Strategi Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Melalui Perpustakaan Digital
Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian ini berisi tentang upaya meningkatkan minat baca masyarakat dengan membangun perpustakaan digital. Penelitian ini menggunakan studi literatur, sehingga tidak memiliki lokasi yang spesifik. Pembahasan dilakukan dengan mengkaji dan menganalisis bahan pustaka dari beberapa sumber seperti jurnal maupun buku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat baca masyarakat perlu dicarikan solusi. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Membiasakan diri membaca buku dapat dilakukan dengan menyediakan buku-buku di rumah serta membuat aturan membaca buku saat waktu luang. Selain itu, pemerintah ataupun sekolah dapat menyediakan perpustakaan serta memfasilitasi berbagai jenis buku agar minat baca masyarakat meningkat. Tak kalah penting, setiap orang harus membatasi penggunaan gadget untuk hiburan dan mulai membiasakan diri menggunakannnya untuk membaca topik yang bermanfaat. Dengan pemanfaatan teknologi ini maka membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja serta tanpa buku secara fisik, untuk itu perlu dibangun perpustakaan digital dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi yang telah berkembang saat ini.
Abstract
It is increasing Public Reading Interest through Digital Libraries. This research attempts to increase public interest in reading by building a digital library. This study used a literature study, so it did not have a specific location. The discussion is carried out by reviewing and analyzing library materials from several sources, such as journals and books. The results showed that people's low interest in reading needed to find a solution. One solution that can be done is to instill the habit of reading from an early age. Getting used to reading books can be done by providing books at home and making rules for reading books in your spare time. In addition, the government or schools can provide libraries and facilitate various types of books to increase people's interest in reading. No less important, everyone should limit the use of gadgets for entertainment and start getting used to using them to read valuable topics. With the help of this technology, reading can be done anywhere and anytime without physical books. For that, it is necessary to build a digital library using advances in information technology that have developed today.
Keywords:
perpustakaan digital
· perpustakaan
· teknologi informasi
· minat baca
Introduction
Perpustakaan merupakan salah satu sarana pendukung pendidikan yang berperan sebagai sumber penyedia informasi. Saat ini, rendahnya literasi di Indonesia merupakan permasalahan yang cukup serius dan menjadi salah satu kelemahan bangsa Indonesia. Kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dapat dihasilkan oleh ilmu pengetahuan yang didapat dari informasi lisan maupun tulisan. Pemahaman terhadap informasi ditandai dengan pemahaman seseorang akan isi materi tersebut. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki individu dalam menguasai informasi mulai dari mengakses, memahami, dan menggunakan informasi. Dalam memahami informasi diperlukan kemampuan dan keterampilan literasi. Keterampilan literasi sangat penting dalam kehidupan manusia. Hampir seluruh proses dalam pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Tingkat literasi yang dihubungkan dengan kegiatan membaca di Indonesia masih tergolong rendah. Bahkan, kebanyakan siswa yang ada di Indonesia enggan melakukan literasi atau kegiatan membaca (Tahmidaten & Krismanto, 2000:5). Kualitas membaca anak-anak di Indonesia berdasarkan hasil survei IEA (International Education Achievement) tahun 2000 awal berada di peringkat ke-9 dari 31 negara (Asia, Afrika, Eropa dan Amerika). Hal tersebut menunjukkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Indonesia berada dibawah negara Singapura, Malaysia, dan Thailand. Indonesia memperoleh skor sebesar 396 dari rata-rata skor OECD sebesar 493 berdasarkan hasil dari PISA 2009, dan pada PISA 2012, skor Indonesia mencapai 396 dengan rata-rata OECD 496, sehingga Indonesia berada di peringkat ke 64. Berdasarkan data tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia membuat program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang melibatkan semua pemangku kepentingan dibidang pendidikan, sebab sekolah belum menunjukan fungsinya sebagai tempat organisasi belajar untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sendiri memiliki tujuan agar siswa dapat meningkatkan budaya literasi di lingkungan manapun (Kasiyun, 2015:83). Rendahnya literasi di Indonesia ini merupakan permasalahan yang cukup serius bagi bangsa Indonesia. Kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat kecerdasan dan pengetahuan masyarakatnya. Sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dapat dihasilkan oleh ilmu pengetahuan yang didapat dari informasi lisan maupun tulisan, salah satunya dari kegemaran membaca. Ini menjadi tantangan tersendiri di era teknologi informasi. Saat ini, kebiasaan masyarakat berubah karena teknologi digital sudah merambah hampir ke semua lapisan masyarakat. Hampir setiap hari masyarakat dari berbagai lapisan sangat akrab dengan teknologi informasi seperti smartphone, laptop, komputer, dan teknologi lainnya. Penulis berpendapat untuk menaikkan minat baca seseorang bisa dilakukan menggunakan perpustakaan digital. Perpustakaan digital dapat memudahkan pengguna karena bisa diakses langsung melalui media elektronik yang biasa digunakan seperti handphone, laptop, komputer, tablet, dll. Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang terus berkembang sudah menjadi bagian pokok dari kegiatan kepustakawanan. Perkembangan teknologi sangat mempengaruhi pengelolaan perpustakaan dalam menghimpun, mengorganisir dan mendistribusikan atau melayankan informasi yang ada kepada pemustaka (Wahyuntini & Endarti, 2021:1). Diharapkan, dengan dibangunnya perpustakaan digital dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Masyarakat lebih mudah mencari sumber informasi karena dapat diakses malalui teknologi informasi yang dipakai seharihari. Perpustakaan digital berbeda dengan perpustakaan konvensional yang memiliki banyak koleksi buku tercetak. Perpustakaan digital (digital library) memiliki koleksi ebook atau ejournal yang tersimpan di server komputer. Perpustakaan digital memiliki banyak pengertian, menurut Saffady, perpustakaan digital yaitu perpustakaan yang mengelola semua atau sebagian substansi dari koleksi-koleksinya dalam bentuk komputerisasi sebagai bentuk alternatif, suplemen, atau pelengkap terhadap cetakan konvensional dalam bentuk mikro material yang saat ini didominasi koleksi perpustakaan (Widayanti, 2015:7). Adapula pengertian dari The Digital Library Federation, perpustakaan digital memiliki arti sebagai organisasi-organisasi yang menyediakan sumber-sumber, meliputi staf ahli dengan tujuan untuk menyeleksi, membentuk, menawarkan akses intelektual, menginterprestasikan, mendistribusikan, memelihara integritas, dan menjaga atau memastikan secara terusmenerus koleksi digital dapat dimanfaatkan sehingga selalu siap sedia dan ekonomis untuk digunakan oleh masyarakat terbatas atau sekelompok masyarakat. Pengertian perpustakaan digital menurut Brian Lang, digunakan sebagai gambaran penggunaan teknologi digital untuk memperoleh, menyimpan, menggunakan, melestarikan, dan menyediakan akses terhadap informasi dan materi yang diterbitkan dalam bentuk digital atau didigitalisasikan dari bentuk tercetak, audiovisual, dan yang lain. Tujuannya untuk memberikan akses kepada seluruh pengguna sehingga penyampaian dan penyebaran informasinya akan lebih cepat, efektif, dan efisien. Ada banyak pengertian lain yang di ambil dari buku Pengelolaan Perpustakan Digital karya Mulyadi, yakni perpustakaan digital merupakan bentuk perpustakaan yang memiliki koleksi buku-buku dalam file digital dan dapat diakses melalui komputer. Perpustakaan yang memiliki tenaga teknologi disebut sebagai perpustakaan digital, lalu perpustakaan elektronik, perpustakaan maya atau tanpa dinding, yaitu sistem perpustakaan yang memiliki berbagai layanan dan objek informasi yang mengandung objek informasi melalui perangkat digital. Perpustakaan digital merupakan sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mengandung akses informasi melalui perangkat digital. Perpustakaan digital dibuat agar mempermudah pencarian informasi melalui koleksi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital. Penelitian ini dirasa penting untuk mengetahui peran perpustakaan digital untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Sumber informasi yang dimiliki perpustakaan dapat dipertanggungjawabkan sehingga layak menjadi acuan masyarakat dalam mendapatkan informasi. Agar masyarakat lebih mudah memanfaatkan koleksi perpustakaan, mereka dapat memanfaatkan perpustakaan digital yang bisa digunakan dimana saja dari tempat yang berada.
