Kembali
16
1
2020 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN 2746-0509

Perpustakaan BaitulHikmah, Tonggak Kebangkitan Intelektual Muslim

Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Abstrak

Perpustakaan Baitul Hikmah tercatat sebagai perpustakaan milik orang islam yang didirikan di masa Khalifah Abbasiyah yang dianggap sebagai perpustakaan terbesar pertama yang turut mempengaruhi peradaban muslim dalam bidang sains. Puncaknya terjadi pada masa khalifah al Ma’mun. Al Ma’mun mampu mengembangkan perpustakaan Baitul Hikmah dengan pengelolaan yang baik, dan maksimal salah satunya melalui dukungan dana yang besar untuk riset, membayar tenaga profesional pustakawan, membayar penerjemahanbahkan mengkolaborasikan pakar dari berbagai bidang tanpa melihat latar belakang agama. Al hasil, baitul hikmah menjadi rujukan sumber informasi penting dalam berbagai bidang, mulai dari bidang sosial, kedokteran, matematik, fisika dan filsafat. Ini sangat menarik untuk dijadikan pengetahuan para pengelola perpustakaan saat ini, sekaligus menjadi bahan pelajaran penting tentang peran perpustakaan dalam perkembangan intelelktual dan peradaban manusia.

Abstract

The Baitul Hikmah Library was recorded as a library owned by Muslims, which was established during the Abbasid Caliphate which was considered the first largest library to influence Muslim civilization in the field of science. The climax occurred during the caliph al-Ma'mun. Al Ma'mun is able to develop the Baitul Hikmah library with good management, and maximum one of them is through large financial support for research, paying professional librarians, paying for translation andeven collaborating with experts from various fields regardless of religious background. As a result, Baitul Wisdom becomes a reference source of important information in various fields, ranging from the social, medical, mathematical, physical and philosophical fields. This is very interesting to be used as the knowledge of library managers at the moment, as well as being an important lesson material about the role of libraries in the development of intelligence and human civilization
Keywords: Baitulhikmah · al ma’mun · intellectual civilization · Islamicintellectuals · role of libraries

Introduction

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kecerdasan intelektualmelalui anugerah akal. Hal ini tertuang dalam konsep iqro’ yang berarti bacalah!. Perintah membaca diturunkan sebagai wahyu pertama tentu memiliki dasar tujuan yang logis bahwa sebagai manusia, mengedepankan kemajuan dan peradaban kemampuan berpikir itu penting. Sebab Islam bukan agama wahyusemata, melainkan juga menjunjung tinggi kemampuan berpikir melalui akaldan nalarnya. Ayat iqro’ adalah ayat tentang dorongan sekaligus motivasi bagi manusia agar mampu memahami ilmu dan ayat-ayat Alloh SWT yang terhampar dibumi dan alam semesta, secara tersurat dalam berbagai bentuk literatur tulis atau cetak, maupun yang tersirat. Dengan iqro, maka manusia mencapai kemajuan dan peradaban(Liputan6.com, 2019). Secara lebih luas, kata iqro’ mengandung arti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan dan membuktikan(Ading Nasrulloh, 2017).Memahami ayat tersebut dari sudut pandang lain juga memiliki dua makna penting yang juga masih cukup relevan yaitu pentingnya dorongan berliterasi dan dukungan ketersediaan sumber-sumber literasi. Dua kata kunci ini menarik diangkat sebagai dasar pijakan tentang betapa penting kemajuan dan peradaban melalui sains, dan pentingnya fasilitas yang didalamnya terkelola secara baik sumber-sumber informasi