Kembali
16
1
2021 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 2 ISSN 2797-2275

Peran “Rumah Baca Kolong” dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Dusun Maccini Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Keberadaan suatu komunitas ataupun kelompok rumah baca dapat mempengaruhi tingkat minat baca masyarakat sekitarnya, hal inilah yang dilakukan oleh sekelompok pendiri Rumah Baca Kolong di Dusun Maccini kecamatan Bangkala yang menjadi wadah atau ruang bagi masyarakat dalam mengembangkan kreativitas dan minat baca masyarakat sekitarnya terutama bagi anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peran “Rumah Baca Kolong” Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Dusun Maccini Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dalam pengumpulan data penelitian dilakukan secara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat “Ruang Baca Kolong” memiliki beberapa kegiatan diantaranya kelas ceria, lapak buku keliling desa, pengajian rutin hingga pelatihan penulisan.

Abstract

The existence of a community or group of reading houses can affect the level of reading interest in the surrounding community, this is what a group of founders of the Kolong Reading House in Maccini Hamlet, Bangkala sub-district did, which became a forum or space for the community to develop creativity and interest in reading the surrounding community, especially for children. This study aims to determine the role of "Kolong Reading House" in Increasing Reading Interest of Maccini Hamlet Community, Bangkala District, Jeneponto Kabupaten. This study uses qualitative research methods in collecting research data by observation, interviews and documentation. To increase people's interest in reading, the "Kolong Reading Room" has several activities including cheerful classes, book stalls around the village, regular recitations and writing training.
Keywords: Minat baca · Peran rumah baca Kolong · Interest in reading · The role of the Kolong reading house

