Pemanfaatan OPAC dalam Penelusuran Informasi pada Perpustakaan UIN Alauddin Makassar
Universitas Muhammadiyah Sinjai; Universitas Muhammadiyah Sinjai; Universitas Muhammadiyah Sinjai; Universitas Muhammadiyah Sinjai; Universitas Muhammadiyah Sinjai; Universitas Muhammadiyah Sinjai
Abstrak
Penelitian ini akan mengurai tentang bagaimana pemanfaatan fitur OPAC (Online Public Acces Catalogue) pada perpustakaan UIN Alauddin Makassar dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif pendakatan empirik, dari hasil kajian telah ditemukan bahwa OPAC dalam sebuah perpustakaan perguruan tinggi itu memiliki manfaat yang cukup besar dikarenakan pada perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jumlah koleksi yang begitu kompleks, bervariasi baik dari segi jumlahnya dan lain sebagainya maka dibutuhkan sebuah sistem kerja yang efisien dan efektif dalam proses menemukan informasi atau koleksi pada setiap perpustakaan terutama pada perpustakaan perguruan tinggi UIN Alauddin Makassar. Pengguna atau pemustaka dengan kebutuhan informasi yang berbeda tentu akan lebih cenderung berusaha menemukan informasinya dengan memanfaatkan OPAC dalam proses pencarian informasi atau koleksi yang dibutuhkannya dengan demikian pemustaka atau pengunjung perpustakaan akan merasakan perbedaan yang signifikan ketika mencari koleksi melalui penelusuran di rak-rak koleksi secara langsung dibandingkan dengan memanfaatkan fitur OPАС.
Abstract
This research will elaborate on how to utilize the OPAC (Online Public Access Catalog) feature in the UIN Alauddin Makassar library by using an empirical approach qualitative descriptive research method, from the results of the study it has been found that OPAC in a college library has considerable benefits because the library universities that have a number of collections that are so complex, vary both in terms of quantity and so on, an efficient and effective work system is needed in the process of finding information or collections in each library, especially at the college library of UIN Alauddin Makassar. Users or users with different information needs will certainly be more likely to try to find information by utilizing OPAC in the process of searching for the information or collections they need, thus library users or visitors will feel a significant difference when looking for collections through direct searches on collection shelves compared to by utilizing the OPAC feature.
Keywords:
college library
· OPAC
· Library services
Introduction
Dinamika berkembangnya teknologi informasi cukup pesat di kalangan masyarakat, dimana membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Salah satu institusi yang bergerak di bidang informasi adalah perpustakaan. Berdasarkan undang-undang di atas, perpustakaan adalah salah satu lembaga yang memiliki fungsi dan peran penting dalam mengelola informasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 1 Ayat 1 tentang perpustakaan sebagai berikut: Perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dalam sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. (Pemerintah Negara RI, 2007: 2). Fungsi utama dari setiap perpustakaan adalah mengadakan, mengelola, menyajikan dan menyebarluaskan informasi kepada pemustaka. (Abidin dan Sudirman, 2022: 14). Untuk menjalankan fungsi tersebut, perpustakaan harus mengolah dan menata koleksinya sedemikian rupa sehingga informasi yang terdapat dalam koleksi tersebut dapat disimpan dan ditemukan kembali secara cepat dan akurat dengan bantuan mesin penelusuran yaitu Online Public Access Catalogue (OPAC). Perpustakaan di era saat ini telah berkembang begitu pesat mengikuti perkembangan zaman ilmu pengetahuan dan teknologi begitupun dengan layanan-layanan yang ditawarkan atau dipromosikan pada setiap institusi perpustakaan, terlepas dari itu perpustakaan perguruan tinggi terus menerus berbenah mencari format penyajian informasi seefisien dan seefektif mungkin. perkembangan teknologi informasi saat ini berpengaruh terhadap semakin tingginya tuntutan pemustaka untuk bisa mendapatkan layanan perpustakaan yang semakin berkualitas (Elok Inajati, 2019). lebih lanjut dijelaskan ketika pemustaka kesulitan dalam penggunaan internet: alat, mesin pencari, database online, katalog, jurnal elektronik; penggunaan instruksi berbasis web dan tutorial online. Pustakawan harus mampu