Kembali
16
1
2023 Media Sains Informasi dan Perpustakaan Vol 3 · 1 ISSN 2808-4659

LEARNING COMMONS: UPAYA PERPUSTAKAAN UNDIKSHAMENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR BAGI PEMUSTAKAGENERASI DIGITAL

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat telah mentransformasi konsepperpustakaan menjadi pusat belajar atau learning commons. Konsep perpustakaan sebagai learningcommons berupaya menyediakan ruang agar pemustaka dapat berkegiatan atau belajar, berdiskusisekaligus bersantai di perpustakaan. Learning commons merupakan sebuah konsep untukmemanfaatkan ruang-ruang yang ada di perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengansarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapatdiakses secara bebas dan mandiri guna mendukung proses pembelajaran. Implementasi konseplearning commons di perpustakaan Undiksha telah dilakukan dengan menyediakan berbagai fasilitasdan layanan seperti menyediakan ruang berdiskusi, belajar, ruang lesehan, komputer, internet, koleksieresources, coffee longue, area reading garden dan lainnya, sehingga perpustakaan tetap menjadireferensi untuk dikunjungi sebagai tempat belajar sekaligus bersantai. Mengingat pentingnya konsepperpustakaan sebagai learning commons, maka perpustakaan Undiksha dan jenis perpustakaanlainnya dapat melakukan berbagai inovasi untuk menyediakan fasilitas dan layanan bagi pemustaka diera digital.

Abstract

The rapid development of information and technology has transformed the concept of a libraryinto a learning center or learning commons. The concept of the library as a learning commons seeksto provide space so that users can carry out activities or study, discuss and relax in the library.Learning commons is a concept to utilize existing spaces in the library as a place for learningequipped with facilities and infrastructure that support technological advances and are in one locationthat can be accessed freely and independently to support the learning process. The implementation ofthe concept of learning commons in the Undiksha library has been carried out by providing variousfacilities and services such as providing discussion rooms, study, sitting rooms, computers, internet,eresources collections, coffee lounges, reading gardens area and others, so that the library remains areference to visit as a place of study. relaxing at the same time. Given the importance of the conceptof the library as a learning commons, the Undiksha library and other types of libraries can carry outvarious innovations to provide facilities and services for users in the digital era.
Keywords: era digital · generasi digital · learning commons