Method
Karya ilmiah ini menggunakan metode penelitian kajian studi literatur dan tidak memiliki lokasi yang spesifik. Pembahasan dilakukan dengan mengkaji dan menganalisis informasi dari berbagai sumber bahan pustaka baik berupa artikel jurnal maupun buku. Dari sumber infomasi tersebut dilakukan analisis mendalam sehingga dapat diperoleh suatu jawaban atas permasalahan yang ada dan diambil suatu kesimpulan. Dari kesimpulan ini akan memberikan saran dan masukan terhadap pengembangan pemikiran dalam dunia perpustakaan.
Result & Discussion
Perpustakaan sebagai sumber informasi memiliki peran penting dalam bidang pendidikan. Jika mendengar kata perpustakaan bayangan pertama yang muncul adalah sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku. Penggambaran tersebut tidak sepenuhnya salah karena perpustakaan adalah tempat penyimpanan buku. Tetapi, apabila dikaji lebih dalam dan lebih luas lagi, perpustakaan berfungsi sebagai tempat untuk mengelola dan menyimpan buku-buku. Istilah perpustakaan memiliki banyak pengertian, menurut Sutarno, perpustakaan memiliki arti sebagai sebuah ruangan yang memiliki buku-buku koleksi yang disusun rapi sesuai kategorinya masing-masing untuk memudahkan pembaca (Sutarno, 2006:11). Pengertian lain, sebagai tempat untuk mengatur, mengelola, menyimpan dan mengumpulkan koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk dijadikan sebagai sumber informasi dan sarana untuk belajar (Sutarno, 2006:). Trimo mendefinisikan perpustakaan sebagai sekumpulan bahan pustaka, baik yang tercetak maupun rekaman, pada suatu tempat tertentu yang telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pemustaka mencari informasi yang diperlukannya dan memiliki tujuan utama untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya dan bukan untuk diperdagangkan (Sinaga, 2005: 220). Sismanto menyebut perpustakaan sebagai suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahanbahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya (Sismanto, 2008). Sedangkan menurut UU No. 34 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 1, perpustakaan merupakan institusi pengetahuan koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya reka secara profesional dengan sistem yang bagus guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi bagi para pemustaka. Berdasarkan pengertian yang sudah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan yang memiliki koleksi buku-buku yang sudah disusun rapi dan sesuai kategori masing-masing untuk memudahkan pemustaka mencari sumber informasi untuk dipelajari atau sekedar membaca, yang dikelola langsung oleh pustakawan dan tidak untuk diperjual belikan. 1. Layanan Perpustakaan Pustakawan dan perpustakaan memiliki tugas, kegiatan, fungsi yang sama yaitu to collect (menghimpun dan mengumpulkan), to preserve (mengolah, memelihara, merawat, melestarikan), to make available (mengemas, menyajikan dan memberdayakan, serta memanfaatkan dan melayankan kepada pengguna) (Erma, 2016). Perpustakaan juga memiliki sifat yang informatif, edukatif, rekreatif, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Jenis layanan-layanan oleh pustakawan tentu akan yang dilakukan berdampak pada kinerja suatu perpustakaan. Secara umum layanan perpustakaan memiliki 3 (tiga) bagian yaitu layanan teknis, layanan pengguna, dan layanan administrasi. Layanan teknis merupakan layanan pertama yang dilakukan dengan kegiatan untuk menyiapkan dan pengolahan bahan perpustakaan. Layanan pengguna merupakan layanan yang berkaitan langsung dengan pengguna perpustakaan antara lain layanan sirkulasi, referensi, OPAC (Online Public Access Catalogue), dan layanan pendidikan pengguna. Layanan sirkulasi yang secara bahasa berasal dari kata “circulation” yang artinya berputar, mengedar. Secara istilah memiliki