ANALISIS KOMPONEN KOLEKSI BERDASARKAN INSTRUMENAKREDITASI PERPUSTAKAAN INSTITUT BISNIS DANINFORMATIKA INDONESIA
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Abstract
This study aims to determine the extent to which the Indonesian Institute of Business and Informatics Library prepares forlibrary accreditation, especially in the collection component. Theinstrument used in this study is the university library accreditationinstrument listed in the national library regulations of the Republic of Indonesia number 10 of 2018. The library collection component has26 key indicators with a maximum weight of 20. This research method uses a descriptive quantitative approach. The technique ofcollecting data is through observation and structured interviews withthe drafting team for the accreditation of the Indonesian Institute of Business and Informatics Library. The results showed that the Indonesian Institute of Business and Informatics Library based on theuniversity library accreditation instrument was estimated to get avalue of 13.7 out of a maximum weight of 20 for the collectioncomponent. This means that the preparation of the Indonesian Institute of Business and Informatics Library is still not optimal andmust be improved again. The library of the Indonesian Institute ofBusiness and Informatics has the potential to increase its accreditation value derived from 16 other indicators which includethe availability of collection development policies, implementation ofpolicies, surveys of collection needs, number of printed books, titlesof reference books, subscribed scientific journals, subscribedelectronic journals, addition of printed book collections, number ofelectronic book collections, audio visual collections, number ofbrochures, leaflets, pamphlets, posters, subscribed databases,processing standards, enumeration, fumigation, and improvement oflibrary materials.
Keywords:
Accreditation Instrument
· College Library
· Library Accreditation
· Library Collection
Introduction
LATAR BELAKANG Perpustakaan adalah pusat sumber informasi yang menyediakan berbagai koleksibuku baik tercetak ataupun non cetak, yang diolah kemudian disusun di rak berdasarkan judul yang nantinya dapat digunakan dengan mudah oleh pemustaka.1 Berdasarkanperaturan perpustakaan nasional republik Indonesia nomor 7 tahun 2020 tentang rencanastrategis perpustakaan nasional tahun 2020-20242 diketahui total jumlah perpustakaan secara nasional tahun 2018, yaitu sebanyak 164.610 perpustakaan yang tersebar di 34provinsi, yang terdiri dari 42.460 perpustakaan umum, 6.552 perpustakaan khusus,113.541 perpustakaan sekolah/madrasah, dan 2.057 perpustakaan perguruan tinggi. Halini menjadikan Indonesia peringkat kedua perpustakaan terbanyak di dunia. Salah satuupaya untuk mendorong semua jenis perpustakaan agar dapat menyelenggarakan danmelakukan pengelolaan perpustakaan di Indonesia sebagaimana mestinya yakni melaluistandarisasi dan akreditasi. Standarisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan, dan merevisistandar yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak terkait. Standarisasi dilakukan dengan memperhatikan standar yang digunakan oleh masingmasing lembaga. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2014 setiappenyelenggara perpustakaan di Indonesia wajib berpedoman pada standar nasionalperpustakaan yang disusun oleh Perpustakaan Nasional RI.3 Standar nasionalperpustakaan adalah kriteria minimal yang digunakan sebagai acuan penyelenggaraan,pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan di wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Standar nasional perpustakaan terdiri atas standar koleksi perpustakaan, saranadan prasarana, pelayanan, sumber daya manusia, penyelenggara, dan pengelolaanperpustakaan. Tindak lanjut dari pelaksanaan standar nasional perpustakaan adalahakreditasi. Akreditasi adalah prosedur yang digunakan