Kembali
16
1
2023 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 4 · 1 ISSN 2746-0509

Representasi Perpustakaan dan Pustakawan pada Video Musik “Diam-Diam”

Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstrak

Media sosial memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. YouTube sebagai sarana hiburan dan komunikasi yang populer menampilkan beragam konten, diantaranya video. Video musik “Diam-diam” yang dibawakan oleh Tiara Andini dan Arsy Widianto terkesan menarik. Video ini menggunakan latar perpustakaan dengan beragam penanda secara tersirat, sehingga menghadirkan beragam pemaknaan terhadap citra putakawan dan perpustakaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis dan merepresentasikan makna yang tersembunyi dalam video “Diam-diam”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi dan kajian literatur. Analisis hasil penelitian disajikan menggunakan analisis semiotika dengan menyajikan analisis dari segi sintagmatik dan paradigmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sintagmatik dan paradigmatik, perpustakaan memiliki koleksi tercetak yang lengkap dan tertata rapi, sitem pencahayaan yang baik, ruangan yang nyaman dengan desain interior yang hangat. Perpustakaan dianggap sebagai tempat yang sunyi dan tenang, namun tempat yang nyaman juga untuk belajar, dikusi, dan sarana hiburan. Meskipun masih konvensional, perpustakaan menerapkan sistem layanan terbuka dan berbasis otomasi serta sistem keamanan yang kurang. Pustakawan mmemiliki standar kerja, terkesan kaku dan kurang fashionabel. Representasi pustakawan yang digambarkan dalam video ini belum friendly, pustakawan masih dianggap sebagai penjaga buku dengan kacamata tebal, tua, dan masih bersifat kaku. Stereotip seperti ini hendaknya dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga citra perpustakaan akan semakin baik dan semakin dibutuhkan oleh masyarakat

Abstract

Social media has a significant impact on society. As a popular means of entertainment and communication, YouTube displays various content, including videos. The music video for "Diam-Diam" presented by Tiara Andini and Arsy Widianto seems interesting. This video uses a library background with various implicit markers, thus presenting various meanings to the image of the librarian and the library. This study analyzes and represents the hidden meanings in the video "Diam-Diam". This study uses a qualitative approach with the semiotic method proposed by Roland Barthes. Data collection techniques in this study are observation and literature review. Research results are analyzed using semiotic analysis by presenting syntagmatic and paradigmatic analysis. Results show that syntagmatically and paradigmatically, the library has a complete and well-organized printed collection, a sound lighting system, and a comfortable room with a warm interior design. The library is considered a quiet and calm place but also comfortable for study, discussion, and entertainment. Even though it is still conventional, the library implements an open service system based on automation and a lacking security system. Librarians have work standards that need to be more flexible and more fashionable. The representation of librarians in this video could be more friendly; librarians are still seen as keepers of books with thick, old, and stiff glasses. Stereotypes like this should be reduced or even eliminated so that the image of the library will be better and more needed by the community.
Keywords: representation · library · librarian · semiotics

Introduction

Di era ini, media memiliki pengaruh dan peran yang luar biasa dalam tatanan kehidupan manusia. Hampir seluruh sisi kehidupan bersinggungan dengan media dan teknologi. Keduanya kini telah menghasilkan demokratisasi seni untuk merepresentasikan beragam persoalan. Media yang digunakan dalam kalangan tertentu untuk merepresentasikan gagasan maupun persoalan memiliki dampak bagi masyarakat yang ada dalam budaya tersebut dalam memahami dunia (Danesi, 2010). Sebagaimana masyarakat di era ini, memvisualisasikan sesuatu di media sosial tentunya memiliki dampak bagi viewer dan pengikutnya. Media informasi yang digunakan oleh masyarakat di era ini sangatlah beragam, diantaranya televisi, media sosial, surat kabar, dan lain sebagainya. Bagi generasi