Minat Baca Mahasiswa Terhadap Buku Fisik dan Buku Elektronik
Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada
Abstrak
Seiring berjalannya waktu, buku cetak tradisional telah beralih ke format elektronik. Banyak perusahaan buku telah memperluas penawaran mereka dengan memasukkan buku elektronik bersama dengan buku cetak tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keterlibatan membaca mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada tentang buku fisik dan elektronik. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif, yang melibatkan pengisian kuesioner dan wawancara. Populasi yang diteliti adalah siswa yang terdaftar di Hermina Manggala Husada Nursing Academy, khususnya pada jenjang satu, dua, dan tiga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa siswa dari Akademi Keperawatan lebih suka membaca buku, baik dalam format fisik atau elektronik, tanpa memikirkan medianya. Berdasarkan tanggapan yang diperoleh dari kuesioner, ditentukan bahwa 35 orang, setara dengan 50% dari ukuran sampel (70), menyatakan kecenderungan lebih besar terhadap membaca buku fisik dibandingkan buku elektronik. Sebaliknya, sebagian kecil responden, termasuk 4 orang atau 5,7% sampel, tidak setuju dengan pernyataan bahwa mereka lebih memilih buku fisik dibandingkan buku elektronik. Mengenai aksesibilitas buku fisik dan elektronik, individu tersebut menyatakan bahwa mendapatkan kedua format tersebut sangatlah mudah. Berdasarkan perhitungan, 38 orang, termasuk 54,3% dari total 70 sampel, setuju dengan kemudahan akses terhadap buku elektronik dan fisik. Hasil kali 4,3% dan 70 sama dengan 3 individu yang mempunyai sudut pandang berbeda. Buku fisik dan elektronik terus memikat pembaca karena nilai inheren dari informasi yang dibawanya. Media elektronik dan cetak merupakan moda komunikasi dan penyebaran informasi. Pelestarian dan penanaman kecintaan membaca sangatlah penting.
Abstract
As time goes by, traditional printed books have shifted to electronic formats. This research aims to determine the level of reading engagement of Hermina Manggala Husada Nursing Academy students regarding physical and electronic books. The quantitative and qualitative approach involves filling out questionnaires and interviews. The population studied were students registered at Hermina Manggala Husada Nursing Academy, especially at levels one, two, and three. Research findings show that Hermina Manggala Husada Nursing Academy students prefer to read books, either in physical or electronic format, without thinking about the medium. Based on the responses obtained from the questionnaire, it was determined that 35 people, equivalent to 50% of the sample size (70), expressed a greater inclination towards reading physical books compared to electronic books. On the other hand, a small number of respondents, including four people or 5.7% of the sample, disagreed with the statement that they prefer physical books over electronic books. Regarding the accessibility of physical and electronic books, the individual stated that obtaining both formats is very easy. Based on calculations, 38 people, including 54.3% of the 70 samples, agreed with easy access to electronic and physical books. The product of 4.3% and 70 equals three individuals with different viewpoints. Physical and electronic books continue to captivate readers because of the inherent value of the information they carry. Electronic and print media are modes of communication and information dissemination. Preserving and cultivating a love of reading is very important.
