PROMOSI PERPUSTAKAAN DISPUSIP KOTA SUNGAI PENUH MELALUI MEDIA SOSIAL DI ERA PANDEMI
Institut Agama Islam Negeri Kerinci; Institut Agama Islam Negeri Kerinci
Abstrak
Media promosi sangat penting sebagai penyalur kegiatan pemasaran perpustakaan guna agar masyarakat terus menggunakan perpustakaan. Demikian pula, kehadiran media sosial bukanlah kompetisi, tetapi sarana untuk berinteraksi dengan pemustaka. Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai penuh menggunakan media sosial sebagai media promosi berupa facebook, website dan instagram dalam memberikan layanan, kegiatan, dan referensi bagi pemustaka. Hal tersebut bertujuan untuk mempromosikan koleksi perpustakaan, kegiatan perpustakaan, mengembangkan layanan distribusi, terutama peminjaman buku. Adapun kelebihan dan kekurangannya promosi perpustakaan di media sosial sebagai berikut: kelebihan, dengan menggunakan media sosial yang mudah diakses oleh pemustaka menjadi lebih mudah untuk mengetahui buku mana yang baru atau lama, perpustakaan akan menjadi lebih dikenal. Kekurangan, lebih sulit bagi orang biasa untuk menggunakan jaringan sosial, penyebab frustasi pemustaka di mana yan dipromosikan tidak sesuai dengan pelayanan atau koleksi yang ada.
Keywords:
media sosial
· perpustakaan
· pustakawan
· promosi
Introduction
Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 mendefinisikan perpustakaan khusus sebagai “perpustakaan untuk instansi pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga keagamaan, tempat ibadah, dan lembaga lainnya”. Di sisi lain, perpustakaan seperti yang terlihat dalam empat elemen yang tidak dapat dipisahkan, pustakawan, koleksi buku, keadaan dan lokasi perpustakaan, dan pemustaka perpustakaan. Perkembangan bidang pendidikan dan perbaikan metode belajar mengajar tidak lepas dari permasalahan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan (Yenianti, 2019). Perpustakaan modern mermiliki layanan data disajikan secara menarik untuk pemberian layananan kepada pemustaka yang sudah bergeser dari pusat bayaran ke pusat laba. Perpustakaan modern juga membutuhkan akumulasi serta pemeliharaan koleksi (digital serta non-digital). Perpustakaan dapat dikatakan lembaga data dengan guna data, pembelajaran, budaya serta tamasya. Konsep perpustakaan terus tumbuh selaku reaksi terhadap keadaan sosial yang dinamis. Oleh sebab itu, membangun Perpustakaan modern tidak cuma hendak mempermudah wisatawan mendapatkan pengetahuan serta data yang mereka butuhkan, namun pula hendak membuat mereka tumbuh ke arah yang lebih maju. Perpustakaan selaku tempat riset ilmu pengetahuan serta data wajib terus menjajaki pertumbuhan teknologi serta data guna memperdalam pengetahuan wisatawan serta mendesak kunjungan lanjutan ke perpustakaan. Promosi perpustakaan dapat dikatakan sebagai upaya mengenalkan segala kegiatan baik dari segi sarana, koleksi tipe layanan, serta manfaat yang bisa diperoleh oleh tiap pemustaka secara lebih terperinci supaya dikenal oleh masyarakat umum. Promosi pada dasarnya ialah forum pertukaran data antara organisasi serta konsumen dengan tujuan utama membagikan data tentang produk ataupun jasa yang disediakan kepada pemustaka. Pada masa pandemi, kita dituntut serba digitalisasi serta tersambung dengan internet. Terdapat sebagian perihal yang wajib dicermati pada prinsip layanan perpustakaan di masa pandemi, ialah layanan yang senantiasa dibuka dengan mencermati kebijakan serta status daerah COVID-19 