muda sekarang atau nett generation media informasi yang sering digunakan adalah media sosial. Media sosial yang digunakan juga mengalami perkembangan yang pesat, mulai dari Facebook, Twitter, Path, Line, Intstagram, Tik-Tok, Telegram, Whatshap, YouTube dan lain sebagainya. Media sosial dapat digunakan sebagai sarana komunikasi, sharing infomasi, dan hiburan (Osterrieder, 2013). Media sosial dapat dimanfaatkan untuk kepentingan individu maupun lembaga. Perpustakaan dapat menggunakan media sosial untuk meningkatkan eksistensi diri. Konten hiburan yang terdapat pada media sosial sangat beragam, salah satunya berupa video. Konten ini menggunakan efek audio-visual yang dapat menarik penontonnya. Mengutip dari Pratomo (2020), menyebutkan bahwa ada 2 tipe video klip yang sering di gunakan yaitu performance clip dan cinematic clip. Tipe performance clip lebih berfokus pada penampilan penyanyi atau grup musiknya. Sedangkan cinematic clip yaitu bagian yang mengandalkan cerita dari visual, tata cahaya, warna video, setting. Sehingga memanfaatkan sisi artistik dengan memaksimalkan angle, framing dan gerak kamera yang sesuai agar mendukung pesan dan dapat bercerita dengan visual yang menarik (Wibowo, 2020). Video musik merupakan sebuah film pendek atau video yang mendampingi alunan musik, umumnya sebuah lagu. Video klip kini bukan hanya sekedar alat untuk promosi sebuah lagu atau brand, video klip telah bergeser menjadi medium komunikasi massa yang sama kuatnya seperti film. Dalam rangka menarik perhatian masyarakat biasanya pembuatan lagu menggunakan video musik. Video musik adalah salah satu alat komunikasi massa yang memiliki pengaruh besar dalam proses penyampaian pesan kepada masyarakat. Perpaduan musik yang enak didengar dengan video yang menarik menjadi sarana yang efektif untuk membuat masyarakat mengingat lagu tersebut. Video musik digunakan agar pesan yang ada dalam lagu tersebut dapat tersampaikan dengan baik oleh pendengar. Video maupun video klip banyak dipublikasikan media sosial. Salah satu platform yang sering digunakan adalah Youtube. YouTube merupakan salah satu situs sharing video dengan menyediakan sarana unggah, membagikan kepada pengguna lain, dan juga melakukan subscribe (Andika, 2020). Salah satu video musik yang menggunakan latar perpustakaan yaitu video musik “Diam-diam” dibawakan oleh Tiara Andini dan Arsy Widianto. Single terbaru ini dirilis oleh Noctural Projects pada Bulan Februari 2021 dan di publis pada akun YouTube Arsy Wdianto. Video musik ini yang divisualkan secara menarik dan aesthetic ini ternyata memiliki berbagai makna tersembunyi mengenai perpustakaan dan pustakawan. Saat ini, pada tanggal 03 April 2023 video musik tersebut telah ditonton lebih dari 4,2 juta kali dikanal YouTube Arsy Widianto dan memiliki 433 ribu subscribers. Video musik ini merepresentasikan tentang perpustakaan dan pustakawan. Representasi sebagai cara memaknai sesuatu atau memproduksi makna melalui objek tertentu. Representasi menjadi penting karena setiap orang untuk memahami sesuatu menggunakan representasi di dalamnya. Perspektif perpustakaan yang digambarkan dalam video musik “Diamdiam” ini terkesan menarik. Meskipun demikian, secara tersurat maupun tersirat memiliki beragam penanda yang menghadirkan beragam pemaknaan terhadap citra perpustakaan dan pustakawan di mata masyarakat. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk menganalisis dan merepresentasikan makna yang tersembunyi dalam video musik “Diam-diam” yang diproduksi oleh Noctural Projects ini menggunakan kajian semiotika model Roland Barthes dengan judul “Representasi Perpustakaan dan Pustakawan pada Video Musik “Diam-diam”. Adapun perumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana gambaran perpustakaan dan pustakawan direpresentasikan dalam video musik “Diam-diam”. C. TINJAUAN PUSTAKA 1. Penelitian Terdahulu yang Relevan Untuk mendukung permasalahan terhadap bahasan, peneliti berusaha melacak berbagai literatur dan penelitian terdahulu yang masih relevan terhadap masalah yang menjadi objek penelitian saat ini. Berdasarkan hasil ekplorasi terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Adapun beberapa penelitian terdahulu tersebut yaitu: a. Representasi Perpustakaan dan Pustakawan pada Video Profil Perpustakaan Pertamina. Oleh Berlian Eka Kurnia. Penelitian