Kembali
16
1
2022 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 10 · 2 ISSN 2723-7699

Utilitas membaca novel rumah kertas karya Carlos Maria Dominguez sebagai model meningkatkan minat baca

Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Abstract

This study aims to understand the value of reading and the factors that drive interest in reading contained in the novel entitled "The House of Paper." This type of research is library research, using a pragmatic approach. The object of this research is the writing that contains messages related to the value of reading and the factors that encourage reading interest in the novel entitled The House of Paper by Carlos Maria Dominguez. Data collection in this study used reading and note-taking techniques. The data obtained is then analyzed so that conclusions can be drawn. That are (1) the value of reading contained in the novel entitled The House of Paper, namely fulfilling the practical demands of inner life, satisfying intellectual demands, increasing intrapersonal intelligence, increasing interest in something further, increasing logical-mathematical intelligence, reducing stress, filling spare time, and spark the imagination. (2) The factors driving interest in reading contained in the novel entitled The House of Paper are; first, the availability of interesting, quality, and diverse reading materials in the reader's environment. Second, a high curiosity for facts, principles, theories, knowledge, and information needed. Third, a comfortable atmosphere for reading
Keywords: interest in reading · novel · pragmatic · reading utility

Introduction

Karya sastra merupakan hasil olah pikir manusia yang disusun sedemikian rupa sebagai bentuk penyampaian gagasan penulis kepada pembacanya. Kata sastra dalam bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku instruksi, buku petunjuk, atau pengajaran (Teeuw, 2015). Ini menandakan bahwa sastra merupakan suatu karya yang memiliki nilai guna serta amanatnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Selaras dengan pengertian sastra dalam bahasa sanskerta, Horatius menganggap bahwa karya seni yang baik, termasuk sastra harus selalu memenuhi dua tolok ukur, yaitu dulce et utile atau dapat diartikan sebagai keindahan dan kegunaan (Dharma, 2019). Karya sastra yang baik tidak hanya menekankan pada satu aspek keindahan atau kegunaannya saja, tetapi harus mencakup keduanya. Suatu sastra yang indah akan merangsang pembaca untuk terus mempelajari dan memahaminya, sehingga pada akhirnya pembaca tersebut dapat menarik manfaat yang terkandung dalam suatu karya sastra yang dipelajarinya. Melalui karya sastra, seorang penulis dapat menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang ia amati di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra sebagai hasil olah pikir dan kebudayaan manusia memuat banyak nilai-nilai kehidupan di dalamnya (Rokhmansyah, 2014), sehingga karya sastra tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai media hiburan saja, melainkan harus juga dipandang sebagai suatu karya yang berguna bagi pengetahuan. Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang paling banyak digemari masyarakat, hal ini didasari bahwa novel memiliki daya komunikasi yang luas serta mudah untuk dipahami oleh masyarakat itu sendiri. Novel biasanya memiliki gaya bahasa yang ringan serta mudah dipahami oleh berbagai kalangan, baik itu anak-anak, pelajar, maupun orang tua. Selain itu, novel juga sarat akan pesan-pesan tersembunyi yang menuntut untuk ditafsirkan oleh pembacanya. Berbagai nilai representasi nilai kehidupan terdapat dalam novel, baik itu tentang percintaan, hubungan manusia dengan Tuhan, toleransi, maupun dunia literasi. Salah satu novel yang membahas tentang dunia literasi adalah novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez. Novel ini menceritakan tentang tokoh “Aku” yang berusaha menyelidiki asal mula buku La Linea de Sombra yang dikirimkan kepada mendiang koleganya di universitas, tetapi sayangnya buku itu datang terlambat. Tokoh “Aku” dalam penyelidikannya menemukan berbagai keunikan terkait hubungan manusia dengan buku. Pada novel ini pula banyak terdapat amanat terkait pentingnya membaca buku. Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini ditulis oleh Sakina dengan judul “Model Meningkatkan minat baca Tokoh-Tokoh dalam Novel Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”. Penelitian sebelumnya berbeda dengan penelitian ini. Penelitian ini mengkaji tentang nilai guna membaca dan faktor pendorong minat baca yang terdapat dalam novel Rumah Kertas dengan menggunakan pendekatan pragmatik, yakni salah satu teori pendekatan dalam penelitian sastra yang dikemukakan oleh M. H. Abrams. Angggapan dasar penelitian ini ditinjau dari isi teks novel Rumah Kertas tersebut mengandung nilai guna bagi pembaca, yakni pengetahuan tentang manfaat membaca dan faktor pendorong minat baca. Penelitian ini kemudian diharapkan dapat berkontribusi pada kajian-kajian ilmu perpustakaan, khususnya yang mengkaji tentang minat baca

Method

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi pustaka (library research) yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan bahan pustaka, membaca dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber kepustakaan, baik itu berupa buku, jurnal ilmiah, ensiklopedia, maupun dokumen (Zed, 2014). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik, yakni memandang karya sastra dari aspek kegunaannya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu kepada pembaca, serta cenderung menilai karya sastra itu sesuai dengan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut (Abrams, 1971), dengan penafsiran makna yang diserahkan sepenuhnya kepada pembaca. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik baca dan catat. Data yang digali dalam penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan yang terkait dengan utilitas membaca dan faktor-faktor pendorong minat baca pada novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez dengan judul asli La Casa de Papel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus, diterbitkan di Tangerang Selatan pada 2018 oleh Marjin Kiri. Data yang diperoleh kemudian dianalilis sehingga dapat ditarik kesimpulan. Teknik analisis data ini dibagi menjadi tiga tahapan, yakni: reduksi data, bertujuan untuk menyederhanakan data yang diperoleh; penyajian data, yaitu data-data yang diperoleh disusun berdasarkan pokok-pokok penelitian; dan penarikan kesimpulan, yakni peneliti mengemukakan simpulan dari data-data yang diperoleh.