oleh lembaga yang berwenang dalammemberikan pengakuan formal bahwa suatu institusi atau seseorang mempunyaikemampuan untuk melakukan kegiatan tertentu. Lembaga yang berwenang untuk menyelenggarakan akreditasi di bidang perpustakaan adalah Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional (LAP-N). LAP-N bertugas merumuskan kebijakan operasional, melakukan sosialisasi kebijakan, dan melakukan akreditasi perpustakaan. Akreditasiperpustakaan merupakan bentuk kegiatan penilaian kesesuaian perpustakaan dalammenerapkan suatu standar yang telah ada. Akreditasi perpustakaan bertujuan untukmenjaga mutu dan kualitas perpustakaan. Oleh karena itu, akreditasi perpustakaanpenting dilakukan oleh semua jenis perpustakaan tidak hanya perpustakaan perguruantinggi melainkan perpustakaan umum, perpustakaan khusus maupun perpustakaansekolah. Perpustakaan STAI Kediri sebagai perpustakaan perguruan tinggi telah melakukankegiatan akreditasi perpustakaan untuk mengetahui sejauhmana pemenuhan standarperpustakaan perguruan tinggi yang telah dilakukan. Menurut Komarudin kegiatanakreditasi perpustakaan perguruan tinggi telah dilakukan sesuai dengan prosedur yangtelah diterapkan oleh LAP-N sebagai lembaga yang berwenang untuk melakukanakreditasi perpustakaan.4 Dalam menyukseskan akreditasi perpustakaan, peranpustakawan sangat penting yaitu jika pustakawan dapat memenuhi kompetensinya, makastandar minimal perpustakaan dapat tercapai.5 Adanya akreditasi perpustakaan membuatpemustaka menjadi yakin bahwa perpustakaan bersungguh-sungguh dalam menunjangperkembangan dan mutu sekolah. 6 Akreditasi perpustakaan sangat penting dilakukan karena bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas pengelolaan yang dilakukanoleh perpustakaan baik dari segi sumber daya manusianya, kegiatan, maupun koleksiyang dimiliki.7 Namun, hingga saat ini diketahui bahwa belum semua perpustakaan yangada di Indonesia terakreditasi. Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia merupakan salah satuperpustakaan perguruan tinggi yang dalam penyelenggaraannya pun berpedoman padastandar nasional perpustakaan, yakni standar nasional perpustakaan perguruan tinggiyang tercantum dalam peraturan kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia nomor 13 tahun 2017.8 Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas perpustakaan danmendukung rencana strategis Perpustakaan Nasional RI tahun 2020-2024, Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia turut serta berpartisipasi melakukan kegiatanakreditasi perpustakaan. Sebagai upaya persiapan akreditasi perpustakaan inilah, pentingdilakukan analisis terhadap komponen-komponen instrumen akreditasi perpustakaanperguruan tinggi di Perpustakaan Institut Bisnis dan Indonesia salah satunya yaitukomponen koleksi. Hal ini dilakukan guna memberi masukan kepada Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia agar dapat memaksimalkan bobot akreditasiyang akan diperoleh nantinya terutama pada komponen koleksi. Koleksi merupakan komponen terpenting dan unsur utama bagi perpustakaan gunamemenuhi kebutuhan informasi para penggunanya. Koleksi perpustakaan perlu untukdianalisis dan dinilai apakah sudah sesuai dengan pedoman yang digunakan. Analisis danpenilaian koleksi merupakan alat yang dapat digunakan perpustakaan untuk mengukurefektivitas dan perencanaan perpustakaan di masa yang akan datang. Penilaian terhadapkoleksi perpustakaan bertujuan untuk mengevaluasi seberapa baik pengembangan koleksimengikuti pedoman yang telah ditetapkan. Penilaian koleksi juga dapat bermanfaatdalam proses perencanaan strategis perpustakaan dengan mengidentifikasi kekuatan dankelemahan koleksi. 9 Dalam rangka persiapan akreditasi perpustakaan, Perpustakaan Bisnis dan Informatika Indonesia menggunakan instrumen akreditasi perpustakaanperguruan tinggi untuk menganalisis dan melakukan penilaian terhadap komponenkoleksi perpustakaan.
