Kembali
16
1
2022 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 3 · 1 ISSN 2746-0509

Hubungan Pengetahuan Guru Tentang Perpustakaan dengan Kreativitas dalam Mengelola Perpustakaan

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Dalam mengelola perpustakaan dibutuhkan pengetahuan sumber daya manusia yang mengelolanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa didapat dari pendidikan maupun pengalaman. Pengetahuan yang dimiliki ini dapat menimbulkan kreativitas dalam memecahkan suatu persoalan dengan cara yang baru dan bermanfaat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan guru tentang perpustakaan dan kreativitas dalam mengelola perpustakaan, serta hubungan pengetahuan tentang perpustakaan dengan kreativitas dalam mengelola Perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman di Desa Seri Kembang I, Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif karena objek yang diteliti dalam penelitian kualitatif lebih bersifat interaktif atau saling mempengaruhi antar variabel (variabel X dan Y). Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan staf tata usaha yang mengelola perpustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang perpustakaan sudah cukup baik, pengelolaan sudah cukup baik dan juga dengan pengetahuan yang cukup maka guru pengelola perpustakaan dapat mengeluarkan kreativitas berupa pemberian nomor klasifikasi bahan pustaka dengan cara baru dan mengeluarkan kebijakan membaca di rumah untuk meningkatkan minat baca siswa. Berdasarkan hasil yang didapatkan terdapat hubungan interaktif antara pengetahuan guru dengan kreativitas dan krativitas guru dengan pengetahuan. (1) Pengetahuan Guru dapat menjadi kreativitas (2) Kreativitas guru dalam mengelola dapat menjadi pengetahuan baru bagi pengelola perpustakaan lain.

Abstract

In managing a library, knowledge of human resources is needed to manage it. Knowledge possessed by a person can be obtained from education or experience. This knowledge can lead to creativity in solving a problem in a new and useful way. This study aims to determine teacher knowledge about libraries and creativity in managing libraries, as well as the relationship between library knowledge and creativity in managing the 09 Payaraman State Elementary School Library in the Village. Flower Series I, Payaraman District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra. The approach used in this research is descriptive qualitative because the object studied in qualitative research is more interactive or influences each other between variables (variables X and Y). Informants in this study were principals, teachers and administrative staff who manage the library. The results of this study indicate that teacher knowledge about libraries is good enough, management is good enough and also with sufficient knowledge, library management teachers can issue creativity in the form of giving library materials classification numbers in new ways and issuing reading policies at home to increase reading interest. student. Based on the results obtained, there is an interactive relationship between teacher knowledge and creativity and teacher creativity and knowledge. (1) Teacher knowledge can become creativity (2) Teacher creativity in managing can be new knowledge for other library managers.
Keywords: knowledge · creativity · library · teacher-librarian

Introduction

Informasi yang didapat seseorang dapat menjadi pengetahuan bila informasi tersebut telah diproses dan diorganisasikan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi dan bisa diaplikasikan dalam memecahkan suatu permasalahan. Seperti pada halnya kehidupan sehari-hari bahwa segala perlakuan yang akan kita lakukan itu memerlukan teori atau pengetahuan. Dengan demikian maka kita dapat melakukan apa yang hendak kita lakukan sesuai dengan aturan yang semestinya dan tidak menyimpang dari aturan tersebut. