Kembali
16
1
2022 Warta Perpustakaan Pusat UNDIP Vol 15 · 1 ISSN 0126-4559

IMPLEMENTASI KONSEP GLAM DI PERPUSTAKAN PROKLAMATOR BUNG KARNO

Perpustakaan Proklamator Bung Karno; Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan dan mendeskripsikan pengimplementasian konsep GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data adalah observasi langsung, kajian pustaka, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep GLAM telah diterapkan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Masing-masing unsur GLAM yaitu gallery, library, archieve, dan museum telah dijalankan. Penerapan konsep GLAM tersebut selain sebagai sarana transfer informasi pada pemustaka, juga menarik pemustaka baik pemustaka domestik maupun pemustaka dari luar negeri. Meskipun secara kelembagaan Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah sebuah perpustakaan, namun konsep GLAM dapat dijalankan dengan baik.

Abstract

This study aims to describe the implementation of the GLAM concept in the Proklamator Bung Karno Library. The method used is descriptive qualitative. Data collection methods are direct observation, literatur reviews, and interviews. The results showed that the concept of GLAM has been applied in the Proklamator Bung Karno Library. Each element of GLAM, namely gallery, library, archive, and museum, has been implemented. The application of the GLAM concept, apart from being a means of transferring information to users, also attracts users both domestic and foreign users. Even though the Proklamator Bung Karno Library is a library institutionally, the GLAM concept can be implemented well.
Keywords: GLAM · Koleksi Memorabilia · Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Introduction

Di era teknologi informasi seperti sekarang, kebutuhan masyarakat akan informasi kian hari semakin meningkat. Guna mengakomodasi kebutuhan tersebut, masyarakat memerlukan sarana informasi yang beragam. Dalam dunia informasi saat ini telah dikenal konsep GLAM, yakni penyatuan fungsi Gallery (Galeri), Library (Perpustakaan), Archive (Arsip), dan Museum pada satu lembaga dalam rangka menyediakan informasi bagi pengguna. Dwi Fitrina C. dan Lasenta Adriyana (2017) menyatakan bahwa, sebaiknya ada pertimbangan untuk menyatukan Gallery, Library, Archive, and Museum (GLAM) menjadi satu institusi yang sama sebagai sarana one stop place to get information bagi pengguna. Secara kelembagaan, Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum di Indonesia dikoordinasikan oleh instansi yang berbeda-beda. Keempat lembaga tersebut masih berdiri sendiri-sendiri. Pada pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Galeri Nasional Indonesia, disebutkan bahwa Galeri Nasional Indonesia adalah Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bidang galeri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan. Sedangkan semua perpustakan di Indonesia dibawah koordinasi dan pembinaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) sesuai dengan pasal 9 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Penyelenggara kearsipan di Indonesia adalah Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI), Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten, dan Perguruan Tinggi. Museum di Indonesia merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya di Bidang Permuseuman dan bertangggungjawab serta di bawah Direktur Jenderal Kebudayaan. Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Perpusnas Republik Indonesia selain menyediakan koleksi bahan pustaka tentang Bung Karno juga melayankan koleksi benda-benda yang berhubungan dengan Presiden I Republik Indonesia. Hal ini menarik untuk diteliti apakah Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah menerapkan konsep GLAM dalam pengelolaannya. Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan dan mendeskripsikan pengimplementasian konsep GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Tempat penelitian dipilih di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Kota Blitar yang merupakan tempat penulis bertugas.

Method

Penulis bertujuan memaparkan, menjelaskan dan menganalisis pengimplementasian konsep GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. I Made Winartha (2006:155) menyebutkan bahwa metode deskriptif kualitatif adalah menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan, yang berupa hasil wawancara atau pengamatan tentang masalah yang diteliti yang terjadi di lapangan. Anselm Strauss dan Juliet Corbin (2007:11) menyatakan bahwa penelitian kualitatif dapat menunjukkan pada penelitian tentang kehidupan masyarakat/sejarah/tingkah laku, juga tentang fungsionalisasi organisasi, pergerakan-pergerakan sosial, atau hubungan kekerabatan. Data penelitian ini diambil dari laporan kegiatan, data statistik, wawancara, dan observasi secara langsung.