yang sudah diresmikan pemerintah agar tidak jadi klaster penularan baru, kesehatan tenaga perpustakaan serta pemustaka ialah prioritas. Pada saat ini internet sudah meluas diberbagai kalangan, hal ini merupakan keuntungan bagi banyak orang terutama bagi perpustakaan. Media sosial merupakan sasaran promosi untuk mempromosikan perpustakaan, ada banyak media sosial yang dapat digunakan dalam mempromosikan perpustakaan di era pandemi antara lain seperti facebook, instagram, youtube dan yang lain sebagainya. Pada saat ini Kota Sungai penuh merupakan zona merah penyebaran COVID-19. Dengan demikian, perpustakaan wajib meningkatkan sumber energi yang menunjang layanan online, semacam dengan sediakan koleksi digital, menghasilkan inovasi penyampaian layanan secara online, serta sediakan jaringan internet serta wifi. Layanan virtual diterapkan di perpustakaan yang terletak di zona oranye serta merah, di mana resiko penularan COVID-19 besar. Perpustakaan wajib memakai media yang membolehkan pemustaka menggunakan layanan tanpa wajib ke perpustakaan, bekerja sama dengan bibliotek lain sebab tidak bisa jadi sesuatu bibliotek mempunyai seluruh koleksi yang diperlukan, dan lembaga lain dalam perihal pengiriman koleksi. Di Dispusip Kota Sungai Penuh pada era pandemi melakukan promosi menggunakan facebook guna menjaga jarak dan kontak fisik perpustakaan, akan tetapi promosi ini belum dibilang maksimal perlu adanya promosi lainnya seperti membuat film pendek dan diupload di youtube ataupun pengenalan perpustakaan melalui seminar online di zoom meeting. Selama masa pandemi COVID-19, pemustaka dapat datang langsung ke perpustakaan dengan mematuhi protokoler kesehatan yang ada. Namun, tingkat kunjungan pemustaka tidak seperti sebelum pandemi, hal ini dapat dilihat dari menurunnya kunjungan di Dispusip Kota Sungai Penuh pada masa pandemi.
Discussion
Promosi Perpustakaan Pada UU No. 43 tahun 2007 perpustakaan adalah lembaga pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, serta/ ataupun karya rekam secara handal dengan sistem yang baku guna penuhi kebutuhan pembelajaran, riset, pelestarian, data, serta rekreasi bagi para pemustaka. Sementara promosi merupakan struktur dari layanan perpustakaan mengenalkan sumber belajar yang ada di perpustakaan baik itu koleksi nondigital atau digital kepada anggota perpustakaan. Maka dari itu perkembaganan layanan perpustakaan melakukan adaptasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan komunikasi dalam memberikan pengembangan dan layanan perpustakaan. Menurut Sungadi (2019), “Promosi merupakan mekanisme komunikasi pemasaran yang menarik yang menggunakan teknik kehumasan.” Promosi perpustakaan termasuk mengundang pemustaka untuk mengakses perpustakaan. Ini memberikan pemahaman yang jelas kepada pemustaka tentang apa yang dapat mereka peroleh dari perpustakaan, kewajiban apa yang harus mereka penuhi, hak apa yang mereka miliki, dan informasi apa yang dapat mereka terima (instruksi pengguna). User-centricity, atau usercentricity secara umum, merupakan salah satu "mata uang" di mana perpustakaan beroperasi, dan karena itu juga berpusat pada pemustaka dalam hal pengambilan keputusan tentang promosi perpustakaan. Perpustakaan dalam konteks yang lebih luas dipaksa untuk bekerja secara profesional untuk memisahkan kebutuhan individu dan kewajiban profesional, untuk memberikan layanan dan informasi yang optimal, dan untuk memberikan layanan. Layanan terbaik berisi