Sikap Kepala Sekolah dan Guru Terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
This study aims to describe the attitudes of the school principal and teachers toward the library at SDN 01 Belakang Tangsi. This research is a qualitative study with a descriptive approach. The informants were selected using purposive sampling, consisting of seven individuals: one school principal and six teachers. The research instrument used was an interview guideline. Data collection was conducted through interviews, and data analysis was carried out in three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of study show that: First, both the school principal and teachers view the library and librarian as two important elements. Second, the reason the school has not hired a librarian until now is that the BOS (School Operational Assistance) fund cannot cover the libraian’s salary, and approval must be obtained from the BOS of the Education Office.Teachers have informed the principal that many students inquire about the library, and the teachers can only explain to the students that the library is inactive due to the lack of librarian to manage it. Teachers search for teaching references through textbooks, journals on the internet, and sometimes YouTube, while students only search for references through textbooks. Third, both the principal and teachers have taken steps to reactivate the library at SDN 01 Belakang Tangsi by holding a meeting to discuss the library’s reactivation. The principal has proposed to the Education Office regarding the need for a librarian to manage the library. In the meantime, teachers will manage the library by organizing a teacher duty roster until the confirmation from the Education Office regarding the librarian’s position is received.
Keywords:
Attitude
· School Principal
· Teacher
· School Library
Introduction
Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 9 Januari 2023 dengan salah satu guru SDN 01 Belakang Tangsi. Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi tidak terkelola dan tidak berjalan semenjak pustakawannya meninggal dunia pada tahun 2015. Hal ini juga disebabkan karena kepala sekolah tidak mencari pengganti pustakawan yang mengelola perpustakaan hingga saat ini. Guru SDN 01 Belakang Tangsi juga sudah sering mengingatkan kepala sekolah untuk mencari pengganti pustakawan, akan tetapi tidak diindahkan oleh kepala sekolah (wawancara pada tanggal 9 Januari 2023).Setiap lembaga pendidikan selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Salah satu langkah yang bisadilakukan sekolah dalam mengoptimalkanmutu pendidikan adalah menyediakan berbagai fasilitas belajar yang dibutuhkan oleh peserta didik. Di antara fasilitas terebut adalah perpustakaan sekolah. Secara umum, perpustakaan dapat dianggap sebagai pusat utama dalam sebuah sekolah yang dikelola oleh profesional atau pustakawan. Perpustakaan sekolah adalah bagian dari struktur organisasi di institusipendidikan yang berfungsi sebagai ruang penyimpananberbagai koleksi dan bahan pustaka yang mendukung proses pembelajaran. Koleksi ini disusun dan dikelola dengan cara yang terorganisir untuk menjadi sumber informasi yang berguna dalam meningkatkan pengetahuan serta mendalami materi pendidikan bagi siswa.Perpustakaan sekolah merupakan elemen yang sangat krusialdalam sistem pendidikan dan tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sekolah itu sendiri. Sebagai fasilitas pendukung pembelajaran, perpustakaan sekolah berperan dalam membantu proses belajar siswa serta meningkatkan minat membaca mereka, yang pada akhirnya berkontribusi pada pencapaian tujuan(Sriwahyuni & Kristiawan, 2019).Perpustakaan sekolah seharusnya memberikan peluang bagi guru dan siswa untuk memperluas wawasan serta menambah pengetahuan melalui akses bahan perpustakaan yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar.Pentingnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya peningkatan kualitaspendidikan. Oleh karena itu, pengelolaan perpustakaan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang dan harus dilakukan oleh tenaga ahli atau pustakawan. Karena peran pustakawan sangat besar dan penting dalam pengelolaan pepustakaan. Pustakawan memiliki wawasan dan keterampilan dalam mengelola perpustakaan sekolah.Tidak hanya pustakawan, tetapi kepala sekolah juga memiliki peran penting dalam pengelolaan perpustakaan karena kepala sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab penuh terhadap