Kembali
16
1
2024 Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 3 · 2 ISSN 2962-9780

Analisis Desain Interior Perpustakaan ITEKES Muhammadiyah Kalimantan Barat

Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada desain interior perpustakaan ITEKES Muhammadiyah yang memengaruhi kenyamanan dan minat kunjung pemustaka. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis aspek desain interior dan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi melibatkan 6 informan, yaitu kepala perpustakaan, pustakawan, dan pemustaka. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi, sedangkan uji keabsahan data triangulasi, credibility, transferability. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek desain interior Perpustakaan ITEKES Muhammadiyah yang mempengaruhi kenyamanan pemustaka meliputi ketersediaan fasilitas seperti Wi-Fi, perabotan ergonomis, pencahayaan, dan sirkulasi udara yang baik, di mana aspek akustik juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Strategi desain interior yang diterapkan adalah mengoptimalkan pencahayaan, baik dari cahaya alami maupun buatan, melalui penambahan lampu serta membiarkan gorden terbuka agar cahaya luar dapat masuk. Penerapan strategi ini, diharapkan kenyamanan pemustaka dapat ditingkatkan, sehingga mendorong minat kunjung ke perpustakaan.

Abstract

This research focuses on the interior design of the ITEKES Muhammadiyah library which affects the comfort and interest of users. The main purpose of this study is to find out and analyze aspects of interior design and strategies carried out to improve user comfort. The research method used is qualitative descriptive, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation involving 6 informants, namely the head of the library, librarian, and user. Data analysis techniques are carried out through data reduction, data presentation, conclusion and verification, while the validity test of data triangulation, credibility, and transferability. The results of the study show that the interior design aspects of the ITEKES Muhammadiyah Library that affect the comfort of users include the availability of facilities such as Wi-Fi, ergonomic furniture, lighting, and good air circulation, where the acoustic aspect also has an important role in creating a conducive learning environment. The interior design strategy applied is to optimize lighting, both from natural and artificial light, through the addition of lights and leaving the curtains open so that outside light can enter. The implementation of this strategy, it is hoped that the comfort of users can be improved, thereby encouraging interest in visiting the library.
Keywords: Desain Interior · Perpustakaan · Kenyamanan Pemustaka · Minat Kunjung

Introduction

Desain interior merupakan kebutuhan untuk fasilitas dalam sebuah bangunan yang berfungsi sebagai sarana dan prasarana, salah satunya sebagai penunjang pendidikan seperti perpustakaan [1]. Perpustakaan yang bagus dengan penataan yang rapi dapat memberikan kesan yang lebih luas, sehingga sangat penting untuk memperhatikan desain interior perpustakaan dengan tujuan untuk memberi kesan nyaman, begitu sebaliknya apabila desain interior perpustakaan yang terlihat membosankan dan kesan monoton tidak dapat membantu menciptakaan suasana yang nyaman [2]. Selain memperhatikan dari aspek kenyamanan dan fungsionalitas, aspek estetika, pengaruh lingkungan, dan psikologi pemustaka juga sangat berkaitan erat dengan desain interior [3]. Aspek-aspek ini sangat penting untuk dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah gedung perpustakaan. Pentingnya setiap aspek tersebut dari segi kenyamanan dan fungsionalitas karena pemustaka perlu merasa nyaman saat berada dalam ruangan, serta fungsionalitas yang baik juga akan memastikan bahwa ruang dapat digunakan secara efisien dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Keestetikan ini berkaitan dengan keindahan dalam desain interior, desain yang estetik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan memotivasi pemustaka agar betah berlama-lama berada di perpustakaan [4]. Perpustakaan ITEKES Muhammadiyah adalah perpustakaan perguruan tinggi yang terletak di gedung kampus, tepatnya di lantai tiga. Perpustakaan ITEKES Muhammadiyah terdiri dari empat ruang yaitu ruang referensi yang ada di ujung, ruang koleksi, ruang baca yang berada di tengah-tengah dekat dengan ruang jurusan dan laboratorium serta ruang Bank Indonesia (BI) Corner yang terletak di gedung baru dapat diakses melalui ruang sirkulasi. Permasalahan yang terjadi di perpustakaan adalah penataan interior, terutama jarak antar rak koleksi yang belum memenuhi standar idealyang diterapkan. Selain itu, pencahayaan di area yang tersembunyi juga jadi masalah, karena sulit bagi cahaya dari luar untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Hal ini membuat suasana di perpustakaan kurang nyaman dan menghambat aktivitas para pemustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis aspek desain interior dan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka di perpustakaan ITEKES Muhammadiyah Kalmantan Barat. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa penataan jarak antar rak koleksi di ruang koleksi terlalu berdekatan. Selain itu, pencahayaan dari luar tidak merata karena terhalang oleh gedung di sebelahnya. Jarak antar rak yang terlalu rapat juga menghambat cahaya masuk ke area tersebut, sehingga suasana di ruang koleksi menjadi kurang nyaman untuk pemustaka. Hal ini membuat kesan ruangan terasa sempit dan tidak terbuka, yang dapat mengurangi kenyamanan dalam beraktivitas.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan 6 informan. Wawancara dilakukan melalui interaksi dengan pihak terkait, seperti kepala perpustakaan, pustakawan, dan 4 pemustaka. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung untuk memahami kondisi lapangan di lokasi penelitian. Pendekatan ini berfokus pada deskripsi dalam bentuk kata-kata dan konteks alami.