Introduction

Perubahan konsep perpustakaan dari pusat informasi yang menyediakan berbagai sumber belajar seperti buku, jurnal, karya ilmiah dan lainnya, menjadi pusat belajar ataudiistilahkan dengan learning commons terjadi seiring perkembangan teknologi informasi dankomunikasi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat berimplikasi padaperubahan karakter pemustaka di era digital. Karakter pemustaka era digital cenderungmenyukai untuk mengakses informasi melalui perangkat digitalnya seperti laptop dansmartphone yang dilengkapi dengan internet. Kemudahan akses informasi digital melalui internet telah menggeser konsep perpustakaan sebagai pusat informasi, bahwa pemustakadapat memperoleh informasi di mana saja dan kapan saja tanpa harus datang keperpustakaan. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat telah menimbulkan keresahanpada lingkungan perpustakaan. Jika internet terus mendominasi dan jika hampir semuainformasi baik ilmiah maupun hiburan dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakatakademik bahkan dalam berbagai bentuk (file, teks, audio, video) kapanpun dan dimanapunlalu apakah keberadaan perpustakaan masih dibutuhkan? Seperti yang dikatakan olehStewart (2009: 1) perkembangan teknologi informasi yang terus meningkat telahmenyebabkan munculnya berbagai macam pertimbangan tentang keberadaan bangunanperpustakaan. Pertanyaan tentang bagaimana desain fungsi dan pemanfaatan ruangperpustakaan yang dapat bermanfaat dan dimanfaatkan oleh pemustakanya juga mulai menjadi topik diskusi yang hangat di kalangan peneliti, pustakawan, dan pemerhati perpustakaan. Menjawab keresahan dan pertanyaan tersebut Donald Beagle menawarkansuatu ide untuk merubah konsep, bentuk, dan desain ruang perpustakaan menjadi sesuatuyang menarik untuk mewadahi dan memfasilitasi kebutuhan generasi digital terhadap ruangyang dapat dimanfaatkan sebagai tempat melakukan berbagai macam kegiatan di dalamperpustakaan dengan di dukung oleh teknologi internet dan bukan hanya memberikanpemandangan tumpukan buku di rak. Konsep ini yang kemudian dikenal dengan namaLearning Commons (Beagle, 2008). Terkait dengan fenomena perilaku pemustaka di era digital, maka perpustakaan wajibmelakukan inovasi dalam menyelenggarakan layanan perpustakaan. Upaya pengembangandan inovasi dapat dilakukan dengan memahami perkembangan gaya hidup pemustakadalam kesehariannya dan dalam pencarian informasi. Hal ini sangat signifikan karena akanmempermudah dalam upaya penyesuaian pemustaka dengan pelayanan yang diberikan.Melalui langkah ini perpustakaan dapat mengetahui dan menyesuaikan model pengembangan yang akan diwujudkan. Pada saat ini perpustakaan menghadapi perubahanparadigma masyarakat dikarenakan adanya perkembangan teknologi informasi. Fenomenaini mengakibatkan timbulnya generasi digital (digital natives), yakni mereka yang lahirsetelah tahun 1980-an, yang hidup dalam dunia teknologi informasi dan selalu terhubungdengan berbagai kalangan secara online. Karakteristik yang dimiliki oleh generasi digital adalah mereka lebih suka mencari informasi yang langsung tersedia dan melakukankegiatan bersifat kolaboratif yang dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai sertamemiliki dampak positif agar menciptakan pola-pola baru bagi pemustaka yangmemanfaatkan perpustakaan untuk keperluan bekerja, belajar atau hanya sekadar mencari hiburan. Dengan adanya fenomena ini mendorong perpustakaan menyediakan fasilitas yangsesuai agar meningkatnya angka kunjungan pemustaka. Merujuk pada karakteristik pemustaka di era digital, maka fasilitas perpustakaanhendaknya menyesuaikan dengan kebutuhan pemustaka. Tujuan diadakannya fasilitasuntuk membantu kemudahan para pemakai perpustakaan supaya mendapatkankenyamanan secara maksimal. Sejalan dengan hal tersebut, hadirnya konseplearningcommons menawarkan konsep baru pada pengelolaan serta penyediaaan fasilitas dalamdunia perpustakaan. Perpustakaan wajib merancang kembali konsep perpustakaan sebagai tempat atau lingkungan belajar. Selain pemustaka dapat membaca koleksi yang tersedia di perpustakaan, pemustaka juga dapat berdiskusi, belajar, menyelesaikan tugas, mengaksesinformasi via internet atau sekedar untuk menonton youtube di perpustakaan. Learning commons dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep untuk memanfaatkanruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengansarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri guna mendukung proses pembelajaran.Konsep learning commons menunjukkan kepada pemustaka bahwa pustakawan mampumengubah sudut pandang yang semula tertutup dan membatasi diri dengan pemustakamenjadi terbuka dalam melakukan pelayanan dan mampu berinteraksi dengan pemustaka.Learning commons lebih menekankan pada penyediaan fasilitas ruangan atau tempat bagi pemustaka baik untuk belajar secara serius maupun belajar secara santai atau bahkansekedar melakukan eksplorasi ke dalam sumber-sumber yang diminati. Munculnya learning commons akan memberikan respon baik perpustakaan danpemustakanya, sebab learning commons diadakan untuk memberikan fasilitas yangmendukung kegiatan belajar di perpustakaan. Respon merupakan reaksi artinya pengiyaanatau penolakan serta sikap acuh tidak acuh terhadap apa yang disampaikan olehkomunikator. Respon dapat dibedakan menjadi opini (pendapat) dan sikap, dimanapendapat atau opini adalah jawaban terbuka (overt) terhadap suatu persoalan dinyatakandengan kata-kata yang diucapkan atau tertulis. Sedangkan sikap merupakan reaksi positifatau negatif terhadap orang-orang, objek atau situasi tertentu. Salah satu bentuk konseplearning commons yang mendukung aktivitas belajar dan kenyamanan pemustaka di perpustakaan adalah penyediaan kafe di dalam perpustakaan perguruan tinggi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka artikel ini memiliki tujuan untukmendeskripsikan implementasi learning commons pada perpustakaan Undiksha.

