Studi Perilaku Pencarian Informasi Kesehatan oleh Generasi Z Terkait Vaksinasi Covid-19
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jumlah peserta vaksin dosis 3 hanya sebanyak 27.31% dari target sasaran vaksinasi. Informasi memiliki peran penting dalam pengendalian COVID-19. Disinformasi mengenai COVID-19 mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap vaksinasi. Generasi Z merupakan individu yang lahir antara tahun 1995 dan 2012. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perilaku generasi Z di DIY dalam pencarian informasi vaksinasi COVID 19. Studi kuantitatif ini menggunakan teknik convenience sampling. Responden merupakan generasi Z di DIY. Pengumpulan data dilakukan menggunakan google form dan didapatkan 129 responden yang memenuhi kriteria. Hasilnyaadalah 81.0% responden melakukan pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 selama <1 jam dalam sehari. Motivasi utama responden adalah karena mereka berencana mendapatkan vaksinasi. 83.72% orang menggunakan media sosial sebagai sumber informasi, dan Instagram merupakan media sosial yang paling banyak digunakan (85.27%). 60.47% orang percaya dengan informasi yang didapatkan dan 71.32% orang merasa mampu membedakan informasi yang valid dan invalid. Kesulitan yang paling sering ditemui disebabkan oleh adanya penyebaran berita palsu (55.04%). Generasi Z menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama dalam memperoleh informasi vaksinasi COVID-19 dengan alasan kemudahan akses. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan tantangan yang sering ditemui berupa penyebaran berita palsu.
Abstract
In the Special Region of Yogyakarta (DIY), the COVID-19 booster vaccine participants were only 27.31% of the target. Information is critical in controlling COVID-19. COVID-19 disinformation affects a person's acceptance of vaccination. Generation Z is individuals born between 1995 and 2012. This study explores how the behavior of Generation Z in DIY in seeking information on COVID-19 vaccination. This quantitative study uses a convenience sampling technique. Respondents are Generation Z in DIY. Data was collected using a google form, and 129 respondents met the criteria. 81.0% of respondents searched for COVID-19 vaccination information for <1 hour a day. The primary motivation is because they plan to get vaccinated. 83.72% of people use social media as a source of information, and Instagram is the most used app (85.27%). 60.47% of people believe the information they obtained, and 71.32% of people feel able to distinguish valid and invalid information. The most frequently encountered difficulties were caused by fake news (55.04%). Generation Z uses social media as the primary source of information in obtaining COVID-19 vaccination information for ease of access. However, this convenience also poses a challenge that is often encountered, especially in spreading fake information.
Keywords:
Health information-seeking behavior
· COVID-19 vaccination
· Generation Z
· Social media
Introduction
Perilaku pencarian informasi terkait dengan kesehatan individu dari berbagai sumber disebut juga dengan perilaku pencarian informasi kesehatan atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Health Information-Seeking Behavior (HISB) (Jacobs, et al., 2017). Beberapa faktor yang menentukan perilaku pencarian informasi kesehatan seorang individu adalah faktor demografis, psikososial, norma, dan kepercayaan (Jung, 2014). Faktor lain yang disebut turut mempengaruhi pola perilaku pencarian informasi yaitu usia, tingkat literasi, edukasi, dan akses terhadap informasi (Jacobs, et al., 2017). Kecemasan terhadap kesehatan, self-efficacy, internet-efficacy, dan neurotisisme telah diidentifikasi sebagai faktor psikologis yang memprediksi penggunaan internet/web untuk