Belief, Inquiry, and Meaning: Integrasi-Interkoneksi Elemen Dialog Teori Filsafat Kontemporer dengan Elemen Dialog Level Praksis Kepustakawanan
Universitas Janabadra
Abstrak
Kesadaran akan perlunya integrasi-interkoneksi antara ilmu pengetahuan (science), dengan nilai-nilai moral (social-humanities), dan agama (religion) akan muncul manakala manusia semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri/berjalan sendiri sehingga salah satu teori filasat kontemporer yang relevan dengan hal tersebut yakni tiga konsep utama (Belief, Inquiry, and Meaning) sebagai isu kunci. Situasi tersebut berkorelasi dengan kegiatan kepustakawanan, karena hal tersebut menyangkut dua hal, yakni mengelola informasi menjadi pengetahuan, serta kemampuan untuk melayankannya kepada para pemustaka. Dinamika atau dinamisasi teori disebabkan oleh faktor pengetahuan (science) yang dimunculkan dari dan oleh manusia itu sendiri yang memiliki keyakinan (belief ) dalam hal mencari, dan menginvestigasi (inquiry) sehingga membentuk sebuah perilaku untuk memaknai (meaning) sesuatu, baik individu maupun sosial (social-humanities) terhadap seuatu informasi, sehingga tiga konsep tersebut mampu berdialog (berkomunikasi; bertuegur-sapa) dengan elemen dialog kepustakawanan khususnya pada tataran praksis. Dialog tersebut ditemukan pada titik temu pada elemen informasi yang bermuara pada pengetahuan (science)
Keywords:
Filsafat Kontemporer
· BeliefInquiry
· Meaning
· Kepustakawanan
Introduction
Dinamika yang terus berkembang sehingga melahirkan berbagai paradigma baru dalam sektor ilmu pengetahuan, diantaranya adalah ilmu perpustakaan dan informasi yang tak luput mengalami dan mengikuti perkembangan tersebut, terutama dari segi epistemologinya. Jika menyimak lebih jauh bahwa epistemologi, atau teori tentang pengetahuan adalah merupakan cabang dari ilmu filsafat. Terkait dengan hal tersebut, Pendit (2003) menyebutkan bahwa epistemologi atau teori tentang pengetahuan (dalam konsepsi tersebut) yang berurusan dengan pembahasan mengenai sifat, asal usul, lingkup, dan batas dari pengetahuan manusia, pandangan-pandangan yang mendasari kelahirannya, serta bagaimana metode untuk mendapatkannya. Berangkat dari konsepsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dinamika kehidupan disebabkan oleh faktor pengetahuan (science) yang dimunculkan dari dan oleh manusia itu sendiri, sehingga kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat (social-humanities) dalam satu struktur kesatuan yang senada dalam konsepsi agama (religion). Dengan demikian manusia adalah makhluk individu yang memasyarakat sekaligus makhluk sosial yang mengindividu. Sehingga manusia akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berjalan sendiri tetapi berkembang secara dinamis melalui perpaduan dari elemen dialog dari berbagai paradigma yang melekat padanya.Kesadaran akan perlunya integrasi-interkoneksi antara ilmu pengetahuan (science), dengan nilai-nilai moral (social-humanities), dan agama (religion) akan muncul manakala manusia semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri/berjalan sendiri. Seperti yang disebutkan oleh Barbour dalam (Khuza’i, 2007) bahwa salah satu fungsi ilmu pengetahuan adalah untuk mendeskripsikan, tentu saja dalam hal ini menggunakan alat ukur yang memiliki standar keilmuan. Menurut Rodliyah (2007:47), bahwa tinjauan kritis (terhadap aspek teoretis ilmu) memang harus berujung pada aspek praksis (aksi nyata) yang tercermin dalam bentuk tanggung jawab, hidup yang baik dan bersih. Jadi aspek studi dan aksi dari dimensi moral dan agama ibarat pendulum yang selalu bergoyang ke kanan dan ke kiri (dua sisi). Jika ia bergoyang ke sisi studi (kajian), maka ia akan mempertajam wawasan berfikir dan semangat bertindak, sekaligus mengurangi kesan karikaturis. Jika bergoyang ke sisi action dan praxis, maka pengetahuan akan moralitas itu teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pendulum itu sealalu bergerak ke kedua sisi supaya tidak beku, tetapi kreatif-inovatif dan emansipatoris.Situasi tersebut di atas, jika dikaitkan ke dalam ranah kepustakawanan, maka hal tersebut juga bergerak pada dua sisi. Misalnya jika mengarah ke sisi studi (kajian), maka orang-orang yang berkecipung dalam dunia kepustakawanan akan mempertajam wawasan berpikir dan semangat