Analisis Program Literasi Sekolah: studi Kasus pada Implementasi program Wajib Baca di Perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Artikel ini membahas analisis implementasi program wajib baca di Perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas Makassar. Penelitian ini berfokus pada dua pokok permasalahan: (1) bagaimana efektivitas program literasi perpustakaan sekolah di perpustakaan tersebut, dan (2) apa dampak program wajib baca terhadap pengembangan kebiasaan membaca peserta didik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data diperoleh dari pustakawan, guru, dan peserta didik melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas program wajib baca dapat dilihat dari partisipasi aktif peserta didik, peningkatan kemampuan literasi, minat dan kebiasaan membaca, pemanfaatan fasilitas perpustakaan, serta dukungan dari guru dan pustakawan. Program literasi ini terbukti berhasil meningkatkan efektivitas layanan perpustakaan secara signifikan. Selain itu, program wajib baca berdampak positif pada perilaku dan kebiasaan peserta didik, termasuk peningkatan prestasi akademik, kepercayaan diri, kreativitas, serta kemampuan berekspresi melalui tulisan, seni, atau diskusi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan masukan bagi Perpustakaan Nurul Ilmi dalam meningkatkan kualitas pengelolaan program literasi serta memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, khususnya terkait pelaksanaan program wajib baca di lingkungan sekolah.
Abstract
This article discusses an analysis of the implementation of the compulsory reading program at Nurul Ilmi Library, UPT SPF SD Inpres Perumnas Makassar. The study focuses on two main research questions: (1) how effective is the school library literacy program at Nurul Ilmi Library, and (2) what is the impact of the compulsory reading program on developing students' reading habits. This research uses a qualitative descriptive method, with data collected from librarians, teachers, and students through observation, interviews, and documentation. The data analysis was carried out in three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research findings show that the effectiveness of the compulsory reading program can be seen through active student participation, improvement in literacy skills, increased reading interest and habits, utilization of library facilities, as well as support from teachers and librarians. This literacy program has been proven to significantly enhance the effectiveness of library services. Furthermore, the compulsory reading program has had a positive impact on student behavior and habits, including improvements in academic achievement, self-confidence, creativity, and the ability to express ideas through writing, art, or discussion. It is hoped that this study can serve as a reference and provide input for Nurul Ilmi Library in improving the quality of literacy program management and in meeting the information needs of library users, particularly concerning the implementation of the compulsory reading program within the school environment.
Keywords:
mandatory reading Program
· Nurul Ilmi Library
· school literacy
Introduction
Perpustakaan sekolah merupakan sumber informasi yang mempunyai peran yang vital di era globalisasi seperti sekarang ini sekaligus merupakan sarana penunjang dalam pendidikan formal dan nonformal. Berkaitan dengan komponen sistem pendidikan terdapat banyak indikator penting untuk mewujudkan suatu tujuan pendidikan, salah satunya ialah melalui kebijakan-kebijakan pendidikan yang diharapkan dapat membantu terciptanya pendidikan yang lebih baik untuk kedepannya salah satunya adalah adanya program literasi. Menurut Kristiyaningrum menyatakan bahwa Pada dasarnya setiap individu membutuhkan keterampilan dasar dalam proses pembelajaran. Keterampilan dasar itu adalah keterampilan membaca dan menulis, baik yang terealisasi maupun tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Membaca dapat membantu manusia dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan mendapatkan ilmu untuk menghadapi era globalisasi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa membaca dan menulis adalah kebutuhan penting bagi setiap individu untuk bertahan di lingkungan nasional maupun internasional.