Kembali
16
1
2017 Jupiter Vol 16 · 1 ISSN 2777-046X

FILSAFAT PERPUSTAKAAN: SEBUAH PENGENALAN

Universitas Hasanuddin

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang filsafat perpustakaan sehingga pembaca dapat memiliki pengetahuan dan “sedikit” mengenal tentang perlunya menerapkan filsafat perpustakaan dalam perpustakaan khususnya terhadap masalah-masalah yang memerlukan analisis filsafat (philosophical analysis) sebagai solusinya. Dengan filsafat perpustakaan ini, akan diketahui, alasan perlunya filsafat perpustakaan, peran filsafat perpustakaan, dan aliran-aliran filsafat perpustakaan serta contoh aliran tersebut di perpustakaan sehingga pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan fungsi perpustakaan b agi seluruh masyarakat/pemustaka.

Abstract

This paper aims to illustrate the philosophy of the library so that the reader can have knowledge and "little" to know about the need to apply library philosophy in the library especially to problems that require philosophical analysis as a solution. With the philosophy of this library, will be known, the reasons for the necessity of library philosophy, the role of library philosophy, and the flow of library philosophy and examples of the flow in the library so that ultimately expected to improve the function of libraries for the whole community/user
Keywords: Filsafat Perpustakaan

Introduction

A. Latar Belakang Filafat perpustakaan adalah ilmu atau pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat, dasar atau prinsip kepustakawanan (ilmu dan profesi pustakawan). Jika menelusuri perkembangan filsafat maka pada mulanya filsafat sebagai induk ilmu (the mother of science). Perkembangan selanjutnya, seiring dengan berkembangnya kehidupan dan keadaan masyarakat maka banyak problem yang tidak bisa lagi dijawab secara filsafat maka lahirlah ilmu pengetahuan (metodologi ilmiah) yang merupakan jawaban atas problem tersebut, hingga filsafat berubah fungsi sebagai alat analisis dalam memecahkan permasalahan (philosophical analysis). Hubungan antara filsafat dengan teori perpustakaan: 1. Filsafat (analisa filsafat) adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli perpustakaan dalam memecahkan problematika perpustakaan dan menyusun teoriteorinya. Dengan filsafat sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek, misalnya aliran idealisme, realisme, materialisme dan sebagainya akan mewarnai dan bercorak pula pandangan ahli tersebut dalam teori-teori perpustakaan yang dikembang-kannya. 2. Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori perpustakaan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya filsafat mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat perpustakaan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan, direvisi, agar sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan, dan pandangan hidup dari pemustaka. 3. Filsafat, termasuk filsafat perpustakaan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori perpustakaan menjadi ilmu perpustakaan. Analisa filsafat berusaha menganalisa dan memberikan arti pada data perpustakaan dan selanjutnya menyimpulkan, serta menyusun teori-teori perpustakaan yang realistis hingga akhirnya akan berkembanglah ilmu perpustakaan (librarianship). Secara praktis (dalam praktiknya), filsafat perpustakaan banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh masyarakat, dan memberikan pengarahan, solusi, pikiran, pendapat terhadap keberhasilannya, perkembangan pengetahuan, pemenuhan informasi, pengambilan keputusan, perilaku kerja pustakawan, perilaku pemustaka, termasuk memberikan layanan yang berkualitas. Filsafat perpustakaan sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, filsafat perpustakaan memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem di mana filsafat perpustakaan merupakan ranahnya.Sebagai cabang ilmu pengetahuan maka filsafat perpustakaan berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Dengan menggunakan analisa filsafat dalam ilmu dan profesi pustakawan diharapkan akan menemukan solusi, relevansi, dan mampu meningkatkan fungsi perpustakaan bagi seluruh masyarakat. B. Permasalahan Permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini adalah: 1. Apa alasan perlunya filsafat perpustakaan? 2. Apa peran filsafat perpustakaan? 3. Bagaiman aliran-aliran filsafat perpustakaan dan contoh aliran tersebut di perpustakaan?