mengelola dan merancang halaman web, berperan sebagai manajer database, kolaborator, pembuat kebijakan yang dapat mengembangkan atau berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan informasi untuk sebuah organisasi(Susanti & Pust, 2018). Kebutuhan informasi masyarakat mempengaruhi perpustakaan untuk menyediakan berbagai macam informasi yang lebih baik untuk mendukung lahirnya pengetahuan baru. Seperti halnya perpustakaan yang terdapat dilingkungan perguruan tinggi bertujuan untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran, melakukan kegiatan penelitian, dan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit pelaksana teknis perguruan tinggi, bersama-sama dengan unit lain turut melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara memilih, menghimpun, mengolah, memelihara, dan menyajikan sumber informasi kepada institusi induk khususnya dan civitas academica pada umumnya. Kelima tugas tersebut dilaksanakan dengan tata cara, administrasi, dan organisasi yang berlaku pada sebuah perpustakaan. Perkembangan dunia perpustakaan saat ini ditunjang dengan perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya telah merambah ke berbagai bidang. Katalog mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. Teknologi informasi di perpustakaan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dalam memperoleh berbagai informasi secara cepat, tepat, dan akurat. Penerapan teknologi informasi di perpustakaan kini menjadi tolak ukur kemajuan perpustakaan. Semakin canggih dan otomatis kinerja perpustakaan, maka semakin maju perpustakaan itu. Hal ini akan memudahkan pemustaka untuk menemukan kembali informasi dari koleksi yang ada di perpustakaan. Sistem temu kembali informasi dapat dikatakan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan bahan pustaka kepada pemustaka dalam menanggapi kebutuhan informasinya. Penerapan teknologi informasi di perpustakaan merupakan wujud dari perubahan layanan. Perubahan ini mendorong perpustakaan untuk memodernisasi layanan dan menerapkan teknologi informasi dalam aktivitas kesehariannya. Tuntutan perubahan yang semakin meningkat ini nampaknya menjadi tantangan bagi perpustakaan untuk memberikan pelayanan terbaik melalui fasilitas teknologi informasi. Penerapan OPAC (Online Public Access Catalogue) adalah salah satu bukti penerapan teknologi informasi yang ada di perpustakaan sebagai sistem automasi dan media temu kembali informasi. Fasilitas tersebut digunakan untuk kepentingan pengguna perpustakaan dalam mencari informasi. Menurut Feather dalam Bidayasari (2018: 50) “OPAC adalah suatu pangkalan data cantuman bibliografi yang biasanya menggambarkan koleksi perpustakaan tertentu”. OPAC menawarkan akses secara online ke koleksi perpustakaan melalui terminal komputer. Pengguna dapat melakukan penelusuran melalui pengarang, judul, subjek, kata kunci, juga menekankan fungsi lainnya dari OPAC yaitu untuk menunjukkan keberadaan atau kekayaan koleksi dari suatu perpustakaan tertentu. Melalui OPAC, pengguna juga dapat mengetahui lokasi, dan seberapa banyak judul, subjek, eksemplar, serta status dari koleksi perpustakaan tersebut. OPAC adalah sala satu fasilitias yang menginplementasikan sistem online, fasilitas ini berupa satu atau beberapa computer (PC) yang disediakan oleh perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh pengguna atau pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan (Ramadhan & Marlini, 2021), Ketika perpustakaan dapat memberikan layanan dengan baik tentu pemustaka atau pengunjungnya akan memiliki rasa kepuasan tersendiri. informasi saat ini dengan mudah kita peroleh tanpa beranjak dari tempat duduk sekalipun selagi masih terkoneksi dengan jaringan internet. layanan perpustakaan perguruan tinggi dalam penelusuran informasi yang sering disebut dengan OPAC adalah sebuah sistem kerja yang efisien dan efektif pada proses pencarian informasi. Keberadaan katalog online atau OPAC akan sangat membantu kinerja pustakawan dalam memenuhi kebutuhan pemustaka dalam melakukan penelusuran bahan pustaka. Perpaduan antara teknologi database, temu kembali informasi dan jaringan internet tersebut menghasilkan sistem temu kembali informasi yang handal di perpustakaan. Bahkan keberadaan OPAC sebagai mesin pencari informasi terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi informasi yang dinamis.