yang lengkap. Itu sebabnya, perkembangan pengetahuan, peradaban, kebudayaan dan pendidikan Islam maju pesat jika didukung oleh fasilitas atau lembaga yang mewadahinya (Irfan, 2016, p. hlm. 1). Kejayaan Daulah Abbasiyah di era 132H/ 570M, tidak lepas dari adanya semangat para khalifahnyamulai dari Al Mansur, Harun Arrosyid dan kemudian diteruskan oleh putra al Ma’mun untuk melembagakan dan mengembangkan sebuah perpustakaan yang diberi nama “Baitul Hikmah”sebagai wadah sumber-sumber ilmu pengetahuan yang penting untuk pengembanganintelektual muslimdan peradaban umat. Masa Daulah Abbasiyah ini terkenal sebagai masa kejayaan ilmu pengetahuan dan urusan dalam negeri namun kurang tertarik pada ambisi memperluas wilayah kekuasaan (Irfan, 2016, p. hlm. 1; Riyadi, 2016, p. hlm. 1). Perpustakaan Baitul Hikmah menjadi mercusuar peradaban intelektual muslim paling fenomela. Baitul Hikmah menjadisimbol kepemimpinan yang lebih tertarik untukmencurahkan perhatiannya pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Discussion

1.Sejarah Perpustakaan Baitul HikmahNama Baitul Hikmah diambil dari kata dasar “baitun”(bahasa Arab) yang berarti rumah dan “hakama”(bahasa Arab) yang berarti bijaksana. Nama ini pertama kali dipakai oleh khalifah Harun Arrosid saat berkuasa untuk nama lembaga penyimpan koleksi buku-buku sebagai bahan kajian atau semacam perpustakaan pribadi kerajaan. Setelah ayahnya meninggal dan digantikan (Hosen, 2017).Baitul Hikmah memiliki sejarah yang semakin lama semakin menarik di ungkapkan. Bukan hanya karena peran dan fungsidi jamannya kala itu saja, tetapi juga pengaruhnya terhadap semangat kebangkitan dunia pengetahuan di kalangan kaum muslimin sampai sekarang. Baitul hikmah menjadi mercusuar masa kejayaan pengembangan intelektual dan ilmu pengetahuan yang mampu memberikanspirit sampai sekarang dikalangan kaum muslimin. Perpustakaan Baitul Hikmahberdiri di masa kekuasaan daulah Abbassiyah yang berada di Baghdad dibawah kepemimpinan daulah periode pertama. Daulah Abbasiyah sendiri berlangsung semala 132 tahun, dari tahun750M sampai dengan tahun 1258M(Abrari Syauqi dkk., 2016, p. hlm. 47). Pada periode pertama ini, kekhalifahan diakui sebagai puncak masa keemasan dan perkembanganilmu pengetahuan dan intelektual muslim. Dimulai semenjak kekhalifah AlManshur, dilanjutkan oleh khalifah Harun Arrosyid dan dikembangkan oleh putranya Khalifah Abdullah Al Ma’mun. Pada masa tersebut negara Islam mendapat julukan sebagai negara kuat dan tak tertandingi (Abrari Syauqi dkk., 2016, p. hlm. 54; Fatikhah, 2015, p. Hlm. 8).Khalifah Al Manshur adalah khalifah yang merintis kebangkitan ilmu pengetahuan dengan cara mengutus para intelektualnya ke berbagai pusat ilmu di dunia untuk dikumpulan dan diterjemahkan(A. Hasjmy, 1993, p. hlm. 263). Salah satu hasil dari upaya Al Manshur adalah dengan memerintahkan Muhammad bin Ibrahim Al Fazari untuk menterjemahkan naskah buku tentang ilmu astronomi dari India berjudul Siddhanta(bahasa Arab: Sindhind) (Philip K. Hitti, 2002, p. hlm. 307).Selain ghirohterhadap penerjemahan dan penyalinan kitab-kitab Yunani, india dan Persia, Khalifah Al Mansur ternyata juga sangat memperhatikan perkembangan rumah sakit (Megawati, 2019), serta melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannyadenganmengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif(Edianto, 2018, p. 53).Sepeninggal Al Manshur, kekhalifahan diganti oleh cucunya yaitu Harun Arrosyid. Dikatakan bahwa Khalifah Harun Arrosyid adalah seorang yang memiliki kepribadian suka dan tertarik akan kemajuan peradaban dan kebudayaan(Fatikhah, 