Kembali
16
1
2023 Media Informasi Vol 32 · 2 ISSN 2829-2707

Kolaborasi Perpustakaan Umum dan Masyarakat dalam Pengembangan Masyarakat

Perpustakaan Baca di Tebet

Abstrak

Perpustakaan umum senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya lebih dari sekedar menyediakan buku untuk dibaca. Bagaimana perpustakaan umum memastikan bahwa koleksi informasi yang dimiliki dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk kelangsungan hidup mereka adalah merupakan permasalahan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat merupakan kegiatan yang mendukung peran perpustakaan umum untuk menciptakaan masyarakat yang terampil dan berpengatahuan. Perpustakaan umum tidak perlu melakukannya sendiri, namun dapat melakukan kolaborasi dengan masyarakat dalam pelaksanaannya. Fokus pada kajian ini yaitu memperlihatkan pentingnya penerapan kolaborasi perpustakaan umum dengan masyarakat dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Pentingnya kolaborasi tersebut melihat dari manfaatnya yakni 1) mempercepat perubahan pada masyarakat; 2) menimbulkan kohesi sosial; 3) menciptakan iklim yang baik untuk mengalirnya pengetahuan di masyarakat, dan 4) meningkatkan partisipasi masyarakat di perpustakaan umum. Untuk penerapannya beragam melihat dari masalah serta potensi budaya yang ada dan kolaborasi perpustakaan umum dengan masyarakat dapat menumbuhkan modal sosial dari perpustakaan umum itu sendiri.

Abstract

Public libraries always provide benefits to the surrounding community beyond just providing books to read. How public libraries ensure that the information collections they have can be useful for the community for their survival is a problem that must be resolved. Therefore, community development is an activity that supports the role of public libraries in creating a skilled and knowledgeable community. Public libraries do not need to do it alone, but can collaborate with the community in its implementation. This study focuses on how important and the implementation of the collaboration between public library and community in community development activity. The importance of collaboration can be seen by the benefits, there are 1) accelerating changes in society; 2) generating social cohesion; 3) creating a good climate for the flow of knowledge in society, and 4) increasing community participation in public libraries. For its application it varies from the problems and potential of the existing culture. Therefore, the collaboration of public libraries with the community can grow the social capital of the public library itself.
Keywords: Collaboration · Community development · Community participation · Public library

Introduction

Semakin berkembangnya waktu, perkembangan teknologi informasi serta situasi sosial yang selalu berubah-ubah membuat kolaborasi lintas disiplin maupun organisasi dapat terjadi. Inovasi tentu dibutuhkan dengan berkolaborasi untuk menghadapi disrupsi akibat kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung (Hidayat, 2018). Kolaborasi dapat dilihat sebagai proses penciptaan sesuatu dan peningkatan kemampuan antar kolaborator dalam menyelesaikan masalah (Camarinha-Matos & Afsarmanesh, 2010). Tak jarang banyaknya organisasi atau institusi baik pemerintah maupun swasta yang melakukan kolaborasi dalam berbagai hal seperti penelitian maupun pengembangan produk. Pada institusi pemerintah, kolaborasi yang dilakukan dengan masyarakat menujukkan bahwa adanya kepedulian pemerintah terhadap mereka dalam kegiatan menuju masyarakat mandiri dan kreatif (Nopriono & Suswanta, 2019). Perpustakaan umum sebagai institusi pemerintahan kota/daerah yang memiliki segmentasi pengguna dari masyarakat umum tanpa memandang latar belakang apapun (Hendrawan, 2015), memiliki potensi untuk menjalin kolaborasi dengan mereka. Secara fundamental jika dilihat dari pengertiannya, perpustakaan merupakan ruangan berisikan bukubuku yang tertata dan dipinjam