Kembali
16
1
2023 Jurnal Pustaka Budaya Vol 10 · 1 ISSN 2442-7799

TRANSFORMASI PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENGELOLA KOLEKSI DIGITAL DI PERPUSTAKAAN KABUPATEN BANDUNG

Universitas Padjadjaran

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menjelaskan ciri-ciri perpustakaan digital, kompetensi yang harus dipersiapkan pustakawan dalam menghadapi era digital, dan menjelaskan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, tujuannya untuk menjelaskan ciri-ciri perpustakaan digital, menjelaskan kompetensi pustakawan era digital dan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara analisis website Perpustakaan Kabupaten Bandung pada laman http://disarpus.bandungkab.go.id/kategori/berita-terkini dan literature review dari beberapa artikel jurnal yang bertujuan untuk mengetahui peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa keahlian pustakawan dalam bidang teknologi informasi berperan penting dalam mengelola koleksi digital. Koleksi yang melimpah dan menarik mampu memberikan kenyamanan dan kepuasan pemustaka, sehingga upaya menumbuhkan minat kunjung dan minat baca masyarakat berpeluang besar untuk terwujud.

Abstract

The purpose of this research is to explain the characteristics of digital libraries, the competencies that librarians must prepare in facing the digital era, and explain the role of librarians in managing digital collections at the Kabupaten Bandung Library. The method used in this research is a qualitative descriptive method, the aim is to explain the characteristics of digital libraries, explain the competence of digital era librarians and the role of librarians in managing digital collections at the Kabupaten Bandung Library. Data collection techniques were carried out by analyzing the Bandung Regency Library website on the http://disarpus.bandungkab.go.id/kategori/berita-terkini page and a literature review of several journal articles aimed at knowing the role of librarians in managing digital collections in libraries. Based on the research results, it shows that the expertise of librarians in the field of information technology plays an important role in managing digital collections. Abundant and interesting collections are able to provide user comfort and satisfaction, so that efforts to foster interest in visiting and reading interest in the community have a great chance to be realized.
Keywords: Koleksi digital · Pustakawan · Perpustakaan

Introduction

Saat ini, masyarakat Indonesia dihadapkan dengan era revolusi industri 4.0 mengingat betapa cepat perkembangan dan proses modernisasi teknologi serta informasi yang terjadi di Indonesia. Banyak sekali manfaat yang bisa diraih oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya ditandai dengan adanya “banjir” informasi, dimana masyarakat sangat mudah untuk mengakses informasi apa saja yang mereka butuhkan. Selain memberi kemudahan, fenomena “banjir” informasi yang disebabkan oleh adanya perkembangan teknologi juga merupakan sebuah tuntutan bagi perpustakaan sebagai lembaga penyedia sumber informasi sekaligus bagi pustakawan sebagai sumber daya perpustakaan yang memberikan layanan kepada pemustaka. Perkembangan teknologi informasi mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan dan profesi, salah satunya di perpustakaan, dengan adanya kemajuan teknologi informasi menimbulkan perubahan sistem dan layanan pada lembaga perpustakaan. Pada era digital, paradigma mengenai perpustakaan “hanya sekedar tempat buku-buku berjajar” sudah tidak berlaku lagi, karena era digital menyebabkan perpustakaan mengalami perkembangan. Perpustakaan di era digital lebih banyak mengadopsi koleksi dan kegiatan layanan ke dalam bentuk elektronik, sehingga bukan hanya menyimpan koleksi berbentuk cetak saja, melainkan sudah banyak yang menyimpan koleksi dalam bentuk digital dengan memanfaatkan teknologi informasi. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertujuan untuk memfasilitasi dan menyediakan akses ke informasi bagi masyarakat melalui koleksi bahan pustaka yang dihimpun, tentu saja harus mampu memberikan pelayanan informasi yang cepat, tepat, dan akurat, terutama di era digital seperti saat ini karena masyarakat sangat bergantung kepada ketersediaan informasi. Hadirnya teknologi informasi menuntut perpustakaan agar mampu memenuhi kebutuhan informasi di masyarakat menggunakan teknologi. Dalam melakukan layanan dan memenuhi kebutuhan informasi di masyarakat tentu saja perpustakaan membutuhkan sumber daya manusia yang biasa disebut dengan pustakawan. Kinerja perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi para pemustaka. Pelayanan ini sangat erat kaitannya dengan seorang pustakawan. Pustakawan menjadi komponen yang berperan penting dalam keberlangsungan pelayanan perpustakaan. Pustakawan dapat disebut sebagai sumber daya yang menggerakkan komponen lain dalam sebuah lembaga perpustakaan yang memungkinkan perpustakaan dapat berperan secara optimal dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Selain itu, pustakawan juga harus mampu menjalankan seluruh tujuan lembaga perpustakaan