Kembali
16
1
2022 Media Sains Informasi dan Perpustakaan Vol 2 · 1 ISSN 2808-4659

INFORMATION LITERACY SKILLS: PENELUSURAN ERESOURCES DAN PENULISAN SITASI BERBASIS MENDELEY REFERENCE MANAGER

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Keberadaan teknologi informasi telah berdampak drastis terhadap pemenuhan informasi masyarakat yang semakin kompleks. Internet menjadi acuan utama dalam pencarian informasi. Dalam hitungan per-second, berbagai informasi dan konten digital tercipta dan disebar melalui internet yang kemudian terangkum menjadi big data. Kecakapan mengidentifikasi, menelusur, memanfaatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara etis yang diperoleh di internet sangat diperlukan oleh pemustaka terutama kaum pelajar dan mahasiswa dalam menemukan solusi dari setiap permasalahan dalam pembelajaran. Pelatihan Information Literacy Skills (ILS) khususnya penelusuran eresources merupakan bentuk performa pustakawan untuk memberikan pendidikan pemustaka agar pemustaka melek terhadap sumber-sumber pustaka online. Selain penelusuran eresources, pustakawan juga dapat memberikan materi penulisan sitasi otomatis berbasis mendeley reference manager. Aplikasi Mendeley merupakan aplikasi reference manager yang digunakan untuk mempermudah penulis dalam membuat sitasi dan daftar pustaka secara praktis dan otomatis berbasis teknologi informasi.

Abstract

The existence of information technology has had a drastic impact on the fulfillment of increasingly complex public information. The internet is the main reference in finding information. In a matter of per-second, various digital information and content are created and disseminated via the internet which is then summarized into big data. The ability to identify, trace, utilize, evaluate and use information ethically obtained on the internet is very much needed by users, especially students and students in finding solutions to every problem in learning. Information Literacy Skills (ILS) training, especially in searching eresources, is a form of librarian performance to provide user education so that users are literate on online library resources. In addition to searching eresources, librarians can also provide automatic citation writing materials based on the Mendeley reference manager. The Mendeley application is a reference manager application that is used to make it easier for writers to make citations and bibliography practically and automatically based on information technology.
Keywords: eresources · literasi informasi · mendeley reference manager · penelusuran informasi