Discussion

Memenuhi tuntutan praktis kehidupan batin Kehidupan batin dapat diartikan sebagai kehidupan kejiwaan seseorang, yang mana hal tersebut erat kaitannya dengan emosi atau keadaaan psikologisnya. Manusia dalam setiap fase perkembangannya mempunyai tuntutan kehidupan batin dan karakteristik emosi yang berbeda. Kegiatan membaca memiliki nilai guna dapat memenuhi tuntutan praktis kehidupan batin, sebagaimana terdapat dalam teks yang merupakan kutipan perkataan tokoh “Aku” dalam novel Rumah Kertas sebagai berikut: ...Tapi bagaimana mungkin aku bisa membuang, katakanlah, The Call of the Wild, tanpa menghapus salah satu bata penyusun masa kecilku, atau Zorba the Greek, yang mengakhiri masa remajaku dengan noda tangis, The Twenty-Fifth Hour dan judul-judul lainnya lagi yang diperuntukkan di rak teratas, tempat mereka bersemayam tak terjamah dan berdiam diri dalam kedudukan keramat yang begitu kita banggakan. (Domínguez, 2018). The Call of The Wild oleh beberapa pihak diklasifikasikan sebagai buku anak-anak. Buku ini menceritakan tentang seekor anjing rumahan bernama Buck yang pada suatu hari diculik dan dijual untuk dijadikan anjing penarik kereta. Buku The Call of the Wild ini dapat memenuhi berbagai tuntutan praktis kehidupan batin seorang anak, di antaranya adalah rasa marah dan kasih sayang. Hal ini senada dengan pendapat Hurlock yang mengatakan bahwa emosi yang umum terdapat pada masa kanak-kanak di antaranya adalah takut, marah, gembira, sedih, ingin tahu, dan kasih sayang (Hurlock, 1980). Ketika tokoh “Aku” membaca buku tersebut saat masa kanak-kanak, dapat diduga bahwa ia turut merasakan apa yang dialami oleh Buck, hingga kemudian ia menyebut bahwa buku ini merupakan salah satu bagian penyusun masa kecilnya. Buku selanjutnya yang sangat berarti bagi tokoh “Aku” adalah Zorba the Greek, buku ini menceritakan tentang persahabatan “Narator” yang berusia 35 tahun dengan pria berusia 65 tahun bernama Zorba, olehnya “Narator” dipanggil dengan sebutan Bos. Kepribadian keduanya bertolak belakang. Di akhir cerita mereka kemudian berpisah, setelah sekian lama Bos kemudian mendapatkan surat yang mengabarkan bahwa Zorba telah meninggal dunia. Buku ini menurut Avil Beckford adalah buku yang sangat filosofis, karena di dalamnya Zorba mengajukan berbagai pertanyaan sulit kepada Bos, seperti tentang keberadaan Tuhan dan mengapa orang mati. Selain itu, Zorba juga menentang pandangan Bos tentang kehidupan (Beckford, 2018). Tokoh “Aku” dalam novel Rumah Kertas membaca buku ini pada akhir masa remajanya, yang mana menurut Asrori sebagaimana dikutip oleh Nurul Azmi dalam artikelnya mengatakan bahwa pada periode akhir masa remaja, seseorang akan memandang dirinya sebagai orang yang dewasa serta mulai mampu untuk menunjukkan pemikiran serta tingkah laku yang semakin matang (Azmi, 2015). Ini berarti ketika tokoh “Aku” membaca Zorba the Greek pada masa akhir remajanya, buku ini dapat memenuhi tuntutan praktis kehidupan batinnya, hal tersebut dibuktikan dari perkataan tokoh aku bahwa buku ini mengakhiri masa remajanya dengan noda tangis. Perihal noda tangis yang dimaksud oleh tokoh “Aku” dapat berarti disebabkan oleh serangkaian kematian dan kehilangan—utamanya meninggalnya Zorba—yang terdapat dalam buku ini. Namun, juga dapat berarti tangisan tersebut hasil dari pergolakan kehidupan batinnya sebagai seorang remaja-akhir, yang mana ia sebagai seorang remaja-akhir pada masa itu—sebagaimana dikatakan oleh Asrori—menganggap dirinya memiliki pemikiran yang matang, tetapi kemudian setelah membaca Zorba the Greek, ia kemudian merenungi kembali pemikiran dan tingkah lakunya tersebut. Selain itu, tokoh “Aku” kemudian juga menyimpulkan pendapatnya sebagaimana dikutip dalam teks berikut: Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. Dengan mereka kita terikat pada pakta kebutuhan dan pengabaian, seolah-olah mereka menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Namun selama buku-buku itu masih ada, momen itu pun tetap menjadi bagian dari diri kita.... (Domínguez, 2018) Ia mengatakan bahwa buku-buku yang pernah dibacanya tersebut merupakan saksi bagi kehidupannya di masa lalu, dengan buku-buku tersebut tokoh “Aku” merasa terikat pada fakta tentang kebutuhannya saat membaca buku tersebut, yang mana kebutuhan ini dapat diartiakan sebagai kebutuhan kehidupan batinnya saat itu. Kedua buku yang dibaca oleh tokoh “Aku” dalam kedua tahap kehidupannya ini membuktikan bahwa membaca buku memiliki sebuah nilai guna, yakni dapat memenuhi tuntutan praktis kehidupan batin seseorang. 