Method
Berdasarkan permasalahan dalam penelitian ini, maka jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini akan melakukan penggambaran secara mendalam tentang objek yang diteliti. Penelitian deskriptif yaitu metode yang bertujuan untuk memaparkan atau menggambarkan suatu kondisi, keadaan, atau peristiwa secara sistematis, faktual dan akurat mengenai objek atau wilayah yang diteliti. (Arikunto, 2013: 3). Sementara metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mempelajari keadaan objek alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan kepada makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2009: 9). Berdasarkan permasalahan dalam penelitian ini, maka jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini akan melakukan penggambaran secara mendalam tentang objek yang diteliti. Penelitian deskriptif yaitu metode yang bertujuan untuk memaparkan atau menggambarkan suatu kondisi, keadaan, atau peristiwa secara sistematis, faktual dan akurat mengenai objek atau wilayah yang diteliti. (Arikunto, 2013: 3). Sementara metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mempelajari keadaan objek alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan kepada makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2009: 9). Analisis data dilakukan dengan memberikan indikasi atau penjelasan terhadap data yang diperoleh, terutama data yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian. Interpretasi ini menggambarkan sudut pandang peneliti, berdasarkan pemahaman teori dan fenomena yang ada di lapangan. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan pencatatan dokumen dikumpulkan dan dianalisis dengan membuat interpretasi. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif berjalan bersamaan dengan pengumpulan data (Ghony dan Almanshur, 2017: 285-286).
Result & Discussion
1. OPAC sebagai sarana temu kembali informasi perpustakaan UIN Alauddin Makassar Pada dasarnya ketika pemustaka mencari sumber informasi atau koleksi buku maka mereka lebih cenderung memanfaatkna OPAC yang telah disediakan dibandingkan menelusurinya langsung ke rak buku tersebut namun masih ada sebagian mahasiswa terutama mahasiswa baru biasanya ketika dia mencari koleksi langsung ke rak buku walau demikian pustakawan tetap memberikan penjelasan terkait tata cara memanfaatkan fitur OPAC tersebut atau lebih sering disebut sebagai User Education atau pendidikan pemustaka. Dalam artikel ini penulis membagi kedalam tiga bagian dalam pemanfaatan OPAC pada perpustakaan perguruan tinggi UIN Alauddin sebagai berikut. a. Kebutuhan Pemustaka b. Motif Pemustaka c. Minat Pemustaka Pada dasarnya ketika pemustaka mencari sumber informasi atau koleksi buku maka mereka lebih cenderung memanfaatkna OPAC yang telah disediakan dibandingkan menelusurinya langsung ke rak buku tersebut namun masih ada sebagian mahasiswa terutama mahasiswa baru biasanya ketika dia menacari koleksi langsung ke rak buku walau demikian pustakawan tetap memberikan penjelasan terkait tata cara memanfaatkan fitur OPAC tersebut atau lebih sering disebut sebagai User Educatiaon atau pendidikan pemustaka. OPAC (Online Public Access Catalog) merupakan sistem katalog perpustakaan yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pencarian dan penelusuran informasi mengenai koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan secara online. Sebagai sarana temu kembali informasi, OPAC memiliki berbagai manfaat dan fungsi yang penting dalam konteks manajemen dan akses informasi perpustakaan. Berikut ini beberapa fungsi dan manfaat OPAC sebagai sarana temu kembali informasi: a. Aksesibilitas: OPAC memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi perpustakaan dari mana saja dan kapan saja selama terhubung dengan internet. Ini mempermudah pengguna yang tidak bisa datang langsung ke perpustakaan untuk