Medical Learning Commons Perpustakaan Universitas Tarumanagara
Universitas Tarumanagara; Universitas Tarumanagara
Abstrak
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara menjalani Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan metode diskusi, studi kasus, dan praktek. Permasalahan terlihat ketika melakukan latihan Keterampilan Klinik Dasar (KKD) di perpustakaan. Alasannya yaitu mahasiswa menganggap perpustakaan sebagai “one-stop shoping”. Ketika mereka membutuhkan panduan atau referensi, dapat langsung menuju rak buku atau mengakses pangkalan data kedokteran yang tersedia di perpustakaan. Kondisi tersebut melatarbelakangi perpustakaan mengajukan konsep learning commons. Permasalahan yang ditemukan adalah bagaimanakah upaya perpustakaan untuk memfasilitasi kebutuhan pemustaka melalui konsep learning commons, mengingat hal ini merupakan solusi untuk mendatangkan kembali pemustaka yang berkurang pasca pandemi. Penelitian ini mempergunakan metode kualitatif deskriptif yang menggambarkan karakteristik atau fenomena yang sedang diteliti terhadap suatu objek atau populasi. Fokus utama pada metode penelitian yaitu Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara di Perpustakaan Kedokteran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadan learning commons sangat dibutuhkan pemustaka, mulai dari konsep, penyediaan fasilitas, dan kemampuan literasi informasi pustakawan. Hal ini terlihat dari banyaknya peminat setiap dibukanya pendaftaran. Kendala yang menjadi tantangan yaitu sulitnya mendapatkan narasumber internal terkait penyesuaian jadwal antara permintaan peserta dan kesediaan mengisi kelas learning commons.
Abstract
Students of the Faculty of Medicine at Tarumanagara University undergo a Competency-Based Curriculum (KBK) with methods of discussion, case studies, and practice. Problems arise when conducting Basic Clinical Skills (KKD) training in the library. The reason is that students consider the library as a 'one-stop shopping' place. When they need guidance or references, they can directly go to the bookshelves or access the medical databases available in the library. This condition led the library to propose the concept of learning commons. The problem identified is how the library can facilitate the needs of users through the concept of learning commons, considering this as a solution to bring back users who have decreased post-pandemic. This research uses a descriptive qualitative method that describes the characteristics or phenomena being studied on an object or population. The main focus of the research method is the students of the Faculty of Medicine at Tarumanagara University in the Medical Library. The research results show that the existence of learning commons is highly needed by users, starting from the concept, provision of facilities, and the information literacy skills of librarians. This is evident from the high number of enthusiasts every time registration is opened. The challenge faced is the difficulty in obtaining internal sources related to schedule adjustments between participant requests and the availability to fill learning commons classes.
Keywords:
University library
· Learning commons
· Medical library
· Library service
· University librarian
Introduction
Pada masa pandemi COVID-19 karena kondisi yang serba terbatas, perpustakaan perguruan tinggi tetap berupaya memenuhi kebutuhan sumber-sumber informasi pemustakanya. Berbagai cara dilakukan termasuk menyediakan sumber-sumber elektronik dan menyampaikannya langsung kepada pemustaka. Namun pasca pandemi kondisi tersebut menjadi permasalahn baru bagi perpustakaan. Berkunjungnya pemustaka hanya untuk meminjam koleksi yang belum memiliki format digital. Perpustakaan belum sepenuhnya kembali normal seperti sebelum pandemi COVID-19. Perpustakan harus beradaptasi dan menelaah kembali konsep dan nilai dalam menjalankan fungsi dan layanan yang diberikan. Hal inilah yang mengawali perpustakaan harus berinovasi kembali untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Perpustakaan saat ini semakin dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih. Pola pendidikan berubah dari tradisional ke model elektronik, hal ini membutuhkan informasi-informasi digital. Perpustakaan harus bersiap untuk mendukung dunia pendidikan dengan mempersiapkan sumber-sumber informasi untuk mendukung pembelajaran sesuai dengan tuntutan penggunanya (Mustar, M. 2021). Kondisi Perpustakaan Universitas Tarumanagara Layanan Bidang Ilmu Kedokteran di masa sebelum pandemi memiliki waktu keramaian tersendiri. Umumnya terjadi setelah waktu perkuliahan selesai atau di waktu belajar mandiri mendekati ujian. Mahasiswa memanfaatkan ruang baca atau ruang diskusi besar untuk melakukan latihan Keterampilan Klinik Dasar (KKD). Pada masa sebelum ujian, mahasiswa belajar KKD secara mandiri termasuk membawa peralatan latihan keterampilan seperti stetoskop, tensi meter, alat bidai, alat-alat penginderaan, dan lain sebagainya. Dalam upaya mendukung KKD, pihak fakultas telah menyediakan ruang