2. Memuaskan tuntutan intelektual Kecerdasan intelektual menurut Wescher sebagaimana dikutip oleh Lina Herlina dan Suwatno dalam artikelnya merupakan “Fenomena yang melibatkan penilaian mengenai kemampuan seseorang untuk mengamati, menganalisis dan menafsirkan keadaan…” (Herlina & Suwatno, 2018). Kecerdasan intelektual dapat ditingkatkan salah satunya dengan kecerdasan bahasa, yakni di antaranya meliputi kemampuan membaca dan menulis (Hastuti, 2019). Jika dikaitkan dengan hal tersebut, berarti orang yang intelek di antaranya adalah orang yang senang membaca dan menulis. Hal ini tergambar pada perkataan Jorge Dinarli mengenai Brauer dalam teks berikut: ...Kami berhubungan baik. Dia seorang pembelajar mandiri, tak syak lagi. Majalah-majalah itu penuh coretan di marjin-marjinnya, berisi komentar dan catatan, tidak begitu rapi, tentunya. Tapi itu menunjukkan bahwa lebih dari sekedar kolektor, Brauer adalah pembelajar gaya lama, seperti Martel, Horacio, Arredondo, Simon Lucuix. Paling tidak ia dulu begitu.” (Domínguez, 2018). Dinarli adalah salah seorang pemilik toko buku lawas di Montevideo, ia menceritakan bahwa pada suatu hari Brauer menawarinya sebuah koleksi majalah Martin Fierro yang penuh dengan komentar dan catatan di marginnya. Catatan pada margin majalah tersebut merupakan bukti bahwa saat membaca, Brauer bukan hanya sekadar mengamati, ia juga menganalisis dan mampu menafsirkan apa yang dibacanya dengan baik, serta kemudian hasil analisis dan penafsirannya tersebut dituangkannya dalam sebuah catatan dan komentar yang banyak ditulisnya di sisi majalah. Hal ini menandakan bahwa Brauer bukan hanya seorang penikmat buku. Namun, ia juga seorang pembelajar yang memiliki kecerdasan intelektual. Becermin dari apa yang dilakukan oleh Brauer tersebut membuktikan bahwa membaca memiliki nilai guna, yakni memenuhi tuntutan intelektual. 3. Meningkatkan kecerdasan intrapersonal Paul Suparno yang dikutip Syarifah dalam artikelnya menjelaskan bahwa kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan seseorang tentang pengenalan akan diri sendiri, dan kemudian berdasarkan pengenalan diri tersebut seseorang dapat bertindak secara adaptif atau mudah menyesuaikan diri dengan keadaan (Syarifah, 2019). Membaca buku memiliki nilai guna di antaranya mampu meningkatkan kecerdasan intrapersonal. Dengan membaca buku kita didesak untuk merenungi kehidupan dan memikirkan kembali keputusan akan tujuan hidup (Widodo, 2019). Renungan akan kehidupan ini sebagaimana pernyataan tokoh “Aku” dalam novel Rumah Kertas pada teks berikut: Barangkali aku terguna-gunai sepotong kalimat dari prolog buku yang ternyata mustahil kukembalikan ini, kalimat yang jam demi jam jadi terasa kian menggelisahkan. Dalam pengelanaannya, Conrad belum pernah mengunjungi Montevideo, tapi untuk membantah unsur fantasi di dalam ceritanya, ia menegaskan: “Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri sebagaimana adanya—keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep.” (Domínguez, 2018). Kutipan teks di atas merupakan perkataan tokoh “Aku” sepulangnya ia dari toko Dinarli. Tokoh “Aku” merasa tersihir atau disibukkan pikirannya dengan sepotong kalimat dari prolog buku La linea de sombra yang menyatakan bahwa dunia nyata ini penuh dengan keajaiban, sehingga kadang orang-orang menganggap bahwa hidup ini hanya sebuah mimpi sebagaimana saat terkena sirep atau mantra tidur. Selaras dengan hal tersebut, Jorge Luis Borges dalam suatu wawancara sebagaimana dikutip dalam The Paris Review menyatakan kesetujuannya dengan tulisan Conrad, ia mengatakan bahwa tidak ada yang tahu kebenaran tentang apakah dunia ini sebenarnya realistis, atau merupakan suatu keajaiban. Maksudnya adalah tentang kenyataan apakah dunia ini memang suatu yang bersifat wajar adanya, atau hanya sebuah mimpi yang memungkinkan kita untuk membagikannya pada orang lain, atau