Kembali
16
1
2025 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 16 · 2 ISSN 2715-274X

Analisis Kepribadian Tokoh Pustakawan dalam Film The Public:Upaya Eliminasi Stereotipe Profesi Pustakawan

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Stereotip atau pandangan masyarakat terhadap profesi pustakawan sebagian besar didominasi oleh stereotip yang tidak menguntungkan atau negatif. Gambaran pustakawan dalam film juga mempengaruhi masyarakat dalam menggeneralisasi sikap, perilaku, dan kepribadian pustakawan secara umum, sehingga membentuk stereotip. Jika stereotip negatif terhadap pustakawan terus berlanjut, hal ini akan mengganggu layanan perpustakaan. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah kualitatif, dengan analisis semiotik peta tanda Roland Barthes sebagai metode analisis data pada adegan dan dialog film, serta berdasarkan teori arketipe yang diperkenalkan oleh Carl Gustav Jung sebagai dasar untuk menganalisis kepribadian karakter pustakawan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter pustakawan Mr. Goodson memiliki arketipe yang menonjol seperti persona, bayangan, pahlawan, anima, dan orang tua yang bijaksana. Arketipe Mr. Goodson sebagai pustakawan mengungkapkan kepribadiannya sebagai pustakawan yang ramah, tegas, peduli, empati, berani, dan bijaksana. Hal ini mengarah pada penggambaran kepribadian pustakawan dalam arah yang positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penggambaran atau representasi kepribadian karakter pustakawan Mr. Goodson dalam film The Public mengarah pada penilaian yang positif dan progresif. Penggambaran karakter Mr. Goodson dalam arah yang positif bertujuan untuk memberikan masyarakat pandangan baru tentang sikap, perilaku, dan kepribadian pustakawan. Hal tersebut diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi pustakawan secara umum menjadi lebih positif

Abstract

Public views of the librarian profession are mostly dominated by negative stereotypes. The portrayal of librarians in films influences how the public generalizes their attitudes, behaviors, and personalities, thus creating a stereotype. If these negative stereotypes continue, they will disrupt library services. This study employs a qualitative research method that uses Roland Barthes’s sign map for semiotic analysis of film scenes and dialogues. This approach is based on Carl Gustav Jung’s archetype theory, which is used to analyze the personality of the librarian character. The results show that the librarian character Mr. Goodson exhibits the following prominent archetypes: persona, shadow, hero, anima, and wise old man. Mr. Goodson’s librarian archetype reveals his personality as friendly, firm, caring, empathetic, brave, and wise. The librarian’s personality is depicted positively. This research concludes that the depiction of Mr. Goodson as a librarian in the film The Public is positive and progressive. The objective of portraying Mr. Goodson in a favorable light is to offer a fresh perspective on librarians’ demeanor, conduct, and personality. It is expected to change society’s general perception of the librarian profession to be more positive</p>
Keywords: Kepribadian Pustakawan · Stereotip Profesi Pustakawan · Peta Tanda Roland Barthes · Teori Arketipe Jung

Introduction

Stereotipe mengenai individu dengan profesi tertentu masih banyak dijumpai dalam sosial masyarakat. Stereotipe profesi merujuk pada suatu profesi yang dikonsepsikan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Menurut Azizah (2020) stereotipe muncul dari kebutuhan psikologis manusia untuk mengelompokkan, mengkate-gorikan, dan atau mengklasifikasikan suatu hal. Permasalahan dari adanya stereotipe terletak pada pandangan yang berlebihan terhadap suatu kelompok, sehingga dapat melahirkan penilaian negatif terhadap kelompok profesi yang dikenai stereotipe dan menyebabkan perlakukan tidak adil atau tidak setara pada kelompok profesi tersebut dalam masyarakat Willems (2020). Profesi seorang pustakawan dicirikan sebagai seorang yang memiliki keahlian dalam menelusuri