Faktor-Faktor Pencarian Informasi Inovasi Pertanian dalam Meningkatkan Manajemen Sumber Daya Manusia
Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Diseminasi informasi pertanian merupakan sarana pembangunan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian. Pengetahuan yang teradopsi dan diaplikasikan pada usaha tani berpengaruh dengan meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi produk pertanian, sehingga kesejaheteraan hidup SDM pertanian meningkat. Perlu diketahui, keterbatasan kualitas SDM berdampak pada adopsi informasi dan inovasi yang mempengaruhi kualitas produk pertanian serta pendapatan petani. Kebun Buah Cepoko merupakan salah satu aset pemerintah yang menjadi sumber informasi inovasi terkait tanaman hortikultura untuk petani maupun masyarakat umum lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk:mengetahui karakteristik petani pencari informasi; mengetahui faktor petani mencari informasi inovasi pertanian; dan menganalisis pengaruh karakteristik petani pencari informasi terhadap faktor petani pencari informasi. Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi berganda menggunakan SPSS versi 25. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan, pertama karakteristik petani pencari informasi mayoritas berumur 28-67 tahun, pengalaman usaha tani selama 7-10 tahun, dan berjenis kelamin perempuan; kedua faktor petani mencari informasi terdiri dari petani berpendidikan SMA, Frekuensi berkunjung ke Kebun Buah Cepoko, Nilai manfaat ekonomi komoditas, tingkat kosmopolitan petani, jenis informasi yang dibutuhkan adalah informasi budidaya; Ketiga hasil model persamaan regresi linier berganda adalah 𝑌 = 21.47 -1.85X1 + 4.61X2. Tidak terdapat perbedaan pencarian informasi inovasi pertanian antara petani laki-laki dan perempuan.
Abstract
Dissemination of agricultural information is a means of developing and improving the quality of agricultural Human Resources (HR). The knowledge adopted and applied to farming affects the quality and economic value of farm products, so the welfare of agricultural and human resources will increase. It should be noted that the limited quality of human resources impacts the adoption of information and innovations that affect the quality of agricultural products and farmers' income. The Cepoko Fruit Garden is one of the government's assets that is a source of information on innovation related to horticultural crops for farmers and the general public. This study aims to: Determine the characteristics of farmers seeking information, know the factors of farmers seeking agricultural innovation information, and analyze the effect of the characteristics of farmers seeking information on the aspects of farmers seeking information.The data analysis method used descriptive statistics and multiple regression analysis using SPSS version 25. Based on the results of the study, it was concluded, firstly, the characteristics of the majority of information-seeking farmers were 28-67 years old, had 7-10 years of farming experience, and were female; the two factors of farmers seeking information consist of farmers with high school education, frequency of visits to Cepoko Orchards, value of economic benefits of commodities, cosmopolitan level of farmers, the type of information needed is cultivation information; The three results of the multiple linear regression equation model are = 21.47 -1.85X1 + 4.61X2. There is no difference in seeking information on agricultural innovations between male and female farmers.
Keywords:
Information dissemination
· Information seeker
· Human resources
Introduction
Sektor pertanian mempunyai peranan penting terhadap pembangunan perekonomian nasional. Mengingat sektor pertanian mempunyai peran penting dalam penyediaan pangan, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, serta sebagai sumber pendapatan bagi 27,7 juta rumah tangga petani di Indonesia (BPS, 2018). Agenda pembangunan sektor pertanian telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan perlu adanya optimalisasi keberjalanan program pembangunan oleh Dinas Pertanian diseluruh Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan sektor pertanian memerlukan dukungan sumber daya manusia yang memadai. Keterbatasan kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan dalam pembangunan sektor pertanian. Misalnya pada rendahnya tingkat pendidikan berdampak pada kemampuan penyerapan informasi dan adopsi sehingga akan berpengaruh pada kualitas produk serta pendapatan petani (Muharram, 2021). Pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber terkait pembangunan pertanian memerlukan manajemen sumber daya manusia yang handal. Menurut Limi et al (2020) apabila kondisi rendahnya sumber daya manusia dibiarkan, maka akan mengancam pemenuhan pangan dan potensi rawan pangan. Isu utama dan penting dalam pembangunan pertanian terkait dengan peningkatan sumber daya manusia (Destrian et al., 2018). Penyuluh pertanian menjadi salah satu aktor pembangunan pertanian untuk dapat menyampaikan teknologi dan inovasi pertanian serta informasi kebijakan