bertindaknya. Wawasan berpikir adalah sebuah keharusan yang perlu dimiliki oleh setiap insan pengelola informasi (pustakawan), karena hal tersebut menyangkut dua hal, yakni mengelola informasi menjadi pengetahuan, serta kemampuan untuk melayankannya kepada para pemustaka. Hal ini lah yang nantianya akan digiring ke arah action dan praxis.Salah satu konsep filsafat kontemporer yang populer dibicarakan yakni Belief, Inquiry, and Meaning. Berangkat dari hal tersebut di atas, maka penulis berasumsi bahwa terdapat keterkaitan titik temu pada konsepsi tersebut melalui penjabaran masing-masing elemen dialog teori. Sejauh pengamatan penulis, belum terdapat kajian atau penelitian yang memfokuskan diri untuk mengamati dimana letak titik temu pada kedua disiplin ilmu tersebut, sehingga dibutuhkan kajian mendalam untuk mengintegrasi-interkoneksikan elemen dialog filsafat kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan. Oleh karena itu tulisan ini diharapkan untuk memberikan gambaran dengan pasti letak titik temu konsepsi dari masing-masing bidang keilmuan tersebut
Discussion
Belief, Inquiry, and Meaning dalam Elemen Dialog Dunia KepustakawananJika dilihat secara seksama, baik dari segi teori dan praksis, maka terdapat relevansi antara paradigma filsafat kontemporer dengan lingkup kegiatan kepustakawanan. Mengacu pada ketiga konsep filsafat kontemporer di atas (Belief, Inquiry, and Meaning), penulis mencoba mengintegrasi-interkoneksikan konsepsi tersebut pada level praksis kepustakawanan melalui analisis dari masing-masing teori kemudian merekonstruksinya, sehingga dapat dilihat secara gamblang letak titik temu konsepsi tersebut melalui penjabaran masing-masing elemen dialog teori seperti di bawah ini.Gambar 1 menunjukkan bahwa elemen dialog teori filsafat kontemporer pada tataran konsep keyakinan (belief) diawali ketika kebenaran ditemukan melalui sebuah informasi yang diperoleh dari pengetahuan. Sedangkan pengetahuan dalam konteks perpustakaan, merupakan serangkaian hasil dari proses simbolisasi atau kodefikasi infomasi yang dikemas kemudian disebarluaskan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat integrasi-interkoneksi elemen dialog filsafat kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan tataran konsep Keyakinan (Belief) ditemukan titik temu pada elemen pengetahuan lewat jalur informasi.1. Integrasi-interkoneksi elemen dialog teori Filsafat Kontemporer pada tataran konsep Keyakinan (belief) dengan elemen dialog praksis kepustakawanan.Gambar. 1 : Titik temu dialog teori Filsafat Kontemporer dengan elemen dialog praksis Kepustakawanan pada tataran konsep Keyakinan (belief)2. Integrasi-interkoneksi elemen dialog teori Filsafat Kontemporer pada tataran konsep Penyelidikan/Investigasi (Inquiry) dengan elemen dialog praksis kepustakawanan.Gambar 2 menunjukkan bahwa elemen dialog teori filsafat kontemporer pada tataran konsep konsep Penyelidikan/Investigasi (Inquiry) dapat dilihat secara gamblang bahwa kegiatan investigasi atau penyelidikan diawali dengan adanya faktor keraguan pada diri seseorang, sehingga kegiatan atau tindakan tersebut ditempuh dengan melalui mengkaji sebuat tulisan (sumber-sumber informasi tertulis/tercetak) atau dengan pengalaman seseorang. Prosesi tersebut nantinya akan membentuk sebuah perilaku bagi seseorang dalam melakukan investigasi atau mencari ataupun menelusur sebuah informasi. Sedangkan informasi dalam konteks perpustakaan, merupakan serangkaian berbagai informasi yang telah dikodefikasi sesuai subjeknya kemudian disimpan dalam suatu “wadah” (baik berupa web server ataupun bank data yang berisi informasi yang siap diakses dan ditemu-kembalikan di perpustakaan) untuk memudahkan proses temu kembali informasi tersebut. Dari rangkaian praksis kepustakawanan tersebut, juga membentuk prilaku yang berbeda-beda bagi kalangan “pemustaka” ketika mencari dan menelusur informasi di perpustakaan. Dari rangkaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat integrasi-interkoneksi elemen dialog filsafat kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan tataran konsep Penyelidikan/Investigasi (Inquiry) ditemukan titik temu pada elemen informasi lewat jalur perilaku.