Method
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan meliputi observasi dan wawancara terstruktur. Observasi dilakukan di Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. Wawancara dilakukan dengan tim penyusun akreditasi Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah instrumenakreditasi perpustakaan perguruan tinggi yang terdapat dalam Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 khususnya komponen koleksiperpustakaan yang terdiri dari 26 indikator kunci. Instrumen ini digunakan untukmemperoleh data sehubungan dengan akreditasi perpustakaan perguruan tinggi. Setelahselesai tahap pengumpulan data selanjutnya dilakukan penyajian data menggunakan tabeldan analisis data menggunakan analisis data kuantitatif. Jawaban setiap indikator dalaminstrumen dinilai dengan skala bobot nilai 1 – 5, yakni jawaban a = 5; b = 4; c = 3; d = 2;e =1. Bobot maksimal untuk komponen koleksi perpustakaan adalah 20 dengan total skormaksimum 130. Tahap terakhir dalam penelitian ini adalah penarikan kesimpulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana persiapan Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia dalam rangka akreditasi perpustakaanperguruan tinggi khususnya pada komponen koleksi perpustakaan
Result & Discussion
Akreditasi perpustakaan perguruan tinggi diukur dengan instrumen yang telahditetapkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) yangtercantum dalam Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 10 Tahun2018 tentang instrumen akreditasi perpustakaan perguruan tinggi.10 Instrumen akreditasiperpustakaan perguruan tinggi terdiri atas 6 komponen, yaitu koleksi perpustakaan,sarana dan prasarana perpustakaan, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan,penyelenggara dan pengelolaan perpustakaan, serta penguat. Masing-masing komponenmemiliki indikator penilaian yang totalnya berjumlah 98 indikator kunci dengan bobotmaksimal 100, yang terdiri dari koleksi perpustakaan 26 indikator kunci, bobot 20;sarana dan prasarana perpustakaan 33 indikator kunci, bobot 15; pelayanan perpustakaan14 indikator kunci, bobot 25; tenaga perpustakaan 9 indikator kunci, bobot 20;penyelenggara dan pengelolaan perpustakaan 10 indikator kunci, 15 bobot; penguat 6indikator kunci, 5 bobot. Komponen koleksi perpustakaan merupakan uraian dari tiga aspek, yaknipengembangan koleksi, pengorganisasian bahan perpustakaan, dan perawatan koleksiperpustakaan. Pengembangan koleksi terdiri dari kebijakan, seleksi, jenis dan jumlah koleksi. Pengorganisasi bahan perpustakaan meliputi pengolahan dan kelengkapan fisik. Sedangkan, perawatan koleksi perpustakaan, terdiri dari pencacahan dan penyiangan,serta pelestarian. Indikator penilaian pada koleksi perpustakaan terdapat 26 indikatorkunci yaitu ketersediaan kebijakan pengembangan koleksi; pelaksanaan kebijakan; surveikebutuhan koleksi setiap tahun; jumlah alat seleksi bahan perpustakaan; jumlah bukutercetak; persentase koleksi inti dari keseluruhan koleksi; judul buku referensi yangdimiliki; surat kabar yang dilanggan; majalah yang dilanggan; jurnal ilmiah yangdilanggan per program studi; jurnal elektronik yang dilanggan per program studi; jumlahkoleksi khusus; persentase penambahan koleksi buku tercetak per tahun; jumlah koleksibuku elektronik (e-books); koleksi audio visual; jumlah brosur, leaflet, pamflet, posteryang dimiliki; database yang dilanggan; pengolahan buku/monograf; standar pengolahanbahan perpustakaan; sistem otomasi pengolahan; kelengkapan buku; pencacahan;penyiangan; cara pengendalian kondisi ruangan; pembasmian serangga perusak bahanperpustakaan; jumlah perbaikan bahan perpustakaan per tahun. Tabel 1. Hasil Penilaian Komponen Koleksi Perpustakaan Institut Bisnisdan Informatika Indonesia Tahun 2021 No Indikator Kunci Jawaban Skor 1 Ketersediaan kebijakan pengembangan koleksi c. Ada kebijakan pengembangan koleksi tertulis yang ditinjau lima tahun sekali 3 2 Pelaksanaan kebijakan (jenis koleksi, jumlah koleksi, bentuk koleksi, subjek koleksi, kemutakhiran, distribusi, anggaran, dll) c. 5 komponen kebijakan atau lebih dilaksanakan 3 3 Survei kebutuhan koleksi setiap tahun c. Survei kebutuhan koleksi dilakukanrutin dengan menyebarkan kuesioner tercetak 3 4 Jumlah alat seleksi bahan perpustakaan (masukan dari pemustaka, timbangan buku, bibliografi, anotasi, katalog penerbit, website penerbit/toko buku, dll.) a . 