informasi dan menjadi agent of informationbagi pemustaka yang membutuhkan. Namun, sayangnya profesi pustakawan masih dipandang sebelah mata dan citra pustakawan di masyarakat lebih didominasi oleh stereotipe yang kurang baik. Pustakawan sering disalahartikan hanya sebagai profesi penjaga buku saja (Ganggi, 2018) dan seorang pustakawan dianggap memiliki sikap yang otoriter, digambarkan sebagai kutu buku, pendiam, tegang dan terikat serta tidak dapat didekati oleh pemustaka (McClellan & Beggan, 2019). Persepsi masyarakat mengenai profesi pustakawan sebagian besar dipengaruhi oleh industri film (Paradžik, 2019). Industri film telah membawa pengaruh besar pada penggambaran masyarakat tentang citra pustakawan secara umum. Pada tahun 1993 Stephen Walker dan V.Lonnie Lawson melakukan penelitian terhadap representasi citra pustakawan dalam film-film Hollywood, dengan meneliti 30 judul film yang beredar dari tahun 1920-an hingga tahun 1980-an. Hasil temuannya, yaitu pustakawan sering ditampilkan sebagai seorang perempuan, tertutup, tidak menikah, teliti, pemalu, dan masih muda (Paradžik, 2019). Pada tahun 2001 Accero melanjutkan penelitian terhadap stereotipe pustakawan dengan mengkaji film yang dirilis pada tahun 1990-an hingga 2001 dan hasilnya menunjukkan bahwa stereotipe pustakawan dalam film tidak berubah, yaitu pustakawan masih digambarkan sebagai perempuan, pasif dan konservatif (Mayesti et al., 2018). Shaffer & Casey (2013) juga melakukan penelitian untuk melihat gambaran pustakawan dalam berbagai sinema dunia, yang meliputi film dari Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia, dan Asia. Hasil penelitian menemukan bahwa seluruh film dari berbagai dunia cenderung memiliki kesamaan dalam menampilkan stereotipe pustakawan, yaitu perempuan, pandai dan kutu buku. Pada beberapa film yang berkisah tentang pustakawan, pustakawan digambarkan memiliki sifat yang kurang baik seperti otoriter, pendiam, dan tegang. Hal ini sangat bersinggungan dengan yang seharusnya dilakukan oleh pustakawan, bahwa pustakawan seharusnya dapat didekati pemustaka untuk diminta bantuannya memberikan pelayanan informasi. Namun, karena stereotipe yang berkembang tersebut, pemustaka enggan mendekati pustakawan yang tugas pekerjaannya mencakup membantu pemustaka dan semestinya mendorong pemustaka untuk mendekatinya (McClellan & Beggan, 2019). Hobeika (2021) menjelaskan bahwa stereotipe yang diaktifkan, pada individu akan dengan cepat membentuk ekspektasi terhadap individu lain berdasarkan stereotipe yang berkembang, sehingga dapat dikatakan bahwa sterotipe dapat mempengaruhi hubungan karena dapat mengubah cara berpikir dan persepsi seseorang. Adanya stereotipe negatif terhadap pustakawan di masyarakat tentunya akan mempengaruhi pandangan masyarakat dan mempengaruhi hubungan antara pustakawan dengan pemustaka. Stereotipe profesi pustakawan dimata (digabung) masyarakat akan mengganggu pustakawan dalam memenuhi aspek pelayanan informasi dan menjadi kerugian bagi pustakawan maupun pemustaka. Hal ini karena pada dasarnya tugas pustakawan adalah membantu pemustaka namun adanya stereotipe tersebut mungkin membuat pemustaka takut dan enggan datang ke perpustakaan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi.Seiring perubahan yang terjadi pada dunia kepustakawanan, stereotipe negatif pustakawan dalam film mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih progresif dan positif. Mayesti (2016) mengkaji dua film yang berhubungan dengan citra pustakawan, film tersebut berjudul Heartbreak Library dan The Librarian, hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pada satu sisi pustakawan digambarkan sebagai orang yang pintar, penolong, ramah, dan kreatif namun pada sisi lainnya pustakawan masih digambarkan dengan sosok yang agak kaku, sulit bergaul dan sesekali nampak pemarah. Penelitian lain mengenai stereotipe atau citra pustakawan dalam film Indonesia Era 2000-an dikaji oleh Mayesti et al., (2018). Hasil penelitian ini menun-jukkan dari aspek sikap dan perilaku, penggam-baran pada film yang dikaji memperlihatkan