REPRESENTASI KEPUSTAKAWANAN DALAM FILM SE7EN (1995)
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Penelitian mengenai representasi fungsi dan nilai dari kepustakawanan dapat dikaji melalui analisis wacana, salah satunya melalui media film. Salah satu film yang memiliki nilai kepustakawanan adalah film Se7en. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi bagaimana peran perpustakaan, peran pustakawan, posisi pemustaka dan nilai informasi yang digunakan dalam permasalahan yang diangkat dalam cerita film. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana pada film. Proses analisis data menggunakan metode semiotik Roland Barthesyang membagitiga hal utama yaitumakna denotatif, konotatif dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi perpustakaandalam film ini meliputi peran perpustakaan sebagai tempat dalam mencari informasi danpenegakkan hukum.Sementara itu pustakawan dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kewenangan dalam perlindungan data pemustakanya. Selain itu,informasi yang bersifat privasi dapat diperjualbelikan meskipun harus melanggar kode etik yang berlaku. Penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui perkembangan perpustakaan dan pustakawan dalam konteks sosial di masyarakat.</p>
Abstract
Research on the representation of the functions and of librarianship can be studied through discourse analysis, one of which is through film values media. One of the films that have librarian values is the film Se7en. The purpose of this study is to identify the role of the library, the role of the librarian, the position of the user, and the value of the information used in the problems raised in the film's story. This study uses a qualitative approach to the method of discourse analysis of the film. The data analysis process uses Roland Barthes’ semiotic method which divides three main things, namely denotative, connotative and mythical meanings. The results showed that the representation of the library in this film includes the role of the library as a place to find information and enforce the law. Meanwhile, the librarian in this film is depicted as a person who does not have the authority to protect the user's data. Furthermore, information of a private nature can be traded even if it violates the applicable code of ethics. This research is useful for knowing the development of libraries and librarians in the social context of society.
Keywords:
Barthes semiotics
· movie
· librarianship
· library
Introduction
Penelitian mengenai representasi fungsi dan nilai dari kepustakawanan dapat dikaji mengkaji melalui representasi analisis wacana. Berbagai media dapat dilakukan untuk pustakawan dan perpustakaan, seperti melalui buku bacaan!, film pendek?, video profil perusahaan?, ataupun media lainnya. Salah satu media yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan film. Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman*, pengertian film merupakan media komunikasi yang diproduksi dengan menggunakan prinsip-prinsip sinematografi dan sebuah karya seni hasil dari kultur sosial. Umumnya prinsip sinematografi berkaitan dengan unsur teknikal dalam perfilman, sedangkan untuk unsur naratif berisikan tentang tokoh dan penokohan, alur serta latar ruang dan waktu. Lebih lanjut, Fadhli mengemukakan bahwa film adalah sebuah bentuk karya imajinatif yang dibuat dengan kesadaran dan tanggung jawab kreatif sebagai sebuah karya seni. Dalam hal ini, film menjadi sebuah media yang mampu menggambarkan objek melalui representasi. Representasi yang ditampilkan dalam film biasanya memiliki keterkaitan dengan realitas yang ada.® Dengan demikian, film dapat dinyatakan mengkonstruksi dan merepresentasikan apa yang terjadi di masyarakat dengan bentuk-bentuk simbolik yang berisikan makna, estetik dan konten di dalamnya hasil dari potret kenyataan yang ada di masyarakat. Film juga merupakan cara mengekspresikan diri serta cara untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu bagi para pembuat film. Film sebagai salah satu media massa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga media yang mampu menyuarakan pesan global, kritik sosial, dan juga pesan kehidupanS. Untuk itu, media ini dapat mewakili keadaan sosial dari masyarakat melalui proses representasi. Hall” menyebutkan bahwa representasi adalah proses di mana anggota suatu budaya menggunakan tanda untuk menghasilkan makna. Film dapat dikategorikan sebagai media massa yang semakin diminati. Film dapat digunakan sebagai media komunikasi ampuh, selain sebagai hiburan film dapat berfungsi untuk mendidik. Pada hakikatnya, suatu film dapat dipastikan memiliki pesan serta maksud tertentu yang dapat dilihat baik dari karakter tokoh, alur cerita, dialog maupun film secara keseluruhan.