Urgensi Kelas Literasi Informasi Bagi Mahasiswa di Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Universitas Pembangunan Nasional ?Veteran? Yogyakarta
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan adanya banjir informasi di dunia maya. Informasi tersebut akan sangat banyak ditemukan dan tidak mungkin untuk diperiksa satu per satu. Dengan hal tersebut nyatalah bahwa literasi informasi khususnya dalam hal temu kembali informasi sangat diperlukan. Oleh karena itu program-program literasi informasi sangat diperlukan khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Kelas literasi informasi di perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan merupakan wujud program untuk menciptakan generasi yang melek informasi. Urgensi program kelas literasi informasi di perguruan tinggi ini berkaitan dengan pencarian jurnal ilmiah, reference manajer hingga pengenalan strategi penelusuran boolean operator. Literasi informasi ini sangat penting untuk dilakukan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, menggunakan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh. Dalam hal ini literasi informasi sangat berguna sebagai keterampilan yang perlu dimiliki untuk kesuksesan dalam proses pembelajaran. Untuk menunjang keberhasilan kelas literasi informasi dibutuhkan juga dukungan dari pustakawan. Pustakawan harus benar-benar siap untuk bekerja di kelas literasi informasi tersebut dalam mengajar mahasiswa menggunakan teknologi untuk mengakses informasi dan memanfaatkan pemikiran kritis dalam memilih informasi. Oleh karena itu pustakawan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang.
Keywords:
Literasi Informasi
· Perpustakaan
· Mahasiswa
Introduction
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan perguruan tinggi dapat meningkatkan kualitas layanan bagi para penggunanya (Farida, 2006). Hal ini telah terbukti dengan adanya pelayanan yang lebih baik seperti efektivitas pelayanan dan beragamnya sumber informasi yang dapat diberikan. Beragamnya sumber informasi baik cetak maupun non-cetak membuat pengguna perpustakaan terjebak dengan banjirnya informasi yang dihadapi. Mereka hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk mencari, meng-copy dan paste informasi, serta menggandakan informasi yang didapatkannya tanpa mengevaluasinya secara kritis. Hal ini memunculkan keprihatinan tersendiri bagi mereka yang belum mengetahui bagaimana memilih informasi yang tepat sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu, dibutuhkan keterampilan information literacy atau literasi informasi yang tidak hanya pada bagaimana mencari informasi tetapi juga bagaimana menggunakan dan mengevaluasi dengan baik.Dalam ranah teknologi informasi dan komunikasi, literasi informasi dikaitkan dengan kemampuan untuk menggunakan komputer. Sumber informasi apapun bertebaran didalamnya tanpa ada filter didalamnya. Informasi-informasi yang didapatkan dari Google misalnya, akan sangat banyak ditemukan dan tidak mungkin untuk diperiksa satu per satu. Padahal Google bukanlah sumber informasi, melainkan salah satu alat untuk menemukan informasi. Dan untuk menemukan informasi bukan hanya google yang dapat kita gunakan. Tetapi kenyataannya ketika mencari informasi hal yang dilakukan pertama biasanya langsung menggunakan google. Padahal informasi yang dihasilkan belum dilakukan penyaringan terlebih dahulu. Dengan hal tersebut nyatalah bahwa literasi informasi khususnya dalam hal temu kembali informasi sangat diperlukan. Dalam sektor pendidikan formal maupun nonformal, di institusi layanan publik, dan institusi perpustakaan di semua jenis dan tingkatan, praktik pendidikan literasi informasi banyak dilakukan, baik langsung ataupun tidak langsung (Yusup & Saepudin, 2017). Literasi informasi bisa dikatakan suatu metode yang didalamnya terdapat beberapa kemampuan yang memang dibutuhkan untuk mencari informasi (Nurtiar, 2015). Istilah literasi informasi, keberaksaraan informasi, melek informasi dan sebagainya, tidak hanya terbatas pada penggunaan sumber-sumber di perpustakaan pada perguruan tinggi tetapi juga berkaitan dengan pengajaran bagaimana mengakses informasi dalam berbagai jenis dimana saja tanpa dibatasi oleh dinding perpustakaan (Farida, 2006). Dalam hal ini literasi informasi atau melek informasi sangat berguna untuk kepentingan akademik juga sebagai keterampilan yang perlu dimiliki untuk kesuksesan karir. Dikatakan sudah melek informasi jika seseorang sudah menyadari arti pentingnya informasi bagi kehidupan. Tapi sayangnya tidak semua orang memahami keberadaan informasi dan sumber-sumber