adanya keragaman. Satu sisi pustakawan masih ditampilkan dengan stereotipe yang berkembang negatif sebagai sosok yang pasif, kaku, sesekali pemarah, dan tertib. Namun pada sisi lainnya pustakawan digambarkan dengan sisi positif yaitu ramah, pintar, dan penolong. Kedua penelitian ini dapat membuktikan bahwa pustakawan dalam film masih memiliki stereotipe yang negatif, namun ditemukan juga perubahan stereotipe pustakawan dalam film menuju ke arah yang positif.Penggambaran citra pustakawan yang positif dan menentang stereotipe negatif tentang pustakawan terdapat dalam film, yang berjudul The Public. The Public merupakan film drama dari Amerika Serikat yang disutradarai dan ditulis oleh Emilio Estevez. Film ini rilis pertama kali pada 31 Januari 2018 di Festival Film Internasional Santa Barbara (IMDB, 2023). Selain sebagai sutradara dan penulis, Emilio Estevez juga berperan sebagai tokoh utama dalam film The Public dan memerankan karakter pustakawan. Salah satu yang membuat film ini menarik adalah kepribadian pada tokoh utama pustakawan. Menurut Wybraniak-Kujawa et al., (2022) kepribadian merupakan organisasi dinamis dalam diri seorang individu yang berkaitan dengan sifat manusia, perasaan dan pikiran yang mempen-garuhi perilaku manusia. Perilaku manusia dalam kesehariannya akan membentuk suatu kepribadian. Adapun menurut Jung upaya dalam memahami kepribadian individu secara lebih mendalam dapat dilakukan dengan memahami pikiran sadar dan alam pikiran tidak sadarnya. Alam pikiran tidak sadar ini yang cenderung akan lebih mendominasi dan mempengaruhi kepribadian seseorang. (Feist.J, Feist.G.J & Roberts, 2018)Penelitian ini menganalisis kepribadian tokoh pustakawan dalam film The Public yang berlawanan dengan stereotipe negatif tentang pustakawan di masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori arketipe yang dikembangkan oleh Carl Gustav Jung. Arketipe merupakan gambaran kuno yang berasal dari ketidaksadaran kolektif dan muncul dalam bentuk gambaran emosi (Feist.J, Feist.G.J & Roberts, 2018). Dalam penelitian ini arketipe ketidaksadaran kolektif digunakan untuk menganalisis keprib-adian tokoh utama dalam film The Public yaitu Tn. Goodson. Pada tokoh Tn. Goodson terdapat beberapa kepribadian yang berbeda dan dapat dianalisis menggunakan unsur penting pembentuk kepribadian dan tingkah laku. Unsur tersebut tergabung dalam arketipe yang meliputi persona, shadow, self, hero, anima-animus, the great mother, dan the wise old man. Film The Public digunakan sebagai objek yang akan diteliti karena cerita dalam film ini salah satunya berkaitan dengan kontradiktsi sikap, perilaku, dan kepribadian pustakawan terhadap stereotipe pustakawan di masyarakat. Dalam film ini, tokoh utama pustakawan tidak ditampilkan sebagai pustakawan yang tidak dapat didekati atau tidak tertarik dengan kebutuhan pemustakanya. Adapun sebaliknya tokoh utama pustakawan dalam film The Public, salah satunya ditampilkan memiliki sikap yang terbuka dan dekat dengan pemustakanya. Stereotipe yang diabadikan dalam media seperti film dapat mempengaruhi perkembangan karakter seseorang. Stereotipe tentang kepribadian dapat mempengaruhi individu dalam berbagai cara. Stereotipe juga dapat menyebabkan gener-alisasi berlebihan dan persepsi yang salah tentang individu berdasarkan ciri kepribadian seseorang. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis dan mengungkapkan tentang kepribadian karakter pustakawan dalam film The Public sebagai upaya eliminasi stereotipe profesi pustakawan yang berkembang dalam film. Analisis kepribadian juga dapat menjadi indikator bagi pustakawan untuk meningkatkan kualitas diri dan introspeksi diri dalam hidup di tengah masyarakat

Method