yang mencakup proses penghimpunan, pengelolaan, pelayanan, dan pemeliharaan sumber-sumber informasi. Pada era globalisasi yang serba modern dan ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi, maka peran pustakawan mengalami pergeseran. Adanya perkembangan teknologi informasi memberikan perubahan terhadap kinerja dan peran pustakawan dalam meningkatkan layanan perpustakaan, terutama dalam hal penggunaan teknologi informasi. Pustakawan dituntut bersentuhan langsung dengan dunia digital dan lebih banyak kompetensi baru yang menuntut pustakawan untuk menguasainya, terutama kompetensi dalam mengoperasikan teknologi informasi. Di era digital, perpustakaan sudah banyak yang mengadopsi koleksi berbentuk elektronik atau digital. Oleh karena itu, pustakawan dituntut untuk menguasai keahlian dalam bidang teknologi dan informasi supaya dapat meningkatkan layanan perpustakaan dan mampu memenuhi kebutuhan pemustaka melalui koleksi yang dihimpun, seperti permintaan akses ke informasi yang lebih cepat dengan menggunakan teknologi. Dalam penelitian yang berjudul “Reposisi Peran Pustakawan dalam Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan” oleh Dian Hapsari pada tahun 2012 dijelaskan bahwa teknologi informasi memberikan dampak yang cukup besar terhadap peran perpustakaan. Peran perpustakaan yang pada awalnya sering disebut “book guardian”, dengan cepat berubah menjadi penyedia informasi yang relevan dalam bentuk digital. Untuk dapat memenuhi kriteria peran tersebut, pustakawan sebagai sumber daya manusia perpustakaan harus mampu meningkatkan kompetensinya agar dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi. Selain itu, pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nurjannah pada tahun 2016 dalam judul “Peran Pustakawan dalam Implementasi Konsep Perpustakaan Digital” dijelaskan bahwa dengan adanya penggunaan teknologi informasi yang diaplikasikan di lembaga perpustakaan menyebabkan transformasi pada kinerja pustakawan. Semula pustakawan bekerja secara manual, namun saat ini, karena perpustakaan sudah mulai mengadopsi perkembangan teknologi informasi ke dalam sistem layanan, maka layanan dan ketersediaan koleksi dominan berbentuk digital, contohnya katalogisasi dan pembuatan metadata dari berbagai situs informasi agar pemustaka dapat lebih mudah menemukan kembali informasi. Hal ini menuntut pustakawan untuk bersentuhan langsung dengan teknologi. Selanjutnya, dalam artikel jurnal berjudul “Menakar Peranan Pustakawan dalam Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan” yang ditulis oleh Agung Nugrohoadhi pada tahun 2013 dijelaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi yang diadopsi oleh sebuah lembaga perpustakaan menuntut pustakawan untuk keluar dari “zona nyaman”, karena dengan adanya perkembangan teknologi informasi tersebut perpustakaan harus mengintegrasikan teknologi ke dalam kegiatan layanan agar dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Kegiatan layanan tersebut meliputi pengelolaan koleksi digital, pengolahan data perpustakaan, layanan sirkulasi, katalogisasi yang berbasis web, dan penelusuran bahan pustaka secara online (OPAC). Pemanfaatan teknologi informasi yang ada di perpustakaan juga memberikan beberapa keuntungan, di antaranya pustakawan dapat mempercepat waktu kerja dan membantu mengerjakan pekerjaan yang lebih hemat tenaga dan modal karena adanya sistem otomasi di perpustakaan. Selain itu, melalui perkembangan teknologi informasi, perpustakaan menyediakan fasilitas temu kembali, hal ini akan memudahkan para pemustaka untuk mengetahui dan menelusuri letak koleksi melalui identitas buku. Kemudian, teknologi informasi juga memberikan kemudahan lain bagi pustakawan, contohnya dengan adanya web dan aplikasi klasifikasi online, pustakawan akan dengan mudah melakukan pembuatan katalog online. Perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis adalah dalam hal tujuan dan fokus penelitian. Fokus dan tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah menganalisis peran seorang profesional pustakawan dalam mengelola koleksi digital yang ada di perpustakaan, dalam hal ini adalah Perpustakaan Kabupaten Bandung. Sedangkan persamaannya dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada topik, yaitu mengenai peran pustakawan. Adapun beberapa alasan yang mendasari penulis untuk meneliti peran pustakawan di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Pertama, Perpustakaan Kabupaten Bandung telah mengadopsi koleksi yang berbentuk elektronik atau digital, hal ini relevan dengan judul dan rumusan masalah yang ditentukan oleh penulis. Kedua, Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki beragam koleksi aplikasi perpustakaan digital dengan nama-nama yang menarik, seperti ibandungkab, INLISLite atau Integrated Library System, iSabilulungan, dan SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun), hal ini menjadi pembeda antara Perpustakaan Kabupaten Bandung dengan perpustakaan lainnya. Ketiga, Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki laman website, hal ini memudahkan penulis untuk melakukan observasi secara online, karena situasi sedang tidak memungkinkan untuk melakukan observasi secara langsung. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena dapat diketahui peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital, mengingat di era globalisasi seperti saat ini perpustakaan dan pustakawan harus mengikuti dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi agar dapat memberikan layanan yang prima. Sehingga, hal ini dapat menjadi dorongan dan acuan bagi para pustakawan untuk senantiasa mempersiapkan kemampuan dan keterampilan yang dapat menunjang dalam mengelola koleksi digital. Kemampuan pustakawan dalam bidang informasi dan teknologi penting untuk ditingkatkan di abad ke-21. Hal ini untuk menunjang kinerja dan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital. Namun, terkadang ada hambatan dalam mengelola dan upaya meningkatkan koleksi digital, di antaranya masih ada masyarakat yang belum “melek” dan open minded terhadap kehadiran koleksi digital. Tujuan dari penelitian ini di antaranya (1) menjelaskan ciri-ciri perpustakaan digital, (2) menjelaskan mengenai karakteristik dan kompetensi pustakawan era digital, (3) menjelaskan kompetensi yang harus dipersiapkan pustakawan dalam menghadapi era digital, (4) menjelaskan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Tinjauan Pustaka Perpustakaan digital memiliki ciri-ciri meliputi penggunaan komputer dalam mengelola berbagai sumber informasi, menggunakan media elektronik yang menghubungkan antara pustakawan dengan pemustaka dalam pelayanan akses ke informasi. Pada intinya, prinsip perpustakaan digital adalah sistem layanan perpustakaan yang terintegrasi dan berbasis digital walaupun masih mencakup informasi yang tidak berbentuk digital (Mulyadi, 2018). Perpustakaan digital biasanya istilah yang digunakan untuk menunjukan pemanfaatan teknologi dalam memperoleh, menghimpun, memelihara, dan memberikan akses ke informasi serta koleksi yang berbentuk digital atau koleksi bentuk cetak yang telah mengalami digitalisasi. Hal ini tujuannya untuk memberikan kemudahan akses informasi bagi seluruh pengguna dengan cepat, tepat, akurat, dan andal. Koleksi perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada koleksi dokumen elektronik saja, melainkan di dalamnya meliputi benda kuno bahkan artefak digital (Brian Lang dalam Widayanti, 2015). Berdasarkan pengertian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa perpustakaan digital merupakan lembaga yang berfungsi untuk menghimpun, mengelola, dan melayani masyarakat yang membutuhkan akses ke informasi serta melestarikan koleksi sumber informasi yang dihimpun dengan menggunakan kemajuan teknologi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dari waktu ke waktu. National Science Foundation merumuskan tiga ciri-ciri utama perpustakaan digital. Pertama, perpustakaan digital memanfaatkan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk menciptakan, menggunakan, dan mengakses informasi dalam berbagai bentuk yang terhimpun dalam suatu jaringan digital yang tersebar luas. Kedua, memiliki berbagai macam koleksi yang mencakup data dari berbagai sumber yang menjangkau hingga ke luar negeri. Ketiga, perpustakaan digital mencakup kegiatan pengkoleksian bahan pustaka dan mengatur sumber daya digital dari berbagai institusi atau lembaga seperti perpustakaan lain, museum, lembaga kearsipan, dan sekolah yang dihimpun, dikelola, dirawat, dan pada akhirnya informasi tersebut disebarluaskan ke berbagai komunitas (Safitri, 2017). Globalisasi telah memberikan banyak perubahan bagi tatanan kehidupan, salah satunya adalah adanya pengaruh dari penggunaan teknologi informasi yang semakin berkembang, tidak terkecuali di perpustakaan. Hal ini menyebabkan koleksi yang tersedia di perpustakaan banyak mengadopsi ke dalam bentuk digital. Koleksi digital biasanya terdiri dari rekaman gambar, contohnya film, CD, video, microfilm, kaset, disket, dan pangkalan data yang dikemas secara online. Koleksi digital juga dapat berupa jurnal elektronik (ejournal), yaitu sumber-sumber referensi dan informasi atau jurnal yang berbentuk online, biasanya ini digunakan sebagai sumber rujukan untuk mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah, adapula e-resources contohnya ebook dan berbagai karya referensi lainnya, serta repositori institusi yang merujuk kepada hasil karya dari para intelektual dalam sebuah komunitas. Koleksi digital dapat dihimpun dalam beberapa layanan yang disediakan oleh perpustakaan yang berbasis digital, meliputi (a) layanan referensi dan hasil penelitian yang dapat diakses dalam beragam koleksi, seperti kamus dan direktori elektronik, peta digital, dan hasil penelitian lainnya yang berbentuk digital. Kemudian adapula dalam layanan berseri, seperti majalah, dan terbitan berkala yang dapat diakses dari database lokal maupun format CD. Layanan multimedia atau audio-visual pun menghimpun koleksi digital di dalamnya, seperti audio visual, microfilm, CD, DVD, dan lain-lain (Widayanti, 2015). Perkembangan teknologi yang diadopsi oleh sebuah lembaga perpustakaan menyebabkan transformasi pada peran