diskusi tersendiri di luar perpustakaan bagi yang ingin belajar mandiri. Namun banyak mahasiswa berpendapat bahwa fasilitas dan situasi belajar di perpustakaan lebih mendukung. One-stop shoping ungkapan mereka untuk perpustakaan, karena jika beruntung dapat bertemu, bertanya, dan diskusi langsung dengan para staf pengajar. Berdasarkan situasi akan kebutuhan tersebut, Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara berupaya menyediakan fasilitas bagi pemustaka sesuai kondisi saat itu. Munculah gagasan untuk menyediakan ruang khusus demi terciptanya hasil kolaborasi antara pemustaka yang difasilitasi oleh perpustakaan. Dalam dunia perpustakaan, fasilitas ini disebut learning commons. Learning commons sendiri merupakan integrasi dari tempat fisik, konsep pendidikan, dan fasilitas pendukung yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan produktifitas para pemustaka. Menurut Loyens & Gijbels (2008) dalam pembelajaran kolaboratif di learning commons, pemustaka secara aktif membangun pengetahuan dengan menggabungkan pengetahuan ke dalam basis pengetahuan awal mereka saat mereka menafsirkan informasi baru yang telah mereka kumpulkan. Beberapa hasil penelitian yang sudah mengkaji pemanfaatan learning commons di perpustakaan perguruan tinggi menggambarkan hasil yang baik melalui tersedianya the physical commons, the virtual commons, the sociocultural commons sebagai aspek yang dapat menarik minat mahasiswa dalam memanfaatkan Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya sebagai sumber belajar mereka, selain itu the staffing juga merupakan salah satu aspek yang memiliki peran dalam memberikan kontribusi dalam bentuk sikap ramah dan selalu membantu untuk mencapai tujuan belajar mereka di Perpustakaan ITS Surabaya (Kristina, 2017). Namun penelitian lain dari Wicaksono (2016) menggambarkan bahwa aspek-aspek learning commons yang terdapat di Perpustakaan Universitas Indonesia, belum serius penerapannya dalam menunjang kebutuhan pemustaka, karena ada perbedaan konsep yang diaplikasikan. Menurut hasil penelitian, seharusnya learning commons didukung perkembangan teknologi yang mudah digunakan serta fasilitas penunjang pembelajaran interaktif sesuai dengan konsep learning commons. Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara berupaya menciptakan konsep learning commons yang sesuai kebutuhan pemustaka dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Dalam penerapan konsep ini terdapat beberapa permaslaahan, yaitu bagaimanakah upaya Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara menyelenggarakan konsep learning commons, serta tantangan apa saja yang terdapat dalam penyelenggaraan konsep learning commons. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran deskriptif mengenai upaya Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara dalam menyelenggarakan konsep learning commons serta untuk mengetahui tantangan dari penyelenggaraan konsep learning commons.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dipilihnya metode ini karena sudah cukup lama kami mengamati perilaku pemustaka dan hampir mengetahui semua kebutuhan mereka ketika berada di perpustakaan. Adapun tujuan dilakukan dengan model penelitian kualitatif yaitu untuk memahami kejadian atau fenomena yang diangkat. Sesuai dengan karakteristik dari penelitian kualitatif yaitu natural setting artinya bahwa penelitian kualitatif cenderung mengumpulkan data di lapangan. Data diperoleh secara langsung dari hasil pengamatan perilaku dalam konteks yang sesungguhnya. Ini merupakan karakteristik utama dari penelitian kualitatif. Dalam natural setting, peneliti berinteraksi langsung dan umumnya sudah berada dalam jangka waktu yang cukup lama. Dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan, peneliti dapat menggali pemahaman mendalam tentang pengalaman individu dan konteks yang relevan (Creswell & Creswell, 2018). Populasi pada penelitian ini yaitu Mahasiswa Fakultas Kedokteran di Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara. Metode penelitian deskriptif merupakan karakteristik penelitian yang mengungkap lebih spesifik mengenai berbagai fenomena sosial dan alam yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Maksud dari kata spesifik yaitu untuk menyebutkan pada aspek hubungan, dampak dan penyelesaian dari kegiatan penelitian (Sukmadinata, 2013). Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengetahui kejadian dan sebab atau asal usul permasalahan yang timbul. Observasi merupakan upaya untuk pengumpulan data yang dilakukan ketika penulis langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian (Creswell & Poth, 2018). Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi. Menurut Arikunto (2019) instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Sejalan dengan pendapat tersebut, kami mempergunakan lembar observasi untuk memudahkan dalam pengumpulan data, dan diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik, sehingga data yang dihasilkan dari hasil pengamatan mendapatkan data yang lengkap sehingga mudah diolah.