Result & Discussion

Implementasi GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Galeri dan Museum Fungsi galeri dan museum di Perpustakaan Proklamator Bung Karnoada di Layanan Koleksi Memorabilia. a. Gallery (Galeri) Di layanan Koleksi Memorabilia dipamerkan lukisan-lukisan dan foto-foto dengan tema Bung Karno yang dikelompokkan menjadi beberapa subtema seperti masa kecil Bung Karno, Bung Karno dan keluarga, masa-masa pergerakan, masa proklamasi kemerdekaan, Bung Karno dan diplomasi, dan lain-lain. Saat ini terdapat 40 lukisan dan 504 foto yang dilayankan di Koleksi Memorabilia. Selain melayankan koleksi lukisan dan foto dengan tema Bung Karno, Perpustakaan Bung Karno juga mendukung seniman dan instansi lain yang ingin menampilkan hasil karyanya dan koleksinya dengan mengadakan kerjasama pameran di area Perpustakaan Bung Karno, baik bertempat di Layanan Koleksi Memorabilia atau di selasar perpustakaan. Komunitas seniman dan instansi yang pernah mengadakan pameran di Perpustakaan Proklamator Bung Karno diantaranya adalah : 1. Pameran Lukis Cat Air dalam rangka Haul Bung Karno dengan tema “Jejak Putra Sang Fajar”. Tigapuluh lukisan hasil karya seniman yang tergabung dalamKOLCAI (Komunitas Lukis Cat Air) dipamerkan di Koleksi Memorabilia pada tanggal 18-23 Juni 2021. Kerjasama antara KOLCAI dan Perpustakaan Bung Karno ini menampilkan karya-karya seniman yang berasal dari Blitar, Semarang, Bali, Jabodetabek, Surabaya, dan Yogyakarta. Dalam pameran tersebut dipamerkan lukisan-lukisan Bung Karno sejak kecil hingga beliau wafat. 2. Pameran Majapahit oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur pada tanggal 20-24 November 2021. Berbagai arca dan artefak dari masa Majapahit yang dipamerkan di selasar perpustakaan menarik perhatian pengunjung perpustakaan. Pemaparan di atas tentang galeri di Perpustakaan Proklamator Bung Karno meluruskan hasil penelitian terdahulu oleh Kurniasih Yuni Pratiwi, Suprihatin, Bambang Setiawan yang berjudul Analisis Penerapan Konsep GLAM (Gallery, Library, Archives, Museum) di Perpustakaan Bung Karno Blitar, yang salah satu hasil penelitiannya menyebutkan bahwa Gallery di Perpustakaan Proklamator Bung Karno : Memiliki barang-barang bersejarah, lukisan, koper, baju Bung Karno, dan foto yang dipamerkan di dalam galeri istimewa dan di tempat lain tidak ada. Galeri yang dimaksud penulis tersebut mengacu pada ruang Layanan Koleksi Memorabilia. Di tempat lain maksudnya selain di Layanan Memorabilia tidak ada fungsi galeri, namun sebenarnya ada. Seperti yang disebutkan di atas bahwa fungsi galeri di Perpustakaan Bung Karno selain di ruang Layanan Memorabilia juga di selasar perpustakaan. Fungsi Galeri di Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah melayankan koleksi foto-foto dan lukisan- lukisan dengan tema Bung Karno, yaitu di Koleksi Memorabilia dan di selasar perpustakaan. Di dalam ruang Koleksi Memorabilia dan di luar ruang Koleksi Memorabilia, yaitu di selasar perpustakaan, juga menjadi tempat pameran para seniman yang bekerjasama dengan pihak perpustakaan. b. Museum (Museum) Fungsi museum di Perpustakaan Proklamator Bung Karno ada Layanan Koleksi Memorabilia yang melayankan benda-benda peninggalan Bung Karno dan benda-benda tentang Bung Karno sebagai berikut : Dengan memanfatkan koleksi tersebut, pustakawan yang bertugas selain dapat memandu pemustaka yang datang juga dapat melakukan story-telling pada pemustaka kelompok pelajar. Misalnya dengan menunjukkan koper yang dibawa Bung Karno ketika dimasukkan ke penjara, pustakawan dapat bercerita (saat story-telling ) tentang kisah Bung Karno saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang mengakibatkan beliau berkali-kali dimasukkan ke penjara oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Adanya fungsi museum di Layanan Koleksi Memorabilia sering kali membuat pengunjung mengira Koleksi Memorabilia adalah museum tersendiri, bukan