REPOSISI PUSTAKAWAN DALAM ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Universitas Terbuka
Abstrak
Pustakawan dalam era teknolgi informasi mengalami goncangan sikap dan prilaku akibat semakin pesatnya penerapan teknologi dalam pengelolaan informasi dalam segala bentuk dan penyajiannya. Oleh karena itu pustakawan diharapkan siap menghadapi goncangan berupa prilaku, pro- dan kontra TI, kecemasan, apatis, dsb. Pustakawan ataupun perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan TI dengan mempertimbangkan aspek teknologi itu sendiri, organisasi, nilai ekonomi dan tidak ditinggalkan oleh stakeholders.
Abstract
Librarians in the era of information technology experiencing the shock attitudes and behaviors as a result of the rapid adoption of technology in the management of information in any form and presentation . Therefore librarians are expected to be ready to face shocks in the form of behavior, pro and cons of IT, anxiety, apathy, etc . Librarians or libraries must adapt to IT by considering aspects of the technology itself, organizational, economic value and not left by stakeholders .
Keywords:
Perpustakaan
· Pustakawan
· Ilmu Informasi
· Teknologi Informasi
Introduction
Pertumbuhan teknologi informasi atau sistem otomasi di bidang kepustakawanan dalam dua dekade terakhir ini semakin menonjol dan merata. Kini pertumbuhan teknologi dimaksud bisa saja terjadi dalam tempo 1 x 24 jam. Akan tetapi yang menjadi kendala ialah mampukah dilakukan perubahan pola fikir seseorang dalam tempo sekejap mengiringi perubahan teknologi tersebut? Pemanfaatan teknologi/media digital dapat ditemui hampir di semua tempat, serta dipengaruhi juga dengan tingginya tingkat interaksi dengan hal-hal digital, generasi saat ini berpikir dan mengolah informasi dengan cara yang sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi digital ini (disebut juga sebagai Net-gen atau Dgen) terbiasa memperoleh informasi dengan cepat. Mereka terbiasa melakukan beberapa hal secara bersamaan (multitasking), menyukai games, serta lebih menyukai network/kerjasama dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Di sisi lain, para pengajar maupun tenaga kependidikan sebagai pendukung pengajaran (termasuk didalamnya pustakawan) merupakan generasi yang sangat jauh berbeda. Metode pendidikan yang dahulu digunakan pada mahasiswa dan efektif digunakan tak lagi menjamin akan mendapatkan tingkat keberhasilan yang sama saat diterapkan pada mahasiswa masa sekarang. Cara belajar yang dianggap baik bagi para pengajar atau tenaga pendidikan dahulu sangat berbeda dengan cara belajar yang dianggap nyaman bagi para generasi digital sekarang. Belajar sambil pada saat yang bersamaan mendengarkan musik, bermain game online, chatting atau ber-sms tampaknya lebih nyaman dan efektif bagi mereka. Kondisi tersebut menyebabkan adanya gap atau celah yang memisahkan para pengajar/tenaga kependidikan dan mahasiswa. Hal ini merupakan persoalan yang serius dalam dunia pendidikan kita mengingat para pengajar/tenaga kependidikan yang dididik dalam masa predigital harus memberikan pengajaran kepada siswa/mahasiswa yang lahir dan tumbuh dalam dunia digital. Salah satu cara mempersempit celah ini adalah dengan memahami bagaimana generasi ini belajar dan mengolah informasi serta kemudian memasukkan cara komunikasi serta gaya belajar para generasi digital ini ke dalam metode pengajaran, metode pelayanan perpustakaan dan termasuk juga jenis koleksi perpustakaan yang berorientasi koleksi elektronik dewasa ini. II. Imbas Teknologi Informasi terhadap Perpustakaan Para pustakawan sesungguhnya merupakan pencetus dan pelopor penggunaan teknologi informasi terutama dibidang katalogisasi, sirkulasi, dan pengadaan. (Mis. Online Computer Library Center, Inc). Akan tetapi perkembangan generasi menunjukkan bahwa sejak diperkenalkannya teknologi informasi, perasaan cemas sebagian besar pustakawan akan kehilangan pekerjaan karena mesin dapat mengerjakan pekerjaan manusia secara lebih baik. Pekerjaan seperti menyusun kartu katalog, mengetik kartu, mencatat boin peminjaman tidak lagi popular di perpustakaan--bahkan mengatur buku di rak sudah tidak dapat dikerjakan oleh robot seperti