Discussion

Pembahasan Learning Commons Donkai dalam Deasy Kumalawati mendefiniskan learning commonssebagai sebuahkonsep untuk memanfaatkan ruang-ruang yang ada di perpustakaan sebagai tempat belajardilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan beradadalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri guna mendukung prosespembelajaran. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa konsep learning commonsadalahmemberikan layanan dan fasilitas kepada pemustaka untuk dapat melakukan berbagai macam kegiatan seperti belajar, bekerja, melakukan penelitian, mencari informasi, sertamelakukan interaksi sosial dengan semua yang berada di perpustakaan baik itu mahasiswadengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan juga pemustaka dengan pustakawan di satu area/ lokasi. Menurut Harland, bahwa dalam menerapkan learning commonsdiperlukan tujuhlangkah yaitu: a. Berorientasi kepada pemustaka (User-centered) Perpustakaan dikatakan berhasil jika berorientasi pada kebutuhan pemustaka danbukan hanya berorientasi pada teknologi. Menerapkan learning commons tidaklah cukup jikahanya menyediakan peralatan teknologi yang berkualitas tinggi, namun lebih dari itupustakawan wajib mengetahui, mengenal, dan memahami siapa penggunanya, apa yangdibutuhkannya, apa yang biasanya dilakukan di dalam perpustakaan dan fasilitas apa yangpaling sering dicari dan dimanfaatkan di perpustakaan. Melalui cara ini pustakawan akanmengetahui bahwa kebutuhan pemustaka terus mengalami perubahan sehinggakedepannya perpustakaan dapat terus melakukan penyesuaian dengan kebutuhanpemustaka. b. Mudah disesuaikan (flexible) Pemustaka pada umumnya mencari tempat yang memberikan kebebasan untukmelakukan kegiatan sosial dan pembelajaran interaktif. Penerapan konseplearningcommons membutuhkan ruang fisik, ruang virtual, memiliki kebijakan dalam perpustakaanyang sifatnya fleksibel, dapat diukur, berkelanjutan, mudah disesuaikan dengan kebutuhanuntuk menciptakan dan merubah area belajar di perpustakaan agar sesuai dengankebutuhan serta disediakan area yang fleksibel sehingga pemustaka dapat dengan mudahmelakukan perubahan seperti memindahkan kursi dari satu tempat ke tempat lain, ataumenyatukan satu meja dengan meja yang lainnya sesuai dengan kebutuhannya. c. Pertanyaan yang berulang-ulang (repetitive question) Sebuah perpustakaan memiliki pemustaka dengan beraneka ragam karakter dankebutuhan. Pustakawan tentu harus memiliki cara khusus untuk menanganinya. Seringkali pustakawan mendapatkan atau menerima pertanyaan yang sama dari berbagai pemustaka.Adapun tips khusus yaitu dengan mencatat semua pertanyaan tersebut, memberikan respondengan menyediakan apa yang mereka butuhkan, membuat panduan tentang perpustakaanatau layanan dan melengkapi rambu informasi di perpustakaan. d. Bekerjasama dengan penyedia informasi (join resources) Salah satu layanan yang perlu disediakan dalam penerapan learning commonsadalahmenyediakan akses informasi yang terintegrasi dengan teknologi sehingga melalui satu pintuseluruh masyarakat akademik (staf, fakultas, mahasiswa, dosen) dapat memperolehinformasi apapun yang dibutuhkan. Layanan ini berada pada satu lokasi sehingga dapatmemberikan kemudahan untuk memperoleh kebutuhan informasinya. e. Menghapus hambatan (remove barriers) Menurut Harland, ada tiga hambatan yang harus dihapus yaitu fisik, hambatanemosional, dan hambatan virtual. Hambatan fisik misalnya ruang perpustakaan yang tidaknyaman bagi pemustaka, bahan pustaka tidak terawat, koleksi perpustakaan yang kurangmemadai. Hambatan emosional misalnya sikap dan perilaku pustakawan yang acuh atautidak ramah kepada pemustaka, hambatan virtual misalnya website layanan yang diproteksi (terdapat kata kunci), akses jaringan yang lambat. Upaya yang perlu dilakukan yaitumenghapus hambatan-hambatan tersebut. Cara menghilangkan batas antara pemustakadan pustakawan, hal ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan karenapada umumnya pustakawan sangat tertutup dan membatasi akses pemustaka di pepustakaan. Melalui konsep learning commons Harland menegaskan bahwa pemustakaseringkali merasa tidak nyaman jika melihat pustakawan yang serius bekerja dan beradadibalik monitornya, seolah mengatakan tidak ada yang boleh menganggu. Untuk alasaninilah pustakawan merasa nyaman ketika berada di perpustakaan. f. Percaya pada pengguna (trust your users) Sumber informasi dan fasilitas yang ada diperpustakaan disediakan tentu tujuannyaadalah untuk pemustaka agar dapat memanfaatkan secara maksimal. Ketika perpustakaantelah menciptakan sebuah lingkungan saling percaya, maka pengguna akan senangberkunjung dan menikmati layanan yang disediakan oleh pihak perpustakaan. Melalui konsep learning commons hal penting yang perlu diperhatikan adalah menciptakankepercayaan kepada pemustaka sehingga pemustaka juga akan mulai memberikankepercayaannya kepada perpustakaan. g. Melakukan publikasi (publicize) Setiap kesempatan yang ada dapat diambil untuk melakukan publikasi perpustakaandengan tujuan supaya perpustakaan selalu dikenal dan dekat dengan seluruh masyarakatakademik. Salah satunya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat beritaperpustakaan yang secara rutin hadir dalam periode tertentu. Berita perpustakaan bisaberisi artikel, daftar koleksi terbaru, kegiatan, ataupun sharing pengetahuan dari pustakawan. Sedangkan tujuan dari penerapan konsep learning commons yang diterapkan di perpustakaan akademik memiliki beberapa tujuan, yaitu: a. Untuk menarik minat pemustaka dalam belajar, bekerja dan melakukan kegiatanlainnya di dalam perpustakaan b. Adanya pembelajaran yang kolaboratif. c. Mengantisipasi lingkungan dan cara mahasiswa belajar. d. Menciptakan suasana yang terbuka di perpustakaan Maka berdasarkan beberapa teori yang telah disampaikan dapat diambil garis besarbahwa konsep learning commons memiliki beberapa aspek penting yaitu: a. Library as place yang memberikan fokus kepada tersedianya area-area di perpustakaan untuk mewadahi kebutuhan pemustaka terhadap ruangan, b. Library as one-stop shopping dengan menyediakan layanan dan fasilitas yangmendukung kegiatan pembelajaran pada satu area sehingga memberikankemudahan akses bagi pemustaka, dan c. Library as community hub yaitu difungsikannya area perpustakaan untuk tempatberkumpulnya semua komunitas kampus dengan menyelenggarakan program/kegiatan di perpustakaan yang secara langsung melibatkan pemustaka. Berdasarkan hal tersebut, learning commons muncul dikarenakan adanya pengaruhpola hidup pemustaka yang berubah. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menciptakankonsep kekinian yang sesuai dengan karakteristik pemustaka saat ini. Hal ini juga pentingdilakukan perpustakaan karena perpustakaan adalah sarana pembelajaran sepanjang hayatyang bisa diakses oleh pemustaka dengan berbagai sarana dan fasilitas yang membuatpemustaka tertarik untuk menghabiskan waktu di perpustakaan. Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Ide Learning CommonsDiana Chan dan Gabrielle Wong (2013: 46) mengungkapkan beberapa faktor yangmempengaruhi hadirnya konsep learning commons: a. Pemustaka cenderung menolak untuk berkunjung ke perpustakaan. Sivitasakademik merasa tidak perlu lagi berkunjung ke perpustakaan karena semuaakses informasi dan koleksi digital (e-journals, e-book, e-resources) dapat diakses secara langsung dimanapun dan kapanpun melalui perangkat elektronik/perangkat mobile. b. Rendahnya pandangan dari perpustakaan dan pustakawan tentang hadirnyakoleksi digital. Saat perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digitalnyadengan membeli dan menyediakan sebanyak-banyaknya koleksi dalam formatdigital nampaknya koleksi cetak kurang mendapatkan perhatian sehingga yangtersedia hanyalah koleksi lama. c. Perubahan pola belajar pemustaka akademik di era digital. Pemustaka saat ini masuk dalam generasi digital, kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka pada umumnya belajar dengan mendengarkanmusik, menikmati makanan kecil dan melakukan akses internet seperti menjawabemail, chat online, dan sesekali aktif di sosial media. Menanggapi pola belajar yang seperti ini perpustakaan perlu menyediakan ruanganyang fleksibel dan nyaman. Jika perpustakaan masih saja bertahan dengan konsepperpustakaan tradisional maka pemustaka juga akan enggan untuk berlama-lama berada di perpustakaan. Melihat adanya faktor-faktor tersebut jelas bahwa perpustakaan perlu untuk melakukanpengembangan dan perubahan konsep pengelolaan perpustakaan. Donkai dalam jurnalnyaAcademic Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of LearningCommons menyampaikan fenomena yang terjadi pada perpustakaan akademik di AmerikaUtara pada awal tahun 1990 yaitu munculnya bentuk baru ruang-ruang belajar di perpustakaan yang disebut sebagai learning commons. Implementasi Learning Commons di Perpustakaan Undiksha Mengingat adanya perubahan konsep perpustakaan sebagai learning commons,perpustakaan Undiksha telah berupaya melakukan beberapa perubahan baik fasilitasmaupun layanan. Berikut adalah beberapa hal yang telah diupayakan oleh perpustakaanUndiksha dalam menciptakan konsep perpustakaan sebagai learning commons. a. Menyediakan fasilitas wifi dengan kecepatan tinggi sehingga pemustakadapat mengakses internet dengan tanpa gangguan. b. Menyediakan meja, kursi, sofa dan tempat duduk lesehan berupa karpet danmeja kecil untuk tempat pemustaka berdiskusi, baca buku, mengerjakan tugasataupun sekedar bersantai. c. Menyediakan coffee longue dan stand makanan serta minuman kecil sehingga mahasiswa dapat belajar dan bersantai sambil menikmati minumanataupun makanan kecil. d. Menyediakan ruang diskusi dan ruang seminar, sehingga pemustaka dapatbelajar secara berkelompok. e. Menyediakan komputer bagi pemustaka yang tidak membawa laptop,sehingga mereka tetap dapat belajar dan menyelesaikan tugas. f. Menyediakan areal reading garden diluar area perpustakaan untuk tempatbersosialisasi dan berkolaborasi secara santai. g. Menyediakan koleksi eresources berupa jurnal danebooksehinggapemustaka dapat mengakses sumber elektronik di perpustakaan. h. Mengijinkan pemustaka untuk memanfaatkan fasilitas komputer untuk kuliahonline via zoom. i. Mengijinkan pemustaka membawa handphone ke dalam perpustakaandengan syarat tidak menggangu lingkungan sekitar. j. Menyediakan fasilitas layanan fotokopi karya ilmiah. k. Menyediakan layanan audio visual dimana pemustaka dapat memutar kasetatau video CD untuk belajar TOEFL, Public Speaking dan lainnya. l. Menyediakan fasilitas meja pingpong bagi pemustaka yang ingin bermaintenis meja. m. Menyediakan televisi dengan beraneka chanel sehingga pemustaka dapatmenonton acara kegemaran. n. Menyediakan toko buku khusus terbitan dosen Undiksha sebagai acuanperkuliahan. o. Menyediakan layanan bimbingan pemustaka jika pemustaka memerlukanbantuan dalam mengakses eresources perpustakaan ataupun menanyakanhal lainnya berkaitan dengan layanan perpustakaan. Fasilitas serta layanan tersebut di atas mengindikasikan bahwa perpustakaanUndiksha telah menerapkan konsep perpustakaan sebagai learning commons. Berbagai fasilitas tersebut ditujukan untuk menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi pemustakaUndiksha. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan fasilitas dan layanan yang disediakan olehperpustakaan digunakan dengan baik oleh pemustaka. Mereka memiliki pojok atau tempatfavorit untuk belajar, berdiskusi, kuliah dan bersantai. Konsep learning commons yang telah diupayakan oleh perpustakaan Undikshatersebut telah mencoba memberikan bentuk baru untuk perpustakaan yang tidak hanyasekedar menyediakan ruang, fasilitas dan bimbingan pemustaka tetapi juga kegiatanpembelajaran yang melibatkan pihak akademik (dosen), mahasiswa, staff perpustakaan danpihak lain yang terkait.