mengetahui koleksi yang tersedia b. Kemudahan Pencarian: OPAC menyediakan berbagai metode pencarian seperti pencarian berdasarkan judul, penulis, subjek, kata kunci, ISBN, dan lainnya. Ini memudahkan pengguna untuk menemukan informasi yang spesifik sesuai dengan kebutuhan mereka. c. Informasi Terperinci: OPAC biasanya memberikan informasi terperinci mengenai setiap item dalam koleksi, termasuk deskripsi fisik, lokasi, status ketersediaan, serta informasi tambahan seperti abstrak atau isi daftar isi buku d. Peningkatan Efisiensi: Dengan adanya OPAC, proses pencarian informasi menjadi lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan sistem katalog manual. Pengguna dapat langsung mengetahui apakah item yang dicari tersedia atau sedang dipinjam e. Integrasi dengan Sistem Lain: OPAC dapat terintegrasi dengan sistem manajemen perpustakaan lainnya, seperti sistem peminjaman dan pengembalian, sistem keanggotaan, serta layanan reservasi buku. Ini memberikan kemudahan dalam pengelolaan dan pemantauan aktivitas perpustakaan f. Fitur Lanjutan: Banyak OPAC modern yang dilengkapi dengan fitur lanjutan seperti saran otomatis (auto-suggestions), filter pencarian, serta personalisasi pengguna. Beberapa bahkan memungkinkan pengguna untuk meninggalkan ulasan atau rating terhadap buku yang sudah mereka baca g. Pengguna Mandiri: Dengan OPAC, pengguna dapat melakukan pencarian informasi secara mandiri tanpa perlu bantuan pustakawan. Ini mendorong kemandirian dan mempercepat proses akses informasi Dengan segala kelebihan tersebut, OPAC memainkan peran yang sangat penting dalam memfasilitasi akses dan temu kembali informasi di perpustakaan, mendukung kegiatan akademik, penelitian, dan pembelajaran bagi para pengguna perpustakaan. 2. Pemanfaatan OPAC perpustakaan UIN Alauddin Makassar OPAC merupakan sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum dan dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk menelusuri data bibliografis suatu koleksi serta memastikan apakah suatu perpustakaan menyimpan karya tertentu. Selain itu, untuk mendapat informasi tentang lokasi penyimpanan koleksi, dan apabila sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pengguna dapat mengetahui status ketersediaan koleksi. Dengan kata lain, pemanfaatan OPAC di perpustakaan amat sangat dibutuhkan karena dapat membantu pemustaka dalam menelusuri bahan pustaka yang diinginkan, sebagaimana pemanfaatan OPAC yang dilakukan oleh pemustaka di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar Makassar maka dapat diketahui factor-faktor yang mempengaruhi pemustaka dalam memanfaatkan online public access catalogue adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan produktivitas penelusuran koleksi Sebagaimana pada teori yang digunakan dalam skripsi ini yaitu menurut Fred Davis dalam Monisa (2013) menyatakan bahwa salah satu faktor pemanfaatan OPAC adalah meningkatkan produktivitas. Jadi, penelusuran koleksi melalui OPAC dapat membantu meningkatkan produktivitas penggunanya dalam teknik pengisian query sebagai keyword untuk menemukan judul bahan pustaka yang diinginkan namun sesuai dengan judul yang tertera pada OPAC. Karena OPAC merupakan sistem informasi yang menyimpan data-data koleksi, banyak koleksi yang memiliki subyek yang sama namun judul berbeda, adapun koleksi dengan pengarang yang sama namun dengan judul yang berbeda. Sehingga untuk menemukan koleksi pada OPAC juga diperlukan kekreatifan dari pengguna untuk memasukkan keywords judul buku yang diinginkan sesuai dengan judul-judul yang diinformasikan oleh OPAC. Dalam penggunaan OPAC, hal yang diutamakan dan sangat mempengaruhi hasil pencarian pengguna adalah kata kunci (keywords). Kata kunci memegang peran penting dalam proses pencarian yang dilakukan oleh pengguna karena akan menentukan hasil pencarian bahan pustaka pada OPAC. Adapun