Kembali
16
1
2022 Journal Papyrus : Sosial, Humaniora, Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN 2829-0690

PENGARUH TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR

Universitas Islam Makassar; Universitas Islam Makassar; Universitas Islam Makassar; Universitas Islam Makassar

Abstrak

Pokok permasalahan dari jurnal ini adalah pengaruh teknologi informasi terhadap pelayanan informasi pada perpustakaan UMI Makassar dan sejauhmana pemanfaatan teknologi informasi dalam layanan perpustakaan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh teknologi informasi terhadap pengembangan perpustakaan UMI Makassar. Subjek penelitian ini adalah perpustakaan itu sendiri dan Pustakawan Perpustakaan UMI Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi dan wawancara dengan pihak lansung yang terkait dengan masalah ini, kemudian hasilnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi informasi di perpustakaan UMI Makassar, sangat berpengaruh terhadap pengembangan perpustakaan terutama bagi pustakawannya, program pengembangan koleksi dan sistem pelayanannya. Pemanfatan teknologi informasi di perpustakaan UMI Makassar sudah dimanfaatkan dengan baik, akan tetapi fasilitas teknologi informasi masih kurang lengkap.
Keywords: Pengembangan · teknologi informasi

Introduction

Manusia sebagai mahluk sosial, komunikasi dan Informasi menjadi hal penting dalam berinteraksi sosial. Manusia dalam melakukan interaksi sosial menyesuikan dengan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi informasi merubah pola perilaku manusia. Awal mula manusia komunikasi melalui lisan, kemudian setelah diciptakan kertas maka komunikasi manusia bergeser ke komunikasi surat menyurat. Begitupun informasi yang sudah dikemas dalam bentuk kertas menjadi informasi tercetak atau konviesional. Perkembangan kteknologi informasi kontemporer menunjukan komunikasi dan informasi tidak sebatas konvensional tetap sudah secara digital, dengan hadirnya internet. Keberadaan komputer dan informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga Siagian mengistilahkannya dengan sebutan “ledakan informasi”.( Siagian: 1990) Maksud dari ledakan informasi yakni hadirnya informasi sudah tidak terbatas pada tempat-tempat tertentu saja, akan tetapi sekarang sudah bisa diakses dimana saja dengan kehadiran internet. Terlebih lagi informasi bisa diakses kapan saja melalui handphone, Tv, media masa dan lain sebagainya. Dimanapun manusia berada hari ini, disitu pula hadir informasi. Perkembangan dunia informasi tentu memiliki sisi positif dan membantu kehidupan manusia. Adapun hal positif dari perkembangan pesat informasi tersebut adalah pertama informasi akan tersampaikan dengan sangat cepat, kedua informasi mudah diakses, ketiga dengan informasi manusia menjadi melek informasi. Hal lain yang membantu manusia dengan perkembangan Informasi ini tidak hanya sekedar sebagai sumber pengetahuan, informasi juga menjadi alat dalam memecah masalah, mengambil keputusan, membantu pedagang dan lain sebagainya.( Ariningsih: 2006) Dari uraian tersebut diatas menggambarkan dari waktu ke waktu ada perubahan pola perilaku manusia. Pola perilaku tersebut akibad dari terus berkembang ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Hari ini informasi dengan bantuan teknologi, informasi bisa di akses kapan saja dan dimana saja. Informasi telah memberikan manfaat nyata atas kebutuhan manusia dalam setiap sendi kehidupan sosial. Sisi lain teknologi informasi telah diterapkan diberbagai bidang tidak terkecuali di perpustakaan. Perpustakaan merupakan lembaga pengelola informasi, sehingga menjadi sebuah keharusan penerapan teknologi informasi guna memenuhikebutuhan pengguna, seperti hasil survey ITB yang kutip oleh E. Koswara bahwa “92,6% perpustakaan telah dilengkapi dengan komputer”.