Discussion
Mahasiswa fakultas kedokteran memiliki cara belajar yang berbeda dengan mahasiswa fakultas lain. Fakultas kedokteran mempergunakan metode Problem Based Learning (PBL). Metode pembelajaran dipusatkan pada mahasiswa dengan pemicu dari kasus atau permasalahan nyata. PBL mendorong mahasiswa untuk belajar dan bekerja secara kelompok, berpikir kritis dan analitis, untuk menghasilkan solusi. Hal inilah yang membuat suasana belajar dan alat pendukung atau sumber-sumber daya pembelajaran di perpustakaan kedokteran juga nampak berbeda dengan perpustakaan fakultas lainnya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, terlihat bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara merasa bergantung dengan keberadaan perpustakaan. Secara aktif mereka berkegiatan di perpustakaan. Mereka melakukan KKD hampir di setiap sudut perpustakaan. Tidak hanya buku, mereka pun aktif mempergunakan sumber-sumber daya yang ada baik milik perpustakaan maupun dibawa secara mandiri. Selain keaktifan mereka mendapatkan informasi kepada pustakawan, mereka juga aktif berkonsultasi kepada para staf pengajar yang umumnya bertemu di perpustakaan secara tidak sengaja. Ini adalah hasil observasi yang mempergunakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung maupun tidak langsung tentang hal-hal yang diamati dan mencatatnya pada alat observasi. Hal-hal yang diamati biasanya adalah gejala-gejala, tingkah laku, benda hidup, maupun benda mati yang sedang diteliti (Sanjaya, 2015), dalam hal ini perilaku mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara melakukan kegiatan di perpustakaan dan bagaimana mereka memanfatkan fasilitas yang telah ada ataupun mengkomunikasikan kepada pustakawan, untuk kebutuhkan fasilitas tambahan yang mereka butuhkan dalam berkegiatan di perpustakaan. Antusiasme mahasiswa kedokteran menantang pustakwawan untuk dapat terus berinovasi memberikan pelayanan yang terbaik sesuai perilaku dan kebutuhan pemustaka. Sebagai upaya mentransformasi fungsi dan layanan perpustakaan, pustakawan harus berinovasi. Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang banyak menghasilkan inovasi pascapandemi COVID-19. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan perpustakaan perguruan tinggi dalam hal inovasi terhadap pelayanan berada satu langkah di depan. Sepertihalnya Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara, pemustaka dalam hal ini civitas fakultas kedokteran sangat bergantung kepada perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan informasi guna pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Salah satu inovasi Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara yaitu menghadirkan learning commons. Learning commons adalah ruang dinamis tempat berkolaborasi yang mengintegrasikan sumber daya perpustakaan, teknologi, dan layanan akademik untuk mendukung pembelajaran dan penelitian. Ruang-ruang ini dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi, menyediakan akses ke sumber daya digital dan fisik, serta menawarkan berbagai layanan dukungan akademik seperti bimbingan dan lokakarya (Blummer & Kenton, 2017). Proses yang terpenting yaitu mampu menetapkan dan menggunakan sumber-sumber daya pembelajaran yang sesuai. Pemanfaatan sumber-sumber daya pembelajaran inilah yang membuat perpusatkaan menciptakan “learning commons”. Konsep learning commons di perpustakaan merupakan kegiatan inovatif yang mengubah perpustakaan menjadi ruang multifungsi yang mendukung aktivitas pembelajaran. Pemustaka di learning commons menciptakan pengetahuan selama proses belajar kelompok dan mereka berbagi pengetahuan di antara rekan-rekan kelompok untuk menghasilkan gagasan baru dalam menyelesaikan masalah. Pemustaka ini belajar dalam