Metode Dakwah Tuan Imam dalam Membina Kehidupan Sosial Jemaah di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia di Kabupaten Langkat Layalia Husna Saragih
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Abstrak
Jurnal ini mengulas tentang Metode Dakwah Tuan Imam Dalam Mmembina Kehidupan Sosial Jemaah di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia di Kabupaten Langkat, secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan metode dakwah apa yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia. Secara khusus penelitian ini dibuat untuk menemukan dan menganalisis: bentuk-bentuk cara yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaahnya, konsep sosial seperti apa yang digunakannya dan hambatan dan dukungan seperti apa yang dihadapinya dalam membina kehidupan sosial jemaah sebagai pemimpin di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia.Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif guna mendapatkan gambaran (deskripsi) data secara mendalam. Data pada penelitian ini diperoleh melalui wawancara, obsevasi dan dokumentasi. Dalam penelitian ini yang menjad informan adalah Tuan Imam sebagai informan utama dan para jemaah sebagai informan pendukung. Dengan observasi nonpastisipan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada tiga metode dakwah yang digunakan Tuan Imam dalam berdakwah yaitu bil-hikmah, mauidzah hasannah dan qudwah hasannah/qudwah hasannah, Tuan Imam juga menggunakan dua konsep sosial dalam membina kehidupan sosial jemaah dengan: struktur sosial dan integritas fungsional. Adapun faktor penghambat dan pendukung yaitu faktor yang berasal dari jemaah itu sendiri dan dukungan yang berasal dari keluarga dan jemaah itu sendiri.
Abstract
This journal reviews the Da'wah Method of Tuan Imam in Fostering the Social Life of the Congregation in Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia in Langkat Regency. Specifically, this research was made to find and analyze: the forms of methods used by Tuan Imam in fostering the social life of his congregation, what kind of social concepts he used and what kind of obstacles and support he faced in fostering the social life of the congregation as a leader in Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia. The approach used is qualitative research in order to get an in-depth description of the data. The data in this study were obtained through interviews, observation and documentation. In this study, the informants were Tuan Imam as the main informant and the congregation as supporting informants. With non-participant observation. The results of this study indicate that there are three da'wah methods used by Tuan Imam in preaching, namely bil-hikmah, mauidzah hasannah and qudwah hasannah/qudwah hasannah, Tuan Imam also uses two social concepts in fostering the social life of the congregation by: social structure and functional integrity. The inhibiting and supporting factors are factors that come from the congregation itself and support from the family and the congregation itself.
Keywords:
Method
· Da'wah
· Tuah Priest
· Social life
· Metode
· Dakwah
· Tuah Imam
· Kehidupan Sosial
Introduction
Islam merupakan agama yang senantiasa selalu menyebarkan kebaikan dan menyeru umatnya untuk selalu melakukan perbuatan amar ma'ruf nahi munkar, maka dari itu agama islam kerap sekali disebut sebagai agama dakwah yang berarti agama tersebut mendorong umatnya untuk selalu menyebarkan nilai-nilai keislaman sampai kepelosok dunia, hal ini dilakukan tentu dengan cara berdakwah. Dakwah merupakan proses persuasi (memengaruhi),memengaruhi bukan hanya sekedar menyuruh atau menyeru, melainkan membujuk supaya objek yang dipengaruhi tersebut bersedia ikut dengan orang yang mempengaruhi. Dalam hal ini, dakwah tidak dimaknai sebagai proses memaksa, karena bertentangan dengan ajara Alquran. Untuk menghindari adanya proses pemaksaan dala berdakwah, maka