arti bersangkutan dengan segala kegiatan mencatat yang berkaitan dengan pemanfaatan, penggunaan koleksi perpustakaan untuk kepentingan pengguna jasa perpustakaan (Erma, 2016). Layanan referensi berasal dari kata “reference” yang artinya sumber, menunjuk, menyebut, acuan. Secara istilah memiliki arti sebagai layanan kegiatan yang menjawab pertanyaan serta memberikan bimbingan menggunakan koleksi referensi yang sudah disediakan (KBBI). Layanan OPAC (Online Public Access Catalogue) atau katalog online. Secara istilah memiliki arti sebagai pembuatan katalog (informasi tentang bahan perpustakaan) yang sudah dilakukan secara online bukan lagi menggunakan almari katalog. OPAC dibuat karena teknologi informasi sudah berkembang dan maju, maka dimanfaatkan oleh perpustakaan yang sudah modern. Layanan pendidikan pengguna atau yang biasa dipahami sebagai kegiatan user education, library orientation, bibliographic instruction, library orientation, library use instruction, dan user guidance (Rochmah, 2016:9). Layanan ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat pengguna untuk lebih tertib dan bertanggungjawab. Kegiatannya berupa pengenalan sumber informasi yang ada di perpustakaan, fasilitas yang tersedia, jenis-jenis layanan, tata tertib saat di perpustakaan, dan sebagainya. Di perpustakaan juga terdapat layanan administrasi. Layanan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu layanan administrasi staf dan layanan administrasi pengguna. Layanan administrasi staf memiliki tugas untuk pengarsipan dokumen-dokumen dan persuratan, sedangkan layanan administrasi pengguna memiliki tugas untuk membuat mengelola administrasi keanggotaan perpustakaan. Selain layanan yang telah disebutkan sebelumnya, berdasarkan sifat layanannya, perpustakaan memiliki sistem layanan yang dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu sistem layanan terbuka (open access), sistem layanan tertutup (close access), dan sistem layanan campuran (mixed access). Sistem layanan terbuka (open access) merupakan sistem yang memungkinkan pemustaka dapat langsung mencari bahan pustaka pada rak koleksi. Berbeda dengan layanan terbuka, sistem layanan tertutup (close access) merupakan sistem yang tidak memungkinkan pemustaka untuk mencari bahan pustaka secara langsung pada rak koleksi. Sedangkan sistem layanan campuran (mixed access) berusaha memadukan kedua layanan, yaitu satu bagian dengan layanan tertutup untuk bagian koleksi khusus, dan layanan terbuka untuk koleksi umum. 2. Jenis Perpustakaan Pada saat ini pemanfaatan teknologi informasi sudah semakin masif termasuk dalam dunia perpustakaan. Penggunaan media digital yang dapat diakses secara online telah memberikan perubahan yang signifikan pada perilaku seseorang. Saat ini orang lebih suka mencari informasi dengan gawai atau komputer untuk mendapatkan informasi tertentu. Google merupakan media penelusuran utama yang sudah menjadi rujukan dalam pencarian informasi. Hal ini telah menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan untuk dapat menyediakan informasi yang lengkap dan terpercaya serta dapat diakses secara online. Adanya perubahan dalam kebutuhaan pemustaka tersebut menyebabkan perbedaan signifikan dalam hal penggunaan teknologi. Saat ini perpustakaan terbagi menjadi 4 (empat) jenis perpustakaan, yaitu, perpustakaan konvensional (conventional library), perpustakaan hibrida (hybrid library), perpustakaan bookless (bookless library), dan perpustakaan digital (digital library). Perpustakaan konvensional (conventional library), secara istilah memiliki arti pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (UU RI NO.