kelompok umumnya tanpa pengajar atau narasumber. Alasan utama menghadirkan konsep learning commons yaitu bahwa dalam konteks pendidikan biasanya mengacu pada perlunya memiliki ruang atau lingkungan pembelajaran yang bersifat terbuka, inklusif, dan dapat diakses oleh berbagai anggota komunitas pendidikan. Inovasi ini harus dilakukan sesuai dengan karakteristik kebutuhan pemustaka dan perkembangan zaman, karena pustakawan sebagai profesional perpustakaan melaksanakan kegiatan dalam tiga bidang: praktik, penelitian, dan pendidikan (Jiang et al., 2023). Adapun upaya yang dilakukan Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara adalah mencoba memfasilitasi kebutuhan pemustaka dengan mengubah sedikit ruang baca menjadi ruang yang berkonsep learning commons. Konsep learning commons yang diusung tidak sama dengan konsep yang ada di perpustakaan-perpustakaan besar di luar negeri. Konsep learning commons yang dihadirkan oleh Perpustakaan Kedokteran hanya memanfaatkan sedikit ruang di dalam perpustakaan, memanfaatkan fasilitas yang sudah dimiliki fakultas, dan sedikit dana operasional untuk para mitra pendukung. Jika disesuaikan dengan Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara maka learning commons adalah sebuah konsep pengelolaan ruang dalam perpustakaan di mana pustakawan menyediakan sarana dan prasarana penunjang kegiatan agar civitas dapat belajar, bekerja, berkreasi, dan berkolaborasi antara mereka untuk menghasilkan prestasi yang baru. Dengan demikian, learning commons membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan, kolaborasi, dan pertumbuhan intelektual dalam berbagai cara. Pernyataan tersebut nyata ketika sumber daya dari perpustakaan diorganisir dalam kolaborasi dengan inisiatif pembelajaran yang didukung oleh unit-unit akademik lain atau diselaraskan dengan hasil pembelajaran melalui proses kerjasama. Dengan kata lain, "learning commons" muncul ketika perpustakaan tidak hanya menjadi tempat di mana sumber daya informasi tersedia, tetapi juga tempat di mana sumber daya tersebut diorganisir dan digunakan secara terencana untuk mendukung inisiatif pembelajaran yang berasal dari berbagai unit akademik di lembaga pendidikan oleh pustakawan. Hal ini berarti bahwa sumber daya fisik, teknologi, dan dukungan yang ada dalam learning commons dirancang dengan tujuan untuk membantu mencapai hasil pembelajaran yang telah didefinisikan secara bersama-sama oleh berbagai bagian di institusi akademik tersebut. Secara umum, pandangan ini mencerminkan pesatnya perkembangan learning commons dalam lingkungan perpustakaan perguruan tinggi saat ini, bahwa perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan informasi, tetapi juga menjadi pusat aktifitas pendukung dan memfasilitasi proses pembelajaran civitas di berbagai disiplin ilmu dan unit akademik (Lampert & Meyers-Martin, 2019). Dibutuhkan dukungan dari fakultas untuk menjalankan learning commons baik sarana prasarana maupun sumber daya. Kami menyebutnya Medical Learning Commons (MeLCom) untuk konsep learning commons di Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara. Tidak ada ruang khusus seperti halnya perpustakaan besar. MeLCom merupakan bagian dari ruang baca Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara dengan ukuran ruang 15 m2 . Adapun sarana berbasis teknologi yang kami pergunakan hanya televisi pintar (smart tv) dan laptop dengan layar sentuh. Selain itu untuk kebutuhan latihan KKD mahasiswa, kami bekerja sama dengan fakultas menyediakan beberapa alat KKD dasar seperti stetoskop, tensi meter, alat bidai, alat-alat penginderaan, dan sebagainya. Sumber informasi utama, kami memanfaatkan buku, jurnal tercetak maupun elektronik baik yang berbayar maupun gratis, disamping