Kembali
16
1
2025 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 5 · 2 ISSN 2797-2275

Pelaksanaan Kegiatan Seni dalam Pembelajaran Anak Usia Dini di TK Kartika I Kelas B Toleransi

Universitas Negeri Medan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan seni di TK Kartika I kelas B Toleransi dan mengevaluasi peran kegiatan tersebut dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui teknik observasi dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seni dilaksanakan secara rutin dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi, dan sarana pendukung seperti alat dan bahan tersedia dengan memadai melalui dana BOP. Jenis kegiatan yang dilakukan beragam dan disesuaikan dengan tema mingguan. Namun demikian, masih terdapat kendala mengenai dalam pembuatan karya yang selalu mengikuti aturan dari guru sehingga, yang menghambat kebebasan berekspresi dan kreativitas. Oleh karena itu, perlu diterapkan pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat pada proses eksplorasi anak.

Abstract

This study aims to describe the implementation of art activities in Class B Tolerance at TK Kartika I and to evaluate the role of these activities in developing early childhood creativity. The research was conducted using a qualitative descriptive approach through observation techniques and structured interviews. The results show that art activities are carried out regularly and form an important part of the learning process. The children demonstrated high enthusiasm, and supporting resources such as tools and materials were adequately provided through BOP funds. The types of activities varied and were adapted to the weekly themes. However, there were still obstacles in the creation of artwork, as children were always required to follow the teacher's instructions, which hindered their freedom of expression and creativity. Therefore, a more exploration-based, child-centered learning approach needs to be implemented.
Keywords: Early Childhood · Art · Time Constraints

Introduction

Anak usia dini berada dalam fase perkembangan yang sangat pesat dan menentukan, dikenal sebagai masa emas (golden age), di mana seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara simultan dan intensif. Pada periode ini, stimulasi yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas tumbuh kembang anak, baik dalam aspek kognitif, sosial-emosional, motorik, bahasa, maupun seni. Di antara berbagai pendekatan stimulasi yang ada, kegiatan seni memiliki peran strategis karena melibatkan proses imajinatif, ekspresif, dan kreatif yang khas anak usia dini. Kegiatan seni tidak hanya berfungsi sebagai sarana menyalurkan ekspresi, tetapi juga mendukung perkembangan motorik halus, membentuk kepekaan estetika, serta memperkuat pemahaman anak terhadap dunia sekitarnya (Mayesky, 2006). Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD), seni rupa menjadi salah satu aspek yang wajib dikembangkan. Aktivitas seperti menggambar, mewarnai, membentuk dengan plastisin, atau kolase tidak hanya melatih koordinasi motorik halus, tetapi juga membuka ruang bagi kebebasan berimajinasi dan berkreasi. Nurwita (2020) menyatakan bahwa kemampuan seni mencakup keterampilan fisik, kepekaan rasa, kreativitas, dan pikiran, yang semuanya penting untuk membentuk pribadi anak yang utuh dan ekspresif. Sejalan dengan itu, Pamadhi (dalam Indah, Evia, & Novianti, 2020) menegaskan bahwa kegiatan seperti mewarnai sangat disukai anak usia dini karena memungkinkan mereka bebas berimajinasi melalui eksplorasi warna, yang pada akhirnya mampu menstimulasi perkembangan aspek seni secara optimal. Meskipun pentingnya seni dalam pendidikan anak usia dini telah banyak dikaji, praktik pelaksanaan kegiatan seni di lembaga PAUD tidak selalu mencerminkan pendekatan yang benar-benar berpusat pada anak. Dalam berbagai kasus, kegiatan seni sering kali bersifat repetitif, berorientasi pada hasil akhir yang seragam, dan kurang memberikan ruang bagi eksplorasi pribadi anak. Hal ini berpotensi menekan kebebasan berekspresi dan menghambat tumbuhnya kreativitas yang autentik. Dengan demikian, terdapat kesenjangan antara idealisme pendidikan seni dalam teori dan praktik aktual di lapangan, terutama dalam konteks lembaga PAUD yang berbasis kurikulum tematik. Berdasarkan latar belakang dan tinjauan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan seni di TK Kartika I, khususnya di kelas B Toleransi, serta mengevaluasi peran kegiatan tersebut dalam mendukung pengembangan kreativitas anak usia dini. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh mana kegiatan seni yang dilaksanakan telah mencerminkan pendekatan yang eksploratif, partisipatif, dan berpusat pada anak. Penelitian ini melakukan pada pengamatan langsung terhadap praktik seni dalam konteks tematik mingguan PAUD, serta analisis terhadap permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran seni rupa di TK Kartika.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam pelaksanaan kegiatan seni dalam pembelajaran anak usia dini. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Mei 2025 di TK Kartika I, kelas B Toleransi. Subjek penelitian adalah guru kelas dan anak-anak yang terlibat dalam kegiatan seni. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara terstruktur. Observasi dilakukan untuk mencatat jenis kegiatan seni, keterlibatan anak, dan interaksi guru-anak. Wawancara dilakukan dengan guru kelas untuk menggali informasi tentang perencanaan, pelaksanaan, serta kendala dalam kegiatan seni. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data berdasarkan tema, dan penarikan kesimpulan untuk memahami kontribusi dan tantangan kegiatan seni dalam pembelajaran anak usia dini.