dakwah perlu menggunakan strategi dan kiat supaya orang yang didakwahi tertarik denga napa yang disampaikan oleh sang da'i. selain itu dakwah ini juga merupakan satu kesatuan yang utuh. Ketika seseorang berdakwah ada tiga hal yan tidak bisa dipisahkan yaitu da'i, mad'u, dan pesan dakwah, dakwah berjalan dengan baik apabila dilakukan dengan metode, media, dan menyusun tujuan yang jelas terencana. Oleh karena itu, keberhasilan dakwah tidak hanya di tentukan oleh satu bagian saja, akan tetapi ada bagian-bagian lain yang mendukungnya, yaitu dari unsur-unsur komunikasi dakwahnya antara lain da'i, mad'u, meteri dakwah, metode, media, lingkungan, dan evaluasi.(Masruuroh 2021) Berdakwah tentu memiliki beberapa komponen penting, komponen dakwah yang paling utama adalah Da'i. Da'i merupakan orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat oraganisasi / lembaga. Dalam pandangan masyarakat orang yang disebut da’i merupakan para ulama atau penceramah padahal pada hakikatnya seluruh umat islam bisa menjadi seorang da’i. Seorang da’i dikatakan berhasil dalam menjalankan dakwahnya dapat dilihat dari perubahan sikap dari para mad'u nya apakah para mad'u menerima dakwah tersebut dengan baik sehingga para mad'u mengalami perubahan sikap lebih baik dari sebelumnya. Berdakwah tentu memiliki beberapa komponen penting lainnya yang bisa memberhasilkan sebuah kegiatan dakwah, tentu dalam berdakwah metode dakwah juga merupakan hal terpenting yang harus digunakan sebagai seorang da'i agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh para mad'u dengan baik dan dapat dipahami para mad’u tidak hanya di pahami saja akan tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan mad'u sehari- hari karena pada hakikatnya tujuan dari dakwah ini adalah menuntun kehidupan manusia menjadi lebih baik. Metode dakwah terdapat pada sejumlah pendekatan yang dipakai dalam berdakwah yang dihimpun dalam satu sistem. Sejumlah metode yang menggerakkan perasaan dan emosional yang mencerminkan kemampuan metodologi secara emosional disebut pendekatan emosional, cara-cara yang memicu manusia untuk berpikir, merenung, serta menyimpulkan merupakan pendekatan yang rasional. Sejumlah cara yang dimiliki indera dan pengalaman empiris manusia, menjadi pendekatan empiris.(Taufiq 2020). Adapun jenis-jenis metode dakwah yang sudah dijelaskan dalam al-Quran yaitu sebagai berikut: Metode Hikmah Hikmah secara etimologi memiliki arti: al-Adl, al-Ilm, al-Nubuwah, al-Quran, al-Injil, al-Sunnah dan lain sebagainya. Hikmah juga diartikan al-Ilah, atau alasan suatu hukum, diartikan juga al-kalam atau ungkapan singkat yang padat isinya. Secara terminologi dari Allah adalah mengetahui sesuatu dan menciptakan-Nya secara sempurna, dan hikmah bagi manusia adalah mengetahui apa-apa yang diciptakan Allah dan perbuatan baik. Hikmah yang dimaksud menjelaskan tentang kewajiban manusia untuk mengetahui kesempurnaan Allah swt. Metode dakwah hikmah berusaha untuk memberikan kesan kepada mad’u tentang kebaikan, kejelasan dan kemudahan dalam hidup. (Faqih 2020) Metode Mauidzah Hasanah (Nasihat) secara etimologis mauidzah pembentukan dari kata waadza-yaidzu-waʼdzan dan idzatah, yang berarti menasihati dan mengingatkan akibat suatu perbuatan, berarti juga menyuruh untuk mentaati dan memberi wasiat agar taat. Al-hasannah lawan dari sayyiat, maka dapat dipahami bahwa mauidzah dapat berupa kebaikan dapat juga berupa kejahatan, hal itu tergantung pada isi yang disampaikan seseorang dalam memberikan nasihat dan anjuran, juga tergantung pada metode yang dipakai pemberi nasihat. Mauidzah hasanah dapat diklasifikasikan dalam beberapa bentuk yaitu sebagai berikut: Nasihat atau petuah, Bimbingan, pengajaran (pendidikan), Kisah-kisah, Kabar gembira dan peringatan, dan Wasiat. Selanjutnya metode mujadalah secara etimologi, mujadalah terambil dari kata jadala yang bermakna meminta, melilit. Apabila kata jadala ini ditambah