ini berfokus pada representasi perpustakaan dan pustakawan menggunakan teori Roland Barthes dengan analisis sintagmatik dan paradigmatik. Hasilnya menunjukkan bahwa gambaran perpustakaan kontemporer dengan sistem kerja dan pelayanan berbasis teknologi. Video profil perpustakaan Pertamina berusaha untuk menunjukkan sisi lain dari stereotip masyarakat mengenai perpustakaan. Baik dalam hal bangunan dan suasana (bentuk fisik) perpustakaan, sistem pelayanan, maupun citra diri pustakawan (Eka Kurnia, 2018). b. Reprsesentasi Perpustakaan dan Pustakawan dalam Film The Librarian: Quest for the Spear. Oleh Mira Azzayofia. Penelitian ini berfokus pada representasi perpustakaan dan pustakawan menggunakan teori Roland Barthes dengan analisis sintagmatik dan paradigmatik. Hasilnya representasi menunjukkan bahwa perpustakaan sebagai tempat yang menyimpan koleksi buku dan benda berharga serta pustakawan memiliki wawasan luas serta memiliki kemampuan meneliti yang baik (Azzasofiya, M., 2012). Persamaan dalam penelitian ini adalah menggunakan teori Roland Barthes dengan analisis sintagmatik dan paradigmatic, karena teori tersebut sangat cocok digunakan pada analisis video. Sedangkan perbedaanya adalah objek video yang berbeda, penelitian ini menggunakan video musik. 2. Kajian Teori a. Konten Video Salah satu konten yang digandrungi oleh masyatakat Indonesia saat ini adalah konten digital. Tampilan konten baik visual maupun audio visual dianggap lebih menarik dari pada teks biasa. Konten digital merupakan konten yang dibuat dalam format, bentuk, gambar, video, audio mapun kombinasi diantaranya yang diproses melalui digitalisasi sehingga dapat diakses melalui media digital (Husna, 2019). Seseorang bahkan dapat melakukan sharing konten digital sehingga sangat menarik dan memudahkan bagi pengguna. Konten digital sendiri dapat dibentuk melalui platform digital diantaranya media sosial, e-mail, website, kamera, dan lain sebagainya. Salah satu konten digital yang sering beredar adalah video. Video musik yang beredar di YouTube sebagai salah satu konten yang menarik perhatian masyarakat. Video musik memiliki dua peranan besar yaitu sebagai representasi visual dari musisi dan sebagai medium promosi lagu (Rinaldi, 2020). Video musik modern berfungsi sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan sebuah album rekaman. Istilah “video musk” mulai popular pada tahun 1980-an dengan adanya MTV. Sebelumnya, video seperti ini disebut “klip promosi” atau “film promosi”. Moller dalam (Mubarok et al., 2019) menjelaskan bahwa video klip kini bukan hanya sekedar alat untuk promosi sebuah lagu atau brand, video klip telah bergeser menjadi medium komunikasi massa yang sama kuatnya seperti film. Selain itu, Moller dalam penelitianya menemukan bahwa video klip pada era digitalisasi media saat ini dapat digunakan untuk menghibur, memprovokasi pemikiran dan mempromosikan berbagai hal. b. Representasi Perpustakaaan Representasi dimaknai sebagai proses memproduksi makna melalui bahasa. Bahasa sebagai sistem (sign) yang terdiri atas penanda (signifier) dan yang ditandai (signified). Penanda merupakan pembentuk dari tanda itu sendiri, bisa berupa gambar, simbol, kata, suara, gestur dan lain sebagainya. Yang ditandai berupa konsep yang mncul dari benak seseorang ketika melihat, mendengar, maupun mengamati sesuatu (Hall, 1997). Representasi dalam teori semiotika, proses perekaman gagasan, pengetahuan, atau pesan secara fisik disebut sebagai representasi. Secara lebih tepat ini didefinisikan sebagai penggunaan ‘tanda-tanda’ (gambar, suara, dan sebagainya) untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindra, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik. Hal ini bisa dicirikan sebagai proses membangun atau bentuk X dalam rangka mengarahkan perhatian ke sesuatu, Y, yang ada baik dalam bentuk material maupun konseptual, dengan cara tertentu, yaitu X = Y. Meskipun demikian menggambarkan arti X = Y bukan suatu hal yang mudah. Maksud dari pembuat bentuk, konteks historis dan sosial yang terkait dengan terbuatnya bentuk ini, tujuan pembuatannya, dan seterusnya merupakan faktor-faktor kompleks yang memasuki gambaran tersebut (Danesi, 2010). Representasi perpustakaan menggambarkan bagaimana perpustakaan dimaknai dalam penanda tertentu yang menghasilkan konsep