(Krityaningrum, 2020: ) kemudian dilanjutkan oleh Abdurahman menyatakan bahwa Membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh anak karena melaui membaca anak dapat belajar banyak tentang berbagai bidang studi. Oleh karena itu membaca merupakan keterampilan yang harus diajarkan sejak anak masuk sekolah dasar (Abdurahman, 2012). Suyono menyatakan bahwa esensi literasi adalah kegiatan membaca- berpikir-menulis. Literasi juga berarti praktik dan hubungan sosial yang berkaitan dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya, dalam hal ini kemampuan melek huruf dapat ditingkatkan melalui pembiasaan. Dikarenakan literasi dinilai sangat penting dan memberikan dampak besar bagi kemajuan Indonesia, maka gerakan literasi ini seharusnya dilakukan di setiap tingkatan sekolah ( Suyono, 2015). Literasi bukanlah terbatas pada aktivitas membaca dan menulis, namun juga mencakup keterampilan dan kemampuan memanfaatkan sumber sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Dewasa ini kemampuan seperti itu disebut juga dengan literasi informasi. Clay membagi komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual (Clay, 2001). Masalah rendah minat baca Peserta didik dalam membaca memang menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Negara bagian Indonesia. GLS lahir karena rendahnya kemampuan literasi bangsa kita yang menyebabkan sumber daya manusia Indonesia menjadi tidak berkompeten. Permasalahan tersebut ditangani oleh pemerintah melalui kebiasaan membaca dalam bentuk gerakan literasi sekolah, salah satu alasan penguatan literasi budaya dengan kebiasaan membaca di sekolah adalah untuk menumbuhkan membaca kritis yang paling dasar dan perlu ditanamkan bagi Peserta didik di sekolah serta hasil beberapa survei dan penelitian yang menunjukkan rendahnya kemampuan membaca Peserta didik di Indonesia (Desrianto, 2021). Dilanjutkan oleh pernyataan Yulianto dalam sebuah konferensi menyatakan bahwa cara untuk mengatasi rendahnya hasil PISA Indonesia salah satunya adalah dengan mengembangkan program literasi sekolah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan serta unsur publik, alumni, masyarakat, bisnis dan industri ( Yulianto, 201) GLS telah banyak diterapkan di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta, salah satunya yaitu sekolah dasar yakni UPT SPF SD Inpres Perumnas. Kemendikbud mengemukakan gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan program yang dirancang oleh pemerintah pada tahun 2014, dan diberlakukan pada Maret 2016. Gerakan Literasi Sekolah dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan, mulai jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas (Kemendikbud, 2016). Perpustakaan sekolah harus mampu memberikan akses yang mudah dan menarik bagi Peserta didik untuk membaca. Dalam konteks ini, Perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas telah mengimplementasikan program wajib baca. Program ini dirancang untuk mendorong Peserta didik agar lebih aktif dalam membaca, meningkatkan keterampilan literasi mereka, serta menumbuhkan minat baca yang tinggi. Namun, efektivitas dari program tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana program ini berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Di Indonesia, program wajib baca di perpustakaan sekolah telah dicanangkan sebagai upaya untuk meningkatkan budaya baca di kalangan Peserta didik. Program ini bertujuan untuk mendorong Peserta didik agar lebih aktif membaca buku dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Namun, efektivitas implementasi program ini sering kali dipertanyakan, terutama dalam konteks bagaimana program tersebut dijalankan di tingkat sekolah dasar. Perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas Makassar menjadi salah satu lokasi yang menarik untuk diteliti terkait implementasi program wajib baca. Dengan berbagai fasilitas yang disediakan, perpustakaan ini diharapkan dapat mendukung Peserta didik dalam meningkatkan minat baca dan keterampilan literasi. Namun tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini juga perlu dievaluasi, agar dapat diketahui sejauh mana program tersebut berhasil mencapai tujuannya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas program literasi di perpustakaan sekolah antara lain adalah ketersediaan buku yang bervariasi dan relevan, keterlibatan guru dan pustakawan dalam mendukung kegiatan literasi, serta partisipasi orang tua dalam mendorong kebiasaan membaca anak. Selain itu, lingkungan perpustakaan yang nyaman dan menarik juga berkontribusi dalam meningkatkan minat baca Peserta didik. Evaluasi program literasi di perpustakaan sekolah penting dilakukan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Dengan adanya evaluasi, pihak perpustakaan dan sekolah dapat mengetahui dampak dari program wajib baca terhadap kemampuan literasi Peserta didik, serta bisa merancang strategi yang lebih baik untuk meningkatkan keberhasilan program di masa mendatang.