Introduction

Keberadaan teknologi informasi telah berdampak drastis terhadap pemenuhan informasi masyarakat yang semakin kompleks. Internet menjadi acuan utama dalam pencarian informasi. Beraneka ragam informasi elektronik dari berbagai ranah kehidupan baik pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, kesehatan, dan lainnya tersedia di internet. Hal inilah yang memicu terjadinya ledakan informasi yang sering disebut dengan big data. Menurut Arthur, L (2013) dalam terbitan Forbes mengungkapkan bahwa big data adalah kumpulan data baik tradisional maupun digital yang menjadi sumber kelanjutan informasi baru dan analisis. Informasi baru yang diproduksi di seluruh dunia hampir dalam hitungan per secon ter-update di dunia maya. Fenomena ledakan informasi nyaris tidak dapat dikontrol. Terkait dengan hal tersebut, telah terjadi perubahan pula dalam cara menangani, memperoleh, mengumpulkan dan mengorganisasikan sumber daya informasi yang didapat dari internet seperti yang dikutip dari Hasugian, J. (2006). Dampak adanya teknologi informasi juga masuk ke ranah pendidikan atau akademis. Hal ini ditunjukkan dari kecenderungan peningkatan pencarian dan pemanfaatan sumber daya informasi di lingkungan akademik melalui penelusuran secara online. Di era milenial, internet telah menempatkan dirinya sebagai pusat informasi bebas hambatan tanpa batasan ruang dan waktu. Melalui internet, berbagai jaringan informasi dapat berintegrasi dalam menyediakan e-resources yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berbagai search engine seperti google, yahoo, msn, database akademis, dan lainnya digunakan untuk memperoleh informasi yang diinginkan. Untuk menghindari informasi yang tidak valid, tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka disinilah diperlukan kompetensi literasi informasi. Keterampilan literasi informasi (information literacy skills) merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh generasi digital native dalam hal mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara benar. Menurut ALA (American Library of Association), seseorang dinyatakan melek informasi jika dapat mengakses informasi dengan efisien dan efektif, mengevaluasi informasi dengan kritis dan kompeten, dan menggunakan informasi dengan kreatif dan akurat. Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa LI merupakan kemampuan untuk mengenali, mencari, memakai, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara benar. Perpustakaan berfungsi untuk menyediakan sumber informasi dan melayankannya kepada pemustaka. Seiring perkembangan teknologi informasi, maka perpustakaan telah melakukan berbagai inovasi untuk dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Hal ini dilakukan untuk dapat mengimbangi paradigma net-generation dimana kultur informasi dan komunikasi telah bertransformasi dalam bentuk digital. Fenomena digitalisasi tersebut membawa perubahan mendasar terhadap peran pustakawan yang tidak hanya bertugas mengelola dan melayankan informasi. Namun, lebih pada sebagai teacher library (guru pustakawan) yang harus mampu membimbing pemustaka dengan membekali pemustaka dengan kompetensi literasi informasi. Hal serupa didukung oleh (Donlan & Sieck, 2016) dan (Kiviluoto, 2015) yang mengungkapkan terjadi perubahan mendasar terhadap peran pustakawan dalam rangka mengimbangi karakteristik net-generation. Ketanggapan pustakawan terhadap perubahan pola sikap dan perilaku pemustaka diwujudkan melalui perubahan bentuk layanan perpustakaan berbasis kepuasan pengguna. Pelatihan Information Literacy Skills (ILS) khususnya penelusuran eresources merupakan bentuk performa pustakawan untuk memberikan pendidikan pemustaka agar pemustaka melek terhadap sumber-sumber pustaka online. Hal ini penting untuk diketahui pemustaka dalam pemenuhan referensi pembelajaran, pendidikan dan penulisan karya ilmiah yang sarat dengan kebutuhan sumber-sumber pustaka ilmiah yang ter-update dan terpercaya. Eresources atau elektronic resources merupakan sumber pustaka yang disajikan secara elektronik dan diakses secara online. Perubahan format sumber pustaka tercetak ke bentuk elektronik merupakan dampak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Keefektifan dan keefisienan yang diperoleh dengan menggunakan teknologi informasi menjadi dasar bagi masyarakat untuk lebih mencintai produk berbasis digital. Oleh sebab itu, perpustakaan terus berbenah untuk memperbaharui sistem pelayanan supaya dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka yang memiliki karakteristik digital native, yang menyukai segala sesuatu serba online, menarik, menyenangkan, serba instan, berjejaring dan multitasking. Bagi para akademisi yang bergulat dengan lingkungan ilmiah sering merujuk sumber informasi ilmiah dalam menunjang karya tulisnya. Terkait dengan pemanfaatan informasi online, Nugraha, A. (2009) mengemukakan bahwa keterbukaan terhadap akses informasi memicu suburnya tindak copy paste atau plagiarisme dikalangan akademis. Menurut wikipedia, plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Terkait dengan isu plagiarisme dalam kalangan akademis, Aziz, A.D (2015) mengungkapkan bahwa dalam membuat karya ilmiah tidak hanya diperlukan kemampuan dalam menyusun atau mengorganisasi kata-kata menjadi sebuah karya tulis, namun diperlukan pula keterampilan penunjang lainnya yang tidak kalah penting dalam menjaga orisinilitas tulisan agar tidak melanggar kode etik ilmiah. Kompetensi yang dimaksud adalah keterampilan penulisan sitasi dan daftar pustaka. Dengan mengetahui metode penulisan karya ilmiah dan kode etik penulisan ilmiah, maka diharapkan para akademisi dapat menghasilkan karya tulis yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehubungan dengan tindak pencegahan plagiarisme, Collela, J. (2015) mengungkapkan bahwa perlu adanya strategi pengajaran tentang plagiarisme merujuk pada temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa penyebab utama maraknya plagiarisme pada kalangan akademis disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang plagiarisme dan bagaimana cara menghindarinya. Pustakawan sebagai pelayan informasi berperan penting dalam menyikapi fenomena plagiarisme dikalangan akademis, yaitu melalui kegiatan literasi informasi. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang keterampilan literasi informasi yaitu penelusuran e-resources dan penulisan sitasi berbasis Mendeley Reference Manager. Aplikasi Mendeley merupakan aplikasi yang digunakan untuk mempermudah penulis dalam membuat sitasi dan daftar pustaka secara praktis dan otomatis berbasis teknologi informasi.