dengan huruf jim yang mengikuti wazan faa'ala, jaa dala dapat bermakna berdekat dan mujadalah adalah perdebatan. Sedangkan, secara terminologi berdebat sebagaimana didefinisikan para ulama adalah usaha uang dilakukan seseorang dalam mempertahankan argumennya dalam menghadapi lawan bicaranya dengan cara pengukuhan pendapat atau mahzab atau membandingkan berbagai dalil atau landasan untuk mencari yang paling tepat. Ada beberapa sarana yang kerap digunakan para da'i dalam menyampaikan pesan dakwahnya walaupun berdakwah bisa dilakukan dimana saja akan tetapi ada beberapa sarana yang menjadi kekuatan penting sebagai pilar sosial yang berbasis keagamaan dan pembinaan akhlak yaitu seperti pondok pesantren dan perguruan-perguruan yang memiliki motto menyebarkan nilai-nilai agama islam, hal ini kita lihat dari perguruan kasih sayang yang dibina oleh Yang Mulia Tuan Imam Hanafi pada perguruan ini sangat menanam prinsip kasih dan sayang pada seluruh masyarakatnya, untuk selalu menanamkan jiwa sosial yang tinggi sesuai dengan syariat islam atau dapat disebut dengan hablum minannas. Dakwah yang dilakukan Tuan Imam ini dapat dikatakan sebagai dakwah jemaah yang mana dakwah jemaah memiliki tujuan sebagai pembinaan kehidupan yang serasi antara keluarga yang satu dengan yang lainnya, saling tolong menolong dan bantu membantu mengatasi kesulitan yang sedang dialami oleh anggota jemaahnya. Serta, menghilangkan sifat egois dan menutup diri. Dalam metode dakwah jemaah ini, dakwah jemaah dilaksanakan oleh sekelompok kecil warga jama'ah (inti jemaah) yang ditujukan kepada kelompok besarnya, inti jama'ah bertindak sebagai penggerak kelompok yang merencanakan, melaksanakan dan menilai langkah-langkah dan materi dakwahnya, dan dakwah jamaah ini juga menggunakan teknik-teknik pembinaan masyarakat (community development).(Fahriansyah 2016) Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang dalam hidupnya membutuhkan manusia dan hal lain di luar dirinya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agara dapat menjadi bagian dari lingkungan sosial dan masyarakatnya. (Ferdiansyah 2022) Sebagai seorang pendakwah dalam menyampaikan arahan dan pesan-pesan dakwah tentu da'i atau Tuan Imam menggunakan metode-metode dakwah yang biasanya digunakan para da'i pada umumnya akan tetapi pasti ada perbedaan dalam menyampaikannya sehingga ia berhasil membina kehidupan jamaah menjadi kehidupan yang rukun dan tentram, kehidupan yang saling menghargai satu sama lain, kehidupan jamaah yang saling tolong menolong. Dakwah yang disampaikan tuan imam ini dapat merubah kehidupan masyarakat, kehidupan yang dimaksud disini adalah kehidupan hablum minannas yang mana kehidupan ini dihubungakan dengan sesama manusia. Hal ini sudah diterapkan oleh Tuan Imam selaku pemimpin di Kampung Kasih Sayang yang mana kehidupan sosial disana sudah menemukan kehidupan yang rukun dan tentram.
Method
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dalam penelitian proses dan makna lebih ditekankan dengan menggunakan landasan teori sebagai pedoman dalam memfokuskan penelitian berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan prosedur dalam menganalisis data yaitu dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dengan teknik pengumpulan data dengan cara interview atau wawancara, observasi dan dokumentasi, adapun teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian ini adalah perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan tiangulasi. Dalam penelitian ini peneliti menjadikan Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia di Kabupaten Langkat sebagai objek peneltian mengenai “Metode Dakwah Tuan Imam dalam Membina Kehidupan Sosial Jemaah Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia di Kabupaten Langkat”. Dengan informan pada penelitian ini adalah Muhammad Imam Hanafi (Tuan Imam), Hasan Rahmat S.Pd.i, Ahmad Kholiqul Ritonga, Leiman, Mulianto, dan Pendi.