di Perpustakaan Universitas Malmoe Swedia. Kecemasan akan hilangnya tugas-tugas sebagian pustakawan sesungguhnya tidak perlu terjadi karena dengan penerapan teknologi para pustakawan mendapat peluang untuk meningkatkan kompetensi secara berkuialitas. Selain itu beberapa pekerjaan yang menunut keahlian sudah dapat dikurangi misalnya: membuat deskripsi katalog terutama buku berbahasa asing, cukup dilakukan dengan mengkonversi (men-download data bibliografi dari database provider. Banyak pustakawan mengeluh bahwa perkembangan teknologi informasi sesungguhnya merepotkan dari segi pelayanan kepada pemakai. Hal ini dikarenakan pustakawan mendapat beban ganda dalam penerapan tekonologi. Pertama, pustakawan harus mengoperasikan teknologi dan kedua, pustakawan harus juga melayani publik secara tradisional. (seperti membantu menelusurkan buku di rak). Perpustakaan yang andal di masa depan adalah perpustakaan yang memiliki kemampuan akses terhadap teknologi. Dalam hal ini, perpustakan digital merupakan perpustakaan yang dimotori oleh keunggulan teknologi. Sistem dan manajemennya telah didukung oleh teknologi serta koleksi-koleksinya berupa teknologi digital. Keberadaan digital library akan memberikan wajah baru dalam dunia perpustakaan, sedangkan image negatif yang telah memarginalisasikan perpustakaan akan terpecahkan. Di samping itu, perpustakaan digital memiliki daya system pelayanan yang super efisien, akurat, dan cepat sehingga pemakai atau anggota perpustakaan akan merasa nyaman dan puas. Preservasi terhadap koleksi-koleksi digital sangat mudah dan cepat dilakukan selama pustakawan yang bersangkutan memiliki kualifikasi yang memenuhi prinsip-prinsip bersyaratkan pustakawan digital. Kehandalan pustakawan tersebut akan menjadi barometer perwujudan perpustakaan digital yang dapat menjadi model dari suatu perpustakaan alternative pada masa mendatang Dampak lain terhadap penggunaan teknologi informasi di Perpustakaan ialah bahwa kita harus merubah filosofi pelayanan dari yang nirkomersial kepada komersial. Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi besarnya biaya pemanfaatan teknologi tersebut. III. Kendala dalam Penerapan Teknologi Informasi 1. Aspek teknologi Sebelum diperkenalkan suatu teknologi informasi di perpustakaan maka yang lebih penting dilakukan yaitu merancang bagaimana menerapkan suatu perangkat keras atau perangkat lunak di suatu perpustakaan tertentu. Selain daripada itu, perlu ditegaskan bidang penekanan yang akan diubah melalui penggunaan teknologi misalnya apakah penekannya pada organisasi atau pada staff perpustakaan. Dalam memperkenalkan teknologi informasi seringkali terjadi polemik yaitu apakah penerapan teknologi merubah pelayanan perpustakaan ataukah pelayanan perpustakaan merubah penerapan teknologi. Bila dasar pemikiran pustakawan pada yang pertama maka teknologi akan menentukan jenis pelayanan yang diberikan perpustakaan. Akan tetapi bila dasar pemikiran bertumpu pada pertimbangan kedua maka pelayanan akan menentukan penerapan teknologi yang pada sasarannya secara perlahan-lahan akan peningkatkan mutu layanan yang ada. 2. Aspek organisasi Inovasi teknologi dalam suatu organisasi harus direncanakan dan dilaksanakan. Kegagalan dalam penerapan teknologi informasi dalam suatu organisasi bukan disebabkan oleh sistem melainkan kurang pemahamana lebih awal tentang bagaimana sistem tersebut digunakan. Selain daripada itu, banyak organisasi terdiri dari tingkatan struktur yang memperlebar otoritas dan tanggungjawab, dan bila ingin mengadakan perubahan terutama perubahan teknologi harus berdasar atas arahan dari atas (top-down approach). Masalah lain yang sering terjadi dengan penggunaan teknologi (dalam hal ini komputer) dalam suatu organisasi adalah terpecahnya karyawan kedalam dua kelompok. Yang pertama, kelompok karyanan yang karena latar belakang pendidikan, memiliki motivasi maju, menganggap penerapan teknologi sebagai hal yang membawa keberutnngan. Kelompok yang kedua, yaitu yang mempunyai keyakinan bahwa sistem yang ada sudah cukup ampuh dalam menjalankan pelayanan dan kelompok ini menentang perubahan. Gejala ini bukan bersifat statis namun merupakan satu sikulus sikap. Menurut