Result & Discussion

A. Alasan perlunya filsafat perpustakaan Alasan perlunya filsafat dalam teori perpustakaan yaitu: 1. Tidak semua masalah perpustakaan (termasuk ilmu dan profesi pustakawan) dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata-mata 2. Banyak diantara masalah-masalah perpustakaan merupakan pertanyaanpertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya. 3. Analisis filsafat terhadap masalahmasalah perpustakaan dengan berbagai cara pendekatannya, akan dapat menghasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah perpustakaan tersebut sehingga dapat disusun dan memperkaya secara sistematis teori-teori perpustakaan Contoh masalah perpustakaan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya: 1. Masalah perpustakaan yang mendasar adalah tentang apakah hakikat perpustakaan itu? Mengapa perpustakaan itu ada? Apa hubungannya dengan pemustaka? 2. Apakah perpustakaan itu berguna sebagai sumber informasi dan pengetahuan bagi pemustaka? Apakah pustakawan perlu memiliki sikap kerja dan kepribadian? Apakah lingkungan di luar perpustakaan mempengaruhi perpustakaan?. 3. Apa sebenarnya tujuan perpustakaan? Apakah perpustakaan itu untuk individu atau untuk kepentingan pemustaka (masyarakat)?. 4. Siapa hakekatnya yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan itu, dan sampai dimana tanggung jawab tersebut? Bagaimana hubungan tanggung jawab antara pemustaka, lembaga induk, pustakawan, dan bagaimana tanggung jawab tersebut jika informasi dan teknologi terus berkembang? 5. Bagaimanakah hakikat pribadi pustakawan, hakikat pemustaka sebagai pengguna layanan perpustakaan? 6. Bagaimana asas penyelenggaraan perpustakaan yang baik? 7. Bagaimana metode pendidikan pemustaka yang efektif untuk mencapai tujuan perpustakaan? Bagaimana sebaiknya peran pemimpin di perpustakaan? dan 8. Masalah-masalah lainnya yang memerlukan philosophical analysis. B. Peran Filsafat Perpustakaan Rincian peranan filsafat perpustakaan: 1. Filsafat perpustakaan, menunjukkan problema yang dihadapi oleh perpustakaan, sebagai hasil dari pemikiran mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisa filsafat maka filsafat perpustakaan bisa menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah melalui proses seleksi terhadap alternatifalternatif tersebut, yang mana yang paling efektif maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktik kepustakawanan. 2. Filsafat perpustakaan, memberikan pandangan tertentu yang berkaitan dengan sarana pembelajaran yang secara hakikat berkaitan dengan tujuan hidup manusia. Filsafat perpustakaan berperan untuk menjabarkan bentuk-bentuk tujuan baik secara umum, khusus, maupun yang operasional sehingga perpustakaan berperan sebagai sarana pembelajaran dan aktivitas pelaksanaan perpustakaan mendukung tujuan pendidikan nasional. 3. Filsafat perpustakaan dengan analisanya terhadap fungsi dan tujuan perpustakaan, berkesimpulan bahwa sumber daya manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Hal ini memberi pemahaman bahwa perpustakaan dapat berfungsi sebagai penggerak utama dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dengan mengembang-kan dan mendayagunakan perpustakaan sebagai sarana yang berisi informasi yang mendukung keberhasilan pendidikan. 4. Filsafat perpustakaan, dalam analisanya terhadap masalah-masalah kecerdasan bangsa yang kini dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah sistem perpustakaan yang dalam sistem pendidikan nasional yang selama ini berjalan mampu membentuk masyarakat (pemustaka) untuk mempunyai budaya baca dan belajar sepanjang hayat dengan menjadikan perpustakaan sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan, atau tidak. Artinya, peran filsafat perpustakaan dapat merumuskan di mana letak kelemahannya, dan bisa memberikan alternatifalternatif perbaikan dan pengembangannya. C. Aliran-Aliran Filsafat Perpustakaan 1. Aliran Progresivisme Aliran progresivisme adalah suatu aliran filsafat yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20, pengaruhnya terasa di seluruh dunia. Usaha pembaruan di dalam perpustakaan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme. Biasanya aliran progresivisme dihubungkan dengan pandangan liberal yaitu pandangan hidup yang mempunyai sifatsifat: (1) Fleksibel = tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu, (2) Curious = ingin mengetahui, ingin menyelidiki), (3) Toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka). Aliran progresivisme memiliki sifat yaitu: 1. Sifat-sifat negatif. Dikatakan negatif dalam arti bahwa, progressivisme menolak otoritarisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika dan epistemiologi 2. Sifat-sifat positif. Dikatakan positif dalam arti, bahwa progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir (kekuatan untuk melawan dan mengatasi ketakutan, takhayyul-takhayyul dan kegawatan-kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup. Contoh aliran progresivisme dalam perpustakaan, misalnya, 1. Meneliti sejelas-jelasnya kesanggupankesanggupan tenaga perpustakaan dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis di perpustakaan. 2. Pustakawan hendaknya mempekerjakan ide-ide atau pikiran-pikiran untuk berbuat. 3. Perpustakaan merupakan sarana yang paling baik untuk pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. 4. Pustakawan adalah master, not the slaves dan perpustakaan hanya sebagai alat. 2. Aliran Esensialisme Esensialisme muncul pada zaman renaissans, dengan ciri-ciri utamanya yang berbeda dengan progressivisme. Perbedaan ini terutama dalam memberikan dasar berpijak mengenai tujuan perpustakaan yang penuh fleksibelitas, di mana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterikatan dengan doktrin/pendapat tertentu. Bagi esensialisme, perpustakaan yang berpijak pada dasar pandangan itu mudah goyah dan kurang terarah. Karena itu, esensialisme memandang bahwa perpustakaan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduaniawian, serba ilmiah dan materialistik. Esensialisme juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realism. Hasilnya, lahirlah konsep-konsep tentang perpustakaan yang sedikit banyaknya ikut diwarnai oleh konsep-konsep idealisme dan realism. Contoh aliran esensialisme (setelah diwarnai oleh konsep idealisme dan realisme) dalam perpustakaan: 1. Tujuan perpustakaan: membentuk pribadi yang cerdas dan bahagia di dunia dan di akhirat. 2. Literatur perpustakaan: mencakup ilmu pengetahuan, kesenian, dan segala hal yang mampu menggerakkan manusia. 3. Kurikulum pada ilmu perpustakan: merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran, dan kegunaan 4. Peran perpustakaan: berfungsi dan sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat. 3. Aliran Perennialisme Perennialisme diambil dari kata perennial, yang diartikan sebagai “continuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time” – abadi atau kekal. Dari makna yang terkandung dalam kata itu, aliran Perennialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi. Perennialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis di berbagai bidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini perennialisme memberikan jalan keluar berupa “kembali kepada kebudayaan masa lampau” (regressive road to culture). Perennialisme memandang penting peran perpustakaan dalam proses pengembalian pustakawan zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal yang telah perpuji ke tangguhannya.Maksud sikap kembali pada masa lampau bukanlah berarti nostalgia tetapi sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi abad silam yang diperlukan dalam kehidupan abad modern. Contoh prinsip perennialisme dalam perpustakaan: 1. Berkembanganya perpustakaan modern yang perkembangannya dipengaruhi oleh sistem dan jenis perpustakaan pada masa lampau yaitu perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah/madrasah, perpustakaan perguruan tinggi, dan perpustakaan khusus . 2. Sistem kurikulum ilmu perpustakaan yang disesuaikan dengan abad modern tetapi tetap berbasis pada nilai-nilai asasi masa silam misalnya, Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. 3. Pustakawan dilatih agar menguasai cara pemberian layanan yang berkualitas, menguasai kebutuhan pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan peran pustakawan pada masa lampau yang terpuji ketangguhannya. 