Method
Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan pendekatan kualitatif adalah suatu metode dalam penelitian suatu objek, suatu situasi dan kondisi, atau suatu kelas pristiwa pada masa sekarang. Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskritif, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Penelitian ini dilakukan di perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas selama kurang lebih satu bulan. Sumber data dalam penelitian ini adalah diperoleh dari pemustaka yakni pengelola perpustakaan, guru, serta peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi yaitu dengan melihat kondisi disekitar perpustakaan, wawancara yaitu dengan melakukan tanya jawab dengan kepala perpustakan, pustakawan, guru dan peserta didik serta dokumentasi yaitu mengambil gambar atau objek penelitian ditempat penelitian. Adapun teknik pengolahan data yakni dengan melakukan reduksi data yaitu proses pemilihan, pemokusan, penyederhanaan pemisahan, dan pentransformasian data “mentah” yang terlihat dalam catatan tertulis lapangan (Yusuf, 2017: 407- 40), dilakukan juga penyajian data yaitu menyusun informasi yang telah telah dikumpulkan sehingga dari penyususnan informasi tersebut dapat ditarik kesimpulan serta pengambilan tindakan (Rijali, 2019: 81), serta melakukan verifikasi data yaitu kegiatan penarikan Kesimpulan dan verifikasi di awal. Kesimpulan awal masih bisa saja berubah bila ditemukan bukti yang kuat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya (Sugiyono, 2015:332).
Result & Discussion
A. Bentuk efektifitas program wajib baca di perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Permumnas Efektivitas program wajib baca mengacu pada sejauh mana program ini berhasil mencapai tujuan utamanya, seperti halnya dalam meningkatkan budaya literasi di kalangan Peserta didik. Program dianggap efektif jika mampu meningkatkan kebiasaan membaca Peserta didik, meningkatkan pemahaman terhadap bacaan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan literasi di sekolah. Untuk menilai efektivitasnya, dapat digunakan berbagai indikator, salah satunya yaitu sebagai berikut:Entri Data Bibliografi. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka pada aplikasi SLiMS merupakan kegiatan pencatatan bahan pustaka yang dimulai dari kegiatan pencatatan judul, nama pengarang, jumlah eksamplar, tahun terbit, tempat terbit serta data bahan pustaka lainnya. Hasil dari kegiatan ini adalah data inventaris yang menampilkan jumah bahan pustaka berdasarkan nomor klasifikasinya dan jenis bahan pustaka. Dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pustakawan SMP Negeri 3 Majene tentang kegiatan inventarisasi bahan pustaka dengan menggunakan aplikasi SLiMS maka kegiatan entri data bibliografi dapat dilaksanakan. Tanpa adanya pengetahuan pustakaan tentang cara melakukan inventarisasi bahan Pustaka dengan menggunakan aplikasi SLiMS maka kegiatan inventarisasi bahan Pustaka dengan memanfaatkan aplikasi SLiMS tidak akan bisa terlaksana atau berjalan dengan baik. 1. Partisipasi dan Keterlibatan Peserta Didik Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan informan tentang program Wajib Baca telah berhasil mendorong tingkat partisipasi Peserta didik yang cukup baik. Pertama, antusiasme Peserta didik sebagian besar Peserta didik menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk mengikuti program ini. Mereka merasa senang karena diperbolehkan memilih buku sesuai minat mereka, seperti cerita rakyat, dongeng, atau buku bergambar. Kedua rutin berkunjung ke perpustakaan, Jadwal rutin membaca di perpustakaan membantu meningkatkan kehadiran Peserta didik di perpustakaan. Beberapa Peserta didik bahkan datang di luar jadwal wajib untuk membaca tambahan. Ketiga keterlibatan Peserta didik aktif, Ada kelompok Peserta didik yang sangat aktif membaca dan bahkan meminjam buku untuk dibawa pulang. Peserta didik ini sering menjadi contoh bagi teman-temannya. Adapun gambaran tentang bagaimana mereka merasakan program ini yakni: Pertama, Peserta didik Menikmati kebebasan memilih buku, Mereka merasa lebih termotivasi membaca karena bisa memilih buku sesuai dengan topik atau cerita yang mereka sukai. Keduan adanya tantangan yang menarik, Beberapa Peserta didik menyukai aktivitas tindak lanjut, seperti menulis ringkasan atau bercerita tentang buku yang telah mereka baca. Ini menjadi tantangan yang menyenangkan bagi mereka. Ketiga pengaruh lingkungan teman sebaya, Peserta didik yang lebih aktif membaca sering kali memengaruhi teman-temannya untuk ikut terlibat dalam program ini. Hal ini menunjukkan adanya efek positif dari lingkungan sosial Peserta didik. 