® Lebih lanjut disebutkan bahwa makna terus-menerus diproduksi dan dipertukarkan dalam setiap interaksi. Saat ini makna diproduksi di berbagai media yang dipengaruhi oleh semakin cepatnya pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, salah satunya film. Selain itu, representasi juga dipengaruhi kesadaran interpretasi individu sebagai perantara sehingga setiap interpretasi dari suatu tanda mengalami perubahan dalam situasi yang berbeda®. Walau demikian film tidak selalu memberikan gambaran realitas sosial yang nyata, namun ada yang menyelipkan fantasi atau fiksi, sehingga film memiliki realitas baru dengan seperangkat ideologi, kode, dan tanda'®. Beberapa penelitian sebelumnya sudah ada yang membahas mengenai analisis wacana pada media film. Seperti yang dilakukan oleh Nusantari & Laksmi !! yang mengkaji representasi perpustakaan yang terdapat pada film Doctor Strange, Penelitian sedangkan ini film bertema pahlawan super ini terbit pada tahun 2016. menggunakan analisis data pendekatan dengan kualitatif menggunakan paradigmatik. dan analisis metode semiotika, sintagmatik dan Hasil kajian menunjukan bahwa perpustakaan dalam film ini digambarkan sebagai tempat kudus dengan berbagai ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Selain itu, perpustakaan juga digambarkan sebagai sumber informasi bagi para penghuni Kamar Taj (seperti perguruan bela diri) untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian. Perpustakaan dalam film tersebut juga digambarkan sebagai tempat perkelahian untuk memperebutkan ilmu pengetahuan antara kejahatan dan kebaikan. Selain itu, Juvitasari > mendeskripsikan representasi pustakawan dan perpustakaan yang ada di episode “Aku Sebuah Buku” pada film serial animasi Upin dan Ipin. Peneliti menggunakan analisis semiotik untuk menganalisis pustawakan dan perpustakaan sebagai objek penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa perpustakaan direpresentasikan sebagai tempat yang ramai dengan berbagai jenis pengunjung yang datang setiap hari, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Selain itu, perpustakaan diberikan gambaran sebagai sebuah tempat dengan warna coklat yang tidak memiliki desain menarik. Hasil lain adalah adanya penggambaran pustakawan sebagai laki-laki berpenampilan nerd/kutu buku dengan emosi yang tidak stabil ketika melihat buku berantakan namun tetap ramah ketika melakukan pelayanan kepada pengguna. Penelitian sejenis lainnya juga telah dilakukan oleh Fauzi & Mayesti'? yang melakukan kajian terhadap serial TV animasi yaitu Avatar: The Last Airbender. Pada perpustakaan. serial Peneliti Avatar tersebut didapati komponen dan fungsi dari menggunakan metode semiotik Roland Barthes guna menganalisis unsur naratif, tokoh, latar dan alur sehingga mendapatkan hubungan sintagmatik dan pradigmatik pada unsur-unsur tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan digambarkan sebagai tempat yang berfungsi untuk penyimpanan koleksi yang memiliki informasi penting. Untuk komponen pustakawan dan pendanaan tidak direpresentasikan dalam serial ini, namun untuk komponen perpustakaan yaitu koleksi, pengguna, sarana dan prasaran muncul dan direpresentasikan dalam serial TV animasi yaitu Avatar: The Last Airbender. Kajian representasi terjemahaan ini merupakan kepustakawanan. langsung dari kelanjutan Secara dari harfiah /librarianship yang studi-studi terkait kepustakawanan mengungkapkan mengenai merupakan berbagai pengertian mulai dari kelembagaan, suatu kondisi sampai dengan profesi'*. Kajian kepustakawanan tersebut kemudian dikaji menggunakan metode analisis yang berbeda, yaitu dengan menggunakan analisis konotasi, denotasi, dan mitos dari Barthes. Kajian ini perlu dilakukan untuk mendeskripsikan penggambaran nilai kepustakawanan dengan analisis kritis wacana. Adapun nilai kepustakawanan