Keywords:
books
· electronics
· interest
· physical
· reading
· baca
· buku
· elektronik
· fisik
· minat
Introduction
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan, hasrat, atau hasrat yang kuat terhadap suatu benda atau benda tertentu (Suharso dan Ana Retnoningsih, 2017). Jahja (2015) berpendapat bahwa buku "Psikologi Perkembangan" memunculkan kecenderungan yang mengarahkan fokus individu terhadap entitas tertentu, termasuk tugas, materi pendidikan, benda mati, dan individu. Menurut karya ilmiah Riska Ayu, minat dapat diartikan sebagai “kecenderungan” yang ditandai dengan adanya kegembiraan yang kuat atau kerinduan yang kuat terhadap suatu objek atau konsep tertentu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa minat memainkan peran penting dalam membentuk disposisi individu terhadap keterlibatan dan keterlibatan dalam pekerjaan atau keadaan tertentu. Intinya, minat berfungsi sebagai katalis atau kekuatan pendorong yang mendorong keinginan seseorang untuk mengambil bagian dalam suatu usaha tertentu (Astari, 2020). Pendapat serupa diutarakan oleh Slameto (2017) dalam artikel tersebut di atas, konsep minat diartikan sebagai pengalaman subjektif individu mengenai kesukaan dan ketertarikan terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu, terlepas dari pengaruh eksternal, sehingga menimbulkan perhatian yang meningkat terhadap objek atau aktivitas tersebut (Sukardi, 2021). Membaca merupakan proses multi faset yang mencakup berbagai elemen, mencakup faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengalaman pembaca. Faktor internal yang berkontribusi terhadap keberhasilan individu meliputi minat, kecerdasan, bakat, tujuan, dan motivasi. Elemen eksternal pembaca dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi, akses terhadap fasilitas membaca, dan keterlibatan dalam tradisi membaca. Penggabungan minat dan membaca memunculkan konsep minat membaca, yaitu kecenderungan individu untuk berinteraksi dengan media tekstual untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman. Terlibat dalam membaca berpotensi menjadi sumber motivasi bagi siapa pun yang ingin memperoleh pengetahuan. Istilah “minat” dalam etimologi bahasa mengacu pada kecenderungan atau motivasi yang melekat untuk memperoleh pengetahuan dan mengeksplorasi informasi baru. Minat dapat diartikan sebagai keadaan menginginkan, menyukai, dan menginginkan sesuatu (Matondang, 2018). Menurut Mashuri, minat muncul sebagai instrumen motivasi utama yang mampu merangsang semangat belajar siswa dalam jangka waktu tertentu (2019). Suharmono Kasiyun menegaskan, menumbuhkan minat membaca yang kuat merupakan salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Hal ini karena perolehan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dapat dicapai melalui minat membaca yang mendalam, dibandingkan dengan aktivitas pasif seperti mendengarkan atau mengamati (Arum, 2015). Dalam buku berjudul “Model Pembelajaran Membaca Terpadu Berbasis Sastra Anak untuk Meningkatkan Minat dan Kemahiran Membaca Siswa Sekolah Dasar Kelas Bawah” yang ditulis oleh Udin Syaefudin, Farida Rahim menegaskan bahwa minat membaca ditandai dengan adanya kecenderungan yang mendalam disertai dengan keterlibatan aktif individu. sedang membaca (Wahadaniah, 1997). Selain itu, dikemukakan bahwa individu yang memiliki kecenderungan mendalam terhadap membaca akan menunjukkan kecenderungan tersebut melalui keinginannya untuk memperoleh bahan bacaan dan kemudian terlibat dalam kegiatan membaca, baik yang didorong oleh motivasi intrinsik maupun sumber dorongan eksternal. Buku yang ditulis oleh Udin Syaefudin (2021). Buku fisik/ print/ cetak/ konvensional adalah buku berupa kumpulan tulisan yang dicetak di atas kertas lalu dijilid dijadikan satu menjadi sebuah buku (Nurbaiti & Mariah, 2020). Buku yang lazimnya kita kenal merupakan tempat atau wadah dari informasi-informasi dari sebuah bacaan yang terkumpul disatukan, dijilidkan menjadi susunan halaman. Lembaran halaman demi halaman seutuhnya mulai dari cover kita membacanya, ada sentuhan pada tiap membuka lembar halamanya, diraba dan dipegang. Dengan ukuran dan tebal bervariasi mulai dari 14 cm x 21 cm. 21 cm x 29 cm, dan lainnya. Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Internet of Things (IoT) telah muncul sebagai elemen fundamental yang mendasari berbagai aktivitas manusia. Buku telah mengalami transformasi teknis sebagai respons terhadap perubahan yang terjadi pada periode saat ini. Buku telah bertransformasi dari format fisik tradisional ke versi elektronik yang lebih kontemporer yang dikenal sebagai e-book. E-book, atau disebut sebagai buku elektronik atau digital, adalah terjemahan digital dari buku cetak yang dibuat dalam format elektronik (Waryanto et al., 2017). E-book dapat menggabungkan materi interaktif, seperti video pendidikan, yang membedakannya dari buku cetak konvensional. Ada beberapa format buku elektronik yang banyak digunakan, seperti teks biasa, PDF, jpg, doc, HTML, dan lain-lain. Memasukkan teknologi dan informasi canggih telah mengubah e-book menjadi buku elektronik yang menarik secara visual, lengkap dengan elemen audio yang menyertainya. Peningkatan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat siswa dalam melakukan kegiatan membaca (Fitriyanti, 2021). Teknologi telah memungkinkan transmisi salinan elektronik (ebook) dari buku cetak melalui bidang reprografi (Darmanto & Delliana, 2023). Fitriyanti (2021) meneliti siswa kelas IX D SMPN 2 Mayang yang berjumlah 20 laki laki dan 10 perempuan, pada minat membaca yang serupa. Penelitian ini menggunakan bimbingan dan konseling kelas. Lalu oleh Indah Rahmaningtyas dan Pipit Haryadi (Rahmaningtyas & Haryadi, 2022). Perbedaan Minat Membaca Buku Elektronik (E-Book) dan Buku Konvensional di Era Globalisasi Pada Mahasiswa Program Studi Kebidanan Kediri Poltekkes Kemenkes Malang dengan sampel mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan Terapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif dan kuantitatif. Penelitian minat baca lainnya yang dilakukan oleh Sukardi (2021) adalah Analisis Minat Baca Antara Ebook dan Buku Cetak Menggunakan Metode Observasi di Politeknik Tri Mitra Karya Mandi. Penelitian ini menggunakan observasi, data, wawancara, dan interpretasi. Sukardi menemukan lebih banyak responden yang memilih ebook dibandingkan buku cetak. Setiap penelitian mempunyai subyek, instrumen, metodologi, waktu dan tempat yang berbeda-beda. Beberapa hasil berupa eBook saja, buku cetak/konvensional saja, atau keduanya. Melalui penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat baca Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada terkait media penyajian sumber informasi buku elektronik (eBook) dan buku fisik. Manakah yang lebih menarik/ dominan keberminatan membaca dalam bentuk buku fisik ataukah buku elektronik atau bahkan tidak sama sekali. Apakah dengan adanya perubahan media buku fisik dan elektronik minat baca mahasiswa meningkat, mengalami degradasi kemerosotan ataukah konsisten tidak terpengaruh oleh bentuk buku fisik maupun elektronik.
Method
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian yang menggabungkan dua teknik utama: menyebarkan kuesioner dan melakukan wawancara dengan sekelompok siswa. Kuesioner berguna untuk mengumpulkan data yang komprehensif dan ekstensif tentang berbagai aspek permasalahan penelitian. Sebaliknya, wawancara digunakan untuk memahami perspektif dan pengalaman siswa dengan lebih baik tentang materi pelajaran yang sedang diselidiki. Integrasi kedua metodologi ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman menyeluruh dan mendalam tentang subjek yang diteliti sekaligus memungkinkan peneliti mengumpulkan beragam sudut pandang dari partisipan penelitian. Oleh karena itu, metodologi penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang tepat dan relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan. Objek penelitian ini adalah Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada berjumlah keseluruhan 252 mahasiswa dari tingkat satu, dua dan tiga. Tingkat satu 74 orang mahasiswa, tingkat dua 108 orang mahasiswa dan tingkat tiga 70 orang mahasiswa. Lokasi Penelitian di Kampus Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada, Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur dengan waktu pelaksanaan Mei-Juli 2023. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket/ kuesioner yang dibuat melalui google drive, kemudian disebar melalui WhatsApp Group/ WAG Mahasiswa dan wawancara (Istiana, 2017).