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan kita, yaitu: 1. Membaca Membaca merupakan proses untuk memahami pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis yang bertujuan untuk memperoleh informasi baru, memperluas wawasan, memperoleh pengetahuan yang berguna bagi perkembangan dirinya dan memenuhi kebutuhan dasar psikologinya untuk berimajinasi(Tahmidaten & Krismanto, 2020) 2. Konsultasi Konsultasi adalah pembicaraan antara satu atau sekelompok orang yang mau mendapat informasi, penjelasan, pengarahan, nasehat dengan satu atau sekelompok orang yang dianggap mempunyai informasi, data, pengetahuan dan keahlian mengenai suatu masalah(AM.Mangunhardjana, 2002). 3. Wawancara Wawancara adalah acara tanya jawab antara orang yang dianggap ahli dan tahu mengenai hal-hal yang menjadi pokok pembahasan dan orang yang mau mendapat masukan sehubungan dengan pembahasan. Dengan ini dimaksudkan wawancara dapat bermanfaat untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan kita 4. Mendengar Ceramah Ceramah adalah penyajian lisan oleh seseorang yang dianggap menguasai bidangnya tentang suatu pokok atau masalah di hadapan sekelompok orang. Untuk mengambil manfaat dari ceramah yang kita dengar, kita perlu mengmbangkan kecakapan untuk mendengarkan ceramah. 5. Mengadakan Riset Riset atau penelitian merupakan kegiatan untuk menemukan suatu pengertian, pemahaman, kebenaran baru dalam suatu bahasan. Kegiatan riset juga merupakan salah satu cara untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan kita. Dengan menggunakan beberapa cara di atas, maka kita dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan kita. Akan tetapi ada lagi cara untuk menambah wawasan pengetahuan kita yaitu dengan cara memanfaatkan jasa perpustakaan karena perpustakaan berfungsi sebagai penyedia informasi bagi para penggunanya. Rosa Widyawan mengatakan bahwa perpustakaan merupakan tempat menggali informasi dan menjadi katalis dalam proses belajar (Widyawan, 2012). Perpustakaan memiliki tugas utama yaitu berperan aktif dalam melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan perpustakaan, yaitu: 1. Perpustakaan bertugas menghimpun dan menyediakan koleksi, koleksi yang ada tersebut diolah dan dikemas ulang sehingga siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. 2. Menyiapkan sumber daya manusia yang siap melayani dan memberikan informasi kepada pemustaka. 3. Menyediakan system layanan, menginformasikan dan mempromosikan koleksi dan jasa yang dimiliki perpustakaan serta menyiapkan sarana dan prasana yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka(Sutarno, 2006), Perpustakaan di Indonesia terdiri dari berbagai jenis, dan salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang terdapatdi sebuah sekolah yang dikelola oleh sekolah untuk membantu sekolah mewujudkan tujuan khususnya dan tujuan pendidikan pada umumnya(Sulistyo-Basuki, 2009). Perpustakaan sekolah diselenggarakan dengan tujuan dapat membantu murid-murid dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah serta membantu guru dalam melaksanakan proses mengajar. Karena itu koleksi perpustakaan sekolah dituntut dapat menunjang proses belajar mengajar. Untuk dapat menunjang proses belajar mengajar, pengadaan bahan pustaka harus disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Selain itu perpustakaan juga dituntut untuk dapat berinovasi menyesuaikan kebutuhan pemustakanya. Koleksi yang dimiliki memiliki kreasi sehingga menarik untuk menggunakannya (Nurmalina, 2020) Untuk itu dalam mengelola perpustakaan dibutuhkan kreativitas dari pengelolanya, tidak terkecuali di perpustakaan sekolah dasar yang dikelola oleh guru. Dengan demikian pihak guru yang mengelola perpustakaan hendaknya memiliki kreativitas dalam mengelola perpustakaan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Munandar(2009)bahwa seseorang dapat dikatakan kreatif apabila memiliki kemampuan untuk memahami keadaaan disekitarnya serta mampu menginterpretasikan pengalaman dan dapat memecahkan masalah dengan menggunakan cara yang baru dan dapat menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Penelitian tentang kreativitas mengelola perpustakaan telah banyak dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Ahmad Irfan dan Asturi yang berjudul “Kreatifitas pustakawan dalam mewujudkan perpustakaan yang inovatif”. Penelitian ini menganalisis kreativitas pustakawan dalam mengelola perpustakaan