tersebut berkaitan erat dengan profesi yang di mana dibutuhkan kode etik dalam menjalankan profesi tersebut. American Library Association'® memberikan kode etik pustakawan sebagai berikut: 1) Memberikan layanan terbaik bagi semua pengguna; 2) menjunjung tinggi prinsip kebebasan intelektual dan menolak semua upaya untuk menyensor sumber daya perpustakaan; 3) melindungi hak setiap pengguna informasi perpustakaan yang dicari atas atau privasi diterima dan dan kerahasiaan sehubungan dengan sumber daya yang dikonsultasikan, dipinjam, diperoleh atau dikirimkan; 4) menghormati hak kekayaan intelektual; 5) melindungi hak dan kesejahteraan semua pustakawan; 6) tidak memajukan kepentingan pribadi dengan mengorbankan pengguna perpustakaan, kolega, atau institusi; 7) membedakan antara keyakinan pribadi dan tugas professional; dan 8) mendorong pengembangan profesional rekan kerja. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai kepustakawanan pada film Se7en. Film ini diproduksi pada tahun 1995 dengan tema thriller yang dibumbui banyak adegan menegangkan. Nilai kepustakawanan pada penelitian ini meliputi bagaimana peran perpustakaan, peran pustakawan, posisi pemustaka dan nilai informasi yang digunakan dalam permasalahan yang diangkat dalam cerita film.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu cara atau metode untuk memahami dan mengeksplorasi makna yang berasal dari individu atau kelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial'®. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan yang merupakan studi yang berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain terkait dengan nilai, budaya, dan norma yang berkembang pada stuasi sosial yang diteliti’’. Penelitian ini tidak akan lepas dari kajian yang bersumber pada jurnal, buku maupun literatur yang didapatkan dari sumber digital sebagai sumber informasi. Proses analisis data pada penelitian ini menggunakan metode semiotik Roland Barthes. Awalnya Barthes mencoba untuk dapat mengurai tentang kejadian keseharian dalam kebudayaan mayarakat yang dianggap “wajar” tetapi sebetulnya itu merupakan mitos belaka akibat konotasi yang ajek di masyarakat. Konotasi sendiri merupakan pengembangan dari petanda (makna atau isu suatu tanda) oleh pemakai tanda sesuai dengan sudut pandangnya'®. Cara yang dilakukan oleh Roland Barthes yaitu dengan menggunakan pengembangan teori tanda dari de Saussure (Penanda dan Petanda). Namun menurut Barthes dalam semiologi terdapat tiga istilah yaitu signifier, signified, dan sign atau penanda, petanda, dan tanda. Ketiganya memiliki implikasi fungsional yang erat serta berperan penting dalam menganalisa mitos sebagai bentuk semiologi. Ketiga hal ini sebenarnya hanyalah formalitas sebab intinya akan berbeda seperti pada de Saussure. Pada teori de Saussure, petanda adalah konsep, sedangkan penanda adalah gambaran akustik dan tanda adalah hubungan konsep dan citra. Sedangkan mitos adalah bukan sebuah konsep, objek, atau gagasan tetapi pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat mitos. Selain itu, mitos juga merupakan cara untuk mengutarakan pesan dan mitos ialah bukan hasil dari bahasa tetapi dari wicara. Makna yang ada dari mitos merupakan ideologi yang diberikan penyamaran ketika dikatakan'®. Gambar I Sistem Semiotika Roland Barthes 1. Language Math 1 Penanda (Signifier) | 3 2. Petanda (Signified) Tanda Denotatif 4. (Denotative Sign) Penanda Konotaiif 5. Petanda Konotatif (Comnoative Sigified) (Comnotative Signifier) 6. Tanda Konotaiif (Comnotative Sign) ‘ Dalam analisis semiotik Barthes ini , tiga hal utama yang digunakan dalam analisisnya adalah makna denotatif, konotatif dan mitos. Sistem pemaknaan tingkat pertama disebut dengan denotatif yang merupakan makna langsung merupakan penjelasan dari hubungan penanda dan petanda pada realitas. Konotasi adalah pengembangan segi petanda (makna atau isi suatu tanda) oleh pemakai tanda sesuai dengan sudut pandang, konotasi yang sudah menguasai masyarakat akan menjadi mitos?°. Objek penelitian penelitian ini adalah Film Se7en yang disutradarai oleh David Fincher pada tahun 1995 dengan durasi 127 menit dan dibuat di bawah rumah produksi New Line Cinema?'. Fokus pada penelitian ini pada bagian pembabakan film yang memiliki adegan terkait dengan perpustakaan dan pustakawan.