2015, p. hlm. 8).Ketertarikan pada ilmu pengetahuan diwujudkan dengan memperbesar departemen studi ilmiah dan penerjemahan yang didirikan kakeknya, Al-Mansur. Atas kemurahan hati ar-Rasyid, para menteri dan anggota istana yang berbakat terutama keluarga Barmak,diberi kesempatan saling berlomba membantu mengembangkan ilmu pengetahuan dan keseniansehinggamembuat Baghdad menjadi pusat yang menarik orang-orangterpelajar dari seluruh dunia (Syailabi, 1993, p. 110 dalam Kasmiati, 2006, p. 96). Semangat menterjemahkan naskah-naskah berbahasa asing ke dalam bahasa Arab masih gencar dikembangkan sehingga karena banyaknya koleksi kemudian beliau membangun sebuah perpustakaan pribadi yang diberi nama Khizanah Al Hikmah(Lapidus, 1999, p.110 dalam Fahruddin, 2009, p. 191 Lihat juga; Hosen, 2017).Khizanah al Hikmah ini dijadikan sebagai perpustakaan sekaligus pusat kegiatan ilmiah termasuk penelitian. salah satu bentuk kegiatan ilmiah tersebut adalah penerjemahan naskah kuno sekaligus membuat pedoman penjelasannya oleh para ahli bahasa baik kalangan muslim maupun non muslim(Mahmud Yunus, 2008 lihat juga ; Riyadi, 2016, p. 102).Khizanah al hikmahinilah yang menjadi cikal bakal Baitul Hikmah nantinya sepeninggal khalifah Harun Arrosyid. Meski demikian, eksistensinya sangat perpengaruh besar terhadap kegemilangan kekhalifahan dalam bidang pengetahuan yang diakui dunia.Khalifah berikutnya yang dianggap turut berkontribusi mengusung masa keemasan daulah Abbasiyah sehinga mendapat slogan “the Golden Ageof Islam”adalah dimasa khalifah Abdulloh Al Ma’mun. Al Ma’mun berkontribusi terhadap kejayaan daulah abbasyah, khususnya bidang peradaban ilmu pengatahuan. Beliau adalah salah satu khalifah yang sangat cinta pada ilmupengetahuan melebihi khalifah pendahulunya dandiakui sebagi seorang yang cerdas, berwibawa, fasih bicara dan luas wawasannya. Latarbelakang kepribadiannya tersebut yang mendorong kemudian pada tahun 830M membangun Baitul Hikmah dan mengembangkannya menjadi sebuah perpustakaan besar dengan berbagai fungsi sebagai akademi sekaligus biro penerjemah(Hosen, 2017; lihat juga Philip K. Hitti, 2002, p. hlm. 310).Menurut Farag Faudah, 2008 sebagaimana dikutip oleh A. Gani, bahwa Al Makmun berbeda dengan saudara lainnya, ia lebih cenderungan fokus pada pemerintahan dan pembangunan negara, termasuk kemajuan dalam bidangilmu pengetahuan dan teknologi,ketimbang bersukaria dengan pesta pora, minuman keras dan hasrat terhadap sesama jenis(Ghani, 2015). Baitul hikmah inilah yang kemudian menjadi mercusuar akan kebangkitan intelektual muslim dimasanya.2.Baitul Hikmah Sebagai Pusat Pengembangan Sains Baitul Hikmah dibangun dan dikembangkan tidak lepas peran dan inisiatif yang sama oleh khalifah Harun dan Al Ma’mun untuk mengumpulkan dan menyalin ilmu-ilmu pengetahuan asing ke dalam bahasa Arab. Pendapat lain mengatakan bahwa Motiv utama didirikannya Baitul Hikmah adalah untuk menggalakkan dan mengkoordinir kegiatan pencarian dan penerjemahan karya-karya klasik dari warisan intelektual Yunani, Persia, Mesir dan lain-lain ke dalam bahasa Arab, khusunya umat Islam. Salah seorang yang paling berperandalam hal ini adalahHunayn bin ishaqyang diutusmengadakan perjalanan ke Alexandria dan singgah pula di Syiria dan Palestina untuk mencari karya-karya naskah kuno(Irfan, 2016, p. 145). Di institusi ini al-Makmun memperkerjakan Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang ahli di bidang al-jabar dan astronomi dan juga Beliau adalah salah satu guru besar di Baitul Hikmah. Orang-orang Persia lain yang pakar dalam berbagai bidang pengetahuan juga