Result & Discussion
Dalam penghitungan angket/ kuesioner penulis menggunakan metode Skala Likert dan teknik wawancara dilakukan terhadap beberapa responden mahasiswa dari tingkat satu, dua, tiga yang dianggap mewakili suara dari tiap angkatan. Sehingga diketahui pendapat, persepsi dan sikap Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada terhadap minat baca buku fisik dan buku elektronik. Penyebaran dan pengisian kuesioner yang diberikan waktu 14 hari, sebanyak 70 orang populasi mahasiswa mengisi kuesioner dari keseluruhan mahasiswa 252 orang mahasiswa dengan perhitungan confidence level (%) 95%, margin of error (%) 10 % dan sehingga diperoleh sample size (responden) = 70 mahasiswa. Mahasiswa yang telah mengisi kuesioner tersebut terdiri dari tingkat satu (masuk tahun 2022) 20 orang, tingkat dua (masuk tahun 2021) 17 orang dan tingkat tiga (masuk tahun 2020) 30 orang serta tiga orang masuk tahun 2019. Setelah diperiksa dengan bagian akademik, ternyata 3 orang yang masuk di tahun 2019 adalah mahasiswa yang mengambil cuti satu tahun dari yang seharusnya sudah lulus di tahun 2022. Dengan begitu keterlambatan lulus satu tahun dari yang seharusnya. Karena Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada ini adalah pendidikan vokasi tiga tahun dengan sistem paket tiap mata ajar per semesternya. Kuesioner pertanyaan pertama, kegemaran responden membaca/ suka membaca buku menghasilkan jawaban Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina suka membaca buku 70,0%. Jumlah skor tertinggi responden yang memilih suka membaca buku yaitu, 70% x 70 = 49 orang. Sedangkan skor responden terendah yang memilih sangat suka membaca buku yaitu, 27,1% x 70 = 19 orang. Serta 2,9 % (2 orang) menjawab ragu. Dari jawaban yang diberikan dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina suka membaca buku. Untuk membuktikan kembali dan menambah keyakinan akan jawaban kuesioner pada Gambar 2, maka penulis membuat pertanyaan kembali dengan membalikkan pertanyaan menjadi, Peneliti tidak suka membaca buku, baik buku fisik maupun buku elektronik. Diperoleh skor tertinggi yang menolak pernyataan atas pertanyaan Gambar 3 adalah 44,3% x 70 = 31 orang, 11,4% x 70 = 8 orang sangat menolak penyataan atas pertanyaan bahwa tidak suka membaca buku baik buku fisik maupun elektronik. Sisanya yaitu, 28,6% x 70 = 20 orang dan 8,6% x 70 = 6 orang tidak suka membaca buku elektronik maupun fisik. Dari jawaban responden atas pertanyaan Gambar 3 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina suka membaca buku baik itu elektronik maupun fisik. Inilah jawaban yang dianggap menggembirakan oleh peneliti karena minat baca Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina tetap tumbuh baik itu buku fisik maupun elektronik. Meningkat pada pertanyaan berikutnya, terhadap kesukaan/ peminatan terhadap bacaan buku elektronik, yaitu: Jumlah skor tertinggi menyatakan bahwa Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina setuju dan suka membaca buku elektronik/ e-book adalah 67,1% x 70 = 47 orang, 25,7% x 70 = 18 orang sangat setuju, suka membaca buku elektronik dan 5,7% x 70 = 4 orang ragu untuk membaca elektronik. Serta 1,4% atau 1 orang tidak setuju/ tidak suka membaca buku elektronik. Data pada Gambar 4 dapat diartikan bahwa Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina berminat dan suka membaca buku elektronik/ ebook. Berkaitan dengan pertanyaan pada gambar 4, penulis memberikan pertanyaan kembali yaitu, ketertarikan terhadap membaca buku fisik daripada buku elektronik. Gambar 5 dapat diketahui bahwa responden tertinggi yang menyatakan bahwa setuju lebih tertarik membaca buku fisik daripada buku elektronik 50% x 70 = 35 orang dan skor terendah menyatakan tidak setuju bahwa lebih tertarik buku fisik daripada buku elektronik sebanyak 5,7% x 70 = 4 orang. Penulis kemudian melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, terkait kemudahan untuk mendapatkan buku fisik dan elektronik, mereka mengatakan bahwa mudah untuk mendapatkan buku elektronik maupun buku fisik. 