aplikasi-aplikasi kedokteran yang telah kami beli sewaktu masa pandemi. Pendekatan konsep MeLCom ini memadukan antara cara tradisional dan non-tradisional, karena tidak semua pemustaka merasa nyaman untuk membaca atau mencari gambar melalui alat bantu teknologi. Namun kami juga tetap merangkul teknologi yang digunakan oleh para pemustaka milenial dan tetap mengikuti perkembangan IPTEKS. Aplikasi kedokteran yang banyak dipergunakan pada kegiatan MeLCom adalah aplikasi tiga dimensi untuk anatomi (Visible Body by OVID) terlihat pada Gambar 1. dan aplikasi cara belajar ilmu kedokteran yang disajikan dengan membahas setiap kasus dalam tampilan yang menarik secara visual (OSMOSIS by Elsevier) seperti pada Gambar 2. Melalui sumber daya tersebut perpustakaan berupaya memaksimalkan penggunaan fasilitas yang telah dimiliki fakultas. Sumber: Visible Body by OVID Wolters Kluwer Gambar 1. Aplikasi 3D Anatomi 1 Sumber: OSMOSIS by ELSEVIER Gambar 2. Aplikasi Belajar Kedokteran 1 Learning commons tidak akan jauh dari penggunaan teknologi terbaru. Namun bukan berarti tanpa adanya teknologi canggih yang dimiliki perpustakaan maka konsep learning commons tidak akan terwujud. Faktor utama penentu keberhasilan konsep learning commons yaitu pemanfaatan sumber daya yang dimiliki perpustakaan. Dengan hadirnya "learning commons", salah satu yang terwakili bagi para spesialis literasi informasi, pada akhirnya memiliki sarana yang terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan di perpustakaan, bertujuan meningkatkan kemampuan akademik civitas. Para spesialis literasi informasi dapat berkontribusi menjadi mitra pendukung seperti membimbing penelitian mahasiswa, mulai dari menetapkan tujuan, pencarian sumber-sumber informasi, cara mengoperasikan perangkat lunak penelitian (SPSS) hingga mengevaluasi penelitian menjadi tulisan. Selain itu learning commons dapat menjadi tempat yang tepat untuk mendukung kegiatan tri dharma perguruan tinggi selain kegiatan di dalam kelas. Artinya, konsep learning commons tidak hanya terbatas pada masalah fasilitas fisik, namun lebih dari pada itu. Upaya menjalankan learning commons, perpustakaan membutuhkan mitra pendukung, dalam hal ini dosen, laboran, alumni, staf fakultas, dan pastinya pustakawan. Konsep terbentuknya MeLCom diawali ketika banyaknya kegiatan di Perpustakaan Kedokteran di luar kegiatan belajar dan pelayanan sirkulasi. Melalui konsep MeLCom perpustakaan berupaya mengorganisir setiap kegiatan yang ada di perpustakaan menjadi lebih terarah dan memiliki tujuan, serta hasil yang maksimal tentunya atas dukungan penuh fakultas. Sebelum menjalankan konsep learning commons, pustakawan sebagai tuan rumah harus mengenali kompetensi diri terlebih dahulu. Sangat beruntung jika perpustakaan sudah memiliki mitra pendukung yang kompeten, mungkin pustakawan hanya bertugas mengorganisir kegiatan. Namun ada baiknya, pustakawan yang berada di perpustakaan sebagai sumber informasi memiliki kompetensi lebih, utamanya dalam literasi informasi. Sebagai contoh kami mengadakan sesi pemantapan praktikum anatomi untuk bagian tulang lengan, bagi mahasiswa yang ingin memperdalam materi tersebut, MeLCom memfasilitasi dengan cara memanfaatkan aplikasi Visible Body yang sudah ada. Perpustakaan mengajukan konsep pemantapan kepada fakultas, salah satunya yaitu memaksimalkan penggunakan aplikasi Visible Body yang sudah ada agar berdaya guna lebih. Sesi pemantapan ini dipandu oleh nara sumber yang juga merupakan dosen yang sengaja diminta langsung untuk mau berbagi ilmu di luar kelas, dan ternyata banyak tanggapan positif untuk konsep ini. Materi pemantapan lain yaitu seputar penelitian dan tugas akhir mahasiswa. Umumnya materi perkuliahan terkait penelitian atau metodologi