diperkerjakan di Baitul Hikmah. Pada masa itu direktur Baitul Hikmah adalah Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan al-Makmun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan tetapi jugasebagai pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika. Pada 832 M, al-Makmun menjadikan Baitul Hikmah di baghdad sebagai akademi pertama, lengkap dengan teropong bintang, perpustakan, dan lembaga penerjemahan. Kepala akademi ini yang pertama adalah Yahya ibn Musawaih (777-857), murid Gibril ibn Bakhtisyu, kemudian diangkat Hunain ibn Ishaq, murid Yahya sebagaiketua ke dua (Mahmud Yunus, 2008 dalam; Riyadi, 2016, p. 103).Adapun faktor-faktor yang mendorong umat Islamkala itumelakukan kegiatanpenerjemah dan transfer ilmu-ilmu kuno diantaranya adalah :a.Suasana Persaingan (prestise) antara orang-orang Arab dengan lainnya. b.Keinginan untuk menguasai ilmu-ilmu yang belum dimiliki. c.Dorongan ayat-ayat Al-Qur’an (ajaran Islam) tentang menuntut ilmu pengetahuan. d.Kemajuan ilmu pengetahuan merupakan konsekuensi dari peningkatan kemakmuran dan kemajuan ekonomi(Irfan, 2016, p. 145).Pesatnya perkembangan lembaga Baitul Hikmah mendorong lembaga ini untuk memperluas peranannya, bukan saja sebagai lembaga penerjemah, tetapi juga meliputi hal-hal sebagai berikut: a.Sebagai pusat dokumentasi dan pelayanan informasi keilmuwan bagi masyarakat, yang antara lain ditunjukkan dengan berdirinya perpustakaan di kota Baghdad. b.Sebagai pusat dan forum kegiatan pengembangan keilmuan, sehingga semua perangkat risetnya juga dilengkapi dengan observatorium astronomi. c.Sebagai pusat kegiatan perencanaan dan pengembangan pelaksanaan Pendidikan(Irfan, 2016, p. 146) Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam, yaitu menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada waktu itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban. Berkat kegigihan dan kecintaan terhadap pengetahuan, maka pada masa tersebut telah dikembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan mulai dari ilmu agama, filsafat, ilmu eksakta seperti matematika, astronomi, dan juga ilmu kedokteran. Lembaga-lembaga pendidikan berkat adanya usaha dan bantuan dari orang-orang yang memegang kepemimpinan dalam pemerintahan(Megawati, 2019 lihat juga; Riyadi, 2016, p. 102).Berikut adalah keberhasilan nyata bidang peradaban dan ilmu pengetahuan dimasa Abbasiyah yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi dan tujuan didirikannya baitul hikmah, yaitu:a.Bidang kebudayaan Pada masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan. Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Hindia dan Kebudayaan Arab dan berkembangnya ilmu pengetahuan. b.Bidang ilmu pengetahuan umum Sesuai dengan semangat dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, maka baitul hikmah sebagai lembaga perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari pendirian lembaga pendidikan. Dampak nyata dari kebijakan al makmun tentang perpustakaan dan lembaga pendidikan ini kemudian melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan besar dan sangat berpengaruh terhadap peradaban islam seperti:1)Ilmu kedokteran a)Hunain ibn Ishaq (804-874 M), terkenal sebagai dokter penyakit mata. b)Ar Razi (809-873 M), terkenal sebagai dokter ahli penyakit cacar dan campak. Buku skaranganya dibidang kedokteran berjudul Al Hawi. c)Ibn sina (980-1036 M), karyanya yang terkenal adalah al Qonun fi at-Tibb dan dijadikan buku pedoman kedokteran bagi universitas di negara Eropa dan negara Islam. d)Abu Marwan Abdul Malik ibn Abil’ala ibn Zuhr (1091-1162 M), terkenal sebagai