makna. Diperkuat dengan pernyataan (Barker, 2011), bahwa representasi membentuk kebudayaan, makna, dan pengetahuan. Pemaknaan seseorang dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya wawasan keilmuan, latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya. Pemaknaan penanda tentang perpustakaan akan berpengaruh pada citra perpustakaan itu sendiri. Citra dibentuk dari pandangan dan representasi seseorang dari objek yang dilihat. Apabila perpustakaan memiliki citra yang baik, diharapkan akan semakin dikenal dan banyak dimanfaatkan. c. Citra Pustakawan Mengutip Gani (2010), mengenai tanda dan citra pustakawan, bahwa pustakawan mendapatkan penilaian dari pemustaka sebagai berikut: 1) Orang-orang yang ditempatkan di meja sirkulasi usianya sudah agak tua, kadangkadang berpakaian kurang rapi, sekedar menunggu orang yang berkunjung, kurang ramah, orang-orang yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan. 2) Pustakawan yang bersifat galak, namun itu dikarenakan sikap dan tingkah laku para pengguna yang dinilai cukup mengganggu pengguna yang lain, yaitu dengan bersuara keras. Sehingga suasana perpustakaan menjadi berisik. 3) Pustakawan sering kali terlihat tidak ramah dan tidak helpful. Apalagi dengan mereka yang sengaja dipindahkan unit kerjanya ke unit perpustakaan. 4) Tampang pustakawan menyeramkan, suasana perpustakaan menjadi tegang. Pemustaka tidak berani ke perpustakaan sendiri, karena takut dengan tampang pustakawan yang menyeramkan. Rahayungsih (2011) berpendapat bahwa profesi pustakawan belum sepenuhnya diakui masyarakat layaknya profesi lain seperti dokter, notaris, wartawan, atau guru. Hal ini disebabkan profesi pustakawan di Indonesia relatif masih baru dibandingkan dengan profesi yang lain. Serta adanya pendidikan di masa lalu hanya dimiliki oleh kalangan atas/istana, sehingga pengenalan akan buku dan perpustakaan juga terbatas pada kalangan atas. d. Analisis Semiotika Pada abad ke-20, sejumlah tokoh penting mengembangkan semiotika menjadi sebuah disiplin seperti yang sekarang. Roland Barthes (1915-1980) merupakan salah satu tokoh semiotika. Roland Barthes menggambarkan kekuatan penggunaan semiotika untuk membongkar struktur makna yang tersembunyi dalam tontonan, pertunjukan sehari-hari, dan konsep-konsep umum (Danesi, 2011). Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda sendiri merupakan segala sesuatu, baik yang bersifat fisik maupun mental, baik yang terdapat dipikiran manusia maupun sistem biologi ataupun yang lain yang dapat diberi makna oleh manusia (Hoed, 2014). Secara garis besar ilmu tentang tanda, manusia, dan makna dikelompokkan menjadi 3 yaitu: (1) semiotik struktural, (2) semiotik pragmatis, dan (3) semiotik gabungan. Teori semiotika dibagi menjadi 2 dikotomi yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda yaitu bentuk atau wujud fisik yang dapat dilihat dari wujud karya, sedang petanda berupa makna yang terungkap di dalam suatu konsep. Semiotika menurut Saussure dianggap sebagai relasi antara penanda dan petanda yang memiliki signifikasi.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode semiotik. Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam dan menyeluruh tentang praktik sosial pada setting alamiahnya (Dawadi et al., 2021). Penelitian ini menggali secara mendalam dan menyeluruh tentang representasi perpustakaan dan pustakawan yang terdapat pada video musik “Diam-diam” yang diproduksi oleh Noctural Projects. Metode semiotika yang dikemukakan oleh Ferdinan de Source mengkaji tanda, simbol, ikon, dan bahasa. Metode yang di sempurnakan oleh Roland Barthes ini menganalisis karya dengan melihat hubungan sintagmatik dan hubunan pragmatik (Karunia, 2022). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi dan kajian literatur. Observasi dilakukan dengan melihat, mengamati, dan menganalisis video musik “Diam-diam” yang terdapat pada akun YouTube Arsy Widianto (Widianto & Tiara Andini, 2021). Studi dokumentasi dilakukan untuk untuk melengkapi metode observasi (Sugiyono, 2013). Studi dokmentasi dilakukan dengan menganalisis dokumen terkait penelitian yang dilakukan baik dari tulisan (buku, artikel, jurnal), gambar, foto dan lain sebagainya. Analisis hasil penelitian disajikan menggunakan analisis semiotika dengan menyajikan analisis dari segi sintagmatik dan paradigmatik.

