Implementasi Kebijakan Pengembangan Koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong dan kendala-kendala yang dihadapi. Keberadaan koleksi pada suatu perpustakaan merupakan faktor krusial yang digunakan untuk dapat mengetahui tingkat pemanfaatan perpustakaan. Agar koleksi tepat guna dan dapat dimanfaatkan secara maksimal, perpustakaan perlu melakukan perencanaan untuk mengembangkan koleksi dengan merumuskan dan melaksanakan kebijakan pengembangan koleksi dalam pengelolaan perpustakaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan kepala perpustakaan sebagai penanggung jawab mengenai kegiatan pengembangan koleksi yang telah dilakukan di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan koleksi yang sudah dilakukan di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong yaitu dengan melakukan seleksi, akuisisi, evaluasi, serta penyiangan koleksi. Jenis koleksi terdiri dari cetak dan non cetak. Pengadaan koleksi dilakukan melalui pembelian, langganan, dan hadiah/sumbangan/hibah. Kendala-kendala yang dihadapi adalah usulan dari pemustaka belum memenuhi kebutuhan koleksi yang direncanakan, belum ada standar yang jelas mengenai perbandingan jumlah koleksi dari segi bentuk dan bahasa, maupun aturan jika dikemudian hari ada kebutuhan yang mendesak dalam pengembangan koleksi.
Abstract
This study aims to determine the extent of the implementation of the collection development policies in the STIKes Muhammadiyah Gombong Library and the obstacle it faces. The existence of a collection in a library is a crucial factor and can be used to determine the level of library utilization whether the library is being used properly or not by users. For the collection to be efficient and can be used optimally, libraries need to plan to develop collections, namely by formulating collection development policies and implementing them in library management. The research method used in this research is descriptive qualitative data collection techniques through interviews and literature study. The results showed that the collection development policy that had been carried out in the STIKes Muhammadiyah Gombong Library was by selecting, acquiring, evaluating, and weeding the collections. This type of collection consists of print and non-print. Meanwhile, collections are procured through purchases, subscriptions, and gifts/donations/grants. The obstacles faced are that suggestions from users have not been able to meet the needs of the planned collection, there is no clear standard regarding the comparison of the number of collections in terms of form and language, there are no rules if in the future there is an urgent need in collection development.
Keywords:
college library
· collection
· policy
· selection
Introduction
Perpustakaan melaksanakan tiga kegiatan utama yaitu memperoleh dokumen yang tepat, melestarikan dan menyediakan akses koleksi. Seiring dengan semakin banyaknya publikasi, perpustakaan seharusnya dengan mudah mendapatkan koleksi yang tepat untuk pemustakanya. Hal ini hanya bisa dicapai ketika pemegang kebijakan mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang dibutuhkan pemustaka. Berdasarkan hal tersebut, perpustakaan perlu mempunyai kebijakan pengembangan koleksi (Shukla & Mishra, 2011, p.69). Pengembangan koleksi ini disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi serta dilakukan sesuai dengan standar nasional perpustakaan (Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, 2007, p.9). Hal tersebut dilakukan baik untuk perpustakaan umum maupun perpustakaan khusus termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Sesuai dengan salah satu tujuan perpustakaan perguruan tinggi yaitu menyediakan bahan perpustakaan serta akses informasi bagi pemustaka untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (Indonesia, 2017, p.11). Selain mempunyai kebijakan pengembangan koleksi, perpustakaan perguruan tinggi juga perlu menerapkan kebijakan tersebut dalam kegiatan pengelolaannya. Apalagi di masa pandemi ini, semua aktivitas masyarakat selalu dibatasi sementara pemustaka khususnya mahasiswa juga membutuhkan bahan referensi untuk perkuliahan. Hal tersebut disebabkan karena seluruh aktivitas pembelajaran dilakukan di rumah dengan menggunakan metode jarak jauh (online) termasuk di perguruan tinggi (Hanany et al., 2020, p.1). Oleh karena itu, perpustakaan perlu memiliki kebijakan pengembangan