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika. Data penelitian yang diperoleh berupa data deskriptif dari makna-makna dan tanda-tanda pada objek penelitian. Pada penelitian ini data yang diperoleh merupakan data kualitatif berupa dialog dan gambar adegan dari objek penelitian yaitu Film The Public. Adapun sumber data primer pada penelitian ini adalah berupa Film The Public. Sedangkan, sumber data sekunder pada penelitian ini terdapat pada sumber literatur yang berkaitan dengan kepribadian tokoh pustakawan sebagai upaya menghilangkan stereotipe negatif pustakawan.Subjek dalam penelitian ini adalah Fim The Public. Film The Public merupakan film yang bergenre drama asal Amerika Serikat, yang disutradarai oleh Emilio Estevez. Film ini memiliki latar belakang perpustakaan dan seorang pustakawan. Adapun objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah tokoh pustakawan bernama Tn.Goodson dalam film The Public untuk menghilangkan stereotipe negatif di masyarakat tentang pustakawan.Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi bersifat nonpartisipasi dan studi dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan menonton seluruh isi film The Public dari awal hingga akhir, melakukan tangkapan layar atau capture pada adegan dan narasi, dan menyeleksi beberapa narasi yang mengandung makna denotatif, konotatif dan mitos yang berhubungan dengan kepribadian pustakawan sebagai upaya menghilangkan stereotipe negatif pustakawan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis semiotika Roland Barthes yang terdiri dari beberapa tahapan analisis makna yaitu makna denotasi, konotasi, dan mitos. Makna denotatif adalah makna yang menjelaskan hubungan antara penanda (signifier) dengan pertanda (signified) dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Tingkatan atau tahap berikutnya adalah tahap konotatif atau disebut juga dengan makna konotasi. Dalam konteks film, makna konotasi digunakan untuk melihat makna dalam gambar (Wibowo,2013). Adapun mitos adalah cara penandaan (signification) dengan ciri-cirinya yaitu mengubah makna menjadi bentuk (Halim, 2017). Beberapa upaya untuk menjaga kesahihan penelitian kualitatif dengan metode semiotika maka diperlukan sejumlah kiat, adapun keabsahan data dilakukan dengan kompetensi subjek riset, trustworthines, persetujuan intersubjektivitas, dan conscientization (Krisyantono dalam Wibowo, 2013). Trustworthines pada penelitian ini mencakup dua hal yaitu autentifikasi dan triangulasi. Adapun autentifikasi yang dilakukan dalam penelitian dengan meng-capture secara langsung setiap adegan yang terdapat dalam film The Public dan mencatat dialog pada film The Public yang berkaitan dengan topik penelitian. Sedangkan, triangulasi merupakan pelibatan penggunaan metode, penyelidik, sumber dan teori yang berbeda untuk memperoleh data yang menguatkan. Adapun untuk triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teori dengan cara memadukan hasil pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos yang terdapat dalam film The Public pada peta tanda Roland Barthes dengan teori arketipe Carl Gustav Jung. Selain itu peneliti juga meminta pendapat expert judgement dalam melakukan penilaian terhadap penggunaan teori yang sesuai, expert judgement yang dalam penelitian ini adalah pengajar mata kuliah Psikologi Perpustakaan dan Informasi di Universitas Diponegoro. Penelitian ini juga menggunakan persetujuan Intersubjek-tivitas (Intersubjectivity Agreement). Persetujuan intersubjektivitas yaitu proses perjumpaan antar data yang merupakan hasil dari dialog semua pandangan, pendapat, atau data dari suatu subjek (Kriyantono, 2006). Pada penelitian ini persetujuan intersubjektivitas dilakukan dengan dialog pada film yang menarasikan data yang diperoleh dari hasil pengambilan data pada film The Public. Hasil pengambilan data pada film kemudian dianalisis makna denotatif, konotatif, dan mitos. Selanjutnya dari hasil pengambilan data tersebut dilakukan intersubjektivitas berlandaskan pada konsep kepribadian pustakawan menurut teori arketipe Carl Gustav Jung untuk menghasilkan titik temu antar data.

Discussion