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 1). Perpustakaan hibrida (hybrid library), memiliki arti sebagai perpaduan koleksi digital dan koleksi konvensional yang didesain untuk mengelola dua sumber berbeda yaitu sumber koleksi elektronik dan koleksi tercetak. Perpustakaan bookless (bookless library), memiliki arti perpustakaan yang tidak memiliki koleksi buku didalamnya. Perpustakaan digital (digital library), adalah perpustakaan yang menggunakan sebuah teknologi modern yang sebagian besar isi koleksinya berbentuk format digital yang bisa diakses melalui komputer. 3. Perpustakaan Digital Teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang pesat, kemampuan teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan digital agar koleksi yang dimiliki dapat dimanfaatkan lebih optimal karena akan mempermudah seseorang mengakses informasi dari jarak jauh dan secara bersamaan. Perpustakaan digital memiliki banyak arti, antara lain suatu sistem yang menyediakan komunitas pengguna dengan akses terpadu yang dapat menjangkau luasnya informasi dan ilmu pengetahuan yang telah disimpan dan terorganisasi dengan baik dan benar (Suwarno, 2010: 39). Menurut Saffady dalam Harahap (2018), menyimpulkan bahwa perpustakaan digital yaitu perpustakaan yang mengelola semua atau sebagian substansi dari koleksi-koleksinya dalam bentuk komputerisasi sebagai bentuk alternatif, suplemen atau pelengkap terhadap cetakan konvensional dalam bentuk mikro material yang saat ini didominasi koleksi perpustakaan. Sejarah dan latar belakang dibangunnya perpustakaan digital, pertama kali dikemukakan oleh Vannevar Bush yang ingin menyimpan informasi (penelitian) dan ilmu pengetahuan dengan mudah untuk disimpan dan ditemukan kembali. Kisah ini berawal dari Bush yang terhambat dalam mengakses penelitiannya karena menyimpan informasi secara manual. Dari kejadian ini muncul pemikiran untuk membuat sebuah “meja kerja” yang disebut MEMEX. Meja ini mempunyai layar kaca dan merupakan mesin memori yang dapat menyimpan semua berkas, artikel, buku bacaan, dan surat menyurat seorang ilmuwan. Pemilik mesin ini dapat membaca, mengetik, bahkan menganalisa berkas yang tersimpan di meja kerja tersebut. Pada tahun 1980-an, mulai berkembang sistem otomasi pada perpustakaan digital dimana fungsi perpustakaan dikerjakan dengan bantuan komputer. Tetapi hanya perpustakaan-perpustakaan besar saja yang dapat menggunakan sistem tersebut karena biayanya tergolong mahal. Saat itu, Library of Congress di Amerika mulai mengimplementasi sistem pada tampilan dokumen elektronik untuk kepentingan penelitian dan perpustakaan. Pada awal tahun 1990an, komunikasi antar perpustakaan dapat dilakukan dengan mudah karena sebagian besar perangkat lunak seperti OPAC (Online Public Access Catalogue), kontrol sirkulasi, pengadaan bahan perpustakaan, pinjam antar perpustakaan, dll sudah mulai berkembang. Otomasi mulai memasuki Indonesia pada tahun 1970-an yang didasari dengan perkembangan teknologi informasi yang dirancang dengan jaringan IPTEK berbasis komputer. Sistem otomasi di Indonesia dilakukan pertama kali di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Perpustakaan Lembaga Manajemen Kelistrikan (LMK) yang pertama menggunakan PC untuk mengelola perpustakaan. Pada akhir tahun 1980an sampai 1990-an, perpustakaan di Indonesia yang menggunakan otomasi perpustakaan sudah mulai bertambah, terutama pada seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia. Pemanfaatan penggunaan teknologi informasi secara maksimal dan selalu mengikuti perkembangannya akan sangat mendukung layanan perpustakaan, koleksi perpustakaan yang lengkap serta mempunyai variasi bentuk koleksi yang salah satunya dalam bentuk digital (Santoso, 2021:71). Perpustakaan digital mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan perpustakaan digital diantaranya: 1) Long distance service, perpustakaan digital yang memudahkan penggunanya dalam mencari koleksi atau materi yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. 