis dan untuk kelas mendongeng minimal sudah bisa memahami isi cerita. Tujuan adanya kriteria peserta Gendis Sewu supaya stimulus yang diberikan tepat sasaran. Gambar 3. Penyampaian MateriSumber: Instagram @tbmarekgununganyar3. ResponseRespon yang diberikan peserta Gendis Sewu sangat beragam ketika diberi materi atau motivasi meliputi senang, antusias bertanya, fokus mendengarkan dan bersemangat karena mereka merasa anak pilihan, banyak mendapat manfaat, karyanya dijadikan buku, materinya juga menyenangkan. Namun di sisi lain anak juga ada yang merasa tidak percaya diri sehingga tutor harus bisa memotivasinya supaya tetap mau berliterasi. Gambar 4. Tanya Jawab MataeriSumber: Instagram @tbmarekgununganyarTerdapat tiga faktor yang mempengaruhi keber-hasilan inovasi, sebagai berikut:1. KomunikatorMateri atau motivasi yang diberikan tutor diterima baik oleh peserta Gendis Sewu maka tutor Gendis Sewu akan mengikuti pendidikan dan pelatihan, workshop dan belajar microteaching untuk ice breaking. Agar materi yang disampaikan sesuai dengan pesertanya, maka tutor membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dikonsultasikan dengan dosen program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Selain itu komunikator juga harus menyiapkan alat-alat pendukung berjalannya kelas Gendis Sewu. 2. MediaPenggunaan media dalam kelas Gendis Sewu menyesuaikan peserta dan memanfaatkan teknologi. Kalau pesertanya anak-anak maka penggunaan medianya berupa proyektor, laptop, dan ppt yang menarik. Kelas mendongeng menggunakan alat peraga meliputi boneka tangan, wayang-wayangan dari kertas, alat musik, origami, diorama serta buku dongeng. Sedangkan untuk kelas menulis akan diajari penyunt-ingan mandiri dan penggunaan Canva.3. Karakteristik Komunikasi Berdasarkan penelitian dinyatakan bahwa terdapat 4 karakteristik komunikasi diantaranya:a. SimbolikTutor Gendis Sewu telah melakukan karakteristik dari komunikasi yaitu simbolik dengan penggunaan kata-kata verbal untuk meyakinkan kemampuan peserta misalnya saat pemberian motivasi, perilaku nonverbal dalam bentuk apresiasi seperti memberikan jempol dan senyuman serta pemanfaatan benda untuk mencontohkan materi yang sedang disampaikan.b. DinamisTutor Gendis Sewu menerapkan karakter komunikasi yang dinamis, dimana tutor akan selalu memberikan stimulus yang meyakinkan dan memotivasi supaya anak mau belajar berliterasi melalui menulis atau mendongeng.c. Mudah dipahamiTutor dari Gendis Sewu menyamakan penggunaan bahasa tutor dengan audiencenya. Jika audiencenya anak maka yang digunakan bahasa anak seperti penggunaan bahasa daerah, bahasa yang sedang trending, bahasa formal juga bisa tapi masih bisa dipahami peserta.d. UnikPerubahan perilaku dan selalu mencip-takan kesan yang antusias peserta Gendis Sewu maka komunikasi yang di pakai tutor tidak sembarangan. Tutor wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan serta workshop. Tutor juga harus mampu mengontrol emosi anak supaya memiliki kesan positif peserta.Gambar 3. Kumpulan karya Gendis SewuSumber: Data Penelitian G. Kendala dalam pengembangan layanan Gendis SewuHambatan layanan Gendis Sewu meliputi hambatan teknis seperti koneksi internet, hambatan fisik seperti kekondusifan lingkungan dan hambatan psikologi seperti, peserta yang kesulitan menghafal teks dan penyuntingan, pencarian referensi mengajar serta menghandel peserta yang banyak dengan tutor yang jumlahnya minim.H. DISKUSIHasil penelitian menunjukkan bahwa pengem-bangan layanan Gendis Sewu yang dilakukan oleh Perpustakaan dan Arsip Kota Surabaya telah sesuai dengan model komunikasi stimulus-or-ganisme-respon (SOR) yang dikembangkan oleh Hovland et al. (1953) Dalam konteks ini, teori SOR menjadi kerangka kerja yang relevan untuk menjelaskan bagaimana informasi dan stimulasi yang diberikan oleh tutor yang dapat memengaruhi perilaku literasi anak-anak sebagai peserta program.Pertama, stimulasi berupa insentif verbal dan nonverbal serta paparan terhadap hasil karya peserta sebelumnya terbukti efektif dalam merangsang minat dan rasa percaya diri anak dalam menciptakan karya melalui bercerita dan menulis. Hal ini mendukung pandangan Abidin (2022)yang menyatakan bahwa keberhasilan komunikasi sangat dipengaruhi oleh kualitas stimulus yang membangkitkan semangat komunikator. Kedua, unsur organisme dalam teori SOR diwakili oleh para peserta proyek Gendis Sewu. Penetapan standar usia minimum sembilan tahun mencerminkan upaya kami untuk memastikan bahwa stimulasi yang diberikan konsisten dengan kemampuan kognitif dan emosional anak-anak. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami karakter-istik komunikator untuk komunikasi yang efektif, seperti yang dijelaskan oleh (Rustan & Hakki, 2017).Ketiga, respons peserta menunjukkan pening-katan antusiasme, fokus, dan kepercayaan diri, meskipun beberapa merasa kurang percaya diri. Perubahan ini menegaskan pentingnya peran komunikator (mentor) sebagai faktor penentu dalam mendorong keberhasilan sebagaimana ditegaskan oleh Abidin (2022) dan didukung oleh temuan Murniarti (2019b) tentang pentingnya keterampilan komunikasi guru dalam proses pembelajaran.Selain itu, pemilihan media yang tepat seperti proyektor, alat peraga, dan platform digital meliputi Instagram, YouTube, dan Website (www.sipus.co.id.) yang mendukung efektivitas komunikasi dalam acara Gendis Sewu. Hal ini sesuai dengan pendapat Syabillah et al., (2023) bahwa media merupakan jembatan penting antara informasi dan respon komunikator.

Conclusion

Pengembangan layanan Gendis Sewu menggu-nakan model komunikasi S-O-R (Stimulus, Organism, Response) dilakukan dengan baik terbukti dari setiap peserta yang mampu menghasilkan karya melalui mendongeng atau menulis. Stimulus yang diberikan melalui motivasi baik secara verbal atau non verbal. Organism memiliki minimal usia untuk kelancaran layanan tersebut, awalnya layanan Gendis Sewu hanya diperuntukkan untuk anak-anak namun seiring berjalannya waktu program Gendis Sewu bisa diikuti semua usia minimal usia sembilan tahun. Respon peserta Gendis Sewu dominan positif karena banyak yang antusias dan bersemangat. Namun ada peserta yang merespon negatif karena merasa tidak percaya diri perlu pendampingan khusus. Keberhasilan berjalannya program Gendis Sewu ditentukan oleh tiga faktor yaitu Komunikator yang profesional, pemilihan media pembelajaran yang cermat, dan karakteristik komunikasi dalam pembelajaran Gendis Sewu. Kendala pengem-bangan layanan Gendis Sewu tidak hanya pada tutor namun juga peserta. Kendala yang dialami berupa kendala teknis serta hambatan fisik seperti kekondusifan lingkungan serta hambatan psikologi