bagian dari Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Library (Perpustakaan) Terdapat dua kelompok besar pelayanan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno, yaitu pelayanan teknis dan pelayanan pemustaka yang didukung oleh Sub Bagian Tata Usaha. Dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 11 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa pelayanan teknis adalah kegiatan yang terkait dengan pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, penyimpanan, dan perawatan koleksi perpustakaan (hal. 23). Sedangkan pelayanan pemustaka adalah kegiatan yang berkaitan dengan jasa informasi perpustakaan yang dapat dimanfaatkan pemustaka (hal. 37). Pelayanan Teknis di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Substansi Pengembangan dan Pelestarian Bahan Pustaka adalah unit kerja yang bertanggungjawab dan menjalankan pelayanan teknis di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Di substansi ini terdapat tiga subkelompok substansi, yaitu : 1. Pengembangan dan Pelestarian Bahan Pustaka 2. Pelestarian Bahan Pustaka 3. Analisis Koleksi Literatur Bung Karno Pelayanan Pemustaka di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Substansi Pelayanan Informasi dan Kerjasama adalah unit kerja di Perpustakaan Bung Karno yang menjalankan tugas pelayanan pemustaka. Di substansi ini terdapat tiga subkelompok substansi dengan kelompok kerja masing-masing sebagai berikut : 1. Pelayanan Informasi dan Kerjasama : a. Layanan Koleksi Khusus Bung Karno b. Layanan Koleksi Memorabilia c. Layanan Koleksi Umum d. Layanan Koleksi Anak e. Layanan Koleksi Referensi f. Layanan Informasi dan Pengaduan 2. Kerjasama dan Promosi Perpustakaan : a. Layanan Keanggotaan b. Layanan Perpustakaan Keliling c. Layanan Bulkloan d. Kerjasama Perpustakaan 3. Pengembangan Sistem Informasi Layanan Perpustakaan Jumlah Koleksi dan Anggota Perpustakaan Proklamator Bung Karno Saat ini jumlah anggota perpustakaan adalah 25.797 orang yang berasal dari Kota dan Kabupaten Blitar. Jumlah koleksi yang tersedia adalah sebagai berikut : Perpustakaan Proklamator Bung Karno saat ini masih membangun aplikasi koleksi digital, bila ada pemustaka yang membutuhkan koleksi digital disarankan untuk mengakses i-Pusnas. Pemustaka Perpustakaan Proklamator Bung Karno Pemustaka di Perpustakaan Proklamator Bung Karno berasal dari berbagai kota di Indonesia dan dari luar negeri yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu : domestik, pelajar, dan luar negeri. Jumlah pemustakayang memanfaatkan layanan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebelum masa pandemi lebih banyak dibandingkan dengan pada masa pandemi. Pada tahun 2019 total terdapat 1.578.893 pemustaka, dengan rata-rata perhari adalah 4.386 pemustaka. Pada tahun 2020 dan 2021 saat pandemi Covid-19, terjadi penurunan jumlah pemustaka yaitu 587.540 orang dengan rata-rata per hari 1.632 orang ditahun 2020 dan di tahun 2021 jumlah kunjungan mulai meningkat yaitu rata-rata per hari 2.277 orang dan total 819.623 orang dalam setahun. Tabel berikut ini menyajikan data pemustaka yang memanfaatkan koleksi dan layanan di Perpustakaan Bung Karno secara keseluruhan, baik koleksi buku, koleksi Memorabilia, dan layanan lainnya : Pemustaka di Perpustakaan Proklamator Bung Karno selain memanfaatkan koleksi buku juga ada yang memanfaatkan Koleksi Memorabilia. Mayoritas pemustaka yang berasal dari luar negeri yang datang ke Perpustakaan Proklamator Bung Karno berkunjung ke Koleksi Memorabilia. Adanya pemustaka dari luar negeri yang setiap tahun berkunjung ke Perpustakaan Proklamator Bung Karno menjawab hasil penelitian terdahulu oleh Kurniasih Yuni Pratiwi, Suprihatin, Bambang Setiawan yang berjudul Analisis Penerapan Konsep GLAM (Gallery, Library, Archives, Museum) di Perpustakaan Bung Karno Blitar yang menya takan “Penerapan konsep GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara”. Archive (Arsip) Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomer 197 Tahun 2019 tentang Pembentukan Tim Pengelola Arsip pada Sentral Arsip Aktif (Central File) di Lingkungan Perpustakaan Nasional RI maka di Perpustakaan Proklamator Bung Karno ditugaskan arsiparis yang mengelola arsip internal Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Jenis arsip yang diolah oleh arsiparis Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah arsip dinamis, yang terdiri dari arsip aktif dan arsip inaktif. Arsip aktif yang dikelola antara lain adalah surat keluar dan surat masuk. Sedangkan arsip inaktif yang dikelola antara lain surat retensi yang berusia 1-2 tahun dan DIPA 5 tahun terakhir. Kegiatan arsiparis diantaranya adalah menginventarisasi dokumen-dokumen berdasarkan tahun. Dokumen yang diolah diantaranya adalah : 1. Dokumen kepegawaian 2. Dokumen teknis 3. Dokumen keuangan 4. Laporan kegiatan Sarana pendukung dan perlengkapan Central File (Unit Kearsipan) di Perpustakaan Proklamator Bung Karno diantaranya adalah : 1. Ruang Kerja 2. Filing kabinet 3. Komputer 4. Boks arsip 5. Map folder dan map gantung 6. Daftar berkas 7. Daftar isi berkas 8. Jadwal Retensi Arsip (JRA) Meskipun baru berjalan dua tahun, namun pengelolaan arsip mendapat perhatian serius. Para arsiparis di Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah mengikuti Bimbingan Teknis Kearsipan untuk memperdalam ilmu dan menambah wawasan kearsipan. Layanan kearsipan untuk internal Perpustakaan Bung Karno juga sudah dilaksanakan. Demi kelancaran pelaksanaan kegiatan kearsipan, maka koordinator arsiparis menyusun Standar Operasional Prosedur. SOP yang telah disusun antara lain adalah : 1. SOP Pemberkasan Arsip Aktif 2. SOP Layanan Peminjaman Arsip 3. SOP Penyusutan Arsip 4. SOP Pemeliharaan Arsip Namun demikian, dalam pengelolaan arsip internal Perpustakaan Proklamator Bung Karno ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dan ditindaklanjuti. Pertama, masih banyak terjadi salah penomoran surat yang tidak sesuai dengan kaidah klasifikasi TND (Tata Naskah Dinas). Kesalahan penomoran ini terjadi karena masing- masing substansi dan sub bagian (Substansi Pelayanan, Substansi Pengolahan, dan Sub Bagian Tata Usaha) menomori sendiri surat-surat yang dibuat. Hal ini menyulitkan temu kembali arsip. Untuk mengantisipasi kesalahan penomoran bisa diantisipasi dengan kontrol awal. Kedua, belum adanya pemahaman dan kesadaran dari Substansi dan Sub Bagian unutk menyerahkan dokumen-dokumennya pada Unit Kearsipan. Ketiga, kurangnya SDM Arsiparis Terampil. Dari pemaparan tentang Unit Kearsipan di atas, diketahui bahwa di Perpustakaan Proklamator Bung Karno khususnya Unit Kearsipan mengelola arsip dinamis internal lembaga, yaitu arsip aktif dan arsip inaktif bukan mengelola karya Soekarno, buku-buku yang dibaca Soekarno, karya orang lain tentang Soekarno, dan karya para pejuang bangsa, sebagaimana yang disebutkan oleh Kurniasih Yuni Pratiwi, Suprihatin, Bambang Setiawan dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Penerapan Konsep GLAM (Gallery, Library, Archives, Museum) di Perpustakaan Bung Karno Blitar. Berdasarkan pemaparan di atas juga diketahui bahwa konsep GLAM telah diterapkan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Hal ini sebagai tanggapan atas hasil penelitian dari Dwi Fitrina C. dan Lasenta Adriyana pada tahun 2017 yang berjudul Gallery, Library, Archive, and Museum (GLAM) sebagai Upaya Transfer Informasi, yang kesimpulan dan sarannya antara lain sebagai berikut : 1. GLAM belum dapat bersatu di Indonesia karena perbedaan institusi yang menaungi serta kebijakannya. 2. GLAM adalah salah satu tempat yang menyediakan, mengelola, dan mentransfer informasi kepada user. 3. Sebaiknya ada pertimbangan untuk menyatukan Galery, Library, Archive, and Museum (GLAM) menjadi satu institusi yang sama sebagai sarana one stop place to get information bagi pengguna.