informasi untuk menunjang kehidupan di zaman teknologi ini (M.Yusup, 2010). Dibutuhkan program-program perpustakaan yang dapat menunjang pemahaman terhadap keberadaan informasi dan sumber-sumber yang relevan khususnya bagi mahasiswa di perguruan tinggi yang secara kritis menggunakan informasi yang beredar. Perpustakaan bukan hanya menyimpan dan meminjamkan koleksi buku. Di era digital sekarang ini, perpustakaan bertaransformasi menjadi organization of knowledge. Perpustakaan bisa menjadi solusi bagi mahalnya informasi, yaitu dengan menyediakan layanan perpustakaan yang lebih optimal dan akses informasi yang lebih mudah (Kalida & Mursyid, 2015). Oleh karena itu program-program kelas literasi informasi sangat diperlukan khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat berfikir kritis dalam melakukan pencarian hingga penggunaan informasi secara literat. Salah satu perpustakaan yang telah menerapkan program kelas literasi informasi ini yaitu Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Program kelas literasi informasi ini ditujukan untuk mahasiswa guna membantu pencarian sumber-sumber informasi elektronik yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini berkaitan dengan adanya banjir informasi di dunia maya yang belum tersaring dan banyak yang tidak diketahui pertanggungjawabannya. Sebagian besar mahasiswa UAD belum mampu melakukan penelusuran informasi secara optimal, mereka biasanya hanya mengandalkan koleksi-koleksi tercetak di perpustakaan saja. Oleh karena itu, urgensi kelas literasi informasi ini selain membantu mahasiswa dalam melakukan pencarian informasi juga dapat membantu mahasiswa dalam memngembangkan diri dalam belajar untuk masa depannya
Discussion
Program kelas literasi informasi di perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta terdiri dari kelas literasi informasi dasar, reference manager berbasis aplikasi serta kelas literasi informasi anjutan yaitu eprints (pengelolaan publikasi ilmiah berbasis aplikasi). Kelas literasi informasi dasar ditujukan untuk mahasiswa guna membantu pencarian sumber-sumber informasi elektronik yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sedangkan kelas literasi informasi lanjutan berkaitan dengan keterampilan untuk menulis dan mengelola tulisannya dalam publikasi ilmiah. Sumber-sumber informasi yang dibahas dalam kelas literasi informasi dasar yaitu konten digital Library UAD, link e-journal yang terdapat dalam digilib, serta sumber informasi yang umum digunakan untuk pencarian informasi. Sumber-sumber informasi yang di kenalkan berupa sumber informasi elektronik berupa artikel-artikel ilmiah yang dapat ditemukan di internet. Selain itu juga dikenalkan bagaimana melakukan pencarian dengan menggunakan strategi pencarian boolean operator. Kegiatan kelas literasi informasi ini dilakukan dengan langsung mempraktikkan pencarian dan penelusuran menggunakan komputer. Sehingga mahasiswa dapat memahami secara lebih baik tentang materi yang disampaikan oleh tentor. Selain itu mahasiswa juga dapat langsung menanyakan materi yang belum dimengerti kepada tentor yang mendampinginya. Dengan adanya kelas literasi ini, maka sumber daya manusia yang bertugas untuk menjadi pendamping kelas juga harus diperhatikan. Seluruh pustakawan seharusnya sudah memahami secara rinci mengenai materi yang disampaikan dalam kelas literasi informasi. Pengadaan program kelas literasi informasi ini memang membutuhkan dukungan baik secara materi maupun sumber daya manusianya. Sehingga program ini dapat berjalan dengan baik dan benar-benar memberikan kemanfaatan yang nyata bagi mahasiswakhususnya dalam pencarian maupun penelusuran informasi.Materi yang diajarkan dalam kelas literasi informasi di perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan yang sangat ditekankan yaitu dimulai dari pengenalan terhadaap sumber informasi yang dimiliki oleh universitas berupa digilib atau digital library. Konten, akses terhadap digilib hingga hal penting yang berhubungan dengan perpustakaan dijelaskan secara rinci dan langsung dipraktikkan oleh mahasiswa. Kemudian dilanjutkan pencarian jurnal atau artikel yangdapat digunakan sebagai sumber informasi valid dan dapat dipertanggungjawabkan karena sudah jelas pengarangnya. Sumber-sumber ini selain diperoleh dari jurnal yang memang sudah dilanggan oleh perpustakaan UAD juga diperoleh dari jurnal-jurnal opensource yang banyak tersebar di Indonesia. Keterampilan yang didapatkan dengan adanya kelas literasi informasi ini dapat mempengaruhi proses belajar untuk kedepannya. Mahasiswa akan lebih kritis terhadap informasi