di era global. Pustakawan dituntut untuk dapat menyesesuaikan diri dengan perkembangan dan tren perpustakaan yang sedang berkembang serta bisa menangkap peluang dan menerjemahkannya menjadi program-program perpustakaan. (Irfran & Astuti, 2019). Penelitian berikutnya dilakukan oleh Ranti Mayangsari, dkk. dengan judul “Hubungan Pemahaman Kepustakawanan Dengan Kreativitas Pengelolaan Perpustakaan Sekolah (Studi Deskriptif Korelasional Guru Pustakawan Di Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama Negeri Kota Bandung).”Penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa sebagian besar perpustakaan sekolah belum dikelola oleh tenaga profesional yang kompeten di bidangnya. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat kuat antara pemahaman tentang perpustakaan dengan kreativitas mengelola perpustakaan sekolah. (Mayangsari et al., 2016). Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti pengetahuan guru tentang perpustakaan dan kreativitas dalam mengelola perpustakaan, serta hubungan pengetahuan tentang perpustakaan dengan kreativitas dalam mengelola Perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman Desa Seri Kembang I, Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. B. RUMUSAN MASALAH Dalam mengelola perpustakaan tentunya dibutuhkan sumber daya manusia sebagai pengelola perpustakaan yang tentunya harus memiliki pengetahuan tentang perpustakaan. Perpustakaan sekolah hampir semuanya dikelola oleh guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. Penelitian ini ingin mengetahui pengetahuan guru tentang perpustakaan serta kreativitasnya dalam mengelola perpustakaan. Selain itu juga untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan guru tersebut dengan kreativitas dalam mengelola perpustakaan. C. LANDASAN TEORI 1. Pengetahuan Pengetahuan dapat diartikan segala sesuatu yang diketahui(Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015). Pengetahuan dapat juga dipahami sebagai informasi yang telah diproses dan diorganisasikan sehingga diperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi dan dapat diaplikasikan ke dalam suatu permasalahan. Pengetahuan juga bisa didapat melalui pengamatan akal dalam mengenali sesuatu atau kejadian yang belum perbah ditemui sebelumnya. Pengetahuan merupakan kunci utama dalam mempertahankan keutuhan dan eksistensi dari diri seseorang maupun sebuah organisasi. Sebagaimana menurut Antonie Jetter, dkk. yang dikutip oleh Pawit M. Yusuf (2012) menjelaskan bahwa pengetahuan dianggap sebagai kunci faktor produksi pada era masyarakat pascaindustri. Jika pengetahuan merupakan kekuatan yang unik bagi kompetensi organisasi, maka kekuatan itu ada pada kompetensi inti yang bisa memberikan keunggulan pada organisasi agar tetap bertahan hidup. Pengetahuan merupakan kunci utama dalam mempertahankan keutuhan dan eksistensi dari diri seseorang maupun sebuah organisasi. Yang termasuk dalam kategori pengetahuan diantaranya adalah pemahaman, informasi, keahlian, dan pengalaman. 2. Kreativitas Pengertian kreativitas yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Indonesia, 2015) adalah kemampuan untuk mencipta. Mangunhardjana(2002) mengatakan kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berguna, dan dapat dimengerti. Dengan demikian, maka kreativitas dapat juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru dan asli, yang belum dikenal sebelumnya ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi. Kreativitas dapat muncul karena adanya beberapa faktor, baik dari dalam individu maupun dari luar individu. Menurut Rogers dalam Munandar (2009), faktor internal yang berasal dari dalam invidu itu sendiri yaitu: a. Terbuka terhadap rangsangan dari luar, dengan kata lain individu yang kreatif adalah individu yang dapat menerima perbedaan. b. Kemampuan menilai produk ciptaannya sendiri, bukan karena pujian ataupun kritik dari orang lain, namun demikian terbuka terhadap kritikan dan masukan dari luar. c. Kemampuan mengeksplorasi terhadap unsur, konsep dan bentuk kombinasi baru dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah kondisi lingkungan sosial dan budaya. Kondisi lingkungan dimana