koleksi, yang disesuaikan dengan keadaan saat ini. Bagaimana cara menghindari dan mengatasinya, serta dimana bisa memperoleh informasi yang benar terkait hal tersebut. Inilah yang menjadi tantangan perpustakaan dalam pengembangan koleksi saat ini, terutama bagi perpustakaan perguruan tinggi yang menyediakan koleksi bidang kesehatan khususnya di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong. Karena permasalahan pandemi ini erat kaitannya dengan kesehatan. Berangkat dari hal tersebut, penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian mengenai implementasi kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong. STIKes Muhammadiyah Gombong merupakan satu-satunya sekolah tinggi di bidang ilmu kesehatan yang ada di Kabupaten Kebumen yang memiliki empat program studi yaitu Diploma III Kebidanan, Diploma III Keperawatan, S1 Keperawatan, Profesi Ners, dan S1 Farmasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian besar koleksi yang dimiliki merupakan koleksi bidang kesehatan (Gombong, 2020, p. 4). Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu kesehatan, menuntut Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong untuk terus mengembangkan koleksinya agar tetap dapat melayani kebutuhan pemustaka dengan baik. Jumlah koleksi perpustakaan yang dimiliki saat ini adalah sebagai berikut: Table 1. Jumlah Koleksi Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong No Jenis Koleksi ∑ Judul 1 Cetak Buku 5.015 Terbitan Berkala 81 Koleksi Universiana 7.808 2 Non Cetak Ebook 586 Audio Visual 3.699 Repositori 1.234 Jumlah 18.423 Sumber: Laporan Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong Semester Genap TA 2019/2020 B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana implementasi kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong? 2. Apa kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi kebijakan pengembangan koleksi? Sedangkan tujuannya adalah: 1. Untuk mengetahui implementasi kebijakan tersebut di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong 2. Untuk mengetahui kendala-kendala dalam implementasi kebijakan pengembangan koleksi. C. KAJIAN PUSTAKA 1. Pengembangan Koleksi Menurut Peggy Johnson, pengembangan koleksi dimaknai sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan koleksi perpustakaan, yang meliputi seleksi, penetapan dan koordinasi kebijakan seleksi, penilaian kebutuhan pemustaka dan calon pemustaka, studi penggunaan koleksi, pengelolaan anggaran, identifikasi kebutuhan koleksi, serta perencanaan untuk berbagi sumber daya (Johnson, 2009, p. 1). Secara sederhana, keberhasilan proses pengembangan koleksi dapat dilakukan dengan menempatkan informasi yang sempurna dalam format yang tepat, kepada orang yang tepat, serta pada waktu yang tepat saat informasi itu dibutuhkan. Tentu saja dengan memastikan bahwa informasi yang benar telah dibeli dengan harga yang tepat dan berpotensi untuk digunakan berulang-ulang sehingga membuat prosesnya menjadi ideal (Disher, 2014, p. 2). Dengan kata lain, pengembangan koleksi merupakan kegiatan terkait pengembangan koleksi mulai dari seleksi, penetapan pengadaan koleksi, evaluasi kebutuhan koleksi, pengelolaan anggaran koleksi sampai pada perencanaan untuk berbagi sumber daya. Serangkaian proses tersebut harus dilakukan dengan tepat sesuai dengan kebutuhan dari perpustakaan masing-masing sehingga tercipta pengembangan koleksi yang tepat guna. 2. Implementasi Kebijakan Pengembangan Koleksi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan (Indonesia, 2016) Implementasi kebijakan merupakan tahap dari suatu proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang atau peraturan (Sulila, 2015, p. 41-42). Dengan demikian, implementasi kebijakan dapat didefinisikan menjadi penerapan dalam suatu proses kebijakan setelah adanya penetapan peraturan. Kebijakan dalam hal ini adalah kebijakan pengembangan koleksi dan peraturan yang dimaksud adalah peraturan yang mendukung adanya kebijakan pengembangan koleksi. Adapun pengertian dari kebijakan pengembangan koleksi adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan koleksi di perpustakaan. Kegiatan tersebut dapat berupa peraturan tertulis maupun tidak tertulis, mulai dari seleksi, pengadaan, pemrosesan, penempatan, sampai pada penyiangan dan pengeluaran koleksi (weeding). Penyusunan dan peninjauan kebijakan tertulis tersebut juga harus mendorong perpustakaan