dokter ahli penyakit dalam. Karyanya yang terkenal adalah At Taisir dan Al Iqtida. e)Ibn Rusyd (520-595 M), terkenal sebagai perintis penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.2)Ilmu Perbintangan a)Abu Masy’ur al Falaki, karyanya adalah Isbatul’Ulum dan Haiatul Falaq. b)Jabir Al Batani, pencipta teropong bintang yang pertama, karya yang terkenal adalah Kitabu Ma’rifati Matlil-Buruj Baina Arba’il Falaq. c)Raihan Al Biruni, karya yang terkenal adalah at-Tafhim li Awa’ili Sina’atit-Tanjim (Abbas Wahid, 2009. Hal.78) 3)Ilmu Pasti/ Matematika (Riyadiyat) a)Sabit bin Qurrah al Hirany, karyanya yang terkenal adalah Hisabul Ahliyyah. b)Abdul Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Abbas, karyanya yang terkenal ialah Ma Yahtaju Ilaihi Ummat Wal Kuttab min Sinatil-hisab. c)Al Khawarijmi, tokoh matematika yang mengarang buku al Jabar. d)Umar Khayam, karyanya tentang al Jabar yang bejudul Treatise on al-Gebra telah diterjemahkan oleh F Woepcke ke dalam bahasa Perancis (1857 M). Karya Umar Khayam lebih maju daripada al Jabar karya Euklides dan Al Khawarizmi. 4)Ilmu farmasi dan Kimia. Salah satu ahli farmasi adalah ibn Baitar, karyanya yang terkenal adalah Al Mugni, Jami’ Mufratil Adwiyyah, wa Agziyah dan Mizani tabib. Adapun dibidang Kimia adalah Abu Bakar Ar Razi dan Abu Musa Ya’far al Kufi. Pada masa Al Makmun juga berdiri Sekolah Tinggi Farmasi(Megawati, 2019).5)Ilmu Filsafat Tokoh-tokoh fi lsafat Islam antara lain, Al Kindi (805-873), Al Farabi (872-950 M) dengan karyanya Ar-Ra’yu Ahlul Madinah al Fadilah, Ibnu sina (980-1036 M), Al Ghazali (450-505 M) dengan karya Tah Afut al-Falasifat, Ibnu Rusyid dan lain-lain. 6)Ilmu Sejarah Ahli Sejarah yang lahir pada masa itu adalah Abu Ismail al Azdi, dengan karyanya yang berjudul Futuhusyi Syam, al Waqidy dengan karyanya al Magazi, Ibn Sa’ad dengan karyanya at-Tabaqul Kubra dan Ibnu Hisyam dengan karyanya Sirah ibn Hisyam. 7)Ilmu Geografi Tokohnya ialah Ibnu Khazdarbah dengan karyanya Kitabul masalik wal Mamalik, Ibnu Haik dengan karyanya Kitabus Sifati Jaziratil-‘arab dan Kitabul Iklim, Ibn Fadlan dengan karyanya Rihlah Ibnu fadlan(Abbas Wahid, 2009. Hal. 78)c.Bidang ekonomi Ekonomi berpusat pada perdagangan dunia (Basrah, Iraq) dan (Siraf, Pesisir Laut Persia). Kemudian bergeser ke Kairo. Baghdad sebagai jantung pemerintahan menjadi penopang kegiatan perdagangan.Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafi lah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada untuk melindungi partai-partai negara dari serangan bajaklaut, menggiatkan ekspor impor. Selain perdagangan, dari sisi bidang pertaniantelah dibangunsistem irigasi modern dengan memanfaatkan sungai Eufrat dan Tigris.Bidang perindustrian, khalifah menganjurkan untuk membangun berbagai industri, dan salah satunya adalah munculnya industri kertas(Irfan, 2016, p. 150). d.Ilmu Agama Di samping ilmu pengetahuan umum, pada masa itu berkembang pula ilmu agama mulai dari perkembangan ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu bahasa, ilmu tasawuf dengan tokoh-tokohnya. Dalam bidang tafsir berkembang duamacam tafsir dengan tokoh-tokohnya yaitu diantaranya, tafsir bil ma’tsur(penafsiran ayat Al Qur’an oleh Al Qur’an atau Hadits Nabi), diantara tokohnya adalah Ibnu Jarir At Tabari, Ibnu Atiyah al Andalusy, Muhammad Ibn Ishak dan lain-lain. serta tafsir bir-ra’yi(Tafsir dengan akal pikiran), diantara tokohnya adalah Abu Bakar Asam, Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany,Ibnu Juru As Asadi dan lainnya.Dalam bidang ilmu hadits, menghasilkan penyusunan hadits sesuai kesahihannya. Ulama-ulama