informasi yang dibutuhkan pengguna. Iklan merupakan bagian yang menyampaikan informasi yang bermanfaat kepada pemustaka perpustakaan. Menurut Mustofa (2017) promosi perpustakaan bertujuan memperkenalkan semua sumber informasi yang terdapat pada perpustakaan untuk menarik perhatian masyarakat dengan tujuan memanfaatkannya secara optimal. Dengan adanya promosi dapat memberikan informasi dan pemberi kesan kepada masyarakat maka sangat mendukung tujuan akhir perpustakaan itu sendiri. Promosi Perpustakaan melalui Media Sosial Pemustaka perpustakaan saat ini disebut sebagai Generasi Internet, generasi yang lahir dan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan internet. Menurut Tapscott (2009) karakteristik generasi internet meliputi kebebasan, personalisasi, integritas, integritas, kolaborasi, hiburan, kecepatan, dan inovasi. Perpustakaan harus menyesuaikan desain promosinya dengan karakteristik generasi pemustaka perpustakaan online saat ini (Airlangga, 2019). Contoh fitur kebebasan yakni generasi net ini tidak menyukai aturan yang membatasinya dan cenderung bebas melakukan apa yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, humas perpustakaan harus semenarik mungkin dari waktu ke waktu dengan teknik persuasif daripada langkah-langkah turun. Oleh karena itu, media promosi humas harus menjadi media yang dicintai oleh generasi Milenial. Perpustakaan dapat menggunakan berbagai macam media sosial yang tersedia di dunia maya. King menjelaskan bahwa ada berbagai jenis media sosial yang tersedia di perpustakaan, termasuk Facebook, Twitter, Youtube, LinkedIn, Tumblr, Pinterest, Instagram, Snapchat, Vine, Google Plus, dan Flickr. Berbagai jenis media sosial yaitu King (2015): a. Facebook. Sebagai apliaksi mengirim bacaan, gambar, serta video. Facebook masih jadi media sosial opsi untuk kalangan millennial saat ini. b. Twitter, media sosial untuk meningkatkan pangsa komunitas tertentu. c. YouTube.Berkat Youtube, kita bisa berbagi konten dengan sahabat, berpendapat, memperhitungkan, mem- bookmark, serta menganjurkan berbagi lewat jejaring sosial. d. LinkedIn. Jaringan bisnis yang berfokus pada spesifikasi serta pemakaian perlengkapan/ media. e. Tumblr, media sosial unik yang diperuntukan buat popularitas dengan menunjukkan data berbasis animasi serta foto. f. Pinterest, media sosial yang bagus buat menciptakan konten yang informatif serta menarik secara visual. g. Instagram, media sosial yang digunakan untuk berbagi gambar serta video pendek. Setelah Facebook mengambil alih Instagram, fitur serta layanan ditingkatkan untuk meningkatkan pengikut Instagram. h. S n a p c h a t . S n a p c h a t membolehkan pemustaka buat memposting gambar ataupun video, meningkatkan bacaan serta foto ke gambar ataupun video, serta mengendalikan durasi konten. i. Vine, perlengkapan penerbitan Twitter baru. Jumlah pemustaka Vine masih terkategori sedikit serta belum sepopuler media sosial yang lain. j. GooglePlus, jejaring sosial yang dibesarkan oleh Google. Saat sebelum Gram, Google meningkatkan jejaring sosial, GoogleBuzz. k. Flickr media sosial untuk menaruh serta berbagi gambar secara online. Pemustaka Flickr bisa berbagi gambar dengan sahabat di komunitas, tercantum di webwebsite individu mereka. l. WhatsApp, media sosial terkenal terkini semacam Facebook. Aplikasi ini sangat terkenal di golongan milenial serta dapat digunakan untuk bacaan, video, gambar, pdf, Ms. Pengguna juga bisa mengirim