pencarian informasi kesehatan. Motivasi dalam melakukan pencarian informasi kesehatan dapat didasari oleh persepsi kesehatan mereka, status kesehatan mereka saat ini, dan riwayat kesehatan keluarga (Lagoe & Atkin, 2015). Sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2017 menunjukkan bahwa sebagian besar dari subjek penelitian menggunakan internet sebagai referensi pertama mereka dalam mencari informasi kesehatan dibandingkan dari keluarga/teman/rekan kerja, profesional perawatan kesehatan, dan media tradisional (Jacobs, et al., 2017). Isu kesehatan yang menjadi pembahasan dunia saat ini adalah mengenai pandemi COVID19. Jumlah kasus aktif COVID-19 dunia mencapai puncaknya pada bulan Januari 2022, dengan puncak angka kematian terjadi pada bulan Februari 2022. Total kasus COVID-19 Indonesia menduduki peringkat 18 di dunia dengan total kematian mencapai 155,937. Pada saat data ini diambil, yaitu 20 April 2022, terdapat lebih dari 49,000 kasus aktif ("COVID Live - Coronavirus Statistics - Worldometer", 2022). Salah satu upaya penanggulangan COVID-19 yang dapat dilakukan yakni dengan vaksinasi. Target total sasaran vaksin lengkap atau dosis 3 pada penduduk Indonesia sebesar 80 per 100 penduduk atau 208,265,720 orang. Sejak pemberian vaksin pertama pada Januari 2021, hingga saat ini masih sebesar 15.57% penduduk yang mendapatkan vaksin dosis lengkap. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat jumlah peserta vaksin dosis 3 sebanyak 781,377 orang atau 27.31% dari target sasaran vaksinasi (“Vaksin Kemkes”, 2022). Agar usaha vaksinasi COVID-19 ini berhasil, vaksin tersebut tidak hanya harus terbukti aman dan manjur, tetapi juga dapat diterima secara luas. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara masyarakat, pemerintah, dan petugas kesehatan selama keadaan pandemi, penting bagi profesional kesehatan untuk memahami bagaimana pasien mengumpulkan informasi terkait kesehatan di internet dan memanfaatkan informasi tersebut. Penelitian oleh Wu dan Shen pada tahun 2021 menyatakan bahwa masyarakat bergantung pada media untuk mengakses informasi yang berhubungan dengan kesehatan. Selain itu, kapasitas sistem kesehatan yang memadai dan strategi yang efektif diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan dan penerimaan vaksin. Terlebih, kekhawatiran tentang keraguan vaksin berkembang di seluruh dunia (Joshi, et al., 2021). Lebih lanjut, pengetahuan dan penerimaan vaksin COVID-19 erat kaitannya dengan informasi tentang program vaksinasi COVID-19. Informasi dapat mempengaruhi opini dan kepercayaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang akurat dan berkesinambungan. Selama pandemi COVID-19, masyarakat dibanjiri oleh banyaknya informasi melalui media sosial yang juga berisi informasi yang salah dan menyebabkan kekacauan dan kepanikan masal (La, et al., 2020). Peningkatan kerentanan terhadap informasi yang salah berdampak negatif terhadap kepatuhan terhadap pedoman kesehatan masyarakat tentang COVID-19, serta kesediaan orang untuk divaksinasi (Roozenbeek et al., 2020). Peningkatan keraguan terhadap vaksin dapat mengurangi tingkat vaksinasi dan menurunkan kekebalan komunitas (Kricorian, et al., 2022). Kepercayaan perlu dibangun untuk mengatasi keraguan tentang vaksin. Komunikasi efektif yang berkelanjutan dari pejabat pemerintah dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap program vaksin memiliki peran penting (Joshi, et al., 2021). Informasi mengenai vaksin COVID19 telah diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat melalui berbagai media informasi. Informasi memiliki peran penting dalam pengendalian COVID-19. Informasi di dalamnya berperan dalam membangun kesadaran masyarakat dan membentuk perilaku kesehatan (Chen, et al., 2020). Dalam beberapa tahun terakhir, banyak jurnal kesehatan