dan lembaga untuk menentukan atau menyempurnakan tujuannya sehingga dapat mengembangkan koleksi sesuai dengan maksud dan tujuan lembaga/perpustakaan (Sanjay, 2016, p. 64). Dengan demikian, adanya kebijakan koleksi pada suatu perpustakaan dapat menjadi sebuah pedoman dalam kegiatan pengembangan koleksi bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan. Fungsi dari kebijakan pengembangan koleksi secara garis besar adalah sebagai berikut: a. Fungsi perencanaan Kebijakan pengembangan koleksi adalah perencanaan yang mengatur prioritas untuk mengalokasikan sumber dana, setelah terlebih dahulu mengetahui siapa saja pemustakanya, bidang ilmu yang dikembangkan, serta penelitian-penelitian yang akan dilakukan. b. Fungsi komunikasi internal Perpustakaan memerlukan komunikasi dengan masyarakatnya sendiri, baik pimpinan badan induk, pra penyandang dana, dosen, maupun mahasiswa. c. Fungsi komunikasi eksternal Perpustakaan memberikan informasi kepada perpustakaan lain mengenai rencana pengembangan koleksinya, termasuk bidang ilmu yang akan dikembangkan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kerja sama antar perpustakaan (Sasmita dan Primadesi, 2014, p. 22). Dari beberapa fungsi tersebut, semakin jelas bahwa adanya kebijakan pengembangan koleksi dalam suatu perpustakaan sangatlah penting. Proses pengembangan koleksi juga lebih terarah sesuai dengan tujuan organisasi dalam rangka memenuhi kebutuhan pemustaka. 3. Perpustakaan Perguruan Tinggi Setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, diharapkan menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan (Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, 2007). Dalam Online Dictionary for Library and Information (ODLIS) disebutkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari perpustakaan akademik yang mana perpustakaan ini adalah bagian integral dari perguruan tinggi, baik universitas maupun lembaga pasca sekolah menengah lainnya, yang dikelola untuk memenuhi kebutuhan informasi dan penelitian bagi mahasiswa, pengajar, dan stafnya (Reitz, 2013, p. 5). Jadi, perpustakaan perguruan tinggi ini dalam kegiatannya harus sejalan dengan kegiatan dan tujuan yang ada di perguruan tinggi sebagai lembaga induknya. Salah satu tujuan yang harus dicapai setiap perguruan tinggi adalah tercapainya Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Dalam mewujudkan hal tersebut, perpustakaan bisa menjadi salah satu sumber belajar bagi sivitas akademika seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menyebutkan bahwa sumber belajar di perguruan tinggi bisa berbentuk alam semesta, lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, rumah sakit pendidikan, laboratorium, perpustakaan, museum, studio, bengkel, stadion, serta stasiun penyiaran (Indonesia, 2012). Oleh karena itu, sebagai sumber belajar bagi sivitas akademika, perpustakaan harus menyediakan sumber belajar sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Sumber belajar tersebut bisa berbentuk buku teks, buku referensi, jurnal, majalah, dan lain-lain, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Untuk mengelola perpustakaan sebagai sumber belajar, setidaknya perpustakaan memiliki kepala perpustakaan, bagian tata usaha, pelayanan teknis, pelayanan pemustaka, serta bagian teknologi informasi komunikasi. Kepala perpustakaan mempunyai garis tanggung jawab langsung ke pimpinan perguruan tinggi. Status perpustakaan adalah subsistem dari sistem pendidikan, bukan unit pelaksana teknis (Indonesia, 2017, p. 11). Oleh karena itu, perpustakaan bukan hanya sebagai unit penunjang akan tetapi sebagai salah satu unit pokok dalam perguruan tinggi.
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang sedang berlangsung pada masa kini maupun masa lampau. Dalam penelitian deskriptif, bisa hanya menggambarkan suatu keadaan saja atau bisa juga mendeskripsikan keadaan pada tahapan-tahapan perkembangannya (Hamdi dan Bahruddin, 2014, p.5). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan Kepala Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong sebagai penanggung jawab dalam kebijakan pengembangan koleksi. Wawancara dilakukan pada tanggal 7 Desember 2020. Untuk studi pustaka, dilakukan dengan menggunakan sumber-sumber berupa buku, jurnal, dan dokumen lain yang mendukung penelitian. Teknik analisis datanya yaitu dengan memaparkan hasil wawancara dan data dari dokumen-dokumen pendukung.