pustakawan. Perpustakaan digital menuntut pustakawan untuk bermain peran sebagai seorang navigator juga mediator, yang akan melayani pemustaka untuk mendapatkan sumber informasi dan pengetahuan luas tanpa batas dengan menggunakan teknologi. Teknologi mampu memberi lebih banyak kemudahan untuk memberikan akses ke sumber informasi yang berada di luar perpustakaan, tetapi konsekuensinya pustakawan harus mampu berperan sebagai manager informasi dan memberikan pelayanan informasi terbaik (Ardyawin, 2017). Pada era globalisasi seperti saat ini, sedikitnya ada dua tantangan yang harus dihadapi oleh perpustakaan dan pustakawan, pertama, pustakawan harus mampu menyesuaikan dan mengimbangi koleksi yang ada di perpustakaan dengan mengadopsi pemanfaatan perkembangan teknologi informasi. Kedua, pustakawan juga harus mampu memberikan layanan perpustakaan yang serba cepat dan lebih bersikap aktif bagi generasi milenial yang dikenal sebagai generasi yang akrab dan tidak lepas dari penggunaan teknologi informasi (Hidayat, 2016). Selain itu, Kristina mengemukakan bahwa pustakawan dituntut untuk mampu mengimbangi perpustakaan dengan berbagai peran. Pertama, dari dimensi collection, perpustakaan tidak hanya dituntut memiliki jenis koleksi informasi berbasis cetak saja, melainkan harus juga menyediakan jenis koleksi elektronik (e-books, e-journal, database online) serta audiovisual (berupa video), disini peran pustakawan adalah mengoleksi informasi dan menjadi mediator bagi para pengguna untuk mengakses informasi dan pengetahuan yang tersebar di seluruh dunia. Kedua, dari dimensi dessimination (layanan), perpustakaan dituntut mampu dalam memberikan layanan yang bersifat one-stop service, adding value information and knowledge, sebab di era kemajuan teknologi informasi ini, seberapa banyak mengumpulkan informasi bukan lagi hal yang terpenting lagi, melainkan seberapa besar value (nilai) yang terdapat pada setiap informasi yang disebarkan dan diperoleh, dimana pada akhirnya akan menjadi nilai tambah bagi pengetahuan pemustaka. Ketiga, jika sebelumnya di perpustakaan yang masih konvensional peran pustakawan sebatas pada layanan akses informasi dan pengetahuan, maka di era globalisasi seperti saat ini, peran pustakawan mengalami pergeseran dan perluasan mencakup pada layanan manajemen pengetahuan, yaitu layanan yang bervariasi dan dinamis meliputi seluruh siklus pengetahuan mulai dari perekaman, penciptaan, publikasi, penyebaran, penggunaan, dan penciptaan kembali pengetahuan (Kristina dalam Hidayat, 2016). Era digital seperti saat ini menyebabkan penambahan pada kompetensi pustakawan. Penguasaan teknologi informasi merupakan salah satu keahlian yang harus dikuasai oleh pustakawan dalam mengelola koleksi digital di perpustakaan. Keahlian di bidang teknologi informasi merupakan tuntutan dan harus dimiliki oleh pustakawan, agar dapat beradaptasi dengan kemajuan IPTEK. Pustakawan harus mampu bertekad untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai modal dan penunjang yang mendukung peningkatan kualitas layanan perpustakaan. Pustakawan di antaranya harus mampu melakukan pembuatan katalog online (OPAC) dan cara penelusuran melalui katalog tersebut (Qudussiara, 2016). Menghadapi pergeseran peran di era digital yang disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi, maka pustakawan harus mempersiapkan beberapa kompetensi yang dapat menunjang dalam meningkatkan koleksi digital. Kompetensi merupakan keterampilan atau pengetahuan seorang pustakawan serta termasuk karakteristik pustakawan dalam melakukan pekerjaan, agar pekerjaan berjalan dengan efektif, efisien, dan mampu mencapai tujuan dan visi perpustakaan (Diyah dan Permana dalam Asmad, Rahim, dan Jam’an, 2019). Kompetensi yang perlu dimiliki oleh pustakawan di antaranya (1) tool literacy, yaitu kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan alat teknologi informasi, baik secara konsep maupun praktik, keterampilan mengoperasikan software dan hardware, multimedia, dan sebagainya; (2) resource literacy, yaitu kemampuan memahami format, bentuk, letak, dan cara mengakses informasi; (3) social-structural literacy, yaitu pustakawan juga harus memahami struktur sosial masyarakat baik dalam segi usia, profesi, dan lainnya, agar mengetahui informasi apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat; (4) research literacy, yaitu kemampuan pustakawan dalam menggunakan tools berbasis teknologi informasi sebagai alat riset dan penelusuran; (5) publishing literacy, yaitu kemampuan pustakawan untuk menerbitkan informasi dan berbagai karya ilmiah kepada masyarakat melalui internet dan komputer; (6) emerging technology literacy, yaitu kemampuan untuk selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi secara terus menerus serta bersama-sama dengan komunitasnya untuk menentukan pemaanfaatan teknologi informasi sebagai kepentingan dalam pengembangan ilmu; (7) critical literacy, yaitu kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi secara kritis terhadap keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan teknologi (Pendit dalam Astika dan Sholihah, 2018).