Pada penelitian ini menggunakan data penelitian sekunder berupa data visual dari adegan-adegan dan dialog Film The Public, hasil pengamatan terhadap tokoh pustakawan Tn. Goodson pada film The Public dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dan beberapa literatur sebagai rujukan yang digunakan untuk mengkonfirmasi temuan yang ada pada analisis hasil penelitian. Kemudian berdasarkan data-data tersebut dilakukan analisis terhadap kepribadian tokoh pustakawan berdasarkan teori arketipe Carl Gustav Jung pada tahapan makna konotasi, denotasi, dan mitos. Berdasarkan hasil analisis adegan dalam film The Public menggunakan peta tanda semiotika Roland Barthes, penulis menemukan beberapa adegan dan mengelompokkan dalam tiga tema yang meliputi sikap tokoh pustakawan, hubungan interpersonal tokoh pustakawan, serta panggilan hidup dan etika pustakawan dalam film The Public.1. Sikap Tokoh Pustakawan dalam Film The PublicTabel 1 Sikap Ramah Pustakawan pada tunawismaSceneDialogMenit Scene (03.00-03.16)Tn.Goodson: “Good morning, Nick.”/ (Selamat pagi, Nick.)Pemustaka: “Good morning, Mr.Goodson.”/ (Selamat pagi, Tn.Goodson.)Denotatif: Terlihat Tn. Goodson yang bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan kota sedang menyapa salah seorang pemustaka yang merupakan tunawisma.Konotatif: Tn.Goodson sebagai pustakawan me- miliki sikap ramah dan akrab dengan pemustaka.Mitos: Tn.Goodson merupakan sosok pusta-kawan yang senantiasa menunjukkan sikap ramah dan akrab dengan pemustaka. Pada beberapa adegan dalam film The Public, karakter pustakawan Tn.Goodson menunjukkan sikap sebagai berikut: ramah dan akrab dengan pemustaka; tegas terhadap aturan perpustakaan; peduli dengan teman sejawatnya atau pustakawan lain; peduli dan berempati dengan pemustakanya yang sebagian besar merupakan tunawisma dan menunjukkan sikap proaktif dengan menyediakan bantuan bagi pemustaka yang membutuhkan; berjiwa kemanusiaan; serta keberanian dalam melawan ketidakadilan. Sikap yang ditunjukkan pada karakter Tn.Goodson diatas merujuk pada penggambaran sikap pustakawan ke arah yang positif, baik kepada pemustaka maupun kepada teman sejawatnya serta pihak penentang aksi tunawisma. Sikap pustakawan menjadi elemen penting yang turut mendukung terciptanya suasana nyaman dan ramah di perpustakaan. Sehingga pustakawan perlu memperhatikan sikapnya ketika berhadapan dengan orang lain baik pemustaka maupun dengan pustakawan lain (Michael & Olayemi, 2023). 2. Hubungan Interpersonal Tokoh Pustakawan Tn.Goodson dalam Film The PublicTabel 2 Karakter Pustakawan ketika bernegosiasiSceneDialogMenit Scene (39.42-41.19)Pemimpin tunawisma bernama Jackson: “Mr.Goodson. I gotta talk to you. Look, all, all the shelters downtown are full up again.”/ Tn.Goodson. Aku harus bicara denganmu. Lihat, semua tempat penampungan di kota sudah penuh lagi. Tn.Goodson: “What about the emergency overflow at Shelterhouse?”/ Bagaimana dengan luapan darurat di shelter house?Jackson: “That’s a 40-minute walk away. In this weather? In these shoes? Look, Mr.Goodson you know I’m a veteran, right? I served my country. This all I get. Well, look. I decided to organize.”/ Jaraknya 40 menit berjalan kaki. Dalam cuaca seperti ini? Dengan Sepatu ini? Dengar, Tn.Goodson, Anda tahu saya seorang veteran,bukan? Saya mengabdi pada negara saya. Hanya ini yang saya dapatkan. Nah, lihat. Saya memutuskan untuk berorganisasi.Tn.Goodson: “Organize?” / Mengatur?Jackson: “We ain’t gonna leave the library tonight. Tonight we occupy.” / Kami tidak akan meninggalkan perpustakaan mala mini. Malam ini kita menempatinya. Tn.Goodson: “Occupy? Is that right?”/ Menempati? Apakah itu benar? Jackson: “Yeah”/ Ya aDenotatif: Terlihat seorang pemimpin tunawisma berusaha bernegosiasi dengan Tn.Goodson. Negosiasi tersebut berisi permintaan dan permo-honan izin untuk menempati perpustakaan kota sebagai penampugan bagi para tunawisma selama cuaca ekstrim. Konotatif: Terdapat kedekatan yang terjalin antara karakter Tn.Goodson yang merupakan seorang pustakawan dengan pemustakanya. Kedekatan dan keakraban terlihat saat pemimpin tunawisma tidak merasa takut dan sungkan untuk berbicara atas permohonan izin penempatan perpustakaan kepada Tn.Goodson.Mitos: Adegan ini menguraikan mitos bahwa karakter Tn.Goodson digambarkan sebagai sosok pustakawan yang dekat dengan pemustakanya. Sikap keterbukaan tunawisma dengan