pemerintah. Peningkatan kompetensi dan sistem informasi pertanian dibutuhkan dalam meningkatkan profesionalitas SDM pertanian. Sehingga peningkatan sumber daya petani maupun penyuluh merupakan syarat mutlak keberhasilan program pembangunan pertanian (Harahap et al., 2018). Pengembangan sumber daya manusia petani bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja yang akan berdampak pada peningkatan penghasilan dan keberlanjutan usaha tani (Hendaryati, 2010; Limi et al., 2020) Era globalisasi saat ini menuntut sektor pertanian bersaing dengan produk dari luar sehingga peningkatan kompetensi petani dan akses informasi menjadi hal penting (Sumardjo et al., 2008). Arus informasi dan koneksi mendorong dinamika permintaan pasar dengan menuntut peningkatan standar produk. Menurut Gandasari & Musyadar (2017) dinamika permintaan pasar memerlukan respons sumber daya manusia petani yang berkualitas, handal, berkemampuan manajerial, serta berorientasi bisnis Dalam era digital saat ini, kemudahan mendapatkan informasi wajib dimanfaatkan petani untuk mendukung pengambilan keputusan dalam budidaya yang dijalaninya (Andriani et al., 2019). Sumber daya manusia petani identik dengan proses pengambilan keputusan petani dalam memilih informasi/ teknologi yang akan diterapkannya (Yusliana et al., 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Syifa et al., (2020) menyatakan bahwa semakin tinggi akses informasi akan mempengaruhi partisipasi petani dalam usaha tani yang dilakukannya yang pada akhirnya berdampak signifikan terhadap pendapatan. Kebutuhan informasi petani perlu diimbangi dengan ketersediaan sumber-sumber informasi yang lebih lengkap dan terarah. Sumber informasi yang dominan menjadi panutan dalam pengambilan keputusan (Purwoko et al., 2007). Dinas Pertanian Kota Semarang memiliki Kebun Dinas Cepoko yang menjadi salah satu sumber informasi inovasi terkait tanaman hortikultura untuk petani maupun masyarakat umum lainnya. Dalam rangka mengoptimalkan fungsi Kebun Dinas dapat dilakukan dengan menganalisis karakteristik petani pencari informasi dan faktor-faktor pencarian informasi inovasi tanaman hortikultura. Topik tersebut penting untuk diteliti apakah terdapat pengaruh antara karakteristik petani pencari informasi dan faktor-faktor petani mengakses informasi. Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka tujuan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah: mengetahui karakteristik petani pencari informasi di Kebun Buah Cepoko; mengetahui faktor petani mencari informasi inovasi pertanian; dan menganalisis pengaruh karakteristik petani pencari informasi terhadap faktor petani pencari informasi inovasi pertanian di Kebun Buah Cepoko.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode survei dengan teknik kuisioner dan wawancara. Data yang dikumpulkan melalui wawancara digunakan sebagai data pendukung dalam melakukan analisis deskriptif data. Populasi penelitian merupakan 32 petani hortikultura yang berkunjung ke kebun buah Cepoko dan menerima informasi pengembangan tanaman hortikultura periode Desember 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling sebanyak 32 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2020 secara offline dan online menyesuaikan aksesibilitas responden dikarenakan adanya pembatasan kegiatan masyarakat saat pandemi COVID 19 di Kota Semarang. Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi berganda. Data diolah menggunakan Software Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 25.0. Penelitian ini menganalisis pengaruh (regresi) karakteristik petani yang terdiri dari rentang umur (X1), rentang lama usaha tani (X2), dan jenis kelamin (X3) terhadap faktorfaktor petani mengakses informasi pertanian (Y) dengan indikator pengukuran tingkat pendidikan, frekuensi komunikasi, nilai manfaat ekonomi, tingkat kosmopolitan, dan kebutuhan informasi pertanian. Peneliti juga mengkaji perbedaan faktor petani mengakses informasi pertanian berdasarkan jenis kelamin menggunakan uji beda. Data yang telah diolah selanjutnya dianalisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensial. statistik deskriptif pada masing-masing variabel menentukan kategorisasi skala. Penentuan interval menggunakan rentang penilaian rata-rata. Analisis Deskriptif variabel X dan Y dilakukan dengan perhitungan sehingga ditemukan jawabannya secara kuantitatif (Sugiyono, 2014). Selanjutnya, data ordinal yang terkategorisasi ditransformasi menggunakan MSI (Method of Successive Interval) untuk memperoleh data interval. Analisis inferensial menggunakan uji signifikasi dengan taraf kepercayan 95% atau (alpha) 5%. Analisis pengaruh antara karakteristik petani mengakses informasi (variabel X) terhadap faktor petani mengakses informasi (variabel Y) menggunakan regresi berganda. Hipotesis pada penelitian ini adalah pertama diduga terdapat pengaruh yang signifikan umur (X1), lama usahatani (X2), dan jenis kelamin (X3) terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian; kedua diduga terdapat perbedaan signifikan faktor petani mengakses informasi pertanian antar jenis kelamin.