Introduction

Membaca merupakan suatu kegiatan dalam mengkaji informasi berupa susunan tulisan pada suatu bahan pustaka. Kegiatan membaca bisa menampah wawasan dan pengetahuan seseorang. Dalam artikel Ade Hendrayani (2017) memaparkan bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke tiga (Bahasa, 2005), membaca didefinisikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi ini tidak jauh berbeda dengan pendapat yang dikemukakan Finochiaro dan Bonomo dalam (Tarigan, 2008) yang secara singkat menyatakan bahwa “reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material” (memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis. Terkait dengan membaca, Muslimin dalam artikelnya mengutip Nurhadi (2010) menyatakan bahwa ada beberapa masalah dan hambatan membaca yang umum terjadi pada setiap orang, yaitu sebagai berikut: 1)rendahnya tingkat kecepatan membaca, 2) minimnya pemahaman yang diperoleh, 3) kurangnya minat baca, 4) minimnya pengetahuan tentang cara membaca yang cepat dan efektif, dan 5) adanya gangguangangguan fisik yang secara tak sadar menghambat kecepatan membaca. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa membaca merupakan serangkaian kegiatan pikiran yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memahami suatu informasi melalui indra penglihatan dalam bentuk symbol-simbol yang rumit, dan tersusun sedemikian rupa sehingga mempunyai arti dan makna. Secara umum, Prasetyono (2008) mengemukakan beberapa tujuan dari aktivitas membaca, antara lain: (1) membaca sebagai suatu kesenangan tidak melibatkan proses pemikiran yang rumit. Aktivitas ini biasanya dilakukan untuk mengisi waktu senggang. Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adalah membaca novel, surat kabar, majalah atau komik, (2) membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan, seperti membaca buku pelajaran atau buku ilmiah., (3) membaca untuk melakukan sesuatu pekerjaan atau profesi. Misalnya, membaca buku ketrampila teknis yang praktis atau buku pengetahuan umum (ilmiah populer). Kegiatan membaca dapat pula dikatakan sebagai aktivitas atau proses penangkapan dan pemahaman sejumlah pesan atau informasi dalam bentuk tulisan. Jadi, membaca adalah kegiatan otak untuk mencerna dan memahami serta memaknai simbol-simbol. Aktivitas membaca ini dapat merangsang otak untuk melakukan olah pikir untuk memahami makna yang terkandung dalam rangkaian simbol simbol (tulisan). Semakin sering seseorang membaca maka semakin tertantang untuk terus berpikir terhadap apa yang mereka baca. Dari uraian di atas, terlihat bahwa salah satu faktor yang menunjang kebiasaan membaca adalah minat baca. Minat baca merupakan hal yang dapat menunjang berkembangnya suatu Negara. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa budaya baca dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat yang berada di Negara tersebut. Fithrozi(2017) dalam Hidayah and Susilo (2017) mengatakan bahwa sesuai data UNESCO tahun 2012, Indonesia menempati tingkat membaca terendah kedua dibandingkan Negara yang disurvei. Minat baca perprovensi peringkat pertama ditempati oleh kepulauan riau sebanyak 94,01 persen. Urutan kedua ditempati provensi DKI Jakarta sebanyak 93,10 persen, dan urutan ketiga provensi bali mencapai 92,44 persen, sedangkan daerah istimewa Yogyakarta menempati urutan keempat dengan 91,00 peresen” (Marani,2016). Hasil survey UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN adalah Indonesia. Rendahnya minat baca ini dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru 0,001%, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan angka minat baca di Negara lain,misalnya di singapura yang memiliki indeks membaca sampai 0,45%. Selain itu, berdasarkan studi most littered nation in the world yang dilakukan oleh central Connecticut state university pada maret 2016 lalu, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Minimnya budaya membaca bangsa Indonesia adalah persolan yang sangat krusial karena peran budaya baca dalam memperteguh dan mengembangkan peradaban bangsa sangat besar. Menurut Hidi, ( 2001) dalam artikel M. Arif Khoiruddin dkk; Minat baca berarti disposisi yang mendorong individu untuk mencari peluang dan sumber daya untuk melaksanakan kegiatan membaca. Ada dua cara untuk memeriksa minat seseorang dalam membaca. pertama seseorang tertarik kegiatan seperti membaca, sehingga ketika dihadapkan dengan buku, individu yang memiliki keinginan yang lebih besar, pengakuan dan mengingat mereka diarahkan pada kegiatan membaca. Kedua, pendekatan lain didasarkan pada isi atau objek yang menarik, bahwa minat stimulus materi untuk mempengaruhi kemampuan individu. Dalam pendekatan ini, lebih terfokus pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi minat baca. Misalnya, jenis bacaan, proses dan memori individu dalam membaca alam ekspositori, rangsangan visual seperti objek atau gambar yang dilihat, timulus pendengaran seperti pernah mendengar percakapan yang berbicara tentang membaca, atau kombinasi dari visual dan pendengaran seperti TV). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat membaca. Pertama, karakteristik teks (bacaan), pada banyak penelitian karakteristik bacaan akan membuat aktivitas membaca menjadi lebih menarik. Kedua, pengubahan aspek tertentu pada lingkungan pembelajaran. Unsur ini berkaitan dengan cara teks disajikan, materi yang digunakan untuk mengajarkannya dan regulasi diri dari pembacanya (Siswati, 2010). Salah satu bentuk wadah dalam meningkatkan minat baca pada daerah-daerah kecil yakni adanya Taman Baca ataupun Rumah Baca. Dalam Skripsi Ayu Pramawanti Rahman (2017) Taman Baca Kecamatan adalah salah satu program pembangunan pendidikan yang merupakan Program Pengembangan Budaya Baca dan Perpustakaan. Program ini bertujuan untuk mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat melalui peningkatan budaya baca serta penyediaan, bahan bacaan yang berguna bagi aksarawan baru, maupun anggota masyarakat pada umumnya yang membutuhkan untuk, memperluas pengetahuan dan keterampilan demi peningkatan wawasan serta produktifitas masyarakat. TBM pada hakikatnya memiliki fungsi yang hampir sama dengan perpustakaan, sehingga untuk memperjelas pemahaman tentang TBM dan perbedaannya dengan perpustakaan sebaiknya melihat kembali pengertian perpustakaan menurut Undang Undang nomor 43 tahun 2007 dalam Bab I Pasal I angka 1 yang menyatakan bahwa; “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.” ( Rika J.M dan Nurmayasari, 2020) Tujuan Taman Baca Kecamatan adalah : 1) Meningkatkan kemampuan keberaksaraan dan keterampilan membaca. 2) Menumbuh kembangkan minat dan kegemaran membaca. 3) Membangun masyarakat membaca dan belajar. 4) Mendorong terwujudkanmasyarakat pembelajar sepanjang hayat. 5) Mewujudkan kualitas kemandirian masyarakat yang berpengatahuan, berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab. Upaya meningkatkan minat baca masyarakat perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan wadah atau ruang yang menunjang kebutuhan bahan bacaan masyarakat untuk meningkatkan minat baca. Hal inilah yang menjadikan dasar terbentuknya suatu “Rumah Baca Kolong”, yang sesuai dengan visi mereka yakni terwujudnya masyarakat yang gemar membaca, berilmu, dan berakhlak untuk membangun generasi yang lebih baik.