2) Akses yang mudah, akses perpustakaan digital dapat dilakukan dengan mudah karena pengguna tidak perlu mencari katalog secara langsung dan diberi keleluasaan dalam menelusurinya. 3) Murah (cost effective, jika dibandingkan dengan perpustakaan konvensional, perpustakaan digital sangatlah murah atau tidak mengeluarkan banyak biaya karena tidak sebanding dengan membeli buku fisik, meski pada awalnya perpustakaan digital memerlukan biaya yang besar karena membutuhkan infrastruktur dan koleksi yang tergolong mahal. 4) Pemeliharaan koleksi secara digital, perpustakaan digital memiliki banyak ruang untuk menyimpan koleksi tanpa perlu mengkhawatirkan ruang penuh maka dari itu koleksi dalam digital ini sangatlah efisien. 5) Mencegah duplikasi dan plagiat, koleksi perpustakaan digital sangatlah efisien dan aman karena tidak bisa untuk di duplikat dikarenakan hanya bisa untuk dilihat atau dibaca tidak bisa untuk diedit. 6) Publikasi karya secara global, dengan bantuan akses internet, penelusuran dan publikasi bisa dilakukan secara global ke seluruh dunia. Selain kelebihan, perpustakaan digital juga mempunyai kekurangan. Kekurangan perpustakaan digital diantaranya: 1) Tidak semua penulis atau pengarang ingin karyanya untuk digitalisasikan. 2) Sebagian masyarakat yang tidak mengerti atau buta dalam teknologi. 3) Di daerah perkotaan saja masih banyak golongan masyarakat yang masih kurang mengerti dengan cara menggunakan teknologi yang ada misalnya, orang tua yang dapat dikatakan “gagap teknologi”, terlebih jika dilakukan di pedesaan, karena mayoritas di desa masih belum banyak tahu tentang teknologi yang ada. 4) Masih banyak pustakawan-pustakawan yang masih belum mengerti akan cara mendigitalisasi koleksi perpustakaan. Maka dari itu dibutuhkannya program untuk penyuluhan dan mensosialisasikan tata cara dalam mendigitalisasi perpustakaan. 5) Dengan adanya perpustakaan digital, tenaga kerja yang berada di bidang ini menjadi berkurang dikarenakan sistem yang digunakan sudah serba digital. 6) Jika akses terhadap jaringan terputus, maka tidak dapat mengakses koleksi perpustakaan digital. 7) Perpustakaan konvensional menjadi sepi lantaran pemustakapemustaka lebih memilih menggunakan perpustakaan digital karena bisa diakses kapanpun tanpa harus mengunjunginya. Beberapa permasalahan lain yang sering ditemui dalam program perpustakaan digital antara lain bahan dokumen yang diterima memiliki bentuk fisik seperti buku atau kertas bukan dalam bentuk elektronik atau dokumen file dan penarikan biaya pada perpustakaan digital ketika ada yang ingin mengakses dokumen tertentu. Selain sebagai penyedia informasi, perpustakaan digital juga memiliki peran dalam mengupayakan, mendukung, mengoptimalkan, menaikan kualitas diri, dan memenuhi kebutuhan individu seperti minat baca. Minat baca berasal dari kata “interest” yang artinya sebuah ketertarikan pada suatu hal tertentu. Setiap individu memiliki ketertarikan atau minat yang berbedabeda dalam berbagai bidang, hal tersebut tidak bisa dipaksakan tetapi bisa diusahakan dan dipelajari perlahan. Pada tahun 2017, data dari World’s Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State University Amerika Serikat mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara partisipan survei dalam kemampuan literasi. Ratarata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar Indonesia berdasarkan data dari Indonesia National Assesment Program tahun 2016 yang dilaksanakan oleh Penelitian Pendidikan mencapai 46,83%. Berdasarkan rata-rata tersebut, Indonesia berada di kategori kurang. Hanya 6,06% yang berada di kategori baik dan 47,11 berada di kategori cukup (Tahmidaten & Krismanto, 2000:8). Selain itu, UNESCO juga telah membagikan informasi mengenai