Method

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode penelitian deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan memaparkan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan penulis untuk observasi ke Perpustakaan Kabupaten Bandung secara langsung, maka observasi dilaksanakan melalui website Perpustakaan Kabupaten Bandung, yaitu http://disarpus.bandungkab.go.id/kategori/b erita-terkini. Objek penelitian ini adalah peran pustakawan dan subyek penelitian ini yaitu pustakawan Perpustakaan Kabupaten Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi website dan studi literatur dari beberapa artikel jurnal. Studi literatur merupakan teknik pengumpulan data yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hasil penelitian lain yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilakukan, berisi ulasan, rangkuman, dan pemikiran penulis dari artikel jurnal, buku, dan lain-lain mengenai topik yang dibahas (Cooper dalam Hariyanti dan Wirapraja, 2018). Studi literatur yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pustakawan dalam meningkatkan koleksi digital di perpustakaan. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data adalah website Perpustakaan Kabupaten Bandung dan studi literatur dari beberapa artikel jurnal. Adapun prosedur umum yang dilakukan dalam penelitian ini (1) mengumpulkan data terkait koleksi digital yang tersedia di Perpustakaan Kabupaten Bandung dari website Perpustakaan Kabupaten Bandung, (2) menganalisis data yang didapatkan dari website dan studi literatur untuk mengkaji dan menjelaskan peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung

Result & Discussion

Berdasarkan hasil analisis pada website disarpus.bandungkab.go.id/ (2022) yang diakses dalam http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/visimisi, Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki visi “Perpustakaan Mencerdaskan Masyarakat, Kearsipan Pilar Akuntabilitas Yang Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi” dan untuk mewujudkan visi tersebut, ada beberapa misi yang disusun, salah satunya yaitu “Meningkatkan Pelayanan Perpustakaan dan Kearsipan Berbasis TIK”. Selain itu, dari segi koleksi, Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki beragam koleksi yang berbentuk digital, seperti buku tentang pengetahuan umum, buku biografi, buku novel, dan juga tersedia CD yang dapat diakses melalui laman http://perpus.bandungkab.go.id/digitalcollect ion/. Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial yang diberi nama ibandungkab. Dilansir dari disarpus.bandungkab.go.id/ (2021) dalam http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/ebook, aplikasi ibandungkab ini dapat menghubungkan para pemustaka yang menggunakan aplikasi tersebut dengan fiturfitur yang ada di dalamnya. Salah satu fitur unggulan dalam aplikasi ibandungkab yaitu “feed”, dapat memberikan kesempatan pemustaka untuk melihat aktivitas dari pengguna lain, seperti buku apa yang dipinjam atau mengenai informasi buku yang terbaru. Gambar 1. Tampilan Website Perpustakaan Kabupaten Bandung (Sumber: http://disarpus.bandungkab.go.id/) Dilihat dari data yang terhimpun melalui analisis website di atas, menunjukan bahwa Perpustakaan Kabupaten Bandung merupakan perpustakaan digital, karena telah mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi ke dalam sistem pelayanannya, termasuk koleksi yang dihimpun di dalamnya. Hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Mulyadi (2018), karena Perpustakaan Kabupaten Bandung telah banyak mengadopsi beragam koleksi yang berbentuk elektronik atau digital, seperti buku tentang pengetahuan umum, buku biografi, buku novel, dan juga tersedia CD. Kemudian, sejalan juga dengan teori yang dikemukakan oleh Brian Lang dalam Widayanti (2015), karena Perpustakaan Kabupaten Bandung telah memanfaatkan teknologi dalam menghimpun, memelihara, dan memberikan akses informasi. Hal itu dapat ditunjukan dari beragam koleksinya, di antaranya adalah buku yang berbentuk digital, CD, arsip, dan aplikasi perpustakaan digital yang berbasis media sosial yang diberi nama ibandungkab. Aplikasi ibandungkab dapat memudahkan para pemustaka untuk melakukan kegiatan peminjaman buku seperti novel ataupun berbagai buku lainnya tanpa harus datang ke perpustakaan secara langsung, karena dapat diakses melalui smartphone masing-masing. Kemudian, menurut hasil analisis data dari website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses dalam laman http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/peni ngkatan-layanan-perpustakaan-melaluiaplikasi-inlislite, dalam upaya meningkatkan koleksi digital dan kegiatan layanan pada masyarakat, pada tahun 2020 Perpustakaan Kabupaten Bandung terus berupaya mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan serta koleksi perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi melalui aplikasi INLISLite atau Integrated Library System. INLISLite yaitu aplikasi