Discussion
Karakteristik Petani Pencari Informasi di Kebun Buah Cepoko Umur Responden Umur dapat diartikan sebagai satuan waktu yang mengukur keberadaan hidup responden yang bersangkutan. Umur diukur pada saat dilakukannya penelitian. Badan Pusat Statistika (2018) menyebutkan bahwa usia produktif pada kelompok umur 15-65 tahun. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1. dapat diketahui umur petani di lokasi penelitian mayoritas berumur 52-59 tahun berjumlah 10 orang dengan persentase 31,25%. Sementara 15,62% petani berumur 28-35 tahun atau berjumlah 5 orang. Petani yang berumur 36-43 tahun berjumlah 6 orang dengan presentase 18,75%. Diurutan kedua dengan presentase 21,87%, petani berumur 44-51 tahun berjumlah 7 orang. Terdapat 4 petani yang berumur 60-67 tahun atau sejumlah 12,50%. Berdasarkan penelitian Andini et al (2013) petani masih bekerja di usia tua karena tidak memiliki jaminan hari tua (pensiun), sehingga harus terus bekerja selama tidak ada yang menjamin hidupnya.Pembahasan adalah hasil interpretasi analisis data dan akan lebih komprehensif jika dikaitkan dengan teori/konsep ilmiah relevan atau artikel yang terbit sebelumnya yang saudara sampaikan pada bagian pendahuluan. Hasil dan pembahasan harus menjawab rumusan permasalahan dan memberikan dampak pengetahan baru. Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur No Umur Orang Presentase (%) 1. 28-35 4 12,50 2. 36-43 7 21,87 3. 44-51 7 21,87 4. 52-59 10 31,25 5. 60-67 4 12,50 Jumlah 32 100,00 Sumber: Analisis Data Primer, tahun 2020 Petani yang memiliki usia masih muda lebih mudah menerima informasi dan inovasi teknologi khususnya bidang pertanian. Keberhasilan adopsi dan difusi inovasi tidak hanya dipengaruhi oleh memilih inovasi pertanian yang tepat guna, memilih metode penyuluhan yang efektif, dan memberdayakan agen penyuluhan secara optimal. Faktor internal petani seperti umur juga berpengaruh signifikan dan relatif sulit untuk dilakukan intervensi (Musyafak & Ibrahim, 2005). Makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum diketahui. Petani-petani yang lebih tua kurang menerima perubahan daripada mereka yang muda, namun bukan berarti mereka tidak mau menerima perubahan untuk orang lain. Pertimbangan-pertimbangan yang sangat praktis seperti kesehatan, kekuatan yang suda menurun, dan menikmati masa tua mungkin memaksa tindakan mereka tidak setuju dengan profit dan pendapatan yang ingin dimaksimumkan. Petani-petani yang lebih tua mempunyai problema-problema yang berbeda daripada yang berusia setengah tua dan yang lebih muda (Soekartawi, 2005). Lama Usahatani Lama usahatani adalah pengalaman responden mengusahakan tanaman yang ditanamnya dan berkecimpung dalam pertanian. Lama usahatani diukur dalam satuan tahun. Lama usahatani merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung turut mendukung keberhasilan usahatani yang dilakukan petani secara keseluruhan. Petani yang telah berpengalaman dan yang didukung oleh sarana produksi yang lengkap dan lebih mampu meningkatkan produktivitas jika dibandingkan dengan petani yang baru berusahatani (Herlina, 2010). Karakteristik petani berdasarkan lama usaha tani dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik Petani berdasarkan Lama Usahatani Rentang Lama Usahatani (Tahun) Orang Presentase (%) 3-6 15 46,87 7-10 16 50,00 11-14 0 0 15-18 1 3,13 Total 32 100,00 Sumber : Analisis Data Primer, tahun 2020 Berdasarkan Tabel 2. terdapat 16 responden berpengalaman usahatani dengan rentang 710 tahun atau sebesar 50%. Pengalaman bertani responden terendah adalah 3 tahun sedangkan tertinggi atau terlama adalah 16 tahun. Mayoritas responden termasuk petani yang cukup berpengalaman berdasarkan kategori pengalaman usahatani (Soeharjo & Patong, 1999). Pengalaman usahatani sangat mempengaruhi petani dalam menjalankan kegiatan usahatani yang dapat dilihat dari hasil produksi. Petani yang sudah lama berusahatani memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang tinggi dalam menjalankan usahatani. Suharyanto et al (2015) menjelaskan pengalaman yang dimiliki petani dapat digunakan sebagai peluang untuk mengarahkan penggunaan input produksi secara efisien karena petani melaksanakan kegiatan usahatani berdasarkan pengalaman. Jenis Kelamin Petani Petani di lokasi penelitian berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin adalah atribut-atribut fisiologis dan anatomis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, sedangkan gender dipakai untuk menunjukan perbedaan-perbedaan antara lakilaki dan perempuan yang dipelajari (Wade & Tavris, 2007). Karakteristik petani berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Petani berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Petani Presentase (%) Laki-laki 14 43,75 Perempuan 18 56,25 Sumber : Analisis Data Primer, tahun 2020 Berdasarkan Tabel 3. terdapat 14 petani berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 43,75%. Petani berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang dengan presentase 56,25%. Data ini menunjukkan bahwa responden terbanyak adalah perempuan. Hubeis (2010) mendefinisikan peran gender (gender role) sebagai peran perempuan atau peran laki-laki yang diaplikasikan dalam bentuk nyata menurut kultur setempat yang dianut dan diterima. Faktor-faktor Petani Mencari Informasi Perilaku pencarian informasi pada petani bersifat purposive dan merupakan kebutuhan mencapai beberapa tujuan. Perilaku pencarian informasi dimulai ketika seseorang merasa bahwa pengetahuan yang dimilikinya saat itu kurang dari pengetahuan yang dibutuhkannya. Berdasarkan analisis data diperoleh presentase petani berdasarkan pertanyaan kuisioner tertutup. Presentase dikalkulasi dari 11 item pertanyaan menggunakan analisis deskriptif. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang diselesaikan oleh petani berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki. Pendidikan memiliki peran dalam membangun pola pikir individu. Individu yang memiliki jenjang pendidikan yang tinggi memiliki pola pikir luas, baik wawasan maupun ilmu usahatani. Adapun tingkat pendidikan petani tersaji dalam Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Pendidikan Petani Sumber: Data Primer 2020 Kondisi di lapang menunjukkan tingkat pendidikan petani tergolong tinggi. Tingkat pendidikan petani mayoritas SMA (Sekolah Menengah Atas) sebanyak 16 orang dengan presentase 50%. Selaras dengan penelitian Permatasari (2013) tingkat pendidikan formal tidak berhubungan terhadap tingkat kognitif mengenai informasi teknologi pertanian (tanaman hias) yang didiseminasikan melalui media komunikasi cyber extension. Hal ini didukung oleh Djaali (2008) pendidkan formal bukan salah satu acuan seseorang memperoleh pengetahuan. Pada hakikatnya belajar adalah proses kehidupan sepanjang hayat yang didapatkan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Lingkungan tempat tinggal mempengaruhi pembentukan prilaku dan intelektualitas seseorang. Hasilnya akan diimplementasikan terhadap lingkungan alam dan interaksi sesama manusia. Teori belajar Cognitive field yang dikemukakan oleh Kurt Lewin, belajar itu sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Pola pikir dan wawasan merupakan kawasan kognitif yang dapat dirubah melalui pendidikan. Penelitian Raya et al. (2011), menyebutkan bahwa pendidikan memiliki hubungan terhadap penggunaan media komunikasi. Penggunaan media komunikasi tersebut diantaranya media interpersonal dan internet. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka seseorang akan sering dan berinteraksi dengan anggota keluarga dan orang disekitar. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan seseorang agar dapat memahami suatu hal. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut menerima informasi. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuannya. Makin tinggi tingkat pendidikan yang harus dipenuhinya makin tinggi pula derajat profesi yang disandangnya (Roqib & Nurfuadi, 2020). Frekuensi Komunikasi Frekuensi komunikasi merupakan intensitas petani dalam melakukan komunikasi. Komunikasi yang dilakukan merupakan proses dalam memanfaatkan media diseminasi informasi yaitu Kebun Buah Cepoko. Frekuensi komunikasi merupakan intensitas petani dalam melakukan komunikasi. Komunikasi yang dilakukan merupakan proses dalam memanfaatkan media diseminasi informasi yaitu Kebun Buah Cepoko. Frekuensi komunikasi tersaji dalam Tabel 5. Mayoritas responden berkunjung ke Kebun Buah Cepoko sebanyak lebih dari lima kali dalam setahun. Sebanyak 19 responden merupakan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Gunung Subur sebagai pengarap lahan budidaya Kebun Cepoko. Hal ini menunjukkan kesungguhan petani Gunung Subur dalam menerima informasi. Namun bagi Kelompok Wanita Tani Bunda Lestari dan Asosiasi Penangkar dan Penjual Bibit Online Semarang hanya melakukan kunjungan ke Kebun Buah Cepoko kurang dari tiga kali dalam setahun. Tabel 5. Frekuensi Komunikasi Petani Sumber: Data Primer 2020 No Frekuensi Komunikasi Distribusi Orang % 1 Frekuensi berkunjung ke Kebun Cepoko dalam satu tahun Kurang dari 3 kali 8 25 3 -5 kali 5 15.625 Lebih dari 5 kali 19 59.375 Jumlah 32 100 2 Frekuensi mengakses informasi dari Dinas Pertanian Kota Semarang dalam satu bulan Kurang dari 3 kali 15 46.875 3 -5 kali 9 28.125 Lebih dari 5 kali 8 25 Jumlah 32 100 Selaras dengan Harmoko dan Darmansayah (2016) petani pada umumnya akan melakukan komunikasi kepada individu atau kelompok yang dekat. Responden menyebutkan sumber informasi pertanian yang diakses melalui Penyuluh Pertanian Lapang, kios sarana produksi, Dinas Pertanian, perusahaan swasta, mencari informasi melalui internet, belajar bersama pengalaman petani lainnya, dan Kebun Cepoko. Salah satu sumber informasi yang menarik petani adalah kebun pertanian yang dikelola oleh dinas maupun instansi pemerintah lainnya. Kebun pertanian yang dikelola dinas maupun instansi pemerintah