mungkin tidak (Piepenbring, 2014). Misteri mengenai kebenaran tentang seperti apa sebenarnya dunia yang sekarang sedang dihidupinya saat ini—sebagaimana dinyatakan dalam prolog La linea de sombra yang pernah dibacanya tersebut—membuat tokoh “Aku” tertarik untuk memikirkan kebenaran dari kalimat tersebut. Hal ini dapat berarti saat ia sedang merenungkan makna dari kalimat yang menyatakan tentang kenyataan dunia berarti ia sedang merenungkan pula tentang kenyataan kehidupan yang dijalaninya. Renungan tokoh “Aku” setelah membaca La linea de sombra ini membuktikan salah satu nilai guna dari membaca, yakni dapat mengembangkan kecerdasan intrapersonal. 4. Meningkatkan minat terhadap sesuatu yang lebih lanjut Membaca adalah sebuah proses menerjemahkan simbol-simbol yang membuat kita berpindah dari tidak tahu menjadi tahu. Setelah membaca sebuah buku kita akan semakin dibuat sadar bahwa masih banyak hal yang ternyata tidak kita ketahui. Ketidaktahuan ini membuat kita semakin penasaran akan sesuatu, sebagaimana dikutip dalam sebuah artikel, Sulistyowati mengatakan bahwa rasa ingin tahu atau rasa penasaran adalah suatu sikap yang membuat manusia berupaya untuk mengetahui lebih luas terkait apa yang telah dipelajarinya. Rasa ingin tahu ini kemudian dapat diibaratkan sebagai “Bensin” yang akan menjadi penggerak dalam studi yang dilakukan oleh manusia (Ameliah dkk., 2016). Pernyataan ini tecermin dalam teks berikut: “Anda tambahkan terus buku-buku ke rak dan kelihatan banyak, tapi kalau boleh saya bilang, itu cuma ilusi. Kita ikuti tema-tema tertentu, dan sesudah suatu waktu, kita temukan bahwa kita sedang merumuskan dunia; ... Ini tidak gampang lho. Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. ...” (Domínguez, 2018)Teks di atas merupakan perkataan Delgado kepada tokoh “Aku” ketika menjelaskan tentang prosesnya membuat perpustakaan di rumahnya. Menurut Delgado membuat sebuah perpustakaan bukan hanya sekadar menambahkan buku ke rak. Namun, merupakan suatu proses mengumpulkan pemikiran tentang berbagai pengetahuan penulis dari berbagai negara. Proses Delgado merangkum dunia ini dimulai dari satu buku, ia mengumpulkan dan membacanya. Buku yang dibaca Delgado tersebut memuat berbagai informasi dari berbagai buku rujukan lain. Di antara daftar rujukan tersebut terdapat buku yang belum dibaca dan dimilikinya, setelah kemudian buku tersebut dimiliki dan dibacanya, ia kembali mendapati buku yang belum ia miliki dan baca di daftar rujukan tersebut, lalu proses pencariannya terhadap buku-buku akan menjadi berkesinambungan. 5. Meningkatkan kecerdasan matematis-logis Kecerdasan matematis-logis merupakan bagian dari teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Kecerdasan matematis-logis merupakan kemampuan untuk menggunakan angka secara efektif serta kemampuan untuk bernalar dengan baik (Hana dkk., 2020). Kemampuan ini dapat ditingkatkan dengan membaca, karena membaca melatih kita untuk menalar dan berpikir secara logis untuk kemudian dapat mengikuti jalan cerita dan memecahkan misteri atau mengambil makna dari suatu bacaan (Widodo, 2019). Hal tersebut dibuktikan dengan perkataan Delgado sebagaimana terdapat dalam teks berikut: ...Kendati harus saya akui bahwa pembacaan saya sendiri sangat terbatas. Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh. Tapi tentu saja, justru kerepotan inilah yang memukau saya.” (Domínguez, 2018). Teks di atas merupakan perkataan Delgado kepada tokoh “Aku” saat menjelaskan prosesnya membangun perpustakaan di rumahnya, yakni dengan terus membaca dan mengumpulkan buku yang terdapat pada rujukan buku yang telah dibacanya. Teks di atas menyatakan bahwa pada dasarnya Delgado bukanlah tipe orang memiliki kecerdasan matematis-logis tinggi—dibuktikan dengan kesulitannya dia dalam memaknai buku yang dibacanya. Namun, karena kesulitannya ini ia kemudian menggunakan buku lain untuk membantunya menafsirkan bab demi bab dari buku yang dibacanya. Delgado berarti meyakini bahwa dengan membaca buku ia dipaksa untuk menalar demi dapat memaknai konsep suatu buku. Hal tersebut membuktikan salah satu nilai guna membaca, yakni dapat meningkatkan kecerdasan matematis-logis. 