Result & Discussion
Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti maka peneliti mendapatkan jawaban mengenai metode dakwah, konsep sosial dan faktor pendukung dan hambatan yang dirasakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah di Kampung Kasih Sayang matfa Indonesia.Dalam penelitian ini peneliti menemukan bahwa salah satu metode dakwah yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah adalah dengan metode bil-hikmah, yang mana metode ini memang merupakan metode yang paling tepat dalam berdakwah, metode ini juga merupakan metode yang banyak digunakan para da'i termasuk Tuan Imam. Dalam penggunaan metode ini tentu seorang da’i harus memiliki ilmu agama yang luas, tutur kata yang baik, serta mampu memahami mad'u dan lingkungannya dalam berdakwah. Mauidzah hasanah atau nasihat merupakan salah satu metode dakwah dengan cara memberikan nasihat yang baik dengan cara yang baik pula agar nasihat yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan dengan hati yang luas. Sebagai seorang guru sekaligus pemimpin di perguruan Kampung Kasih Sayang tentu Tuan Imam tidak lepas dari kata memberi nasihat kepada para jemaahnya, nasihat-nasihat ini selalu ia berikan kepada para jemaahnya agar para jemaahnya menjalani kehidupan lebih baik yang sesuai syariat islam, dalam memberikan nasihat kepada para jemaahnya Tuan Imam selalu memberikan cara yang terbaik dalam menyampaikan nasihat tersebut, selain memberikan nasihat melalui lisan ia juga memberikan bimbingan terhadap nasihat yang disampaikan kepada para jemaahnya. Dalam berdakwah, qudwah hasanah atau keteladanan merupakan metode yang paling diterima para mad'u karena bagi para mad'u da'i tidak hanya memberikan pesan dakwahnya melalui lisan akan tetapi juga mencontohkannya kepada jemaah, hal ini tentu menjadi alas an mad'u untuk menggikuti ilmu-ilmu dan ajaran agama yang di berikan. Dalam kehidupan di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia metode dakwah ini lah yang paling tepat untuk diterapkan Tuan Imam dalam membina kehidupan para jemaahnya, karena dengan menggunakan metode ini para jemaah langsung menerimanya tanpa ada rasa ragu dengan alasan bahwa Tuan Imam sendiri sudah melakukannya. Maka dari itu dalam membina kehidupan sosial masyarakat Tuan Imam akan terus memberi arahan mengenai kehidupan bersosial yang baik dengan menggunakan metode-metode dakwah tersebut, karena pada dasarnya terbentuknya perkampungan ini untuk menciptakan kehidupan sosial yang beragama dan bernegara dengan menanamkan nilai-nilai pancasila yang disesuaikan dengan syariat-syariat islam pada diri setiap jemaah atau masyarakat yang tinggal di Kampung Kasih Sayang ini. Sementara itu dalam hal konsep sosial yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah ada tiga konsep sosial yaitu struktur sosial, integritas fungsional dan kelompok sosial, yang pertama struktur sosial Seperti diketahui bahwa struktur sosial merupakan pola-pola hubungan sosial yang berfungsi untuk mengatur suatu kelompok sosial, hal ini mencakup dalam hubungan antara individu dengan kelompoknya, yang mana dalam melakukan struktur sosial ini diperlukannya tatanan sosial untuk mengatur kehidupan dalam bermasyarakat agar terciptanya suatu ketertiban, keteraturan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Struktur sosial yang ada dalam kehidupan jemaah Kampung Kasih Sayang sudah di terapakan oleh Tuan Imam selaku pemimpin di kampung tersebut, di dalam kehidupan masyarakat disini Tuan Imam berupaya untuk selalu memperkuat persatuan kasih dan sayang untuk mencapai tujuan bersama yaitu suatu kedaiaman Konsep yang kedua itu adalah integritas fungsional yang mana Seperti