Tn.Goodson menjadi hal yang menggambarkan bahwa komunikasi interpersonal terjalin baik antara pustakawan dan pemustaka. Pada adegan ini juga membantu mematahkan mitos yang berkembang di masyarakat dimana pustakawan dianggap seseorang yang sulit didekati. Hasil analisis di atas menunjukkan adanya hubungan interpersonal yang terjalin pada karakter Tn. Goodson sebagai pustakawan, dengan tunawisma yang menjadi pemustakanya. Hal tersebut dibuktikan dengan tunawisma yang tidak sungkan maupun takut ketika meminta pertolongan kepada Tn.Goodson. Pada hubungan interpersonal sikap terbuka dan saling percaya menjadi salah satu tandanya sehingga seseorang ingin mengungkapkan segala sesuatu secara total tanpa memiliki rasa takut (Suranto dalam Hadna, 2013). Hubungan interpersonal yang terjalin antara pustakawan dan pemustaka menjadi nilai tambah untuk menciptakan komunikasi efektif dan serta menciptakan suasana perpustakaan yang ramah. Hubungan interpersonal yang terjalin juga menan-dakan bahwa pustakawan dapat didekati. . Panggilan Hidup Pustakawan Tokoh Pustakawan Tn.Goodson dalam Film The PublicTabel 3 Karakter Pustakawan dengan tokoh lain dalam filmSceneDialogMenit Scene (1.33.00-1.34.40)Anak Detektif Bill bernama Mike: “What do you want?” / Apa yang kamu inginkan?Tn. Goodson: “Just checking in seeing what’s up.” / Hanya memeriksa untuk melihat ada apa. Mike: “Sure, whatever.”/ Tentu, terserah. Tn.Goodson: “You know, I was your age when I hit rock bottom. When I realized that my anger and getting loaded weren’t working’ for me anymore. So, you know what I did?”/ Anda tahu, saya seusia Anda ketika saya mencapai titik terendah. Ketika saya menyadari bahwa kemarahan dan beban saya tidak lagi berguna bagi saya. Jadi kamu tahu apa yang aku lakukan?Mike: “Started selling crack?” / Mulai menjual omong kosong?Tn.Goodson: “I started reading. In this room. In that same chair you’re sitting in n o w .” / Saya mulai membaca. Di ruangan ini. Di kursi yang sama yang Anda duduki sekarang. Mike: “And look where you ended up. Whoop de doo. Must be like deja vu, huh?”/ Dan lihat di mana Anda berakhir. Aduh. Pasti seperti déjà vu ya?Tn.Goodson: “Mike, of all the men in this room. I look at you and I say he’s the lucky one. You know why? Cause there are people out there who are concerned about you. Your family. Your family needs to know that you’re...” / Mike dari semua pria di ruangan ini. Saya melihat Anda dan saya katakan dialah yang beruntung. Anda tahu mengapa? Karena masih banyak orang diluar sana yang mengkhawatirkanmu. Keluargamu. Keluarga Anda perlu tahu bahwa Anda...Denotatif: Tn.Goodson yang menceritakan kisah masa lalunya yang merupakan tunawisma kepada Mike dan kehidupan Tn.Goodson yang berubah setelah dirinya menemukan perpustakaan dan mulai membaca.Konotatif: Pada adegan ini yaitu secara tidak langsung Tn.Goodson memiliki maksud memberikan motivasi baik yang bertujuan mengin-spirasi Mike agar dapat keluar dari jalanan dan kembali ke keluarganya menjadi manusia yang lebih berguna. Adegan ini juga menunjukkan panggilan hidup Tn.Goodson sebagai pustakawan yang dimulai dengan kecintaannya dalam membaca.Mitos: Adegan ini menguraikan mitos bahwa Tn.Goodson merupakan sosok pustakawan yang peduli dan menginspirasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan tujuan Tn.Goodson yang menginginkan Mike dapat hidup menjadi manusia yang lebih berguna dan keluar dari jalanan. Adegan ini juga menguraikan mitos bahwa Tn.Goodson memiliki panggilan hidup sebagai pustakawan yang mencintai pekerjaannya. Berawal dari kecintaan Tn.Goodson dengan buku dan membaca akhirnya memotivasi untuk mendedikasikan diri sebagai pustakawan.Panggilan hidup disebut sebagai kesediaan seseorang untuk menjadi pustakawan. Panggilan hidup sebagai pustakawan pada karakter Tn.Goodson terdapat pada adegan ketika seorang kepala pustakawan menyatakan bahwa Tn.Goodson memang di masa lalunya sebagai seorang kriminal, namun Tn.Goodson menemukan perpustakaan sehingga dirinya memiliki keinginan untuk memperoleh gelar sarjana dan menjadi pustakawan. Panggilan