PERAN RUMAH BACA PINISI DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TERANG-TERANG KECAMATAN UJUNG BULU KABUPATEN BULUKUMBA
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi peran Rumah Baca Pinisi terhadap pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Terang-terang Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba dan untuk mengetahui kendala Rumah Baca Pinisi dalam memberdayakan masyarakat di Kelurahan Terang-terang Kecamata Ujung bulu Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, Sumber data yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pengelola dan masyarakat. Teknik pengumpulan data dengan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukann bahwa ada beberapa poin yang menjadi strategi rumah baca yang pertama, melakukan kolaborasi dalam pengadaan koleksi mengadakan program dan kegiatan pengembangan masyarakat, melakukan kunjungan dan penyediaan bahan bacaan di daerah terpencil. Adapun yang menjadi kendala rumah baca yakni koleksi bahan bacaan kurang update, jumlah pengelola rumah baca masih kurang dan kurangnya anggaran.
Abstract
This study aims to determine the strategy of the Pinisi Reading House towards community empowerment in Terang-bright Village, Ujung Bulu District, Bulukumba Regency, and to find out the obstacles of the Pinisi Reading House in empowering the community in Terang-Terang Village, Ujung Bulu District, Bulukumba Regency. This research uses descriptive research using a qualitative approach. Sources of data that become informants in this study are managers and the community. Data collection techniques by observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that several points become the strategy for reading houses, namely collaborating in procuring collections, holding community development programs and activities, conducting visits, and providing reading materials in remote areas. As for the problems of reading houses, namely the collection of reading materials that are not updated, the number of reading house managers is still insufficient, and a lack of budget.
Keywords:
Baca
· Rumah Baca
· Masyarakat
Introduction
Budaya membaca tidak selamanya dari dunia pendidikan saja akan tetapi bisa juga diperoleh melalui keluarga dan lingkungan sekitar, sebagaimana dapat dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 48 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa budaya gemar membaca dilakukan melalui keluarga difasilitasi oleh pemerintah dan pemerintah daerah melalui kegiatan buku murah. Kemudian pada pasal 49 menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendukung didirikannya taman baca masyarakat dan rumah baca untuk menmbuhkan budaya gemar membaca (Republik Indonesia, 2007). Rumah baca atau Taman bacaan masyarakat adalah suatu lembaga yang disediakan untuk masyarakat khususnya di daerah pedesaan dan perkotaan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat, untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca pada masyarakat. Dengan mengunjungi taman baca masyarakat akan mendapatkan manfaat karena semua bahan bacaan yang disediakan bersifat edukatif. Rumah baca adalah suatu tempat atau sarana yang disediakan sebagai tempat membaca untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menumbuhkan minat baca serta menyalurkan bakat dan kreatifitas yang dimiliki masyarakat (Purwanto). Jadi taman baca masyarakat dan rumah baca tidak memiliki perbedaan karena keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan minat baca di lingkungan masyarakat, membantu masyarakat mendapatkan informasi dan membantu masyarakat untuk meningkatkan kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat. Rumah baca bila dilihat dari fungsinya sebenarnya sama saja dengan perpustakaan-perpustakaan umum, tetapi bedanya perpustakaan sudah dilengkapi dengan sarana seperti gedung, koleksi, sarana yang sudah memadai serta sudah dikelola dengan tenaga yang memang berasal dari pendidikan yang berpendidikan ilmu perpustakaan. Sementara itu, rumah baca kebanyakan belum memiliki sarana seperti gedung yang permanen, koleksi yang memadai dan masih dalam bentuk dikelola oleh pribadi. Pada penelitian sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian peran taman baca dalam pemberdayaan masyarakat mengenai Peran Taman Baca Masyarakat Guyub Rukun dalam Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Bausasran Kecamatan Danurejan Yogyakarta (Saraswati, 2012). Penelitian ini terdapat tiga