Method

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik suatu variabel atau lebih (independen) dapat membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2012: 13). Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas tersebut ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi atau fenomena tertentu. Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Subjek dalam penelitian ini adalah Pengelola Rumah Baca Kolong, tujuan dari pemilihan subjek ini adalah untuk mendapatkan bahan informasi sebanyak mungkin dari berbgai macam sumber agar data yang diperoleh dapat terbukti kebenarannya. Teknik pengumpulan data merupakan hal yang perlu dipahami oleh peneliti guna mendapatkan data-data yang sesuai dengan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penelitian. Pengumpulan data penelitian dapat dilakukan dengan beberapa cara yang tepat. Dalam artikel Akbar Maulana dkk memaparkan bahwa Menurut Sugiyono (2012: 225), macam teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, diskusi kelompok, dan triangulasi/gabungan. Berisi jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, target/sasaran, subjek penelitian, prosedur, instrumen dan teknik analisis dataserta hal-hal lain yang berkait dengan cara penelitiannya. target/sasaran, subjek penelitian,

Result & Discussion

Hasil dan Pembahasan 1. Eksistensi Rumah Baca Kolong dalam meningkatkan minat baca masyarakat Menurut Sutarno (2008:127) Taman Baca Masyarakat pada dasarnya bukanlah sebuah perpustakaan yang harus memenuhi standar nasional perpustakaan seperti standar koleksi, standar sarana dan prasarana, standar penyelenggaraan, dan standar pengelolaan. Taman Bacaan Masyarakat merupakan bahan bacaan yang diperlukan masyarakat sebagai tempat pembinaan dan kemampuan membaca dan belajar. Dalam upaya ini pemerintah dapat menyelenggarakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta pada program ini diselengarakan sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas keberaksaraan dan layanan pendidikan di masyarakat. Keberadaan Rumah baca Kolong dalam masyarakat memang sangat penting karena dengan meningkatnya minat baca dapat meningkatkan minat baca masyarakat dengan menyelenggarakan kegiatan hingga adanya dorongan kepada masyarakat dalam meningkatkan minat baca. Dalam menumbuhkan minat baca terhadap masyarakat memang sulit akan tetapi kami tetap berusaha agar minat baca masyarakat tidak rendah, sehingga untuk mencari informasi lewat bacaan maupun lisan dapat memikirkan ulang yang telah dibaca dan tidak menyebarluaskan hoax-hoax yang ada. Dengan ini masyarakat akan mencari informasi bacaan dengan teliti. Awal terbentuknya Rumah Baca Kolong ini yaitu berawal dari kekhawatiran terhadap minat baca masyarakat pada umumnya dan khususnya pada anak-anak, kemudian kami mengambil inisiatif untuk membangun sebuah tempat atau wadah yang bertujuan untuk melakukan pembinaan masyarakat khususnya pada bidang bacaan dan penulisan. Dan untuk mewujudkan Rumah Baca Kolong ini, kami juga mempunyai visi dan misi. Visinya yaitu terwujudnya masyarakat yang gemar membaca, berilmu, dan berakhlak untuk membangun generasi yang lebih baik. Kemudian Misinya yaitu: • Menyediakan buku buku bacaan berkualitas bagi masyarakat desa • Meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat desa • Mengembangkan kreativitas anak-anak memlalui buku bacaan Namun untuk struktur organisasinya belum ada dikarenakan Rumah Baca Kolong ini bersifat independen, Maka strukturnya belum ada untuk saat ini. Dan untuk kedepannya akan dibuatkan struktur organisasinya. Kemudian, pada awalnya buku yang ada di Rumah Baca Kolong ini merupakan koleksi pribadi dan teman yang menyumbangkan bukunya. Dan ada sekitar 20 buah, namun untuk sekarang sudah ada kurang lebih 200 buah buku. Dan untuk jenis koleksinya buku yang ada pada umumnya, kebanyakan buku pelajaran SD, SMP, dan SMA, kemudian ada juga beberapa novel, buku dongeng dan juga majalah. 2. Kegiatan Rumah Baca Kolong dalam Meningkatkan Minat Baca Kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Rumah Baca Kolong ini adalah telah melakukan kegiatan kelas ceria, kegiatan lapak buku keliling desa, pengajian rutin, dan pelatihan penulisan. Dan yang hadir hanya masyarakat yang berada disekitar lokasi Rumah Baca Kolong terkhusus untuk anak-anak SD dan SMP. Tetapi dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan seperti pengajian rutin dan lapak buku keliling desa tidak terjalan dengan baik. Sehingga para penggiat literasi literasi harus memutar otak agar Rumah Baca Kolong ini dapat melakukan rutinitas-rutinitas yang dilakukan sebelum adanya pandemi tersebut. 3. Kendala yang dialami Rumah Baca Kolong Kendala yang dihadapi Rumah Baca Kolong ini yaitu masyarakat yang masih kurang merespon dengan adanya Rumah Baca ini. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi orang-orang lebih memilih membaca E-Book dibandingkan buku karena lebih efektif dan tidak perlu keluar rumah atau mencari buku lagi. Dan buku-buku yang ada di rumah baca ini masih kurang banyak sehingga masyarakat lebih mencari informasi menggunakan teknologi, walaupun masih ada masyarakat yang lebih menyukai datang dan membaca langsung di rumah baca Kolong ini. Dan untuk fasilitasnya juga mungkin masih kurang apalagi untuk menunjang keberlangsungan kegiatan Rumah Baca Kolong, meja hanya ada dua buah, satu rak buku dan beberapa buah kursi. 4. Perencanaan Pengelola Rumah Baca Kolong kedepannya untuk meningkatkan Minat Baca Masyarakat Perencanaan Rumah Baca Kolong yaitu menjadikan Rumah Baca Kolong sebagai pusat informasi baik itu dari segi koleksi maupun pelayanan, dan rekreasi berbasis belajar. Dan Strategi dalam menyebarkan budaya literasi dalam masyarakat yaitu dengan melakukan pendekatan kepada masyarakat sebagai tindak lanjut pemeliharaan pembelajaran sehingga dibutuhkan dukungan masyarakat, keluarga dan lembaga pemerintah. Kemudian dalam hal pembangunannya kedepannya tempat Rumah Baca ini bisa diperluas agar anak-anak atau masyarakat setempat bisa lebih leluasa membaca. Serta buku-buku yang ada di Rumah Baca ini bisa di perbanyak agar dapat masyarakat atau anak anak lebih rajin lagi membaca di tempat kami.