Result & Discussion

Aspek Desain Interior Perpustakaan yang dapat meningkatkan kenyamanan pemustaka Aspek desain interior perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting dalam menarik minat kunjung pemustaka serta meningkatkan pengalaman mereka saat berada di dalam perpustakaan. Oleh karena itu, komponen desain yang perlu diperhatikan meliputi fungsi dan nilai estetika, yang dapat meningkatkan aspek psikologis ruang perpustakaan dengan menciptakan kesan indah dan nyaman bagi pemustaka [5]. Secara keseluruhan, desain interior perpustakaan ITEKES Muhammadiyah Kalimantan Barat sudah cukup baik, namun masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki, seperti pencahayaan, jarak antar rak, dan pemisahan ruang diskusi dari ruang baca. Melakukan perbaikan pada elemen-elemen ini, kenyamanan pemustaka akan meningkat, dan minat kunjung pun berpotensi lebih tinggi. Keberhasilan sebuah perpustakaan sangat bergantung pada upaya peningkatan untuk menciptakan kenyamanan bagi pemustaka, yang mencakup elemen desain interior seperti tata letak, pencahayaan, warna, sirkulasi udara, perabotan, variasi ruangan, dan peredam suara [6]. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Agus selaku pustakawan, beliau menekankan bahwa pengelolaan ruang perpustakaan sangat penting untuk meningkatkan kenyamanan dan mempermudah akses bagi pemustaka, (25 Juli 2024). “Menurut pandangan saya untuk mengelola ruang perpustakaan sangat penting karena jika kondisi ruangan perpustakaan penuh dengan segala barang-barang yang tidak perlu maka akan membuat pemustaka akan merasa kurang nyaman dan tenang.” Oleh karena itu, aspek fungsional dan estetika menjadi sangat krusial dalam mengatur tata letak ruangan. Dalam merancang ruang perpustakaan, hal yang paling penting adalah penataan perabotan. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan saat merancang interior atau furnitur, termasuk jumlah perabot, pengaturannya, luas ruangan, aktivitas dan fungsinya, serta kenyamanan, bentuk, dan warna perabot. Rak buku, meja, kursi, dan perabot fungsional lainnya merupakan elemen yang umum ditemukan di perpustakaan dan perlu diatur dengan baik untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi pemustaka [7]. 1. Kenyamanan dan Fungsionalitas Penataan yang efektif dapat dicapai apabila terdapat hubungan fungsional antara ruang, arus barang seperti bahan pustaka dan peralatan lainnya, serta arus pergerakan pemustaka sehingga memudahkan aksesibilitas. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan ruang, tetapi juga menciptakan suasana yang mendukung aktivitas belajar dan interaksi dengan nyaman, sehingga pemustaka bisa lebih fokus dan produktif saat berada di perpustakaan, serta merasa betah untuk berlamalama di sana. Aspek fungsional ini berkaitan erat dengan fungsi benda-benda yang diletakkan di ruangan, di mana setiap elemen, mulai dari penempatan buku hingga furnitur, berkontribusi pada pengalaman keseluruhan pemustaka [2]. Berdasarkan wawancara kepada Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan mengenai pentingnya penempatan rak buku yang tepat dalam menciptakan kenyamanan dan fungsionalitas bagi pemustaka, mengatakan bahwa, (24 Juli 2024). “Untuk penempatan rak buku yang tepat sangat penting dalam menciptakan kenyamanan dan fungsionalitas bagi pemustaka, karena mengingat pada kemudahan akses ke koleksi yang dibutuhkan dengan penempatan koleksi berdasarkan kategori atau genre dapat lebih memudahkan dalam mencari koleksi, kenyamanan pemustaka di perpustakaan merupakan perioritas utama kami, selain itu estetika ruangan juga menjadi suatu pertimbangan dalam memberikan layanan kepada pengguna serta perlindungan dan perawatan koleksi sangat dibutuhkan dalam mempertahankan koleksi tersebut.” Berdasarkan wawancara kepada Bapak Agus selaku pustakawan mengenai jarak standar ideal antar rak buku untuk mempermudah akses bagi pemustaka, mengatakan bahwa (25 Juli 2024). “Jarak idealnya sekitar 1,5 meter atau lebih karena jika jarak terlalu dekat akan sulit untuk pemustaka mengakses bahan koleksi dan mencari bahan koleksi lainnya.” Gambar 1. 