hadits terkenal pada masa ini seperti Imam Bukhori, Muslim, At Tirmadzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan An Nasa’i. Dalam bidang ilmu Kalam muncul tokoh-tokohnya seperti Wasil ibn Atho’, Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Ghozali dan lain-lain. Dalam bidang Ilmu Tasawuf lahir tokoh-tokoh dan pakarnya sepertial Qusairy dengan karyanya Risalatul Qusairiyah dan Al Ghozali dengan karyanya Ihya’ Ulumuddin. Ilmu bahasa muncul tokoh pakar bahasa seperti Sibawaih, AlKisai dan Abu Zakariya al Farra. Bidang IlmuFikih, maka zaman pemerintahan Abbasiyah awal melahirkan 4 Imam Madzhab yang ulung, mereka adalah Syafi ’i, Hanafi , Hambali, dan Maliki. Pada masa ini ilmu fikih berkembang pesat(Abbas Wahid, 2009. Hal. 79(dalam Irfan, 2016, p. 151)) 3.Kontribusi Islam Dalam Peradaban DuniaKemajuan umat Islam pada masa ini jaman Abbasiyah lambat laun mulai melemahkarena faktor internal maupun eksternal. Disisi lain, sebelum itu, tepatnya pada saat Dinasti Abbasiyah berdiri di Kufah dan Bagdad Iraq, ada sebagian anak keturunan khalifah Bani Umayah lari menyelamatkan diri ke Andalusia (Eropa bagian selatan) dan mendirikan kekhalifahan sendiri yang terlepas dari Bagdad, yaitu di daerah Eropa selatan yang sebelumnya sudah takluk kepada khalifah Bani Umayah dizaman Walid bin Abdul Malik, (705-715 M) dengan panglima besarnya Thariq Bin Ziad(Abuddin Nata, 2011, p. 259).Peristiwa penyelamatan dari kejaran Abbasiyah ini, posisi ummat Islam di Andalusia semakin kuat dan perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan semakin berkembang setelah Khalifah al Hakam (961-976 M) mengambil kebijakan dalam pendidikan yaitu dengan cara memerintahkan untuk mengimpor karya-karya ilmiah para ulama dan filosuf dari Timur dalam jumlah besar(Badri Yatim, 2011: 101 dalam Ghani, 2015).Dampak dari kebijakan pendidikan ini di Andalusia muncul ulama ulama yang ahli diberbagai bidang seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Bajah dan Penyusun Al Fiyah Ibnu Malik, dan kota-kota sepert Granada, Cordoba menjadi pusatpusat kegitan pendidikan.Sama seperti dampak kebijakan pendidikan jaman Al Ma’mun. Kedua kekhalifahan tersebut sama-sama membangun peradaban ilmu pengetahuan kalangan kaum muslimin. Namun kemudian kedua pemerintahan Islam ini akhirnya hancur.Kekhalifahan di Titnur yang berpusat di Bagdad dihancurkan oleh tentara tartar yang dipimpin oleh Hulago Khan pada tahun 656 H/1258 M. Khalifah al Mu'tasim dan keluarganya dibunuh dan buku-buku yang ada di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Trigis sehingga warna air yang jernih sungai tersebut, berubah menjadi hitam kelam karena lunturnya tinta dari buku-buku yang dibuang tersebut. Kehancuran Abbasiyah di Timur, jauh berbeda dengan keruntuhan Bani Umayah di Andalusia, Bani umayah di Andalusia runtuh disamping ada sebab internal ada sebab eksternal yaitu adanya permintaan kaisar Bizantium Alixius Connenus untuk dibantu pasukanan pengamanan dari serangantentara Bani Saljuk kepada paus Urbanus II (Dedi Supriyadi, 2008: 171). Pengaruh dari permintaan itu antara ummat Islam dengan bangsa Eropa terjadi perang Salib yang terjadi berungkali dan berlangsung hamper 300 tahun yang menurut Philip K.Hitti terjadi: pertama tahun 1009-1144 yang kedua tahun 1144-1192 dan berakhir tahun 1291 M. Dengan adanya perang Salib ini antara bangsa Barat dengan ummat Islam terjadi kontak langsung danterjalinlah hubungan antara Timur dan Barat, kontak ini menimbulkan saling tukar pikiran dan tukar pengetahuan, pengetahuan orang Islam yang lebih maju mendorong orang barat untuk meningkatkan intelektualitas dan pengetahuan mereka. Hal ini mengakibatkan lahirnya renaissance di Eropa. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa masuknya ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban Islam ke Barat melalui cara yang hampir sama dengan yang sudah pernah ditempuh oleh umat Islam, pada saat mengimpor ilmu pengetahuan dari Yunani, India, Persia, Cina dan lainnya, yaitu dengan kegiatan penerjemahan karya-karya ilmuwan muslim yang mereka jumpai di Andalusia, Sicilia dan Perang salib(Abuddin Nata, 2011 Sebagaimana dikutip oleh; Ghani, 2015).Denganterjadinya perang salib ini umat Islam, terusir dari Andalusia dan buku-buku yang ada disana dibawa ke Perancis dan Jerman dalam perkembangan selanjutnya di Perancis memunculkan Yosept Scott dan di Jerman Ignas Goldziher yang dikenal ahli dalam bidang hadits dan Tafsir. Dari Renaisance itu mengakibatkan revolosi di Perancis dan Jerman, juga revolosi Industri di Inggris yang pada akhirnya berkembanglah ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Selanjutnya Kesaksian dunia barat terhadap peradaban Islam, secara garis besarnya, paling tidak dapat dapat dikatagorikan menjadi dua, Pertama: Orang-orang Barat berupaya mengecilkan peran dan eksistensi peradaban Islam dalam memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu Pengetahuan dan teknologi sekarang ini, pada hal kelompok ini jugamengakui adanya angka Arab yang menggunakan angka nol, tidak terbayangkan betapa sulitnya menulis angka dengan huruf Romawi yang mencapai jutaan atau milyard bahkan trilyun. Kedua; Orang-orang Barat yang pola pikirnya obyektif dan mau mengakui peranan yang sangat luar biasa besar kontribusi ilmu pengetahauan dan peradaban Islam terhadap kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Barat, yang termasuk kelompok ini Misalnya "Briffaut sejarawan dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa "tidak satupun kemajuan peradaban di Eropa kecuali secara meyakinkan dan pasti telah mengambil dari kemajuan peradaban Islam".Contoh lainnya, Sigrid Hunke menyatakan “Orang-orang Muslim Arab telah mnegembangkan bahan-bahan yang telah diperoleh dari Yunani dengan Uji Coba dan penelitian ilmiah, kemudian memfomulasikannya dalam bentuk yang baru sama sekali, Sesungguhnya Arab yang Muslim pada kenyataannya sendiri pembuat metodologi pelitian ilmiah yang benar dengan didasarkan pada uji coba"(Ghani, 2015).4.Mengambil Hikmah dari “Baitul Hikmah”Keberadaan BaitulHikmah sebagai mercusuar kejayaan dan kebangkitan intelektual Islam dan mencapai masa keemasan di abad pertengahan sarat nilai ini penting untuk digali dan dijadikan sebagai bahan masukan informasi dan juga inspirasi untuk perkembangan literasi dan keilmuwan saat ini. Kebangkitan intelektual Islam tidak boleh terhenti sampai masa Al Makmun saja. Oleh karena itu, belajar dari sejarah tersebut maka penting Islam umat sekarang mengambil hikmah dari eksistensi baitul hikmah masa lalu.Baitul Hikmah, adalah monumen sejarah keemasanintelektual umat islam yangberdiri. Ada banyak faktor yang menjadikan kekuatan dari sebuah Baitul Hikmah yang tidak ada dan belum ada dimanapun kala itu, dan barangkali juga sampai saat ini. Dibalik kejayaan kekhalifaan saat itu, peran Baitul Hikmah jugasangat besar terutama dalam membenihkan intelektual umat sehingga bermunculan para ilmuwan-ilmuwan, pakar berbagai bidang dan penemuan-penemuan lain yang sangat berguna bagi peradaban umat manusia. Disisi lain, perlu juga dijadikan bahan analisis bahwa, Baitul Hikmah itu hanyalah institusi yang secara fisik adalah benda