tingkat minat membaca di Indonesia, yaitu mencapai 0,001 yang berarti dari 1.000 orang hanya ada satu orang yang mempunyai minat baca. Pada negara anggota ASEAN lainnya, minat membaca mencapai dua sampai tiga buku dalam satu tahun.Maka dari itu, minat baca di Indonesia lebih rendah dari anggota negara ASEAN. Bila dibandingkan lagi dengan Amerika dan Jepang, penduduk masing-masing negara tersebut membaca 10-20 buku dan 10-15 buku per tahunnya (Permatasari, 2015:147). Salah satu faktor utama penyebab rendahnya literasi atau minat baca di Indonesia rendah karena belum adanya kebiasaan membaca sejak dini. Masa anak-anak merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan karakter, sehingga bila kebiasaan membaca telah ditanamkan sejak dini, pada masa yang akan datang anak tersebut telah terbiasa dengan hal membaca. Faktor lain penyebab rendahnya literasi adalah berkembangnya teknologi informasi. Saat ini, teknologi informasi sudah sangat berkembang, seperti halnya televisi, gadget, dan lain-lain. Banyak orang lebih tertarik untuk menonton TV atau menggunakan gadget dibandingkan membaca buku. Sehingga minat baca di Indonesia pun kian menurun (Nafisah, 2014:5). Faktor lain karena kesalahan persepsi terhadap konsep kemampuan membaca yang dialami sebagian masyarakat di Indonesia, termasuk siswa dan guru. Orang tua dan guru menganggap kemampuan membaca telah selesai ketika siswa sudah bisa menulis dan membaca. Sedangkan pada jenjang yang lebih tinggi perhatian pengajaran membaca lebih lanjut belum ditanamkan secara berkelanjutan. Sebab lain karena sebagain besar masyarakat masih mengandalkan mata pelajaran bahasa saja yang mampu mengembangkan kemampuan membaca siswa. Padahal mata pelajaran selain bahasa pun memerlukan kemampuan membaca, bahan bacaan dan latihan soal yang disediakan juga tergolong keterampilan cara berpikir rendah. Kurikulum 2013 dibuat agar siswa dapat berpikir dengan kritis atau tinggi (higher order thinking skill), tetapi kenyataannya pada soal-soal yang tertera masih seputar pertanyaan 5W+1H. Kemudian minimnya sarana prasarana perpustakaan di sekolah maupun ruang publik yang seharusnya berfungsi sebagai alat pengembangan membaca masyarakat juga termasuk faktor penyebab rendahnya minat membaca. Banyak sekolah yang tidak memfasilitasi ruang perpustakaan dengan sempurna seperti menaruh ruang perpustakaan di pojok sudut, tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan penataan yang kurang menarik sehingga siswa malas untuk datang ke perpustakaan. Faktor penyebab selanjutnya yaitu proses pembelajaran di sekolah dasar belum memanfaatkan metode dan strategi media pembelajaran yang beragam. Saat ini, metode dan strategi yang digunakan pada pembelajaran masih sangat monoton, yaitu membaca bacaan dan menjawab pertanyaan, sehingga aktivitas membaca dan belajar pun dianggap membosankan (Tahmidaten & Krismanto, 2000:30). Faktor emosional individu juga sangat berperan penting karena jika mood seseorang sedang tidak baik, maka segala sesuatu yang dikerjakannya tidak akan berjalan efektif dan faktor ini menjadi pemicu enggan membaca buku. Faktor penyebab terakhir merupakan kondisi lingkungan, lingkungan sekitar memiliki peran penting, karena jika di sekitar tidak ada yang gemar membaca, maka tanpa disadari akan diikuti yang lain. Sebaliknya lingkungan sekitar tersebut sangat menyukai dan gemar dalam membaca pasti kita akan ikut terbawa dan mulai gemar membaca (Lestari & Harisuna, 2019:196). Rendahnya minat membaca di Indonesia dapat membuat kualitas diri menjadi rendah. Rendahnya minat literasi membuat seseorang menjadi kurang mengetahui, memahami, dan menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga ia tidak akan memiliki wawasan dan pikiran yang luas atau kritis. Kurangnya wawasan yang luas dapat berdampak