Result & Discussion

Penelitian ini dilakukan di TK Kartika I, khususnya di kelas B Toleransi, dengan fokus mengkaji pelaksanaan kegiatan seni, peranannya dalam perkembangan anak usia dini, serta tantangan yang dihadapi guru dalam mengembangkan kreativitas anak. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kegiatan seni menjadi bagian rutin dalam proses pembelajaran di kelas tersebut. Kegiatan seni dilaksanakan setiap hari Sabtu setelah aktivitas olahraga, waktu yang dianggap paling tepat karena kondisi fisik anak berada pada puncak kesiapan untuk melakukan aktivitas kreatif. Rangkaian kegiatan seni disusun dengan mempertimbangkan tema dan subtema kurikulum PAUD yang sedang berjalan, sehingga seni menjadi sarana integratif yang menghubungkan pembelajaran dengan perkembangan kreativitas dan motorik anak. Berbagai bentuk kegiatan seni yang dilakukan sangat bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak serta tema pembelajaran. Misalnya, pada tema “Lingkunganku" dengan subtema “Keluargaku”, anak-anak diajak membuat bingkai foto dari stik es krim yang ditempelkan foto keluarga masing- masing. Kegiatan ini selain melatih motorik halus, juga memperkuat aspek afektif dengan menumbuhkan rasa cinta dan kebersamaan dalam keluarga. Contoh lainnya, pada tema “Tanaman” dengan subtema “Tanaman di Kebun”, anak-anak membuat sate buah dari potongan-potongan buah, yang tidak hanya mengasah kreativitas visual tetapi sekaligus mengenalkan konsep pola makan sehat secara menyenangkan. Aktivitas seni ini tidak hanya sebagai kegiatan kreatif semata, tetapi juga menjadi media edukasi yang holistik. Dari hasil wawancara dengan guru kelas, diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan seni berjalan lancar dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Ketersediaan alat dan bahan seperti kertas origami, plastisin, cat warna, stik es krim, dan bahan lainnya dijamin melalui dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang dikelola yayasan sekolah, sehingga tidak menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan. Guru menyatakan bahwa anak-anak sangat antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan seni, bahkan kegiatan ini merupakan salah satu momen paling dinantikan oleh mereka setiap minggunya. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni memiliki daya tarik yang kuat bagi anak usia dini dan mampu memotivasi mereka untuk aktif bereksplorasi. Penelitian ini menemukan tantangan penting dalam pengembangan kreativitas anak melalui kegiatan seni. Salah satu fenomena yang teridentifikasi adalah pembelajaran seni yang dilakukan oleh guru pada saat pembuatan karya anak tidak diberi kebebsan dalam membuat karya. Guru menyediakan semua pembuatan karya yang akan dikerjakan oleh anak. Seperti ketika kegiatan mewarnai anak sudah langsung diberi objek gambar yang sudah di print oleh guru. Sehingga anak tidak diajarkan gambar terlebih dahulu dan langsung mewarnai. Fenomena ini menunjukkan adanya ketergantungan pada pola hasil karya guru yang dianggap “benar”, yang berpotensi membatasi ruang kreativitas dan inovasi anak. Hal ini sejalan dengan temuan Yuliani (2013) yang menegaskan bahwa kegiatan seni harus memberikan ruang yang luas bagi anak untuk mengekspresikan ide dan perasaannya secara unik dan personal. Kondisi ini juga mengindikasikan perlunya perubahan pendekatan pengajaran dari yang lebih berorientasi pada hasil akhir menjadi berfokus pada proses eksplorasi dan eksperimen anak. Lebih lanjut, fenomena ketergantungan tersebut dapat dikaitkan dengan peran guru yang dalam praktiknya masih cenderung menekankan keseragaman hasil dan menilai keberhasilan dari aspek produk akhir, bukan dari proses kreatif yang dilalui anak. Setiap anak adalah individu unik yang memiliki banyak “bahasa” untuk mengekspresikan diri, dan seni merupakan salah satu medium komunikasi paling kuat dalam mengembangkan potensi tersebut. Oleh karena itu, guru perlu memberikan kebebasan lebih dalam memilih bahan, teknik, dan bentuk karya seni, sehingga anak mampu bereksperimen dan mengembangkan kreativitasnya secara mandiri.Guru juga memerlukan pelatihan dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan dalam strategi pengembangan kreativitas dan fasilitasi ekspresi anak melalui seni, sehingga mereka lebih mampu membimbing anak tanpa membatasi kreativitasnya. Evaluasi terhadap kegiatan seni pun sebaiknya lebih menekankan pada proses partisipasi, inovasi, dan ekspresi anak dibandingkan hanya menilai kesempurnaan hasil karya, agar anak merasa bebas dan termotivasi untuk terus mencoba hal baru Secara keseluruhan, meskipun terdapat kendala tersebut, kegiatan seni di TK Kartika I kelas B Toleransi telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung perkembangan anak usia dini, khususnya dalam aspek motorik halus, imajinasi, kreativitas, dan ekspresi estetika. Kegiatan ini juga membentuk landasan bagi tumbuh kembang aspek kognitif dan sosial emosional anak secara menyeluruh. Namun, hasil penelitian ini juga membuka ruang untuk pengembangan metode pembelajaran seni yang lebih inovatif dan berpusat pada anak agar potensi kreatif mereka dapat dikembangkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan individual. Menurut Pamadhi (dalam Indah, Evia, & Novianti, 2020), kegiatan mewarnai dapat memberikan stimulasi yang maksimal ketika anak merasa senang melakukannya dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan warna sesuai imajinasi mereka. Oleh karena itu, guru memberikan langsung gambaran kepada anak agar anak langsung mewarnai gambar tersebut sehingga penting bagi guru untuk mengimbangi dengan pemberian ruang eksploratif agar potensi kreatif anak dapat berkembang lebih optimal. Gambar 1. Dokumentasi Anak Menggambar di TK Kartika Gambar 1 memperlihatkan seorang anak yang sedang melakukan kegiatan mewarnai dengan menggunakan krayon. Dalam kegiatan ini, guru menyediakan media gambar yang telah berpola atau bergaris tepi, sehingga anak tinggal memberi warna sesuai dengan bidang yang tersedia. Kegiatan ini termasuk salah satu bentuk seni rupa yang paling disukai oleh anak usia dini karena bersifat menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan motorik serta minat mereka. Mewarnai menggunakan krayon dapat melatih keterampilan motorik halus, meningkatkan fokus, serta membantu anak mengenal berbagai warna dan teknik pewarnaan. Namun, pada kegiatan ini juga ditemukan bahwa sebagian besar anak cenderung mengikuti pola atau warna yang telah dicontohkan oleh guru, sehingga ruang untuk ekspresi bebas dan eksplorasi warna masih terbatas. Hal ini menguatkan temuan bahwa aspek kebebasan berekspresi belum berkembang secara optimal.

