Implementasi program anti plagiarisme sebagai upaya meningkatkan kualitas karya ilmiah Mahasiswa di Perpustakaan UGM Kampus Jakarta
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Penyebab plagiarisme adalah faktor internal (dalam diri) dan faktor eksternal. Tindakan plagirisme ini merupakan perbuatan yang tidak etis, bisa terjadi karena pengaruh faktor lingkungan sekitar. Lingkungan sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku tidak jujur yaitu berupa harapan sosial bahwa seseorang yang dianggap pandai adalah yang memiliki nilai tinggi, mendapat penghargaan dan penerimaan di lingkungan social Kejujuran dan orisinalitas karya ilmilah termasuk etika moral termasuk dalam dalam ranah character building atau pembentukan karakter. Character building adalah suatu upaya untuk membangun dan membentuk akhlak budi pekerti seseorang menjadi baikTren kasus plagiarisme yang terjadi di Indonesia berbeda dengan kasus yang terjadi di luar negeri. Di Indonesia sudah mencapai level yang lebih tinggi yaitu kalangan pendidik seperti dosen bahkan pimpinan Universitas. Kegiatan ini diperlukan sebagai upaya pustakawan mendukung peningkatan kualitas karya ilmiah di Perguruan tinggi. Peran pustakawan tidak lagi hanya melayani informasi kepada pemustaka tetapi memiliki tugas memberikan pengetahuan tentang antiplagiarisme. Perpustakaan UGM Kampus Jakarta sejak tahun 2015 telah dilakukan kegiatan Literasi informasi untuk mahasiswa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peran pustakawan dalam mendukung anti plagiarisme. Tindakan pencegahan plagiarism menjadi efektif apabila seluruh pihak berkolaborasi mendukung pelakasanaan.
Keywords:
Pustakawan
· Perpustakaan
· anti plagiarisme
· Pendidikan pemakai
· Pendidikan karakter
Introduction
Kasus plagiarisme di perguruan tinggi telah menjadi headline berita nasional. Hal ini menjadi perhatian besar karena perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan dianggap sebagai lembaga yang mampu melakukan pencegahan terhadap plagiarisme tetapi tidak terlepas dari kasus tersebut. Tren kasus plagiarisme yang terjadi di Indonesia berbeda dengan kasus yang terjadi di luar negeri sebagai contoh Australia, perbedaannya di Australia kasus plagiarisme yang terjadi ada di kalangan mahasiswa, di Indonesia sudah mencapai level yang lebih tinggi yaitu kalangan pendidik seperti dosen bahkan pimpinan Universitas. Kasus terbaru adalah adanya tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh pimpinan salah satu Universitas di Jakarta, terbukti mengutip karya orang lain dan disampaikan di simposium (CNN Indonesia, 2018). Hal ini tentunya menjadi perhatian dari kalangan akademisi bahwa seseorang yang memiliki sumber daya ilmu dan kepintaran, tidak menjamin bebas plagiarisme. Plagiarisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tindakan mengutip karangan orang lain, lalu menyiarkannya sebagai karangan sendiri tanpa menyebut sumbernya. Hal ini jelas menyebutkan bahwa setiap kutipan hasil pikiran o r a n g l a i n d i w a j i b k a n u n t u k menyebutkan sumbernya. Masalah plagiarism tidak terbatas pada karya ilmiah tetapi terpolarisasi ke dalam banyak hal, seperti pemalsuan paten, pemalsuan karya, pembajakan, pelanggaran hak cipta dan lain-lain. Fenomena maraknya plagiarisme ini salah satunya adalah dampak dari kemajuan teknologi informasi yang digunakan secara negatif. Kemudahan menduplikat karya orang lain baik dengan berbagai media dilakukan baik plagiat keseluruhan atau berlabel karya adaptasi. Hal ini bisa dicegah apabila setiap individu yang terlibat memiliki moral atau etika dalam membuat suatu karya, yaitu etika berupa kesadaran anti plagiarisme. Penyebab tindakan plagiarisme terjadi karena beberapa faktor yaitu: 1. Faktor budaya . 