pendidikan dan pengajaran di sekolah. Kepala sekolah berperan penting untuk meningkatkan kualitas lembaga yang dipimpinnya. Sehingga lembaga yang dipimpinnya akan terjadi perubahan-perubahan standar mutu yang diinginkan.Keberhasilan perpustakaan dalam meningkatkan kualitas peserta didik sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyelaraskan berbagai sumber daya pendidikan yang ada. Kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor penting yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan, melalui program-program yang direncanakan dan dilaksanakan secara bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk memiliki keterampilan manajerial dan kepemimpinan yang handal, agar mampu membuat keputusan yang tepat dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah. Sebagai salah satu unsur utama dalam pendidikan, kepala sekolah memegang peran besar dalam memajukan kualitas pendidikan, dengan wewenang untuk mengatur dan mengendalikan proses pendidikan di sekolah.Begitu juga dengan keberadaan perpustakaan di sekolah, peran kepala sekolah sangat menentukan agar segala aktivitas perpustakaan berjalan sesuai dengan tujuan. Untuk itu, kepala sekolah harus memiliki perhatian khusus dan memberikan dukungan penuh. Tanpa perhatian dan dukungan dari pimpinan sekolah, segala fungsi dan tujuan perpustakaan tidak akan tercapai, karena semuanya bergantung pada penyediaan fasilitas yang harus disiapkan oleh pihak sekolah, baik dari anggaran sendiri maupun melalui sumbangan. Semua ini sangat tergantung pada komitmen dan perhatian kepala sekolah.Di sekolah, guru juga memegang peranan yang sangat vital kerena menjadi pusat dan sumber utama dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa posisi guru adalah suatu jabatan yang bersifat profesional. Oleh karena itu, guru diharapkan untuk terus meningkatkan profesionalismenya agar dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Seorang guru yang profesional adalah guru yang menguasai berbagai kompetensi, sehingga sebagai salah satu sumber daya manusia di sekolah, guru memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu dan kualitas sekolah, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada proses pembelajaran(Susanto, 2016).Dalam mendukung perpustakaan sekolah sebagai pusat belajar bagi siswa, tentunya juga membutuhkan peran dari guru sebagai pengingat. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pendidik siswa di sekolah. Akan tetapi guru juga berperan dalam mengingati kepala sekolah jika adanya kekurangan di sekolah, baik dalam staf mengajar maupun dalam pengelola perpustakaan sekolah.Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, penelitian mengenai sikap kepala sekolah dan guru terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap kepala sekolah dan guru terhadap perpustakaan sekolah.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap kepala sekolah terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi dan mendeskripsikan sikap guru terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara langsung dengan informan yang telah dipilih secara purposive sampling. Jumlah informan yang diwawancarai adalah tujuh orang, satu orang kepala sekolah dan enam orang guru.Pengabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi sumber. Teknik analisis data mencakup reduksi data, penyajian data dalam bentuk teks naratif, dan verifikasi hasil analisis untuk menarik kesimpulan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Result & Discussion
1.Sikap Kepala Sekolah Terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang TangsiPerpustakaan memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, perpustakaan juga disebut sebagai jantung sekolah karena dapat membantu proses pembelajaran di sekolah dan tentunya dikelola oleh tenaga ahli atau pustakawan. Akan tetapi, hal tersebut tidak sesuai dengan Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi karena Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia pada tahun 2015. Hal ini menjadi faktor hilangnya peran penting perpustakaan sekolah yang menjadi jantung sekolah yang membantu proses pembelajaran di sekolah.Berdasarkan pernyataan tersebut, perlu diketahui sikap kepala sekolah tehadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Untuk memahami sikap kepala sekolah yang sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia tahun 2015. Maka dilakukan dengan menggunakan tiga komponen menurut teori (Fishbein & Ajzen, 1975), yaitu kognisi, afeksi, dan konasi.a.Komponen KognisiSikap kepala sekolah terhadap perpustakaan mencakup pada pemahaman kepala sekolah tentang pentingnya perpustakaan dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Kepala sekolah yang menyadari manfaat perpustakaan akan lebih cenderung melihatnya sebagai elemen penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya melihat perpustakaan sebagai ruangan tempat penyimpanan koleksi buku saja.Berdasarkan temuan penelitian, kepala sekolah memiliki pandangan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar di sekolah baik bagi guru maupun siswa di sekolah. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Arikunto & Lia, 2008)bahwa perpustakaan adalah fasilitas penting di sekolah yang berfungsi sebagai sumber informasi bagi guru dan siswa dalam mendukung proses pembelajaran. Selain sebagai tempat menyimpan koleksi buku cetak dan non cetak, perpustakaan juga memainkan peran sentral dalam menunjang kegiatan pendidikan yang berlangsung di sekolah.Perpustakaan tidak lepas dari pengelolaan pustakawan. Pustakawan memiliki peranan penting dalam pengelolaan perpustakaan agar perpustakaan terkelola dengan baik. Berdasarkan temuan penelitian, kepala sekolah memiliki pandangan bahwa pustakawan memiliki peran penting dalam mengelola perpustakaan. Pustakawan juga dapat membimbing guru dan siswa dalam mencari informasi dan sumber belajar mengajar di sekolah. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Taufik, 2017)bahwa pustakawan berperan penting dalam mendukung guru dan siswa untuk mengakses informasi yang diperlukan dengan cara yang efektif. Informasi yang disediakan berkaitan dengan materi pembelajaran yang dapat memperlancar proses belajar mengajar, serta informasi lainnya yang sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, sudah menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki sikap kognisi terhadap perpustakaan sekolah. Kepala sekolah memiliki pandangan yang baik terhadap perpustakaan sekolah dan juga pada pustakawan. Kepala sekolah memahami pentingnya perpustakaan sekolah yang dapat menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Memahami perpustakaan sekolah yang merupakan inti sekolah yang membantu proses pembelajaran di sekolah dengan tersedianya koleksi cetak maupun non cetak di perpustakaan.Kepala sekolah juga memahami penting adanya pustakawan yang mengelola perpustakaan. Tidak hanya pengelola perpustakaan, tetapi juga dapat membantu dan membimbing guru dan siswa dalam mencari informasi yang diperlukan di perpustakaan. Sehingga perpustakaan dapat terkelola dengan baik dan teratur sesuai dengan aturan perpustakaan.b.Komponen AfeksiSikap kepala sekolah terhadap perpustakaan juga dilihat melalui responnya terhadap kondisi Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia pada tahun2015. Tidak berfungsinya perpustakaan ini bukan hanya melalui tantangan dalam pengelolaan saja. Akan tetapi, juga menunjukkan sejauh mana kepala sekolah merasa bertanggung jawab terhadap perpustakaan tersebut.Berdasarkan temuan penelitian, alasan kepala sekolah belummencari pengganti pustakawan karena dana BOS tidak dapat mengcover gaji pustakawan tersebut, jikapun ada juga harus ada persetujuan dari BOS Dinas Pendidikan. Hal inilah yang menjadi alasan kepala sekolah belum mencari pustakawan hingga saat ini. Pada dasarnya pustakawan merupakan tenaga ahli yang mengelola perpustakaan sehingga perpustakaan dapat terkelola sesuai dengan aturannya.Tidak aktifnya perpustakaan yang disebabkan tidak adanya yang mengelola perpustakaan, banyak guru yang melapor kepada kepala sekolah. Laporannya menyatakan bahwa banyak siswa yang bertanya terkait perpustakaan yang tidak aktif. Pertanyaan tersebut muncul karena ruangan perpustakaan dan koleksinya ada, tetapi perpustakaannya tidak aktif.Selanjutnya, dengan tidak aktifnya perpustakaan juga membuat siswa dan guru mencari referensi pembelajaran melalui buku pegangan saja. Hal ini tidak sesuai dengan yang diungkapkan oleh (Sinaga, 2011)karena perpustakaan sekolah memiliki peran edukatif yang penting, dimana dengan berbagai fasilitas dan sarana yang tersedia, perpustakaan mendukung guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, salah satunya dengan menyediakan sumber referensi pembelajaran. Koleksi yang ada di perpustakaan menjadi alternatif lain untuk mencari bahan referensi selain buku teks yang digunakan guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut kepala sekolah memiliki sikap afeksi terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Kepala sekolah memiliki respon yang baik dalam menjelaskan dan mengungkapkan terkait Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia pada tahun 2015. Menjelaskan dari belum adanya pengganti pustakawan perpustakaannya, laporan guru terkait pertanyaan siswa terkait perpustakaannya, hingga bagaimana guru dan siswa dalam mencari referensi selain buku pegangan.c.Komponen KonasiSikap kepala sekolah terhadap perpustakaan juga dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan untuk mengaktifkan kembali Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia pada tahun 2015. Tindakan ini mencakup upaya pencarian pustakawan baru dan menyusun strategi agar perpustakaan aktif kembali. Tindakan yang dapat memperbaiki pengelolaan Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi.Berdasarkan temuan penelitian, kepala sekolah mengambil tindakan dengan melakukan rapat bersama guru-guru di sekolah terkait pengaktifan kembali Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Pengaktifan perpustakaan yang akan menjadi penunjang dalam proses belajar mengajar di sekolah. Pengaktifan perpustakaansekolah yang mengembalikan jantung sekolah karena begitu pentingnya adanya perpustakaan di sekolah.Mengenai pustakawan yang mengelola perpustakaan, kepala sekolah akan mengusulkan kepada Dinas Pendidikan. Kemudian, setelah aktifnya perpustakaan sekolah, tetapi pustakawannya masih menunggu konfirmasi atau persetujuan dari Dinas Pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah akan mengadakan rapat lagi bersama guru-guru untuk menentukan piket guru yang akan mengelola perpustakaan untuk sementara sampai adanya pustakawan baru. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Purwanto, 2010)bahwa kepala sekolah memiliki peran untuk berupaya melaksanakan dan melengkapi perlengkapan yang diperlukan sekolah. Perlengkapan yang dimaksud adalah berbagai jenis media dan fasilitas yang mengandung pengajaran seperti perpustakaan sekolah. Kepala sekolah juga memiliki peran dalam menjalin kerjasama yang baik dengan guru di sekolah.Berdasarkan hasil penelitian tersebut kepala sekolah memiliki sikap konasi terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Kepala sekolah melakukan tindakan positif dalam mengaktifkan kembali perpustakaan sekolah. Kepala sekolah akan melakukan pengusulan pustakawan baru ke Dinas Pendidikan. Kepala sekolah juga mencari opsi lain yang apabila belum adanya konfirmasi mengenai pustakawan dari Dinas Pendidikan. Opsi yang dilakukan yaitu guru yang akan mengelola perpustakaan untuk sementara waktu hingga adanya pustakawan baru yang mengelola.2.Sikap Guru Terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang TangsiSelain kepala sekolah, guru juga memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan dan perkembangan sekolah. Salah satunya yaitu tanggung jawab guru pada perpustakaan sekolah. Oleh karena itu, perlu juga diketahui sikap guru terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi terkait latar belakang masalah yang telah disampaikan sebelumnya. Untuk memahami sikap guru terhadap perpustakaan terkait latar belakang masalah tersebut, akan dilakukan menggunakan tiga komponen menurut (Fishbein & Ajzen, 1975), yaitu kognisi, afeksi, dan konasi.a.Komponen KognisiSikap guru mencakup bagaimana mereka memahami dan menilai pentingnya perpustakaan sekolah sebagai sumber pembelajaran. Guru yang menyadari manfaat perpustakaan akan lebih cenderung melihatnya sebagai elemen penting dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya melihat perpustakaan sebagai ruangan yang berisi berbagai macam koleksi baik koleksi cetak maupun koleksi non cetak.Berdasarkan temuan penelitian, guru-guru memiliki pandangan bahwa perpustakaan sangat penting adanya untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan dapat menjadi sumber referensi pembelajaran di sekolah. Perpustakaan juga dapat menumbuhkan minat baca siswa melalui literasi di perpustakaan. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Bafadal, 2009)bahwa perpustakaan membantu guru dan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Membantu guru dan siswa mencari referensi pembelajaran dengan lebih luas. Menjadi sarana untuk menumbuhkan minat baca siswa yang dapat ditingkatkan melalui berbagai kegiatan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah (Sari, 2018). Salah satu kegiatan yang disediakan yaitu dengan dilakukannya literasi perpustakaan yang terkait dengan penyampaian pemahaman dalam membedakan bahan bacaan yang bersifat fiksi dan non fiksi (Agustino, 2019).Sesuai dengan fungsinya untuk menunjang proses belajar mengajar dan menjadi sumber referensi pembelajaran. Perpustakaan juga perlu adanya pustakawan untuk mengelola perpustakaan agar fungsi perpustakaan tersebut tercapai dan terkelola dengan baik. Pada dasarnya perpustakaan dikelola oleh tenaga ahli atau bisa disebut dengan pustakawan.Berdasarkan temuan penelitian, guru-guru memiliki pandangan bahwa pustakawan memiliki peran penting dalam mengelola perpustakaan dan membantu mencari referensi pembelajaran di sekolah dan juga dapatmembimbing siswa dalam literasi di perpustakaan. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Taufik, 2017)bahwa pustakawan memberikan keterampilan literasi informasi, seperti cara mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi. Informasi yang dimaksud yaitu berupa referensi yang diperlukan oleh guru maupun siswa di sekolah dan dapat juga berupa kumpulan bahan pustaka baik yang berupa cetakan maupun digital yang tersedia di perpustakaanyang dapat membimbing siswa dalam kegiatan literasi di perpustakaan.Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa guru-guru memiliki sikap kognisi terhadap perpustakaan sekolah dan juga pustakawan. Guru-guru memiliki pandangan yang baik terhadap perpustakaan sekolah dan juga pada pustakawan. Guru-guru memahami pentingnya perpustakaan sekolah dalam proses pembelajaran di sekolah dan sebagai sarana kegiatan literasi. Guru-guru juga memahami penting adanya pustakawan dalam mengelola perpustakaan sekolah. Pustakawan dapat membimbing dalam menumbuhkan minat baca dalam kegiatan literasi di sekolah.b.Komponen AfeksiSikap guru terhadap perpustakaan juga dilihat dari responnya terhadap kondisi Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak pustakawannya meninggal dunia pada tahun 2015. Tidak aktifnya perpustakaan ini bukan hanya melalui tantangan dalam pengelolaan saja. Akan tetapi, tidak aktifnya perpustakaan juga menunjukkan sejauh mana guru-guru merasa tanggung jawab terhadap perpustakaan tersebut.Berdasarkan temuan penelitian, alasan pihak sekolah belum mencari pengganti pustakawan hingga saat ini disebabkan dana BOS sekolah tidak dapat mengcover penggajian pustakawan dan harus mendapat persetujuan BOS Dinas Pendidikan. Hal ini menyebabkan perpustakaan tidak aktif karena belum ada pustakawan pengganti hingga saat ini. Pada dasarnya pustakawan merupakan tenaga ahli yang mengelola perpustakaan agar perpustakaan berjalan sesuai dengan aturannya.Tidak aktifnya perpustakaan menyebabkan banyak siswa yang bertanya kepada guru-guru, mengapa perpustakaan tidak aktif sedangkan ruangan perpustakaan dan koleksinya ada. Menjawab pertanyaan tersebut, guru-guru hanya bisa menjelaskan kepada siswa bahwa perpustakaan tidak aktif karena tidak ada tenaga ahli atau pustakawan yang mengelola perpustakaan. Karena sejatinya perpustakaan dikelola oleh pustakawan agar perpustakaan terkelola sesuai aturannya.Selama perpustakaan tidak aktif, guru-guru mencari referensi melalui buku pegangan, jurnal-jurnal yang ada di internet, dan kadang juga mencari referensi melalui youtube. Sedangkan siswa hanya mencari referensi melalui buku pegangan saja, jika siswa tidak menemukan jawaban melalui buku pegangannya, siswa akan bertanya kepada guru dan kemudian guru akan menjelaskannya. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Usman, 2010)bahwa guru berperan sebagai pengajar, pengelola kelas, pembimbing, dan fasilitator dalam proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, perpustakaan sekolah memiliki peran informatif, dimana perpustakaan harus berusaha menyediakan koleksi yang relevan dengan kebutuhan guru dan siswa(Sinaga, 2011). Guru juga tidak selalu dapat menemukan referensi melalui internet. Oleh karena itu, penting adanya perpustakaan yang dapat menunjang pembelajaran sesuai kebutuhan guru dan siswa di sekolah.Berdasarkan hasil penelitian tersebut guru-guru memiliki sikap afeksi terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Guru-guru memiliki respon yang baik dalam mengungkapkan dan menjelaskan terkait Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak tahun 2015 karena pustakawannya meninggal dunia. Guru-guru mengungkapkan mulai dari alasan belum adanya pengganti pustakaan, penjelasan guru kepada siswa yang bertanya terkait perpustakaan