1 Jarak antar rak Sumber: dokumentasi peneliti, 2024 2. Estetika Hasil analisis menyimpulkan bahwa tingkat kenyamanan terkait dengan estetika ruang perpustakaan mendapatkan respon baik dari pemustaka berdasarkan setiap ruangan, juga ada area yang membuat pemustaka merasa tidak nyaman yaitu ruang referensi. Berikut pernyataan dari pemustaka selaku mahasiswa semester 10 (sepuluh) mengenai seberapa nyaman ketika berada di perpustakaan. (11 juli 2024). “Nyaman. Dari ruangan memadai AC-nya, buku lengkap sih untuk di ruangan baca dan koleksi. Untuk di ruang referensi ini agak keterbatasan cuman ruanganya panas karena AC-nya mati mungkin ya.” Adapun pendapat lainnya dari pemustaka yaitu mahasiswa semester 2 (dua) profesi mengatakan bahwa, (11 Juli 2024). “Suasananya nyaman sih, adem kena AC tenang juga jadi fokus untuk belajar dan cari referensi.” Sirkulasi udara di ruangan dapat memengaruhi kenyamanan pemustaka, jadi penting untuk diperhatikan. Di dalam perpustakaan harus ada ventilasi udara, setiap ruangan juga memiliki jendela yang langsung terhubung ke udara luar, yang memastikan sirkulasi udara lancar dan perpustakaan juga memiliki AC sebagai pendingin ruangan [8]. Ini penting untuk menjaga dan mengatur suhu udara agar stabil, tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Berdasarkan wawancara kepada pemustaka yaitu mahasiswa semester 10 (sepuluh) mengenai pendapatnya terhadap desain interior perpustakaan, mengatakan bahwa, (11 Juli 2024). “Untuk ruang disana (ruang baca dan koleksi) sudah enak lebih modern ya dibandingkan di ruang ini (ruang referensi).” Adapun pendapat lainnya dari pemustaka yaitu mahasiswa semester 2 (dua) profesi tentang desain interior perpustakaan, mengatakan bahwa (11 Juli 2024). “Biasa aja sih tapi gak membosankan juga karena kan perpustakaan ada wifinya.” 3. Pengaruh lingkungan Faktor-faktor lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi desain interior perpustakaan. Misalnya, pencahayaan alami, ventilasi udara, suara atau kebisingan, dan pengaturan suhu dapat berdampak pada kenyamanan dan konsentrasi pengguna perpustakaan. Meskipun perpustakaan ini berada di dalam gedung kampus, tidak menutup kemungkinan bahwa aktivitas mahasiswa di luar ruangan atau di dalam ruangan dapat menyebabkan kebisingan, seperti suara hentakkan kaki, suara gesek meja dan kursi, atau bahkan suara aktivitas pustakawan yang bekerja di dalam ruangan. Begitu juga dengan pencahayaan, pencahayaan buatan saja tidak cukup untuk menerangi ruangan, jadi perlu dibantu adanya pencahayaan alami agar memberi suasana hangat pada ruangan. Setiap ruang perpustakaan memiliki ventilasi udara untuk kualitas udara yang baik, mengurangi kelembapan, menghindari bau, dan tentu saja untuk kenyamanan pemustaka [9]. Berdasarkan wawancara kepada Bapak Agus selaku pustakawan mengenai kondisi tata suara di seluruh ruang perpustakaan, mengatakan bahwa (25 Juli 2024). “Untuk saat ini kondisi suara di sekitar perpustakaan sudah sangat baik dari aktivitas luar.” Hal yang serupa juga disampaikan oleh Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan yang mengatakan bahwa (24 Juli 2024). “Kondisi tata suara diperpustakaan ini sangat tenang dan jauh dari kebisingan, sehingga dapat menciptakan kenyamanan dalam proses belajar.” Berdasarkan wawancara kepada pemustaka yaitu mahasiswa semester 10 (sepuluh) mengenai kebisingan dari dalam maupun dari luar ruangan, mengatakan bahwa (11 Juli 2024). “iya, terganggu. Seharusnya bagian ruang baca sama diskusi dipisahkan ya karena kalo digabungkan itu kurang nyaman sih agak berisik juga kan para penjaga (petugas) perpus, dengan kami mahasiswanya yang ingin membaca bukunya. Kalo kan kayak tempat kerja kelompok (diskusi) gitukan seharusnya udah nyamanlah ya tapi sebaiknya dipisah agar lebih fokus belajarnya sama kalo ada penjaga (petugas) kayak canggung untuk berdiskusinya.” Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk tingkat kenyamanan pada ruang perpustakaan memang sudah cukup nyaman akan tetapi apabila ada aktivitas lain seperti ada mahasiswa sedang berdiskusi atau melakukan pertemuan dengan dosen pada ruang tersebut mahasiswa lain yang berkunjung yang hanya untuk membaca dan mencari referensi akan merasa terganggu untuk beraktivitas di dalam ruangan dan aktivitas mahasiswa yang sedang berdiskusi juga dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa lainnya yang sedang belajar. Maka dari itu perpustakaan ini perlu menyediakan ruangan khusus atau ruang privat yang membuat suasana menjadi tenang dan privat tanpa menganggu aktivitas di dalamnya [10]. 4. Psikologi pemustaka Hasil pengamatan langsung oleh peneliti menunjukkan bahwa penataan ruang perpustakaan ini cukup baik di beberapa area. Pemilihan warna dalam ruang juga nyaman untuk dilihat, serta sirkulasi udara yang memadai. Penataan perabotan, seperti meja dan kursi yang tersusun rapi, memberikan kenyamanan bagi pemustaka saat berkunjung ke perpustakaan. Untuk pencahayaannya lumayan terang, walaupun begitu ada beberapa area tertentu yang memang pencahayaannya agak kurang yaitu di ruang koleksi, hal ini terjadi tergantung pada kondisi cuaca, jika cuacanya cerah maka pencahayaan yang masuk cukup terang dan apabila cuacanya mendung maka pencahayaan akan kurang. Berdasarkan wawancara kepada Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan mengenai pemilihan warna pada ruang perpustakaan untuk menciptakan suasana nyaman, mengatakan bahwa (24 Juli 2024). “Warna kuning yang digunakan perpustakaan memberikan nuansa semangat kepada pemustaka.” Berdasarkan wawancara kepada pemustaka selaku mahasiswa semester 2 (dua) mengenai bagaimana dengan pemilihan warna pada ruang perpustakaan, mengatakan bahwa (29 Juli 2024). “Sudah tepat. Menurut saya warna kuning ini kan membawa kesan bahagia ceria gitu sih kak.” Mengenai warna, warna kuning dikenal sebagai simbol kehangatan yang dapat merangsang indera penglihatan dan sistem saraf, sehingga menghasilkan perasaan bahagia. Warna yang cerah dan mencolok dapat meningkatkan kewaspadaan dan aktivitas, sehingga sangat cocok untuk individu yang sedang belajar. Kuning juga identik dengan kebahagiaan, yang membuat orang merasa lebih ceria dan optimis saat melihatnya. Selain itu, warna ini dapat meningkatkan energi dan semangat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, terutama saat mengerjakan tugas [11]. Berdasarkan wawancara kepada pemustaka selaku mahasiswa semester 2 (dua) mengenai kondisi pencahayaan dalam ruang perpustakaan mengatakan bahwa (29 Juli 2024). “Dibagian ruangan rak buku sedikit gelap sedangkan diruangan membaca terang. Emang gelap sih pas nyari bukunya di ruang sana, apa lagi pas-pas cuaca hujan.” Hal yang sama juga disampaikan oleh pemustaka yaitu mahasiswa semester 2 (dua) profesi yang mengatakan bahwa (11 Juli 2024). “Ruangan disana (ruang koleksi) sih kak agak gelap, seharusnya tirainya itu dibuka semuanya gitu biar cahayanya masuk.” Hasil analisis peneliti tentang kondisi ruang koleksi, jika penataan rak bukunya tidak luas dan pencahayaan alaminya