hidup sebagai pustakawan pada diri Tn.Goodson ditandai dengan kesediaannya untuk menjalani jalan kepustakawanan yang bermula dari kecintaannya terhadap buku dan membaca. Analisis Kepribadian Tokoh Pustakawan dalam Film The Public Berdasarkan Teori ArketipeCarl Gustav Jung Berikut merupakan hasil analisis arketipe tokoh pustakawan dalam film The Public menggunakan teori arketipe Carl Gustav Jung untuk mengidenti-fikasi kepribadian tokoh pustakawan Tn.GoodsonTabel 4 Hasil Analisis Kepribadian Tokoh Pustakawan dalam Film The PublicAdeganArketipeIdentifikasia. Ramah Adegan ini menunjukkan Tn.Goodson yang menyapa pemustakanya yang merupakan tunawisma.b. Tegas Adegan ini menunjukkan Tn.Goodson yang memberikan peringatan tegas kepada pemustaka yang ingin melanggar jam buka perpustakaan kota. c. Peduli Adegan ini diceritakan Tn.Goodson yang menolak permohonan Myra untuk berpindah ke ruang pelayanan koleksi sastra. Alasan penolakan Tn.Goodson atas dasar pertimbangan keselamatan Myra dan bentuk perlindungan serta kepedulian yang Tn.Goodson tunjukkan.PersonaSisi kepribadian yang ingin ditunjukkan pada penokohan Tn.Goodson sebagai pustakawan meliputi sisi kepribadian ramah kepada pemustaka, tegas kepada pemustaka yang melanggar aturan, serta peduli baik kepada pustakawan lain maupun pemustaka. Sisi kepribadian ramah, tegas, dan peduli merupakan salah satu indikator bahwa karakter pustakawan bernama Tn. Goodson memiliki arketipe persona. Dimana arketipe persona merupakan sisi kepribadian yang ingin ditunjukkan Tn. Goodson kepada khalayak ramai. Sisi kepribadian yang positif yang ditunjukkan kepada orang banyak memiliki tujuan agar membuat orang lain terkesan. Sehingga berdasarkan ciri-ciri kepribadian yang dimiliki oleh karakter Tn.Goodson tersebut masuk dalam arketipepersona. Adegan ini memperlihatkan seorang polisi yang memberikan sebuah berkas kepada Detektif Bill. Berkas tersebut berisi cacatan kriminal yang pernah dilakukan Tn.Goodson di masa lalu. Catatan kriminal Tn.Goodson menunjukkan dirinya sebagai pemabuk, pengutil, dan seorang yang hidup di jalanan.ShadowSisi negatif yang ingin ditutupi oleh Tn.Goodson menunjukkan arketipeshadowpada diri Tn.Goodson. arketipeshadowmerupakan sisi kegelapan yang mewakili sifat-sifat yang tidak ingin diakui oleh seorang individu dan sifat tersebut yang ingin coba disembunyikan baik dari diri sendiri atau orang lain (Jung dalam Feist, 2018). Sisi negatif atau perilaku negatif Tn.Goodson yang hidupnya menjadi seorang tunawisma, pemabuk, dan pencuri di masa lalu berusaha ditinggalkan dan ditutupi dengan persona Tn.Goodson sebagai pustakawan yang ramah, peduli dengan pemustaka, serta pustakawan yang tegas. ada adegan ini menunjukkan Tn.Goodson dengan suara tegas meminta Josh Davis yang merupakan pihak penentang aksi para tunawisma untuk berbaring di aspal depan gedung perpustakaan kota.Hero Adegan ini menunjukkan indikator Tn.Goodson memiliki arketipeHero dalam dirinya. Dimana arketipeHero merupakan arketipe yang memberikan gambaran pada seseorang yang memiliki keberanian dan tekad dalam mengatasi rintangan dan tantangan (Jung dalam Feist, 2018). Hal tersebut tergambar ketika Tn.Goodson berani melawan dan membela para tunawisma yang ditolak oleh pihak-pihak petinggi untuk menempati perpustakaan.Tn.Goodson merasa iba dengan keadaan tunawisma yang terancam nyawanya karena cuaca ekstrim.AnimaAnima yang terdapat dalam diri karakter Tn.Goodson ditunjukkan dengan empati Tn.Goodson ketika melihat puluhan tunawisma yang terancam nyawanya akibat penampungan yang sudah penuh dan akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan kepada atasannya. Empati cenderung merujuk pada sifat feminin yang dimiliki oleh perempuan, dimana perempuan merujuk pada ciri tingkah laku yang menekankan pada empati dan belas kasih seperti peranan ibu (Jasni et al., 2024). Empati yang ditunjukkan karakter Tn.Goodson menggambarkan sifat feminin seorang perempuan. Tn.Goodson menyampaikan motivasi dan pesan kepada seorang anak muda tunawisma untuk keluar dari kehidupan kelamnya sebagai pecandu narkoba.The