oleh masyarakat saat (Sulistyo-Basuki, 1991; Sutarno-NS, 2006), tak terkecuali perpustakaan umum. Akan tetapi sebenarnya lebih dari itu, yakni perpustakaan sebagai tempat untuk berkolaborasi dan berkarya utnuk menciptakan pengetahuan baru. Terdapat konsep library as place yang menggambarkan perpustakaan sebagai tempat bagi masyarakat untuk memperkaya pendidikan mereka dengan beragamnya disiplin ilmu (Bennett et al., 2005), sehingga akan terlihat bahwa di sini perpustakaan berperan dalam menumbuhkan modal sosial bagi masyarakatnya dalam memperkaya pengetahuan maupun keterampilan. Asu & Clendening (2011) menyatakan bahwa dalam menumbuhkan modal sosial perpustakaan berperan sebagai kunci untuk pengembangan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan budaya lokal, pendidikan, pelatihan, dan kemampuan. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh perpustakaan untuk mewujudkan peran sosialnya. Pengembangan masyarakat merupakan kegiatan kerjasama masyarakat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan dalam jangka panjang. Masyarakat fokus pada keputusan mereka dalam memenuhi kebutuhan, mengatasi masalah yang dihadapi, dan membangun kesejahteraan mereka (Goel, 2015; Ife & Tesoriero, 2008). Ini berarti dapat dinyatakan bahwa pengembangan masyarakat adalah kegiatan yang memiliki tujuan untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik serta meningkatnya taraf hidup masyarakat. Lebih lanjut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki perspektif lain bahwa pengembangan masyarakat juga dilakukan dengan adanya campur tangan organisasi pemerintah (Hanachor & Olumati, 2012). Oleh karena itu, organisasi pemerintah berperan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Perpustakaan umum sebagai salah satu organisasi yang dibentuk oleh pemerintah kota atau daerah berperan dalam kegiatan pengembangan masyarakat. IFLA (2022) menyatakan bahwa perpustakaan umum berperan dalam penyediaan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memproduksi serta berbagi pengetahuan, mempromosikan partisipasi masyarakat, dan pada akhirnya berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup. Seluruh masyarakat tidak terbatas pada etnis, ras, agama, gender, status ekonomi, maupun sosial, berhak untuk menggunakan ruang perpustakaan tersebut untuk berdaya. Sidney Ditzon (1908 – 1975), pustakawan, sejarawan, dan sosiolog asal Amerika menyatakan bahwa perpustakaan umum memiliki peran dalam mengembangkan masyarakatnya. Advokat pasca-kolonial melihat perpustakaan berperan dalam peningkatan pengetahuan, pencegahan kriminal, mengangkat derajat rakyat miskin melalui pendidikan yang secara bersamaan harus menyediakan sumber informasi bagi rakyat kelas atas (Bossaller et al., 2010). Ini tentu juga berkaitan dengan konsep library as place yang berorientasi pada bertambahnya kekayaan pengetahuan masyarakat setelah beraktivitas di perpustakaan. Di abad ke-21 terdapat kajian atau penelitian yang dilakukan berkaitan dengan peran perpustakaan umum dalam melakukan pengembangan masyarakat. Islam (2009) meneliti bagaimana perpustakaan umum di Bangladesh melakukan kolaborasi pengembangan masyarakat dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dinamakan Community Development Library (CDL). Dengan adanya berbagai permasalahan seperti kekurangan pangan dan tempat tinggal, buruknya komunikasi serta fasilitas sosial dan kesehatan, perpustakaan umum memiliki peran untuk mengatasi hal tersebut. Hasil penelitian Abu dan lain-lain (2011) tentang bagaimana perpustakaan di pedalaman negara Australia dan Malaysia dalam pengembangan masyarakatnya dengan mengadopsi metode multi-studi kasus. Untuk jumlahnya, masing-masing negara terdapat tiga perpustakaan pedalaman yang diteliti. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa masyarakat telah sadar akan pentingnya peran perpustakaan dalam mengembangkan masyarakatnya, akan tetapi di Malaysia, pemustaka di perpustakaan pedalaman merasa bahwa sumber informasi yang tersedia sudah usang serta dibatasinya kuota layanan sehingga kajian lebih lanjut perlu dilakukan. Di Indonesia, kegiatan pengembangan masyarakat dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada tahun 2017 dan berkolaborasi dengan Coca-Cola Foundation Indonesia, Yayasan Bill & Melinda Gates yang disebut dengan program PerpuSeru. Kegiatannya yaitu mengembangkan perpustakaan umum menjadi pusat belajar masyarakat yang memberikan pelayanan berbasis teknologi informasi (Mahatma, 2017). Tahun 2018, program tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Perpusnas RI dengan nama Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program yang dijalankan tersebut merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020 – 2024 oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yakni literasi menjadi komponen penting untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berkarakter (Putrawan & Mahdi, 2020). Sehingga bersama Bappenas dan stakeholder lainnya, Perpusnas RI menjamin bahwa perpustakaan umum baik itu kota, kabupaten, dan desa menyediakan sumber pengetahuan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mengatasi masalah yang dihadapi. Berdasarkan penelitian serta kebijakan yang sudah ada mengenai perpustakaan umum dan pengembangan masyarakat, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dari sisi kolaborasi antara perpustakaan umum dengan masyarakat termasuk pemangku kepentingan. Sehingga terdapat dua masalah yang dikaji pada tulisan ini, yaitu 1) pentingnya kolaborasi perpustakaan umum dan masyarakat dalam pengembangan masyarakat; 2) bentuk kolaborasi perpustakaan umum dengan masyarakat dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Kajian ini dilakukan dengan cara studi literatur terhadap penelitian yang berkaitan dengan perpustakaan umum dan pengembangan masyarakat.

Discussion

Pentingkah Perpustakaan Umum Berkolaborasi dalam kegiatan Pengembangan Masyarakat? Kolaborasi sangat diperlukan dibanding kompetisi, terutama dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Ini dikarenakan kompetisi lebih kepada pemaksaan semangat kerja yang salah satu orientasinya adalah memperoleh “penghasilan” (Ife & Tesoriero, 2008). “Penghasilan” di sini tidak merujuk pada objek tertentu, misalnya ketika kita memenangkan lomba, maka kita akan mendapat piala, dan lebih terpandang di masyarakat. Akan tetapi, jika dilihat dari kaidah pengembangan masyarakat, “penghasilan” adalah proses bersama baik itu antar masyarakat maupun masyarakat dengan intervensi pemerintah dalam upaya membentuk masyarakat menjadi lebih baik. Perihal intervensi pemerintah, diperlukan adanya proporsi yang tepat agar tidak timpang sebelah (Soetomo, 2006). Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak terlalu bergantung dengan pemerintah, tetapi bisa menciptakan kesinambungan dalam berkarya dan berdaya pasca intervensi. Mengkontekskan dengan perpustakaan umum, bahwa perannya dalam senantiasa menjamin apakah informasi dan pengetahuan yang ada dapat mengembangkan masyarakatnya melalui peningkatan literasi. Sejatinya literasi tidak hanya seputar membaca namun proses menambahanya pengetahuan dan keterampilan (Mahdi, 2020b). Masyarakat nantinya dapat bertanggung jawab dan bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan mengadopsi strategi dari Soetomo (2006) dan Ife & Tesoriero (2008) ada empat (4) poin pentingnya kolaborasi perpustakaan umum dan masyarakat dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Untuk mempercepat proses perubahan dan pembaruan pada tingkat masyarakat lokal Segmentasi masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan umum adalah masyarakat yang tinggal di daerah tempat perpustakaan tersebut berada. Karena itulah pustakawan di sana perlu memiliki mindset sebagai agen perubahan. Dasar dari tujuan setiap perpustakaan adalah untuk