lainnya merupakan sumber informasi berbentuk komunikasi interpersonal yang berperan untuk: pengembangan pertanian terkait sarana pengujian teknologi, penyampai umpan balik terhadap teknologi yang diterapkan serta media utama diseminasi (Balitbu, 2015; Dispertan, 2020; Far-far, 2011; Sarwani et al., 2011). Penelitian Bulu et al (2009) menyatakan intensitas komunikasi inovasi atau kesungguhan untuk menerima informasi inovasi sangat ditentukan oleh kebutuhan akan informasi inovasi yang bersangkutan. Frekuensi komunikasi yang terjalin sangat tinggi karena tingkat intensitas komunikasi inovasi atau tingkat kesungguhan dalam menerima informasi inovasi akan semakin kuat. Nilai Manfaat Ekonomi Komoditas Nilai manfaat ekonomi komoditas yang diusahakan petani dapat memberikan dorongan dalam hal memanfaatkan informasi yang didiseminasikan. Nilai manfaat ekonomi komoditas petani pencari informasi terdapat pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Manfaat Ekonomi Komoditas Sumber: Data Primer 2020 No Nilai Manfaat Ekonomi Komoditas Distribusi Orang Persentase (%) 1 Kisaran harga jual (petani) komoditas hortikultura yang diusahakan Rp 5.000 – Rp 20.000 20 62.5 Rp 20.000 – Rp 35.000 5 15.625 Rp 35.000 – Rp 50.000 7 21.875 Jumlah 32 100 2 Kepastian pasar pada komoditas yang diusahakan Kurang memadai (belum jelas pasar komoditas yang diusahakan) 18 56.25 Memadai (target pasar komoditas yang diusahakan sudah jelas) 12 37.5 Sangat memadai (memiliki permintaan produksi melebihi target pasar) 2 6.25 Jumlah 32 100 3 Kemampuan pembiayaan usaha tani Kurang mampu membiayai (sumber permodalan kurang mencukupi) 12 37.5 Mampu membiayai (sumber permodalan mencukupi) 19 59.375 Sangat mampu membiayai (sumber permodalan lebih dari cukup) 1 3.125 Jumlah 32 100 4 Keterjangkauan tingkat suku bunga sumber modal usahatani Kurang terjangkau 15 46.875 Terjangkau 17 53.125 Sangat terjangkau 0 0 Jumlah 32 100 Mayoritas sebanyak 20 responden menjual komoditas hortikultura yang diusahakan per kilogram pada kisaran harga jual Rp. 5.000 – Rp 20.000. Kepastian pasar pada komoditas yang diusahakan mayoritas sebanyak 18 responden kurang memadai atau belum jelas pasar komoditas yang diusahakan. Kemampuan pembiayaan usaha tani mayoritas sebanyak 19 responden mampu membiayai atau sumber permodalan mencukupi. Keterjangkauan tingkat suku bunga sumber modal usahatani mayoritas sebanyak 17 responden terjangkau. Berdasarkan penelitian Harmoko dan Darmansayah (2016) komoditas usaha tani merupakan investasi yang menjadi sumber pendapatan. Harapan tersebut semakin tinggi jika memiliki manfaat ekonomi. Manfaat ekonomi menjadi tujuan utama petani dalam memilih komoditas. Keputusan petani untuk memilih jenis usahatani dan inovasi tidak didasarkan atas rekomendasi pihak luar dengan keuntungan yang dicapai, melainkan didasarkan atas pertimbangan petani pada faktor-faktor lain seperti kepastian pasar, kemampuan pembiayaan, dan modal usaha. Rendahnya akses petani akan program permodalan biasanya dikarenakan kurangnya informasi sumber-sumber pembiayaan dan skim/prosedur untuk memperoleh kredit yang dianggap sulit (Safitri, 2020) Tingkat Kosmopolitan Tingkat kosmopolitan merupakan keaktifan petani dalam mencari informasi. Aktifitas tersebut dapat berupa mencari dan memanfaatkan sumber media komunikasi atau mencari sumber informasi langsung. Tingkat kosmopolitan petani pencari informasi tertera pada Tabel 7. Mayoritas responden sebanyak 18 responden melakukan kontak dengan informan pertanian (sesama petani, PPL, peneliti pertanian, kios sarana produksi, perusahaan swasta) untuk kepentingan pertanian dengan frekuensi kurang dari tiga kali selama satu bulan. Sebanyak 18 responden menjawab penting kebutuhan informasi pertanian dan 11 responden menjawab sangat penting kebutuhan informasi pertanian. Sebanyak 20 responden menjawab penting kegiatan mencari informasi pertanian dan 8 responden menjawab sangat penting kegiatan mencari informasi pertanian. Tabel 7. Tingkat Kosmopolitan Petani No Tingkat Kosmopolitan Distribusi Orang % 1 Frekuensi petani melakukan kontak untuk kepentingan pertanian dalam 1 bulan terakhir Kurang dari 3 kali 18 56.25 3 -5 kali 9 28.12 Lebih dari 5 kali 5 15.63 Jumlah 32 100.00 2 Tingkat kebutuhan informasi pertanian Sangat tidak penting 1 3.12 Tidak penting 0 0 Netral 2 6.25 Penting 18 56.25 Sangat penting 11 34.38 Jumlah 32 100.00 3 Motivasi mencari informasi pertanian Sangat tidak penting 1 3.12 Tidak penting 0 0 Netral 3 9.38 Penting 20 62.50 Sangat penting 8 25.00 Jumlah 32 100.00 Sumber: Data Primer 2020 Rogers (2003) menyatakan kekosmopolitan adalah derajat sejauhmana seseorang berorientasi di luar sistem sosialnya. Tingkat kosmopolitan dicirikan antara lain banyaknya aktivitas ke luar sistem sosial (keluar desa), berinteraksi dengan pihak luar sistem sosial (tamu), kontak dengan embaga penelitian, keterdedahan terhadap teknologi informasi dan komunikasi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik. Andriani