Kembali
16
1
2023 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 2 ISSN 2797-2275

Retorika Ustadz Jefrizal dalam Berdakwah di Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Retorika Ustadz Jefrizal dalam berdakwah di Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, mengetahui gaya bahasa, gaya suara dan gaya gerak tubuh yang diterapkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan dokumentasi yang diperoleh langsung di lapangan serta dokumen dari sumber yang berhubungan dengan penelitian. Dan informan dalam penelitian sekaligus objek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah Ustadz Jefrizal. Dari analisis data di lapangan ditemukan bahwa retorika Ustadz Jefrizal dalam berdakwah dilihat dari segi gaya bahasa, gaya gerak tubuh dan gaya suara cukup variatif dan mampu menyesuaikan dengan materi yang disampaikan sehingga pendengar mudah mengerti dan paham materi yang disampaikan. Ustadz Jefrizal dalam ceramahnya lebih dominan menggunakan gaya bahasa tidak resmi dan gaya bahasa percakapan, Klimaks, Paraleisme, Repetisi; Epizeuksis, Anafora dan Anadiplosis, Retoris; Aliterasi, Asonansi, Eufimismus, Litotes, dan erotesis, serta Kiasan Simile dan Alegori, memperhatikan nada suara seperti Pitch, Pause serta Rate dan gaya gerak tubuh yang tidak monoton.

Abstract

This study aims to find out how Ustadz Jefrizal's rhetoric is in preaching in Bangko District, Rokan Hilir Regency, Riau Province, knowing the language style, voice style and gesture style that is applied. This study uses a qualitative method. Data collection was carried out by means of observation and documentation obtained directly in the field as well as documents from sources related to research. And the informant in the study as well as the object analyzed in this study was Ustadz Jefrizal. From the analysis of the data in the field, it was found that Ustadz Jefrizal's rhetoric in preaching was seen in terms of style of language, style of gestures and style of voice which was quite varied and was able to adapt to the material presented so that listeners could easily understand and understand the material presented. Ustadz Jefrizal in his lectures predominantly used unofficial language style and conversational language style, Climax, Paraleism, Repetition; Epizeuksis, Anaphora and Anadiplosis, Rhetoric; Alliteration, Assonance, Eufimismus, Litotes, and erotesis, as well as Simile and Allegory, pay attention to tone of voice such as Pitch, Pause and Rate and non-monotonous gestures.
Keywords: Rhetoric · Ustadz Jefrizal · Da'wah Kata kunci: Retorika · Ustadz Jefrizal · Dakwah