otomasi perpustakaan yang dirancang dan dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia serta berfungsi untuk mengelola informasi perpustakaan terintegrasi, dengan adanya penerapan INLISLite di Perpustakaan Kabupaten Bandung, maka diadakan pendampingan terkait otomasi perpustakaan. Selain itu, dilansir dari website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses dalam dalam http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/isabi lulungan-solusi-berliterasi-di-tengahpandemi-covid-19, pada awal munculnya pandemi Covid-19 sekitar tahun 2020, Kepala Disarpus Kabupaten Bandung, Tri Heru Setiati mengungkapkan bahwa Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung menutup sementara aktivitas di Gedung Perpustakaan sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam menekan kasus penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, dalam upaya terus meningkatkan budaya literasi, Perpustakaan Kabupaten Bandung menghimpun koleksi ke dalam aplikasi perpustakaan digital yang berbasis media sosial yang diberi nama iSabilulungan. Aplikasi iSabilulungan dilengkapi dengan beragam fitur yang memudahkan para pemustaka untuk mencari sumber informasi ataupun membaca berbagai buku yang dibutuhkan dalam gadget mereka. Selain itu, dalam hal meningkatkan layanan kebutuhan informasi arsip, dikembangkan pula sebuah aplikasi yang diberi nama SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun). Pada website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses dalam http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/fasili tas-kearsipan, aplikasi SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun) berfungsi untuk memudahkan proses pengarsipan secara elektronik, mulai dari penciptaan, pengelolaan, sampai penyimpanan arsip. Aplikasi ini memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi arsip dengan lebih cepat. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa karakteristik perpustakaan digital salah satunya sudah menghimpun koleksi yang dominan berbentuk digital. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh teori National Science Foundation dalam Safitri (2017), karena Perpustakaan Kabupaten Bandung telah memanfaatkan teknologi yang dapat menciptakan dan mengakses informasi ke dalam bentuk digital serta telah memiliki beragam koleksi yang mencakup data dan informasi yang menjangkau ke seluruh dunia melalui aplikasi iSabilulungan dan INLISLite yang dikembangkan di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Selain itu, melalui aplikasi SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun), Perpustakaan Kabupaten Bandung telah mengoleksi, mengelola, menyediakan, hingga merawat sumber-sumber bahan pustaka berbentuk digital dari berbagai lembaga, contohnya arsip. Selanjutnya, menurut hasil analisis data, perkembangan teknologi pada era digital telah membawa dampak besar bagi tatanan kehidupan, tidak terkecuali pada pelayanan perpustakaan yang beralih menggunakan perkembangan teknologi informasi, contohnya di Perpustakaan Kabupaten Bandung yang telah menghimpun berbagai koleksi ke dalam bentuk digital seperti ibandungkab, iSabilulungan, INLISLite, dan SiDokter. Hal itu mempengaruhi terhadap kompetensi dan keahlian pustakawan di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ardyawin (2017), karena Perpustakaan Kabupaten Bandung merupakan lembaga hibrida yang tidak hanya menyimpan koleksi yang berbentuk cetak, melainkan sudah banyak mengadopsi beragam koleksi yang berbentuk digital. Perkembangan teknologi informasi tersebut benar-benar mempengaruhi terhadap kegiatan layanan di perpustakaan, terutama mempengaruhi terhadap keahlian dan kinerja pustakawan. Oleh karena itu, karena Perpustakaan Kabupaten Bandung telah banyak mengoleksi sumber-sumber informasi yang berbentuk digital, peran dan tugas pustakawan pun mengalami perubahan, mereka dituntut untuk bersentuhan langsung dengan media digital. Berdasarkan hasil analisis pada website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses dalam http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/tuga s-pokok-dan-fungsi, tugas pokok pustakawan Perpustakaan Kabupaten Bandung di antaranya melakukan kegiatan pengembangan koleksi dan pengolahan bahan perpustakaan, otomasi, layanan dan pelestarian bahan perpustakaan serta pengembangan perpustakaan dengan berbasis teknologi informasi dan juga menjalin kerjasama dengan pihak perpustakaan dan penyedia informasi lainnya dalam kegiatan pengembangan koleksi. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Kristina dalam Hidayat (2016), karena Perpustakaan Kabupaten Bandung telah mengadopsi berbagai koleksi ke dalam bentuk digital, maka pustakawan harus mampu mengelola koleksi yang dihimpun serta menjadi mediator bagi pemustaka untuk memenuhi kebutuhan informasi dan mengakses pengetahuan yang luas yang ada di seluruh dunia. Selain itu, pustakawan pada era globalisasi seperti saat ini bukan hanya dituntut untuk sebatas memberikan layanan akses informasi, melainkan lebih dari itu, meliputi pemberian layanan yang diamis, kemampuan publikasi, dan penciptaan kembali pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi. Merujuk pada tugas-tugas dan koleksi tersebut, pustakawan dituntut untuk menguasai beberapa keahlian, salah satunya adalah keahlian dalam bidang IT untuk mengelola koleksi digital sebagai indikator penunjang kegiatan layanan di perpustakaan. Pustakawan dituntut untuk selalu ingin menjadi yang terdepan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Oleh karena itu, pustakawan harus mulai merasa nyaman serta memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengoperasikan teknologi informasi. Selain itu, skill communication dan sikap yang kreatif serta inovatif juga harus dimiliki oleh pustakawan sebagai penyeimbang kompetensi lainnya (Rudianto dalam Rodin, 2018). Pustakawan di antaranya harus mampu melakukan pembuatan katalog terpasang (OPAC) dan mengerti cara penelusurannya. Kemampuan desain database manajemen, arsitektur informasi, klasifikasi, dan integrasi informasi juga termasuk ke dalam keterampilan yang harus dikuasai oleh pustakawan Perpustakaan Kabupaten Bandung. Berdasarkan beberapa upaya peningkatan layanan berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Perpustakaan Kabupaten Bandung di atas, maka tentu saja keahlian seorang pustakawan dalam bidang teknologi informasi sangat dibutuhkan dan berperan penting dalam upaya meningkatkan koleksi digital guna menunjang kegiatan layanan agar dapat memenuhi kebutuhan pemustaka akan informasi dan memberikan kepuasan kepada pemustaka melalui koleksi digital. Keterampilan pustakawan yang termasuk dalam IT skill seperti arsitektur informasi, database manajemen, klasifikasi, katalogisasi, dan integrasi informasi dapat menunjang pustakawan Perpustakaan Kabupaten Bandung untuk mengembangkan koleksi dan mengoperasikan aplikasi berbasis digital yang dikembangkan di Perpustakaan Kabupaten Bandung, yaitu aplikasi INLISLite atau Integrated Library System dan aplikasi iSabilulungan. Kemudian, kompetensi dalam hal mediator dan navigator sangat berperan dalam pengoperasian aplikasi SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun) untuk memudahkan pemustaka mendapatkan sumber informasi dan pengetahuan luas tanpa batas dengan menggunakan teknologi. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Pendit dalam Astika dan Sholihah (2018), bahwa pustakawan dalam hal ini pustakawan di Perpustakaan Kabupaten Bandung harus mempersiapkan beberapa kompetensi yang dapat berperan dalam meningkatkan koleksi digital di perpustakaan. Kompetensi tersebut di antaranya tool literacy, resource literacy, research literacy, dan emerging technology literacy, pustakawan di Perpustakaan Kabupaten Bandung harus paham dalam mengoperasikan alat teknologi informasi, baik secara konsep maupun praktik serta harus selalu berusaha untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi, hal ini untuk menunjang kegiatan pengembangan koleksi berbasis digital yang tersedia di Perpustakaan Kabupaten Bandung, aplikasi tersebut di antaranya ibandungkab, iSabilulungan, INLISLite atau Integrated Library Syste, dan SiDokter (Sabilulungan Dokumen Terhimpun). Selain itu, dengan kemampuan tool literacy, pustakawan mampu mengelola koleksi berdasarkan sistem yang berbasis teknologi informasi, hal ini agar informasi yang dihimpun dalam koleksi mudah dan cepat ditemukan letak keberadaanya. Kemudian, pustakawan di Perpustakaan Kabupaten Bandung juga harus mempersiapkan kemampuan literasi struktur sosial di masyarakat (social-structural literacy). Kemampuan ini akan berperan dalam penentuan koleksi di perpustakaan, melalui social-structural literacy, pustakawan diharapkan mampu menganalisis informasi apa saja yang dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik itu dari segi usia, profesi, minat, dan lain sebagainya, dengan adanya analisis informasi berdasarkan kebutuhan, perpustakaan dapat menyesuaikan dan mengembangkan koleksi digital yang ada di perpustakaan dengan kebutuhan masyarakat. Kemampuan publikasi (publishing literacy) dapat berperan sebagai penunjang dalam meningkatkan koleksi e-journal, e-resources, yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi kepentingan riset atau penelitian, melalui kemampuan publishing literacy, pustakawan dapat melakukan publikasi ejournal karya para intelektual di pangkalan data secara online. Berdasarkan beberapa kompetensi dan keterampilan yang harus dipersiapkan oleh pustakawan di atas, maka, pustakawan harus selalu berupaya untuk mengembangkan diri dan mampu beradaptasi dalam menghadapi era digital. Hal ini dapat dilatih melalui pendidikan formal maupun informal, seperti mengikuti seminar, workshop, pelatihan mengenai ilmu perpustakaan dan profesi pustakawan, pelatihan mengenai teknologi informasi dan komunikasi (Sulistiorini dalam Rodin, 2018). Selanjutnya, pustakawan