menyediakan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar sehingga pustakawan mengadakan, menyimpan, dan mengatur informasi tersebut (Basefsky, 2018). Informasi tersebut akan dicerna oleh masyarakat sehingga dapat memunculkan pengetahuan baru secara terus menerus dan mengalir pada masyarakat dan memancing masyarakat untuk berkontribusi kepada lingkungannya dengan menciptakan hal baru sehingga terjadi perubahan. Dapat mendorong integrasi dan inklusi sosial sehingga terciptanya kohesi sosial Peran perpustakaan umum berkaitan dengan peningkatan integrasi sosial pada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing dalam bermasyarakat (UNDESA, 2016). berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bagaimana masyarakat saling membantu dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dengan peran yang dimiliki. Selain integrasi sosial, terdapat konsep lain yakni inklusi sosial yang berarti pembangunan agar semakin terbuka dengan kelompok masyarakat lainnya, meningkatkan partisipasi mereka dalam masyarakat (Mahdi, 2020a). Dasar dari misi perpustakaan umum adalah mempromosikan inklusi sosial (IFLA, 2022). Adanya inklusi sosial dan integrasi sosial akan mewujudkan kohesi sosial. Kohesi sosial akan mengurangi gap antar masyarakat sehingga berpotensi mencegah eksklusi sosial (lawan dari inklusi sosial). Power & Wilson (2000) menjelaskan hal tersebut berarti adanya individu atau kelompok yang tidak mau berbaur dengan masyarakat mayoritas, memisahkan diri karena merasa berbeda dengan yang lain, dengan kata lain terpinggirkan. Ini tentu berhubungan dengan tidak adanya akses informasi dan pengetahuan kepada mereka sehingga mereka merasa dirinya terkucilkan. Oleh karena itu, perpustakaan umum dibentuk untuk mencegah terjadinya eksklusi sosial. Kohesi sosial yang dibentuk oleh perpustakaan umum berpotensi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan umum. Kajian yang dilakukan oleh Vårheim dan lain-lain (2008) menunjukkan bahwa interaksi antar masyarakat serta keberagaman dari perpustakaan umum dapat menimbulkan kepercayaan. Hal ini tentu membuat masyarakat berpikir bahwa perpustakaan merupakan tempat yang aman bagi mereka untuk berekspresi, berkarya, dan menciptakan pengetahuan serta ide baru. Ini semua kembali lagi pada kolaborasi yang baik antara perpustakaan umum dan masyarakat. Dapat memberikan iklim yang kondusif untuk menciptakan, mengembangkan, dan memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Kembali lagi pada konsep library as place bahwa perpustakaan juga berperan dalam penciptaan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pengetahuan akan bisa dibentuk dengan adanya imajinasi yang baik sehingga proses literasi akan terus berjalan. Hal ini menunjukkan bagaimana perpustakaan, terutama perpustakaan umum bersinergi dengan masyarakat dalam membentuk konten-konten yang bermanfaat (Muldian, 2022). Selain itu apresiasi perlu diberikan kepada masyarakat yang terlibat terhadap penyelenggaraan dan produksi pengetahuan untuk memotivasi mereka. Sehingga inklusi digital merupakan hal yang penting diperhatikan oleh perpustakaan umum. Mengapa inklusi digital? Sebelum masuk kepada kaitannya dengan penciptaan pengetahuan, kita dapat melihat dahulu banyaknya pengguna teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) di Indonesia pada gambar 1. Sumber: Hootsuite We are Social: Indonesia Digital Report 2021 Gambar 1. Total masyarakat yang menggunakan perangkat TIK di Indonesia. Jika melihat dari data di atas, ditunjukkan bahwa penggunaan TIK (mobile connection) lebih banyak dari total penduduk yaitu hampir 3 kalinya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa setiap individu memiliki gadget lebih dari satu, yang mana literasi digital sangat penting di sini. Ini berarti masyarakat mahir dalam menggunakan media digital dalam mengidentifikasi serta mengelola informasi, memproduksi pengetahuan baru serta berkomunikasi (Iordache et al., 