Result & Discussion

1. Analisis Sintagmatik Pada analisis ini akan disajikan urutan peristiwa yang membentuk cerita dalam video, berikut merupakan cuplikan gambar dari satuan peristiwa yang mengurutkan adegan kemudian akan diberi nama dengan unit analisis. Berikut adalah analisis dan pembahasannya: Gambar 1: Unit Analisis 1 Tampilan video: Tampak jajaran buku di rak yang disinari cahaya matahari. Interprestasi: Buku tertata dengan rapi yang sudah diklasifikasi sesuai dengan kelas penomoran di punggung buku, sehingga memudahkan dalam temu kembali oleh pengguna atau pemustaka. Cahaya yang menyinari buku-buku berasal dari cahaya matahari yang menandakan bahwa ruangan perpustakaan memiliki pencahayaan alami yang memadai, sehingga ketika perpustakaan mengalami pemadaman listrik, pencahayaan alami yang menyinari ruangan masih cukup menerangi pustakawan dan pemustaka. Pencahayaan juga terkait dengan keamanan sebuah buku, jika pencahayaan cukup maka kelembaban buku dan ruangan akan terjaga. Buku tidak mudah rusak dan akan lebih awet. Gambar 2: Unit Analisis 2 Tampilan Video: dua orang pengunjung menggunakan earphone untuk mendengarkan musik dari ponsel pribadinya. Interprestasi: Perpustakaan masih dianggap tempat untuk belajar yang sunyi dan tenang, sehingga pemustaka menggunakan earphone untuk menjaga kenyamanan pemustaka yang lain. Padahal sudah banyak perpustakaan yang memutarkan lagu di ruangan perpustakaan untuk dapat dinikmati oleh pemustaka atau pengguana. Berdasarkan penelitian yang berjudul “Pengaruh Musik terhadap Kenyamanan Membaca Mahasiswa di Perpustakaan ISI Yogyakarta” memiliki hasil penelitian bahwa musik memberikan dampak positif terhadap kenyamanan. Musik yang dipilih untuk diputar di perpustakaan seperti musik pop, jazz, instrumen, musik rhytm (R&B). Jenis musik ini dipilih karna dampaknya tidaklah terlalu membuat keributan, dan jenis musik ini tidak terlalu terbilang jenis musik yang keras (Waas, 2017). Gambar 3: Unit Analisis 3 Tampilan video: Pemustaka sedang mengerjakan tugas kelompok dengan menggunakan koleksi buku yang disediakan di perpustakaan. Interpretasi: Perpustakaan konvensional yang identik dengan buku saat ini masih diminati oleh anak muda, meskipun perkembnagan teknologi sudah mengalihkan sebagian pengguna buku konvensional beralih kepada elektronik book. Perpustakaan juga dimaknai sebagi tempat belajar dan diskusi yang menyenangkan. Selain kenyamanan dalam diskusi juga didukung dengan tersedianya bahan bacaan dan sumber belajar yang lengkap. Gambar 4: Unit Analisis 4 Tampilan video: Tiara Andini sebagai pemeran model perempuan di video musik tersebut tampak mengembalikan buku yang telah dibaca sekilas. Interpretasi: Perpustakaan tersebut menggunakan sistem terbuka artinya pemustaka dengan bebas mengabil buku yang ada di rak tanpa harus menggunakan jasa pustakawan untuk mengambilkan buku yang akan dipinjam seperti perpustakaan dengan sistem tertutup. Pengembalian buku dirak oleh pemustaka/pengguna sendiri menimbulkan persoalan lain yaitu ketidak sesuaian pengembalian buku pada jajaran rak yang ada. Berdasarkan hal ini menjadi pertimbangan juga ketika perpustakaan menyediakan meja khusus pengembalian, untuk nanti ditata kembali ke rak oleh pustkawan yang bertugas. Gambar 5: Unit Analisis 5 Tampilan video: Pemustaka tampak leluasa berdiskusi di perpustkaan Interpretasi: Video tersebut menampakkan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang nyaman untuk diskusi dan mereka mengambil banyak buku dari rak sebagai referensi, hal ini menunjukkan perpustakaan mneyediakan buku yang relevan dengan kebutuhan pemusaka. Kenyamanan perpustakaan sebelumnya juga sudah digambarkan dalam sebuah film yang berjudul “The Library” yang