Result & Discussion
Film Se7en dirilis di Amerika Serikat pada tahun 1995. Film ini disutradarai oleh David Fincher dan ditulis oleh Andrew Kevin Walker. Film dengan durasi 127 menit masuk dalam kategori umur 21 tahun ke atas untuk kategori penonton atau Rated R karena penuh dengan adegan kekerasan dan mengerikan. Film ini merupakan film pembunuhan berantai yang terobsesi dari tujuh dosa mematikan atau seven deadly sins yang ada pada buku The Divine Comedy bagian kedua yaitu Purgatory karya Dante Alighieri. Buku ini merupakan puisi panjang Dante yang terdiri dari tiga bagian yaitu Inferno, Purgatory dan Paradise yang terdiri dari 100 puisi. Buku ini merupakan alegoris kejatuhan manusia, yang pada akhirnya memahami misteri kesucian kemanusiannya dan jiwanya menjadi selaras dengan cinta Tuhan®2. Film ini dibintangi oleh Kristus dan pemain inti yaitu Morgan Freeman sebagai Detektif Somerset, Brad Pitt sebagai Detektif Mills, Kevin Spacey sebagai pembunuh berantai bernama John Doe, dan Gwyneth Paltrow sebagai Tracy, istri Detektif Mills. Film ini bercerita tentang dua detektif yaitu detektif senior bernama Somerset dan detektif muda yang terlalu percaya diri yaitu Mills dalam memburu pembunuh berantai dengan motif seven deadly sins sebagai modus aksi melakukan pembunuhan seperti yang ada dalam buku The Divine Comedy pada bagian Purgatory?. Tujuh dosa mematikan tersebut yaitu kemalasan, kemurkaan, kesombongan, kerakusan, keserakahan, nafsu dan iri. Untuk memburu pembunuh berantai, Detektif Somerset dan Detektif Mills melakukan penelusuran informasi di perpustakaan. Kondisi perpustakaan di film tersebut merupakan pusat informasi di mana seseorang yang meminjam buku akan terekam data pribadinya di database perpustakaan. Namun secara rahasia, FBI (biro investigasi Amerika Serikat) dapat menyalin daftar informasi tersebut untuk dapat mengawasi gerak-gerik masyarakat demi terjaminnya stabilitas nasional di Amerika. Namun informasi tersebut tidak dapat disebarluaskan dan memiliki hak akses tersendiri untuk itu. Maka kedua detektif ini membayar seseorang untuk dapat mengakses informasi tersebut. Dari informasi yang didapatkan akhirnya dapat dengan ditemukan pembunuh yang menggunakan motif tujuh dosa mematikan pengguna yang meminjam koleksi terkait dengan tujuh dosa besar tersebut. Dapat dilihat dengan sefting kota yang penuh dengan kekerasan dan warna gelap, ditambah dengan cuaca hujan memberikan penanda bahwa film ini memiliki kisah kelam yang dirasakan oleh penonton. Pada akhir film, si pembunuh mencoba untuk mengkhotbahkan pesan moralitas agamanya melalui pembunuhannya. Bahkan ketika sengaja ditangkap, si pembunuh memiliki satu metode akhir untuk melengkapi motif pembunuhan berantainya yaitu untuk mendorong Detektif Mills melintasi batasan antara keadilan secara konstitusi dan pembalasan yang penuh dosa. Akhir dari film Se7en menunjukan bahwa dunia mungkin tidak pantas menerima kerja keras seseorang, namun tanpa orang-orang, umat manusia dan kehidupan akan berada pada keputusasaan. Sehingga untuk menjadi manusia, kita tidak dapat menyerah pada kejahatan, tidak peduli seberapa besar kejahatan itu menggoda iman. Namun hal tersebut akan mudah terucap daripada dilakukan, apalagi bila melihat apa yang ada pada isi dalam kotak ketika akhir film tersebut. Analisis semiotik Barthes pada reka adegan terkait kepustakawanan pada film ini dapat dibagi menjadi lima adegan (scene). Penjabaran analisis tersebut sebagai berikut. Scene 1 Gambar II Adegan ketika Detektif Mills dan Detektif Sommerset berdiskusi tentang ciri-ciri pelaku yang memiliki kartu perpustakaan Denotasi: Serting lokasi di kantor dengan adanya perbincangan antara Detektif Mills dan Detektif Sommerset mengenai kasus yang ditangani. Detektif Mills menyebut bahwa seseorang yang memiliki kartu perpustakaan bukan berarti