7 jenis atau lebih 5 5 Jumlah buku tercetak (diluar skripsi, tesis, disertasi,dan laporan penelitian) c. 5.000 – 9.999 judul 3 6 Persentase koleksi inti (koleksi yang menunjang kurikulum program studi) dari keseluruhan koleksi a. 50% - 69% 5 7 Judul buku referensi yang dimiliki (kamus, ensiklopedia, bibliografi, katalog, indeks, direktori, handbook/manual, statistik, atlas, globe, dll.) b. 600 judul atau lebih 4 8 Surat kabar yang dilanggan (lokal dan nasional) a. 6 judul atau lebih 5 9 Majalah yang dilanggan a. 6 judul atau lebih 5 10 Jurnal ilmiah yang dilanggan per program studi b. 3 judul 4 11 Jurnal elektronik yang dilanggan per program studi e. Tidak ada 1 12 Jumlah koleksi khusus (hasil penelitian, skripsi, tesis dan disertasi, dll) a. 4000 judul atau lebih 5 13 Persentase penambahan koleksi buku tercetak per tahun (Koleksi kurang dari 10.000 judul) e. 3% 1 14 Jumlah koleksi buku elektronik (ebooks) e. Kurang dari 500 judul 1 15 Koleksi Audio Visual yang dimiliki (CD, VCD, DVD, Kaset, dll.) c. 50 - 99 judul 3 16 Jumlah brosur , leaflet, pamflet, poster yang dimiliki d. 1 – 49 judul 2 17 Database yang dilanggan e. Tidak ada 1 18 Pengolahan buku/monograf a. Inventarisasi, klasifikasi, pengatalogan, labelling, secara otomasi dan memiliki cadangan data tercetak 5 19 Standar pengolahan bahan perpustakaan (deskripsi bibliografi, klasifikasi dan tajuk subjek) b. Mengikuti ketentuan baku nasional secara konsisten 4 20 Sistem otomasi pengolahan a. Memiliki aplikasi otomasi denganLAN terkoneksi internet 5 21 Kelengkapan buku a. Kartu buku, kantong buku,slip tanggal kembali, label buku, stempel, barcode/chip/RFID (sebagai perangkat otomasi) 5 22 Pencacahan c. 3 tahun sekali 3 23 Penyiangan a. 3 tahun sekali atau kurang 5 24 Cara pengendalian kondisi ruangan a. Menjaga temperatur, cahaya,kelembaban, sirkulasi udara dan kebersihan 5 25 Pembasmian serangga perusak bahan perpustakaan (fumigasi) e. Tidak ada 1 26 Jumlah perbaikan bahan perpustakaan per tahun d. 100 -499 eksemplar 2 Jumlah Skor 89 Berdasarkan tabel di atas diperoleh jumlah skor untuk komponen koleksiperpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia yakni 89. Sedangkan, jumlahbobot skor maksimal komponen koleksi perpustakaan diketahui 130. Untuk menghitungnilai dari komponen koleksi perpustakaan menggunakan: Rumus bobot penilaian = jumlah skor : (jumlah soal x 5 ) x bobot,Bobot nilai komponen koleksi Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesiayang diperoleh yakni 13.7 dari 20 atau 68.5% jika dihitung dalam presentase. Hal iniperlu diperhatikan oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika dalam rangkapersiapan akreditasi perpustakaan. Hasil pada tabel 1 juga menunjukkan bahwa terdapat10 indikator yang berpotensi memperoleh skor 5, meliputi jumlah alat jumlah alat seleksibahan perpustakaan, persentase koleksi inti dari keseluruhan koleksi, surat kabar yangdilanggan, majalah yang dilanggan, jumlah koleksi khusus, pengolahan buku/monograf,sistem otomasi pengolahan, kelengkapan buku, penyiangan, dan cara pengendaliankondisi ruangan. Sedangkan, 16 indikator lainnya memiliki skor di bawah 5 dan perludilakukan upaya lebih lanjut agar dapat memperoleh nilai maksimal. Ada beberapa peluang yang dapat dilakukan oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia untuk menaikkan skor nilai pada 16 indikator yang masihmemiliki skor dibawah 5 berdasarkan instrumen akreditasi perpustakaan perguruan tinggidalam peraturan kepala perpustakaan nasional republik Indonesia nomor 10 tahun 2018,antara lain: 1. Ketersediaan kebijakan pengembangan koleksi Ketersediaan kebijakan pengembangan koleksi memiliki peran penting dalampengembangan koleksi bahan pustaka karena merupakan suatu acuan, pedoman,panduan yang bertujuan untuk menyeleksi, mengadakan dan mengevaluasi bahanpustaka di perpustakaan. Adanya kebijakan pengembangan koleksi ini dapatmeningkatkan kualitas dan mutu koleksi di perpustakaan sebagai sumber informasiyang sesuai dengan kebutuhan para pemustakanya. Selain itu, peninjauan ulangterhadap kebijakan ini juga perlu dilakukan secara berkala. Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia memiliki kebijakan pengembangan koleksi yangtertera dalam standar Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia danrencana strategis (renstra) perpustakaan tahun 2020-2024 yang ditinjau 5 tahunsekali. Berdasarkan instrumen akreditasi perguruan tinggi, Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia memperoleh skor 3. Agar mendapat skor 5, makapeninjauan kebijakan pengembangan koleksi harus dilakukan 3 tahun sekali. 2. Pelaksanaan kebijakan Pelaksanaan kebijakan pengembangan koleksi yang telah dilaksanakan oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia hanya 5 komponenkebijakan, meliputi komponen kebijakan jenis koleksi, buku wajib setiap matakuliah, buku pengayaan setiap mata kuliah, koleksi jurnal ilmiah, dan penambahankoleksi pertahun. Berdasarkan hasil ini, perpustakaan memperoleh skor 3. Sedangkan, idealnya untuk mendapat skor 5 harus melaksanakan kebijakan sebanyak7 komponen atau lebih. Upaya yang dapat dilakukan oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika untuk menaikkan skor adalah dengan menambah pelaksanaankebijakan yang meliputi kebijakan koleksi sumber elektronik (e-resource) dankoleksi audio visual. Berdasarkan penelitian Mushtaq dan Tausif mengatakan bahwaperguruan tinggi jauh lebih tertarik untuk fokus membangun koleksi e-resource diperpustakaan dengan meningkatkan anggaran perpustakaan untuk akuisisi eresources. 11 Faktor utama yang mempengaruhi pemilihan sumber elektronik diperguruan tinggi adalah kualitas, cakupan subjek, perjanjian lisensi dan dukunganvendor. 3. Survei kebutuhan koleksi setiap tahun Metode survei digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yag alamiah(bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan datamelalui penyebaran kuesioner, test, wawancara terstruktur dan sebagainya.12 Surveikebutuhan koleksi bertujuan untuk mengetahui kebutuhan koleksi para pemustakaguna tercapainya pengadaan koleksi yang memenuhi kebutuhan para pemustaka diperpustakaan. Survei ini dapat dilakukan melalui penyebaran kuesioner secaratercetak maupun elektronik, serta melalui wawancara dengan pemustaka. Surveikebutuhan koleksi di Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesiadilakukan secara rutin setiap tahun melalui kuesioner tercetak, sehingga memperoleh skor 3. Dalam hal ini, perpustakaan memiliki potensi untuk memperoleh skor 5dengan melakukan survei penyebaran kuesioner tidak hanya tercetak, tetapi jugamelalui online dan wawancara agar lebih efektif dan efisien. 4. Jumlah buku tercetak Jumlah buku tercetak yang dimiliki oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika diluar skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian adalah 9.878 judul,12.770 eksemplar. Jumlah ini masuk dalam rentang jumlah buku sebanyak 5.0009.999 judul dan memperoleh skor 3. Jumlah judul yang menjadi standar untukmemperoleh skor 5 adalah 15.000 judul atau lebih. Oleh karena itu, sebaiknyaperpustakaan lebih memaksimalkan lagi untuk pelaksanaan pengadaan koleksi. Metode pengadaan koleksi dapat dilakukan melalui pembelian, hadiah, tukarmenukar, dan pinjaman. 5. Judul buku referensi yang dimiliki Buku referensi yang dimiliki perpustakaan berjumlah 167 judul yang meliputikoleksi kamus, ensiklopedia, bibliografi, katalog, handbook, statistik, atlas, globe,dan lain-lain. Jumlah ini masuk ke dalam rentang 100-199 judul dan memiliki skor2. Agar dapat memperoleh nilai maksimal 5, perpustakaan harus memiliki bukureferensi sebanyak 600 judul atau lebih. Oleh karena itu, perpustakaan dapatmenambah koleksi buku referensi melalui pengadaan koleksi. 