dianalisis oleh Morita dan Laksmi. Dalam film tersebut digambarkan bahwa perpustakaan menyediakan meja dan kursi yang nyaman bagi pengunjung sehingga mereka merasa betah berada di perpustakaan. Suasana yang nyaman bisa menjadi tolok ukur pemustaka berkunjung ke perpustakaan (Morita & Laksmi, 2018). Gambar 6: Unit Analisis 6 Tampilan video: Pemustaka membawa tas mereka masuk kedalam ruang baca Interpretasi: Hal tersebut menandakan bahwa perpustakaan sudah mempunyai alat detector sebagai alat pengamanan yang sangat penting di perpustakaan, sehingga dapat mendeteksi ketika ada buku yang keluar perpustakaan dalam keadaan belum dipinjam. Hal ini juga membuat pekerjaan pustakawan lebih ringan. Perspektif lain juga dapat dimaknai jika perpustakaan ini memberikan kebebasan kepada pemustaka membawa tas masuk ke area koleksi, tanpa memperhatikan sistem keamanan koleksi yang kuat. Sistem kejujuran dari pemustaka sebagai tolok ukur keamanannya. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan teknologi di perpustakaan ini yang masih terbatas. Keamanan menjadi salah satu unsur penting dalam layanan perpustakaan. Keamanan dan kenyamanan menjadi salah satu asas dalam layanan perpustakaan. Ketika pemustaka nyaman dan aman meninggalkan barang diloker atau membawa tas ke dalam ruangan tanpa adanya kecurigaan hal ini akan sesuai dengan asas dari layanan(Istiana, 2014). Gambar 7: Unit Analisis Tampilan video: Pustakawan yang sedang shelving (menata buku di rak sesuai dengan klasifikasi) menoleh kearah pemustaka karena adanya kebisingan yang ditimbulkan oleh Tiara Andini, Arsy Widianto, dan kedua temannya. Interprestasi: Penampilan pustakawan yang berkacamata tebal dan memakai gelang kesehatan, serta tatanan rambut belah tengah, kemeja yang dikancing bagian lehernya, menandakan bahwa pustakawan masih digambarkan sebagai orang yang kaku dan tidak melek fesyen. Konsep pustakawan seperti ini juga pernah direpresentasikan dalam film serial animasi Upin & Ipin yang berjudul “Aku Sebuah Buku”. Dalam film tersebut pustakawan juga direpresentasikan sebagai seorang laki-laki dengan model rambut rapi dan berkacamata (Juvitasari, 2020). Selain itu pekerjaan menata ulang buku dijajaran rak pada dasarnya menjadi tugas pustakawan, sehingga buku yang sudah dibaca atau buku yang telah dikembalikan dan disortir dan dikembalikan oleh pustakawan ke rak sesuai dengan nomor klasifikasinya. Namun pada kegiatan ini pustakawan masih menggunakan cara manual untuk penataan buku, karena di perpsutakaan lain sudah ada yang menggunakan alat canggih (digital library assistant) untuk merapikan buku sesuai klasifikasi. Gambar 8: Unit Analisis 8 Tampilan Video: Pustakawan memberikan kode jari telunjuk dimulut dengan fungsi menegur para pemustaka yang sedang tertawa dan menimbulkan keriuhan. Interpretasi: Pada video musik ini pemustaka dilarang berisik di perputakaan. Pemustaka sedang berdiskusi di ruang baca dan tidak ada pengunjung lain di ruang baca tersebut. Dalam video musik ini tidak ditampilkan ruangan khusus untuk diskusi. Sehingga dapat diketahui bahwa perpustakaan ini belum memiliki ruangan khusus yang disediakan untuk berdiskusi secara bebas tanpa mengganggu pemustaka lain. Gambar 9: Unit Analisis 9 Tampilan video: Pemustaka saling memandang satu sama lain dan terdiam Interpretasi: Pemustaka masih menghormati pustakawan yang membuat peraturan yang mengekang pemustaka, meskipun demikian pemustaka menerima teguran dari pustakawan dengan saling pandang dan semuanya terdiam. Gambar 10: Unit Analisis 10 Tampilan video: Arsy widianto tampak sedang membaca buku dengan cover merah muda yang diambilnya dari sebuah rak yang ada di perpustakaan Interprestasi: Bahwa perpustakaan adalah sumber