54,3% x 70 = 38 orang mengatakan sependapat bahwa mudah untuk mendapatkan buku elektronik dan buku fisik dan 4,3% x 70 = 3 orang tidak sependapat. Wawancara yang dilakukan kepada kelima informan yang dianggap mewakili dari mahasiswa yang ada untuk menggali tentang minat baca mahasiswa terhadap buku fisik dan elektronik, meliputi kegemaran membacanya, konsentrasi/ kepahaman isi bacaan terhadap buku fisik dan elektronik, masalah-masalah yang dihadapi terhadap buku fisik maupun elektronik sehingga ada gairah atau peningkatan dalam kegemaran membaca setelah adanya media buku elektronik dan buku fisik. Berdasarkan wawancara dengan lima orang mahasiswa Akper Hermina, minat membaca buku fisik dan elektronik berbeda-beda. Wawancara mengungkapkan beberapa temuan penting yaitu mahasiswa mengetahui buku elektronik tersedia secara luas dan mudah diakses. Orang dapat dengan mudah menemukan dan mengambil buku elektronik ketika terhubung ke internet. Buku elektronik nyaman karena dapat dibawa-bawa. Banyak orang menggunakan ponsel atau komputer untuk mengakses publikasi ini, sehingga meningkatkan aksesibilitas mereka. Ini menjadikannya pilihan membaca portabel. Mahasiswa juga setuju bahwa buku cetak membantu mereka fokus. Orang merasa lebih terhubung dengan sastra ketika mereka bisa membaca buku fisik. Tentu saja, mahasiswa menggunakan buku cetak dan elektronik tergantung kebutuhan mereka. Orang mungkin lebih menyukai buku fisik ketika membaca di perpustakaan atau konteks akademis, sedangkan e-book digunakan untuk membaca di waktu senggang atau akses cepat. Mahasiswa jarang memilih buku fisik atau elektronik. Individu lebih memilih format yang memenuhi kebutuhan mereka saat ini. Wawancara menunjukkan bahwa kebiasaan membaca mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh format buku. Kedua gaya tersebut memiliki nilai dan penerapan yang berbeda, dan mahasiswa biasanya memilih yang paling cocok untuk mereka. Hubungan Minat Baca Mahasiswa Terhadap Buku Fisik Dan Buku Elektronik Setelah memberikan beberapa pertanyaan kuesioner melalui link google drive yang disebar melalui WhatsApp Grup Mahasiswa dan dibantu bagian Perpustakaan dan bagian Akademik Akademi Keperawatan Hermina Manggala Husada serta wawancara langsung kepada beberapa responden dan pengamatan di perpustakaan. Maka diperoleh Minat Baca Mahasiswa Terhadap Buku Fisik dan Buku Elektronik adalah sebagai berikut; Mahasiswa Akademi Keperawatan Hermina suka membaca buku, tidak terpengaruh oleh bentuk penyajian apakah itu elektronik maupun fisik. Namun dalam penekanan pertanyaan terkait lebih suka/ minat buku fisik atau elektronik, mereka lebih suka dan berminat terhadap buku elektronik. Hal tersebut dianggap wajar karena mereka masuk kuliah angkatan tahun 2020, 2021 dan 2022 dan sudah termasuk kategori kaum millennial (generasi gadget). Sumber bacaan buku, jurnal artikel sebagai sumber informasi yang mereka butuhkan dan dicari sebagai bahan referensi untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan diantaranya tugas penyusunan karya tulis ilmiah sebagian besar bisa diperoleh di elektronik dan buku fisik yang ada di perpustakaan. Hal