cara penelusuran koleksi yang sering dilakukan oleh pemustaka adalah dengan memasukkan judul buku dan terkadang juga memasukkan nama pengarang dari buku yang dibutuhkan pada kolom penelusuran OPAC. b) Meningkatkan efektivitas penelusuran koleksi Selain itu, Fred Davis dalam Monisa (2013) juga mengemukakan bahwa faktor pemanfaatan OPAC yaitu dapat meningkatkan efektivitas. Dengan adanya sistem automasi perpustakaan diharapkan dapat membantu pekerjaan pustakawan maupun pemustaka menjadi lebih cepat dan mudah. OPAC merupakan katalog yang di program ke dalam sebuah sistem informasi yang diselenggarakan oleh perpustakaan untuk pelayanan kepada pemustaka seefisien dan seefektif mungkin dengan tujuan mempermudah dan mempercepat waktu pengguna dalam penelusuran bahan pustaka di rak koleksi. OPAC adalah salah satu media yang dapat digunakan pemustaka untuk menelusuri bahan pustaka secara cepat dan spesifik sesuai kebutuhan informasinya. OPAC adalah salah satu media yang dapat digunakan pemustaka untuk menelusuri bahan pustaka secara cepat dan spesifik sesuai kebutuhan informasinya. c) Memudahkan dalam proses pencarian koleksi Fred Davis dalam Monisa (2013) juga mengemukakan bahwa kemudahan penggunaan OPAC jauh lebih mudah dan cepat sehingga akan mengurangi usaha pengguna saat penelusuran koleksi dibanding dengan menggunakan katalog manual atau penelusuran koleksi tanpa menggunakan katalog. Faktor yang mempengaruhi menggunakan OPAC yaitu mempermudah pencarian suatu bahan pustaka karena dapat ditelusuri di rak-rak koleksi sesuai nomor klasifikasi buku yang tercantum pada OPAC. Selain itu, OPAC juga dapat diakses dimana saja walaupun pemustaka berada di luar perpustakaan. 3. Kendala-kendala yang Dihadapi dalam Memanfaatkan Online Public Access Catalogue di Perpustakaan perpustakaan UIN Alauddin Makassar OPAC merupakan suatu layanan yang memberikan kemudahan bagi pemustaka dalam temu kembali informasi atau bahan pustaka yang ada di perpustakaan, yang artinya digunakan sebagai sarana temu kembali informasi. Semantara itu, faktanya yang peneliti temukan masih ada kesulitan yang dihadapi oleh pemustaka dalam menggunakan OPAC sebagai media temu kembali informasi bagi pemustaka di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, sebagai berikut: a) Jaringan sering bermasalah dan error pada laman OPAC Bahwa temu kembali informasi menggunakan OPAC sering terjadi gangguan jaringan dan error pada saat mengakses website OPAC tersebut. Akan tetapi dengan menggunakan OPAC dapat mempersingkat waktu pemustaka dalam menemukan buku yang dibutuhkan, sehingga pemustaka merasa terbantu dengan layanan OPAC. b) Kurangnya pemahaman pemustaka dalam menggunakan OPAC Bahwa ketika menggunakan OPAC terkadang masih kesulitan dalam menelusuri buku yang dibutuhkan pada OPAC karena masih kurangnya pemahaman terkait cara penggunaan OPAC tersebut, sehingga Informan seringkali meminta bantuan kepada pustakawan untuk menemukan buku yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena tidak adanya petunjuk atau panduan dalam penggunaan OPAC di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar Makassar. Panduan tersebut penting, karena tidak semua mahasiswa atau pengguna jasa perpustakaan mengetahui cara mengoperasikan OPAC. Oleh karena itu, dengan adanya panduan penggunaan OPAC, pemustaka dapat mengetahui cara penelusuran koleksi dengan OPAC yang telah disediakan dan dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka dan kegiatan penelusuran informasi dapat berjalan dengan baik dan efisien. Pengetahuan pemustaka terhadap OPAC penting untuk diingat, tidak hanya OPAC yang didesain secanggih mungkin, akan tetapi perpustakaan juga harus bisa memberikan pengetahuan tentang cara menggunakan OPAC. Sebagaimana yang dikemukakan oleh David Wells dalam Perpustakaan (2020) bahwa desainer OPAC tidak hanya