pada kehidupan sosial. Seseorang akan sulit berkomunikasi, sebab wawasan yang ia miliki tidak sebanyak dengan orang-orang disekitarnya. Karena rendahnya minat membaca, berita hoax mudah menyebar luas, terutama di sosial media. Masyarakat sering kali langsung menerima dan mempercayai berita yang ada tanpa mencari tahu kebenarannya. Selain itu, rendahnya literasi juga berakibat pada tidak berkembangnya kreativitas seseorang. Kegiatan membaca dapat mewujudkan pola pikir kreatif, pola pikir seseorang akan berkembang sehingga ia mampu merespon lingkungan sekitar dengan tepat. Tidak hanya berakibat pada diri sendiri, rendahnya literasi juga dapat merugikan negara. Apabila generasi muda tidak memiliki kemauan membaca, negara akan kehilangan aset sumber daya yang berkualitas untuk memajukan bangsa (Anisa et al., 01:9). Berdasarkan uraian diatas, perlu dilakukan upaya agar rendahnya literasi masyarakat dapat ditekan. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Membiasakan diri membaca buku dapat dilakukan dengan menyediakan buku-buku di rumah serta membuat aturan membaca buku saat waktu luang. Selain itu, pemerintah ataupun sekolah dapat menyediakan perpustakaan serta memfasilitasi berbagai jenis buku agar minat baca masyarakat meningkat. Tak kalah penting, setiap orang harus membatasi penggunaan gadget untuk hiburan dan mulai membiasakan diri menggunakannnya untuk membaca topik yang bermanfaat. Dengan teknologi saat ini, membaca dapat dilakukan di mana saja tanpa buku secara fisik. Gadget dapat digunakan untuk membaca e-book secara online, sehingga semakin mudah untuk membangun kebiasaan membaca dimasa sekarang (Anisa et al., 2021:5). Upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat harus dilakukan bersama-sama, tidak bisa dilakukan oleh satu individu saja. Ada faktor pendorong yang diharapkan dapat menaikan minat baca masyarakat, salah satunya yaitu memiliki ketertarikan dalam mencari informasi baru diberbagai media, baik media cetak maupun digital. Syaratnya, informasi yang disediakan harus bermutu dan bermanfaat untuk membantu proses kegiatan belajar agar lebih efektif.
Conclusion
Rendahnya minat baca masyarakat perlu dicarikan solusinya. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Membiasakan diri membaca buku dapat dilakukan dengan menyediakan buku-buku di rumah serta membuat aturan membaca buku saat waktu luang. Selain itu, pemerintah ataupun sekolah dapat menyediakan perpustakaan serta memfasilitasi berbagai jenis buku agar minat baca masyarakat meningkat. Tak kalah penting, setiap orang harus membatasi penggunaan gadget untuk hiburan dan mulai membiasakan diri menggunakannnya untuk membaca topik yang bermanfaat. Dengan teknologi saat ini, membaca dapat dilakukan di mana saja tanpa buku secara fisik, untuk itu perlu dibangun perpustakaan digital yang dapat diakses dengan menggunakan teknologi informasi. Perpustakaan digital memanfaatkan teknologi modern, sebagian besar koleksinya dalam format digital yang dapat diakses melalui jaringan komputer. Kelebihan perpustakaan digital adalah: long distance service, mudah diakses, murah (cost effective), pemeliharaan koleksi secara digital, mencegah duplikasi/ plagiat, dan publikasi karya secara global. Kelemahan perpustakaan digital, yaitu tidak semua penulis ingin karyanya didigitalisasikan, masih banyak warga Indonesia yang tidak mengerti teknologi, masih banyak pustakawan yang belum mengerti proses digitalisasi koleksi, dengan adanya perpustakaan digital, tenaga kerja yang berada di bidang ini menjadi berkurang, jika akses terhadap jaringan terputus maka tidak dapat mengakses koleksi, perpustakaan konvensional sepi karena pemustaka lebih memilih menggunakan perpustakaan digital karena bisa diakses lebih fleksibel, kapan pun tanpa harus mengunjunginya.