( E. Koswara: 1998) Ini membuktikan bagaiman Perpustakaan juga telah bergeser pola perilaku dalam hal pelayanan. Pelayanan dengan menggunakan bantuan alat-alat teknologi informasi. Adapun sejarah perkembangan jenis-jenis perpustakaan diawali dari perpustakaan manual, perpustakaan terotomasi, perpustakaan digital atau cyber library. Ada beberapa alasan mengapa tekhnologi informasi harus diterima di perpustakaan : 1. Tuntutan terhadap jumlah dan mutu layanan Jika dahulu pemakai perpustakaan sudah puas dengan layanan baca di tempat dan peminjaman buku perpustakaan saja, saat ini layan perpustakaan tidak cukup lagi hanya dua macam layanan seperti tersebut diatas. Pemakai perpustakaan sekarang sudah menuntut jenis- jeniss layanan informasi terseleksi (Selektive dissemination of infomatin), layanan penelusuran secara online, layanan penelusuran dengan CD-ROM dan lain-lain. 2. Tuntutan terhadap penggunaan koleksi bersama (Resource sharing) Tidak ada satu perpustakaan pun yang bisa memenuhi koleksinya sendiri. Setiap perpustakaan akan saling membutuhkan koleksi perpustakaan laindemi memberikan layanan yang memuaskan kepada pemakainya. Karena itu, penggunaan bersama koleksi perpustakaan sangat membantu, terutama pada peerpustakaan yang koleksinya sangat lemah. Program penggunaan koleksi bersama ini dapat berjalan dengan baik apabila setiap perpustakaan saling memberikan informasi yang di milikinya. Peran union catalog sangat besar dalam mensukseskan program penggunaan koleksi bersama ini. Di sinilah teknologi computer memberikan sumbangan yang besar dalam penyelenggaraan kerja sama antarperpustakaan. 3. Kebutuhan untuk mengefektifkan sumber daya manusia (SDM). Sudah lama pemerintah sudah menerapkan kebijakn zero growth untuk pegawai negeri. Hasil kebijakan ini adalh semakin berkurangnya tenaga kerja di perpustakaan. Untuk mempertahankan m utu layanan perpustakaan di mana SDM semakin berkurang, kita dapat mengandalkan teknologi computer. 4. Tuntutan terhadap efisiensi waktu. Dulu pemakai mungkin sudah puas dengan layanan penelusuran artikel, sekalipun layanan tersebut memakan waktu sampai berminggu- minggu. Sekarang pemakai (email) yang pada saat itu pula dapat diterima oleh perpustaan. Kemudian, petugas perpustakaan melakukan akses ke pangkalan data/informasi yang ada dikomputer, baik di peerpustakaannya atau di perpustakaan lain. Jaawaban yang di perolehnya (hanya beberapa saat) dikirimkan kepada si penanya dengan menggunakan email yang dalam relative singkat dapat diterima oleh si penanya. 5. Keragaman informasi yang dikelolah. Informasi yang ada di perpustakaan saat ini tidak hanya terbatas kepada buku dan jurnal ilmiah saja. Informasi lain, seperti audio visual, multimedia, bahan mikro, media optic dan sebagainya saat ini juga dikoleksi oleh perpustakaan. Banyak koleksi yang harus dibaca dengan menggunakan teknologi komputer. Komputer juga dapat menyimpan data dokumen dalam jumlah dan jenis yang sangat besar. II. Kerangka Teori Pengertian teknologi informasi Istilah teknologi informasi sering dijumpai, baik dalam media grafik, seperti surat kabar dan majalah, maupun media elektronik, seperti radio dan televisi. Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksanaan ilmu. Sedangkan informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Jadi pengertian teknologi informasi dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan informasi. Pada dasarnya teknologi informasi berasal dari dua kata teknologi dan informasi. Pengertian teknologi (secara umum) :“ Penerapan pengetahuan secara sistematis dalam kegiatan industry yang praktis atau suatu kegiatan yang menggunakan meode industri” (Jogiyanto HM : 2005) Pengertian Informasi :“ Data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimaannya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau yang akan datang” (Zulkifli