orang yang bijaksana, merujuk pada sosok fiksi film Star Wars yaitu “Yoda”. Menurut databank Star Wars>*, Yoda merupakan seorang guru besar yang mengajarkan pengetahuan filosofi, yang luas memiliki layaknya sifat kebijaksanaan perpustakan. abadi, Mendengar serta itu, memiliki Sommerset mendapat ide bahwa mereka harus mencari informasi di perpustakaan dikarenakan kasus-kasusnya mungkin berkaitan dengan buku tertentu. Konotasi: masyarakat perpustakaan di dan Konotasi Amerika yang Serikat, memiliki kartu terbangun orang-orang adalah yang perpustakaan bahwa sudah memiliki bijaksana. Konteks bijaksana di sini meliputi bahwa dalam menjadi label konteks anggota orang orang-orang yang yang mengunjungi perpustakaan adalah orang-orang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas. informasi, Selain ia dapat itu, ketika menjadikan seseorang dihadapkan perpustakaan sebagai pada suatu sumber kebutuhan yang dapat digunakan. Namun demikian hal ini menjadi ironi tersendiri karena baik polisi atau penjahat juga bisa memiliki stereofype orang bijak ini ketika mengakses perpustakaan. Mitos: Adanya labeling pengguna perpustakaan pada kartu dan istilah “Yoda” mengartikan bahwa perpustakaan umum dapat dimanfaatkan oleh siapapun dengan beragam latar belakang. Berdasarkan adegan tersebut juga dapat ditelaah bawah baik penegak hukum maupun seorang penjahat dapat memiliki label atau stereotype seseorang yang bijak ketika bisa mengakses perpustakaan. Pengguna perpustakaan umum meliputi para siswa, guru, peneliti, ilmuwan, eksekutif bisnis, pejabat pemerintah, dan bahkan mereka yang putus sekolah?®. Selain itu, perpustakaan umum juga harus menjangkau dan mendukung mereka yang melek huruf, buta huruf, anak-anak, remaja, dewasa, orang cacat, minoritas, orang yang dirawat di rumah sakit dan/atau di penjara®®. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa informasi berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat. Scene 2 Gambar III Adegan pencarian informasi di perpustakaan Gambar IV Daftar buku-buku terkait dengan motif pembunuhan yang dicetak oleh Detektif Sommerset Denotasi: Serting lokasi berada di perpustakaan yang menunjukkan Detektif Mills sedang makan dan Detektif Sommerset sedang mem-fotokopi daftar pinjam koleksi yang ada di perpustakaan ketika perpustakaan tutup. Tampak sosok pustakawan yang sedang duduk menggunakan komputer di belakang Detektif Mills. Konotasi: Pengembangan makna konotasi menunjukkan bahwa kegiatan pencarian informasi di perpustakaan tidak melibatkan peran pustakawan. Pada adegan informasi tersebut yang juga diperlihatkan digunakan oleh pustakawan pengguna. Hal yang ini membantu menyalin memperlihatkan bahwa pustakawan bisa menjadi seorang akademisi dan praktisi. Tugas-tugas pokok seorang pustakawan secara akademisi mempunyai peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan keilmuan, namun seorang pustakawan tidak hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan praktis yang bersifat teknis dalam melakukan pelayanan perpustakaan®’. Mitos: Makna yang dapat dibangun adalah pentingnya peranan pustakawan dalam hal pelayanan pemenuhan kebutuhan informasi pengguna. Karena pustakawan tidak hanya melihat kebutuhan saat ini saja dikalangan akademisi, tetapi seluruh lapisan masyarakat?s. Hal ini erat kaitanya dengan peran perpustakaan sebagai institusi dalam transformasi sosial masyarakat. Nurhayati menambahkan bahwa perpustakaan merupakan infrastruktur sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dan kekuatan yang mendukung dalam menyatukan budaya masyarakat, karena lingkungan perpustakaan membawa dampak perubahan di masyarakat. Scene 3 Gambar V Adegan Detektif Mills dan Detektif Sommerset melakukan praktik “jual-beli informasi” Denotasi: Setting lokasi di café dengan adanya perbincangan Detektif Mills dan Detektif Sommerset