juga berperan untuk melakukan upaya promosi dan pengembangan minat baca masyarakat, hal ini ada kaitannya dengan koleksi yang ada di perpustakaan. Minat baca awalnya timbul dari selera baca. Selera baca ini akan muncul melalui ketersediaan koleksi yang beragam dan variatif di perpustakaan yang kemudian menimbulkan minat baca, sehingga jika diulang secara terus-menerus, membaca akan menjadi sebuah kebiasaan dan budaya (Rahadian, Rohanda, dan Anwar, 2014). Apabila koleksi bahan bacaan di perpustakaan melimpah dan dikemas secara menarik, misalnya di Perpustakaan Kabupaten Bandung koleksi bahan bacaan dihimpun dalam aplikasi digital yang diberi nama ibandungkab dan iSabilulungan serta pustakawannya pun melakukan pengelolaan dan pengembangan secara intensif, maka diharapkan dapat membangun dan mengembangkan masyarakat yang gemar membaca. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih belum “melek” dan belum “open minded” terhadap perkembangan digital, sehingga merasa belum tertarik untuk mengakses aplikasi perpustakaan digital. Hal ini biasanya karena di antara masyarakat masih banyak yang mengalami kendala, baik itu kendala jaringan, aplikasi, tempat tinggal belum terjangkau oleh internet, dan lain sebagainya. Merujuk pada permasalahan tersebut, dalam website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses pada laman http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/laya nan-perpustakaan dijelaskan bahwa Perpustakaan Kabupaten Bandung tetap memiliki koleksi berbentuk cetak melalui layanan Mobil Perpustakaan Keliling. Gambar 2. Mobil Perpustakaan Keliling (Sumber:http://disarpus.bandungkab.go.id/a rsip/layanan-perpustakaan) Kegiatan layanan ini dilaksanakan dengan cara mengunjungi pemustaka menggunakan kendaraan baik itu mobil atau motor. Layanan ini merupakan perpustakaan bergerak dengan membawa koleksi perpustakaan yang berfungsi untuk memberikan layanan kepada masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, terutama tempat yang masih belum terjangkau oleh Perpustakaan Kabupaten Bandung. Tujuan dari layanan mobil perpustakaan keliling ini di antaranya meningkatkan upaya pemerataan layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat yang menjangkau hingga daerah yang terpencil yang belum memungkinkan keberadaan perpustakaan permanen; (2) memperkenalkan buku dan koleksi lainnya kepada masyarakat; (4) memperkenalkan jasa perpustakaan kepada masyarakat; (5) berupaya meningkatkan dan mengembangkan minat baca dan menciptakan cinta buku di lingkungan masyarakat; (6) melakukan kerjasama dengan pihak lain, seperti lembaga sosial masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan intelektual dan kultural masyarakat. Selain layanan mobil perpustakaan keliling, Perpustakaan Kabupaten Bandung melalui koleksi yang dihimpun memiliki layanan lain yang tujuan utamanya untuk menumbuhkan dan mengajak anak-anak agar gemar membaca. Layanan tersebut dinamakan Sabilulungan Wisata Literasi (SATALI). Menurut informasi yang ada dalam website disarpus.bandungkab.go.id/ (2020) yang diakses pada laman http://disarpus.bandungkab.go.id/arsip/laya nan-perpustakaan, tingkat minat baca di Kabupaten Bandung sendiri sebenarnya sudah ada peningkatan, namun masih kurang fasilitasnya. Oleh karena itu, Perpustakaan Kabupaten Bandung berupaya untuk meningkatkan fasilitas melalui layanan SATALI ini. Bagi sekolah yang tertarik pada program ini, Perpustakaan Kabupaten Bandung memfasilitasi sekolah dengan cara menjemput langsung siswa dengan jumlah maksimal enam puluh siswa dan enam tenaga pengajar atau pendamping. Layanan SATALI juga menyediakan pendongeng beserta struktur literasi. Adanya layanan Mobil Perpustakaan Keliling dan Sabilulungan Wisata Literasi (SATALI), diharapkan mampu menjangkau tempat-tempat yang terpencil dan membuat masyarakat tertarik, sehingga upaya menumbuhkan minat baca dan menjadikan membaca sebagai hobi menjadi terwujud.

Conclusion

Perpustakaan Kabupaten Bandung telah mengadopsi teknologi informasi dalam kegiatan layanannya, terutama pada beragam koleksinya. pengarsipan dimulai dari penciptaan, pengelolaan, sampai penyimpanan arsip. Adanya beberapa aplikasi perpustakaan digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung menyebabkan transformasi peran pustakawan. Hal ini menuntut pustakawan untuk menguasai bidang teknologi informasi agar aplikasi dapat beroperasi dengan maksimal. Keahlian pustakawan dalam klasifikasi, katalogisasi, integrasi informasi, database manajemen, navigator dan mediator ke sumber informasi berperan penting dalam pengelolaan koleksi digital agar dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka serta mampu memenuhi kebutuhan pemustaka akan informasi dan pengetahuan luas tanpa batas dengan berbasis teknologi. Koleksi yang melimpah dan menarik mampu memberikan kenyamanan dan kepuasan pemustaka, sehingga upaya menumbuhkan minat kunjung dan minat baca masyarakat berpeluang besar untuk terwujud.