4. Aliran Rekonstruksionalisme Pada dasarnya aliran rekonstruksionalisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern. Hanya saja jalan yang ditempuh berbeda dengan apa yang dipakai oleh perennialisme, sesuai dengan istilah yang dikandungnya yaitu berusaha membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Aliran rekonstruksionalisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanam baru seluruh lingkungannya maka melalui lembaga dan proses pencapaian tujuan organisasi termasuk perpustakaan, aliran rekonstruksionalisme ingin “merombak” tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru. Usaha untuk merealisasikan cita-cita aliran rekonstruksionalisme adalah dengan melakukan kerja sama semua bangsa-bangsa. Para penganut aliran rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa bangsa-bangsa di dunia mempunyai hasrat yang sama untuk menciptakan satu dunia baru, dengan satu kebudayaan di bawah satu kedulatan dunia, dalam pengawasan mayoritas umat manusia. Contoh Aliran Rekonstruksionalisme dalam perpustakaan: a) Perpustakaan sebagai bagian dari masyarakat dunia ikut serta membangun masyarakat informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagaimana dituangkan dalam Deklarasi World Summit of Information Society–WSIS, 12 Desember 2003. b) Dikembangkan suatu sistem nasional perpustakaan. Sistem itu merupakan wujud kerja sama dan perpaduan dari berbagai jenis perpustakaan di Indonesia demi memampukan institusi perpustakaan menjalankan fungsi utamanya menjadi wahana pembelajaran masyarakat dan demi mempercepat tercapainya tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. c) Adanya transmedia yaitu pengalihan bentuk bahan perpustakaan dari bentuk tercetak ke media lain, seperti mikrofilm, CD, digital. d) Adanya mengembangkan standar nasional perpustakaan, melalui Perpustakaan Nasional bekerja sama dan berkoordinasi dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). e) Koleksi nasional perlu dikembangkan karena memuat simpanan informasi yang luas dan permanen sebagai hasil karya budaya bangsa yang harus dilestarikan. 5. Aliran Eksistensialisme Aliran eksistensialisme biasa diartikan sebagai salah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua. Aliran eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya. Sebagai aliran filsafat, eksistensialisme berbeda dengan filsafat eksistensi.Paham aliran eksistensialisme secara radikal menghadapkan manusia pada dirinya sendiri, sedangkan filsafat eksistensi adalah filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Para filosof Eksistensialisme tidak memperoleh perumusan yang sama tentang eksistensialisme itu perdefinisi maka disinilah letak kesulitan merumuskan pengertian eksistensialisme. Aliran eksistensialisme menganggap segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.Atas dasar pandangan itu, sikap di kalangan kaum eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali tampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk “freedom to” adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya. Contoh Aliran Eksistensialisme dalam Perpustakaan misalnya, pengikut aliran eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan dalam perpustakaan, misalnya tidak perlu ada uang denda, tidak perlu ada buku yang tidak bisa dipinjamkan, tidak perlu titip kartu dalam perpustakaan, tidak perlu membuat kartu untuk pemustaka dari luar, tidak perlu titip tas, tidak perlu kantong buku karena telah menggunakan fungsi barcode, tidak perlu menerapkan katalog manual, dan lain-lain.

Conclusion

Filafat perpustakaan pada prinsipnya adalah ilmu atau pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat, dasar atau prinsip kepustakawanan (ilmu dan profesi pustakawan). Banyak masalah-masalah dalam perpustakaan yang tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah sematamata, tetapi memerlukan pendekatan filosofis (filsafat) dalam pemecahannya. Aliran-aliran filsafat perpustakaan terjadi karena adanya perbedaan pandangan oleh para filosof. Perbedaan-perbedaan itu bisa jadi karena adanya perbedaan pendapat, faktor zaman, dan pandangan hidup, serta pendekatan yang dipakai sehingga melahirkan kesimpulan atau pendapat yang berbedabeda pula. Manfaat filsafat perpustakaan yang perlu digarisbawahi adalah filsafat perpustakaan banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh masyarakat, dan memberikan pengarahan, solusi, pikiran, pendapat terhadap keberhasilannya, perkembangan pengetahuan, pemenuhan informasi, pengambilan keputusan, perilaku kerja pustakawan, perilaku pemustaka, termasuk memberikan layanan yang berkualitas.