mengungkapkan peningkatan peran penting jejaring sosial dalam penyebaran informasi kesehatan masyarakat (Chisty et al., 2021), (McKinley & Lauby, 2021) (Gehrau, et al., 2021). Penyebaran informasi yang semakin mudah dan luas ini ternyata juga menimbulkan dilema. Masyarakat memang dimudahkan dalam mencari informasi, namun di sisi lain masyarakat tidak memiliki batasan terhadap informasi yang diterimanya sehingga sulit untuk mengetahui mana informasi yang valid dan yang tidak. Penyebaran disinformasi COVID-19 telah meningkat secara global (Mian & Khan, 2020). Media sosial sering disalahkan karena menyebarkan informasi yang salah. Misinformasi mengenai penanganan COVID-19 di media sosial adalah masalah harus dilakukan secara serius. Lebih lanjut, dengan adanya pandemi COVID-19, masyarakat lebih terdorong untuk mampu memitigasi informasi yang salah. Salah satu cara untuk mendorong pengguna media sosial agar saling berbagi infomasi yang berkualitas adalah dengan membangun literasi berita dan literasi sains (Vraga, et al., 2020). Sebagai dampak dari pandemi COVID-19, miliaran orang dipaksa bekerja, belajar, dan bersosialisasi secara daring. Bagi generasi Z, kegiatan tersebut bukanlah hal yang baru. Generasi Z merupakan kelompok individu yang lahir antara tahun 1995 dan 2009 (McCrindle, 2021). Generasi ini merupakan generasi yang paling bergantung pada internet dan berada di garda depan penggunaan teknologi. Generasi Z berinteraksi dan berkomunikasi melalui internet. Mereka memiliki ikatan digital dengan intensitas emosional yang tinggi dengan internet (Turner, 2015). Selain itu, generasi Z berperan penting dalam penyebaran sebuah informasi dalam lingkup keluarga. Dalam studi ini, dilakukan eksplorasi terkait bagaimana generasi Z di provinsi DIY menggunakan internet dalam pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID 19. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu mengenai perilaku pencarian informasi untuk memahami mengenai bagaimana dan mengapa seseorang membutuhkan informasi kesehatan, serta dari mana mereka melakukan pencarian informasi tersebut.
Method
Studi ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif pada bulan April 2022. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik convenience sampling. Convenience sampling adalah jenis pengambilan sampel non-random yang dilakukan pada populasi target yang memenuhi kriteria praktis tertentu, seperti aksesibilitas yang mudah dan ketersediaan pada waktu tertentu untuk berpartisipasi dalam penelitian (Suen, et al., 2014). Responden merupakan orang dewasa dalam kelompok generasi Z atau subjek dengan usia 18-27 tahun. Orang yang berusia 18 tahun atau lebih dianggap kompeten secara hukum berdasarkan UU No. 3 tahun 1997, sehingga dapat memberikan persetujuan dalam informed consent penelitian. Berdasarkan data Kependudukan DIY tahun 2021, jumlah populasi dengan usia 18-27 tahun di DIY sebanyak 526,314 jiwa. Dengan rumus Slovin, ditentukan sampel minimal sebanyak 100 dengan level of confidence 90% dan margin of error 10%. Informed consent dimintakan kepada tiap responden sebelum pengisian kuesioner. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan google form. Kuesioner dikirim kepada 150 orang melalui aplikasi Facebook, Twitter, dan Instagram. Selama durasi survei didapatkan 143 kuesioner yang terisi lengkap dan 129 orang yang memenuhi kriteria. Kuesioner terbagi menjadi tiga bagian: a) data demografi, b) sumber informasi terkait vaksinasi COVID-19 dan perilaku pencarian informasi kesehatan, c) pandangan pribadi responden mengenai informasi yang diperoleh. Kuesioner terdiri dari 11 pertanyaan tertutup, 1 item pertanyaan yes/no question, 3 item pertanyaan skala Likert, dan 7 pertanyaan dengan pilihan berganda. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif.