seseorang tinggal dan dengan siapa dia berinteraksi dapat mempengaruhi kreativitas seseorang (Oktavia, 2020). Selanjutnya orang yang memiliki kreativitas memiliki ciri-ciri sebagai berikut yaitu (1) banyak menyampaikan ide-ide atau gagasan serta dapat menyelesaikan permasalahan dan memberikan saran dalam melakukan berbagai hal ; (2) Menggunakan berbagai macam pendekatan untuk mengatasi persoalan, serta dapat mencari alternatif atau mengubah cara pendekatan atau pemikiran ; (3) Melahirkan sesuatu yang baru dan unik dan mampu mengombinasikan bagian atau unsur-unsur ; (4) Mengembangkan gagasan atau produk sehingga menambah nilai atau membuatnya menjadi lebih menarik ; (5) Menyampaikan gagasan dan merealisasikannya (Monawati-Fauzi., 2018). Dengan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu dan memecahkan suatu masalah dengan cepat dan tepat baik dengan memunculkan cara baru maupun menggabung cara baru dan lama. Dengan demikian, maka kreativitas sangat diperlukan dalam mengelola sebuah perpustakaan agar pengelola dapat memecahkan atau menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dan menghambat proses pengelolaan perpustakaan. 3. Guru Pustakawan Pengelola perpustakaan merupakan hal sangat penting di perpustakaan, seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa syarat pembentukan perpustakaan adalah memiliki tenaga atau pengelola perpustakaan. Pengelola perpustakaan yang memiliki kompetensi baik didapat melalui pendidikan ataupun pelatihan kepustakwanan yang bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan dan mengelola perpustakaan disebut pustakawan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, 2007). Tidak terkecuali dengan perpustakaan sekolah tentunya dibutuhkan tenaga yang dapat mengelola perpustakaan sehingga tujuan dari perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar untuk mendukung tujuan pendidikan dapat tercapai. Di sekolah, pengelola perpustakaan biasanya dipercayakan pada guru bidang studi sehingga ada istilah guru pustakawan. Istilah ini ditujukan pada guru yang dipercayakan untuk mengelola perpustakaan sekolah (Hardianty et al., 2018). Istilah guru pustakawan ini juga dikenal di berbagai negara, guru yang mengelola perpustakaan diberi persyaratan memiliki pendidikan sarjana S-1 di bidang pendidikan ditambah dengan pelatihan di bidang kepustakawanan. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat mensyaratkan guru pustakawan berpendidikan sarjana S-2 atau magister (Mashuri, 2015). Syarat yang diberikan ini menunjukkan bahwa untuk menjadi pustakawan atau mengelola perpustakaan dibutuhkan kompetensi. Begitu juga di Australia, menurut “the australian library and infor-mation association” untuk mendapatkan keanggotaan professional, guru pustakawan harus memiliki kualifikasi pengajar dan kualifikasi kepustakawanan. Guru pustakawan memiliki peran penting dalam tiga aspek yaitu dalam kurikulum, sebagai spesialis informasi dan sebagai manajer layanan informasi (Suherman, 2013). Begitu pula di Indonesia guru pustakawan dituntut untuk memiliki lima kompetensi yaitu kompetensi personal, manajerial, pendidikan, pelayanan dan ilmu pengetahuan. Karena guru pustakawan mempunyai peran yang sangat besar dalam program literasi sekolah yang bertujuan meningkatkan minat baca siswa. (Silvana & Setiani, 2018). Guru sebagai pengelola perpustakaan tentunya dituntut pula untuk memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan, sikap dan perilaku sebagai seorang pustakawan (Nurmalina, 2015). Kompetensi yang harus dimiliki pustakawan bisa dikelompokkan menjadi kompetensi khusus, kompetensi inti dan kompetensi umum. Kompetensi umum seperti kemampuan mengoperasikan komputer, kemampuan membuat rencana kerja perpustakaan dan kemampuan membuat laporan kerja perpustakaan. Kompetensi inti meliputi kemampuan melakukan seleksi, pengadaan, pengatalogan, perawatan, layanan, penelusuran dan promosi perpustakaan. Berikutnya adalah kompetensi tingkat lanjut dari kompetensi sebelumnya yang merupakan kompetensi khusus seperti melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah, membuat rancangan ruang perpustakaan dan membuat literatur sekunder.