Introduction

Setiap manusia memiliki harapan akan hidup yang penuh ketentraman, terlebih masyarakat Indonesia yang memiliki problematika kehidupan yang beragam. Sudah merupakan sebuah konsekuensi global bahwa besarnya arus informasi mengakibatkan berubahnya perilaku berbangsa dan bernegara. Meningkatnya roda perputaran informasi tersebut sukar untuk terkontrol dengan baik sehingga perubahan yang bersifat positif dan negatifnya pun tumpang tindih. Hal tersebut tentunya memerlukan upaya penyelamatan moral untuk memberikan dampak yang sesuai dengan pedoman hidup dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.(Permana, 2013) Islam adalah agama yang telah begitu sempurna dalam mengatur segala urusan manusia sehingga sangat layak dipiih sebagai way of life. Bukan hanya tentang kualitas etis, namun Islam juga membahas ide-ide membangun kehidupan dan peradaban yang paling tinggi. Salah satu gagasan yang menjadi perhatian dalam Islam adalah hal yang paling esensial sepanjang kehidupan sehari-hari yakni bekerja. Bekerja baik untuk kepentingan individu, kelompok sosial, daya dukung negara serta memperhatikan kepentingan hidup yang lebih seperti dakwah. (Saleh, 2009). Selaku umat Islam kita pastinya menggunakan cara yang bijak dalam mengajak sesama untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan yang buruk, itulah hakikat dari dakwah. Dakwah adalah kewajiban para Mubaligh pilihan Allah Azza Wa Jalla untuk menyampaikan serta memikul risalah-Nya. Karenanya, dakwah merupakan tugas yang mulia yang dicintai oleh Allah SWT. Ada banyak perintah dakwah dalam Al-Qur'an dan Hadits baik secara langsung maupun secara tersirat. Perintah dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada kemampuan manusia. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menyebarkan pesan, dan mereka harus melakukannya dengan tulus. Dakwah juga merupakan proses mewujudkan individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran Islam di segala bidang, segala jenis kegiatan mengkomunikasikan ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara yang cerdas.(Aziz, 1993). Dai bukanlah seorang manusia yang hanya sekedar bekerja atau berprofesi seorang pendakwah yang menggunakan berbagai metode dan teorinya, menghapal tema-tema dan kaidah-kaidahnya saja secara verbal. Karna selain itu, seorang Dai adalah sosok yang hidup dinamis serta mampu mengubah kata-kata menjadi aksi. Seorang Dai di lapangan dakwah membangun suasana tenang, welas asih, memiliki kekuatan untuk membangun fondasi keberadaan manusia, dan mampu membantu orang lain yang sedang bergumul dengan pikiran, perasaan, dan beban mereka.(Muhammad, 2007) Mengetahui cara berdakwah, mencerna informasi yang akan disampaikan, dan mengatur operasi dakwah seefisien mungkin sangat penting bagi seorang Dai karena berperan penting dalam memastikan informasi yang disampaikan diterima oleh khalayak. madu. Untuk itu seorang Dai memerlukan strategi dalam dakwahnya yaitu rencana urutan dakwah, termasuk penggunaan teknik dan penggunaan sumber daya atau kekuasaan. Sehingga metode ini memerlukan pembuatan rencana kerja. Strategi yang direncanakan adalah suatu teknik, dan jika strategi itu menghasilkan suatu rencana, metodenya adalah bagaimana melaksanakan rencana itu. Menurut klasifikasi teknik dakwah Dr. Abdul Karim Zaidan, ada tiga cara berbeda untuk menyebarkan dakwah: secara lisan, tertulis, melalui amal, dan dengan memberi contoh sebagai pendakwah. Sedangkan Dr. Mustofa Ya'kub menggunakan istilah pendekatan dakwah dalam penjelaskan metode dakwah yaitu terdiri atas beberapa pendekatan yakni pendekatan personal, korespondensi dan diskusi. (Abidin, 2000). Ceramah merupakan salah satu metode yang popular, yaitu berpidato didepan khalayak ramai. Pada zaman Rasulullah motede ini sangat sering digunakan bahkan saat ini juga metode ceramah sangat akrab di masyarakat Indonesia. Karna retorika merupakan penggerak strategi dakwah dalam metode lisan, maka seorang Dai harus menguasai seni berbicara atau ilmu retorika. Ilmu retorika seorang Dai sangat mempengaruhi penampilannya diatas mimbar. Penyampaian dakwah dengan retorika yang sempurna tentunya mampu mempengaruhi pemahaman madu akan apa yang ingin disampaikan oleh pendakwah. Setiap Dai tentunya memiliki gaya retorika atau seni berbicara yang berbeda-beda, begitu juga Ustadz Jefrizal salah satu ustadz yang berdomisili di Bagansiapiapi, Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir. Ustadz Jefrizal atau biasa dikenal dengan sapaan Uje di Negeri Seribu Kubah tersebut memiliki gaya bicara yang khas dan terbilang unik dalam menyampaikan materi dakwahnya kepada madu. Beliau merupakan seorang ulama sekaligus pendakwah yang secara rutin mengkaji berbagai topik keagamaan, khususnya Fiqh, termasuk yang berkaitan dengan shalat, zakat, dan taharah. Dalam menyampaikan dakwahnya, Ustadz Jefrizal menggunakan gaya bahasa yang dapat dipahami oleh semua kalangan mad'u disertai penguasaan merangkai kata sehingga materi dakwah yang berat mampu ia kemas menjadi sesuau yang ringan dan menghibur. Selain menjadi pendakwah, Ustadz Jefri juga mengajar di Madrasah, menjadi pengurus beberapa lembaga keislaman dan Sekjen di MUI Kabupaten Rokan Hilir. Berdasarkan pertimbangan dan uraian yang diulaskan tersebut, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti gaya retorika Ustadz Jefrizal di Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir yang meliputi gaya bahasa, gaya suara dan gaya gerak tubuh.

Method

Peneliti menggunakan metodologi kualitatif karena ingin berkonsentrasi pada fitur retoris dakwah Ustadz Jefrizal. Pengamatan mendalam diperlukan untuk penggalian data, baik dalam hal pengamatan maupun pendokumentasian. Peneliti mengumpulkan informasi tentang gaya dakwah persuasif Ustadz Jefrizal menggunakan kata-kata daripada angka. Suatu teknik penelitian yang dikenal dengan penelitian deskriptif kualitatif mendefinisikan atau mencirikan obyek penelitian berdasarkan kejadian aktual di lapangan melalui observasi dan dokumentasi. Data nyata dikumpulkan dengan menggunakan metodologi deskriptif. Pendekatan deskriptif memiliki dua pengertian. Yang pertama adalah mengumpulkan data dengan menggambarkannya dalam keadaan saat ini tanpa ulasan, pendapat, atau analisis penulis. Deskripsi ini berguna ketika mencari masalah yang mungkin muncul sebagai konsekuensi dari studi awal atau eksplorasi