Discussion
1. Gambaran Umum Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong Perpustakaan STIKes Muhammadiyah didirikan tahun 1994 bersamaan dengan lembaga induknya yang pada waktu itu masih bernama Akademi Keperawatan (Akper) Muhammadiyah Gombong. Pada tahun 2003, dengan adanya program studi S-1 Keperawatan, selanjutnya berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Gombong. Saat ini Perpustakaan menempati gedung satu lantai yang mempunyai kapasitas 150 orang dengan jumlah koleksi 12.904 judul dan 32.260 eksemplar yang terdiri dari koleksi buku teks, referensi, dan terbitan berkala. Selain itu, juga koleksi local content yang terdiri dari laporan hasil penelitian, naskah publikasi, karya tulis ilmiah, skripsi, dan karya tugas akhir (Gombong, 2020). Dalam menjalankan tugasnya sebagai pusat sumber informasi bagi lembaga induknya, Perpustakaan STIKes mempunyai visi “Menjadi Unit Penunjang Teknis di STIKes Muhammadiyah Gombong yang secara efektif dan berkelanjutan meningkatkan mutu pelayanan sebagai fasilitator utama dalam pelestarian, pengaksesan, dan pemberdayaan informasi kepustakaan guna menunjang Catur Dharma Perguruan Tinggi sesuai perkembangan informasi global” (Perpustakaan, 2019, p.5). Adapun misinya, yaitu: a. Menyediakan sumber-sumber informasi kepustakaan untuk berbagai bidang keilmuan b. Menyediakan bahan-bahan pustaka guna menunjang visi STIKes Muhammadiyah Gombong yaitu bidang keislaman dan kemuhammadiyahan c. Menyelenggarakan perpustakaan yang representatif untuk memelihara dan mengembangkan sumber dan pelayanan perpustakaan bagi seluruh pengguna d. Menjadi perpustakaan dalam kemudahan akses bahan pustaka (Perpustakaan, 2019, p.5) Dengan visi misi tersebut, diharapkan perpustakaan dapat melakukan pengelolaan dengan baik sesuai dengan tujuan lembaga induknya, yaitu STIKes Muhammadiyah Gombong. 2. Implementasi Kebijakan Pengembangan Koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong Berdasarkan wawancara penulis dengan Kepala Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong, saat ini Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong sudah memiliki kebijakan pengembangan koleksi. Kegiatan-kegiatan terkait dengan pengembangan koleksi, sudah ada dalam kebijakan tersebut. Kebijakan pengembangan koleksi ini berdasarkan visi misi perpustakaan dan institusi. Dalam kebijakan tersebut, antara lain mencakup: a. Ruang lingkup koleksi Koleksi di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong terdiri dari beberapa bidang ilmu sesuai dengan program studi yang ada, yaitu bidang keperawatan, kebidanan, farmasi, serta Al Islam dan Kemuhammadiyahan (koleksi inti). Untuk mendukung salah satu fungsi perpustakaan yaitu rekreasi, perpustakaan juga menyediakan koleksi fiksi. Saat ini, prosentase koleksi inti dari keseluruhan jumlah koleksi adalah 68%. Sedangkan 32% adalah koleksi yang mendukung rekreasi, salah satunya koleksi fiksi. Koleksi diutamakan berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Koleksi dengan huruf atau Bahasa lain dapat diterima jika sesuai dengan bidang ilmu yang ada di institusi. Perpustakaan memfokuskan penyediaan koleksi yang dibutuhkan saat ini, baik untuk koleksi cetak maupun non cetak. b. Pengembangan koleksi cetak Koleksi cetak terdiri dari koleksi buku, terbitan berkala, serta koleksi universiana. Koleksi buku meliputi buku teks, buku referensi, prosiding, peraturan pemerintah, serta koleksi fiksi. Untuk koleksi terbitan berkala terdiri dari jurnal, majalah, buletin, tabloid, dan surat kabar. Koleksi universiana meliputi naskah publikasi, karya tulis ilmiah, skripsi, dan karya tugas akhir. Kriteria seleksi koleksi cetak secara umum adalah setidaknya koleksi berkualitas isi/fisiknya, biaya yang diperlukan, tahun terbit terbaru, menghindari duplikasi dengan koleksi yang sudah ada. Kriteria koleksi cetak yang berasal dari hadiah/hibah/sumbangan setidaknya tidak duplikasi dengan koleksi yang sudah