peran di Pusat Baca Masyarakat Guyub Rukun yaitu peran pendidikan yang membuat semangat belajar masyarakat semakin tinggi, peran agama dimana pengetahuan dalam aspek agama berkembang pengetahuannya dan peran ekonomi dimana masyarakat memperoleh pengetahuan dalam proses daur ulang sampah menjadi produk yang bermanfaat. Adapun penelitian ini membahas tentang peran rumah baca pinisi dalam pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bulukumba, meskipun sama-sama meneliti tentang peran rumah baca atau taman baca tetapi hasil penelitian belum tentu sama, karena pengelola rumah baca juga berbeda. Kondisi sekarang Rumah Baca di Kelurahan Terang-Terang Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba bisa dikatakan bahwa keberadaan Rumah Baca tersebut membawa dampak yang baik terhadap masyakat setempat terlebih lagi untuk anak-anak dan remaja. Hal yang menarik dari Rumah Baca ini ialah keberadaan yang cukup mendapat perhatian dari masyarakat setempat karena yang berada di tengah-tengah masyarakat dan juga berdampingan dengan wisata kuliner dan ada pula tempat bermain anak jadi anak-anak yang datang bermain di tempat tersebut bisa menyempatkan ke Rumah Baca Pinisi. Anak-anak mempunyai berbagai macam karakter, kepribadian, dan beberapa anak yang punya kebutuhan khusus, seperti mempunyai tugas dari sekolah sehingga ia berkunjung ke Rumah Baca tersebut. Antusiasi anak-anak dan remaja dalam memanfaatkan Rumah Baca tidak hanya sebatas ketika berlangsungnya berbagai acara yang dibuat pengelola, akan tetapi anak-anak tersebut mempunyai semangat untuk berkunjung dan memanfaatkan Rumah Baca pada saat pulang sekolah atau di sore hari. Anak-anak yang berkunjung terlihat nyaman dan santai walaupun Rumah baca Pinisi hanya beralasakan karpet. Oleh karena itu, penelitian tentang peran Rumah Baca Pinisi terhadap pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bulukumba sangat menarik untuk diketahui. B. LANDASAN TEORI 1. Rumah Baca Rumah baca merupakan fasilitas umum yang disengaja disiapkan untuk membantu upaya menciptakan kegemaran, kebiasaan, dan budaya membaca sebagaimana yang dimaksudkan dalam Undang–undang RI Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.Pengolahan dan pemeliharaan rumah baca diserahkan oleh pemerintah daerah kepada komunitas atau masyarakat setempat. Mereka menaruh peduli atas kondisi di lingkungan yang membutuhkan sarana dan fasilitas membaca. Perpustakaan umum dapat pengambil peran di dalamnya dengan membina. Menyediakan dan memberikan fasilitas berbagai jenis bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh penghuni sementara itu. Menurut Amrin (2011), Rumah Baca adalah suatu tempat atau suatu lembaga yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan minat baca dan budaya baca lingkungan masyarakat. Menurut Kemendikbud dalam Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Taman Baca atau Rumah Baca tahun 2012 menyatakan bahwa taman baca atau rumah baca adalah suatu lembaga yang membantu membudayakan gemar membaca pada lingkungan masyarakat dan memberikan layanan berupa: buku pelajaran, komik, tabloid, Koran, dan bahan multimedia lainnya, yang dilengkapi dengan ruangan membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai fasilitator (Indriyani, 2017) Didirikannya taman baca atau rumah baca masyarakat dapat membantu meningkatkan kegiatan baca tulis pada masyarakat dan dapat mengurangi buta aksara yang dialami oleh masyarakat. Keberadaan rumah baca masyarakat juga diharapkan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan wawasannya, mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, agar masyarakat tidak monoton dalam satu pekerja saja. Tidak hanya menyediakan buku-buku untuk orang dewasa tetapi rumah baca juga menyediakan buku-buku untuk anak-anak, sehingga siapapun berkah datang berkunjung karena koleksi yang disediakan bersifat edukatif (Arifin, 2016). Rumah baca mempunyai peranan sebagai media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung didalam koleksi yang dimiliki dan juga dapat berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai. Penyelenggara rumah baca dengan masyarakat yang dilayani merupakan agen perubahan, agen pembangunan dan agen kebudayaan manusia. Berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan pengunjung taman bacaan atau rumah baca masyarakat. Rumah baca berfungsi sebagai sumber belajar artinya segala kegiatan yang terjadi di Rumah baca dan semua koleksi yang dikelolanya