yang tidak aktif, hingga bagaimana guru dan siswa mencari referensi untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah karena guru dan siswa hanya memiliki buku pegangan saja.c.Komponen KonasiSikap guru terhadap perpustakaan juga dilihat dari sejauh mana guru memiliki motivasi dan kemauan untuk terlibat dalam mengaktifkan kembali Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi yang sudah lama tidak aktif sejak tahun 2015 karena pustakawannya meninggal dunia. Tindakan yang dilakukan meliputi bagaimana keterlibatan guru dalam mengaktifkan kembali perpustakaan yang berfungsi sebagai sumber pembelajaran. Keterlibatan guru dalam mengangkat pustakawan baru yang akan mengelola perpustakaan.Berdasarkan temuan penelitian, guru-guru akan mengikuti rapat yang diadakan kepala sekolah untuk mengaktifkan kembali Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Karena guru juga memiliki tanggung jawab terhadap pengaktifan kembali perpustakaan sekolah. Guru yang akan menggunakan perpustakaan sekolah untuk membantu proses pembelajaran jika perpustakaan telah aktif kembali.Bersamaan dengan pengaktifan kembali perpustakaan sekolah. Guru-guru meminta kepada kepala sekolah untuk mengusulkan pustakawan baru yang akan mengelola perpustakaan ke Dinas Pendidikan. Pada dasarnya setiap ada perpustakaan harus ada pustakawan yang mengelola agar perpustakaan dapat terkelola sesuai dengan aturan.Kemudian, jika perpustakaan sudah aktif kembali dan pustakawan masih menunggu informasi persetujuan dari Dinas Pendidikan, maka guru-guru yang akan mengelola perpustakaan untuk sementara waktu hingga adanya pustakawan baru. Pengelolaan perpustakaan dilakukan dengan mengadakan piket guru yang telah diatur dalam rapat dengan kepala sekolah dan uru lainnya. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh (Librawati, Yudana, & Sunu, 2013)bahwa guru adalah salah satu elemen penting dalam proses pendidikan di sekolah, yang memiliki peran dan tanggung jawab ganda. Sebagai pengajar, guru bertugas menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, sekaligus sebagai pendidik yang membimbing perkembangan karakter mereka. Selain itu, guru juga dapat terlibat dalam pengelolaan perpustakaan sekolah, bahkan berkontribusi dalam pembentukan perpustakaan.Berdasarkan hasil penelitian tersebut guru-guru memiliki sikap konasi terhadap Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Guru-guru melakukan tindakan dan memiliki kemauan dalam mengakifkan kembali perpustakan, serta meminta kepada kepala sekolah untuk dapat mengusulkan pustakawan baru ke Dinas Pendidikan. Setelah aktifnya perpustakaan dan pustakawan masih menunggu konfirmasi Dinas Pendidikan, guru-guru akan mengadakan piket untuk mengelola perpustakaan sementara waktu hingga adanya pustakawan baru.
Conclusion
Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sikap kepala sekolah dan guru terhadap Perpustakaan di SDN 01 Belakang Tangsi sebagai berikut. Pertama,kepala sekolah dan guru memiliki pandangan bahwa perpustakaan dan pustakawan merupakan dua hal yang penting adanya. Perpustakaan memiliki peranan penting dalam menyukseskan aktivitasbelajar mengajar di sekolah dan juga pustakawan memiliki peranan penting dalam mengelola perpustakaan.Kedua,kepala sekolah dan guru memiliki respon yang baik dalam menjelaskan terkait Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi. Alasan pihak sekolah belum mencari pustakawan hingga saat ini karena dana BOS tidak bisa mengcover dalam penggajian pustakawan dan harus adanya persetujuan dari pihak BOS Dinas Pendidikan, terkait perpustakaan yang tidak aktif guru-guru sudah menyampaikan kepada kepala sekolah bahwa banyak siswa yang bertanya dan guru-guru hanya bisa menjelaskan kepada siswa yang bertanya bahwasannya perpustakaan tidak aktif karena tidak adanya pustakawan yang mengelola. Kemudian guru-guru mencari referensi pembelajaran melalui buku oegangan, jurnal-jurnal di internet, dan kadang menggunakan youtube, sedangkan siswa mencari referensi pembelajaran melalui buku pegangan saja.Ketiga,kepala sekolah dan guru memiliki tindakan untuk mengaktifkan kembali Perpustakaan SDN 01 Belakang Tangsi dengan mengadakan rapat pengaktifan kembali perpustakaan sekolah, kemudian kepala sekolah mengusulkan keDinas Pendidikan terkait pustakawan yang mengelola perpustakaan, Guru akan mengelola perpustakaan untuk sementara waktu dengan mengadakan piket guru jika pustakawan masih menunggu konfirmasi dari Dinas Pendidikan.