et al (2019) menyatakan semakin tinggi tingkat ketersediaan sarana akses informasi akan mendorong tingkat kosmopolitan yang semakin tinggi dan akan meningkatkan tingkat manfaat informasi yang diakses karena semakin beragam dan komprehensifnya informasi yang diperoleh dan sumber informasi yang diakses. Kebutuhan Informasi Kebutuhan informasi pertanian dalam wilayah satu dengan lainnya akan berbeda. Wilayah dengan akses informasi pertanian yang mudah akan memberikan kemudahan dalam akses informasi. Tabel 8 memaparkan presentase jenis informasi yang dibutuhkan oleh petani. Jenis informasi yang dibutuhkan responden penelitian mayoritas berupa informasi budidaya dengan presentase 62.50%. Hal ini selaras dengan penelitian Andriani et al. (2019), informasi yang paling dibutuhkan petani adalah yang berkaitan dengan teknologi produksi, diikuti informasi pemasaran dan pascapanen. Juniarti, et al (2020) memaparkan semakin tinggi kebutuhan kognitif informasi pertanian semakin tinggi pula manfaat Kebun Cepoko sebagai media diseminasi informasi. Berdasarkan kalkulasi kuantitas kebutuhan informasi, sebanyak 20 orang responden membutuhkan kurang dari tiga jenis informasi yang dibutuhkan dan sebanyak 11 orang responden membutuhkan empat jenis informasi pertanian. Tabel 8. Jenis Informasi yang dibutuhkan Petani Sumber: Data Primer 2020 Nilai skor tertinggi pada parameter ketersediaan informasi budidaya, pemasaran, harga buah, dan kebijakan pemerintah. Ketersediaan informasi budidaya merupakan tujuan utama petani mengakses informasi, di sisi lain UPTD Kebun Buah Cepoko memiliki fungsi diseminator hasil penelitian dan kajian budidaya hortikultura di Kota Semarang. Informasi pemasaran dan harga buah merupakan salahsatu informasi yang penting bagi petani karena kepastian harga buah mempengaruhi petani dalam memilih komoditas usahatani. Sebelum memilih dan mengusahakan suatu komoditas, petani mempertimbangkan besar kecilnya pendapatan yang diperoleh dari pengusahaan komoditi tersebut. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin cepat kemampuannya menerapkan inovasi. Fungsi Kebun Buah Cepoko sebagai penyedia informasi kebijakan pemerintah, karena keberadaan UPTD Kebun Buah Cepoko berada dibawah wewenang Dinas Pertanian Kota Semarang. Pengaruh Karakteristik Petani Terhadap Faktor Petani Mencari Informasi Persamaan Regresi Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen yang terdiri dari signifikan umur (X1), lama usahatani (X2), dan jenis kelamin (X3) terhadap variabel dependen faktor petani mengakses informasi pertanian (Y). Analisis regresi linier berganda dilakukan menggunakan software IBM SPSS 25. Hasil model persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut: 𝑌 = 21.47 - 1.85X1 + 4.61X2 Pada persamaan regresi tersebut dapat diinterpretasikan semakin bertambah umur, maka semakin menurunan pencarian informasi. Peningkatan pengetahuan dapat diperoleh seiring bertambahnya usia, namun pada usia-usia tertentu dan menjelang lanjut usia kemampuan menerima dan mengingat pengetahuan akan berkurang. Rentang umur 20-50 tahun merupakan masa dewasa dimana terjadi perubahan fisik dan mental. Hal ini berpengaruh pada kemahiran, keterampilan, serta profesionalitas dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Masa dewasa merupakan usia produktif, masa bermasalah, terjadi ketegangan emosi, keterasingan sosial, masa berkomitmen, perubahan nilai, kreatif, dan masa penyesuaian dengan cara hidup baru (Hanifah, 2010). Semakin berpengalaman dan lama menjalani usaha tani, maka petani semakin tertarik mencari informasi pertanian. Petani pencari informasi merupakan kategori petani cukup berpengalaman. Berdasaran kategorisasi Widyastuti (2014) bahwa lamanya usahatani dikategorikan menjadi kurang berpengalaman (<5 tahun), cukup berpengalaman (6-10 tahun), berpengalaman (11-15 tahun) dan sangat berpengalaman (>15 tahun). Ismilaili et al (2015) menyatakan bahwa informasi sangat dibutuhkan oleh petani dalam rangka menambah pengetahuan serta keterampilannya guna meningkatkan sistem usaha tani yang lebih baik. Menurut pendapat Mulyati et al (2016) pengalaman bertani sangat penting dalam menentukan keberhasilan usahatani padi sawah, karena dengan pengalaman pada usahatani padi sawah, mereka akan lebih terampil dalam mengatasi hambatan maupun tantangan yang mungkin terjadi pada saat usahatani berlangsung. Pada variabel jenis kelamin tidak diperoleh pengaruh yang signifikan. Hal ini diduga pada petani pencari informasi di Kebun Buah Cepoko tidak terdapat perbedaan fungsi gender dan pengolongan sosial dalam hal pencarian informasi. Petani pria dan wanita memiliki fungsi dan kesempatan yang sama dalam pencarian informasi pertanian. Variabel perbedaan gender bertolak belakang dengan hasil penelitian Nur et al. (2014), yaitu terdapat hubungan yang positif antara usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumsi media cetak, media elektronik, dan