Conclusion

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Konsep GLAM telah dimplementasikan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Masing-masing unsur baik Gallery, Library, Archive, dan Museum telah dilaksanakan. Penerapan konsep GLAM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah sebagai berikut : a. Gallery – Museum (Galeri dan Museum) Fungsi galeri dan museum hadir di Layanan Koleksi Memorabilia, yang melayankan benda-benda peninggalan Bung Karno baik asli maupun replika, patung, foto-foto serta lukisan-lukisan dengan tema Bung Karno. Selain di Layanan Koleksi Memorabilia, fungsi galeri juga ada di selasar perpustakaan yang sering menjadi ajang pameran karya para seniman yang berkolaborasi dengan Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Pemustaka di Layanan Koleksi Memorabilia tidak hanya pemustaka domestik, namun juga pemustaka dari luar negeri baik yang datang secara perorangan maupun kelompok. b. Library (Perpustakaan) Fungsi perpustakaan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah berjalan dengan baik. Jenis koleksi yang dilayankan beragam, mulai dari Koleksi Khusus Bung Karno (tentang Bung Karno dan pahlawan bangsa), Koleksi Umum, dan Koleksi Anak yang melayani pemustaka di Blitar Raya dan luar kota. c. Archive (Arsip) Unit Kearsipan ( Central File ) yang dimulai pada 2019, sudah mulai berkembang. Adanya unit kerja yang dilengkapi dengan para arsiparis dan didukung dengan ruang kerja, sarana prasarana dan Standar Operasional Prosedur yang jelas menunjukkan kesungguhan Perpustakaan Proklamator Bung Karno dalam mengelola arsip internal lembaga. d. Fungsi GLAM dapat dijalankan oleh satu institusi dalam hal ini yaitu Perpustakaan Proklamator Bung Karno, maka tidak menutup kemungkinan perpustakaan-perpustakaan lain pun dapat menerapkan konsep GLAM di institusinya. e. Di PerpustakaanProklamtor Bung Karno telah diterapkan konsep GLAM sebagai tempat yang menyediakan, mengelola, dan mentransfer informasi kepada user (pemustaka).