Amsyah: 1997) Sedangkan pengertian lain bahwa informasi merupakan data yang telah diolah dan disajikan sedemikian rupa yang kemudian digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Informasi tersebut merupakan nilai apabila dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan, dan informasi tersebut dapat mengurangi ketidakpastian di masa yang akan datang. Berikut merupakan berbagai defenisi tentang teknologi informasi: 1. Abdul Kadir mengatakan bahwa teknologi informasi adalah “Seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi”.10 2. Menurut Information Technology Association Of America (ITTA) yang di kutip oleh Sutarman, tehnologi informasi adalah “suatu studi, perancangan, pengembangan, implementasi dukungan atau managemen system informasi berbasis komputer, khususnya aplikasi perangkat lunak dan perangkat keras komputer. Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi adalah metode kerja yang lebih canggih dengan menyajikan data-data yang telah diolah dan siap digunakan oleh user untuk pengambilan keputusan dalam rangka kelancaran organisasi secara keseluruhan dengan menggunakan komputer. Perkembangan teknologi dan perpustakaan 1. Perpustakaan Digital (Digital Library) Seiring dengan trend perpustakaan digital, banyak lembaga, sekolah dan perguruan tinggi berlomba lomba untuk mendapatkan predikat memiliki dan mengelola perpustakaan digital. Dalam aplikasinya, banyak kesalahan persepsi dijumpai. Beberapa perpustakaan memberi judul Digital Library pada fasilitas akses publik WEB mereka. Ketika di akses ternyata isinya adalah katalog pustaka tercetak dan tidak dijumpai akses ke database pustaka digital, karena memang perpustakaan tidak mengelola pustaka digital yang dikelola secara sistem informasi berbasis teknologi informasi. Menurut penulis sebuah perpustakaan tidak bisa dikatakan sebagai Digital Library hanya karena memiliki file-file pustaka digital yang ditimbun di CD maupun dalam hardisk. Juga belum bisa disebut perpustakaan digital dengan memiliki katalog buku secara online. Perpustakaan digital atau digital library adalah perpustakaan yang menghimpun dan mengelola pustaka digital, menyimpannya secara sistematis kedalam database komputer, baik meta data berikut sourcenya, melayankan pustaka kepada user melalui teknologi jaringan serta memungkinkan user untuk membaca fullteks atau men-download pustaka digital (Zainal Hasibuan: 2005). 2. Aplikasi teknologi informasi di perpustakaan a. Fungsi Otomasi Pada tahap ini perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi intuk menggatikan pekerjaan-pekerjaan manual di perpustakaan. Misalnya mengetik surat dengan MS Word, membuat laporan dengan MS exel, mengetik dan mencetak katalog dengan komputer, katalog elektronik dengan CDS-ISIS, dll. Pada dasarnya pekerjaan pekerjaan tersebut bisa dilakukan secara manual. Maka istilah yang dipakai saat itu adalah otomasi atau otomatisasi. Artinya dari manual menjadi otomatis. Saat ini istilah ini sudah tidak tepat lagi di gunakan di perpustakaan. b. Fungsi Penciptaan Fungsi-fungsi Layanan Baru Perpustakaan sebagai organisasi rutin yang kemudian menggunakan peralatan digital tidak akan memberikan dampak yang revolusioner terhadap proses yang berjalan. Kecuali jika hadirnya teknologi informasi di perpustakaan telah mampu: - Menciptakan fungsi-fungsi layanan baru - Menciptakan jenis-jenis produk baru Macam teknologi informasi untuk perpustakan Teknologi informasi yang telah banyak diterapkan di perpustakanperpustakaan negara maju dan beberapa perpustakaan di Indonesia, antara lain : • Komputers and komputer networks • CD-ROM(s), dan multimedia CD-ROM(s) • Facsimile • Internet • Telephone • Television • Videodisk/laser disk • Output computer, misalnya : micrographics, microfilm, microfische • Digital Equipments (Zainal Hasibuan: 2005).