Discussion

Definisi dan Standar Kompetensi Literasi Informasi Pada dasarnya kehadiran literasi informasi (LI) adalah untuk meningkatkan pemahaman dan pengarahan pemustaka dalam menemukan informasi. Konsep LI pertama kali dikemukakan oleh Zurkowski yang menyatakan bahwa orang yang terlatih untuk menggunakan sumber-sumber informasi dalam menyelesaikan tugas mereka disebut orang yang melek informasi (information literate) (Behrens: 1994). Konsep tersebut sejalan dengan pendapat Burchinal dalam Naibaho (2007) yang menyatakan bahwa untuk menjadi orang yang melek informasi, dibutuhkan serangkaian keahlian, antara lain bagaimana cara mencari dan menggunakan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara efektif dan efisien. Selanjutnya, Australian and New Zealand Information Framework dalam Iman (2013) menyatakan bahwa orang yang melek informasi adalah mereka yang dapat: a. Recognize a need for information and determine the extend of information needed. b. Fine needed information effectivelly and efficiently c. Critically evaluate information and the information seeking process d. Manages information collected or generated e. Applies prior and new information to costruct new concepts or create new understanding f. Uses information with understanding and acknowledges cultural, ethical, economic, legal, and social issues surrounding the use of information. Menurut ACRL (Association of College and Research Libraries) dalam Dolnicar, P. dan Bartol (2016) mengungkapkan bahwa LI adalah seperangkat kemampuan seseorang untuk mengenali kapan informasi diperlukan, dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara efektif. Sistem Temu Balik Informasi atau Information Retrieval Menurut Manning, C.D (2009) mendefinisikan information retrieval sebagai penemuan informasi atau dokumen yang tak terstruktur (umumnya berupa text) dari kumpulan besar informasi untuk memberi kepuasan pada pengguna informasi. Selanjutnya, Hasugian, J. (2006) mengungkapkan bahwa konsep dasar dari information retrieval/temu balik informasi adalah proses untuk mengidentifikasi kecocokan (match) diantara permintaan (query) dengan representasi atau indeks dokumen kemudian mengambil (retrieve) dokumen dari suatu simpanan (file) sebagai jawaban atas pemintaan tersebut. berdasarkan definisi tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa information retrieval adalah proses penemuan kembali informasi yang relevan yang telah tersimpan dalam gudang informasi (seperti komputer) dengan memperhatikan kecocokan permintaan dengan perwakilan dokumen. Dengan kata lain dapat information retrieval dapat diistilahkan dengan pemanggilan kembali informasi yang telah disimpan. Untuk itu dapat dianalisis bahwa dalam inromation retrieval terdapat beberapa proses yang harus disiapkan yaitu dari pengolahan atau orgasisasi informasi terutama menentukan tajuk subjek untuk dijasikan pencocokan dengan query, penyimpanan, identifikasi informasi, dan penelusuran informasi. Untuk mempermudah pemahaman, proses information retrieval dapat digambarkan sebagai berikut. Bagan 01 Proses pencocokan query dan indeks dokumen Berdasarkan bagan 01, maka dapat dijelaskan bahwa proses temu balik informasi dapat dimulai dari adanya permintaan (query) dan setelah proses pencocokan maka akan dimunculkan daftar indeks yang relevan dengan query tersebut. Sebagai contoh: query terhadap topik “sapi madura” akan dicocokkan dengan daftar subjek indeks dari yang mewakili dokumen seperti: “sapi, lembu, hewan, ternak, hewan kurban,..”. Dari hasil pencocokan tersebut, pengguna dapat memilih informasi yang paling relevan dengan topik yang dicari, sehingga dapat mencapai kepuasan pengguna. Jadi, tujuan utama dari dikembangkannya sistem temu balik informasi adlah kepuasan terhadap pengguna informasi. Terkait dengan hal itu, tugas pustakawan dalam membuat analisis subjek dari materi perpustakaan sangatlah penting untuk memperoleh ketepatan dalam penelusuran. Strategi Penelusuran Sumber Pustaka Penelusuran pustaka merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan informasi yang relevan sebagai bahan masukan bagi karya tulis ilmiah yang akan dibuat oleh seorang penulis/peneliti. Proses penelusuran tersebut mencakup beberapa fase, yakni mencari, menyeleksi, dan memilih informasi yang diperlukan. Hal itu berarti bahwa penelusuran daftar pustaka tidak hanya tentang menemukan informasi yang relevan, tetapi juga tentang evaluasi terhadap informasi tersebut dalam hal kelayakan dan ketepatan untuk dikutip/dibahas dalam karya penulis. Secara singkat strategi pencarian online diperlukan karena: (a) informasi yang tersedia sangat banyak dan luas dan beraneka ragam, (b) untuk memperoleh informasi yang relevan, (c) untuk menghemat waktu pencarian, dan (d) untuk mempermudah pencarian. Bagi seorang penelusur, penelusuran digunakan untuk : (a) menemukan masalah untuk ide yang menarik dan bermanfaat. (b) membandingkan karya terdahulu sebagai pendukung bahan penulisan (c) membantu memilih desain atau metodologi penelitian (d) membantu menghindari kesalahan penelitian terdahulu. Jenis-jenis penelusuran pustaka berdasarkan alat Pencarian dan Jenis Dokumen/Informasi yang diperoleh dapat dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Penelusuran Pustaka berdasarkan Alat Pencarian dan Jenis Dokumen/Informasi (Gash, 2000) No Sumber/Alat Pencarian Dokumen/Informasi yang diperoleh 1 Katalog Perpustakaan Kebanyakan berupa Buku, tapi terkadang juga laporan, prosiding, koleksi multimedia atau audio visual, terbitan berkala, tabloid, dll 2 Buku Bibliografi Buku, seringkali berupa laporan, prosiding konferensi, dan publikasi monografi lainnya. 3 Abstrak dan Indeks Jurnal Artikel jurnal, tapi juga laporan, makalah konferensi, terkadang buku, paten, dan juga standar. 4 Current Awareness Services Biasanya berupa Artikel Jurnal, Majalah atau Terbitan Berkala 5 Indeks Khusus Laporan, prosiding konferensi, tesis, disertasi, paten, standar, dan publikasi resmi dari institusi 6 Lembaga dan Orang Apapun 7 Database Elektronik Sumber-sumber elektronik yang berupa data, artikel, makalah, audio-visual, dll 8 Sumber-sumber Online Apapun khususnya sumber-sumber digital seperti artikel, buku, gambar, video, dll. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Pencarian Banyak tersedia fasilitas pencarian pada search engine, secara umum fasilitas tersebut hampir ada pada mesin pencari seperti : - Logika Boolean (Boolean logic) AND , OR , NOT, pada saat menelusur bisa memperluas maupun memfokuskan dengan menggunakan operator ini - Frasa (Phrasesearch), yaitu penggabungan beberapa kata agar tidak tidak ditelusur secara terpisah oleh mesin pencari - Pemenggalan (Truncation), yaitu fasilitas untuk pemenggal kata - Pembatasan field, fasilitas ini dipergunakan untuk penelusur yang ingin membatasi format tertentu yang diinginkan, misalnya format pdf., ppt., doc dan sebagainya - Langsung ke alamat situs (URL) tertentu yang kita inginkan - Case sensitive , yaitu pencarian dengan huruf besar dan huruf kecil yang akan menghasilkan temuan berbeda - Dan masih banyak lag ifasilitas pencarian yang tersedia pada search engine, misalnya penelusuran dengan menggunakan Basic search, Advanced Search, Publication search, dan sebagainya. Penulisan Sitasi Berbasis Mendeley Reference Manager Aplikasi Mendeley dapat diunduh secara gratis di internet. Penggunaan aplikasi Mendeley dapat dalam format offline maupun online. Namun, biasanya digunakan yang versi online untuk kemudahan upgrade sistem. Berikut adalah beberapa tampilan aplikasi Mendeley Reference manager: (1) Tampilan depan aplikasi Mendeley (2) Tampilan menu add file untuk di sitasi (3) Tampilan add file manualy (4) Tampilan memilih model sitasi (5) Tampilan koleksi yang tersimpan dalam mendeley reference manager (6) Tampilan membuat sitasi otomatis mendeley (7) Tampilan daftar pustaka otomatis mendeley Pemanfaatan mendeley reference manager dalam mensitasi dan membuat daftar pustaka otomatis sangat mudah dilakukan dan memberi manfaat yang tinggi bagi penulis atau pelajar atau mahasiswa dalam membuat karya ilmiah. Kekhawatiran yang biasanya dimiliki penulis saat menuliskan daftar pustaka yang benar sesuai aturan dapat diminimalisir melalui aplikasi reference manager ini. Selain manfaat tersebut, melalui aplikasi mendeley reference manager, para penulis juga dapat memiliki elibrary sendiri dan membangun jaringan akademis yang berguna untuk berbagi informasi.

Conclusion

Dampak dari perkembangan teknologi informasi telah menggiring perubahan secara fundamental dalam dunia ilmu informasi dan perpustakaan. Penyediaan informasi dalam format elektronik, pengorganisasian informasi, dan pelayanan informasi telah bertransformasi dalam bentuk digital berbasis teknologi informasi. Terkait dengan hal itu, kompetensi literasi informasi menjadi hal yang bersifat urgen bagi pengguna informasi agar dapat mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan, dimana memperoleh informasi, bagaimana cara memanfaatkannya, serta bagaimana cara mengevaluasi informasi agar dapat digunakan secara efektif dan efisien sesuai kode etik. Makalah ini telah menguraikan tentang keterampilan literasi informasi terutama tentang penelusuran e-resources dan penulisan sitasi berbasis Mendeley Reference Manager. Keterampilan literasi informasi tersebut diharapkan dapat menambah kompetensi pengguna informasi dalam menyikapi ledakan informasi, sehingga dapat memanfaatkan dan memproduksi kembali informasi sesuai dengan kode etik ilmiah.