Discussion
Karakteristik Demografis Karakteristik responden dinilai berdasarkan tiga kriteria, yakni jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Mayoritas dari responden berjenis kelamin perempuan, berpendidikan sarjana, dan merupakan pelajar atau mahasiswa. Hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik sosiodemografik responden (N=129) Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Jenis kelamin Laki – laki 42 32.56 Perempuan 87 67.44 Pendidikan SMA 27 20.93 Diploma 8 6.20 S1 91 70.54 S2/S3 3 2.33 Pekerjaan Pelajar/mahasiswa 29 22.48 Guru/dosen 7 5.43 Karyawan swasta 33 25.58 Pegawai pemerintah 16 12.40 Wirausaha 23 17.83 Pekerja lepas 9 6.98 Tenaga kesehatan 5 3.88 Lainnya 7 5.43 Sumber: Data diolah, 2022 Motivasi dalam Pencarian Informasi Kesehatan Terkait Vaksinasi COVID-19 Berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti, 89.92% responden melakukan pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19. Mayoritas responden menjawab bahwa mereka kadang-kadang melakukan pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19. Pencarian informasi tersebut dilatarbelakangi oleh motivasi yang berbeda-beda. Mayoritas responden menjawab motivasi dalam melakukan pencarian informasi terkait vaksinasi COVID19 adalah karena mereka berencana untuk mendapatkan vaksinasi (64.34%). Selain itu, responden memiliki motivasi lain dalam mencari informasi, yang ditampilkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Motivasi dalam pencarian informasi Motivasi Frekuensi (n) Persentase (%) Penasaran terhadap vaksinasi COVID-19 39 30.23 Mengikuti perkembangan informasi terkait COVID-19 61 47.29 Berencana mendapatkan vaksinasi COVID-19 83 69.34 Mencari informasi setelah mendapatkan vaksinasi COVID-19 38 29.46 Tugas sekolah/kuliah 3 2.33 Sumber: Data diolah, 2022 Durasi dalam Mencari Informasi Kesehatan Terkait Vaksinasi COVID-19 Responden mendapatkan pertanyaan mengenai seberapa lama mereka menghabiskan waktu untuk melakukan pencarian informasi terkait vaksinasi COVID-19. Sebagian besar responden melakukan pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 selama kurang dari 1 jam dalam sehari. Terdapat 1 orang responden yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam dalam mengakses sumber informasi. <1 jam 81% 1-3 jam 16% 4-7 jam 2% >8 jam 1% Sumber Informasi Kesehatan Terkait Vaksinasi COVID-19 Di masa pandemi, media memiliki peran penting dalam memberikan informasi kepada publik, khususnya media massa dan media sosial. Media tersebut merupakan media yang mudah diakses oleh publik (Shu, et al., 2017). Berdasarkan hasil kuesioner, sumber informasi yang paling banyak digunakan oleh responden dalam pencarian informasi terkait vaksinasi COVID-19 adalah melalui media sosial (83.72%). Surat kabar merupakan sumber informasi yang paling sedikit digunakan oleh responden (3.88%). Hasil respon kuesioner ini ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Sumber informasi terkait vaksinasi COVID-19 Sumber Frekuensi (n) Persentase (%) Aplikasi telemedisin 35 27.13 Laman web pemerintah 31 24.03 Media sosial 108 83.72 Surat kabar elektronik 35 27.13 Televisi 21 16.28 Surat kabar cetak 5 3.88 Poster/spanduk/selebaran 15 11.63 Sumber: Data diolah, 2022 Media Sosial sebagai Sumber Informasi Kesehatan Terkait Vaksinasi COVID-19 Media sosial yang paling sering diakses dalam pencarian informasi yaitu Instagram (85.27%) dan WhatsApp (38.76%). 34.11% responden menggunakan Twitter; 19.38% responden menggunakan Youtube, dan 9.3% responden menggunakan Telegram sebagai media untuk melakukan pencarian informasi terkait vaksinasi COVID-19. Sisanya, 6.20% dan 3.10% menggunakan Facebook dan Line untuk mengakses informasi terkait vaksinasi COVID-19. Tabel 4. Media Sosial yang digunakan untuk mencari informasi terkait vaksinasi COVID-19 Sumber Frekuensi (n) Persentase (%) Instagram 110 85.27 Twitter 44 34.11 WhatsApp 50 38.76 Telegram 12 9.30 Facebook 8 6.20 Youtube 25 19.38 Line 4 3.10 Sumber: Data diolah, 2022 Pada bagian ini, responden juga ditanyai mengenai alasan mereka memilih media sosial sebagai sumber informasi. Alasan utama responden menggunakan media sosial sebagai sumber informasi karena media sosial dinilai mudah untuk diakses (88.37%), merupakan aplikasi yang paling sering dibuka (62.02%), dan dirasa informasi mudah dipahami (41.86%). Selain itu, responden