kata, ppt, dan lainlain. Profil Dispusip Kota Sungai Penuh Menghasilkan bangsa yang pintar ialah salah satu tujuan negeri termuat pada UUD 1945 pada alinea IV. Cikal bakal kehidupan warga yang pintar dengan tingkatkan atensi serta budaya gemar membaca. Tingginya atensi serta budaya gemar membaca warga ialah modal bawah pembangunan nasional yang wajib dibesarkan bersamaan dengan kebutuhan sumber energi manusia yang bermutu. Upaya mewujudkan keadaan berkembang kembangnya Atensi serta budaya gemar membaca warga (reading society) serta warga belajar (learning society), pengembangan serta pendayagunaan perpustakaan ialah keputusan bijak serta strategis dalam pemenuhan kebutuhan data yang berbentuk karya tulis, karya cetak serta karya rekam. Mengingat keadaan atensi serta budaya gemar membaca warga saat ini kurang memenuhi apa yang diamanahkan oleh Undang-Undang Bawah 1945. Hingga Pemerintah Cq. Bibliotek Nasional RI bersama perpustakaan wilayah serta para cendikiawan, pendidik, pengarang, penerbit, pemerhati atensi baca, Organisasi Profesi Jalinan Pustakawan Indonesia (IPI) Gabungan Toko Novel Indonesia, Jalinan penerbit Indonesia serta organisasi atensi baca semenjak tahun 2001 menggelorakan gerakan pemasyarakatan atensi baca. Keadaan semacam inilah, Pemerintah Kota Sungai Penuh ialah kota yang tercipta hasil pemekaran dari Kabupaten Induk (Kabupaten Kerinci), dengan bawah hukum UU Nomor. 25 Tahun 2008 Tentang Pembuatan Kota Sungai Penuh di Provinsi Jambi, membentuk Dinas Perpustakaan serta Kearsipan bersumber pada Peraturan Wilayah Kota Sungai Penuh; No 10 Tahun 2016 tentang pembuatan serta lapisan fitur wilayah yang setelah itu diresmikan Peraturan Walikota Sungai Penuh; No 45 Tahun 2016 tentang tugas pokok, guna serta tata kerja Dinas Bibliotek serta Kearsipan Kota Sungai Penuh yang berfungsi aktif dalam memediasi berkembang kembang atensi baca untuk warga buat seluruh golongan, mulai dari kanak- kanak sampai orang berusia. Secara historis Dinas Perpustakaan serta Kearsipan Kota Sungai Penuh ialah lembaga berstatus lembaga pemerintahan daerahyang tercipta bersumber pada Peraturan Walikota Sungai Penuh No 49 Tahun 2012 Tentang Tupoksi Kantor Bibliotek serta Arsip Kota Sungai Penuh, hingga pada bertepatan pada 20 Januari 2014 didirikanlah Kantor Bibliotek serta Arsip Kota Sungai Penuh. Kantor Bibliotek serta Arsip mulai beroperasi cocok pada bertepatan pada pendiriannya. Pada tahun 2016 Kantor Perpustakaan serta Arsip Kota Sungai Penuh berganti status jadi Dinas bersumber pada Peraturan Wilayah Kota Sungai Penuh No 10 Tahun 2016 tentang Pembuatan serta Lapisan Fitur Wilayah serta diimplementasikan dengan Peraturan Walikota Sungai Penuh No 45 Tahun 2016 tentang tugas pokok, guna serta tata kerja Dinas Bibliotek serta Kearsipan Kota Sungai Penuh, kalau peran Dinas Bibliotek serta Kearsipan ialah faktor pelaksana Urusan Pemerintah bidang Bibliotek serta Kearsipan Kota Sungai Penuh, yang dipandu oleh Kepala Dinas yang berkedudukan dibawah serta bertanggungjawab kepada Walikota Sungai Penuh lewat Sekretaris Wilayah. Pada tahun 2019 Dinas Bibliotek serta Kearsipan Kota Sungai Penuh mengajukan Pembangunan Gedung Layanan Bibliotek Wilayah Kota Sungai Penuh yang bersumber dari Dana Alokasi Spesial (DAK) tahun anggaran 2019, sehingga terbangunlah Gedung Layanan Bibliotek Wilayah Kota Sungai Penuh yang representatif. Mendukung serta menunjang Visi serta Misi Pemerintah Kota Sungai Penuh, Dinas Bibliotek serta Kearsipan Kota Sungai Penuh melaksanakan serta melakukan Misi ke-2 menguatkan mutu kehidupan warga yang berwawasan ilmu pengetahuan serta tekhnologi, religius, sehat serta berbudaya, maka disusun serta dibesarkan visi serta misi Dinas Perpustakaan serta Kearsipan, ”Menjadikan Perpustakaan serta Kearsipan Selaku Pusat Data Serta Sumber Belajar Warga Kota Sungai Penuh“ dan dengan misi selaku berikut: 1. Membina dan mengembangkan Perpustakaan sebagai pusat dan sumber belajar masyarakat. 