6. Mengurangi stres Stres menurut Bartlett sebagaimana dikutip oleh Nasib Tua Lumban Gaol dalam artikelnya (Lumban Gaol, 2016) merupakan suatu keadaan lingkungan yang dirasakan menekan oleh seseorang. Keadaan yang dapat menjadi pemicu timbulnya stres tersebut di antaranya adalah beban kerja seperti pekerjaan yang tidak cocok atau terlalu banyak. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi stres, seperti mendengarkan musik, berjalan-jalan, dan meminum teh atau kopi. Namun, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Sussex di Inggris, membaca merupakan cara terbaik untuk mengurangi stres, yakni hingga 68 persen (The Telegraph, 2009). Membaca sebagai cara untuk mengurangi stres ini sebagaimana terdapat dalam teks berikut: “Namun sialnya,” ia melanjutkan, “berapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan buat membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. Di gua inilah—izinkan saya menggunakan istilah itu—saya luangkan waktu beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh, saat saya biasanya naik ke lantai atas untuk makan malam.” (Domínguez, 2018). Delgado menyatakan bahwa ia bekerja selama sembilan jam pada sebuah jabatan yang memiliki tanggung jawab tinggi. Banyaknya waktu yang dihabiskannya untuk bekerja, apalagi pada suatu jabatan yang berat dapat saja membuat ia mengalami stres kerja. Namun, Delgado seolah menyadari salah satu manfaat dari membaca, yakni dapat mengurangi stres. Kesadarannya ini dibuktikan dengan pernyataannya bahwa sepanjang waktu kerjanya yang diinginkannya hanya kembali ke ruangan tempat ia biasa menghabiskan waktunya dengan membaca setelah seharian bekerja. Delgado dengan hal ini berarti dapat menarik manfaat mengenai salah satu nilai guna membaca, yakni mengurangi stres. 7. Mengisi waktu luang Setiap orang memiliki jatah waktu luang yang berbeda, serta berbeda pula cara mereka untuk menghabiskan waktu tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan membaca, seperti yang dilakukan Carlos Brauer, sebagaimana dikatakan oleh Delgado pada teks berikut: ...Saya ngotot agar ia jangan membeli buku lagi di pelelangan, tapi peliharalah perpustakaannya yang ada sekarang. Tapi seperti sudah saya bilang tadi: ia kutu buku yang menghabiskan bukan cuma empat jam tapi hampir sepanjang siang malam dengan buku. Dan buku-bukunya penuh dengan coretan. (Domínguez, 2018). Delgado pada teks di atas menyatakan bahwa Brauer adalah orang yang senang menghabiskan waktunya dengan membaca. Ia membaca bukan hanya selama empat jam, tetapi sepanjang siang dan malam. Waktu siang dan malamnya ini dapat saja digunakan Brauer melakukan hal lain. Namun, ia lebih memilih menghabiskan waktunya tersebut untuk membaca buku. Brauer barangkali menyadari akan fungsi rekreatif yang terdapat dalam karya sastra (W.S., 2019), sehingga ia menghabiskan banyak waktunya untuk membaca. Adanya fungsi rekreatif dalam karya sastra ini berarti memperkukuh pula pernyataan Horatius bahwa sastra yang baik adalah sastra yang indah dan bermanfaat, dalam hal ini dapat diartikan bahwa karya sastra bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Data ini membuktikan bahwa salah satu nilai guna dari membaca adalah dapat mengisi waktu luang. 8. Memicu imajinasi Imajinasi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan pikian untuk membayangkan gambar, baik berupa karangan, lukisan, dan sebagainya (Tarsa, 2016). Dengan imajinasi kita dapat membayangkan sesuatu yang tidak mungkin, karena imajinasi bukan seperti pengetahuan yang terbatas hanya pada apa yang kita ketahui, seperti kata Einstein dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam majalah The Saturday Evening Post pada tahun 1929, “Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles world.” (Viereck, 1929). Pernyataan Einstein ini dibuktikan dengan Teori Relativitas Umum miliknya yang ternyata berasal dari imajinasi masa kecilnya, yaitu mengendarai cahaya. Melihat hal tersebut, sudah selayaknya imajinasi untuk terus dipicu dan dikembangkan, salah satu cara untuk memicu imajinasi adalah dengan membaca, sebagaimana terdapat dalam teks berikut: “Ia dianugerahi penglihatan yang bagus. Tapi coba cari tanda-tanda yang akan saya ceritakan ini, Anda tak akan mendapatinya sama sekali.