2. Peningkatan Kemampuan Literasi Berdasarkan wawancara dengan guru, program Wajib Baca dinilai memberikan dampak positif terhadap kemampuan literasi Peserta didik. Guru menyebutkan bahwa Peserta didik yang sebelumnya jarang membaca mulai menunjukkan minat yang lebih besar terhadap buku. Beberapa poin yang diungkapkan guru meliputi: Pertama Peningkatan Kosa Kata, Peserta didik menjadi lebih kaya dalam penggunaan kosa kata baru yang mereka temukan dari bacaan. Kedua Pemahaman Teks, Kemampuan Peserta didik dalam memahami isi bacaan, menjawab pertanyaan terkait teks, dan menceritakan kembali isi buku meningkat. Ketiga Motivasi Membaca, Program ini menciptakan rutinitas yang membantu Peserta didik lebih termotivasi untuk membaca, terutama karena adanya penghargaan dan pengakuan terhadap kemajuan mereka. Peserta didik menunjukkan bahwa mereka merasa senang mengikuti program Wajib Baca. Beberapa Peserta didik mengungkapkan bahwa mereka merasa membaca buku di perpustakaan memberikan pengalaman baru yang menyenangkan, terutama karena koleksi buku cerita dan buku pengetahuan umum yang menarik. Poin penting dari wawancara Peserta didik meliputi: pertama Kebiasaan Membaca, Banyak Peserta didik yang mengaku mulai menjadikan membaca sebagai kegiatan rutin, bahkan di luar jam sekolah. Kedua keseruan membaca, Buku-buku cerita atau dongeng menjadi favorit mereka, dan mereka merasa termotivasi untuk membaca buku lainnya setelah selesai dengan satu buku. Ketiga kepercayaan diri, Peserta didik merasa lebih percaya diri saat berbicara atau mempresentasikan ringkasan buku yang mereka baca. 3. Minat dan Kebiasaan Membaca Hasil wawancara dengan guru, pustakawan, dan Peserta didik memberikan gambaran bahwa program Wajib Baca telah memberikan dampak positif terhadap minat membaca Peserta didik. Pertama meningkatnya ketertarikan terhadap Buku, Sebagian besar Peserta didik yang sebelumnya kurang tertarik membaca kini mulai menunjukkan minat terhadap buku, terutama buku- buku yang sesuai dengan usia dan minat mereka, seperti cerita bergambar, dongeng, dan cerita rakyat. Kedua kebebasan memilih buku, salah satu faktor yang meningkatkan minat baca adalah kebebasan Peserta didik dalam memilih buku yang mereka sukai. Banyak Peserta didik merasa lebih antusias karena bisa membaca buku yang sesuai dengan selera mereka. Ketiga pengaruh lingkungan sosial, Peserta didik yang aktif membaca sering memengaruhi teman- temannya untuk ikut membaca, sehingga menciptakan suasana membaca yang lebih menyenangkan di perpustakaan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa implementasi Program Wajib Baca berhasil meningkatkan minat dan kebiasaan membaca di kalangan Peserta didik. Namun, wawancara juga mengungkapkan bahwa ada beberapa Peserta didik yang masih menunjukkan minat membaca yang rendah, terutama mereka yang belum terbiasa membaca atau merasa kesulitan memahami isi buku. Hasil wawancara menunjukkan bahwa program Wajib Baca secara bertahap membantu Peserta didik membangun kebiasaan membaca yang lebih baik: pertama kebiasaan membaca di perpustakaan, jadwal rutin untuk membaca di perpustakaan telah membantu Peserta didik menciptakan kebiasaan membaca yang teratur. banyak Peserta didik yang menjadikan kunjungan ke perpustakaan sebagai aktivitas yang mereka tunggu-tunggu. Kedua membawa buku ke rumah, beberapa Peserta didik mulai meminjam buku untuk dibaca di rumah. mereka merasa membaca di rumah membantu mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Ketiga diskusi dan berbagi cerita, Peserta didik yang terlibat dalam program wajib baca sering berbagi cerita tentang buku yang mereka baca dengan teman-temannya, sehingga kebiasaan membaca menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. 