Tren penelitian penggunaan media sosial oleh perpustakaan untuk meningkatkan keterlibatan pengguna: analisis bibliometrika
Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Abstrak
Perkembangan teknologi dapat mendorong perpustakaan untuk memanfaatkan media sosial sebagai media promosi dan strategi untuk meningkatkan keterlibatan pengguna terhadap layanan dan aktivitas perpustakaan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tren penelitian mengenai penggunaan media sosial perpustakaan dalam rangka meningkatkan keterlibatan pengguna. Menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan bibliometrika, dengan database sebagai sumber data adalah scopus. Kata kuncinya adalah “Social Media” AND “Libraries” AND “User Engagement”. Aplikasi VOSviewer digunakan untuk memvisualisasikan data. Hasil penelitian menujukan bahwa tren penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan banyak terpusat pada topik-topik seperti Library, Study, Social Medium, User Engagement, serta penggunaan platform seperti Instagram dan Facebook. Namun, terdapat beberapa topik yang masih jarang diteliti, dan masih terdapat celah penelitian pada aspek seperti analisis jenis konten, dan tingkat keberhasilan penggunaan media sosial terhadap promosi perpustakaan. Adapun kluster yang terbentuk ada 4, yaitu berhubungan dengan lingkungan akademik; berhubungan dengan produksi, kategori dan penyebaran konten; evaluasi penggunaan media sosial; dan penggunaan media sosial sebagai respon pandemi covid-19, temuan ini memberikan Gambaran awal mengenai arah perkembangan kajian dibidang ini dan mendorong penelitian lanjutan yang mendalam
Abstract
Technological developments can encourage libraries to use social media as a promotional medium and strategy to increase user engagement with library services and activities. The purpose of this study is to describe research trends regarding the use of library social media to increase user engagement. Using quantitative research methods with a bibliometric approach, with Scopus as the source of data. The keywords are "Social Media" AND "Libraries" AND "User Engagement". The VOSviewer application is used to visualize the data. The results of the study show that research trends regarding the use of social media by libraries are mostly centered on topics such as Library, Study, Social Medium, User Engagement, and the use of platforms such as Instagram and Facebook. However, some topics are still rarely researched, and there are still research gaps in aspects such as the analysis of content types and the success rate of the use of social media for library promotion. The clusters formed are 4, namely related to the academic environment; relating to the production, categorization and dissemination of content; evaluation of social media use; and the use of social media as a response to the Covid-19 pandemic, These findings provide an initial overview of the direction of the development of studies in this field and encourage more in-depth follow-up research.
Keywords:
Bibliometrics
· Libraries
· Social Media
· User Engagement
· VOSviewer
Introduction
Pada era kemajuan teknologi yang serba cepat dan terus berkembang, media sosial telah berkembang menjadi bagian internal yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Media sosial tidak hanya sebagai tempat komunikasi atau hiburan, platform seperti Instagram, Facebook, Youtube, dan Tiktok kini digunakan juga sebagai sarana promosi dan edukasi. Perkembangan ini berdampak pada berbagai institusi yang didorong untuk beradaptasi dengan media sosial termasuk perpustakaan untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menjangkau pengguna. Bagi Perpustakaan media sosial dapat membantu menyebarluaskan informasi, mempromosikan koleksi dan layanan, serta dapat digunakan untuk berinteraksi dengan pemustaka (Sari, 2020). Media sosial menjadi alat yang efektif dan efisien untuk membangun hubungan dengan pemustaka. Perpustakaan merupakan sebuah tempat yang berisi koleksi buku yang terorganisir dengan sistem pengolahan tertentu sehingga mudah diakses dan digunakan oleh pembaca (Artana, 2015). Endarti, (2022) menjelaskan bahwa Perpustakaan merupakan lembaga yang berfungsi mengumpulkan, menyajikan, dan menyebarkan informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Senada dengan hal tersebut Afrina dkk., (2023) menyebutkan bahwa perpustakaan adalah suatu institusi yang mengelola koleksi bahan pustaka yang disusun menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi pemustaka. Dengan demikian perpustakaan merupakan institusi atau lembaga yang mengumpulkan, mengelola, serta menyediakan informasi dan pengetahuan dalam berbagai bentuk. Perpustakaan hadir untuk membantu pemustaka memenuhi kebutuhan informasi. Sementara itu, media sosial didefinisikan sebagai aplikasi berbasis internet yang memungkinkan pengguna untuk membuat konten ataupun melihat kontenkonten orang lain (Fatmawati, 2017). Media sosial memiliki banyak keunggulan dibandingkan media konvensional. Media sosial lebih mudah digunakan (user friendly), memudahkan interaksi yang lebih luas, dan memudahkan berbagi informasi secara real time. Media sosial merupakan platform daring yang memungkinkan dilakukannya interaksi antar pengguna, berbagi informasi, dan membuat konten. Media sosial memfasilitasi komunikasi dan koneksi antar individu atau kelompok secara virtual. Media sosial dapat berupa situs web, aplikasi, atau platform lainnya Pemanfaatan media sosial bagi perpustakaan tidak hanya sebagai media promosi atau media penyebaran informasi, tetapi dapat digunakan sebagai layanan perpustakaan secara online. Media sosial memungkinkan pemustaka memperoleh informasi mengenai perpustakaan dengan lebih mudah dan cepat. Selain itu, media sosial memungkinkan komunikasi antar pemustaka dan pustakawan sehingga memaksimalkan layanan perpustakaan, serta membuat layanan perpustakaan menjadi responsif terhadap kebutuhan pengguna (Fajriyati, 2021). Generasi usia produktif saat ini lebih aktif di media sosial, sehingga sebagai pemustaka, mereka menginginkan layanan yang seba cepat dan responsif serta menyukai komunikasi yang bersifat visual dan interaktif. Perubahan perilaku pemustaka tersebut menuntut perpustakaan untuk aktif di media sosial. Media sosial menjadi alat modern yang efektif untuk digunakan oleh perpustakaan dalam merangkul pengguna. Dengan menggunakan media sosial, memungkinkan perpustakaan untuk tetap relevan pada era perkembangan teknologi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh (Santoso dan Widayanti, 2017) serta (Mabruri dan Triyanto, 2022) menekankan bahwa perpustakaan juga perlu melakukan strategi yang sesuai untuk mengelola media sosial agar dapat menarik perhatian pengguna serta dapat menyampaikan informasi dengan baik sehingga dapat diterima oleh pengguna. Strategi ini meliputi pemilihan platform, pengelolaan konten kreatif, serta keterlibatan aktif dalam menghadapi respons dari pengguna. Strategi ini harus dilakukan karena tanpa perencanaan strategi yang tepat, penggunaan media sosial dapat memberikan dampak negatif pada perpustakaan yaitu dapat merusak reputasi perpustakaan sebagai institusi yang kredibel dan edukatif. Maka perencanaan strategi menjadi fondasi yang penting dalam mengoptimalkan media sosial di perpustakaan Media sosial bagi perpustakaan tidak hanya sebagai sarana komunikasi, mempromosikan koleksi dan layanan, ataupun menyampaikan informasi, tetapi media sosial dapat digunakan sebagai sarana evaluasi kebutuhan pemustaka. Interaksi yang terjadi melalui media sosial memberikan informasi yang berharga bagi perpustakaan mengenai minat, masalah yang dihadapi pengguna, dan referensi yang dibutuhkan pengguna (Fatmawati, 2017). Dengan memahami kebutuhan pengguna, dapat dijadikan bahan rujukan perpustakaan dalam merancang program dan layanan yang lebih relevan bagi pengguna. Melalui media sosial perpustakaan dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan pengguna. Konsep User Engagement atau keterlibatan pengguna menjadi penting dalam konteks ini. Menurut O’Brien dalam (Wijayanti, 2022) User Engagement adalah proses dinamis yang mencerminkan cara interaksi dua arah antara pengguna, tampilan antarmuka dan respons lainnya. User Engagement terjadi jika ada sesuatu yang menarik dan dinamis sehingga mendorong interaksi baik berupa kalimat maupun visual. Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa media sosial memiliki peran penting dalam mendukung transformasi layanan perpustakaan agar lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan pemustaka di era digital. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan pemanfaatan media sosial dalam konteks promosi, layanan, hingga interaksi dua arah antara perpustakaan dan pengguna. Namun demikian, belum banyak kajian yang secara khusus memetakan tren penelitian tentang penggunaan media sosial oleh perpustakaan dalam konteks peningkatan keterlibatan pengguna. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan arah dan fokus penelitian dibidang tersebut melalui pendekatan bibliometrika. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai peta perkembangan, tema-tema utama, serta celah penelitian yang masih terbuka terkait pemanfaatan media sosial oleh perpustakaan dalam meningkatkan User Engagement.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan bibliometrika untuk menganalisis dan menginterpretasikan data ilmiah. Menurut Sulistyo Basuki (2003) dalam (Irianti, 2016) Bibliometrika adalah aplikasi metode matematika dan statistika untuk menganalisis pola publikasi dan penggunaan dokumen, terutama dalam konteks komunikasi ilmiah, objek kajian bibliometrik mencakup buku, majalah ilmiah, laporan, disertasi, dan media komunikasi tertulis lainnya. Menurut Pritchard dalam (Kurdi dan Kurdi, 2021) menyebutkan bahwa bibliometrika merupakan teknik analisis kuantitatif yang digunakan untuk mengkaji pola publikasi, penggunaan literatur, serta hubungan sitasi dalam komunikasi ilmiah dan tertulis. Dalam penelitian ini bibliometrika digunakan untuk menganalisis pola dan tren dalam penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan dalam rangka meningkatkan keterlibatan pengguna. Pengumpulan data dilakukan mengikuti prosedur berikut: I. Mengambil data dari scopus Data dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran dengan menggunakan Scopus sebagai basis data, penelusuran pada scopus menggunakan kata kunci “Social Media” AND “Libraries” AND “User Engagement”. Kata kunci tersebut dipilih untuk memastikan bahwa data yang diperoleh dari hasil penelusuran relevan dengan tema penggunaan media sosial oleh perpustakaan dalam rangka meningkatkan keterlibatan pengguna. Data diambil pada tanggal 10 Juni 2025, pukul 11.25 WIB. Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, diperoleh sebanyak 50 dokumen. II. Menyimpan data Data yang dihasilkan dari penelusuran pada Scopus berjumlah 50 data. Seluruh data yang dihasilkan dari penelusuran pada Scopus digunakan dalam penelitian ini tanpa melalui proses penyaringan, hal ini dikarenakan jumlah dokumen yang diperoleh relative sedikit sehingga seluruh data masih dalam cakupan yang relevan. Data tersebut kemudian disimpan dalam bentuk CSV (Coma Separated Values). Ketika menyimpan data dipilih tiga kolom kategori informasi yang dianggap relevan untuk memperoleh informasi mengenai kutipan, dta bibliografis, ringkasan dan kata kunci dari masing-masing data. Tiga kolom ketegori informasi tersebut mencakup citation information, bibliographical citation, dan absarak & keyword. III. Memasukan data ke VOSviewer File CSV yang sudah disiapkan kemudian dimasukan ke dalam database VOSviewer. VOSviewer adalah perangkat lunak yang berfungsi untuk memvisualisasikan dan menganalisis jaringan bibliometrik dalam publikasi ilmiah (Karim, 2022). VOSviewer memungkinkan peneliti memetakan hubungan antar elemen seperti kata kunci, penulis, jurnal, ataupun institusi dalam kumpulan data bibliografi. VOSviewer yang digunakan yaitu versi 1.6.20 IV. Pemetaan data dengan VOSviewer Data yang telah dimasukkan akan dianalisis dan divisualisasikan untuk menampilkan pola dan tren dari data yang telah didapatkan. Peta yang dihasilkan dapat menunjukkan hubungan antar kata, frekuensi kata, dan lainnya yang mencerminkan tren, pola, dan tema dominan dari publikasi ilmiah mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan untuk keterlibatan pengguna. Berdasarkan visualisasi yang dihasilkan oleh VOSviewer, penelitian ini akan melakukan analisis untuk mengungkapkan tren, pola, dan tema dominan yang muncul dalam artikel tentang penggunaan media sosial oleh perpustakaan guna meningkatkan keterlibatan pengguna. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh terkait arah dan fokus utama perkembangan studi media sosial dalam konteks perpustakaan.