tersebut diucapkan oleh salah seorang responden ketika dilakukan wawancara. Penulis beranggapan bahwa angkatan 2019 sampai dengan angkatan 2022 merupakan angkatan millennial karena segala informasi ada dalam genggaman/ handphone android dan internet. Mereka tidak berpengaruh dengan adanya perubahan bentuk media buku fisik ke elektronik. Antara buku elektronik dan buku fisik tetap dibutuhkan dan tetap ada selama informasi yang dibutuhkan ada maka minat baca mahasiswa diharapkan akan tetap tumbuh. Sebagian responden suka membaca buku fisik terutama yang ada di perpustakaan-perpustakaan karena mereka dapat membacanya dengan bersantai di sofa, kursi, meja perseorangan dengan ruangan yang sejuk/ ber-ac sehingga berasa lebih nyaman dan lebih konsentrasi, sensasi belajarnya dapat. Hal tersebut senada dengan yang diutarakan oleh Mahasiswa tingkat tiga angkatan 2020. Serta membaca di perpustakaan bisa bertemu dengan pengguna/ pemustaka lain. Penelitian ini bila dikembangkan seperti populasi, tempat, waktu dan dengan metoda yang lain maka akan menghasilkan temuan yang menarik pula dan dapat mengembangkan penelitian dan tentunya bermanfaat dalam dunia pendidikan khususnya dalam peningkatan budaya baca. Biarlah pembaca diberikan kebebasan dalam menikmatinya dari kedua versi buku fisik dan elektronik yang terpenting minat baca tetap tumbuh khususnya di kalangan civitas akademika Akademi Keperawatan Hermina. Terpenting pihak kampus baik itu melalui perpustakaan maupun bagian biro akademik dan kemahasiswaan tetap menyediakan koleksi-koleksi bacaan baik itu elektronik maupun fisik dalam menunjang proses perkuliahannya.
Conclusion
Kecenderungan siswa terhadap membaca buku fisik versus buku elektronik menunjukkan variabilitas yang signifikan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Individu tertentu dalam demografi yang lebih muda lebih menyukai buku fisik karena kecenderungan mereka terhadap pengalaman sensoris berupa keterlibatan sentuhan, rangsangan penciuman, dan gerakan membalik halaman yang terlihat. Buku elektronik (e-book) mungkin menarik bagi individu yang lebih menyukai kemudahan dan manfaat teknologi. Masalah aksesibilitas mempunyai arti penting. Siswa yang tidak memiliki akses mudah terhadap buku fisik mempunyai pilihan untuk menggunakan e-book yang dapat diunduh atau online. Namun demikian, jika buku fisik mudah diakses, siswa mungkin akan lebih menyukainya. Faktor kontekstual sebuah buku juga dapat mempengaruhi tingkat minat membaca siswa. Banyak siswa mungkin lebih memilih buku elektronik karena mereka dapat melakukan pencarian konten dengan cepat, membuat anotasi digital, dan dengan mudah membawa beberapa buku. Meskipun demikian, anak-anak mungkin lebih memilih buku cetak ketika melakukan kegiatan membaca rekreasional. Karena sifatnya yang mudah dibawa-bawa, individu yang sering bepergian atau membutuhkan akses cepat ke beragam materi sastra mungkin lebih memilih buku elektronik (e-book). Dalam situasi tertentu, buku fisik mungkin menawarkan kemudahan yang lebih besar. Tingkat minat juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya terhadap buku fisik dan elektronik. Pengalaman yang menyenangkan dengan format tertentu berpotensi mendorong pemanfaatan lebih lanjut. Menyadari bahwa tidak ada format tertentu yang dianggap unggul dalam penggunaan praktis adalah hal yang penting. Kedua pendekatan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan preferensi membaca siswa dapat berbeda. Oleh karena itu, adalah bijaksana untuk menyediakan berbagai buku fisik dan elektronik untuk memenuhi preferensi dan kebutuhan siswa.