ada dan relevan dengan bidang ilmu yang ada di institusi, bukan merupakan koleksi yang melanggar hak cipta, dan kondisi fisik masih baik. Alat bantu seleksi yang digunakan di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong untuk mengetahui perencanaan pengadaan koleksi, yaitu berdasarkan dari usulan sivitas akademika, baik secara online maupun offline, katalog, brosur/leaflet promosi dari penerbit, website penerbit, timbangan buku, silabus dari dosen, bibliografi, serta anotasi. Hal tersebut bisa diketahui dari kebijakan pengembangan koleksi yang ada di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong. Dari beberapa alat bantu tersebut, perpustakaan mendapat masukan mengenai koleksi apa saja yang dibutuhkan oleh pemustaka saat ini. Dalam proses pembelian koleksi cetak ini, ada beberapa hal yang sudah dilakukan oleh perpustakaan antara lain dengan langsung membeli koleksi dari penerbit atau toko buku. Untuk koleksi berbahasa Inggris, perpustakaan melakukan pembelian melalui agen. c. Pengembangan koleksi non cetak Koleksi non cetak meliputi ejournal, ebook, audio visual (CD, VCD, DVD) serta koleksi repositori. Kriteria untuk seleksi koleksi non cetak/elektronik antara lain kebaruan konten, kemudahan akses, biaya yang dibutuhkan, ketersediaan sarana prasarana untuk mengakses, ketersediaan dukungan teknis/pelatihan rutin, serta adanya panduan cara akses online. Pengadaan koleksi non cetak ini bisa melalui pembelian ataupun berlangganan. Keseimbangan pengadaan koleksi ejournal, ebook, dan koleksi non cetak lainnya juga perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Alat bantu seleksi untuk koleksi non cetak ini juga sama dengan yang digunakan pada koleksi cetak, yaitu berdasarkan dari usulan sivitas akademika, baik secara online maupun offline, katalog, brosur/leaflet promosi dari penerbit, website penerbit, timbangan buku, silabus dari dosen, bibliografi, serta anotasi. Dalam mengembangkan koleksi non cetak/elektronik, saat ini perpustakaan telah mempunyai aplikasi ebook yang dapat diakses melalui PC maupun smartphone. Hal ini sebagai salah satu komitmen perpustakaan dalam implementasi kebijakan pengembangan koleksi untuk mengembangkan koleksi sesuai dengan visi dan misi. d. Penyiangan dan pengeluaran koleksi. Sebelum melakukan penyiangan, perpustakaan melakukan evaluasi koleksi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong, evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keterpakaian koleksi dan kondisi fisik koleksi sehingga bisa teridentifikasi koleksi apa saja yang masih bisa digunakan dan yang tidak. Adapun yang dimaksud dengan penyiangan/weeding/deseleksi merupakan proses pemeriksaan item dalam koleksi perpustakaan, judul demi judul untuk mengidentifikasi penarikan permanen yang memenuhi kriteria penyiangan yang telah ditetapkan sebelumnya, terutama jika ruangnya terbatas (Reitz, 2013). Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan koleksi yang berkualitas, tidak ketinggalan, relevan dengan kebutuhan pemustaka, menentukan penggantian atau pembaharuan dan pengeluaran koleksi dari penjajaran. Proses ini dilakukan rutin sesuai dengan rentang waktu yang telah ditentukan berdasarkan jenis koleksi dan kebutuhan yang ada di STIKes Muhammadiyah Gombong. Proses penyiangan/weeding ini dilakukan pada koleksikoleksi: 1) Koleksi cetak: buku, jurnal, majalah, tabloid, serta karya tulis ilmiah 2) Koleksi non cetak: CD, VCD, DVD, ebook, ejournal, dan repositori Adapun pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan pada proses penyiangan ini, antara lain: 1) Judul sudah tidak relevan dengan pembelajaran serta koleksi sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi 2) Koleksi yang jarang digunakan oleh pemustaka 3) Koleksi yang mempunyai banyak eksemplar dan tidak lagi digunakan dalam silabus yang berlaku, serta 4) Koleksi elektronik yang secara teknologi sudah tidak bisa digunakan Untuk koleksi cetak yang rusak frekuensi pemanfaatannya masih tinggi, koleksi tersebut bisa diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Dari pemaparan di atas, bisa kita ketahui bahwa Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong sudah mempunyai kebijakan pengembangan koleksi dan sudah menerapkannya. Jika dikaitkan dengan teori pengembangan koleksi, tahapan-tahapan yang ada pada kebijakan tersebut sudah sesuai dengan teori. Akan tetapi, pada pelaksanaannya ada juga kendala-kendala yang dihadapi. 