merasa bahwa informasi di media sosial lebih menarik (30.23%), lebih lengkap (22.48%), dan terpercaya (10.08%). Tingkat Kepercayaan terhadap Informasi yang Diperoleh di Media Sosial Terkait Vaksinasi COVID-19 Hanya tiga orang responden yang sangat percaya dengan informasi yang didapatkan dari media sosial terkait vaksinasi COVID-19. Satu orang merasa sangat tidak percaya dengan informasi terkait vaksinasi COVID-19 di media sosial. Sebagian besar responden (60.47%) percaya dengan informasi yang didapatkan, sedangkan 36.43% responden merasa ragu-ragu dengan informasi yang didapatkan mengenai vaksinasi COVID-19 di media sosial. Kemampuan Menentukan Validitas dan Kesulitan dalam Pencarian Informasi Kesehatan Terkait Vaksinasi COVID-19 Sebagian besar responden (71.32%) menyatakan bahwa dirinya mampu mengetahui mana informasi yang valid dan mana informasi yang invalid. Tujuh orang responden (5.43%) merasa tidak dapat membedakan informasi yang valid atau invalid, dan sisanya (23.26%) merasa raguragu dengan kemampuannya. Tabel 5. Kesulitan yang ditemui dalam pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 Tantangan Frekuensi (n) Persentase (%) Banyak informasi yang tidak dapat dipercaya 52 40.31 Informasi dari sisi sains yang kurang 50 38.76 Kesulitan dalam memahami istilah medis 37 28.68 Maraknya kelompok yang menentang sains 37 28.68 Penyebaran berita palsu 71 55.04 Terlalu banyak informasi sehingga sulit untuk diproses 52 40.31 Tabel 5 menunjukkan bahwa 71.0% responden menganggap penyebaran berita palsu sebagai tantangan yang dihadapi ketika melakukan pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19. Selain itu, 40.31% dari responden juga menemukan tantangan lain seperti banyaknya informasi yang tidak dapat dipercaya dan terlalu banyaknya informasi sehingga sulit untuk diproses oleh penerima informasi. Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi perilaku pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 oleh generasi Z di DIY. Data yang diolah berdasarkan hasil survei terhadap 129 responden yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar individu (81%) menghabiskan waktu kurang dari 1 jam untuk mencari informasi terkait vaksinasi COVID-19. Media sosial merupakan sumber informasi yang paling sering diakses untuk mendapatkan informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19. Hasil tersebut selaras dengan sifat umum generasi Z yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital sehingga diasumsikan bahwa generasi ini paling familiar dengan teknologi dan informasi digital (Collisson, et al., 2021). Melalui media sosial, pengguna dapat berkomunikasi secara interaktif, misalnya dengan membagikan informasi, berdiskusi, dan membuat story bersama. Mtedia sosial telah menjadi alat yang paling mudah diakses untuk sarana menyampaikan kebebasan berbicara, berdemokrasi, kebenaran dan sumber informasi. Selain itu, hal ini juga didorong dengan kecenderungan pengguna, baik individu maupun pemerintah dalam memanfaatkan media sosial untuk mencari dan berbagi informasi berkaitan dengan pandemi COVID-19. Media cetak seperti surat kabar dan poster tidak lagi dijadikan pilihan utama sebagai sumber informasi karena media tersebut sudah sulit diakses pada era ini. Selain media sosial dan media cetak, sumber informasi lain yang digunakan yaitu aplikasi telemedisin. Praktik telemedisin ini mulai marak digunakan setelah munculnya pandemi. Telemedisin berperan dalam ranah pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan pengendalian penyakit. Banyak pilihan aplikasi dan fitur-fitur yang ditawarkan, mulai dari konsultasi hingga pemberian resep pada pengguna (Monaghesh & Hajizadeh, 2020). Melalui fasilitas konsultasi tersebut, pengguna bisa mendapatkan informasi terkait vaksinasi COVID-19. Selain itu, telemedisin mampu mengurangi kontak fisik yang merupakan salah satu risiko penyebaran virus COVID-19 (Smith, et al., 2020). Telah dibahas sebelumnya bahwa media sosial merupakan sumber utama dalam pencarian informasi terkait vaksinasi COVID-19. Media sosial yang paling sering diakses untuk mencari informasi adalah Instagram (85.27%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jambulingam, Francis, & Dorasamy pada tahun 2021 yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah pengguna Instagram yang diikuti dengan penurunan jumlah pengguna