Kembali
16
1
2020 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 11 · 1 ISSN 2715-274X

Konsep “One Stop Browsing” di Perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai Upaya Mewujudkan Layanan Informasi yang Rekreatif

Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Abstrak

Di era modern saat ini fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat layanan informasi dituntut untuk bertransformasi guna memenuhi kebutuhan informasi dan eksistensinya di tengah masyarakat. Namun masih banyak perpustakaan perguruan tinggi yang mempunyai fasilitas lengkap, namun belum banyak dikunjungi oleh pengguna karena masih terkesan kaku dan kurang nyaman. Hal ini perpustakaan dapat mengadopsi konsep dari pelayanan market, dimana penataan barang, desain interior dan eksterior ruangan yang membuat kita nyaman dan ingin berada lama disana ditambah dengan service yang memuaskan pelanggan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Dalam menganalisis data peneliti menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Salah satu konsep yang menarik untuk mewujudkan perpustakaan yang rekreatif adalah dengan mengaplikasikan konsep “One Stop Browsing” yaitu sebuah konsep dimana perpustakaan dapat menyediakan bermacam-macam layanan perpustakaan di dalam satu gedung secara lengkap, bertujuan agar pengunjung tak perlu lagi harus pergi keluar gedung untuk mencari bahan pustaka yang dibutuhkan. Adapun beberapa fasilitas penunjang yang dapat disediakan di perpustakaan antara lain: lobby, lounge library, counter mini, computer searching, mesin fotocopy, internet, ruang teater, dan televisi

Introduction

Untuk mewujudkan perpustakaan yang proaktif dan antisipatif, dalam Undang-Undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 Pasal 1 disebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuji kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian infrmasi dan rekreasi pemustaka. (Perpustakaan Nasional, 2007). Perkembangan teknologi dan informasi secara berangsur-angsur menghendaki adanya perubahan dalam penge-lolaan layanan informasi yang dapat diperoleh dengan mudah dimana saja. Hal ini menuntut perpustakaan lebih berperan dalam pelayanan informasi terkini.Oleh karena fungsi perpustakaan yang sangat penting, maka telah berdiri macam-macam perpus-takaan, baik perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah, maupun perpus-takaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan yang mengemban fungsi dalam menciptakan sarjana yang mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu penge-tahuan, teknologi dan seni, maka keberadaan perpustakaan di perguruan tinggi merupakan suatu keharusan dalam sebuah lembaga pendidikan.Fungsi utama perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan kepada civitas akademika di bidang pstaka dalam rangka pelak-sanan Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa pendi-dikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian di masyarakat (Suroeno, 2016). Namun perkem-bangan selanjutnya perpustakaan perguruan tinggi belum mampu memberikan layanan informasi yang memadai. Permasalahan utama adalah rendahnya angka kunjungan mahasiswa dan pengajar ke perpustakaan. hal ini tentunya berkaitan dengan performa perpustakaan akibat minimnya sumber daya manusia dan minimya anggaran perpustakaan perguruan tinggi. Sehingga civitas akademika lebih memilih layanan informasi melalui tempat lain untuk tidak sama sekali yang berakibat pada rendahnya prodiktivitas perguruan tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, muncul sebuah konsep baru “One Stop Browsing” yang berawal dari konsep “One Stop Shopping” di market, yang tujuannya agar menarik minat pelanggan untuk belanja. Konsep ini diharapkan dapat mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi sebagai layanan yang rekreatif bagi pemustaka.Berdasarkan latar belakang di atas, maka tulisan ini akan membahas bagaimana peran konsep “One Stop Browsing” di perpustakaan perguruan tinggi dalam upaya mewujudkan layanan informasi yang rekreatif

Method

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan merupakaan serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian (Zed, 2008). Oleh karena itu, peneliti mengumpulkan data dari buku lalu mengkaji, atau dengan cara mengambil dari sumber bacaan yang lain yang memiliki relevansi dengan penelitian. Teknik pengumpulan data penelitian ini diawali peneliti dengan kegiatan memilih, mencari, menyajikan dan terakhir data dianalisis. Sumber data penelitian ini berupa data-data kepustakaan yang substansinya membutuhkan tindakan pengo-lahan secara filosofis dan teoritis. Dalam menga-nalisis data, peneliti menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Yaitu suatu teknik penelitian untuk membuat perujukan pengenalan karakter-istik tertentu di dalam teks secara sistematik dan obyektif. Analisis ini peneliti lakukan agar proses memilih, membandingkan, menggabungkan dan memilah data untuk menemukan definisi hingga menemukan yang relevan (Krippendorff, 1993)