mati. Baitul hikmah seolah memiliki “ruh pembangkit” tatkala ada unsur atau faktor yang memberikan spirit dan menghidupinya,diantaranya :a.Terciptanya stabilitas politik, kemakmuran ekonomidan adanya dukunganbesar dari pemimpin saat itusehingga Baitul Hikmah stabil, kuat dan memiliki sumber daya yang handal baik koleksi, pakar-pakar spesialis dan produk-produk ilmiah yang dihasilkan didalamnya;b.Adanya dan diberinya kebebasan intelektual dan interaksi positifkepada umat sehingga memaksimalkan fungsi dari Baitul Hikmah dan lahirlah para ilmuwan-ilmuwan diberbagai bidang;c.Adanya respon umat Islam terhadap usaha pengembangan Ilmu pengetahuan yang diikuti dengan adanya semangat keagamaan dan disertai pemikiran yang rasional;d.Menjadikan Baitul Hikmah sebagai lembaga terpadu. Bukan hanya sebagai perpustakaansaja, tetapi sekaligus menjadi lembaga penerjemahan, akademi, dan observatorium, menyebabkan lembaga tersebut dapat mengoptimalkan perannya dalam transmisi ilmu pengetahuan;e.Kolaborasi keilmuwan dan semangat mengumpulkan sumber informasi dari berbagai pakar dan berbagai daerah/ negara tanpa pengecualian bahkan lintas negara yang notabene bukan negara Islam. Hal ini dilakukan oleh al Mamun dengan melakukankesepakatan dengan Raja Romawi serta merekrut orang-orang Kristen Nestorius untuk bekerjadi Baitul Hikmah (Fahruddin, 2009, pp. 192–193).Azzyumadri Azra Menambahkan, bahwa kemajuan intelektual muslim saat itu, melalui pendidikannya didasari oleh kemampuan masyarakat mewujudkan situasi keilmuan yang dinamis. Pendidikan tinggi Islam tidak bersifat eksklusif, ia terbuka terhadap pikiran-pikiran non-muslim. Objektifitas keilmuan yang direfleksikan dengan penerimaan diktum-diktum ilmiah secra kritis melalui perdebatan-perdebatan intelektual meratakan jalan bagi kemajuan pikiran Islam(Arzra, n.d., p. 105).

Conclusion

Baitul Hikmah menjadi lambang kejayaan umat Islam dimasa Kekhalifahan diluar atau pasca Khalifaur Rosyidin yang paling mencorong. Keberadaanya menjadi tonggak kebangkitan Umat Islam yang wajib dikenang dan terus dikaji sehingga akan membekas di jiwa-jiwa umat Islam saat ini dan masa yang akan datang tentang sejarahumat pendahulunya yang mengalami keemasan peradaban didunia ilmu pengetahuan. Nilai luhur dari sebuah baitul hikmah adalah, adanya pengejawantahan dari ajaran agama Islam itu sendiri tentang “Iqra” dan dorongan berliterasi melalui teks-teks hadits tentang mencari ilmu. Agama dan Akal adalah dua sisi yang tidak boleh dipisahkan, karena kedua sisi ini akan saling mengisi satu sama lain. Semangat Al Makmun dan juga generasi senior sebelumnya yang turut berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan adalah wujud konkrit tentang pentingnya umat Islam menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dari sudut pandang eksistensi internalistik, Baitul Hikmah adalah institusi yang dapat dijadikan sebuah pelajaran penting tentang model pengelolaan institusiperpustakaan. Untuk bisa menjadi besar dan berdaya guna sehingga melahirkan intelektual-intelektual ilmiah dalam berbagai bidang membutuhkan banyak faktor, diantaranya dukungan pimpinan/ atasan/ pemegang kekuasaan secara konkrit baik dana, sumber daya, maupun sarana dan prasarana, kebebasan intelektual, respon umat dan keterbukaan nalar berpikir, mendayagunaan fungsi institusi secara lebih komprehensih, kolaborasi keilmuwan dan pakar secara obyektif dan ilmiah, dan menghindari ekslusifitas keilmuwan tertentu. Inilah figur dari Baitul Hikmah yang kini diakui peranan dalam memajukan peradaban Islamsemoga menjadi bahan inspirasi generasi kita semua.