mementingkan struktur dan bentuk sistem OPAC, namun juga patut memastikan literasi OPAC yang dimiliki oleh pengguna berada pada tingkatan yang pantas atau sesuai dengan OPAC yang dibuat. c) Ketidaksesuaian informasi antara tampilan di OPAC dengan keberadaan di rak-rak koleksi Bahwa ketika menggunakan OPAC terkadang tidak sesuai dengan petunjuk yang ada pada OPAC. Oleh karena itu, perpustakaan harusnya memberikan kemudahan terhadap pemustaka yang menggunakan OPAC dengan terus memutakhirkan koleksi yang ada, sehingga pemustaka tidak lagi kebingungan saat mencari koleksi di rak. terdapat tiga faktor yang menyebabkan pemanfaatan OPAC di Perpustakaan UIN Alauddin Makassaar kurang maksimal digunakan oleh pemustaka, diataranya: pertama, pendidikan pemustaka tidak menyeluruh karena kegiatan tersebut hanya dilakukan pada saat terdapat mahasiswa yang melakukan pembelajaran di perpustakaan, sehingga tidak semua mahasiswa mendapatkan pendidikan pemustaka tersebut. Kedua, karena faktor internal dari pemustaka itu sendiri, mereka lebih senang mencari buku secara langsung melalui rak-rak buku. Ketiga, pemustaka tersebut memang tidak mengetahui keberadaan OPAC di perpustakaan tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan pemustaka terhadap OPAC itu penting, tidak hanya OPAC harus didesain dengan baik, namun perpustakaan juga harus bisa memberikan pengetahuan bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Perpustakaan dapat melakukan sosialisasi penggunaan OPAC kepada pemustaka dengan berbagai cara, misalnya memberikan pelatihan kepada mahasiswa baru tentang pemanfaatan OPAC. Sebagaimana menurut David Wells dalam artikelnya yang berjudul "What is a Library OPAC” mengemukakan bahwa sejatinya OPAC dapat dikomunikasikan secara efektif bergantung pada literasi OPAC yang efektif dikalangan pengguna (Departemen Informasi dan Perpustakaan, 2020). Cara lain yang bisa ditawarkan kepada pustakawan adalah mensosialisasikannya kepada pengguna melalui media sosial seperti: tiktok, instagram, youtube, facebook dan media sosial lainnya terkait cara penggunaan OPAC. Selain itu, pustakawan juga dapat membuat panduan (guide) berbentuk infografis maupun dalam bentuk video interaktif yang menjelaskan apa itu OPAC dan bagaimana cara penggunaannya, kemudian mengunggahnya ke setiap media sosial yang dimiliki oleh Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa zaman modern saat ini, penggunaan media sosial sudah melekat pada seluruh lapisan masyarakat layaknya pakaian, sehingga pustakawan dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan sosialisasi OPAC dengan cara yang lebih variatif dan juga menarik bagi pengguna. Kemudian, setiap link postingan yang telah diposting di sosial media dapat disematkan saat pemustaka membuka OPAC, sehingga pemustaka dapat memahami OPAC dengan mudah dan menyenangkan. Pemustaka pun pada akhirnya bisa mengoperasikan OPAC secara efektif dan pemanfaatan OPAC menjadi maksimal diterapkan di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar.
Conclusion
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemustaka dalam memanfaatkan OPAC sebagai media temu kembali di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, yaitu meningkatkan produktivitas dan efektivitas penelusuran koleksi, serta memudahkan aktivitas temu kembali bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pemustaka tanpa perlu mencari satu persatu pada rak-rak koleksi. Kendala-kendala yang dihadapi dalam memanfaatkan OPAC sebagai media temu kembali informasi di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, yaitu sering kali terjadi gangguan pada jaringan ketika pemustaka menggunakan OPAC dan error pada laman OPAC, kurangnya kemampuan pemustaka dalam melakukan penelusuran melalui OPAC, dan ketidaksesuaian informasi antara tampilan di OPAC dengan keberadaan di rak-rak koleksi.