6. Jurnal ilmiah yang dilanggan per program studi Masing-masing program studi telah melanggan jurnal ilmiah sebanyak 3 judul,sehingga memperoleh skor 3. Sebagai langkah untuk memperoleh nilai maksimaldalam proses akreditasi perpustakaan, maka masing-masing program studidiharapkan dapat melanggan 4 judul jurnal ilmiah. 7. Jurnal elektronik yang dilanggan per program studi Program studi yang ada di Institut Bisnis dan Informatika Indonesia diketahui tidakada satu pun yang melanggan jurnal elektronik begitupun perpustakaan. Dengandemikian, tidak adanya jurnal elektronik yang dilanggan per program studimenyebabkan skor yang diperoleh adalah skor terkecil, yakni 1. Dalam upaya guna memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya terhadap jurnal elektronik,perpustakaan menggunakan jurnal elektronik yang dilanggan oleh PerpustakaanNasional Republik Indonesia berdasarkan kerjasama yang telah dilakukan. Perpustakaan memiliki potensi memperoleh skor 5 melalui jurnal elektronik yangdilanggan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang dapat diakses melalui 13database yang dapat dimanfaatkan oleh Perpustakaan Institut Bisnis dan InformatikaIndonesia. 8. Persentase penambahan koleksi buku tercetak per tahun Penambahan koleksi buku tercetak per 1 tahun di Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia hanya 3% dari jumlah koleksi kurang dari 10.000 judul. Skoryang diperoleh perpustakaan adalah 2. Sedangkan, skor maksimal 5 dapat diperolehjika perpustakaan melakukan penambahan koleksi berjumlah 8% atau lebih darijumlah koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. 9. Jumlah koleksi buku elektronik Koleksi elektronik memberikan fleksibilitas kepada pemustaka tanpa harusberkunjung ke perpustakaan, karena hanya dengan menggunakan gadget elektronikyang diperlukan untuk mengunduh dan mengakses informasi di manapun dankapanpun. Meskipun demikian, perpustakaan tidak memiliki koleksi elektronikberupa buku elektronik (e-books). Perpustakaan memenuhi kebutuhan koleksi ebooks dengan memanfaatkan koleksi e-books yang dilanggan oleh Perpustakaan Nasional RI. Sehingga, pada indicator ini perpustakaan termasuk dalam jumlahkoleksi buku elektronik yang dimiliki kurang dari 500 judul dan memperoleh skorterkecil 1. Berdasarkan kerjasama yang telah dilakukan dengan Perpustakaan Nasional RI, perpustakaan juga dapat mengakses koleksi yang telah dilanggantermasuk koleksi e-books yang terdapat pada 26 database. Jumlah koleksi e-booksyang terdapat dalam database yang telah dilanggan lebih dari 2.000 judul. Olehkarena itu, perpustakaan berpotensi mendapat skor 5 yang diketahui skor tersebutdiperoleh jika jumlah koleksi e-books sebanyak 2.000 judul atau lebih. 10. Koleksi Audio Visual yang dimiliki Koleksi audio visual yang dimiliki berupa cd, vcd, dvd, kaset, dll diketahui sebanyak150 judul yang dapat diakses melalui database perpustakaan. Jumlah koleksi iniberada pada kisaran antara 100-199 judul dan mendapatkan skor 3. Agar dapatmemperoleh skor maksimal 5 perpustakaan harus menambah koleksi audio visualhingga 300 judul atau lebih. 11. Jumlah brosur , leaflet, pamflet, poster yang dimiliki Jumlah brosur, leaflet, pamflet, poster yang dimiliki perpustakaan sebanyak 35 dantermasuk dalam jumlah 1-49 judul, sehingga memperoleh skor 2. Pada indikator ini,skor maksimal diperoleh jika perpustakaan memiliki 150 judul atau lebih. 12. Database yang dilanggan Perpustakaan tidak melanggan database, sehingga memiliki skor terkecil 1. Perpustakaan menggunakan database yang dilanggan oleh perpustakaan nasionalrepublik Indonesia dikarenakan sudah melakukan kerjasama. Hal ini dapat menjadipotensi perpustakaan memperoleh nilai maksimal, karena Perpustakaan Nasional RItelah melanggan lebih dari 3 database. 