2) Kur angnya penge t ahuan t ent ang t a t a c a r a p e n u l is a n k a r y a i l m i a h d a n pengetahuan anti plagiarisme 3) Faktor tekanan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan 4) Belum adanya hukuman yang memberikan efek jera bagi pelakunya 5) Kemajuan teknologi informasi yang digunakan secara tidak beretika (Azis, 2015). Uraian faktor penyebab terjadinya plagiarisme tersebut mengindikasikan bahwa penyebab plagiarisme adalah faktor internal (dalam diri) dan faktor eksternal. Tindakan plagiarisme ini merupakan perbuatan yang tidak etis, bisa terjadi karena pengaruh faktor lingkungan sekitar. Penyebab lain adalah kurangnya perhatian terhadap perilaku tidak jujur dari institusi akan mempermudah tindakan yang tidak etis ini (Fathoni, 2012). Lingkungan sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku tidak jujur yaitu berupa harapan sosial bahwa seseorang yang dianggap pandai adalah yang memiliki nilai tinggi, mendapat penghargaan dan penerimaan di lingkungan sosial. Akibat tekanan dari lingkungan sosial tersebut, menyebabkan perilaku tidak jujur agar diterima di lingkungan (Iyer, 2008). Salah satu cara untuk mencegah perbuatan plagiarisme adalah institusi memiliki perhatian lebih berupa program dan kebijakan yang efektif. Program ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada individu serangkaian pengetahuan tentang sikap, perilaku, etika dan sangsi untuk mencegah plagiarisme. Di lingkungan perguruan tinggi seluruh sivitas akademika memiliki tanggung jawab untuk mencegah tindakan plagiarisme dengan cara menerapkan etika akademik yang berlaku. Hasil penelitian dari Gunnarsson, J. dkk (2014) menunjukkan pentingnya p e n t i n g n y a p e n d i d i k a n d a n pengetahuan tentang cara mengutip yang benar dan referensi untuk menghindari plagiarisme Kejujuran dan orisinalitas karya ilmiah termasuk etika moral termasuk dalam dalam ranah character building atau pembentukan karakter. Character building adalah suatu upaya untuk membangun dan membentuk akhlak budi pekerti seseorang menjadi baik (Tanis, H., 2013). Character building diperlukan bagi mahasiswa sebagai bekal bagi mereka dalam menghadapi dunia kerja, lingkungan dan pergaulan. Hasil beberapa jajak pendapat (tracer study) yang dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia, kompetensi akademik di dunia kerja dibagi dua aspek yaitu hardskill dan soft skill. Hasil penelitian juga menunjukkan kesuksesan yang diraih diperoleh dengan kemampuan softskill sebanyak 80% dan hardskill sebanyak 20% (Haryu, 2009). Fakta tersebut menunjukkan pentingnya keterampilan s o ft s k i l l u n t u k m e n d u k u n g k e b e r h a si l a n ma h a sis w a d a n memberikan bekal untuk terjun ke masyarakat. Sistem pengajaran Student Centered Learning (SCL) sesuai untuk penerapan keterampilan softskill karena pendekatan SCL menekankan p a d a m i n a t , k e b u t u h a n d a n kemampuan individu (Aly, 2017). Hasil penelitian Aly (2017) pada empat perguruan tinggi yang menerapkan pendidikan ka r akt e r, ka r akt e r mahasiswa dapat dikembangkan melalui kegiatan mahasiswa yang berbasis soft skill. Kegiatan tersebut bisa melalui 3 bentuk yaitu: 1) Lewat pembelajaran mata kuliah yang berdiri sendiri, 2) lewat penggunaan metode perkuliahan dengan mengintegrasikannya dalam mata kuliah tertentu, 3) menjadikan dosen sebagai role model bagi mahasiswa. Contoh kegiatan Character Building di lingkungan perguruan tinggi dengan bentuk 1 melalui mata kuliah tersendiri adalah P r o g r a m L E A P ( L e a d e rs h i p Enhancement and Acceleration Program) di Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM. LEAP merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti mahasiswa dengan tujuan menanamkan jiwa kepemimpinan dengan kemampuan mengambil keputusan yang etis dan kreatif. Anti Plagiarisme menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan LEAP yang diadakan tiap tahun. Implementasi kegiatan anti plagiarisme di UGM Kampus Jakarta dipaparkan dalam makalah berikut ini: Literasi Informasi Plagiarisme tidak sengaja bisa t e r j a d i k a r e n a p e l a k u l u p a mencantumkan sumber kutipan atau referensi yang diacu. Asumsi penyebab plagiarisme yang lain adalah pelaku tidak mengetahui cara mengutip atau menempatkan referensi dengan