memenuhi syarat untuk terlaksanakannya kemudahan proses belajar bagi penggunanya. Rumah baca berfungsi sebagai bahan pengajaran, semua koleksi dapat dijadikan bahan pengajaran tersedia dirumah baca.Untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya.Untuk meningkatkan apresiasi seni dan sastra serta seni budaya lainnya melalui cara membaca di taman baca atau rumah baca masyarakat. Rumah Baca Masyarakat memiliki beberapa tujuan yang lainnya yang sangat membantu dalam menunjang kebutuhan dasar masyarakat yaitu: (1) memelihara kemampuan warga belajar yang telah bebas buta huruf sehingga tidak buta kembali, (2). Memberikan pelayanan belajar pada warga belajar pendidikan luar sekolah dan masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan sesuai kebutuhan setempat, (3) membangkitkan dan meningkatkan budaya baca masyarakat sebagai bagian dari aktivitas belajar mandiri sehingga tercipta masyarakat sebagai bagian dari aktivitas belajar mandiri sehingga tercipta masyarakat gemar belajar yang berdampak pada peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (Kalida, 2012). Rumah baca masyarakat merupakan tempat untuk membaca, belajar dan mendapatkan informasi yang didirikan untuk masyarakat, baik itu masyarakat dari lapisan menengah kertas maupun menengah kebawah.Tanpa membedakan warna kulit, agama, adat istiadat, umur dan jenis kelamin, semua boleh datang berkunjung untuk memanfaatkan fasilitas yang telah dibangun untuk masyarakat itu sendiri (Hamjani, 2017). Manfaat rumah baca masyarakat adalah salah satu wadah yang membantu masyarakat dalam menumbuhkan minat baca dan kecintaan membaca untuk memperkaya pengalaman belajar atau bagi warga dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Pemberdayaan Masyarakat Pada dasarnya pemberdayaan merupakan upaya untuk memberdayakan (mengembangkan masyarakat dari tidak atau kurang berdaya menjadi mempunyai daya). Pemberdayaan dalam konteks pemikiran merupakan suatu pembangunan yang berpusat pada rakyat. Pemberdayaan berarti menyiapkan kepada masyarakat sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri di dalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan. Menurut Ambar (2004) pemberdayaan dapat dimaknai sebagai suatu proses menuju berdaya atau proses pemberian daya, kekuatan, kemampuan, dan atau proses pemberian daya, kekuatan dari pihak yang mempunyai daya kepada pihak yang tidak atau kurang berdaya. Pemberdayaan masyarakat tentu sesuatu hal yang diinginkan untuk melakukan sebuah perubahan yang terjadi pada masyarakat . Menurut Winoto (2017) pemberdayaan masyarakat (community empowerment) merupakan sebuah upaya yang dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi masyarakat dan mengatasi berbagai permasalahan yang ada didalam masyarakat baik masalah individu maupun kelompok pemberdayaan ini dapat membantu masyarakat guna mencapai taraf hidup yang baik dan berdaya saing tinggi. Mengenai pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok, ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka untuk mendorong individu atau masyarakat menentukan sendiri apa yang harus ia lakukan dalam kaitan dengan upaya mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Sebagai penunjang dalam pelaksanakan pemberdayaan masyarakat dapat membutuhkan sebuah fasilitas yang menunjang kebutuhan masyarakat dalam peningkatan pemberdayaan masyarakat. Fasilitas merupakan salah satu aspek terpenting dalam mewujudkan upaya memberdayakan masyarakat. Fasilitas tersebut dapat berupa Rumah Baca Masyarakat ataupun fasilitas-fasilitas yang serupa lainnya. Rumah Baca memiliki fungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat melalui program pendidikan informal dan nonformal (Kalida, 2010). Dari beberapa konsep tentang pemberdayaan, semuanya mengarah pada satu tujuan yang sama yaitu berpihakan dan kepedulian dalam menerangi pengangguran, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan masyarakat, dengan cara membuat mereka berdaya, punya semangat kerja untuk membangun diri mereka sendiri. Jadi pada hakikatnya pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan potensi masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warga masyarakat melalui kegiatan-kegiatan swadaya. Memberdayakan masyarakat bertujuan mendidik masyarakat agar mampu membantu diri mereka sendiri dalam hal perubahan sosial yang lebih berdaya serta memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dapat meningkatkan taraf kualitas hidupnya .