Goodwin Watson, ada lima tahap dimana karyawan memiliki sikap terhadap proses perubahan dalam lingkungan organisasi (termasuk perubahan teknologi ) yaitu: a. Tahap dini—hanya segelintir orang menjadi pelopor perubahan secara sungguhsungguh. b. Tahap kedua—gerakan ke arah perubahan mulai muncul dan keuatan pro dan kontra sudah dapat diidentifikasi. c. Tahap ketiga—sudah terjadi konflik langsung antara kelompok dimana kelompok penentang sudah dimobilisasi kepada perusakan gagasan perubahan d. Tahap keempat---pendukung perubahan sudah mulai memenangkan konflik dan memiliki kekuatan E. Tahap terakhir—pendukung perubahan kini menjadi penentang terhadap perubahan selanjutnya.1) Hal ini dapat dianalogikan bahwa semua pendukung terhadap perubahan yang berkaitan dengan penerapan teknologi informasi pada gilirannya nanti akan bertahan dan menolak penerapan teknologi di masa yang akan dating. Dan prilaku ini sudah pasti menjadi kendala bagi para administrator dalam suatu organisasi. 3. Aspek prilaku manusia Setiap karyanan dalam suatu organisasi dapat mengalami stress dengan diperkenalkannya teknologi informasi. Perasan stress ini dapat bersifat sementara atau berkelanjutan dan hal ini disebabkan oleh keadaan karyawan yang terkucilkan dari lingkungannya. Kondisi stress menurut Mary L. Schraml 2) dan A.J. Jaffe and Yoseph Fromkin 3) terdiri dari dua jenis: stress kognitif dan stress emosional. Stress kognitif yaitu penolakan terhadap tekonologi informasi yang umumnya dapat ditunjukkan oleh individu dengan perasaan takut kalau yang bersangkutan kehilangan pekerjaan ataukah pekerjaan tersebut tidak lagi memberi gairah atau memuaskan. Bagi pustakawan stress kognitif ini dapat menimbulkan fikiran hilangnya nilai profesionalisme. Kendala tersebut dapat diatasi malalui: a. Memilih sistem yang secara fisik memadai untuk menjalankan tugas yang diinginkan b. Merencanakan perubahan dengan baik dan matang serta staff harus terlatih. c. Manajer atau pimpinan harus bertekad untuk melakukan perubahan d. Pemimpin harus mengantisipasi konlik dalam organisasi dan menjaga konflik yang akan merusak perubahan e. Pemimpin harus peka terhadap berbagai resistensi dari karyawan. IV. Gambaran Ideal Pustakawan di Era Informasi Gambaran ideal pustakawan dalam era informasi sebagaimana digambarkan oleh Jane Campbell 4) yaitu bahwa pustakawan adalah seorang “Cybrarian*. Pustakawan juga harus meiliki kualitas sebagai “information manager”. Pustakawan mampu menjadi “Information specialist”. Pustakawan punya skill sebagai “Information coordinator”. Dia berperan sebagai “Access engineer”. Dia juga punya naluri sebagai “knowledge navigator.” Dan pusatakawan dituntut memiliki wawasan sebagai “information linking agent.” Kualitas serta peran pustakawan tersebut sudah mulai diproyeksikan pada akhir dekade 1980an dimana pendidikan perpustakaan sudah mujlai beralih visi dari penekanan kepada traditional document processing ke information processing technology. Disatukan-nya pendidikan komputer dengan pendidikan kepustakawanan merupakan usaha untuk mengatisipasi kemajuan teknologi di bidang perpustakaan. Tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan di bidang teknologi informasi serta berkurangnya bobot pelajaran bidang pengelolaan dokumen secara tradisional merupakan usaha mempersiapkan sumber daya pengelola informasi di masa yang akan datang. Oleh karena itu, kesiapan pustakawan dalam berkarir di era informasi ini ditentukan oleh seberapa banyak paket keahlian yang telah dimiliki oleh pustakawan tersebut. Paket-paket keahlian dimaksud antara lain: a. Teknologi informasi Pustakawan tidak mutlak menguasai komputer akan tetapi setidak-tidaknya tahu menggunakan komputer dan perangkat teknologi seperti teknologi Auido-Viosual. b. Spesilis subjek Pustakawan tidak hanya mampu menelusur informasi tapi juga mengumpulkan, menganalisa kemudian mengubahnya kedalam media elektronik. c. Bidang Pelatihan Pustakawan tidak hanya mampu menelusur sumber-sumber elektronik tetapi juga bertanggung jawab melatih pengguna menelu-sur data sendiri, memilih database yang sesuai d. Manajemen Pustakawan paham tentang jaminan mutu, perencanaan strategic dan manajemen lainnya.