Wise Old ManBerdasarkan tindakan Tn.Goodson dalam memberikan motivasi dan pesan kepada anak muda tersebut menunjukkan arketipe The Wise Old Man pada karakter Tn.Goodson. Arketipe The Wise Old Man merupakan arketipe yang memberikan gambaran dalam diri seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang luas. Arketipe The Wise Old Man membantu individu dalam mengembangkan kebijaksanaan, pengalaman hidup dan membantu individu dalam menjalani situasi yang sulit dengan memberikan saran dan bimbingan yang bijaksana (Jung dalam Feist, 2018) Arketipe The Wise Old Man pada diri Tn.Goodson ditandai dengan kebijaksanaan dalam memberikan saran.Berdasarkan analisis tokoh utama pustakawan Tn.Goodson menggunakan teori arketipe dapat dijelaskan bahwa; (1) Persona, atau sisi kepribadian yang ingin ditunjukkan kepada orang lain pada karakter Tn.Goodson meliputi pustakawan yang ramah, tegas terhadap pelanggar aturan serta peduli dengan teman sejawatnya maupun pemustaka; (2) Shadow, adalah sisi gelap dari perilaku yang ingin disembunyikan dari orang-orang. Sisi gelap pada diri Tn.Goodson yang ingin ditutupi dari orang-orang adalah perilaku di masa lalu Tn.Goodson yang merupakan seorang pemabuk, pencuri,dan seorang yang pernah hidup di jalanan; (3) Hero, yaitu keber-anian yang dimiliki dalam mengatasi tantangan atau rintangan. Arketipe Hero terdapat dalam diri Tn.Goodson ketika dirinya berani melawan dan membela para tunawisma dari pihak-pihak yang menentang aksi blockade karena penampungan yang tidak memadai; (4) Anima atau sisi feminin yang terdapat dalam diri laki-laki. Anima yang terdapat pada diri Tn.Goodson sebagai pustakawan laki-laki tergambar pada empati Tn.Goodson ketika melihat para tunawisma yang nyawanya terancam akibat tidak terdapat penampungan selama cuaca di luar ekstrim. Empati tersebut identik dengan sisi feminin seperti sifat penyayang yang dimiliki perempuan; (5) The Wise Oldman yaitu gambaran diri seseorang yang memiliki kebijaksanaan ditunjukkan dengan memberikan bimbingan atau saran yang bijaksana. Arketipe The Wise Oldman ditunjukkan Tn.Goodson ketika dirinya memberikan bimbingan dan motivasi kepada salah seorang anak muda yang merupakan tunawisma dan pecandu narkoba. Dalam beberapa film yang berkisah tentang pustakawan, pustakawan digambarkan dengan sifat yang kurang baik, seperti otoriter, pendiam, dan tegang (Mayesti, 2016). Penggambaran negatif pustakawan dalam film dapat membentuk stereotipe negatif terhadap profesi pustakawan di masyarakat. Hal tersebut akan mempengaruhi hubungan antara pustakawan dengan pemustaka, dimana stereotipe negatif akan membuat pemustaka takut dan enggan datang ke perpus-takaan sebab stereotipe yang tersebar di masyarakat yang menganggap pustakawan memiliki sifat dan perilaku serta kepribadian yang kaku, tegang, pasif dan konservatif (McClellan & Beggan, 2019)

Conclusion

Secara garis besar, dari arketipe karakter pustakawan dalam film The Public menunjukkan sosok pustakawan yang ramah, tegas, peduli, berempati, berani melawan pihak yang menentang, serta bijaksana. Adapun shadow yang terdapat dalam diri Tn.Goodson di masa lalu coba ditutupi dengan sikapnya sebagai pustakawan yang memprioritaskan pemustaka. Sifat dan karakteristik yang dibangun terhadap karakter Tn.Goodson menunjukkan penggambaran pustakawan ke arah yang positif dan progresif. Penggambaran karakter pustakawan Tn.Goodson ke arah yang positif bertujuan untuk mengubah pandangan atau stereotipe negatif terhadap profesi pustakawan di mata masyarakat. Stereotipe terhadap profesi pustakawan masuk dalam kategori stereotipe sosio-institusional dimana masyarakat mendasarkan pandangannya terhadap individu atau kelompok berdasarkan latar belakang aspek sosial dan kelem-bagaan atau mendasarkan pada pekerjaan dan profesinya. Stereotipe negatif terhadap pustakawan membentuk generalisasi yang negatif terhadap seluruh profesi pustakawan dimanapun. Sehingga dari arketipe karakter pustakawan Tn.Goodson yang ditemukan diatas dapat mengubah pandangan masyarakat luas tentang profesi pustakawan secara umum.