2. Membina dan mengembangkan penduplikasian dokumen/arsip daerah; 3. Membina dan dan meningkat kualitas pelayanan perpustakaan dan kearsipan. 4. Melestarikan koleksi sebagai hasil budaya daerah; 5. Menyelenggarakan informasi perpustakaan dan kearsipan; dan 6. Meningkatkan Budaya Minat Baca Masyarakat. Berbagai upaya dalam rangka pengembangan perpustakaan dan pemberdayaan budaya gemar membaca masyarakat yang telah dilakukan dalam APBD Kota Sungai Penuh beberapa tahun ini, yaitu: 1. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan, dengan: a. Kegiatan Pengembangan Minat Budaya Baca. b. Kegiatan Penyediaan Bantuan dan Pengembangan Pustaka Desa/Kelurahan. c. Pendataan, pembinaan dan Stimulasi Perpustakaan. 2. Program Peningkatan Pelayanan Perpustakaan Umum, dengan: 1) Kegiatan Pelayanan Perpustakaan Keliling. 3. Program Peningkatan Kualitas P e l a y a n a n I n f o r m a si Perpustakaan, dengan: a. Kegiatan Pengembangan koleksi bahan pustaka. b. P eme l i h a r a a n d a n pengembangan Perpustakaan Digital. c. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana layanan perpustakaan. Pemerintah Kota Sungai Penuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai Penuh selaku SKPD teknis dalam menjalankan tugas pokok, fungsi dan tata kerja sebagai unsur pelaksana urusan Pemerintah bidang Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai Penuh telah melakukan pelayanan perpustakaan di Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Kota Sungai Penuh. Promosi Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai Penuh Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai Penuh membuat inovasi promosi layanan dan kegiatan perpustakaan dengan memanfaatkan kecerdasan media sosial. Beberapa kegiatan promosi Dispusip Kota Sungai Penuh sebagai berikut: a. Bimbingan pemakai (User education), kegiatan pngenalan peprustakaan dengan media seperti video profile perpustakaan. b. Facebook, promosi perpustakaan dilakukan melalui facebook dengan cara membagikan gambar atau video kegiatan ataupun kunjungan staf perpustakaan kota ke perpustakaan sekolah dan desa yang ada dikota sungai penuh. Nama halaman facebook; Dispusip Kota Sungai Penuh. (gambar 1). c. Promosi melalui website yaitu: https://jikn.go.id/index.php/dinas -perpustakaan-dan-kearsipankota-sungai-penuh. Selain dengan website resmi, Dispusip Kota Sungai Penuh Juga melakukan promosi dengan beberapa media dengan memberitakan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan tujuan mempromosikan perpustakaan. Adapun beberapa link berita tentang Dispusip Kota Sungai Penuh sebagai berikut: 1) https://id.berita.yahoo.com/ resmikan-perpustakaanwali-kota-sungai-09304 4914.html 2) https://today.line.me/id/v2/ article/Lppjwz 3) https://www.liputan6.com/ regional/read/4326021/diperpustakaan-kota-sungaipenuh-hati-jadi-luruh 4) https://jambi.tribunnews. com/2021/06/10/wako-ajbresmikan-gedung-layananperpustakaan-daerah-kotasungai-penuh. (gambar 