Discussion

Perkembangan zaman saat ini ditandai dengan terjadinya perubahan yang sangat cepat, perubahan dalam segala bidang kehidupan masyarakat. Perpustakan sebagai lembaga yang berorientasi pada masyarakat pemustakanya harus tanggap dengan perubahan itu jika tidak ingin ditinggalkan. Perpustakaan harus cepat beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi.Seperti yang dikatakan Pendit, jika perpus-takaan saat ini tidak perlu mengubah fungsi utama perpustakaan yang dijalaninya kini, namun harus menyesuaikan dengan perkem-bangan zaman. Untuk itu perpustakaan harus berkerja keras untuk meningkatkan efesien-sinya dengan memunculkan konsep terbaru (Pendit, 2007). Perkembangan ini menyebabkan perpus-takaan bertanformasi dengan menawarkan sesuatu yang berbeda dan memberikan kenya-manan kepada pemustaka. Dari mulai fasilitas ruangan dengan desain yang minimalis, menelusuri informasi dengan fasilitas internet gratis dan ditambah dengan cafe perpus-takaan, sehingga memberikan kesan coazyuntuk memberikan rasa senang dan nyaman bagi pengunjungnya. selain memberikan ketenangan dan kenyamanan pemustaka, perpustakaan perlu memberikan pelayanan prima layaknya pelayanan market yang menye-diakan semua produk dalam satu tempat yang dikenal dengan konsep one stop shopping.Konsep one stop shopping ini diperke-nalkan tahun 1980-an dan menjadi popular 1990-an. Hal ini berawal dar cara toko-toko dalam menarik pembeli dengan konsep “One Stop Shopping”. Sebuah konsep berbelanja apa pun kebutuhan dalam sekali pemberhentian (Ma’ruf, 2006). Diharapkan dengan adanya OSS (One Stop Shopping) mampu mensuplai kebutuhan semua pelanggan dalam satu lingkup/komplek. Sebagai contoh Mall di Indonesia disediakan berbagai jasa dan produk untuk semua orang sehingga seseorang yang datang ke lokasi itu tidak lagi perlu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mendapatkan yang diinginkannya. Artinya bagaimana menarik pengunjung agar belanja segala sesuatu kebutuhan pada satu toko tanpa harus keluar ke toko lain. Dari hal tersebut kemudian muncul salah satu konsep yang menarik untuk mewujudkan perpustakaan memberikan layanan yang rekreatif adalah dengan menerapkan konsep “One Stop Browsing” adalah dimana perpus-takaan dapat menyediakan bermacam-macam layanan perpustakaan di dalam satu gedung secara lengkap, sehingga pengunjung tak perlu lagi harus pergi keluar gedung untuk mencari bahan pustaka yang dibutuhkan. Sangat menyenangkan bila konsep ini bisa diaplikasikan diperpustakaan.Di era globalisasi seperti sekarang ini memang manusia sangat ingin mendapatkan kemudahan, keakuratan, dan kecepatan dalam memperoleh informasi, begitu juga para pengunjung perpustakaan. Oleh karena itu, sebuah gedung perpustakaan yang sangat lengkap diharapkan oleh pengunjung agar semua kebutuhannya akan informasi dapat dipenuhi dengan cepat dan tepat. Saat ini banyak perpustakaan perguruan tinggi yang mempunyai fasilitas yang lengkap, namun belum banyak dikunjungi oleh pengguna karena masih terkesan kaku dari segi pelayanan dan peraturan. Namun jika kita melihat market dalam hal penataan barang dan rambu-rambu yang dipasang, faslitas, interior ruangan yang membuat kita nyaman dan ingin berada lama disana dan service yang memuaskan pelanggan. Semua barang tertata secara rapi. Belum lagi dengan promosi dan discount yang berganti setiap saat memanfaatkan momen yang ada. Pustakawan hendaknya mengadopsi sistem seperti supermarket dengan mempro-mosikan koleksi dan jasa perpustakaan yang menarik. Agresivitas pustakawan dalam hal ini hendaknya sama seperti pedagang yang memasarkan barangnya.Konsep “One Stop Browsing” sangat inovatif dan dapat diterapkan di perpustakaan tinggi, bahkan dapat dimulai dengan yang paling sederhana sekalipun. Yang perlu diingat keter-tarikan dari suatu ruangan ke ruang lain yang berkesinambungan serta beberapa fasilitas penunjang selain bahan pustaka memberikan feedback positif bagi pengunjung yang datang ke perpustakaan. Adapun beberapa fasilitas penunjang yang dapat disediakan di perpus-takaan antara lain:a. LobbyMenurut Sulistyo Basuki, perpustakaan umum yang modern membangun ruang masuk, seperti ruang penerimaan tamu sebuah hotel. Walau nampaknya ruang lobby tidak berhubungan langsung dengan bahan pustaka, tetapi ruangan ini sangat mendukung bagi pengunjung perpustakaan. beberapa orang dapat membuat janji untuk bertemu di ruang lobby atau dapat juga untuk menempel beberapa pengumuman dan promosi perpus-takaan, dan melaksanakan program pameran buku.b.Library LoungeLibrary lounge adalah ruangan yang diperun-tukkan bagi pemustaka duduk untuk bersantai dalam belajar. Ruangan ini biasa disediakan faslitas tempat duduk yang nyaman, disediakan sofa, televisi, dan bisa membawa makanan ke dalam ruangan tersebut serta pengguna bisa santai berdiskusi di sana.c. Counter mini Perpustakaan dapat menyediaka sebuah counter mini dekat yang menjual beberapa kebutuhan sederhana yang dapat dibawa masuk keruangan baca, misalnya ATK, bahkan makanan dan minuman juga dapat disediakan.d.Computer searchingSaat ini di perpustakaan sangat dibutuhkan komputer. Fasilitas ini digunakan sebagai alat bantu penelusuran bahan pustaka yang memudahkan pemustaka. Fasilitas computer hendaknya disediakan di setiap lantai perpus-takaan.e. Mesin fotocopyPenempatan mesin fotokopi di ruang yang salah menjadikan alat tersebut tidak diman-faatkan secara maksimal. Sebaiknya diletakkan diruang dimana terdapat koleksi referensi dan majalah mendapat prioritas untuk diberi fasilitas mesin fotokopi. f. InternetInternet di perpustakaaan adalah daya tarik bagi pengunjug perpustakaan serta di dukung dengan kapasitas jaringan yang cepat.g.TelevisiSaat ini televsi adalah alat informasi yang cepat dan murah yang banyak digemari masyarakat. Penempatan televisi di perpustakaan akan menambah ragam sarana penelusuran informasi. Yang harus diingat bahwa pemilihan channel stasiun televisi serta digunakan alat bantu earphone.h. Ruang teater Ruang ini ditujukan untuk menunjang fungsi rekreasi dan fungsi edukasi bagi pemustaka. Ruangan ini diperuntukkan untuk menampilkan berbagai penyelenggaraan kegiatan-kegiatan pertunjukan seni dan budaya, sosialisasi, juga diskusi ilmiah. Ruangan ni juga dapat difungsikan sebagai kuliah mahasiswa secara daring (dalam jaringan). Ruangan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ruangan rileksasi bagi pemustaka yang ingin menyaksikan film-film yang memuat local content.Disamping itu, untuk menambah suasana yang cozy dan menyenangkan perlu didukung dengan desain interior dan eksterior, serta fasilitas santai di perpustakaan agar pemustaka merasa betah untuk berlama-lama di perpus-takaan. Penempatan sofa dan meja tunggal disudut ruang baca, menggelar karpet dan menempatkan meja rendah untuk pengunjung yang ingin membaca sambil duduk di bawah, serta toilet yang tersedia di setiap lantai akan menambah pengunjung perpustakaan. Sementara untuk interior ruangan dapat diberikan gambar-gambar yang menarik atau slogan yang membangkitkan minat baca masyarakat. Ini semua dapat mengisi dinding-dinding kosong diruang bacA