Result
Bagian ini menyajikan hasil analisis bibliometrika terhadap publikasi yang membahas mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan dalam meningkatkan keterlibatan pengguna. Gambar 1. Network Visualization Pada gambar 1 menunjukkan visualisasi Network Visualization yang merupakan hasil analisis menggunakan VOSviewer yang memvisualisasikan jaringan antar kata kunci pada publikasi ilmiah mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan untuk keterlibatan pengguna. Pada hasil tersebut dapat dilihat bahwa terdapat beberapa kata kunci seperti “Library”, “Study” dan “Social Medium” merupakan kata kunci dominan yang muncul dengan frekuensi tinggi. Berdasarkan kata kunci dominan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fokus utama penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan berkisar pada studi tentang perilaku pengguna, strategi keterlibatan pengguna media sosial, serta peran perpustakaan dalam memanfaatkan platform digital sebagai bagian dari layanan informasi. Gambar 2. Overlay Visualization Visualisasi gambar 2 menunjukkan visualisasi overlay visualization yang menampilkan kata-kata kunci berdasarkan tahun publikasi yaitu tahun 2019-2021. Pada gambar 1 menunjukkan hasil bahwa pada tahun 2019-2021 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Namun, pada tahun 2020 mulai terlihat adanya “Use”, “Engagement”, “User Engagement”. Kemudian pada tahun 2021 mulai muncul kata “Instagram”, “Platform”, “Tweet”. Ditahun terakhir dengan ditandai berwarna kuning terang. Hal itu menunjukkan bahwa adanya pergeseran fokus penelitian yang melibatkan platform media sosial Gambar 3. Density Visualization Density Visualization dalam VOSviewer menunjukkan tingkat frekuensi kemunculan kata dalam jaringan bibliometrik. Semakin sering suatu kata digunakan, maka tampilan warnanya akan semakin terang. Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa kata Library dan Study merupakan kata yang banyak dibahas dan digunakan dalam berbagai judul, abstrak, maupun kata kunci, ditunjukkan oleh intensitas warna yang paling terang. Dibandingkan kata yang lainnya. Sementara itu, kata kunci “User Engagement” dan “Social Medium” juga terlihat cukup terang, meskipun tidak seterang “Library” dan “Study”. Hal ini mengindikasikan bahwa keduanya masih sering muncul, namun tidak dengan frekuensi setinggi kata “Library” dan “Study”. Kemunculan kata-kata ini menandakan adanya fokus penelitian yang berkembang ke arah keterlibatan pengguna dan penggunaan media sosial dalam konteks perpustakaan. Gambar 4. Density Visualization Tabel 1. Hasil Kluster No. kluster 1 (14item) kluster 2(9item) kluster 3(8item) Kluster 4(item) 1. Academic Library Author Analysis Article 2 Data Content Librarian Covid 3 Engagement Event Research Paper 4 Facebook Originality value Social medium Service 5 Facebook page Post Success Tweet 6 Instagram Public library Twitter University library 7 Level Topic user 8 Library service Type 9 Number User engagement 10 Platform 11 Student 12 Study 13 Time 14. use VOSviewer memberikan visualisasi kluster dengan menyajikan dalam pengelompokan yang dibedakan berdasarkan warna, seperti pada gambar 3. Kata dengan