“Suatu petang seorang kawan memergokinya sedang makan malam menghadap edisi luks El Quijote di atas lesnar dengan segelas anggur putih. Maksudku bukan anggur yang ada di tangan Brauer, tapi yang ditaruh dengan ganjil di sisi buku itu.” (Domínguez, 2018). Teks di atas merupakan cerita Delgado mengenai Carlos Brauer yang sebagaimana diketahui merupakan seorang bibliofili. Brauer membaca banyak buku, baik sejarah, esai, maupun sastra. Salah satu sastra dunia yang tidak luput dari pembacaan Brauer adalah sebuah novel karya Migeul de Cervantes yang berjudul El Quijote atau Don Quixote. Novel ini menceritakan tentang petualangan seorang lelaki bernama asli Alonzo Quinjano yang berimajinasi menjadi seorang kesatria penumpas kejahatan, salah satu bagian ikonik yang paling dikenal dalam petualangannya ini adalah ketika ia menyerbu kincir angin yang diimajinasikannya sebagai raksasa jahat. Seorang pembaca sastra seperti Brauer tak ayal lagi memiliki imajinasi yang luar biasa, karena ia sudah terbiasa membayangkan dalam pikirannya tentang suatu gambaran akan cerita dalam sastra tersebut. Pengaruh membaca buku—utamanya sastra—bagi Brauer ini dibuktikan dengan pernyataan Delgado bahwa salah seorang teman mereka memergoki Brauer sedang makan dengan ditemani novel El Quijote yang didudukkan di atas lesnar dengan segelas anggur putih. Siapapun tahu bahwa buku tidak perlu minum anggur. Namun, Brauer mengimajinasikannya dengan sesuatu yang berbeda, barangkali ia mengumpamakan novel tersebut sebagai seorang Alonzo Quinjano, dan ia menghormati lelaki tersebut dengan cara mengajaknya minum anggur. Imajinasi luar biasa Brauer terkait dengan buku ini ia dapatkan dari hasil pembacaannya akan berbagai buku, sehingga kemudian ia dapat menghadirkan sosok fiksi seolah-olah sedang berada di hadapannya. Ini berarti membuktikan bahwa salah satu nilai guna dari membaca buku adalah dapat memicu imajinasi. B. FAKTOR PENDORONG MINAT BACA YANG TERDAPAT DALAM NOVEL RUMAH KERTAS 1. Tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam di lingkungan pembaca Minat baca tidak bisa tumbuh begitu saja tanpa dibiasakan dan didorong dengan faktor-faktor tertentu. Salah satu faktor pendorong minat baca adalah terdapatnya buku yang menarik, beragam, berkualitas, serta dapat memenuhi minat dari pembaca (NS, 2006). Setiap pembaca memiliki kriteria yang berbeda terkait buku yang menarik bagi minatnya. Salah satu contoh ketertarikan seorang pembaca akan suatu kriteria buku tertentu dinyatakan pada teks berikut: …Aku menyangka ini salah satu buku yang sering dikirimkan padanya oleh para penulis yang berharap ia akan meresensinya untuk jurnal akademis. Bluma tak pernah melakukannya, kecuali penulisnya sudah cukup terkenal sehingga ada yang bisa dipetiknya dari situ... (Domínguez, 2018). Suatu ketika saat tokoh “Aku” berada di ruang kerja mendiang Bluma, ia mendapati suatu paket yang dialamatkan kepada Bluma. Ia mengira bahwa paket tersebut berisi buku yang biasa dikirimkan oleh para penulis kepada Bluma untuk kemudian diresensinya dan dimuat ke dalam jurnal akademis. Namun, ternyata Bluma memiliki kriteria tersendiri terkait buku yang akan diresensinya tersebut, ia hanya akan tertarik jika buku tersebut berkualitas, yang ditandai dengan adanya nilai yang dapat diambil dari buku tersebut. Bagi Bluma, biasanya buku seperti ini berasal dari penulis yang cukup masyhur. Berbeda dengan Bluma yang lebih memilih untuk membaca dan meresensi buku yang berasal dari penulis terkenal serta memiliki kualitas dalam isinya, Delgado memiliki kriteria tersendiri terkait buku yang diinginkannya, sebagaimana termuat dalam teks berikut Saya tidak tertarik memburu edisi-edisi pertama. Yang saya inginkan adalah memiliki buku terjangkau dengan kondisi sebaik mungkin, kalau tidak saya jadi gelisah. Lemari-lemari yang Anda lihat ini dibuat dari lapacho, kayu tak berkerak yang tak tembus serangga; saya memesannya khusus: sepuluh lembar kayu keras direkatkan dengan lem antiserangga, dan dipasangi pelapis kaca karena buku jelas-jelas mengundang debu... (Domínguez, 2018). Buku yang menarik bagi Delgado adalah buku dengan harga terjangkau serta kondisinya bagus. ia merasa tertarik untuk membaca