Method

Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode tersebut tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi tetapi menitik beratkan pada observasi atau suasana ilmiah (naturalistis setting). Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, maka peneliti juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi. Penelitian juga bisa bersifat komparatif dan korelatif. Penelitian deskriptif banyak membantu terutamadalam penelitian yang bersifat longitudinal, genetic, dan klinis. Penelitian survey biasanya termasuk dalam penelitian ini (Abu Achmad dan Narbuko Chalik 2007). Peneliti bertindak sebagai pengamat, peneliti hanya membuat ketegori perilaku, mengamati gejala dan mencatat dalam buku observasinya. Dengan suasana ilmiah di maksudkan bahwa peneliti terjun langsung ke lapangan. Objek dan subyek penelitian Objek penelitian ini adalah pengaruh teknologi informasi di perpustakaan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, sedangkan subyek penelitian adalah pustakawan dan perpustakaan Universitas Muslim Indonesia (UMI) makassar Informan penelitian Informan penelitian adalah pustakawan perpustakaan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Yang dilakukan peneliti terhadap informan adalah menggali data sampai tidak ada lagi data baru yang diperoleh selama pengumpulan data. Penentuan informan penelitian menggunakan metode purposive sampling dan snowball sampling. Metode purposive sampling dan snowball sampling digunakan dengan anggapan bahwa cara ini dapat menghasilkan informan yang mewakili masing-masing kondisi yang ada sekarang sehingga keunikan yang di harapkan dapat muncul dan tergali. Pemilihan informan secara purposive sampling dan snowball sampling pada penelitian ini berdasarkan pedoman dan pertimbangan sebagai berikut : 1. Penentuan informan berdasarkan kondisi atau konteks penelitian. 2. Pemilihan informan akan semaksimal mungkin dapat mewakili keragaman atau variasi setiap kondisi dan seleksi pada setiap kondisi dilakukan setelah beberapa kondisi sebelumnya selesai diteliti dan dianalisis. 3. Agar peneliti dapat berfokus pada informan dan bukan pada kondisi yang diwakilinya, penulis akan tetap bepedoman pada panduan wawancara. 4. Seleksi akan berdasarkan redundancy. Untuk itu penulis akan berusaha dengan cermat dalam menganalisis jawaban dari informan penelitian, dan mengambil informan diakhiri ketika tidak ada informan baru yang akan datang dari informan baru dari kondisi yang baru. Dalam penelitian ini, peneliti menentukan 5 orang pustakawan untuk menjadi informan. Adapun urutan informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Table 1. urutan informan dalam pengumpulan data Informan Jabatan Informan 1 Kepala perpustakaan Informan 2 Kepala bagian tata usaha Informan 3 Bagian sirkulasi Informan 4 Kepala sub bagian layanan teknis Informan 5 Kepala sub bagian adm & perlengkapan Informan 6 User/Atika, 21 tahun. Mahasiswa Jurusan Farmasi Semester V. Informan 7 User/Rahmawati, 23 tahun. Mahasiswa Jurusan kebidanan Semester V. Informan 8 User/Susilosudarwati, 20 tahun. Mahasiswa Jurusan kebidanan Semester V. Informan 9 User/Feri Farli, 22 tahun. Mahasiswa Jurusan Farmasi Semester IX. Informan 10 User/Anhar, 20 tahun. Mahasiswa Jurusan TIK Semester III. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh melalui: 1. Observasi 2. Wawancara/Interview 3. Dokumen