*Keterangan:P.I = Perilaku Informasi (Information Behavior)P.P.I = Perilaku Penemuan Informasi (Information Seeking Behavior)P.P.I = Perilaku Pencarian Informasi (Information Searching Behavior)P.P.I = Perilaku Penggunaan Informasi (Information Use Behavior)Gambar. 2: Titik temu dialog teori Filsafat Kontemporer dengan elemen dialog praksis Kepustakawanan Pada tataran konsep Penyelidikan/Investigasi (Inquiry)3. Integrasi-interkoneksi elemen dialog Filsafat Kontemporer pada tataran konsep makna (Meaning) dengan elemen dialog praksis kepustakawanan.Gambar. 3: Titik temu dialog teori Filsafat Kontemporer dengan elemen dialog praksis Kepustakawanan Pada tataran konsep makna (Meaning)Gambar 3 menunjukkan bahwa elemen dialog teori filsafat kontemporer pada tataran konsep Makna (Meaning) dapat dilihat secara gamblang bahwa makna diperoleh dengan cara eksperimental untuk menemukan benar atau salah terhadap sesuatu, sehingga hasil temuan atau pemaknaan sesuatu tersebut kemudian dilontarkan sebuah simbol sebagai bentuk pemaknaan terhadap sesuatu. Sedangkan makna dalam konteks kepustakawanan yakni makna dari pustaka yang mendapat afiks (imbuhan). Dari rangkaian kata tersebut (pustaka) kemudian terdapat tiga pecahan kata yang masing-masing mendapatkan afiks. Masing-masing kata yang memiliki makna yang berbeda kemudian melekat sebuah simbol yang memiliki makna yang berbeda. Dari rangkaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat integrasi-interkoneksi elemen dialog filsafat kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan tataran konsep Makna (Meaning), sehingga ditemukan titik temu dialog pada elemen simbol, yang sama-sama melahirkan sebuah makna yang menjadi ciri khas keilmuan masing-masing.4. Akumulasi Integrasi-interkoneksi elemen dialog Filsafat Kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan.Gambar. 4: Integrasi-interkoneksi elemen dialog Filsafat Kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawananGambar 4 menunjukkan bahwa elemen teori filasat kontemporer yang terkait dengan tiga konsep utama (Belief, Inquiry, and Meaning) mampu berdialog (berkomunikasi; bertuegur-sapa) dengan elemen dialog kepustakawanan khususnya pada tataran praksis. Dialog tersebut ditemukan pada titik temu pada elemen informasi yang bermuara pada pengetahuan (science). Temuan ini membuktikan asumsi dasar penulis di awal, bahwa terdapat keterkaitan titik temu pada konsepsi tersebut melalui penjabaran masing-masing elemen dialog teori yang dilihat dari level praksis. Benang merah dari temuan ini, bahwa dinamika atau dinamisasi teori disebabkan oleh faktor pengetahuan (science) yang dimunculkan dari dan oleh manusia itu sendiri yang memiliki keyakinan (belief) dalam hal mencari, dan menginvestigasi (inquiry) sehingga membentuk sebuah perilaku, baik individu maupun sosial (social-humanities) terhadap suatu informasi yang telah dikodefikasi atau telah disimbolisasi oleh disiplin ilmu kepustakawanan menjadi sebuah pengetahuan (science)
Conclusion
Dinamika kehidupan disebabkan oleh faktor pengetahuan (science) yang dimunculkan dari dan oleh manusia itu sendiri, sehingga kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat (social-humanities) dalam satu struktur kesatuan yang senada dalam konsepsi agama (religion). Dengan demikian manusia adalah makhluk individu yang memasyarakat sekaligus makhluk sosial yang mengindividu. Kesadaran akan perlunya integrasi-interkoneksi antara ilmu pengetahuan (science), dengan nilai-nilai moral (social-humanities), dan agama (religion) akan muncul manakala manusia semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri/berjalan sendiri sehingga salah satu teori filasat kontemporer yang relevan dengan hal tersebut yakni tiga konsep utama (Belief, Inquiry, and Meaning).Situasi tersebut berkorelasi dengan kegiatan kepustakawanan, karena hal tersebut menyangkut dua hal, yakni mengelola informasi menjadi pengetahuan, serta kemampuan untuk melayankannya kepada para pemustaka. Hal ini lah yang nantianya akan digiring ke arah action dan praxis. Lalu bagaimana jikamengintegrasi-interkoneksikan elemen dialog filsafat kontemporer dengan elemen dialog praksis kepustakawanan? dimana letak titik temunya?, hal ini telah dibuktikan dengan sebuah temuan bahwa dialog teori ditemukan pada titik temu dari elemen informasi yang bermuara pada pengetahuan (science) yang telah dikodefikasi atau telah disimbolisasi oleh disiplin ilmu kepustakawanan.