yang diperolehnya serta tidak mudah terperdaya dengan informasi yang diterimanya.Selanjutnya, keterampilan pencarian dan penelusuran informasi mengunakan strategi pencarian boolean operator juga diajarkan di dalam kelas literasi informasi ini. Boolean operator terdiri dari tiga kategori fungsi yaitu AND, OR dan NOT. Fungsi dari operator AND adalah mempersempit pencarian. Operator ini diletakkan diantara kata kunci yang digunakan dalam penelusuran. Hasil yang diperoleh dengan bantuan operator AND hanya memuat situs-situs yang mengandung kata psikologi dan anak di dalamnya. Selanjutnya operator OR yaitu untuk memperluas pencarian. Dengan menggunakan operator OR akan menelusur situs-situs yang mengandung salah satu atau semua kata tersebut, jadi hasil pencariannya akan semakin banyak. Terakhir adalah operator NOT artinya pengecualian, berarti mencari dokumen yang ada istilah tertentu tetapi tidak ada istilah lain yang dikecualikan. Operator ini juga untuk mempersempit pencarian. Misalnya psikologi NOT anak berarti mencari situs yang mengandung kata psikologi, tetapi tidak mengandung kata anak. Penelusuran menggunakan strategi ini masih jarang sekali diketahui oleh mahasiswa, padahal sangat berguna ketika melakukan pencarian informasi di internet. Selain materi, sumber daya manusia dalam hal ini pustakawan juga sangat berperan penting bagi berlangsungnya program kelas literasi informasi ini. Pustakawan harus mampu menjadi manajer ilmu pengetahuan, karena setiap harinya mereka bergelut dengan informasi. Oleh karena itu, pustakawan juga harus bisa mencari maupun menelusur informasi baik secara manual maupun online. Untuk mengajari mahasiswa mendapatkan informasi, mengevaluasinya secara kritis dan menggunakan serta mengkomunikasikannya pihak pustakawan harus benar-benar siap untuk bekerja di kelas literasi informasi tersebut dalam mengajar mahasiswa menggunakan teknologi untuk mengakses informasi dan memanfaatkan pemikiran kritis dalam memilih informasi. Pustakawan juga perlu bekerja sama dengan dosen untuk bersama-sama mendorong mahasiswanya menuju generasi melek informa
Conclusion
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan adanya literasi informasi yang dikaitkan dengan kemampuan untuk menghadapi adanya banjir informasi di dunia maya. Informasi-informasi yang didapatkan dari Google misalnya, akan sangat banyak ditemukan dan tidak mungkin untuk diperiksa satu per satu. Padahal Google bukanlah sumber informasi, melainkan salah satu alat untuk menemukan informasi. Dengan hal tersebut nyatalah bahwa literasi informasi khususnya dalam hal temu kembali informasi sangat diperlukan. Oleh karena itu program-program kelas literasi informasi sangat diperlukan khususnya di lingkungan perguruan tinggi.Kelas literasi informasi di perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan sebagai wujud program untuk menciptakan generasi yang melek informasi. Urgensi program kelas literasi informasi di perguruan tinggi ini berkaitan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta berkaitan dengan proses pembelajaran sepanjang hayat. Kemajuan teknologi informasi membawa informasi yang melimpah dan masuk kedalam sistem informasi global dimana informasi dari seluruh dunia dapat diakses dengan mudah dan cepat. Hal ini jelas bahwa literasi informasi sangat penting untuk dilakukan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, menggunakan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh. Selanjutnya pentingnya literasi informasi juga berkaitan dengan proses pembelajaran sepanjang hayat. Artinya dengan literasi informasi dapat memberikan proses belajar berkesinambungan sepanjang hayat. Proses belajar ini akan dilakukan terus menerus, baik ketika mereka belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri hingga membelajarkannya di lingkungan keluarga yaitu keturunan atau anak-anaknya. Untuk menunjang keberhasilan kelas literasi informasi dibutuhkan juga dukungan dari sumber daya manusianya dalam hal ini pustakawan. Pustakawan harus benar-benar siap untuk bekerja di kelas literasi informasi tersebut dalam mengajar mahasiswa menggunakan teknologi untuk mengakses informasi dan memanfaatkan pemikiran kritis dalam memilih informasi. Oleh karena itu pustakawan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang. Begitu juga pustakawan di perpustakaan UAD, sebaiknya seluruh pustakawan mampu menjadi tentor dalam kelas literasi informasi tersebut. Sehingga apabila satu pustakawan tidak dapat hadir, maka bisa digantikan dengan yang lainnya agar program kelas literasi informasi terus berjalan