Result & Discussion

Gaya Bahasa Ustadz Jefrizal Setiap orang memiliki gaya bahasa yang berbeda yang terdapat ciri khasnya masing-masing, sehingga seorang Dai juga memiliki karakteristik gaya bahasa tersendiri. Goris Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa menyebutkan ada empat gaya bahasa yaitu : gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa berdasarkan nada, gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknnya makna. Ustadz Jefrizal dalam hal ini berdasakan pengamatan dalam ceramahnya menggunakan berbagai macam gaya bahasa. a. Gaya Bahasa Berdasakan Pilihan Kata Peneliti menemukan Ustadz Jefrizal menggunakan gaya bahasa resmi, tidak resmi, hingga percakapan. Beliau dalam kesempatan ini ditemukan memanfaatkan dakwah pendekatan budaya dimana sesekali beliau menggunakan kata yang berasal dari bahasa daerah dalam penyampaian ceramahnya. Penggunaan bahasa yang tidak resmi di beberapa kesempatan membuat audiens yang sebagian besar merupakan orang tua yang tergolong awam mudah memahami maksud beliau. Hal tersebut ditemukan salah satunya dalam kalimat “Mata, sejengkal pun tak nampak lagi, rabun. Berjalan kaki, mengelota, mengeletek, makan tak bisa lagi yang pedas-pedas, diare”. Ada kata asing yang tidak sesuai EYD dalam kalimat tersebut. Ustadz Jefrizal mengikutsertakan bahasa percakapan menarik audiens dalam materi yang beliau sampaikan dengan penggunaan gaya bahasa percakapan seperti terdapat dalam beberapa potongan ceramah diantaranya “Apa yang dimaksud dengan hijrah? Hijrah ini artinya berpindah”. b. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada Ustadz Jefrizal terbilang unik dalam pemilihan nada sebagai sugesti dalam ceramahnya, yaitu teknik gaya mulia dan bertenaga atau lebih khususnya beliau menggunakan teknik syair melayu. Gaya ini juga merupakan ciri khusus dari dakwah beliau yang berbeda dari Dai-dai lain di wilayah tersebut. Hampir keseluruhan isi ceramah beliau disampaikan dengan nada syair tersebut. Gaya ini menarik audiens untuk turut merasakan emosi dalam setiap suguhan-suguhan materi ceramahnya. Tidak hanya gaya bahasa mulia dan bertenagan, Ustadz Jefrizal juga beberapa kali menggunakan gaya menengah dengan lontaran cerita yang mengandung humor terdapat dalam potongan ceramah : Itu lah islam buk, bersin pun kita dituntun. Hacim, Alhamdulillah, yarhamukillah yahdikumullah, Tiga kali dia bersin, tiga kali kita doakan. Kalau lebih dari tiga jangan dijawab, diam lalu pergi, virus. c. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat Struktur kalimat merupakan landasan untuk menciptakan gaya bahasa. Struktur kalimat yang digunakan Ustadz Jefrizal dalam ceramahnya ada diantaranya : 1. Klimaks Pengggunaan gaya bahasa klimaks dalam ceramah Ustadz Jefrizal terdapat pada setiap penyampaian materi yang berisikan poin-poin maka dipenghujungnya beliau menyipikan inti atau kesimpulannya. Peneliti menemukan poin tersebut diantaranya pada potongan ceramah “Jika hari ini sama dengan hari kemarin, kita termasuk orang-orang yang merugi dalam hidup dan kehidupan ini”. 2. Paraleisme Penggunaan gaya bahasa paraleisme juga terdapat dalam potongan ceramah “Udkhulussughur fi kulubul muslimin. Senangkan hati orang lain, apa yang dibuat orang baik, doakan dia, apa yang dibuat orang baik, dukung dia dan jangan dicacimaki”. Bentuk usaha pencapaian kesejajaran dalam pemakaian kata. 3. Repetisi Epizeuksis Peneliti juga menemukan penggunaan gaya repetisi epizeuksis pada kalimat "Tapi ingat, kau akan mati. Hidupmu berbatas, hidupmu berbatas. Hidupmu berbatas. Hidupmu berbatas. ” Dimana kata yang penting diulang beberapa kali berturut-turut. 4. Repetisi Anafora Repetisi anafora dimana terdapat pengulangan kata pertama pada tiap baris. Terdapat dalam kalimat “Kau hidup dalam keadaan beriman, kau hidup dalam keadaan kafir, kau hidup dalam keadaan taat, atau kau hidup dalam keadaan ingkar, terserah wahai Muhammad!" dan potongan ceramah “Kadang sedang berdiri, kadang sedang makan, kadangkadang sedang minum. Kadang-kadang sedang di laut, kadang sedang di darat. Kadang-kadang sedang bercerita, sedang makan sirih. 5. Repetisi Anadiplosis Peneliti juga menemukan penggunaan gaya bahasa repetisi anadiplosis pada potongan ceramah “Dan sampai saaatnya nanti, apa akhirnya? akhirnya adalah kematian." Dalam potongan ceramah tersebut terdapat kata atau frasa terakhir dari kalimat sebelumnya dijadikan kata pertama pada kalimat setelahnya. d. Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna Ada beberapa kelompok gaya bahasa bersadarkan langsung tidaknya makna, dimana setiap kelompok memiliki beberapa jenis gaya sendiri. Maka disini peneliti tentunya hanya memaparkan gaya bahasa yang terdapat dalam ceramah Ustadz Jefrizal. 1. Retoris aliterasi terdapat dalam potongan pantun “Kalau pedang melukai tubuh; Masih kan ada harapan sembuh”. 2. Retoris asonansi terdapat dalam potongan pantun diakhir ceramah “Namun kalau lidah melukai hati; Kemana obat hendak dicari”. 3. Retoris Eufimismus ditemukan dalam potongan kalimat “Tapi Pak, mohon maaf kalau ayahnya baik, ibunya tak baik, kadang-kadang anaknya juga tak baik. Siapa tu Ustadz? Nabi Nuh”. 4. Ustadz Jefrizal berikut juga menggunakan gaya bahasa retoris litotes, dimana beliau menyatakan sesuatu untuk merendahkan diri. Terdapat dalam kalimat “mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan". 5. Pertanyaan retoris atau erotesis terdapat pada potongan ceramah “Apa yang bisa kita ambil ilmu dari Muharram ini? Pertama Muharram ini identik dengan istilah hijrah. Apa yang dimaksud dengan hijrah?” dimana terdapat pertanyaanpertanyaan yang sama sekali tidak memutuhkan jawaban. 6. “Seperti lampu dinding yang diberi minyak, begitu minyaknya kering, padam”, merupakan penerapan gaya bahasa kiasan simile. 7. Terdapat alegori atau cerita singkat pada ceramah Ustadz Jefrizal. Nabi Nuh dia punya anak namanya Kanan, dia punya istri, istrinya degil, bingal, telingo kuali kalau bahasa kita. Diperintahkannya untuk mengikut apa yang menjadi sembahan Nabi Nuh, tapi dia tak mau. Dibuatlah perahu yang besar, disuruhnya naik bersama dia agar selamat dari badai dan topan tapi istrinya tak mau. Akhirnya anaknya yang bernama Kanan juga ikut ibunya. Apa yang terjadi? Nuh selamat, tapi istri dan anaknya tenggelam oleh badai yang menghantam saat itu. Gerak Tubuh Ustadz Jefrizal No. Gaya Gerak Tubuh Data 1 Sikap Badan 1. Berdiri tegap 2. Sesekali membungkuk 3. Berjalan beberapa langkah sesekali ke kanan dan sesekali ke kiri 2 Penampilan dan Pakaian 1. Tegas 2. Rapi dan sopan 3 Air Muka dan Gerakan 1. Raut wajah yang serius Tangan 2. Tangan kanan menunjuk diri 3. Gerakan tangan menunjuk kepala 4 Pandangan Mata Mengarah pada seluruh jamaah