2017). Itu akan menuju pada inklusi digital yang seluruh lapisan masyarakat mampu menguasai TIK untuk mengembangkan kemampuannya (Ragnedda & Mutsvairo, 2018). Ini berarti berkaitan juga bagaimana individu memproduksi pengetahuan dengan TIK, seperti konten yang bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak hanya dapat memahami sumber tercetak seperti buku, majalah, ataupun surat kabar, akan tetapi juga menguasai TIK. Masyarakat akan terdorong untuk memanfaatkan TIK dalam membuat sesuatu yang bermanfaat bagi sekitarnya. Sebagai contoh, seseorang membaca sumber informasi di perpustakaan baik itu buku ataupun audiovisual bertemakan tips merancang barang bekas menjadi barang yang memiliki nilai jual. Ia terus membaca dan memahami buku tersebut sehingga dapat mempraktekkannya sendiri. Namun agar pengetahuan terus mengalir, ia mengemas ulang informasi yang didapatkan dengan membuat artikel di laman blog atau media sosial, serta membagikan apa yang ia tulis kepada masyarakat. Lebih lanjut, mengalirnya pengetahuan dari kolaborasi perpustakaan umum dengan masyarakat nantinya dapat memecahkan masalah yang ada. Ini merujuk pada kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh masyarakat sampai pada tahun 2025, seperti pada gambar 2 berikut. Sumber: https://theaseanpost.com/article/reskill-today-or-lose-your-job-tomorrow Gambar 2. Kemampuan yang perlu di miliki oleh masyarakat sampai tahun 2025 Jadi, inovasi, berfikir kritis, dan kreatif, ditambah dengan pengaruh sosial serta penggunaan teknologi yang baik merupakan kemampuan yang perlu dimiliki untuk memecahkan permasalahan di masyarakat. Oleh karena itu, imajinasi dan kreativitas dalam membuat, mengembangkan, dan memanfaatkan pengetahuan ditambah dengan penguasaan teknologi perlu diperhatikan oleh perpustakaan umum dalam perannya untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Meningkatkan masyarakat dalam berpartisipasi di perpustakaan umum Salah satu unsur keberhasilan keberadaan perpustakaan umum adalah banyaknya masyarakat yang berpartisipasi dalam layanan yang diberikan. Hal tersebut dapat dilihat dari layanan keseharian perpustakaan, seperti membaca buku maupun penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakatnya. Jika melihat dari konteks pengembangan masyarakat, ini berarti perpustakaan juga menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat (Abu et al., 2011). Masyarakat dalam hal ini adalah sekelompok manusia yang menjalin hubungan sosial, salah satunya karena memiliki kesamaan (Prasetyo & Irwansyah, 2020). Berdasarkan penelitian di atas, maka dapat dikatakan bahwa komunitas, organisasi, seperti LSM, dan pemangku kepentingan lainnya adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan tujuan tertentu. Jadi, dari kelompok masyarakat yang berbeda misalnya perpustakaan umum dan dinas setempat bisa berkolaborasi jika memiliki kesamaan tujuan, salah satunya pada kegiatan pengembangan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut dapat membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa keberadaan perpustakaan memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup mereka. Ife & Tesoriero (2008) menyatakan bahwa masyarakat akan berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan sosial serta peluang dalam menjalin hubungan dengan yang di partisipasikan sehingga perpustakaan umum harus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat terutama untuk pengembangan diri mereka. Sebagai contoh, suatu desa bernama X memiliki mata pencaharian budidaya lele dumbo. Keberadaan perpustakaan umum di desa tersebut tentu menyesuaikan dengan budaya masyarakatnya yang berprofesi sebagai peternak lele. Jika menyediakan buku-buku saja belum tentu masyarakat akan membacanya. Akan tetapi, dengan inovasi layanan perpustakaan, seperti koleksi berupa audio visual yang lebih mudah dicerna ataupun perpustakaan setempat mengadakan lokakarya dalam budidaya lele