benar (Santoso, H, 2015). Pengetahuan tentang kutipan dan referensi ini m e n j a d i r a n a h b i d a n g i l m u perpustakaan dan informasi. Peran pustakawan tidak lagi hanya melayani informasi kepada pemustaka tetapi m e m i l i k i t u g a s m e m b e r i k a n pengetahuan tentang literasi informasi kepada pemustaka. Literasi informasi adalah serangkaian pemahaman dan kemampuan untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan, memiliki kemampuan untuk mencari informasi, mengevaluasi, menggunakannya s e c a r a e f ektif dan me rupakan kompetensi standar untuk pendidikan tinggi (Chen & Lin, 2011). Definisi literasi informasi dari American L i b r a r y A ss o c i a t i o n a d a l a h s epe r angka t kemampuan yang mengha ruskan individu untuk m e n g e n a l i k a p a n i n f o r m a si dibutuhkan, dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan secara efektif informasi y a n g d i b u t u h k a n ( h t t p s : / / id.wikipedia.org/wiki/Literasi_ informasi). Merujuk pada dua definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa keterampilan pencarian informasi penting karena sebagai pedoman dan dasar-dasar pemikiran untuk mengambil informasi yang dibutuhkan, sehingga lebih efektif dan efisien. Terminologi literasi informasi berkembang sesuai dengan pertumbuhan informasi dan teknologi informasi. Untuk itu pustakawan harus mampu mengakomodasikan pendidikan pemakai yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi menjadi e-literacy. E-literacy tidak hanya meliputi literasi informasi dan lit e r a si komput e r, t e t api juga mengembangkan hubungan antara literasi akademik, literasi informasi dan literasi komputer menjadi sebuah satu kesatuan sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Pendidikan Pemakai Pendidikan pemakai adalah s e r a n g k a i a n k e g i a t a n u n t u k meningkatkan pengetahuan pemakai untuk memanfaatkan perpustakaan, meliputi pengenalan perpustakaan, pelatihan dan pengajaran untuk merubah perilaku pemakai. Pendidikan pemakai disebut juga instruksi bibliografi yaitu serangkaian program yang dirancang untuk pemakai agar dapat menemukan informasi yang dibutuhkan dengan efektif dan efisien (Moyane, 2015). Literasi informasi me n j a d i b a g i a n p e n t i n g d a ri pendidikan pemakai perpustakaan Pendidikan pemakai adalah upaya untuk mengubah perilaku pengguna karena meliputi keterampilan untuk m e m i l a h , m e n g e v a l u a si d a n memanfaatkan informasi secara efektif dan efisien untuk bekal belajar sepanjang hayat (long life learning). Ol eh ka r ena itu impl ement a si pendidikan pemakai di perpustakaan perguruan tinggi merupakan hasil kolaborasi antara pustakawan, staf akademik, bagian teknologi informasi dan mahasiswa agar bisa tepat sasaran. Setiap perpustakaan bisa membuat program pendidikan pemakai yang paling efektif untuk diterapkan sesuai dengan karakteristik pemustaka dan kompetensi pustakawan. Pendidikan p ema k a i ( u s e r e d u c a t i o n ) d i perpustakaan perguruan tinggi ada 3 level yaitu: Level pertama atau level dasar untuk mahasiswa baru, diberikan pengenalan perpustakaan dapat diaplikasikan untuk mereka yang p e r t a m a k a l i m e m a n f a a t k a n perpustakaan. Level kedua, diberikan pada mahasiswa sesuai dengan jurusan ma sing-ma sing. Leve l ke tiga , literature search training, pemberian pendidikan pemakai dengan lebih menekankan pada praktek pencarian literatur untuk penelitian, hal ini tepat untuk persiapan tugas akhir/penelitian (Chen & Lin 2011). Merujuk pendapat Chen tersebut, bisa disimpulkan bahwa perpustakaan dapat mengaplikasikan program pendidikan pemakai sesuai dengan jenjang level mahasiswa. Character Building Individu dengan kemampuan hard skill yang tinggi tanpa disertai soft skill yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia dengan keterampilan kurang maksimal (Dinata, 2014). Sebuah penelitian tentang pentingnya softskill dilakukan oleh Izzani Masturoh (2017) dengan judul “Pengaruh Soft skill dan Kecerdasan Emosiona l t e rhadap Ke si apan Mahasiswa Akuntansi Menghadapi Dunia Kerja. Hasil penelitiannya menunjukkan soft skill berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan m a h a sis w a a k u n t a n si d a l a m menghadapi dunia kerja. Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dan keterampilan untuk mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skill) untuk kerja secara maksimal (Firdaus, 2017). Soft skill merupakan kompetensi yang berkaitan dengan karakter, kemampuan interpersonal, sikap dan nilai seseorang (Robles, 2012). Hal ini artinya soft skill merupakan sikap dan perilaku bukan kemampuan teknis atau pengetahuan. Pemerintah telah memberikan perhatian terhadap p e n g emb a n g a n s o f t s k i l l d a n p e n d i d i k a n k a r a k t e r y a i t u me n c a n a n g k a n str a t e g i u n t u k pengembangan perguruan tinggi di Indonesia yang meliputi 3 hal: nation competitiveness, autonomy dan organization health. Salah satu strategi yaitu nation competitiveness adalah strategi jangka pendek yang relevan untuk memperpendek kesenjangan antara riil dengan konsep yang didinginkan dalam pembelajaran pembentukan karakter. Pendidikan karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk bekerja sama dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Tanis, 2013). Ada 4 komponen penting pada pendidikan karakter yaitu (Aly, 2017): 1) Pendidikan karakter adalah pendidikan moral dan akhlak, 2) bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik, 3) mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan dan melakukan kebaikan, 4) k a r a k t e r p e s e rt a d i d i k d a p a t dipengaruhi guru melalui keteladanannya (guru sebagai role model). Pembangunan karakter melalui pendidikan mencakup 3 hal yaitu pengetahuan, afektif dan kognitif, artinya pendidikan karakter akan berhasil apabila peserta menyadari hal t e rs e b u t t i d a k h a n y a s e b a t a s pengetahuan tetapi sudah menerapkan ke dalam kehidupannya (Haryu, 2009)
Discussion
Profil Perpustakaan Perpustakaan UGM Kampus Jakarta beralamat di Gedung B Jl. Dr. Saharjo No.83 Tebet Jakarta Selatan sudah berdiri sejak tahun 2010, dengan 2 program studi yaitu Magister Manajemen dan Magister Ilmu Hukum, Perpustakaan menempati ruangan seluas 120m2 di lantai 8 gedung B di UGM Kampus Jakarta sejak tahun 2013. Ruangan yang tidak terlalu luas dibanding dengan jumlah mahasiswa, menjadi tantangan bagi pengelola untuk mengembangkan menjadi perpustakaan yang representatif. Subjek koleksi perpustakaan sebagian besar sesuai dengan kedua program studi tersebut. Karakteristik dari pemustaka di Perpustakaan UGM Kampus Jakarta dari kedua program tersebut yakni mahasiswa yang memiliki kesibukan bekerja sehingga waktu mereka terbatas untuk belajar di kampus. Be rikut ini da t a da ri mahasiswa UGM Kampus Jakarta pada Tabel 1. Perpustakaan UGM Kampus Jakarta secara hierarki berada di bawah pengelolaan Sekretaris Rektor dan Kantor UGM Jakarta. Layanan diberikan untuk seluruh sivitas akademika yang ada di Jakarta. Koordinasi rutin dilakukan dengan kedua program studi terkait layanan dan program-program perpustakaan. S a l a h s a t u h a si l k o o r d i n a si pengembangan perpustakaan yang tadinya ada di lantai 5 dengan ruangan menjadi satu antara ruang akses jurnal kemudian pindah ke lantai 8 dengan pemisahan antara ruang akses digital koleksi dengan ruang baca. Setiap 2 tahun sekali staf perpustakaan me n g a l ami p e r g a n t i a n u n t u k penyegaran dan menambah wawasan. Saat ini Perpustakaan UGM Kampus Jakarta ada 3 orang yaitu dua orang dengan lulusan SMA dan 1 orang pustakawan sebagai koordinator perpustakaan. Pengembangan Program Anti Plagiarisme P e r a n p u st a k a w a n d a l a m perguruan tinggi salah satunya yaitu melalui pendidikan literasi informasi kepada mahasiswa. Perpustakaan UGM Kampus Jakarta mulai tahun 2014 rutin mengadakan kegiatan Library Skill untuk program studi MM UGM dan MIH UGM J aka rt a . Kegiatan yang dilakukan berupa sosialisasi sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan. Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut adalah 1) menyediakan informasi dan dokumentasi untuk diakses mahasiswa. 2) meningkatkan performa pelayanan informasi. 3) memberikan dukungan kepada mahasiswa dalam pemakaian informasi. Kegiatan tersebut diadakan bekerjasama dengan bagian akademik dari program studi yang ada di Kampus Jakarta. Evaluasi kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas program. Salah satu cara evaluasi diri secara kualitatif bisa dilakukan dengan metode SWOT yang merupakan singkatan dari Strengths (kekuatan), W e a k n e s s e s ( k e l e m a h a n ) , Opportunities dan Threats (ancaman). SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan (Rangkuti, 1998). Analisis SWOT adalah metode paling simpel dan efektif untuk mengukur kinerja sebuah organisasi. Alasan menggunakan analisis SWOT akan tergambar dengan jelas faktor internal dan eksternal organisasi untuk menunjukkan kinerja perusahaan sehingga bisa merumuskan strategi untuk memperbaikinya. Analisis secara kualitatif secara eksternal dengan mewawancarai pemustaka. Kegiatan ini untuk melengkapi evaluasi diri secara holistik baik eksternal maupun internal tentang program tersebut. Hasil analisis sebagai berikut: 1. Analisis SWOT a. Strengths(Kekuatan) · Kedudukan perpustakaan yang l angsung be r ada di bawah pengelolaan Sekretaris Eksekutif Universitas Gadjah Mada. · Ketersediaan koleksi yang cukup memadai bagi mahasiswa baik tercetak maupun digital. · Ketersediaan akses ke dalam sumber informasi ilmiah online melalui jurnal dan database yang dilanggan oleh UGM. · Fasilitas ruang baca yang nyaman dan mudah terjangkau pemustaka. · Perhatian pengelola program studi yang baik terhadap keberadaan perpustakaan. · Memiliki pustakawan yang berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan · A d a n y a sist em i n f o rma si perpustakaan online berupa situs web dan OPAC yang dapat digunakan oleh pemustaka di mana pun dan kapanpun. · Koleksi yang tersedia disesuaikan dengan silabus program studi yang berada di Kampus Jakarta. b. Weaknesses (Kelemahan) · Keterbatasan SDM perpustakaan yaitu staf perpustakaan hanya 3 orang dengan pergantian shift, dua orang non pustakawan dan 1 orang pustakawan · Ke t e r b a t a s a n a k s e s u n t u k broadcast informasi kepada mahasiswa · Sebagian besar mahasiswa kalangan pekerja jadi memiliki waktu yang terbatas untuk berkegiatan di kampus selain jadwal kuliah · Keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh pustakawan c. Opportunities(Peluang) · Kemajuan teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk akses informasi secara luas · Penilaian Akreditasi BAN-PT atau program studi yang selalu melibatkan penilaian terhadap keberadaan perpustakaan secara tidak langsung meningkatkan perhatian terhadap pengembangan perpustakaan. · Internasionalisasi pendidikan yang mengharuskan penyesuaian standarisasi fasilitas pendidikan y a n g m e m a d a i t e r m a s u k perpustakaan. · K e b i j a k a n d a n p e r h a t i a n Pimpinan Universitas terhadap keberadaan perpustakaan yang cukup tinggi. · Jaringan UGM sebagai universitas terbaik merupakan potensi untuk meraih dukungan baik secara finansial maupun material terkait pengembangan perpustakaan ke depan. · Sistem informasi perpustakaan y a n g t e ri n t e g r a si d e n g a n perpustakaan seluruh UGM d. Threats (Ancaman) · Tuntutan terhadap kualitas lulusan UGM menyebabkan tuntutan ketersediaan sumber belajar mengajar yang memadai. · Tuntutan profesionalisme dan kompetensi pustakawan dalam memberikan pelayanan terhadap pemustaka perpustakaan. · Tuntutan untuk mempertahankan BRAND IMAGE Universitas G a d j a h M a d a d i t e n g a h persaingan antar perguruan tinggi yang semakin nyata. · P e r k e m b a n g a n t e k n o l o g i informasi dan komunikasi yang semakin pesat. · Tuntutan kemudahan akses sumber informasi oleh pengguna ( s i v i t a s a k a d e m i k a d a n masyarakat umum). Berdasarkan analisis SWOT