4. Pemanfaatan Fasilitas Perpustakaan Perpustakaan Nurul Ilmi menyediakan berbagai fasilitas yang dirancang untuk mendukung program Wajib Baca dan menciptakan lingkungan literasi yang kondusif. Beberapa fasilitas tersebut meliputi, pertama koleksi buku yang beragam: perpustakaan memiliki koleksi buku cerita, dongeng, buku pengetahuan, komik edukasi, dan buku pelajaran yang dirancang untuk memenuhi minat dan kebutuhan Peserta didik. Buku-buku ini terus diperbarui untuk menarik minat baca Peserta didik. Kedua ruang membaca yang nyaman, perpustakaan dilengkapi dengan meja, kursi, dan area lesehan yang nyaman untuk Peserta didik membaca. Suasana yang tenang dan rapi membantu Peserta didik lebih fokus saat membaca. Ketiga rak buku yang terorganisir, buku-buku disusun secara terorganisir berdasarkan kategori, sehingga memudahkan Peserta didik menemukan buku yang mereka cari. Ketiga sistem peminjaman buku, perpustakaan menyediakan layanan peminjaman buku yang memudahkan Peserta didik untuk membaca di rumah. 5. Dukungan guru dan Pustakawan Berdasarkan hasil Wawancara menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan penerapan program Wajib Baca. Berikut adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh guru, pertama motivasi kepada Peserta didik, guru secara aktif memotivasi Peserta didik untuk membaca. Mereka memberikan semangat, membagikan manfaat membaca, dan mendorong Peserta didik untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Kedua pendampingan saat membaca, guru mendampingi Peserta didik selama sesi membaca di perpustakaan. Mereka membantu Peserta didik memilih buku yang sesuai dengan minat dan kemampuan membaca masing-masing. Ketiga pengintegrasian dengan pembelajaran, beberapa guru mengintegrasikan program Wajib Baca dengan pelajaran di kelas, misalnya dengan meminta Peserta didik menuliskan ringkasan atau membuat presentasi sederhana tentang buku yang mereka baca. Pustakawan di Perpustakaan Nurul Ilmi juga memainkan peran kunci dalam mendukung program ini. Berikut adalah bentuk dukungan yang diberikan pustakawan: pertama pengelolaan koleksi buku, pustakawan memastikan koleksi buku di perpustakaan terorganisir dengan baik dan mudah diakses oleh Peserta didik. Mereka juga merekomendasikan buku-buku yang sesuai dengan usia dan minat Peserta didik. Kedua pendampingan dalam memilih buku, pustakawan membantu Peserta didik memilih buku yang menarik dan sesuai dengan kemampuan membaca mereka, sehingga Peserta didik merasa nyaman dan termotivasi untuk membaca. Ketiga penciptaan suasana membaca yang menyenangkan, pustakawan menciptakan lingkungan yang ramah dan kondusif di perpustakaan, sehingga Peserta didik merasa betah dan antusias untuk datang membaca. B. Dampak program wajib baca di perpustakaan Nurul Ilmi terhadap pengembangan kebiasaan membaca di kalangan peserta didik 1. Dampak Pada Peserta Didik Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, pustakawan, dan Peserta didik menunjukkan bahwa program Wajib Baca memberikan pengaruh positif terhadap minat baca Peserta didik: pertama meningkatnya ketertarikan membaca, Peserta didik yang sebelumnya kurang tertarik membaca mulai menunjukkan antusiasme terhadap buku, terutama setelah diperkenalkan pada koleksi buku yang menarik seperti dongeng, cerita bergambar, dan buku pengetahuan ringan. Kedua perubahan sikap terhadap membaca, beberapa Peserta didik yang awalnya menganggap membaca sebagai kegiatan membosankan kini lebih menikmati waktu membaca di perpustakaan. Program ini juga membantu mengubah pola pikir Peserta didik tentang pentingnya membaca. program Wajib Baca memberikan pengaruh positif terhadap minat baca Peserta didik: pertama meningkatnya ketertarikan membaca, Peserta didik yang sebelumnya kurang tertarik membaca mulai menunjukkan antusiasme terhadap buku, terutama setelah diperkenalkan pada koleksi buku yang menarik seperti dongeng, cerita bergambar, dan buku pengetahuan ringan. Kedua perubahan sikap terhadap membaca, beberapa Peserta didik yang awalnya menganggap membaca sebagai kegiatan membosankan kini lebih menikmati waktu membaca di perpustakaan. Program ini juga membantu mengubah pola pikir Peserta didik tentang pentingnya membaca. 