Result & Discussion

Pengaruh teknologi informasi terhadap pengembangan perpustakaanUniversitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. 1. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (Pustakawan) Dalam menghadapi tuntutan pengguna dan kemajuan Teknologi informasi yang digunakan di perpustakaan maka dibutuhkan seorang pustakawan yang profesional. Karena hanya dengan pustakawan dan staf yang bekualitas tinggi perpustakaan ideal dapat terwujud. Oleh sebab itu seorang pustakawan diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, pelayanan berbasis pengguna, etos kerja tinggi, serta menguasai keteknisan perpustakaan. Tidak kalah penting adalah kemampuan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti menguasai pemakaian komputer, database, internet dan intranet, serta menguasai peralatan teknologi informasi. (Ibrahim Bafadal:1999) Karena pemanfaatan fasilitas, peralatan dan koleksi yang menggunakan teknologi canggih dapat menimbulkan shock pada pustakawan yang belum siap menghadapi perubahan. Seiring dengan itu informan3 selaku pustakawan senior berkata “ pada awal di terapkan teknologi informasi di perpustakaan, saya merasa khawatir karena tidak tau dan tidak bisa menggunakannya” (Informan 3: 2019) Situasi diatas menunjukan bagaimana kekhawatiran pustakawan akan ketidakmampuannya mengoperasikan teknologi informasi yang diterapkan. Maka pihak perpustaakaan harus melakukan sesuatu untuk mengantisipasi hal tersebut. Dan langka antisipasi yang lakukan oleh perpustakaan UMI Makassar sesuai dengan keterangan dari Informan2 bahwa untuk mengantisipasi ketidaktauan pustakawan menjalankan teknologi informasi maka dilakukan upaya-upaya dengan cara mengutus beberapa pustakawan untuk mengikuti pelatihan dan studi banding yang berhubungan dengan pemanfatan teknologi informasi di perpustakaan.( Informan2 : 2019) 2. Pengembangan koleksi bahan pustaka Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) yang di kutib oleh Sulistyo Basuki bahwa pengembangan koleksi merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan6. Pengembangan koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan pustaka apa saja yang harus diadakan di perpustakaan. Sebelumnya muncul istilah seleksi buku, buku dalam pengertian yang lebih luas yang mencakup monografi, majalah, bahan mikro dan jenis bahan pustaka lainnya. Seiring dengan perkembangan perpustakaan yang telah menerapkan teknologi informasi, mengharuskan setiap perpustakaan untuk melakukan perubahan pengembangan dalam kaitannya dengan koleksi perpustakaan. Pengembangan koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan UMI Makassar tidak hanya menyiapkan koleksi dalm bentuk kertas akan tetapi juga menyiapkan koleksi dalam bentuk elektronik. Seperti hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa perpustakaan UMI Makassar telah memiliki koleksi non buku, yaitu CD-ROM, kaset audi dan kaset video.(observasi: 2019) Sesuai dengan keterangan informan2 “…adek bisa lihat sendiri bahwa kita juga memiliki koleksi dalam bentuk elektronik, bahkan kita memilikinya sudah lama” (Informan 2 : 2019) 3. Peningkatan sistem pelayanan Berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan guna mencapai standar perpustakaan ideal sangatlah banyak. Salah satunya pemanfaatan teknologi teknologi informasi pada pelayanan perpustakaan dapat dilihat dengan digunakannya sistem informasi manajemen (SIM). Layanan SIM ini yaitu pengintregrasian antara administrasi, pengadaan, inventaris, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengolahan anggota, dan lain-lain. Tanggapan pustakawan terhadap pengaruh keberadaan teknologi informasi diperpustakaan UMI Makassar. Kehadiran teknologi informasi telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pengembangan dan perkembangan perpustakaan masa kini. Hendrata K. mengatakan “sebagian besar perpustakaan perguruan tinggi telah menerapkan teknologi informasi”. (Hendrata Kusbandarrumsamsi: 1993) Informan1 memberikan komentar “ Jelas, teknologi informasi berpengaruh terhadap perpustakaan karena sekarang kita menerapkan teknogi informasi di dalamnya”. Informan3 “ketika saya