terkait rencana selanjutnya yang harus dilakukan. Kedua detektif ini menyerahkan salinan daftar koleksi perpustakaan kepada seseorang. Kemudian orang tersebut menerima daftar tersebut dan juga amplop yang berisi uang. Konotasi: Terjadinya jual beli informasi yang dilakukan oleh pihak penegak hukum. Dari sini terihat jelas terjadinya pelanggaran etik dalam kepustakawanan, di mana pada kode etik ALA dikatakan akan melindungi hak setiap pengguna perpustakaan atas privasi dan kerahasiaan sehubungan dengan informasi yang dicari atau diterima dipinjam, diperoleh atau dikirimkan?®. Mitos: Informasi yang dan dimiliki sumber daya yang dikonsultasikan, tiap lembaga ternyata tidak semua memiliki hak akses. Dengan demikian terdapat hirarki atas informasi yang dimiliki. Namun bisa dilihat bahwa informasi yang tidak bisa diakses dapat didapatkan ketika memiliki “orang dalam”. Buschman?® menyebutkan bahwa hak informasi sebagai hak asasi manusia, yaitu pernyataan pragmatis dari tatanan dan pengaturan sosial yang lebih baik untuk dan di antara individu melalui lembaga negara seperti sekolah, universitas, dan perpustakaan. Lembaga-lembaga ini harus menjamin adanya ketersediaan informasi dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Selain itu hal tersebut tidak bisa dibenarkan menurut Pasal VI Kode Etik ALA. Pegawai perpustakaan tidak dapat “memajukan kepentingan pribadi dengan mengorbankan pengguna perpustakaan, kolega, atau institusi tempat kita bekerja”. Oleh karena itu, pengungkapan dan penyelesaian konflik kepentingan yang muncul tidak hanya menjunjung tinggi standar etika yang penting, tetapi juga menjaga integritas penggunanya’!. Scene 4 karyawan, institusi, dan kepentingan terbaik komunitas Gambar VI Adegan Detektif Mills dan Detektif Sommerset berbincang mengenai status legal “jual-beli informasi” dan akses terhadap informasi pribadi' Denotasi: Seiting lokasi di barber shop saat adanya perbincangan Detektif Mills dan Detektif Sommerset. Tokoh Detektif Sommerset menjelaskan bahwa orang tersebut adalah temannya dari FBI yang dimintai tolong untuk mencarikan informasi mengenai siapa saja yang memanfaatkan koleksi perpustakaan dalam daftar tersebut (mengawasi kebiasaan membaca). Hal ini dikarenakan sistem di FBI sudah memiliki koneksi langsung ke sistem perpustakaan, di mana sistem keanggotaan membutuhkan kartu identitas atau tagihan telepon agar terdaftar sebagal anggota perpustakaan. Namun Detektif Mills merasa kontra dengan tindakan tersebut, sedangkan Detektif Sommerset mengatakan bahwa “legal atau ilegal itu tidak penting dalam pengusutan kasus”. Lalu rekan Detektif Sommerset datang dan memberikan amplop berisi daftar orang-orang yang memanfaatkan koleksi perpustakaan. FBI sendiri merupakan biro investigasi yang melakukan pemantauan terkait keamanan dan stabilitas negara’2. Konotasi: Konotasi dibangun dengan adanya makna bahwa data dan informasi pengguna adalah hal yang penting yang dimiliki perpustakaan dan tidak dapat diperjual belikan (sesuai dengan kode etik yang berlaku di lokasi tersebut). Selain itu, adanya kegiatan ilegal walau dilakukan oleh pihak berwajib yaitu mendapatkan informasi pengguna dengan cara mem-fotokopi daftar peminjaman koleksi perpustakaan. Mitos: menjamin Perpustakaan kebebasan sebagai informasi bagi salah satu lembaga penggunanya. demokrasi Namun di sisi harus lain, perpustakaan juga harus melindungi data dan informasi pribadi dari penggunanya, termasuk salah satunya informasi mengenai siapa saja yang meminjam buku. Dalam konteks tersebut, kode etik ALA3* menyebutkan bahwa perpustakaan harus dapat menjamin informasi penggunanya, seperti yang tertuang dalam poin 3) Kami melindungi hak setiap pengguna perpustakaan atas privasi dan kerahasiaan sehubungan dengan informasi yang dicari atau diterima dan sumber daya yang dikonsultasikan, dipinjam, diperoleh