buku yang memiliki kondisi prima, bahkan ia sampai menggunakan lemari yang didesain khusus agar tidak dimasuki serangga dan menambahkan kaca agar bukunya tidak berdebu. Serangkain perhatian yang dilakukan Delgado akan koleksi bukunya ini menandakan bahwa ia adalah orang yang sangat mementingkan kondisi suatu buku, karena baginya buku yang memiliki kondisi baik akan menarik untuk dibaca. Ketertarikan Bluma akan buku yang berkualitas dan berasal dari penulis terkenal, serta Delgado yang tertarik dengan buku yang memiliki kondisi baik dan harga yang terjangkau menandakan bahwa kedua tokoh ini memiliki kesamaan terkait faktor yang dapat mendorong minat baca mereka, yakni tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam di lingkungan pembaca. 2. Rasa keingintahuan yang tinggi atas fakta, prinsip, teori, pengetahuan, dan informasi yang diperlukan Ketertarikan seseorang untuk membaca buku salah satunya didasari oleh kebutuhan dan keingintahuannya akan fakta, prinsip, teori, informasi, dan pengetahuan yang diperlukannya (NS, 2006). Buku sebagaimana kita ketahui mengandung banyak nilai di dalamnya, sehingga orang yang menyadari akan kandungan nilai di dalam buku tersebut akan tertarik untuk membaca buku, sebagaimana terdapat di dalam teks berikut: …Ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam_x0002_jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya. (Domínguez, 2018). Teks di atas merupakan pernyataan Dinarli yang disampaikannya kepada tokoh “Aku”. Dinarli mengatakan bahwa Brauer merupakan salah satu pecinta buku yang rela menghabiskan uangnya untuk membeli buku. Buku-buku yang dibelinya tersebut kemudian dipelajarinya selama berjam_x0002_jam. Kenyataan Brauer yang senang untuk mempelajari dan memaknai buku ini memberi pemahaman bahwa adalah seorang pembelajar yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap pengetahuan yang terdapat di dalam buku yang ia baca. Hal ini kemudian membuktikan bahwa dalam teks tersebut terkandung pesan terkait faktor pendorong minat baca, yakni rasa keingintahuan yang tinggi atas fakta, prinsip, teori, pengetahuan, dan informasi yang diperlukan. 3. Suasana yang nyaman untuk membaca Seseorang memerlukan suasana yang nyaman dalam melakukan kegiatannya, misalnya saja interior rumah sakit yang diberi warna tertentu seperti hijau, karena warna ini dapat menenangkan dan mengundang ketenangan batin bagi pasien dan perawat di rumah sakit (Pantalony, 2009). Sama halnya dengan suasana di rumah sakit tersebut, membaca juga memerlukan suasana yang nyaman dan sesuai. Salah satu hal yang dapat membuat suasana menjadi nyaman saat membaca adalah dengan menggunakan musik, karena dalam suatu studi ditemukan bahwa musik dapat membuat orang menjadi tertarik untuk belajar lebih banyak (tim, 2021). Suasana yang nyaman untuk membaca berbeda bagi setiap orang, hal ini sebagaimana terdapat pada pernyataan Delgado dalam teks berikut: …Carlos suka membaca penulis-penulis Perancis abad kesembilan belas diterangi cahaya lilin, dalam hal ini memakai kandil perak. Kami pernah memperbincangkannya dulu, sebab aku juga suka membaca Goethe sambil stereoku mengalunkan opera Wagner, atau umpamanya, menyetel Debussy untuk menemani membaca Baudelaire. Ini bagian dari pengelanaan, dan bisa saya pastikan bahwa cara ini mempertinggi nikmat setiap indera kita. (Domínguez, 2018). Delgado pada teks di atas mengatakan bahwa Carlos Brauer suka membaca buku-buku dari para penulis Prancis abad ke-19 dengan menggunakan lilin yang ditaruh di atas tempat berbahan perak. Barangkali Brauer senang membaca dengan suasana seperti itu karena baginya hal tersebut sebagai suatu penggambaran suasana saat buku yang dibacanya itu ditulis—yakni saat sebelum Edison menemukan lampu pada tahun 1879 dan kemudian menjadi umum digunakan. Berbeda dengan Brauer, Delgado menyatakan bahwa dirinya lebih senang membaca buku dengan suasana iringan musik. Musik yang dipilih delgado untuk menemaninya membaca disesuaikan dengan bacaannya tersebut, sebagaimana dikatakannya bahwa ia senang membaca Goethe dengan ditemani opera Wagner, dan membaca Baudelaire dengan ditemani iringan Debussy. Goethe adalah penulis Jerman abad ke-18 hingga ke-19, dan