Facebook dan Twitter sebagai sumber informasi bagi generasi Z. Instagram menampilkan informasinya dalam bentuk gambar, yang bagi generasi Z, tampilan visual sangat penting untuk menarik perhatian. Grafik, gambar, dan visualisasi lain mampu menyediakan informasi yang banyak secara instan tanpa harus membaca kalimat secara detail (Niknam et al., 2021). Pertukaran informasi yang masif di media sosial dapat memungkinkan persebaran informasi yang tidak benar atau disinformasi di kalangan penggunanya. Disinformasi tersebut secara signifikan mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap vaksinasi (De Vries, et al, 2022). Di media sosial, setiap pengguna mampu mengekspresikan pendapat pribadinya tanpa memerlukan validasi. Akibatnya, informasi yang salah terkait vaksin sering disebarluaskan di media sosial (Gehrau, et al., 2021). Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa paparan konten semacam itu berdampak negatif pada opini publik, yang menyebabkan keengganan dan keraguan terhadap vaksin (Soares, et al., 2021). Selain itu, terpaan informasi palsu terbukti dapat menurunkan minat seseorang dalam keikutsertaannya pada program vaksinasi (Fatah, 2022). Disinformasi yang sering tersebar di media sosial menimbulkan ketidakpercayaan penggunanya. Pada penelitian ini, 36.43% orang merasa ragu-ragu terhadap kebenaran informasi yang mereka dapatkan mengenai vaksinasi COVID-19. Sebagian besar partisipan dalam penelitian ini merasa mampu untuk membedakan informasi yang valid dan invalid, namun masih ada lebih dari 20% partisipan yang ragu untuk dapat membedakannya. Informasi yang didapatkan oleh para calon penerima vaksin harus efektif, benar, dan terpercaya sehingga tidak menyebabkan keraguan pada penerima informasi yang dapat mengakibatkan penundaan atau pembatalan vaksinasi. Informasi yang secara signifikan membentuk keyakinan individu untuk menerima vaksin meliputi informasi mengenai keamanan dan keberhasilan vaksin (Roberts, et al., 2021). Selain tantangan berupa banyaknya penyebaran berita palsu serta tidak dapat dipercaya, informasi mengenai vaksinasi COVID-19 dirasakan terlalu banyak sehingga sulit untuk memproses informasi mana yang penting. Terdapat 38.76% orang merasa bahwa informasi dari sisi sains atau ilmu pengetahuan masih kurang. Sehingga, penelitian ini merekomendasikan penggunaan media sosial untuk memberikan informasi ilmiah yang up-to-date mengenai vaksinasi COVID-19 oleh pemerintah untuk mendampingi generasi Z dalam membuat keputusan untuk mendapatkan vaksinasi. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan di antaranya, pemilihan sampel menggunakan metode convenience sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan dan jawaban dari responden tidak dapat divalidasi oleh peneliti. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku pencarian informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19
Conclusion
Generasi Z menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama dalam memperoleh berbagai informasi termasuk informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 karena mereka familiar dengan dunia digital. Alasan utama mengapa generasi Z lebih memilih media sosial karena media sosial berisi informasi yang tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga menyediakan gambar dan video. Selain itu, media sosial relatif jauh lebih mudah untuk diakses. Kendati demikian, kemudahan tersebut juga menimbulkan tantangan yang sering ditemui, diantaranya berupa penyebaran berita palsu. Hal tersebut membuat sebagian generasi Z meragukan informasi kesehatan yang didapat dari media sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dan ketelitian untuk melakukan pengecekan apakah suatu informasi adalah benar atau tidak sehingga tidak menimbulkan misleading yang berimbas pada kesehatan orang lain dan lingkungan. Penelitian ini memberikan kontribusi untuk surveilans kebutuhan informasi publik terkait COVID-19 untuk menghindari misinformasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur informasi, khususnya internet, mempengaruhi akses, penggunaan, dan pengambilan keputusan tentang pencegahan dan pengobatan penyakit COVID-19 oleh masyarakat. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi stakeholders untuk dapat memfasilitasi ketersediaan informasi yang memadahi dan tidak menimbulkan kebingungan bagi masyarakat.