diketahui bahwa integritas fungsional merupakan saling ketergantungannya unsur-unsur dari suatu sistem sosial. Konsep sosial ini digunakan juga untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan kehidupan sosialnya. Konsep ini dapat diterapkan jika masyarakat mampu mengutamakan fungsi-fungsi integritas yang berlaku sehingga dapat menghasilkan integritas yang diinginkan. Konsep yang ketiga yaitu kelompk-kelompok sosial, Hal ini dapat dikatakan karena peneliti melihat bahwa sistem mereka disana membuat suatu kelompok yaitu kelompok perguruan di dalam satu lingkungan masyarakat, dikatakan anggota perguruaan Kampung Kasih Sayang jika dia berada dalam satu lingkungan yang mana batasan lingkungan mereka dengan batasan masyarakat luar dibatasi oleh sebuah gerbang yang mereka sebut dengan kata “portal”. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan beberapa informan di lokasi peneliti, maka dapat di pahami bahwa salah satu penerapan konsep sosial yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah dengan konsep struktur sosial, integritas fungsional, dan konsep kelompok sosial. Yang mana konsep-konsep sosial ini digunakan Tuan Imam untuk membina kehidupan seluruh jemaah dengan baik agar tercapainya tujuan dari dibentuknya suatu perkampungan Kasih Sayang ini, yang mana seperti diketahui bahwa tujuan dibentuknya perkampungan ini adalah untuk menciptakan kehidupan bernegara yang Bergama yang mana seluruh jemaah dan pemimin Kampung Kasih Sayang menerapkan makna dari pancasila dengan menggunakan syaria-syariat islam agar terbentuknya kehidupan yang ruku, tentram dan berkasih sayang antar sesame. Selain itu dalam menjalankan kegiatan-kegiatan dalam membina kehidupan sosial jemaah tentu Tuan Imam selalu mendapatkan dukungan dan hambatan, adapaun dukungan dan hambatan yang dirasakan Tuan Imam yaitu sebagai berikut: pemenuhan terhadap kebutuhan sosial sangat diperlukan dalam perubahan sosial agar menjadi lebih baik. Dalam hal ini peneliti mendapatkan hasil obsevasi yang dilakukannya selama berada di tempat penelitian bahwa dalam kehidupan sosial di Kampung Kasih Sayang, pemenuhan kebutuhan sosial para jemaah sudah terpenuhi. Karena Tuan Imam selaku pemimpin di kampung tersebut selalu memberikan binaan kepada para jemaahnya untuk selalu berinteraksi kepada seluruh saudaranya yang berada di dalam maupun diluar, hal ini dapat dilihat dari Sembilan persyaratan untuk menjadi jemaah Kampung Kasih Sayang yaitu "tidak boleh tidak bertegur sapa selama lebih dari tiga hari kepada saudara apapun masalahnya”, tentu hal ini menjadi alas an bahwa pemenuhan kebutuhan sosial mereka sudah terpenuhi. Faktor pendukung yang kedua adalah modal sosial seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa modal sosial dibutuhkan untuk meningkatkan kehidupan sosial yang lebih baik. Dalam kehidupan sosial di Kampung Kasih Sayang Tuan Imam juga mendapatkan dukungan seperti ini yang mana para jemaah selalu mendengarkan perintah-perintah yang dibuat Tuan Imam untuk selalu meningkatkan rasa persaudaraaan, rasa empati dan simpati kepada sesama dan rasa kasih sayang kepada saudaranya, tentu ini menjadi modal bagi Tuan Imam untuk mendapatkan perubahan sosial yang baik. Faktor pendukung lainnya yaitu adalah kerja sama, yang mana seperti kita ketahui bahwa dengan adanya kerja sama yang dilakukan maka akan terciptanya hubungan baik antar individu. Tentu hal ini lah yang terjadi di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia yang mana sebagai pemimpin di kampung ini Tuan Imam selalu menanamkan kepada jemaahnya untuk selalu melakukan pekerjaan itu dengan kerja sama, hal ini dapat dilihat dari kegiatan gotong royong yang mereka