Method

1. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman Desa Seri Kembang I, Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. 2. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melihat teori yang dinyatakan oleh Sugiyono bahwa penelitian kualitatif bersifat holistic dan lebih menekankan pada proses. Dalam penelitian kualitatif hubungan antar variable pada objek yang diteliti lebih bersifat interaktif atau saling mempengaruhi(Sugiyono, 2014). Hubungan interaktif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan pengetahuan guru dengan kreativitas dalam mengelola perpustakaan. Ini berarti pengetahuan guru tentang perpustakaan dapat menimbulkan kreatifitas dalam mengelola perpustakaan. Juga sebaliknya, jika guru memiliki kreativitas dan dapat diaplikasikan dalam mengelola perpustakaan maka kreativitas ini dapat menjadi pengetahuan baru bagi guru tersebut. Pengetahuan baru tersebut di dapat dari pengalaman dalam mengelola perpustakaan. Ini sejalan dengan pernyataan Pawit M. Yusuf (2012) bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman seseorang. Artinya pengetahuan guru tentang perpustakaan dapat menimbulkan kreativitas (menemukan hal yang baru dan bermanfaat) dalam mengelola perpustakaan. Begitu juga sebaliknya, jika guru memiliki kreativitas (menemukan hal yang baru dan bermanfaat) dan terbukti dapat diaplikasikan dalam pengelolaan perpustakaan maka kreatifitas ini dapat menjadi pengetahuan bagi guru yang mengelola perpustakaan, karena pada dasarnya pengetahuan berasal dari pengalaman. 3. Sumber Data a. Data Primer Data primer dalam penelitian ini didapat dari hasil wawancara dengan informan yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan staf Tata Usaha (TU) di Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman dan hasil dari observasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sehingga sumber primer yang digunakan adalah kata-kata dan tindakan. Katakata didapat dari orang-orang yang diwawancarai dan tindakan orang-orang yang diamati didapat dari hasil observasi(Rijali, 2019). b. Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini di dapat dari dokumentasi dan sumber tertulis lainnya seperti sumber arsip dan dokumen resmi Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman. 4. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi Observasi merupakan peninjauan pengamatan secara cermat dengan mengadakan pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku atau tindakan pengelola perpustakaan dalam mengelola perpustakaan. Selain itu, juga observasi dapat dilakukan tidak hanya melalui penglihatan tetapi juga melalui pendengaran. Ungkapan-ungkapan yang terlontar melalui percakapan sehari-hari juga dapat diobservasi, bahkan suasana yang dirasakan seperti rasa gembira, rasa mencekam juga dapat diobservasi (Faisal, 2007). b. Wawancara Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data primer yang berkaitan dengan pengetahuan guru tentang perpustakaan. Wawancara dilakukan dengan para informan seperti kepala sekolah dan guru pengelola perpustakaan. c. Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah lalu. Dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. 6. Analisis Data Dalam penelitian kualitatif analisis data tidak dapat dipisahkan dari aktivitas dalam mengumpulkan data, mereduksi data dan menyajikan data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Verifikasi merupakan pemeriksaan tentang benar tidaknya laporan.

Result & Discussion

Pengetahuan guru tentang perpustakaan dalam penelitian ini merujuk pada pengertian pengetahuan yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015) yaitu segala sesuatu yang diketahui. Objek kajian dalam penelitian ini adalah perpustakaan sekolah dasar (SD), yaitu perpustakaan yang dibawah naungan satuan pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar yang menjadi bagian integral dari kegiatan sekolah tersebut yang digunakan sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah tersebut (Standar Nasional Perpustakaan (SNP) 010 : 2011., 2011). Pengetahuan guru tentang perpustakaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang diketahui guru tentang perpustakaan, baik mengenai pengertian perpustakaan, tujuan penyelenggaraan perpustakaan dan fungsi dari perpustakaan khususnya perpustakaan Sekolah Dasar. Memenuhi kebutuhan informasi bagi guru dan murid merupakan tujuan utama dari perpustakaan sekolah. Selain itu perpustakaan sekolah juga dituntut untuk berperan sebagai sarana atau media dalam menunjang kegiatan proses belajar mengajar di tingkat sekolah (Iztihana & Arfa, 2020). Oleh sebab itu, perpustakaan menjadi bagian yang sangat penting