media baru internet. Teori yang digunakan dalam peneitian ini yaitu Social Category Theory dapat dibuktikan, yaitu usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin mempengaruhi kesamaan perilaku konsumsi media. Penggolongan sosial berdasarkan kesamaan perilaku yang kurang lebih sama terhadap rangsangan-rangsangan tertentu. Penggolongan sosial tersebut berdasarkan jenis kelamin, tingkat penghasilan, pendidikan, tempat tinggal, dan agama Koefisien Determinasi Koefisien determinasi (R2 ) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan sebuah model regresi linier menjelaskan variasi variabel dependen. Koefisien determinasi dilakukan dengan melihat persentase (%) pada Adjusted R Square di tabel model summary analisis regresi linier berganda. Hasil model summary dapat dilihat pada Tabel 9 Tabel 9. Hasil Model Summary Koefisien Determinasi R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0.685b 0.469 0.432 4.34204 Sumber: Analisis Data Primer 2020 Tabel 9 menunjukkan hasil koefisien determinasi (R2 ) diperoleh nilai Adjusted R Square sebesar 0,432 atau 43,2%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi variabel perilaku pencarian informasi dapat dijelaskan oleh variabel umur (X1), lama usahatani (X2) sebesar 43,2% sedangkan sisanya 56.8% dipengaruhi oleh variabel yang belum diteliti. Tabel 11 menunjukkan hasil koefisien korelasi atau hubungan sebesar 0.685. Pada koefisien determinasi (R2) diperoleh nilai Adjusted R Square sebesar 0,432 atau 43,2%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi variabel perilaku pencarian informasi dapat dijelaskan oleh variabel umur (X1), lama usahatani (X2) sebesar 43,2% sedangkan sisanya 56.8% dipengaruhi oleh variabel yang belum ditelitiatau tidak dibahas dalam penelitian ini. Nilai Standard Error of Estimate (SSE) sebesar 4.34, berarti nilai error model dibawah taraf kesalahan (alpha=5%) atau SSE < Standard Deviation. Selanjutnya diperlukan uji simultan atau uji F untuk mengetahui signifikansi model. Menurut Ghozali (2016) nilai koefisien determinasi yang kecil memiliki arti bahwa kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas, Sebaliknya jika nilai mendekati 1 (satu) dan menjauhi 0 (nol) memiliki arti bahwa variabel – variabel independen memiliki kemampuan memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Menurut Chin (1998), nilai R Square dikategorikan kuat jika lebih dari 0,67, moderat jika lebih dari 0,33 tetapi lebih rendah dari 0,67, dan lemah jika lebih dari 0,19 tetapi lebih rendah dari 0,33. Hasil penghitungan koefisien determinasi menunjukkan model berkategori moderat atau > 0.33" Umur dan pengalaman yang tercermin dari lama usaha tani memberikan pengaruh terhadap pencarian informasi yang dilakukan petani. Umur terkait dengan kemampuan fisik dan respon dalam usaha tani. Dalam rentang umur produktif petani cenderung akan lebih semangat dalam melakukan pencarian informasi yang menunjang usaha taninya. Ada kecenderungan petani berusia produktif dan muda lebih cepat untuk mengadopsi inovasi. Umur dan pengalaman usaha tani menunjang petani dalam penggunaan media informasi dan secara signifikan berhubungan dengan kompetensi (sumber daya petani) yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan (Harahap et al., 2018; Manyamsari, 2014). Uji Simultan Uji simultan atau uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Hasil uji simultan dilakukan dengan membandingkan p-value dengan tingkat signifikansi (α) yaitu 0,05. Hasil uji simultan dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Uji Simultan Analisis Pengaruh Karakteristik Petani Terhadap Faktor Petani Mencari Informasi Model Sum of Squares df Mean square F Sig. Regression 482.109 2 241.054 12.786 .000 Residual 546.745 29 18.853 Total 1028.854 31 Sumber: Analisis Data Primer 2020 Tabel 9 menunjukkan bahwa nilai p-value pada kolom Sig. lebih kecil dari taraf signifikansi (α) 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang terdiri dari umur (X1) dan lama usahatani (X2) secara simultan atau bersama-sama memiliki pengaruh terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian (Y). Uji Parsial (Uji t) Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel Independen terhadap variabel dependen. Hasil uji parsial (uji t) dilakukan dengan membandingkan p-value pada kolom Sig. dengan tingkat signifikansi (α) yaitu 0,05. Hasil uji parsial dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Uji Parsial Analisis Pengaruh Karakteristik Petani Terhadap Faktor Petani Mencari Informasi Model B Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients t Sig Konstant 21.357 2.567 8.319 0.000 0.000 Umur (X1) -1.841 0.822 -0.310 -2.238 0.033 0.033 Lama usaha tani (X2) 4.234 0.996 0.629 4.251 0.000 0.000 Jenis kelamin (X3) 1.774 1.651 0.155 1.075 0.292 0.292 Sumber: Analisis Data Primer 2020 Berdasarkan uji parsial t, terdapat konstanta sebesar 21.357 dengan signifikansi 0.000 dapat diartikan nilai