tersebut di a t a s maka Pe rpust aka an UGM memiliki strategi untuk pengembangan program anti plagiarisme. Tahapan untuk pengembangan program sebagai berikut: 1. Perencanaan P e r e n c a n a a n p r o g r am i n i d is e s u a i k a n d e n g a n p r o g r am pengembangan Perpustakaan UGM secara keseluruhan. Rencana dimulai setiap awal tahun saat rapat koordinasi internal dengan Pimpinan sebagai hasil evaluasi program tahun sebelumnya. Pelaksanaan program dari tahun 2015 hingga sekarang pada Tabel 2. Pada Tabel 2 tersebut menunjukkan adanya program anti plagiarisme dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tahun 2014 pemateri ada unsur ahli hukum yaitu notaris yang merupakan salah satu staf kantor UGM Jakarta menyampaikan tentang dasardasar dan kasus-kasus hukum terkait plagiarisme di perguruan tinggi. Materi yang diberikan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, awal kegiatan materi berupa pengenalan layanan perpustakaan dan IT UGM, untuk tahun berikutnya ditambah dengan materi sosialisasi sumbersumber informasi, Literasi informasi dan pengenalan software manajemen sitasi. Tahap perencanaan merupakan inisiasi pustakawan UGM Kantor Jakarta yang mengusulkan program kepada atasan dan program studi. Perencanaan dilakukan dengan pembuatan TOR (Term of Reference) yang diajukan kepada pimpinan kantor UGM Jakarta. 2. Implementasi Program Pe l aks ana an kegi a t an anti plagiarisme secara terstruktur mulai dilakukan sejak tahun 2018. Tahuntahun sebelumnya berupa pengenalan dasar-dasar anti plagiarisme, mulai tahun 2018 sudah terintegrasi dengan bagian akademik terutama Program Studi MM UGM Kampus Jakarta. Implementasi program ini pada Tabel 3. Alur pengajuan cek turnitin dari mahasiswa pada Gambar 1. Cek turnitin oleh mahasiswa dilakukan dengan dua cara yaitu 1) Mandiri, mahasiswa cek sendiri di Labkom, kemudian cetak hasil 2) Mahasiswa mengirim email ke labkom atau perpustakan untuk dicek hasilnya. Hasil uji turnitin mahasiswa hingga saat ini sebanyak 10% tidak lolos dan sebanyak 90% atau sebagian besar lolos. Apabila tidak lolos, sesuai alur pada Gambar 1 tersebut mahasiswa me l akukan pe rba ikan mandiri d i d amp i n g i o l e h p u st a k awa n . Pendampingan yang dilakukan dengan konsultasi informasi tentang tata cara penulisan kutipan, penulisan daftar pustaka dan restatement. Kampus UGM Jakarta belum memiliki tim khusus untuk perbaikan atau konsultasi anti plagiarisme, untuk itu pustakawan berinisiatif melakukan pendampingan. Pendampingan yang dilakukan pustakawan berkerja sama dengan tim Turnitin Fakultas, diskusi dengan pustakawan senior dan diskusi dengan pimpinan. 3. Evaluasi Program Hasil evaluasi pelaksanaan program anti plagiarisme yang dilakukan di Perpustakaan UGM Kampus Jakarta yakni perbaikan materi kepada mahasiswa. Evaluasi ini disampaikan oleh pimpinan terutama terkait dengan strategi pencarian i n f o r m a si u n t u k m a h a sis w a pascasarjana. Evaluasi konsultasi mahasiswa berdasarkan kegiatan yang d il a k u k a n u n t u k p e n i n g k a t a n k omp e t e n si p u st a k a w a n a g a r menguasai materi Literatur Review. Untuk itu tahun 2019 ini, pustakawan mengusulkan program TOT (Training of Trainer) Literatur Review yang diampu oleh Pustakawan senior.
Conclusion
Pustakawan turut berperan untuk mencegah plagiarisme di perguruan tinggi. Peran yang bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan literasi informasi kepada mahasiswa. Keterampilan literasi informasi diperlukan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk analisis dan evaluasi informasi yang diperlukan untuk tugas-tugas kuliah maupun tugas akhir. Kolaborasi dengan bagian lain penting, karena pustakawan tidak bisa secara individu untuk mencegah tindakan plagiarisme tetapi perlu bekerjasama dengan bagian lain secara terpadu agar program yang dilakukan berjalan lancar. Salah satu yang bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Evaluasi perlu dilakukan agar dapat dilakukan perbaikan untuk kegiatan selanjutnya.