kurang masuk, penyusunan rak buku bisa juga menjadi permasalahannya. Selain itu, memilih material kayu dengan pemilihan warna coklat juga berdampak besar pada suasana serta menciptakan kesan gelap dan sempit. Meskipun material kayu memberikan kesan hangat, kayu berwarna gelap seperti cokelat tua atau hitam dapat menjadi masalah, terutama di ruangan yang kecil. Apabila cuacanya cerah, cahaya alami dapat membuat ruangan lebih terang, sehingga warna cokelat tua mungkin masih dapat diterima. Namun, ketika cuaca mendung atau hujan, pencahayaan dalam ruangan akan menjadi redup, yang dapat membuat warna cokelat tua terasa berat. Oleh karena itu, untuk rak buku mungkin lebih baik memilih warnawarna cerah atau netral karena warna-warna ini dapat memantulkan cahaya dan menciptakan suasana yang lebih terang. Selain pemilihan warna, juga penting untuk mempertimbangkan sumber pencahayaan tambahan di dalam ruangan seperti penambahan lampu strip LED di area rak buku [12] Berdasarkan wawancara kepada pemustaka selaku mahasiswa semester 2 (dua) profesi mengenai penataan perabotan berupa meja dan kursi (11 Juli 2024). “Sudah pas ya kak. Gak terlalu tinggi gak terlalu rendah juga, kursinya juga empuk sih gak pakai kursi kayu. Untuk pemberian warna pada mejanya tidak mengganggu karena udah sesuai dengan suasana ruangannya.” Gambar 1. 2 Meja dan Kursi Sumber: dokumentasi peneliti, 2024 Dapat disimpulkan bahwa standar tinggi kursi ideal berkisar antara 35,6 cm hingga 48,2 cm. Namun, pada perpustakaan tersebut, jenis kursi yang digunakan adalah Futura FTR-405 dengan tinggi 86 cm. Sementara itu, ketinggian meja yang ideal seharusnya berada di sekitar dada atau sedikit di bawahnya saat posisi duduk, yang biasanya berkisar 25-30 cm lebih rendah dari ketinggian duduk [1]. Dilihat dari gambar di atas, meja dan kursi yang digunakan sudah sesuai dengan standar. Ketinggian meja berada dalam rentang yang ideal, sehingga memudahkan pemustaka untuk beraktivitas dengan nyaman. Selain itu, kursi yang digunakan juga memberikan dukungan yang baik, dengan ketinggian yang memungkinkan pemustaka duduk dengan posisi yang ergonomis. Hal ini penting untuk mencegah ketegangan otot dan menjaga kenyamanan saat belajar [13]. Berdasarkan wawancara kepada pemustaka yaitu mahasiswa semester 10 (sepuluh) mengenai tata letak rak buku yang ada di perpustakaan tersebut, mengatakan bahwa (11 Juli 2024). “Kalo tata letak raknya yah kalo disana jujur ya kayak masih agak sempit kan pencahayaan kurang gitukan terus mungkin bisa ditambah atau disusun kembali rak bukunya disini juga masih agak susah nyarik referensinya.” Berdasarkan analisis untuk penempatan rak buku yang terlalu rapat dapat menghambat pergerakan pemustaka dan menciptakan kesan ruang yang sempit. Ini bisa mengurangi kenyamanan saat mencari buku atau referensi yang diperlukan. Kurangnya pencahayaan dapat menyebabkan kesulitan dalam membaca judul atau informasi pada buku, sehingga pemustaka merasa sulit saat mencari referensi. Pencahayaan yang optimal sangat krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Disarankan untuk menata ulang rak buku agar lebih efisien dan memberikan ruang yang cukup untuk pergerakan. Selain itu, menambah pencahayaan, baik dengan mengoptimalkan cahaya alami maupun menggunakan lampu tambahan, dapat meningkatkan kenyamanan dan kemudahan dalam mencari referensi. Strategi Desain Interior Perpustakaan dalam Meningkatkan Kenyamanan Pemustaka Strategi desain interior perpustakaan untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka sangatlah penting. Pertama, pencahayaan perlu dioptimalkan dengan memaksimalkan cahaya alami melalui jendela besar dan menggunakan lampu yang nyaman untuk mata. Pencahayaan yang