dari program penyelenggaraan pendidikan tingkat sekolah. Akan tetapi Armedi (kepala perpustakaan) hanya berpendapat bahwa: “Perpustakaan itu merupakan suatu gudang dari pada atau gudang merupakan sarana ilmu pengetahuan berbentuk media cetak yang akan dipelajari oleh masyarakat atau anak didik.” Lalu Sulaimi mengatakan bahwa: “Perpustakaan itu adalah suatu tempat atau taman bacaan yang di dalamnya terdiri dari beberapa macam buku yang terdapat beberapa jenis ilmu, yaa tidak hanya tentang pelajaran di sekolah tapi di situ juga banyak kita temui banyak pelajaran atau ilmu-ilmu umum yang andai dibaca mungkin menambah wawasan bagi kita.” Dari hasil wawancara ini, dapat diketahui bahwa pengetahuan guru tentang perpustakaan sudah cukup baik. Akan tetapi ketika diwawancarai, mereka masih agak bingung menyampaikannya. Hal ini terlihat ketika informan menjawab pertanyaan dari peneliti tentang fungsi perpustakaan, informan banyak mengeluarkan kata “eeee” yang menunjukkan bahwa informan menjawab dengan bingung. Seperti jawaban yang disampaikan oleh Mat Suhel, staf tata usaha yang ditunjuk sebagai pengelola perpustakaan. “Eee salah satu fungsi dan tujuan perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah eee salah satu adalah eee untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di suatu sekolah. Eee misalkan seperti ini, eee di suatu pelajaran tidak semuanya itu disampaikan oleh seorang guru, jadi eee siswa itu atau guru itu mencari pelajaran juga itu di perpustakaan”. Dalam hal fungsi perpustakaan sekolah, Armedi mengatakan: “Perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana untuk anak-anak menggali ilmu pengetahuan dan sekaligus juga untuk melancarkan anak dalam segi membaca.” Dari segi fungsi, dari hasil wawancara dengan guru yang mengelola perpustakaan bahwa perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana untuk anak-anak didik menggalli ilmu pengetahuan dan sekaligus juga untuk melancarkan anak-anak dalam segi membaca. Guru yang lain yang juga pengelola perpustakaan berpendapat bahwa fungsi perpustakaan sekolah adalah sebagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di sekolah tidak semua dapat disampaikan oleh seorang guru, jadi siswa atau guru itu mencari informasi di perpustakaan. Bila melihat fungsi umum perpustakaan yaitu fungsi edukatif, fungsi informatif, riset atau penelitian sederhana dan fungsi kreasi (Yusuf, 2016). Pendapat guru tersebut sudah sejalan dengan fungsi umum perpustakaan. Ini berarti pengetahuan guru tentang perpustakaan sudah cukup baik, seperti disampaikan bahwa perpustakaan berfungsi untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di suatu sekolah, sarana untuk anak-anak menggali ilmu pengetahuan, melancarkan anak dalam segi membaca. Pendapat ini menunjukan bahwa guru tersebut sudah memiliki pengetahuan tentang fungsi perpustakaan seperti fungsi edukatif, informatif dan riset atau penelitian sederhana. Pendapat lain menyatakan bahwa perpustakaan tidak hanya menyediakan buku pelajaran sekolah tetapi juga buku-buku umum yang dapat menambah wawasan. Ini menunjukkan fungsi kreasi perpustakaan, bahwa perpustakaan menyediakan bahan bacaan yang dapat menghibur pembacanya, seperti majalah, buku fiksi, surat kabar, dan sebagainya. Berdasarkan pengetahuan guru tentang perpustakaan yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut, maka penulis meyakini bahwa pustakawan dapat membuat kreativitas dalam mengelola perpustakaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015), kreativitas merupakan kemampuan untuk mencipta. Mangunhardjama (2002) mengatakan kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berguna, dan dapat dimengerti. Dari pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan hal yang baru dan bermanfaat. Dengan demikian, maka kreativitas sangat diperlukan dalam mengelola sebuah perpustakaan agar pengelola dapat memecahkan atau menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dan menghambat proses pengelolaan perpustakaan. Bentuk kreativitas dari pengelola perpustakaan yaitu berupa pemberian nomor panggil pada buku koleksi perpustakaan. Hal ini disampaikan oleh Armedi sebagai Kepala Perpustakaan. “Kreativitas kami dalam mengelola perpustakaan yaitu memberikan nomor pada buku-buku serta juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membca buku di perpustakaan serta juga disilahkan anak-anak untuk membaca buku di rumah diberi jatah waktu satu minggu lalu dikembalikan lagi, boleh mengganti dengan buku yang lain. Nomor yang kami berikan sesuai dengan singkatan subjek seperti Olah Raga itu OR. IPA itu IA.” Lalu hal serupa juga dijelaskan oleh Mat Suhel. Beliau mengatakan