warna yang tampak lebih terang menunjukkan frekuensi kemunculan lebih tinggi. Tidak semua kata yang terdapat pada tabel 1 muncul pada visualisasi kluster, hal ini dikarenakan hanya kata dengan frekuensi kemunculan tinggi yang divisualisasikan. Berdasarkan gambar 3 dan tabel 1 dapat ditarik kesimpulan bahwa kluster 1 ditandai dengan warna merah. Kluster 2 ditandai dengan warna hijau, kluster 3 ditandai dengan warna biru, kemudian kluster 4 ditandai dengan warna kuning. Berdasarkan analisis data dari kluster 1 diperoleh informasi bahwa: 1. Kluster 1: kluster ini mencakup istilah seperti “Academic Library”, “Library Service”, “Student”, dan “Study”, istilah-istilah tersebut merujuk pada lingkungan akademik. Kemudian kata “Facebook”, “Instagram”, dan “Platform” merupakan bagian dari media sosial. Sementara itu, kata “Use”, “Data” dan “Engagement” mengarah pada aktivitas keterlibatan pengguna. Sedangkan kata “Level”, “Number”, dan “Time” sepertinya mengarah pada pengukuran, frekuensi, atau intensitas. Berdasarkan analisis pada kluster 1 menunjukkan keterkaitan antara pengguna, media sosial, dan akademik. 2. Kluster 2: kluster ini mencakup “Author”, “Content”, “Post” dan “Originality Value”, istilah tersebut merujuk pada unsur-unsur pembuatan materi atau konten media sosial. Istilah lainnya seperti “Topic” dan “Type” mengarah pada kategori konten media sosial yang dibagikan. Kemudian istilah “Event”, ini merujuk pada kegiatan-kegiatan perpustakaan yang dibagikan di media sosial, “User Engagement” menunjukkan keterlibatan pengguna dalam media sosial perpustakaan. Kluster ini sepertinya berfokus pada kegiatan produksi serta penyebaran informasi oleh perpustakaan melalui media sosial perpustakaan. 3. Kluster 3: kluster ini mencakup “Analysis”, “Research”, dan “Librarian” yang berarti menunjukkan aktivitas akademik penelitian atau evaluasi yang dilakukan oleh pustakawan. Kata “Social Medium”, “Twitter”, dan “User” merujuk pada platform media sosial. Kata “Success” sepertinya berkaitan dengan hasil pengukuran penggunaan media sosial, seperti tercapainya tujuan layanan atau peningkatan jangkauan. Kluster ini menunjukkan fokus penelitian yang mengevaluasi penggunaan media sosial oleh perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan. 4. Kluster 4: kluster ini mencakup “Article” dan “paper” yang menunjukkan publikasi ilmiah akademik. Kemudian “Service” dan “University Library” mengarah pada institusi perpustakaan dan layanan perpustakaan. Kata “Covid” mengacu pada waktu dan keadaan, kemungkinan “Covid” dan “Service” berhubungan yang berari service disini dimaksudkan adalah respons yang diberikan perpustakaan selama masa pandemi. “Tweet” merupakan platform media sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Berdasarkan analisis visualisasi terlihat bahwa tren penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan banyak terpusat pada topik-topik seperti Library, Study, Social Medium, User Engagement, serta penggunaan platform seperti instegram dan facebook. Namun, terdapat beberapa topik yang masih jarang diteliti, seperti analisis jenis konten, dan tingkat keberhasilan pengguna media sosial terhadap promosi perpustakaan.