dihasilkan oleh lampu buatan manusia dikenal sebagai pencahayaan buatan. Pencahayaan ini sangat dibutuhkan saat kondisi gelap atau pada sore hingga malam hari. Dalam perkembangan teknologi sumber cahaya buatan, kini kualitas pencahayaan buatan telah mampu memenuhi kebutuhan manusia. Untuk mendukung aktivitas di perpustakaan, ketersediaan lampu sangat penting. Kualitas belajar pemustaka di perpustakaan dapat terpengaruh oleh kurangnya perhatian terhadap sistem pencahayaan [14]. Ruang harus dirancang dengan fleksibel, menyediakan area baca yang nyaman serta ruang diskusi yang mendorong interaksi. Selain itu, untuk mencegah ruangan terasa pengap, diperlukan sistem pendingin yang efisien dan ventilasi yang baik agar suhu udara tetap stabil. Terakhir, untuk menciptakan suasana yang membuat pemustaka betah berlama-lama di perpustakaan, sangat penting untuk memiliki fasilitas seperti akses Wi-Fi yang stabil, dan meja kursi yang nyaman digunakan. Berdasarkan wawancara kepada Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan mengenai strategi dalam menentukan pencahayaan yang berbeda di setiap ruangan perpustakaan, mengatakan bahwa (5 Agustus 2024). “Itu kita melihat dulu situasi dan kondisi dalam ruangan itu gitukan kalo misalnya contohnya seperti disini nih ruangan bukubukunya, ruangan sirkulasi nah ini antar gedung satu dan gedung lainnya ini berdempetan gitukan jadi cahaya dari luar matahari itu gak bisa masuk menghalang dari gedung yang baru. Nah jadi untuk mensiasati agar ruang ini tidak terlalu gelap kita mencoba memfasilitasi lampu-lampu kalo kurang lebih sih untuk lebih terang itu lebih diperbanyak. Kemudian kita cek lagi kalo misalnya masih kurang jendela yang ada horden-hordennya bisa kita buka biar cahaya luar masuk cahaya lampu juga tetap standbykan seperti itu. Jadi, mau siang mau malam gitu sebenarnya ya ketentuannya sesuai dengan yang ada di standar ini perpustakaan suhunya, trus kemudian pencahayaannya untuk di ruangan sebelah sana itukan ada BI corner, nah itu tidak terhalang sama gedung kan jadi cahaya dari luar langsung masuk jadi untuk lampu disana keknya kurang kondusif jadi kita pakai cahaya alami dan itu juga harus kita tambahin horden, untuk sementara masih belum nih horden yang disebelah sana nah jadi begitu cahaya masuk ya jika tidak ada penghalangnya buku-buku disitu akan rusak karena kena cahaya yang terlalu panas masuk melalui jendela, itu memang membuat kerusakan juga kalo tidak sesuai dengan suhu standar untuk buku-buku ya, untuk buku agar terlihat bagus.” Berdasarkan penjelasan dari informan tersebut menjelaskan pentingnya melihat situasi dan kondisi setiap ruangan sebelum menentukan pencahayaan, terutama di area yang terhalang gedung lain sehingga cahaya matahari sulit masuk. Untuk mengatasi ruangan yang gelap, mereka menambah jumlah lampu agar lebih terang, menunjukkan fleksibilitas dalam mengelola pencahayaan. Di ruang Bank Indonesia (BI) Corner, cahaya alami lebih diutamakan karena tidak terhalang, namun perlu diwaspadai agar tidak merusak buku, sehingga horden menjadi solusi yang perlu dipasang (Ling, 2018) . Ibu Wiji juga menekankan bahwa suhu dan pencahayaan harus sesuai standar perpustakaan untuk menjaga kualitas buku, menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap kondisi buku. Ini semua mencerminkan strategi pencahayaan yang cermat dan peduli terhadap kualitas perpustakaan. Berdasarkan wawancara kepada Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan mengenai tantangan yang dihadapi saat menggabungkan cahaya alami dan buatan, mengatakan bahwa (5 Agustus 2024).. “Terkadang itu saat cuaca, kalo misal cuaca hujan nah itu automatis akan berkurang, kalo kita hanya memanfaatkan cahaya alami dari luar, tapi kalo kita kolaborasi dengan cahaya buatan itu akan teratasi kek gitu masalah itu.” Hasil dari wawancara informan mengungkapkan tantangan yang dihadapi saat menggabungkan cahaya alami dan buatan, terutama saat cuaca hujan yang mengurangi cahaya alami dari luar. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan sangat bergantung pada kondisi cuaca untuk pencahayaan yang memadai. Ketika hanya mengandalkan cahaya alami, ruangan bisa menjadi gelap dan tidak nyaman bagi pemustaka, sehingga kolaborasi antara cahaya alami dan buatan menjadi solusi yang efektif ntuk menciptakan pencahayaan yang stabil dan nyaman (Mumpuni & Wibisono, 2020). Berdasarkan wawancara kepada Ibu Wiji selaku kepala perpustakaan mengenai inovasi baru dalam desain interior kedepannya untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka, mengatakan bahwa (5 Agustus 2024). “Ini nih udah pasti sangat dibutuhkan ya karna ada masukkan dari mahasiswa terkait desain interior. Karena mahasiswa pengennya begitu masuk perpus, mereka merasa nyaman gitukan. Oh ini enak nih untuk belajar, untuk diskusi. Untuk kedepannya itu memang kita tu ada rencana gitukan untuk membikin desain interior yang modern, yang fashionable, instargramable jadi mahasiswa itu selain menyelesaikan tugas mereka bisa ya istilahnya potret-potret bikin status lagi di perpustakaan, itu membuat mahasiswa lain nya itu tertarik untuk datang ke perpus.” Kesimpulannya yaitu pengelolaan ruang perpustakaan itu sangat penting demi menciptakan kenyamanan dan fungsionalitas bagi pemustaka. Melalui wawancara dan pengamatan yang dilakukan, terungkap bahwa faktor-faktor seperti penataan perabotan, jarak antar rak buku, pencahayaan, dan desain interior perlu diperhatikan agar pemustaka merasa nyaman saat mencari referensi dan belajar. Meski keadaan saat ini sudah cukup baik, masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, seperti penataan ulang rak agar akses lebih mudah dan pencahayaan yang memadai. Selain itu, inovasi desain interior yang lebih modern dan menarik juga jadi langkah penting untuk menarik lebih banyak pemustaka datang ke perpustakaan.

Conclusion

enyamanan pemustaka mencakup ketersediaan fasilitas seperti Wi-Fi dan perabotan ergonomis, serta pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik untuk mendukung konsentrasi saat belajar. Selain itu, aspek akustik juga penting untuk menjaga kualitas lingkungan belajar. Penerapan desain yang modern dan menarik diharapkan dapat meningkatkan minat pemustaka untuk berkunjung. Selain itu, memperhatikan standar desain interior perpustakaan dapat meningkatkan kualitas layanan dan menciptakan pengalaman positif, menjadikannya tempat yang lebih ramah dan nyaman bagi pemustaka. Strategi yang digunakan dalam desain interior perpustakaan ITEKES Muhammadiyah Kalimantan Barat adalah dengan mengoptimalkan pencahayaan, baik dari cahaya alami maupun buatan menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas pemustaka, dengan perhatian khusus pada penempatan lampu dan pengaturan ventilasi yang tepat. Fleksibilitas ruang, termasuk penyediaan area baca yang nyaman dan ruang diskusi, juga berperan dalam mendorong interaksi sosial di antara pemustaka. Upaya untuk menarik lebih banyak pengunjung, perpustakaan berencana mengimplementasikan desain interior yang lebih modern dan menarik, yang sesuai dengan preferensi generasi muda. Semua elemen ini saling berhubungan dan berkontribusi dalam menciptakan suasana yang mendukung aktivitas belajar dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan untuk bersosialisasi. Oleh karena itu, penerapan strategi desain interior yang baik diharapkan mampu meningkatkan minat kunjung serta kenyamanan pemustaka di perpustakaan.