Conclusion

Fungsi utama perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan kepada civitas akademika di bidang pstaka dalam rangka pelak-sanan Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa pendi-dikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian di masyarakat.Dalam menjalankan fungsinya perpustakaan sebagai pusat layanan informasi, perpustakaan dituntut untuk untuk berupaya mengembangkan diri guna memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Sementara itu, tanpa harus tanpa meninggalkan kaidah-kaidah utama pengelolaan perpustakaan, faktor rekreasi di dalam perpus-takan sebenarnya dapat diunggulkan, karena dari sana memungkinkan banyak pengunjung yang berdatangan. Untuk itu perpustakaan harus berkerja keras untuk meningkatkan efesiensinya dengan memunculkan konsep terbaru.Salah satu konsep yang menarik untuk mewujudkan perpustakaan yang rekreatif adalah dengan menerapkan konsep “One Stop Browsing”dimana perpustakaan dapat menyediakan berma-cam-macam layanan perpustakaan di dalam satu gedung secara lengkap, sehingga pengunjung tak perlu lagi harus pergi keluar gedung untuk mencari bahan pustaka yang dibutuhkan.Konsep “One Stop Browsing” bisa diterapkan di perpustakaan tinggi, bahkan dapat dimulai dengan yang paling sederhana sekalipun. Adapun beberapa fasilitas penunjang yang dapat disediakan di perpustakaan antara lain: lobby, counter kecil dekat locker, komputer searching, mesin fotocopy, internet dan televisi.Di samping itu, untuk mewujudkan suasana yang hangat dan menyenangkan perlu ditunjang dengan interior dan eksterior perpustakaan agar pengunung merasa betah untuk berlama-lama di perpustakaan