Discussion
Analisis tren penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan untuk meningkatkan keterlibatan pengguna yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa topik penelitian berfokus pada studi tentang perilaku pengguna, strategi keterlibatan pengguna media sosial, serta peran perpustakaan dalam memanfaatkan platform digital sebagai bagian dari layanan informasi. Pada tahun 2020-2021 terdapat pergeseran fokus ke platform media sosial secara lebih spesifik seperti Instagram dan Tweet. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Zuniananta, 2021) dengan judul penggunaan media sosial sebagai media komunikasi informasi di perpustakaan, hasil penelitian menujukan bahwa perpustakaan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan layanan dan kegiatan perpustakan untuk dapat menarik minat pengguna agar ikut berpartisipasi memanfaatkan layanan dan kegiatatan yang diselenggarakan oleh perpustakaan. Kemudian penelitian dengan judul Implementasi penggunaan media sosial Instagram dalam perpustakaan perguruan tinggi oleh Adilla et al., (2023) yang menujukan hasil bahwa media sosial Instagram dapat digunakan oleh perpustakaan sebagai media promosi dan menjadi media pelayanan pusat bantuan dan petunjuk bagi pemustaka. Selain itu, temuan dalam kluster menunjukkan fokus pada pembuatan konten, keterlibatan pengguna, dan evaluasi. temuan tersebut terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Kiantini, (2021) yang melakukan penelitian mengenai pemanfaatan media sosial sebagai sarana layanan perpustakan di masa pendemi, hasil penelitian menujukan bahwa media promosi layanan perpustakaan yang efektif dimasa pandemi yaitu media sosial yang mencakup Facebook, Whatsapp, Istragram, dan Telegram. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Mabruri & Triyanto, (2022) yang membahas tentang, kajian pengembangan konten digital perpustakaan untuk media sosial: perspektif perpustakaan nasional di asia dengan hasil menunjukan bahwa konten yang dibuat oleh perpustakaan mencakup tulisan, gambar, video, dan konten event yang merupakan konten paling banyak diproduksi. Namun, terdapat beberapa aspek yang belum banyak diteliti sehingga dapat menjadi celah untuk menjadi topik kajian lebih lanjut seperti aspek jenis konten yang efektif dan tingkat keberhasilan pengguna media sosial oleh perpustakaan. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan data yang hanya bersumber dari publikasi yang tersedia di Scopus dan hanya penelitian yang menggunakan Bahasa inggris. Berdasarkan keterbatasan tersebut, disarankan agar penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan sumber lain seperti publikasi barbahasa lokal yang relevan.
Conclusion
Berdasarkan hasil visualisasi bibliometrika terhadap penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh perpustakaan dalam rangka meningkatkan keterlibatan pengguna yang terindeks dalam database Scopus, Network Visualization menunjukkan bahwa topik-topik saling berkaitan satu sama lain, yang mencerminkan bahwa strategi perpustakaan dalam meningkatkan keterlibatan pengguna melalui platform media sosial seperti Instagram, Facebook, serta Twitter sudah mendapatkan perhatian khusus dalam bidang akademik khususnya perpustakaan. Kemudian Overlay Visualization menunjukkan bahwa terdapat pergeseran tren penelitian yang ditunjukkan dari munculnya kata Tweet dan Platform dan Engagement yang menonjol pada tahun-tahun terbaru. Sementara itu Density Visualization menunjukkan bahwa fokus utama penelitian adalah pemanfaatan media sosial oleh perpustakaan, hal ini terlihat dari munculnya kata Library, Study, User, User Engagement, serta Social Medium yang muncul secara dominan dibandingkan lainnya. Hasil analisis terhadap empat kluster menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh perpustakaan digunakan untuk mendukung layanan, mempromosikan melalui konten media sosial dengan melibatkan pengguna. Meskipun sudah banyak penelitian yang mengkaji peran media sosial untuk perpustakaan, terdapat beberapa topik yang masih dapat dieksplorasi seperti jenis konten yang efektif, dan tingkat keberhasilan pengguna media sosial oleh perpustakaan