Conclusion

Rumah baca kolong merupakan suatu wadah bagi masyarakat dusun Maccini Kecamatan Bangkala dalam memenuhi akan informasi masyarakat sekitarnya terutama bagi anak-anak sekolah. Rumah baca kolong memulai gerakan literasinya dengan 20 buku yang merupakan koleksi pribadi dan sekarang sudah berkembang menjadi 200-an koleksi buku. Selain itu, Beberapa Kegiatan yang telah dilakukan oleh rumah baca Kolong dalam meningkatkan minat baca dan mendukung literasi yakni telah melakukan kegiatan kelas ceria, kegiatan lapak buku keliling desa, pengajian rutin, dan pelatihan penulisan. Yang umumnya hanya masyarakat yang berada disekitar lokasi Rumah Baca Kolong terkhusus untuk anak-anak SD dan SMP. Terlepas dari banyaknya kegiatan yang telah dilakukan oleh Rumah Baca Kolong dalam meningkatkan minat baca masyarakat di dusun Maccini. Rumah baca kolong terkendala akan minimnya fasilitas yang mereka miliki apalagi untuk menunjang keberlangsungan kegiatan Rumah Baca Kolong, meja hanya ada dua buah, satu rak buku dan beberapa buah kursi. Kendala Rumah Baca Kolong yakni rumah baca ini bisa dikatakan masih baru sehingga respon masyarakat terhadap kehadiran rumah baca ini masih kurang apalagi dengan kemajuan teknologi orang-orang lebih memilih membaa E-Book dibandingkan buku.