informasi, menghimpun informasi dari berbagai informasi, termasuk buku untuk hiburan atau bukan buku pelajaran. Dalam hal ini perpustakaan dapat digunakan sebagai media rekreasi dan hiburan, karena buku yang dipinjam pada gambar di atas, adalah buku yang berjudul “LEBIH PEKA MEMAHAMI WANITA”, dari buku tersebut pemustaka dapat memiliki pengetahuan dalam memahami wanita, sehingga dapat saling pengertian yang akan menjadi fondasi terbaik bagi lahirnya rasa cinta dan kasih sayang sesuai dengan cerita di video musik “diam-diam” Gambar 11: Unit Analisis 11 Tampilan video: Tiara Andini dan temannya menuju meja sirkulasi, pada meja tersebut terdapat tulisan “Peminjaman Buku”. Interpretasi: Peminjaman yang ada di perpustakaan tersebut masih dibantu oleh pustakawan, tidak disediakan komputer untuk peminjaman secara mandiri. Atribut yang ada di meja sirkulasi yaitu sebuah tulisan yang ditulis dengan spidol menandakan bahwa perpustakaan masih menuliskan atribut secara manual sehingga secara estetik masih dinilai kurang layak. Layanan sirkulasi dalam sebuah perpustakaan menjadi ujung tombak layanan jasa yang disediakan. Dalam sistem peminjaman terdapat sistem terbuka dan tertutup. Dalam video musik di atas ditunjukan jika sistem pelayanan buku pada perpustakaan tersebut menggunakan sistem terbuka yang mana pemustaka bebas mengambil sendiri buku yang akan dipinjam pada jajaran rak. Perlunya sistem pencatatan dalam peminjaman buku yakni sebagai pengawasan, identifikasi, pengguna dapat diketahui juga dapat memprediksi jatuh tempo pengembalian buku (Qalyubi, 2007). Gambar 12: Unit Analisis 12 Tampilan video: Buku-buku yang dipinjam oleh Tiara adalah buku untuk pengembangan diri seperti buku berjudul “Zodiac: Cerita tentang Bintang”. Representasi: Perpustakaan menyediakan buku hiburan yang dibutuhkan anak muda sehingga perpustakaan ini dapat difungsikan sebagai tempat rekreasi, karena menyediakan buku-buku diluar buku referensi perkuliahan. Perpustakaan selain sebagai sarana penyimpanan, sumber informasi, pendidikan, juga memiliki fungsi rekreasi. Fungsi rekreasi yang dimaksud yaitu perpustakaan dapat menyediakan koleksi-koleksi ringan yang sifatnya menghibur. Contohnya majalah, buku fiksi, surat kabar dan lain sebagainya (Prastowo, 2012). 2. Analisis Paradigmatik Analisis paradigmatik akan menganalisis latar dan ruang, serta tokoh-tokoh pada video musik tersebut yang mendukung penjelasan mengenai representasi perpustakaan dan pustakawan. Pada satuan cerita di atas menjelaskan tentang latar dan ruang perpustakaan, pustakawan, serta pemustaka. a. Latar dan ruang perpustakaan Latar dan ruang yang tampilkan dalam video ini terlihat indah. Pencahayaan cukup terang karena pencahayaan alami dari jendela. Unsur desain interior yang menarik, rak buku terbuat dari kayu sehingga memberikan kesan hangat. Perpaduan coklat pada kayu-kayu menghadirkan pesan alami. Hal ini juga disampaikan Juvitasari (2020) bahwa penggunaan warna coklat pada dinding perpustakaan menghadirkan pesan klasik dan juga alami. Namun pada meja sirkulasi masih terdapat tulisan manual, sehingga memberi kesan bahwa perpustakaannya masih konvensional. Hal tersebut juga didukung dengan tidak ditampilkannya komputer atau alat elektronik bagi pemustaka. Hanya terdapat satu komputer yang digunakan oleh pustakawan untuk peminjaman dan pengembalian koleksi. Padahal video musik ini dibuat pada tahun 2021, dimana kehadiran teknologi sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia. Perpustakaan sebagai objek representasi dimaknai dalam dua kategori, yaitu perpustkaan tua dan perpustakaan modern (Branka & Primoz, 2011). Perpustakaan tua atau konvensional terlihat dari citra bangunan, koleksi yang disediakan, dan juga