2 dan gambar 3) Promosi perpustakaan melalui website ini dilakukan oleh Dispusip Kota Sungai Penuh berisikan berita terbaru tentang perpustakaan Dispusip Kota Sungai Penuh, pendaftaran anggota, repository, Dispusip Kota Sungai penuh, one search katalog Perpusnas serta akses mengenai profil lembaga. d. Promosi Dispusip Kota Sungai Penuh melalui Instagram Adapun nama akun instagram yang digunakan Dispusip Kota Sungai Penuh adalah Dispusip.sungaipenuh di mana akun tersebut menggunakan semua fasilitas yang ada di instrgaram untuk melakukan promosi seperti: fasilitas instagram story, upload video, upload foto seperti adanya perlombaan membaca puisi yang di share posternya di instagram, bahkan melakukan live di instagram terkait kegiatan yang dilaksanakan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan promosi di media sosial Mengembangkan layanan perpustakaan dengan menggunakan media sosial sangat efektif, namun beberapa hal yang menjadi bahan kajian ini mungkin masih perlu dilakukan dengan melihat data dokumen perpustakaan di facebook. Pertama, perlu memperbarui informasi Anda secara teratur. Pembaruan informasi reguler menunjukkan penggunaan Facebook. Hal ini menunjukkan bahwa Facebook tidak dikelola dengan baik untuk mendukung layanan perpustakaan. Pengunduhan rutin informasi penting bagi pengguna, seperti koleksi buku baru, harus diberitahukan secara berkala. (Airlangga, 2019.) Kelebihan dan Kekurangan Promosi di Media Sosial Kelebihan dan Kekurangan promosi menggunakan media sosial, yaitu (Santoso, 2019): 1. Kelebihan a. Dengan menggunakan media sosial mudah diakses oleh banyak orang, b. Pemustaka menjadi lebih mudah untuk mengetahui buku mana yang baru atau lama. c. Perpustakaan akan menjadi lebih dikenal. 2. Kekurangan a. Lebih sulit bagi orang biasa untuk menggunakan jaringan sosial. b. Penyebab bingungnya pemustaka di mana koleksi atau promosi yang dilaksanakan tidak sesuia dengan kenyataan yang ada ada perpustakaan tersebut Manfaat dan Tujuan Promosi di Media Sosial Manfaat dan tujuan promosi di media sosial, yaitu; a. Menggunakan media sosial adalah cara yang mudah dalam mencari informasi lebih banyak mengenai para pembaca atau pelanggan b. Membantu dalam pencarian sasaran konsumen lebih efektif c. Sosial media membantu dalam menemukan konsumen/ pelanggan baru serta memperluas sasaran pasar. d. Dapat memberikan informasi lebih cepat dan mudah di media sosial e. Media sosial dapat meningkatkan promosi tanpa perlu mengeluarkan biaya yang banyak
Conclusion
Dispusip Kota Sungai Penuh menggunakan media sosial sebagai media periklanan dalam bentuk facebook dan instagram memberikan banyak layanan, aktivitas, dan sumber daya kepada pengguna. Dispusip Kota Sungai Penuh menggunakan facebook, website dan instagram perpustakaan untuk mempromosikan koleksi perpustakaan, mempromosikan kegiatan dan layanan perpustakaan, mengunggah foto atau kegiatan perpustakaan, mengembangkan layanan distribusi, terutama peminjaman buku, kegiatan di dalam perpustakaan, dan lain-lain. Melalui facebook, berbagai aktivitas dan intensitas ditampilkan. Dalam peyelenggaraan promosi perpustakaan di media sosial adapun kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut mudah diakses oleh banyak orang, pemustaka menjadi lebih mudah untuk mengetahui buku mana yang baru atau lama, perpustakaan akan menjadi lebih dikenal akan tetapi lebih sulit bagi orang tidak biasa untuk menggunakan jaringan sosial.