Conclusion

Berdasarkan ulasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep perpustakaan telah bertransformasi menjadi pusat belajar atau learning commons. Hal tersebut terjadi akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat yang berdampak pada model layanan dan koleksi berbasis digital. Hal tersebut telah menimbulkankeresahan bagi perpustakaan karena pemustaka dapat mengakses informasi tanpa batasanruang dan waktu tanpa harus ke perpustakaan. Konsep perpustakaan sebagai learningcommons berupaya menjawab keresahan tersebut agar pemustaka dapat berkegiatan atau belajar, berdiskusi sekaligus bersantai di perpustakaan. Learning commons merupakan sebuah konsep untuk memanfaatkan ruang-ruang yang ada di perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri guna mendukung proses pembelajaran. Implementasi konsep learning commons di perpustakaan Undiksha telah dilakukandengan menyediakan berbagai fasilitas dan layanan seperti menyediakan ruang berdiskusi, belajar, ruang lesehan, komputer, internet, koleksi eresources, coffee longue, reading garden area dan lainnya, sehingga perpustakaan tetap menjadi referensi untuk dikunjungi sebagai tempat belajar sekaligus bersantai. Mengingat pentingnya konsep perpustakaan sebagai learning commons, maka perpustakaan Undiksha dan jenis perpustakaan lainnya dapat melakukan pengembangan dan inovasi untuk menyediakan fasilitas dan layanan bagi pemustaka di era digital.