13. Standar pengolahan bahan perpustakaan Dalam proses pengolahan bahan perpustakaan, perpustakaan telah mengikutiketentuan baku nasional secara konsisten, sehingga memperoleh skor 4. Untukmemperoleh nilai 5, standar pengolahan bahan perpustakaan (deskripsi bibliografi,klasifikasi dan tajuk subjek) mengikuti ketentuan baku internasional secarakonsisten. 14. Pencacahan Pencacahan adalah. Kegiatan pencacahan dilakukan 1 tahun sekali berdasarkaninstrumen akreditasi perpustakaan perguruan tinggi untuk mendapat skor 5. Sedangkan, pencacahan yang dilakukan di Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia dilakukan 3 tahun sekali, sehingga memperoleh skor 3. 15. Pembasmian serangga perusak bahan perpustakaan Pembasmian serangga perusak bahan pustaka atau yang dikenal dengan istilahfumigasi. Fumigasi merupakan cara untuk pelestarian bahan perpustakaan danmemiliki manfaat agar bahan perpustakaan tidak terkena serangan hama, sehinggabuku yang dilayankan dalam keadaan baik.13 Berdasarkan instrumen akreditasikegiatan fumigasi dilakukan 1 tahun sekali memperoleh skor 5. Akan tetapi,Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia tidak melakukan kegiatanfumigasi, sehingga memperoleh nilai 1. 16. Jumlah perbaikan bahan perpustakaan per tahun Jumlah perbaikan bahan perpustakaan per tahun yakni 357 eksemplar. Rentangjumlah ini berada di skala 100-499 eksemplar dan memperoleh nilai 2. Skormaksimal dalam standar diperoleh dalam rentang 1.500 eksemplar atau lebih jumlahperbaikan bahan perpustakaan per tahun.
Conclusion
Koleksi merupakan komponen utama yang harus dimiliki oleh perpustakaan, karena melalui koleksi inilah perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi parapemustakanya. Penilaian terhadap koleksi perpustakaan perlu dilakukan untukmengetahui seberapa baik pengembangan koleksi yang telah dilakukan mengikutipedoman yang ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia selakulembaga yang mengkaji dan menyusun kebijakan nasional di bidang perpustakaan. Dalam rangka persiapan akreditasi perpustakaan, Perpustakaan Bisnis dan Informatika Indonesia menggunakan Instrumen Akreditasi Perpustakaan Perguruan Tinggi yangterdapat dalam Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 10 Tahun2018 guna menganalisis dan melakukan penilaian terhadap komponen koleksi perpustakaan. Berdasarkan instrumen tersebut diperkirakan Perpustakaan Bisnis dan Informatika Indonesia memperoleh skor 89 dari total skor maksimal 130. Jikadiakumulasi bobot penilaian yang diperoleh yakni 13.7 dari bobot maksimal padakomponen koleksi perpustakaan yakni 20 atau berkisar 68.5%. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan akreditasi perpustakaan pada komponen koleksi masih kurangmaksimal, sehingga perpustakaan perlu melakukan upaya peningkatan khususnya padakomponen koleksi perpustakaan. Pada penilaian komponen koleksi perpustakaan terdapat 26 indikator kunci, 10diantaranya berpotensi memperoleh skor maksimal 5. Sedangkan, 16 indikator lainnyaperlu dilakukan upaya lebih lanjut agar dapat memperoleh nilai maksimal. Hal-hal yangmasih perlu menjadi perhatian khusus perpustakaan agar dapat memperoleh nilaimaksimal dalam komponen koleksi, yaitu dengan (1) Melakukan peninjauan kebijakanpengembangan koleksi 3 tahun sekali; (2) Melaksanakan kebijakan sebanyak 7 komponen; (3) Melakukan survei kebutuhan koleksi tidak hanya penyebaran kuesionertercetak, tetapi juga melalui online dan wawancara; (4) Menambah jumlah koleksi yangdimiliki baik buku tercetak, buku referensi, langganan jurnal ilmiah, koleksi audio visual,terutama koleksi sumber elektronik yang terdiri dari e-books dan langganan e-journalmaupun database; (5) Mengecek kembali jumlah brosur , leaflet, pamflet, poster yangdimiliki; (6) Mengolah koleksi mengikuti standar ketentuan baku internasional secarakonsisten; (7) Melakukan kegiatan pencacahan 1 tahun sekali; (8) Mengupayakan adanyakegiatan fumigasi di perpustakaan; (9) Meningkatkan jumlah perbaikan bahan perpustakaan.