Method
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitiatif. Penelitian ini yang bertujuan mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku.Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisi, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi. Dengan kata lain bertujuan untuk memperoleh informasiinformasi mengenai keadaan saat ini dan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti (Mardalis, 2007). Penelitian ini dilakukan di Rumah Baca Pinisi yang berlokasi di Kelurahan Terang-terang Kecematan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. Langkah yang ditempuh oleh penulis dalam pengumpulan data adalah penelitian lapangan yaitu suatu penelitian dalam rangka mengumpulkan data yang dilakukan secara langsung oleh penulis dengan dengan mengunjungi lokasi penelitian secara langsung. Sumber data yakni data primer dan data sekunder, adapun teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2010). Teknik pengumpulan data dengan pengamatan (observasi), wawancara (interview) dan dokumentasi.
Result & Discussion
1. Strategi Rumah Baca Pinisi Terhadap Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Terang-terang Kecamatan Ujungbulu. Berikut strategi Rumah Baca Pinisi yang dilakukuan berdasarkan hasil wawancara yang telah didapatkan oleh informan. a. Melakukan Kolaborasi dalam Pengadaan Koleksi Dalam mengembangkan koleksi dirumah baca pinisi tersebut pendiri melakukan kolaborasi antara beberapa komunitas atau pegiat pegiat literasi. Kolaborasi adalah proses bekerja sama untuk menyalurkan gagasan atau ide dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama menuju visi bersama.Kolaborasi juga sangat penting untuk mencapai hasil yang terbaik. Literatur atau bahan pustaka pada lembaga keilmuan merupakan inti yang penting untuk menjalankan rumah baca atau taman baca yang merupakan gudang informasi dan ilmu pengetahuan, untuk memenuhi banyaknya permintaan dan beragamnya minat dari pengunjung tentu pengadaan bahan pustaka atau koleksi harus dilakukan berdasarkan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Berdasarkan data yang didapatkan pada informan I mengenai pengadaan koleksi dengan cara berkolaborasi yang dilakukan rumah baca pinisi itu yang menyatakan, bahwa: “Pengadaan koleksi rumah baca pinisi ini awalnya kebetulan pendiri memang, suka beli buku untuk dibaca lalu mengumpulkan untuk menjadi koleksi di rumah baca, pendiri juga melakukan kolaborasi dengan komunitas pustaka bergerak Indonesia. Dengan bergabungnnya dengan komunitas pustaka bergerak ini pendiri selalu mendapat kiriman buku dari donatur. Lalu untuk penambahan koleksinya itu pendiri bekerja sama dengan dinas perpustakaan daerah untuk meminjam buku dan jika pengunjung sudah merasa bosan dengan koleksi itu-itu saja maka dilakukanlah rolling buku”. Hal yang sama juga disampaikan oleh informan II mengenai pengadaan koleksi dengan cara berkolaborasi yang dilakukan rumah baca pinisi itu yang menyatakan, bahwa: “Pengadaan koleksi rumah baca itu hanya buku dari pendiri dan relawan yang dikumpulkan, lalu berkolaborasi dengan komunitas-komunitas pegiat literasi dan perpustakaan daerah yang melakukan tukar pinjam dengan adanya system tukar meminjam menjadikan rumah baca terus mempunyai buku-buku yang baru yangbisa dibaca oleh anak-anak dan tidak merasa bosan ”. Berdasarkan hasil wawancara pada 16 September 2020 dari kedua informan dapat disimpulkan bahwa bahwa pengadaan koleksinya itu berawal dari buku yang dimiliki oleh pendiri dan relawan. Dilihat dari perkembangan rumah baca pendiri melakukan kolaborasi antar pegiat literasi dan perpustakaan daerah untuk memperbanyak koleksinya dengan cara tukar pinjam atau adanya sumbangan dari pegiat-pegiat literasi yang mempunyai visi dan misi yang sama dalam perberdayaan masyarakat. Tukar pinjam koleksi yang