bahwa: “Kreativitas kami dalam mengelola perpustakaan ini seperti pemberian nomor klasifikasi koleksi itu berdasarkan singkatan subjek, misalkan matematika itu hanya dibuat MT sekian-sekian. Terus juga misalkan seni budaya itu disingkat SB sekian-sekian, itu. Ini ya, misalkan MT 00 apa 11 apa berapa gitu. Krativitas lain yang kami keluarkan itu kebijakan seperti meminjamkan buku kepada siswa misalkan selama satu minggu itu supaya siswa itu memahami apa yang mereka baca.” Pengetahuan merupakan kunci utama dalam mempertahankan keutuhan dan eksistensi dari diri seseorang maupun sebuah organisasi. Sebagaimana menurut Antonie Jetter, dkk. dalam Pawit M. Yusuf (2012) menjelaskan bahwa pengetahuan dianggap sebagai kunci faktor produksi pada era masyarakat pascaindustri. Bagi sebuah organisasi, untuk dapat terus bertahan hidup harus memiliki kompetensi inti sehingga dapat menciptakan keunggulan. Adapun kompetensi inti yang bisa memberikan keunggulan itu dapat berupa kreativitas. Kreativitas dalam mengelola perpustakaan dapat timbul jika pengelolanya memiliki pengetahuan tentang perpustakaan. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dengan cara baru dan bermanfaat. Seperti halnya pengelola perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman ini, mereka mencari cara bagaimana buku tersebut dapat ditemukan kembali oleh pemustaka walaupun dengan cara mereka sendiri dan tidak berdasarkan nomor klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC). Sebetulnya mereka mengetahui kalau mengklasifkasi bahan pustaka itu menggunakan sistem Klasifikasi DDC. Akan tetapi mereka mengalami permasalahan dalam mengklasifikasi dengan menggunakan sistem DDC. Untuk mengatasi permasalahan ini dengan pengetahuan yang mereka miliki maka mereka mengeluarkan kreativitas sendiri untuk mengatasi masalah yang timbul dalam mengklasifikasi bahan pustaka. Seperti yang disampaikan oleh Armedi: “Sebetulnya kami paham kalau klasifikasi pakai DDC, tapi adamasalah berupa antara lain: kurang paham tentang cara DDC, ituyang pertama. Yang kedua kurang tenaga pengelola. Yang ketigakurangnya waktu mengelola dikarenakan kami bukan tenagakhusus di perpustakaan, kami sebagai guru kelas. Kami sebagaikepala perpustakaan bukan tenaga khusus untuk perpustakaan,kami sebagai guru kelas. Dan juga Pak Suhel itu adalah sebagaiTU tata usaha di sekolah ini, bukan sebagai tenaga perpustakaanyang spesial, jadi tenaga-tenaga ini merupakan tenaga sambilan, sampingan.” Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan guru pengelola perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman khususnya pada klasifikasi bahan pustaka dapat menimbulkan kreativitas (cara baru dan bermanfaat) guna memecahkan masalah yang timbul ketika mengklasifikasi bahan pustaka. Kemunculan kreativitas dari pengelola perpustakaan ini membuat peneliti berasumsi bahwa sebenarnya kreativitas itu juga dapat menjadi suatu pengetahuan baru dalam pengklasifikasian koleksi perpustakaan, khususnya bagi perpustakaan yang pengelolanya kurang paham dengan sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification karena pada dasarnya pengetahuan berasal dari pengalaman (Atabik, 2014)

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman mulai dari observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan studi tentang perpustakaan, maka peneliti menyimpulkan, bahwa guru sudah memiliki pengetahuan tentang perpustakaan sehingga pengetahuan tersebut menimbulkan kreativitas dalam mengelola perpustakaan seperti pemberian nomor klasifikasi dengan singkatan subjek dan mengeluarkan kebijakan membaca di rumah. Kesimpulan berikutnya adalah adanya hubungan timbal balik antara pengetahuan guru tentang perpustakaan dengan kreativitas dalam mengelola perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 09 Payaraman. Pengetahuan guru pengelola perpustakaan tentang klasifikasi bahan pustaka dapat menimbulkan kreativitas berupa sistem baru dalam pemberian nomor klasifikasi bahan pustaka dengan singkatan subjek. Pengetahuan tentang fungsi perpustakaan yang berkaitan dengan minat baca juga dapat menimbulkan kreativitas berupa mengeluarkan kebijakan membaca di rumah. Sebaliknya kreativitas guru pengelola dalam memberikan nomor klasifikasi bahan pustaka dengan sistem baru (singkatan subjek) dapat menjadi pengetahuan baru bagi para pengelola-pengelola perpustakaan lain yang kurang paham dengan sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC). Kreativitas guru pengelola dalam mengeluarkan kebijakan membaca di rumah juga dapat menjadi pengetahuan baru bagi pengelola-pengelola perpustakaan sekolah lain dalam meningkatkan minat baca di kalangan siswa.