penelitian tidak terlalu membahas secara teknis bagaimana melakukan penelitian beserta kegiatan-kegiatan pendukung penelitian. Pada konsep MeLCom dihadirkan langkah, tips, dan trik dalam melakukan penelitian. Adapun mitra pendukung pada sesi ini yaitu: (1) dosen sebagai narasumber mulai dari awal penelitian hingga penyajian laporan, (2) pustakawan sebagai narasumber untuk pencarian, pemilihan, dan evaluasi sumber-sumber informasi, serta pengenalan penggunaan reference manager dan, (3) staf redaksi majalah sebagai narasumber seputar publikasi artikel ilmiah. Pihak fakultas sangat menyukai konsep MeLCom ini dikarenakan terbantunya beban akan masalah yang kerap timbul pada mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa penelitian yang buruk secara umum adalah sesuatu yang menjadi momok bagi dunia akademik, tetapi selama ini tidak ada cukup waktu dan instruksi untuk memperbaikinya. Lalu datanglah "learning commons" untuk mengambil alih kondisi tersebut, dan dunia akademik dapat melepaskan diri dari tanggung jawab tersebut (Badke 2018). Seperti yang telah disampaikan "learning commons" adalah remedial, bukan pendidikan. Konsep ini seperti halnya unit gawat darurat yang diperuntukan memperbaiki luka, bukan rencana kesehatan yang komprehensif. Jika ingin mahasiswa menjadi peneliti yang efektif—dan hal ini semakin banyak dituntut oleh pihak akademik maka fakultas harus menemukan tempat untuk menawarkan instruksi yang terkonsentrasi dan berkelanjutan. Tempat itu adalah dalam kelas, bukan di "learning commons" (Badke, 2018). MeLCom merupakan jawaban untuk pertanyaan yang sering kali diajukan pemustaka kepada perpustakaan. Untuk mewujudkan konsep MeLCom, perpustakaan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan dan mencari solusi atas permasalahan yang ada di sekitar Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Konsep learning commons merupakan pendekatan yang tepat bagi perpustakaan untuk dapat memfasilitasi kebutuhan pemustaka, baik dari segi gaya belajar, sarana belajar, maupun sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi dalam belajar (Bruce, 2011). Dalam upaya mewujudkan learning commons, pustakawan pun harus ikut bertransformasi, utamanya dalam pengembangan kompetensi literasi informasi. Seluruh pustakawan Universitas Tarumanagara saat ini sudah tersertifikasi kompetensi, dan pustakawan di Unit Layanan Bidang Kedokteran sudah tersertifikasi kompetensi untuk klaster Literasi Informasi. Artinya apa yang dilakukan saat ini dan nanti sudah tepat ditangani oleh pustakawan yang kompeten. Salah satu kompetensi yang dituntut dalam menjalankan konsep learning commons adalah upaya untuk terus meningkatkan keahlian baru seiring dengan perubahan dunia teknologi dan informasi. Pustakawan memerlukan keterampilan dan keahlian dalam penggunaan alat komunikasi dan informasi terbaru dalam rangka terlibat dalam proses pembelajaran untuk semua pemustaka yang di layani. Kualitas atau keterampilan yang dimiliki harus selalu berkembang. Perpustakaan perlu memiliki visi jangka panjang untuk membantu pemustaka mengembangkan keterampilan untuk pekerjaan dan karier yang mungkin belum tercipta. Pustakawan perlu mengembangkan kualitas pribadi seperti imajinasi dan kreativitas untuk diri sendiri dan pemustaka. Kita dapat membantu pemustaka beralih dari pendekatan tradisional dalam cara belajar dan mengajar, menuju cara memecahkan masalah, dan menciptakan sesuatu yang baru. Dari sinilah diperlukan keyakinan dan kepercayaan diri pustakawan, serta kesadaran akan perubahan yang terjadi terhadap dunia pendidikan dan informasi (Bruce, 2011). Pustakawan MeLCom diharuskan menguasai semua jenis sarana pembelajaran yang ada di perpustakaan. Hal ini dikarenakan pustakawan menjadi