dilakukan Rumah Baca Pinisi menjadikan koleksinya lebih bervariasi sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk mengunjungi Rumah Baca Pinisi. b. Mengadakan Program dan Pengembangan Masyarakat Suatu lembaga tentu memiliki berbagai program di dalamnya sebagai realisasi dari tujuan berdirinya lembaga tersebut.Oleh karena itu, pendiri dan pengelola berinisiatif membuat beberapa program agar menarik perhatian para pengunjung terutama anak-anak. Program juga sangat berperan dalam membantu keaktifan dari rumah baca tersebut sehingga memiliki nilai positif tersendiri dalam membantu mencerdaskan masyarakat. Program juga menjadi suatu acuan untuk rumah baca supaya terlihat membawa perubahan untuk masyarakat setempat. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada informan I yang mengenai program dan kegiatan pengembangan masyarakat di rumah baca pinisi yang menyatakan, bahwa: “Program yang dibuat oleh pendiri dan pengelola itu ada beberapa seperti setiap minggunya ada jadwal tertentu misalnya, hari senin belajar bahasa Inggris, dan belajar bahasa Jepang, hari selasa belajar matematika dan begitu juga hari-hari lainnya. Pada hari jumat itu biasanya anak-anak dilatih untuk menari, pidato, dan mewarnai. Serta menariknya pula anak-anak senantiasa dilatih untuk kebiasaan menjadi anak yang disiplin dan belajar ilmu agama dan islami salah satunya itu dengan shalat berjamaah. Adapun program lainnya itu yang dilakukan pendiri bersinergi dengan berbagai taman baca untuk berkolaborasi program termasuk juga dengan perpustakaan daerah yang contohnya orang-orang perpustakaan daerah ikut melapak baca lalu membacakan dongen untuk anak-anak”. Hal yang sama juga disampaikan pada informan II yang mengenai program dan kegiatan pengembangan masyarakat di rumah baca pinisi yang menyatakan, bahwa: “Programnya itu ada beberapa seperti anak-anak diajar dengan mata pelajaran bahasa Inggris, matematika dan bahasa Jepang. Adapun kegiatan melapak baca serta pelatihan keterampilan masyarakat”. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 16 September 2020 kedua informan dapat disimpulkan bahwa perlunya program dan kegiatan dalam suatu lembaga karena itu bisa menjadi suatu tujuan yang terealisasikan bagi rumah baca pinisi tersebut. Maka dari itu pendiri dan relawan berinisiatif untuk membuat program-program yang mampu memberdayakan masyarakat, sehingga dengan adanya program tersebut ini menjadi masyarakat tahu bahwa rumah baca tersebut sangatlah mempunyai hal yang berbau positif bukan hanya dengan didirikannya rumah baca ini untuk anak-anak yang membaca atau menulis tetapi mempunyai program untuk menambah wawasan diluar dari pada sekolahnya. Program dan kegiatan yang dilakukan dirumah baca seperti belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, belajar matematika dan juga anak-anak dilatih berpidato, menari dan mewarnai ada juga program tentang keislaman yang dimana anak-anak diajarkan shalat berjamaah dan membacakan dongen kepada anak-anak. c. Melakukan Kunjungan dan Penyediaan Bahan Bacaan di Daerah Terpencil Melakukan kunjungan dan menyediakan bahan bacaan merupakan strategi dengan cara dalam bertindak dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan atau sasaran organisasi dengan memperhatikan factor lingkungan. Begitu juga dalam memberdayakan masyarakat tentunya suatu lembaga harus mampu merubah masyarakat yang dulunya masyarakat tidak mempunyai daya sehinnga ia menjadi daya. Hal ini karena, pendidikan sangatlah penting dan haruslah merata untuk setiap anak bangsa tanpa ada pengecualian didalamnya sehingga mewujudkan kecerdasan didaerah yang tidak tersentuh langsung dengan pemerintah yang disebabkan akses yang cukup jauh. Dengan adanya kunjungan dan penyediaan bahan bacaan tidak lagi anakanak yang bertempat tinggal didaerah tersebut hanya bermain-main akan tetapi mampu menambah wawasan dengan adanya kunjungan tersebut. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada informan I yang mengenai kunjungan dan penyediaan bahan bacaan di daerah terpencil yang menyatakan, bahwa: “Untuk mendapatkan pembaca pendiri dan relawan keliling membawa buku yang bertujuan untuk mengunjungi anak-anak yang aksesnya cukup jauh mampu membaca dan belajar dengan caranya sendiri dan biasanya pendiri berkeliling itu didaerah yang betul-betul cukup jauh, begitupun juga anak-anak atau masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut selalu menyambut dengan baik jika kakak pendiri dan relawan data berkunjung. Selain daripada itu pendiri dan relawan seperti membuat games untuk anak-anak untuk menjadi daya tarik tersendiri. Gamesnya itu berupa membuat kerajinan tangan siapa yang lebih bagus akan mendapatkan hadiah”. Hal yang sama juga disampaikan pada informan II yang mengenai tentang kunjungan dan penyediaan bahan bacaan didaerah terpencil yang menyatakan, bahwa: “Yang dilakukan dengan mendatangi pembaca, jikalau rumah baca tertutup maka kami para relawan dan pendiri serta teman-teman itu biasanya ke daerah yang memang tidak biasa tersentuh langsung dengan pemerintah”. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 16 September 2020 kedua informan dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kunjungan, serta membawa buku bacaan untuk masyarakat yang belum tersentuh langsung dengan pemerintah, menjadikan anakanak lebih mampu menambah wawasannya dengan membaca buku bacaan yang dibawa oleh para relawan selain dari pada yang didapatkan di sekolah. Manfaatnya bagi masyarakat itu sangatlah positif dikarenakan anak-anak yang suka bermain-main dengan temannya dengan adanya kakak-kakak relawan tersebut dengan membawa buku bacaan mampu menarik perhatian anak-anak dan masyarakat lainnya. Pendiri dan relawan rumah baca pinisi tersebut ini adalah suatu pencapaian yang dimiliknya. 2. Kendala Rumah Baca dalam Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Terang-terang Kecamatan Ujungbulu Kabupaten Bulukumba a. Koleksi Bahan Bacaan Kurang Update Literatur atau bahan pustaka pada lembaga keilmuan merupakan inti penting untuk menjalankan perpustakaan maupun taman baca yang merupakan sumber informasi dan ilmu pengetahuan, untuk memenuhi banyaknya permintaan dan beragamnya minat dari pengunjung tentu pengadaan bahan pustaka harus dilakukan berdasarkan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Rumah baca yang bersifat umum harus pula memiliki koleksi yang bersifat umum dan begitupun sebaliknya akan tetapi penyediaan koleksi bahan bacaan harus juga menunjang kebutuhan yang sebisa mungkin sesuai dengan kebutuhan di era sekarang sehingga minat baca dari masyarakat itu meningkat karena tertarik akan bahan bacaan yang disediakan. Bahan bacaan adalah koleksi wajib yang harus disediakan bagi setiap rumah baca atau sejenisnya, bahan bacaan harus memiliki criteria sesuai dengan konstruksi dari rumah baca itu sendiri. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada informan I yang mengenai kendala yaitu koleksi bahan bacaan yang kurang update yang menyatakan, bahwa; “Membahas tentang kendala, yah tentunya dalam lembaga itu pasti ada kendalanya. Kendala yang kami hadapi ketika ketersediaan buku bacaan yang dicari pengunjung tidak ada, dikarenakan rumah baca ini yang datang dari berbagai kalangan. Sementara buku yang kami sediakan itu-itu saja atau bisa dikatakan kurang uptudate, sehingga masyarakat atau kalangan remaja yang membutuhkan buku bacaan tersebut itu tidak ada”. Hal yang sama juga disampaikan pada informan II yang mengenai kendala yaitu koleksi bahan bacaan yang kurang update yang menyatakan, bahwa: “Kendala yang kerap kali pendiri dan relawan temui itu ketika pengunjung mencari buku bacaan yang tidak tersedia di rumah baca tersebut. Rumah baca ini bukan hanya dari kalangan anak-anak yang berkunjung akan tetapi dari kalangan anak SMA bahkan yang sudah duduk dibangku perkuliahan datang mencari buku yang ia butuhkan tetapi penyediannya tidak ada”. Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan dapat disimpulkan bahwa buku yang masih kurang update terbukti dengan adanya pengunjung yang mencari buku belum tersedia. b. Jumlah Pengelola Rumah Baca Masih Kurang Adanya suatu lembaga tentunya mempunyai orang-orang didalamnya sehingga mampu membantu berjalanya suatu lembaga. Dalam kelembagaan perlu adanya pengelola dan pengelola ini lah yang menjadi kunci jalannya roda kelembagaan. Baik buruknya lembaga tergantung pada pengelolanya maka dari itu setiap lemabaga harus memiliki pengelola yang mampu bertanggung jawab terhadap semua kegiatan kelembagaan supaya menunjang kebutuhan bahkan tujuan dari kelembagaan tersebut. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada informan I yang mengenai jumlah pengelola rumah baca masih kurang yang menyatakan,bahwa; “Pengelola dirumah baca pinisi ini memang hanya 3. pendiri 1 dan relawan 2. Mengelola rumah baca ini masih membutuhkan pengelola, mungkin hanya pekerjaan amal jariyah saja sehingga orang-orang sebagian tidak ada yang minat menjadi relawan/pengelola rumah baca”. Hal yang sama juga disampaikan pada informan II yang mengenai jumlah pengelola rumah baca masih kurang yang menyatakan, bahwa: “Relawan disini hanya 2. Dulunya ada beberapa relawan tetapi ada yang kuliah di Makassar sehingga susah untuk kembali menjadi relawan dikarenakan harus menuntut ilmu di Makassar. Kurangnya juga menjadi relawan karena berpikiran bahwanya hanya kerja saja tidak mendapatkan upah”. Dari pernyataan kedua informan diatas peneliti mampu menyimpulkan bahwasanya kurangnnya relawan atau pengelola dikarenakan tidak menadapatkan upah hanya disebut amal jariyah .dan ada juga beberapa yang sempat jadi relawan akan tetapi harus menutut ilmu maka dari itu berkuranglah relawan yang di rumah baca pinisi tersebut. c. Kurangnya Anggaran Kualitas dan kuantitas sebuah lembaga adalah satu kesatuan yang harus dijaga untuk keberlangsungan dari lembaga tersebut, proses berjalannya tidak luput dari anggaran rumah tangga, sehingga pendanaan dalam sistem kerjanya sangat diperlukan untuk mencapai harapan yang ingin dicapai sekaligus untuk mengembangkan lembaga tersebut. Anggaran sangatlah membantu dalam mengembangkan setiap lembaga untuk mencapai tujuan dari lembaga tersebut. Anggaran merupakan bagian internal dan tidak bisa dipisahkan dari kelangsungan kelembagaan. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada informan I yang mengenai dukungan anggaran yang menyatakan, bahwa; “Rumah baca ini hanya dibangun mandiri saja akan tetapi dengan berjalannya beberapa waktu pemerintah mulai melirik rumah baca ini dengan memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana dan juga memberikan keamanan untuk rumah baca agar bisa menjalankan aktifitas dengan baik akan tetapi pemerintah tidak memberikan sepenuhnya anggaran yang secara terus-menerus” Hal yang sama juga disampaikan pada informan II yang mengenai dukungan anggaran yang menyatakan, bahwa; “kalau ditanya soal anggaran, rumah baca mulai diberikan anggaran sekitaran berjalannya beberapa waktu setelah melihat kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan, disitulah pemerintah mulai memberikan fasilitas fasilitas untuk rumah baca.” Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan dapat disimpulkan bahwa kurangnya anggaran untuk rumah baca itu ada awal mulanya dengan pemerintah melirik rumah baca dan disitulah mulai diberikan fasilitas fasilitas untuk rumah baca akan tetapi pemerintah tidak sepenuhnya memberikan anggaran secara terus-menerus.