3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan koleksi Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Perpustakan STIKes Muhammadiyah Gombong, meskipun kegiatan pengembangan koleksi sudah rutin berjalan setiap tahun, ada beberapa kendala yang dihadapi saat melakukan proses tersebut, yaitu: a. Saat akan melakukan pengadaan koleksi, seringkali usulan dari pemustaka belum bisa memenuhi jumlah koleksi yang akan diadakan sehingga dari pihak perpustakaan harus mengingatkan kembali untuk memberikan usulan koleksi apa yang diinginkan. b. Koleksi yang dipesan sedang tidak tersedia di penerbit atau toko buku sehingga tidak dapat diadakan pada saat itu juga. c. Dalam kebijakan belum ada standar yang jelas mengenai perbandingan pengadaan antara koleksi cetak dan non cetak setiap tahunnya d. Belum adanya kebijakan mengenai perbandingan antara koleksi berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Belum adanya standar yang jelas tersebut, sangat mempengaruhi dalam proses seleksi koleksi nantinya. e. Belum adanya kebijakan yang mengatur jika pada suatu saat ada kebutuhan yang mendesak, misalnya adanya program studi baru, apakah perpustakaan tetap melakukan pengadaan koleksi untuk semua program studi atau hanya untuk program studi yang baru saja. Pada saat pandemi covid-19 seperti sekarang ini, jenis koleksi yang diprioritaskan koleksi cetak atau non cetak. Hal ini perlu disikapi bersama agar tujuan pengembangan koleksi bisa tercapai. Terkait dengan teori kebijakan pengembangan koleksi, beberapa kendala tersebut dapat menghambat saat proses seleksi. Hal tersebut dapat terjadi karena keberhasilan proses pengembangan koleksi dapat dilakukan dengan menempatkan informasi yang sempurna dalam format yang tepat, kepada orang yang tepat, serta pada waktu yang tepat saat informasi itu dibutuhkan. Koleksi yang tidak dapat disediakan pada saat yang tepat, akan mempengaruhi jalannya keseluruhan proses pengembangan koleksi.
Conclusion
Saat ini, Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong sudah memiliki kebijakan pengembangan koleksi. Kebijakan tersebut dibuat berdasarkan visi misi institusi dan perpustakaan yang di dalamnya mencakup mencakup ruang lingkup koleksi, pengembangan koleksi cetak dan non cetak, serta penyiangan dan pengeluaran koleksi. Untuk subjek koleksi, disesuaikan dengan program studi yang ada di STIKes Muhammadiyah Gombong, baik untuk koleksi cetak maupun non cetak. Sebelum melaksanakan pengadaan koleksi, perpust akaan melakukan seleksi terlebih dahulu dengan beberapa alat bantu seleksi. Pengadaan koleksi bisa dilakukan melalui pembelian, langganan, hadiah/hibah/sumbangan. Pengembangan koleksi yang dilakukan di Perpustakaan STIKes Muhammadiyah Gombong sudah berjalan rutin. Akan tetapi, ada kendala-kendala yang dihadapi dalam proses tersebut, yaitu: 1. Usulan dari pemustaka belum bisa memenuhi jumlah yang diinginkan 2. Koleksi yang dipesan sedang tidak ada di penerbit/distributor 3. Belum adanya standar yang jelas mengenai perbandingan jenis koleksi yang harus diadakan (antara cetak dan non cetak) 4. Belum adanya perbandingan koleksi antara koleksi yang berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris 5. Belum adanya kebijakan terkait pengadaan koleksi jika ada kebutuhan mendesak.J Jika dikaitkan dengan teori kebijakan pengembangan koleksi, hal tersebut dapat menjadi hambatan saat proses seleksi sehingga mempengaruhi kelancaran pengembangan koleksi