Conclusion

Adapun hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan bahwa retorika Ustadz Jefrizal dalam berdakwah di Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau : Ustadz Jefrizal dalam berdakwah menggunakan gaya bahasa yang bervariasi diantaranya : • Menggunakan gaya bahasa resmi, tidak resmi serta gaya bahasa percakapan namun lebih dominan menggunakan gaya bahasa tidak resmi dan gaya bahasa percakapan. • Dari segi struktur kalimat Ustadz Jefrizal menggunakan gaya bahasa Klimaks, Paraleisme, Repetisi ; Epizeuksis, Anafora dan Anadiplosis, Retoris ; Aliterasi, Asonansi, Eufimismus, Litotes, dan erotesis, serta Kiasan Simile dan Alegori. Penggunaan gaya bahasa yang bervariasi tersebut menyesuaikan dengan materi yang disampaikan sehingga pendengar mudah memahami dan mengerti pesan yang disampaikan. Gaya suara Ustadz Jefrizal dalam menyampaikan ceramah juga sangat bervariasi. Beliau cukup memperhatikan nada suara seperti Pitch, Pause serta Rate atau penekanan suara dan kecepatan dalam pengucapan kata. Hal tersebut membuat pendengar mampu merasakan emosi yang dibangun sehingga pendengar tidak bosan. Gaya gerak tubuh Ustadz Jefrizal dalam berdakwah juga sangat tidak monoton dilihat dari gaya berpakaian yang rapi dan sopan dimana beliau memperlihatkan kesan seorang pendakwah yang positif. Ustadz Jefrizal juga piawai dalam memainkan kontak mata dengan audiens, gerakan tangan serta mimik wajah yang menyesuaikan dengan emosi mulai dari sikap tegas, serius dan juga bersemangat.