Conclusion
1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Straregi Rumah Baca Pinisi Terhadap Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Terangterang Kecamatan Ujung bulu. 1) Melakukan kolaborasi dalam pengadaan koleksi. Rumah baca pendiri melakukan kolaborasi antar pegiat literasi dan perpustakaan daerah untuk memperbanyak koleksinya dengan cara tukar pinjam atau adanya sumbangan dari pegiat-pegiat literasi yang mempunyai visi dan misi yang sama dalam perberdayaan masyarakat. 2) Mengadakan Program dan Kegiatan Pengembangan Masyarakat. Oleh karena itu, pendiri dan relawan berinisiatif untuk membuat program-program yang mampu memberdayakan masyarakat. Program dan kegiatan yang dilakukan dirumah baca seperti belajar bahasa inggris, bahasa jepang, belajar matematika dan juga anak-anak dilatih berpidato menari dan mewarnai ada juga program tentang keislaman yang dimana anak-anak diajar shalat berjamaah, adapun kegiatan lapak baca serta. 3) Melakukan Kunjungan dan Penyediaan Bahan Bacaan di Daerah Terpencil. Berkunjung dan membawakan buku bacaan ke daerah terpencil itu menjadikan anakanak lebih mampu menambah wawasannya dengan membaca buku bacaan yang dibawakan oleh para relawan, dan juga mampu mendapatkan ilmu pula diluar dari sekolah. b. Kendala Rumah Baca dalam Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Terang-terang Kecamatan Ujung bulu Kabupaten Bulukumba. 1) Koleksi Bahan Bacaan yang Kurang Update. Bahan bacaan yang kurang update menjadikan sebuah kendala dala rumah baca pinisi tersebut. Karena biasanya pengunjung yang sedang mencari buku yang diinginkan tidak tersedia di Rumah Baca Pinisi. 2) Jumlah Pengelola Rumah Baca Masih Kurang. Rumah baca pinisi masih kekurangan pengelola dikarenakan hanya bekerja tidak mendapatkan upah yang bisa disebut juga dengan amal jariyah saja. Jumlah pengelola hanya tiga orang saja. 3) Kurangnya Anggaran. Anggaran pemerintah diberikan oleh rumah baca tersebut setelah berjalan beberapa waktu. Pemerintah mulai memberikan anggaran atau memfasilitasi rumah baca setelah melihat kegiatan-kegaiatn apa yang dilakukan oleh rumah baca dan juga pemerintah setempat memberikan keamanan agar bisa beraktivitas dengan baik akan tetapi tidak secara berangsur-angsur. 2. Saran Dari analisis data dan tinjauan lapangan yang telah dilakukan terdapat beberapa saran untuk rumah baca pinisi : a. Perlu penambahan koleksi bacaan di Rumah Baca Pinisi. Penambahkan koleksi akan membuat masyarakat lebih tertarik untuk datang membaca dengan koleksi yang disediakan selalu update. b. Pendiri dan relawan seharusnya lebih memerhatikan penempatan koleksinya agar pengunjung tidak kebingungan dalam hal mencari buku. c. Diharapkan pengelolah untuk mengajukan proposal bantuan buku baru maupun dana kepada pemerintahan maupun pihak berwenang untuk menambah fasilitas ataupun bahan bacaan baru demi kenyamanan pengunjung. d. Penelitian ini diharapkan menjadi ukuran untuk Rumah Baca Pinisi agar menjadi lebih baik lagi kedepannya. Semoga dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh penulis bisa membantu memberikan arahan untuk peneliti selanjutnya