sistem yang digunakan. Meskipun tergolong konvensionl, namun perpustakaan dalam video musik ini sudah memanfaatkan teknologi dalam sistem sirkulsinya. Hal ini bisa mewakili konsep otomasi perpustakaan, yang mana perpustakaan sudah mulai memanfaatkan teknologi dalam sistem operasionalnya (Qalyubi, 2007). Buku-buku yang terdapat di perpustakaan tersebut sudah diklasifikasi sesuai dengan standar yang ada di perpustakaan yaitu menggunakan DDC dan sudah terkomputerisasi. b. Pustakawan Sosok pustakawan yang ditampilkan dalam video musik tersebut adalah laki-laki. Gagasan heterogenitas sangat menarik dari sudut pandang stereotip pustakawan lakilaki, yang ingin menjelaskan bahwa pustakawan tidak hanya perempuan. Meskipun pustakawan laki-laki yang ditampilkan di video tersebut penampilan masih bergaya zaman dulu dengan kemeja yang dikancing bagian leher dan gaya rambut belahan tengah. Representasi pustakawan yang digambarkan dalam video profil ini tidak sejalan dengan gaya fesyen yang sedang trend saat ini. Sikap yang ditampilkan juga masih kaku seperti pustakawan pada zaman dahulu yang masih menerapkan aturan perpustakaan yang mengekang pemustaka. Pemustaka di era ini masuk dalam kategori nett generation yang menuntut adanya fleksibilitas. Putakawan sebagai penyedia jasa layanan diharapkan dapat memberikan pelayanan prima bagi pemustaka. Beberapa kemampuan yang perlu dimiliki oleh pustakawan di era sekarang diantaranya, interpersonal skill, the spririt to hospitality, good computer skill, dan laguange skill (Istiqomah, 2016). Termasuk diantarana pelayanan yang baik, keramahan, serta bagaimana bersikap terhadap pemustaka. c. Pemustaka Pemustaka yang ditampilkan adalah mahasiswa, hal ini dikarenakan perpustakaan yang ditampilkan di video musik adalah perpustakaan perguruan tinggi. Aktifitas yang dilakukan oleh pemustaka yaitu mengerjakan tugas kelompok. Pemustaka yang ditampilkan menggunakan fesyen yang kekinian, sehingga ingin menampilkan bahwa video musik tersebut sudah mewakili judul musik yang mengangkat tema remaja. Media memiliki pengaruh yang luar biasa dalam merepresentaskan sesuatu, termasuk dengan perpustakaan. Mengutip dari sebuah penelitian menjelaskan bahwa pemanfaatan media di perpustakaan terutama media sosial dapat digunakan dalam berbagai tujuan, misalnya untuk promosi, komunikasi, juga dapat digunakan untuk sharing informasi, diseminasi informasi, dan organisasi knowledge. Representasi perpustakaan yang baik tentunya akan menciptakan citra yang positif dimata masyarakat (Istoqomah & Ernawati, 2018).

Conclusion

Perpustakaan dan pustakawan pada video musik yang berjudul “Diam-diam” direpresentasikan secara sintagmatik dan pradigmatik. Analisis sintagmatik menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki ruang koleksi yang memadai dan tertata rapi dengan sistem pencahyaan yang cukup. Koleksi perpustakaan masih berupa buku cetak dengan sistem layanan terbuka, berbasis otoma, dan sistem keamanan yang kurang. Perpustakaan dianggap sebagai tempat yang sunyi dan tenang. Meskipun demikian, perpustakaan dianggap sebagai tempat diskusi yang menyenangkan dan sebagai saran hiburan. Pustakawan memiliki standar kerja, terkesan kaku dan kurang fashionabel. Analisis paradi paradigmatik menunjukkan bahwa perpustakaan memilki ruangan yang cukup nyaman dengan pencahayaan yang cukup, desain meja kursi yang terkesan hangat, dan perpustakaan konvensional yang berbasis otomasi dalam operasionalnya. Pustakawan tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Pustakawan dengan gaya kuno dianggap tidak sesuai dengan trend fesyen saat ini. Namun demikian secara keseluruhan representasi perpustakaan dan pustakawan dalam video ini memiliki citra positif.