lakukan seperti membanggun barak yang dilakukan oleh para bapak-bapak dan pemuda, dapur umum yang dilakukan oleh ibu-ibu dan sector-sektor yang dilaksanakan secara bersama-sama Adapun faktor hambatan yang dirasakan Tuan Imam adalah Faktor ini menjadi satu-satunya hambatan yang dirasakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah Kampung Kasih Sayang, karena seluruh jemaah Kampung Kasih Sayang banyak yang berasal dari luar daerah dan bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar kota seperti kota Padang, Aceh. Tentu kebudayaan-kebudayaan dari daerah asal mereka akan terbawa ke dalam kehidupan di Kampung Kasih Sayang, kebudayaan-kebudayaan ini lah yang terkadang bertolak belakang dengan kebudayaan di Kampung Kasih Sayang.Selain hambatan yang dialami dalam membina kehidupan sosial Tuan Imam juga mengalami banyak kesulitan dalam melakukan dakwahnya kepada para jemaah yang menjadi salah satu faktor penghambat dakwahnya sehingga sulit mencapai tujuan dakwahnya Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti selama berada disana maka dapat dikatakan bahwa hambatan yang dialami Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaahn yaitu adat dan kebiasaan. Sedangkan hambatan yang dirasakan pada saat menyemapikan pesan dakwahnya adalah sebegai berikut: Sifat dan karakteristik jemaah yang berbeda-beda, Kurangnya penerapan pesan dakwah Tuan Imam dalam kehidupan sehari-hari jemaah, kurangnya kesadaran para jemaah atas perintah yang diberikan dan masuknya pengaruh zaman pada jemaah remaja
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia Kabupaten Langkat dengan tujuan mencari tau metode dakwah Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah, maka dapat disimpulkan bahwa metode dakwah yang digunakan Tuan Imam adalah metode bil-hal, mauidzah hasanah dan metode qudwah hasanah ketiga metode ini lah yang paling tepat digunakan dalam membina kehidupan para jemaah, metode Bil-hal merupakan metode dakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi mad’u sehingga dalam menjalankan ajararan dakwahnya tidak lagi merasakan paksaan tentu ini menjadi salah satu metode Tuan Imam yang mana ia merupakan pemimpin di perguruan yang sudah paham sekali dengan para jemaahnya, seanjutnya Mauizatul Hasanah yag merupakan metode dakwah dengan memberikan nasihat dalam menyampaikakan ajaran islam dengan penuh kasih sayang metode ini juga metode yang sering digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial para jemaah Tuan Imam tidak pernah bosan membrikan nasihat kepada para jemaahnya dengan penuh kasih dan sayang. Yang terakhir adalah metode Qudwah Hasanah yang merupakan ketauladanan atau contoh yang baik selain menyampaikan dakwahnya melalui lisan Tuan Imam juga harus memberikan ketauladana dan contoh yang baik kepada para jemaahnya. Konsep-konsep sosial yang digunakan Tuan Imam dalam membina kehidupan sosial jemaah dengan mengunakan tiga konsep yaitu struktur sosial, integritas fungsional dan kelompok-kelompok sosial ketiga konsep ini saling berhubungan dengan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk tercapainya kehidupan bermasyarakat yang damai, tentram dan rukun. Dan hal ini tentu sudah terlaksana dalam kehidupan sosial para jemaah di Kampung Kasih Sayang Matfa Indonesia. Faktor faktor pendukung pemenuhan terhadap kebutuhan sosial, modal sosial, dan kerja sama. Selain faktor pendukung adapun faktor penghambatnya yaitu adat istiadat, sifat dan karakteristik jemaah yang berbeda-beda, kurangnya penerapan pesan dakwah Tuan Imam dalam kehidupan sehari-hari jemaah, kurangnya kesadaran para jemaah atas perintah yang diberikandan masuknya pengaruh zaman pada jemaah remaja.