tempat bertanya bagi mitra pendukung dan juga pengguna MeLCom, utamanya yang berbasis teknologi. Selain itu pustakawan harus terus mengasah keterampilan dalam literasi informasi seperti kecakapan dalam mempergunakan teknologi informasi, mengakses informasi secara efektif dan efisien, mampu mengevaluasi sumber informasi secara mendalam, serta mahir mempergunakan reference manager. Upaya lain untuk keberlangsungan MeLCom yaitu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak fakultas. Pustakawan perlu menjalin hubungan baik dengan fakultas guna melengkapi sarana dan prasarana yang dibuthkan serta mendapatkan SDM sebagai mitra pendukung. Sebagai contoh untuk penentuan jadwal sesi pemantapan dalam penelitian, pustakawan harus berkomunikasi dengan bagian penelitian, mulai dari dosen pengajar hingga staf publikasi jurnal. Khusus mitra pendukung dari luar Universitas Tarumanagara, pustakawan harus dapat juga berkomunikasi dengan vendor penyedia sumber-sumber elektronik maupun aplikasi pembelajaran kedokteran. Dari pihak vendor ini pustakawan dapat belajar banyak mengenai perangkat teknologi informasi terkini. Adapun tantangan yang dihadapi dalam menyelenggarakan konsep MeLCom yaitu sulitnya mengatur waktu di tengah kepadatan perkuliahan. Sebagai contoh, mahasiswa dengan tugas akhir dapat lebih fleksibel memilih waktu namun mitra pendukung sebagai narasumber sulit didapat dikarenakan kepadatan waktu mengajar. Kasus terbanyak yaitu sulitnya perpustakaan menemukan waktu yang tepat dikarenakan kepadatan jadwal mahasiswa dan dosen. Hal ini terlihat dari animo mahasiswa yang ikut pemantapan praktek anatomi banyak memilih waktu diakhir minggu setelah selesai perkuliahan. Kondisi ini telihat pada presentase pemilihan jadwal untuk MeLCom. Adapun waktu yang diminati peserta umumnya setelah waktu perkuliahan berakhir pada akhir minggu, seperti terlihat pada Gambar 3. Awal dibukanya jadwal untuk pemantapan sesi praktikum anatomi, animo mahasiswa sangat tinggi. Dikarenakan keterbatasan ruang, kami hanya membuka 15 orang peserta untuk tiap sesinya. Pendaftaran peserta dilakukan melalui formulir google, dan dalam jangka waktu 1 hari mahasiswa yang mendaftarakan diri mencapai 53 orang. Dari antusiasme data tersebut terlihat bahwa minat mahasiswa dalam kegiatan MelCom ini sangat tinggi. Sumber: Jadwal MeLCom Perpustakaan Kedokteran Univeritas Tarumanaga Tahun 2023 Gambar 3. Presentase Peserta Berdasarkan Jadwal MeLCom
Conclusion
Medical Learning Commons (MeLCom) Perpustakaan Kedokteran Universitas Tarumanagara merupakan hasil inovasi dalam upaya meningkatkan pelyananan. Adapun upaya dari perpustakaan dalam menyelenggarakan MeLCom, yaitu: (1) Meningkatkan kompetensi pustakawan terutama dalam literasi informasi dan penguasaan sumber-sumber daya yang dimiliki. Dalam mewujukan hal ini pustakawan kedokteran mengikuti sertifikasi komptensi untuk klaster literasi informasi untuk menguji kemampuan dan keterampilannya. Selain itu, pustakawan kedokteran juga mengikuti pelatihan untuk penggunaan aplikasiaplikasi kedokteran yang dimiliki fakultas serta peningkatkan kemampuan soft skill serta mengikuti trend perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi terkini. (2) Menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak lain yag terkait seperti pimpinan, fakultas, mitra pendukung, dan pihak luar dalam hal ini vendor penyedia aplikasi kedokteran berbasis teknologi. Adapun tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan MeLCom yaitu sulitnya mengorganisir waktu untuk menentukan jadwal antara mitra pendukung dan pemustaka, di samping tuntutan bahwa pustakawan harus dapat terus menghadirkan materi baru sebagai daya tarik utama bagi pemustaka untuk dapat bergabung dalam MeLCom.