dumbo. Nantinya pustakawan dapat mendokumentasi kegiatan tersebut sehingga menjadi pengetahuan baru yang disimpan sebagai koleksi perpustakaan untuk dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Dokumentasi yang dimaksud dapat berupa buku panduan, foto-foto, maupun video. Partisipasi masyarakat dilihat melalui perencanaan, proses, evaluasi, dan hasil (Mansyur & Supriyatno, 2019), sehingga perpustakaan umum perlu melihat dampak dari partisipasi masyarakat terhadap kelangsungan hidup mereka, apakah setelah mereka berpartisipasi manfaat yang mereka dapat banyak, sedikit, atau bahkan tidak sama sekali. Oleh karena itu, perlu bagi perpustakaan umum untuk menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat serta pemangku kepentingan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Untuk pemangku kepentingan, perpustakaan umum perlu memiliki program yang melibatkan masyarakat sehingga memiliki dampak yang baik, dan pemangku kepentingan akan senang untuk berkolaborasi dalam program tersebut. Bagaimana Penerapannya? Pada penerapannya, perpustakaan umum memiliki potensi kerjasama dengan berbagai kelompok masyarakat dilihat dari segmentasi penggunanya yang cenderung lebih luas dari berbagai latar belakang sehingga perlu bagi perpustakaan umum untuk berkolaborasi sesuai dengan program dan misinya. Sebelumnya melalui penelitian dari Islam (2009) dijelaskan kolaborasi perpustakaan umum di Bangladesh dengan LSM CDL. LSM tersebut berawal dari perpustakaan kecil bernama Reader’s Service yang dibentuk melalui kerjasama antara forum sosial dengan Quaker Service pada tahun 1978. Pada tahun 1980, setelah perwakilan dari Quaker Service meninggalkan Bangladesh, masih menyisakan semangat juang yang tinggi bagi pekerja sosial sehingga perpustakaan kecil tersebut diambil alih dengan nama Community Development Library (CDL). Itulah momentum di mana LSM tersebut lahir. CDL memiliki misi menciptakan masyarakat yang berpengetahuan secara inklusif, menghilangkan celah untuk mengakses informasi dari masyarakat miskin dan kaya sehingga dapat membangun sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. CDL mengumpulkan dan memberikan informasi yang mendalam mengenai lingkungan, pendidikan, kesehatan, perempuan, anak-anak, hak asasi manusia, perdamaian, dan etnis minoritas dalam bentuk apapun. Kegiatan yang dilakukan oleh CDL membantu serta mengadvokasi perpustakaan di Bangladesh untuk membuat program-program pengembangan masyarakat seperti diskusi tentang krisis iklim, pelatihan kewirausahaan, penilaian dampak lingkungan, penyediaan pendidikan non-formal, peningkatan kesadaran sosial, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, CDL dapat memainkan peran penting dalam pembangunan kembali kondisi sosial-ekonomi masyarakat dengan memberikan informasi dan dukungan lainnya. berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bagaimana masyarakat sadar akan pentingnya berpartisipasi dalam pembangunan. Perpustakaan di sini juga memainkan peran yang baik sehingga kolaborasi dapat berjalan dengan lancar. Di Indonesia, program TPBIS yang diusung oleh Perpusnas RI dan Bappenas RI juga memiliki misi pengembangan masyarakat dari perpustakaan umum baik itu kota, kabupaten, maupun desa. Arah program tersebut ada tiga (3): 1) perpustakaan umum diharapkan berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat, dan perpustakaan mampu mendorong masyarakat melahirkan berbagai inovasi dan kreativitas masyarakat; 2) sebagai pusat kebudayaan, pengembangan masyarakat dilakukan dengan melihat potensi yang ada dengan melestarikan dan memajukan khasanah budaya bangsa secara berkelanjutan; 3) diharapkan kedepannya perpustakaan umum dapat berperan sebagai pusat kegiatan masyarakat yang di mana mereka meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar (Santoso, 2019). Untuk mensukseskan program kolaborasi yang dilakukan dengan masyarakat setempat (meliputi komunitas) dan