atau dikirimkan; dan poin 6) Kami tidak memajukan kepentingan pribadi dengan mengorbankan pengguna perpustakaan, kolega, atau institusi tempat kami bekerja. Scene 5 Gambar VII Adegan Detektif Mills dan Detektif Sommerset membacakan daftar buku yang dipinjam oleh pelaku pembunuhan Denotasi: Lokasi di mobil ketika Detektif Mills dan Detektif Sommerset membuka amplop dan membaca daftar peminjaman koleksi perpustakaan, lalu menyebutkan buku-buku yang identik dengan kasus yang sedang ditangani. Hingga pada akhirnya mereka menemukan satu nama yang meminjam dan membaca buku mengenai tujuh dosa besar manusia. Konotasi: Informasi yang ada dalam daftar tersebut merupakan daftar peminjam dengan data pribadi sehingga memudahkan pencarian informasi terkait dengan lokasi dan keberadaan orang yang dicurigai. Melalui adegan tersebut dapat dilihat bahwa adanya pelanggaran etik kepustakawanan. Mitos: Jenis buku yang dipinjam merupakan informasi unik terkait dengan karakteristik dari seseorang. Di Amerika Serikat, perpustakaan seharusnya melindungi data pengguna. Saat itu privasi yang ada di perpustakaan dibiarkan rentan oleh teknologi dan praktik yang membuat pembacaan digital lebih terbuka. Untuk itu, perpustakaan penting untuk berkolaborasi dengan institusi lain untuk mendukung perlindungan privasi pemustaka®*. Dengan konsep ideologi liberal dan 3 kebebasan individu yang tertanam dalam perpustakaan seharusnya perpustakaan dapat melindungi data pemustaka. Namun dalam adegan tersebut dapat dilihat bawah terdapat ideologi tersembunyi yaitu adanya pengawasan yang ketat kepada setiap individu di negara tersebut, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan informasi.
Conclusion
Konflik dan teka-teki serta pemecahan masalah menjadi poin utama dalam alur cerita dalam film Se7en. Namun bila melihat secara mendalam, bagian terkait dengan kepustakawanan merupakan kunci serta jembatan dari dari tiap-tiap bagian film. Dalam seseorang film memiliki ini, pemustaka kartu digambarkan perpustakaan. bukanlah Meskipun ia segalanya merupakan perpustakaan, ia tidak berarti orang yang bijaksana dalam ketika anggota memanfaatkan perpustakaan. Konteksnya adalah bahwa sosok pemustaka tidak hanya orangorang yang diberi label sebagai orang-orang yang pintar, melainkan orang-orang yang memiliki beragam latar belakang dan identitas. Selain itu, representasi perpustakaan digambarkan memiliki dua arti. Di satu sisi, perpustakaan digambarkan sebagai tempat mencari informasi yang dapat digunakan untuk menyusun strategi dalam pemberantasan kejahatan. Namun di sisi lain, perpustakaan juga menjadi tempat seseorang untuk mendapatkan dan menyusun rencana kejahatan. Namun dibalik kedua peran tersebut adalah di dalam film ini masyarakat Amerika memaknai bahwa perpustakaan adalah tempat dalam menemukan informasi yang dibutuhkan, terlepas dari apa tujuan dari untuk apa informasi tersebut digunakan. Gambaran perpustakaan adalah sebagai pusat informasi yang dijadikan elemen utama terkait dengan kepustakawanan. Selain itu, film ini juga merepresentasikan posisi dari pustakawan bukan menjadi sebuah entitas kunci. Peran pustakawan seharusnya dapat melindungi dan sebagai “pencegah” pustakawan, termasuk terkait data dengan mengenai penggunaan pemustaka. data yang Seharusnya dikelola oleh pustakawan memiliki bagian cerita dimana bisa memberikan konflik tambahan mengenai data perpustakaan yang diminta oleh detektif. Namun terlihat bahwa data pemustaka dapat dengan mudah digunakan oleh detektif, meskipun untuk penegakan hukum. Pada bagian ini pula terlihat bahwa data tentang pemanfaatan perpustakaan direpresentasikan tidak memiliki pelrindungan yang ketat dari perpustakaan. Hal ini pula yang menjadi perhatian bahwa etika dan profesionalitas dari pustakawan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.