pertama kali bekerja disini teknologi informasi belum diterapkan, seiring dengan perkembangan zaman maka sekarang saya harus berteman dengan teknologi informasi”. Selanjutnya informan2 mengatakan “ dulu, perpustakaan tradisional tapi setelah kehadiran teknologi informasi menjadikan perpustakaan masa kini dikenal sebagai perpustakaan modern” Dari tanggapan dua narasumber diatas dapat dilihat bahwa teknologi informasi telah merubah wajah perpustakaan masa kini. Perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern setelah menerapkan teknologi informasi. Informan4 mengungkapkan pendapatnya bahwa keberadaan teknologi informasi mengharuskan pustakawan bisa beradaptasi yaitu mengharuskan pustakawan belajar mengoperasikannya. Selanjutnya Informan3 menambahkan bahwa “untuk bisa mengopersikan teknologi informasi terutama komputer saya rela membeli komputer dan saya pun belajar mengoperasikan sedikit demi sedikit walaupun sesekali saya meminta bantuan kepada teman atau orang lain”. Dari uraian Informan4 dan informan3, peneliti bisa menyimpulkan bahwa keberadaan teknologi informasi di perpustakaan UMI Makassar juga mempengaruhi perilaku dan sikap pustakawan, yaitu bagaimana pustakawan harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman dalam hal ini penerapan teknologi informasi di perpustakaan. Kembali Informan1 mengatakan “perpustakaan kita menyediakan beberapa opsi layanan informasi yang bisa di nikmati oleh pengunjung, yaitu layanan dalam bentuk buku dan layanan dalam bentuk elektronik serta ditambah lagi layanan internet”. Informan2 mengatakan “ kemunculan teknologi informasi, dalam hal ini internet di perpustakaan UMI mengakibatkan peminjaman buku menurun dan pengguna internet meningkat”. Selanjutnya beliau berkata “ semakin banyaknya koleksi dalam bentuk elektronik seperti CD/DVD dan Video, mengharuskan perpustakaan menyiapkan rak atau ruangan tersendiri, berhubung kita belum ada fasilitas tempat maka terpaksa masih disimpan di ruangan pengolahan. Informan5 beranggapan bahwa teknologi informasi akan memberikan paradikma baru dalam pelayanan informasi di perpustakaan yaitu pelayanan informasi yang berbasis digital”. Dari beberapa tanggapan informan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa keberadaan teknologi informasi di perpustakaan dapat dikatakan memberikan pengaruh yang besar pada penyediaan layanan perpustakaan. Seperti yang di ungkapkan oleh Informan1, Informan2 dan Informan5 yang melihat teknologi informasi bagi perpustakaan telah merubah dan memperkaya jenis pelayanan informasi perpustakaan yang salah satunya adalah pelayan internet. Dari hasil wawancara diatas, secara umum penulis dapat menarik kesimpulan antara lain. Yang pertama yaitu terbukti hari ini perpustakaan UMI Makassar telah menerapkan teknologi informasi, kedua penerapan teknologi informasi mempengaruhi sikap dan perilaku pustakawan dan yang ketiga adalah merubah paradigma pelayanan informasi di perpustakaan UMI Makassar.

Conclusion

Setelah selesai mengolah data yang terkumpul kemudian menganalisanya, maka langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan dari hasil analisis data yang telah dilakukan sebelumnya dengan cara observasi, wawancara dan dari dokumentasi di perpustakaan UMI Makassar. Untuk itu penulis mengemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Teknologi informasi mempengaruhi pengaruh kinerja pustakawan, pengembangan koleksi/fasilitas perpustakaan dan system layanan pada perpustakaan UMI Makassar. 2. Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan UMI Makassar meliputi dua sisi yaitu: - Dari sisi penyedia layanan: 1. Pengadaan bahan pustaka: pembelian bahan pustaka dapat diakses melalui internet. 2. Penyiapan bahan pustaka: pembutan label dan katalogisasi menggunakan komputer. 3. Pemberian layanan: layanan sirkulasi menggunakan system informasi tertentu. 4. Pemeliharaan pustaka: penyimpanan bahan pustaka dari bentuk buku kedalam bentuk CD menggunakan teknologi informasi komputer. - Dari sisi pengguna layanan: 1. Pencarian bahan pustaka menggunakan katalog (OPAC). 2. Internet yang bisa diakses di perpustakaan dengan menggunakan ruangan