2. Dampak Pada Akademik Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan pustakawan menunjukkan bahwa program Wajib Baca berdampak langsung pada kemampuan membaca Peserta didik dan pemahaman teks, yang berkontribusi terhadap prestasi akademik mereka: pertama kelancaran membaca, Peserta didik yang secara rutin mengikuti program menunjukkan peningkatan dalam kecepatan dan kelancaran membaca. Hal ini memudahkan mereka untuk memahami materi pelajaran. Kedua pemahaman bacaan yang lebih baik, dengan terbiasa membaca buku-buku di perpustakaan, Peserta didik menjadi lebih terampil memahami teks yang panjang dan kompleks, termasuk soal-soal ujian dan tugas yang membutuhkan analisis. Program literasi Wajib Baca di Perpustakaan Nurul Ilmi memiliki dampak positif yang signifikan terhadap prestasi akademik Peserta didik. Dengan meningkatnya kemampuan membaca, pemahaman teks, dan kebiasaan belajar mandiri, Peserta didik dapat lebih mudah memahami materi pelajaran dan meningkatkan nilai akademik mereka. Kendala yang ada dapat diatasi dengan peningkatan fasilitas, integrasi program ke dalam pembelajaran, dan bimbingan khusus bagi Peserta didik yang membutuhkan. 3. Dampak terhadap perpustakaan Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa program Wajib Baca memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perpustakaan. Program ini meningkatkan jumlah kunjungan Peserta didik, pemanfaatan koleksi buku, dan peran pustakawan sebagai pendukung literasi. Selain itu, perpustakaan semakin diakui sebagai pusat pembelajaran di sekolah. Meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan koleksi dan ruang, program ini membuktikan bahwa perpustakaan memainkan peran penting dalam keberhasilan kegiatan literasi Peserta didik. 4. Dampak terhadap Kepercayaan Diri dan Kreatifitas Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa program literasi dalam Wajib Baca memberikan dampak yang signifikan terhadap kepercayaan diri dan kreativitas Peserta didik. Peserta didik menjadi lebih percaya diri dalam berbicara dan membaca, serta mampu mengekspresikan ide-ide kreatif mereka melalui tulisan, seni, atau diskusi. Namun, tantangan seperti sifat pemalu Peserta didik dan keterbatasan fasilitas perlu diperhatikan agar program ini dapat berjalan lebih maksimal.
Conclusion
Perpustakaan Nurul Ilmi UPT SPF SD Inpres Perumnas telah berhasil menerapkan program wajib baca melalui berbagai kegiatan rutin, seperti kelas literasi terjadwal, bimbingan membaca bagi peserta didik yang masih dalam tahap pembinaan baca tulis, serta kelas mendongeng yang melatih keberanian tampil di depan umum. Efektivitas program wajib baca ini tercermin dari tingkat partisipasi dan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan membaca, peningkatan kemampuan literasi, tumbuhnya minat dan kebiasaan membaca, pemanfaatan fasilitas perpustakaan, serta adanya dukungan dari guru dan pustakawan. Berdasarkan hasil wawancara, program wajib baca (PROWABACA) telah terbukti meningkatkan efektivitas layanan literasi dan mengalami perkembangan yang signifikan. Selain itu, program wajib baca memberikan dampak positif terhadap perilaku dan kebiasaan peserta didik, termasuk peningkatan prestasi akademik, pemanfaatan perpustakaan, serta penguatan kepercayaan diri dan kreativitas. Peserta didik menjadi lebih percaya diri dalam berbicara dan membaca, serta mampu mengekspresikan ide-ide kreatif mereka melalui tulisan, seni, maupun diskusi. Namun, penelitian ini juga mencatat adanya tantangan, seperti sifat pemalu peserta didik dan keterbatasan fasilitas, yang perlu mendapatkan perhatian agar program dapat berjalan lebih optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan sekaligus masukan bagi Perpustakaan Nurul Ilmi, khususnya dalam meningkatkan kualitas pengelolaan program literasi wajib baca dan memenuhi kebutuhan informasi para pemustaka di lingkungan sekolah.