Conclusion
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perpustakaan pada satu dimensi baru yakni dimensi literasi informasi berbasiskan teknologi informasi. Database informasi yang dimiliki perpustakaan harus sampai ketangan pemustakanya secara cepat dan tepat sasaran. Bagi perguruan tinggi database informasi yang sanagat penting digunakan adalah koleksi jurnal penelitian atau hasil riset dari para dosen dan mahasiswa serta para peneliti sesuai bidang keahlian yang khas dari masing-masing perguruan tinggi tersebut. Salah satu indikator keberhasilan perguruan tinggi adalah bila mampu menghidupkan jantung akademik mereka yakni perpustakaan. Kekuatan informasi ilmiah yang dimiliki dan dihasilkan oleh suatu perguruan tinggi diharapkan menjadi solusi nyata bagi permasalahan yang ada dimasyarakat dan menjadi sarana bagi para dosen, mahasiswa dan peneliti untuk mengeksplorasi kemampuan diri mereka secara akademik dalam bentuk penciptaan karya penelitian. Bagi perguruan tinggi, kemampuan riset yang handal tentunya menjadi manfaat luar biasa untuk meningkatkan citra kampus di mata masyarakat serta menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam hal ranking institutional khususnya dalam hal pencapaian status akreditasi. Trend global yang sedang terjadi saat ini adalah beralihnya trend material bahan pustaka buku fisik ke format digital, penggunaan CD dan jaringan intranet dan internet, berkembangnya situs jejaring social dan perkembangan perangkat mobile disertai system operasi pendukungnya. Sudah menjadi suatu harga mati bagi pustakawan apabila tidak ingin ditinggal pemustakanya untuk selalu mengupgrade dirinya dengan skill pemrograman dasar dan manajemen website agar bisa selalu eksis dan memberikan layanannya secara up to date. Pustakawan yang berkutat dengan alasan klasik dan menjauhi pola kerja perpustakaan digital akan dengan sendirinya semakin tergerus dengan perkembangan jaman. Karena pada hakikatnya perpustakaan dan pustakawan tidak berubah, yakni sebagai penyedia informasi. Hanya saja, apakah pola layananannya mau berubah mengikuti generasi digital native atau tidak itu yang menjadi persoalan utama. Bila pustakawan tidak mau berubah dari pekerjaan tradisional ke perkerjaan berbantuan teknologi maka ia akan ditinggalkan oleh pemakai. Oleh karena itu setiap insan pustakawan sepatutnyalah tidak berada pada kelompok menentang pembaharuan sebagaimana digambarkan sebelumnya melainkan menjadi pelopor. Visi perpustakaan dari “holding” (senantiasa ingin mengoleksi) hendaknya harus dirubah menjadi “accessing” atau “disseminating (memberi peluang untuk diakses serta disebarluaskan). Dan accessing serta penyebaran ini hanya dapat dilakukan dengan efektif melalui teknologi informasi. Karena itu sejumlah kualitas seperti: kualitas teknologi, spesialis subjek harus dimiliki pustakawan sebagai persiapan untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dewasa ini.