Wagner adalah komponis Jerman abad ke_x0002_19, sedangkan Baudelaire dan Debussy masing-masingnya adalah seorang penulis dan komponis Prancis abad ke-19 dan abad ke-19 hingga ke-20. Chris Brewer sebagaimana dikutip dalam sebuah artikel menyatakan bahwa mendengarkan musik akan lebih besar manfaatnya jika pilihan musik tersebut disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan (Safitri, 2018), dalam hal ini Delgado menyesuaikan pilihan buku dan musiknya pada aspek asal negara dan masa para penulis dan komposer tersebut berkarya. Pernyataan Delgado akan kesenangannya membaca buku dengan diiringi musik, serta kesenangan Brauer membaca buku penulis Prancis abad ke-19 dengan diterangi lilin menyatakan bahwa salah satu hal yang dapat meningkatkan minat baca adalah adanya suasana yang nyaman untuk membaca. C. UTILITAS MEMBACA NOVEL RUMAH KERTAS SEBAGAI MODEL MENINGKATKAN MINAT BACA Novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez mengandung nilai guna dapat meningkatkan minat baca bagi pembacanya. Nilai guna tersebut diperoleh dari tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Rumah Kertas tersebut, sehingga kemudian hal ini dapat dijadikan sebagai model meningkatkan minat baca. Model meningkatkan minat baca yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap novel ini dapat digambarkan sebagai berikut Gambar 1 menggambarkan tentang model meningkatkan minat baca yang diperoleh setelah membaca novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez. Lewat tokoh-tokohnya, yakni Tokoh “Aku”, Brauer, Delgado, dan Bluma kita menemukan banyak nilai guna terkait nilai guna membaca dan faktor-faktor pendorong minat baca. Nilai guna membaca dalam novel ini digambarkan oleh tiga tokoh, yaitu tokoh “Aku”, Brauer, dan Delgado. Adapun faktor-faktor yang mendorong minat baca tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan oleh Bluma, Brauer, adalah Delgado. Keempat tokoh ini berperan sebagai model untuk meningkatkan minat baca, yakni berhubungan dengan manfaat membaca dan faktor pendorong minat baca yang dinyatakan oleh keempat tokoh tersebut, dan dari keempat tokoh ini yang paling menonjol perannya adalah Delgado dan Brauer, ini disebabkan karakter keduanya yang digambarkan sebagai bibliofili, sehingga hubungan keduanya dengan buku dan dunia literasi sangat erat. Nilai-nilai yang diperoleh setelah membaca novel Rumah Kertas lewat keempat tokoh di dalamnya kemudian dapat menjadi suatu motivasi yang dapat menumbuhkan minat baca bagi pembacanya, hal ini selaras dengan pernyataan Undang Sudarsana dan Bastiano bahwa salah satu motivasi internal yang dapat memengaruhi minat baca adalah pengetahuannya akan kemajuan sendiri, yakni pengetahuannya akan manfaat dan hasil yang diperolehnya setelah membaca (Sudarsana & Bastiano, 2013). Seorang pembaca yang menyadari banyaknya nilai—baik itu berupa nilai guna membaca ataupun faktor pendorong minat baca—yang terkandung dalam novel Rumah Kertas lewat tokoh-tokoh di dalamnya akan menjadi motivasi baginya untuk membaca lebih banyak lagi, terlebih apabila nilai yang diperolehnya tersebut kemudian dapat menjadi pengajaran baginya hingga kemudian diaplikasikannya sebagaimana salah satu fungsi dari karya sastra, yakni fungsi didaktik. Inilah kemudian yang menjadikan novel Rumah Kertas memiliki utilitas sebagai model untuk meningkatkan minat baca

Conclusion

Secara umum dapat disimpulkan bahwa novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Domingeuz menyimpan berbagai kegunaan bagi pembacanya, yakni sebagai berikut: (1) nilai guna membaca yang terdapat dalam novel Rumah Kertas, yaitu memenuhi tuntutan praktis kehidupan batin, memuaskan tuntutan intelektual, meningkatkan kecerdasan intrapersonal, meningkatkan minat terhadap sesuatu yang lebih lanjut, meningkatkan kecerdasan matematis-logis, mengurangi stres, mengisi waktu luang, dan memicu imajinasi. (2) Faktor pendorong minat baca yang terdapat dalam novel Rumah Kertas adalah, yang pertama tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam di lingkungan pembaca. Kedua, rasa keingintahuan yang tinggi atas fakta, prinsip, teori, pengetahuan, dan informasi yang diperlukan. Ketiga, suasana yang nyaman untuk membaca.