Conclusion

Kegiatan seni di TK Kartika I kelas B Toleransi telah dilaksanakan secara rutin dan menjadi bagian integral dari proses pembelajaran anak usia dini. Pelaksanaan kegiatan ini terbukti memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan aspek kreativitas, keterampilan motorik halus, serta kemampuan ekspresi anak. Anak-anak menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif dalam setiap aktivitas, yang disusun secara terstruktur berdasarkan tema pembelajaran mingguan. Dukungan sarana dan prasarana yang memadai, seperti tersedianya alat dan bahan melalui dana BOP, turut menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan seni. Namun demikian, pelaksanaan kegiatan seni masih menghadapi tantangan, terutama dalam aspek pendekatan pembelajaran. Guru cenderung membatasi ruang ekspresi anak dengan memberikan arahan yang terlalu ketat dalam proses pembuatan karya seni, sehingga membatasi kebebasan anak dalam berimajinasi dan berekspresi. Padahal, esensi dari kegiatan seni pada anak usia dini adalah memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi ide dan kreativitas secara mandiri. Oleh karena itu, diperlukan pergeseran pendekatan ke arah yang lebih berpusat pada anak (child-centered learning), di mana guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong eksplorasi dan penciptaan bebas, sehingga potensi kreativitas anak dapat berkembang secara optimal.