konstant variabel dependen Y ketika semua variabel independen bernilai nol atau tidak mengalami perubahan. Dari analisis uji parsial, hanya variabel jenis kelamin yang tidak memiliki pengaruh signifikan. Jenis kelamin (X3) memiliki koefisien 1.774 dengan signifikansi 0.292. Dapat ditafsirkan, variable jenis kelamin tidak memenuhi signifikansi dengan alpha 5%. Sehingga variabel jenis kelamin tidak perlu dimasukkan pada persamaan regresi. Variabel umur (X1) memiliki pengaruh terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian (Y) dengan koefisien -1.841 dengan signifikansi 0.033. Dapat ditafsirkan, umur berpengaruh negatif sebanyak -1.841 terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian (Y). Semakin tua atau bertambah usia umur petani, semakin rendah mengakses informasi. Berdasarkan analisis regresi, Lama usaha tani (X2) memiliki koefisien 4.234 dengan signifikansi 0.000. Dapat ditafsirkan, lama usaha tani berpengaruh sebanyak 4.234 terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian (Y) secara linear. Semakin lama usaha tani, semakin tinggi akses informasi. Umur seseorang terkait dengan kemampuan bekerja. Usia produktif tentunya memiliki kemampuan bekerja yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak produktif (Padillah et al., 2018). Kemampuan produktif merupakan cerminan sumber daya manusia yang handal dan kompeten. Disisi lain pengalaman untuk sukses juga terkait dengan kompetensi (Lodi-Smith & Roberts, 2010). Usia yang produktif ditunjang dengan pengalaman yang dilihat dari lama usaha tani menjadi landasan seseorang untuk mencari informasi guna meningkatkan kompetensinya. Analisis Komparatif Analisis komparatif digunakan untuk mengetahui perbedaan faktor petani mengakses informasi pertanian (Y) terhadap jenis kelamin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Analisis komparatif menggunakan Kruskal Wallis diperoleh Asymp. Sig 0,087. Hasil peringkat rata-rata analisis komparatif Kruskal Wallis dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Analisis Komparatif Jenis Kelamin pada Faktor Petani Mengakses Informasi Pertanian Jenis Kelamin Mean Rank Keterangan Perempuan 14,00 Peringkat kedua Laki-laki 19,71 Peringat pertama Sumber: Analisis Data Primer 2020 Nilai Asymp. Sig atau p value pada uji komparatif Kruskal Wallis sebesar 0,087 menunjukkan p value ≥ atau 0,087 ≥ 0,05 maka hipotesis ditolak karena analisis tidak signifikan. Hal ini tidak terdapat perbedaan signifikan faktor petani mengakses informasi pertanian antar jenis kelamin pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Jenis kelamin lakilaki memperoleh peringkat pertama faktor petani mencari informasi sebesar 19.89. Perempuan berada diperingkat kedua dengan mean rank sebesar 19,71. Meskipun mayoritas pencari informasi merupakan perempuan, namun laki-laki memiliki tingkat pencarian informasi yang lebih tinggi. Berdasarkan analisis data, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh dan perbedaan yang signifikan terhadap faktor-faktor pencarian informasi pertanian. Hal ini menandakan pencarian informasi pertanian di Kebun Buah Cepoko tidak dibatasi oleh peran gender.
Conclusion
Berdasarkan hasil pembahasan maka diambil kesimpulan penelitian ini telah menjawab tujuan yang dirumuskan. Jawaban perumusan masalah dan pembuktian hipotesis penelitian yang pertama adalah karakteristik petani pencari informasi mayoritas berumur 28-67 tahun, pengalaman usaha tani selama 7-10 tahun, dan berjenis kelamin perempuan; dan yang kedua faktor petani mencari informasi inovasi pertanian terdiri dari tingkat pendidikan, frekuensi komunikasi, nilai ekonomi komoditas, tingkat kosmpolitan, dan kebutuhan informasi. Mayoritas berpendidikan SMA. Frekuensi berkunjung ke Kebun Buah Cepoko lebih dari lima kali dalam setahun, frekuensi mengakses informasi dari Dinas Pertanian Kota Semarang dalam satu bulan sebanyak kurang dari tiga kali. Nilai manfaat ekonomi komoditas pertanian mayoritas menjual komoditas hortikultura dengan harga jual Rp. 5.000 – Rp 20.000 per kilogram, kepastian pasar pada komoditas yang diusahakan kurang memadai atau belum jelas pasarannya, sumber permodalan mencukupi, dan petani dapat menjangkau tingkat suku bunga modal usahatan. Tingkat kosmopolitan mayoritas petani berkomunikasi dengan informan pertanian kurang dari tiga kali selama satu bulan dan mengangap kegiatan mencari informasi pertanian merupakan kegiatan penting. Jenis informasi yang dibutuhkan adalah informasi budidaya; dan yang ketiga analisis pengaruh karakteristik petani pencari informasi terhadap faktor petani pencari informasi inovasi pertanian di Kebun Buah Cepoko adalah terdapat pengaruh yang signifikan umur, lama usahatani, dan jenis kelamin terhadap faktor petani mengakses informasi pertanian. Hasil model persamaan regresi linier berganda adalah 𝑌 = 21.47 -1.85X1 + 4.61X2 dan tidak terdapat perbedaan pencarian informasi inovasi pertanian antara petani laki-laki dan perempuan.