pemangku kepentingan Penelitian yang dilakukan oleh Rani Rachman & lain-lain (2019) menunjukkan bagaimana kolaborasi antar perpustakaan desa di Indonesia, tepatnya Kabupaten Malang, berhasil mengembangkan masyarakatnya melalui kolaborasi. Perpustakaan tersebut bernama Perpustakaan Desa Gampingan Gemar Membaca (Perpusdes GGM) yang merupakan salah satu perpustakaan desa penerima bantuan dari program TPBIS. Suksesnya program tersebut dikarenakan kolaborasi yang baik antar perpustakaan dengan masyarakat serta dinas setempat. Mereka mengidentifikasi kebutuhan masyarakat terkait pengadaan sumber informasi perpustakaan sehingga berdampak pada pemanfaatan yang baik oleh masyarakat setempat. Kemudian program seperti pelatihan kerajinan serta pengolahan bahan makanan sesuai dengan kekhasan lokal juga dilakukan di perpustakaan. Hasil dari pelatihan tersebut, masyarakat terutama ibu-ibu memasarkan karya kerajinan dan olahan makanan tersebut sehingga penghasilan mereka bertambah. Perpusdes GGM senantiasa mendokumentasikan program-program tersebut sehingga kedepannya dapat menjadi acuan bagi masyarakatnya. Selain itu juga terdapat contoh bagaimana kelompok masyarakat difabel juga mendapat perhatian dari Perpusdes di Kendal (Mahdi, 2020). Jadi, perpustakaan desa tersebut berkolaborasi dengan Dewan Pengurus Cabang Persatuan Tunanetra Indonesia (DPC Pertuni) serta masyarakat setempat dalam menyelenggarakan pelatihan pijat tunanetra di perpustakaan. Dari pelatihan tersebut pada akhirnya banyak peserta yang dapat membuka panti pijat tuna netra dan membantu perekonomian mereka. Kemudian di luar pulau Jawa, yakni di desa Sukamara, Kalimantan, perpustakaan desa di sana juga bekerjasama dengan masyarakat dalam membuat kerajinan dari purun. Purun merupakan aset lokal berupa tanaman rawa yang dapat dibuat menjadi tas, tikar, topi, dan keranjang. seorang perempuan berusia senja berkolaborasi bersama Perpusdes Kendal untuk mengajak ibu-ibu lainnya dalam berkarya membuat purun. Dengan terus berlatih di perpustakaan, lama-lama produk yang dibuat dari purun tersebut dapat dijual dan membantu penghasilan masyarakat sekitar sumber: dokumentasi dari Perpusdes Kendal dalam penelitian Mahdi, 2020b) Gambar 3. Perpusdes Kendal bersama DPC Pertuni mengadakan pelatihan pijat bagi tunanetra Contoh implementasi yang dilaksanakan, menunjukkan bahwa setiap kolaborasi perpustakaan umum dengan masyarakat memiliki caranya masing-masing dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Kolaborasi dilakukan berdasarkan masalah yang dialami oleh masyarakat serta potensi kebudayaan yang dimiliki sehingga kolaborasi dapat berpotensi untuk meningkatkan modal sosial dari perpustakaan umum itu sendiri. Masyarakat juga akan merasa bahwa keberadaan perpustakaan umum di sekitarnya memiliki manfaat yang baik untuk meningkatkan kapasitas hidup mereka.

Conclusion

Perpustakaan umum perlu berkolaborasi dengan masyarakatnya baik perorangan ataupun organisasi seperti LSM dalam mengembangkan masyarakat sekitarnya. Untuk mendorong perubahan, kolaborasi dibutuhkan karena masyarakat sekitarnya lebih tahu akan masalah-masalah yang mereka hadapi, dan keberadaan perpustakaan dapat bermanfaat utuk menghadapinya. Melihat segmentasinya yang umum, perpustakaan umum perlu membangun koneksi dengan seluruh lapisan masyarakat, tidak memandang latar belakang apapun. Untuk arah penelitian berikutnya, yaitu dapat melihat kolaborasi perpustakaan dengan masyarakat sesuai konteks sosial-budaya sekitarnya. Berikut adalah saran yang diberikan untuk perpustakaan umum dalam melakukan kolaborasi dengan masyarakat : 1) Kolaborasi dapat juga dilakukan dengan melihat potensi sosial-budaya yang ada di masyarakat; 2) Melibatkan akademisi dari berbagai bidang untuk mengkaji program-program pengembangan masyarakat di perpustakaan umum; 3) Melakukan survey mengenai kebutuhan dari masyarakat sekitar agar nanti kolaborasi dapat dilaksanakan dengan efektif.